AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Desember, 2025 pp. xAex ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. Integration of Indonesian Local Culture in the Development of Contextual Muhadatsah Materials Integrasi Budaya Lokal Indonesia dalam Pengembangan Materi Muhadatsah Kontekstual Ahmad Aziz Fuadi1 Sekolah Tinggi Islam MaAoarif Kendal Ngawi1. Indonesiaa Email: fuadiaaf@gmail. Abstrak Latar belakang penelitian ini adalah perlunya inovasi pembelajaran Bahasa Arab agar lebih kontekstual dan bermakna bagi mahasiswa. Penelitian bertujuan mendeskripsikan integrasi budaya lokal dalam pengembangan materi muhadatsah . kontekstual pada mahasiswa semester 5 Program Studi PBA. Metode yang digunakan adalah deskriptif Sembilan tradisi adat Jawa (Slametan. Tingkeban. Siraman. Midodareni. Panggih. Tedhak Siten. Ruwatan. Sadranan. Wayang Kuli. diintegrasikan sebagai tema dialog dalam mata kuliah Muhadatsah. Data utama berupa hasil wawancara dengan mahasiswa setelah implementasi, dianalisis secara naratif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal membuat pembelajaran lebih kontekstual, bermakna, dan relevan dengan kehidupan mahasiswa. Mahasiswa lebih termotivasi dan aktif berbicara karena topik percakapan dekat dengan pengalaman budaya mereka. Integrasi ini juga menumbuhkan apresiasi terhadap kearifan lokal dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Temuan ini merekomendasikan pengembangan lebih lanjut bahan ajar muhadatsah berbasis budaya lokal sebagai strategi pembelajaran kontekstual di perguruan tinggi. Kata Kunci: Budaya Lokal. Muhadatsah. Pembelajaran Kontekstual. Budaya Jawa. Pendidikan Bahasa Arab Abstract This study explores the integration of local Indonesian culture into the development of contextual Muhadatsah (Arabic speakin. It was motivated by the need to make Arabic learning more meaningful and relevant for students. The research, conducted with 5thsemester Arabic Education students at STAI MaAoarif Kendal Ngawi, employed a qualitative descriptive approach. Nine Javanese cultural traditions (Slametan. Tingkeban. Siraman. Midodareni. Panggih. Tedhak Siten. Ruwatan. Sadranan, and Wayang Kuli. were incorporated as conversation themes in the Muhadatsah course. Data were collected through interviews with students after implementing the culturally-contextual materials, and analyzed The results indicate that integrating local culture made learning more contextual, meaningful, and relevant to studentsAo lives. Students became more motivated and actively engaged in speaking practice because the dialogue topics were familiar and culturally This integration also fostered appreciation of local wisdom while remaining in line Vol. 13 No. 2 | 80 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam with Islamic values. The study suggests that further development of Muhadatsah teaching materials based on local culture can be an effective contextual learning strategy in higher Keywords: Local Culture. Muhadatsah. Contextual Learning. Javanese Culture. Arabic Language Education PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia kerap menghadapi tantangan rendahnya motivasi dan relevansi materi dengan konteks kehidupan siswa. Selama ini, materi muhadatsah . cenderung bersifat umum dan kurang terhubung dengan pengalaman budaya lokal mahasiswa, sehingga percakapan terasa kurang bermakna. Paradigma pembelajaran kontekstual menekankan pentingnya mengaitkan materi dengan dunia nyata dan latar belakang peserta didik. Dalam teori pendidikan bahasa, pendekatan komunikatif dan pembelajaran yang berpusat pada budaya siswa dipercaya dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa (Johnson, 2002. Richards & Rodgers, 2001. Gay, 2. Krashen . mengemukakan bahwa input bahasa yang bermakna dan terkait dengan kehidupan siswa akan lebih mudah diserap karena menurunkan hambatan afektif. Demikian pula. Nunan . menekankan pembelajaran bahasa berbasis tugas sebaiknya berangkat dari konteks nyata agar siswa terdorong untuk berkomunikasi secara alami. Integrasi kearifan lokal dalam pendidikan telah diakui efektif memperkaya pengalaman belajar dan membentuk karakter. Kearifan lokal mencakup pandangan hidup, pengetahuan, dan kebiasaan masyarakat setempat dalam menghadapi berbagai masalah. Menurut Supriyono . , pendidikan berbasis kearifan lokal mampu memperkuat jati diri dan karakter peserta didik dengan menghubungkan pembelajaran pada nilai-nilai budaya daerah. Penelitian Fathoni . menunjukkan bahwa penggunaan materi ajar berbasis budaya lokal meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa secara signifikan. Hal senada ditemukan oleh Handayani dkk. dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Politeknik, di mana integrasi budaya lokal membuat pembelajaran lebih kontekstual, bermakna, dan relevan, serta meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa. Nurmiati . dalam disertasinya juga menyimpulkan bahwa mengintegrasikan unsur budaya siswa ke dalam pembelajaran Bahasa Arab menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan, menarik, dan bermakna. merasa bahasa Arab lebih mudah dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, integrasi budaya lokal dapat mengubah mindset siswa bahwa belajar bahasa asing bukanlah sesuatu yang asing dari keseharian mereka, melainkan dapat dikaitkan dengan budaya Beberapa penelitian terdahulu di bidang Pendidikan Bahasa Arab telah mulai mengadaptasi kearifan lokal. Wahyuningsih & Muslimin . mengintegrasikan budaya lokal Bima ke dalam pembelajaran bahasa Arab pada mahasiswa PBA, misalnya melalui tema percakapan mengenai Istana dan Makam Kerajaan Bima. Hasilnya, metode pembelajaran langsung dengan konteks budaya lokal tersebut efektif meningkatkan pemahaman mahasiswa. Penelitian Siti Aliyya Laubaha dkk. mengembangkan bahan ajar maharah kalam berbasis kearifan lokal Gorontalo . bjek wisata, rumah adat, kuliner, pakaian tradisiona. dan memperoleh tanggapan positif dari siswa serta peningkatan hasil belajar. Temuan-temuan ini Vol. 13 No. 2 | 81 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam mengindikasikan bahwa konteks budaya setempat dapat dijadikan media efektif dalam pembelajaran bahasa. Meski demikian, khusus di konteks budaya Jawa, integrasi ragam tradisi lokal ke dalam materi Muhadatsah di perguruan tinggi Islam belum banyak diteliti. Gap ini penting untuk dikaji mengingat Jawa memiliki kekayaan tradisi yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, sehingga berpotensi besar menjadi topik muhadatsah yang kontekstual. STAI MaAoarif Kendal Ngawi sebagai kampus Islam lokal di Jawa memiliki mahasiswa dengan latar budaya Jawa yang kuat. Integrasi budaya adat Jawa dalam pembelajaran Muhadatsah diperkirakan dapat membuat percakapan berbahasa Arab lebih mudah dipahami dan menarik bagi mahasiswa. Selain itu, langkah ini sejalan dengan upaya pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal. Prinsip pendidikan Islam di Indonesia salah satunya menekankan Aual-muhafazah Aoala al-qadim as-salih wal akhdzu bil jadidil aslahAy . emelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih bai. Oleh sebab itu, mengangkat tradisi-tradisi Jawa sebagai materi pembelajaran bukan hanya soal bahasa, melainkan juga upaya mengokohkan identitas budaya yang selaras dengan nilai Islam. Sesuai kaidah ushul fiqh alAoadat muhakkamah, adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syariat dapat dijadikan landasan hukum atau praktik. Para Wali Songo pun dahulu menggunakan media budaya seperti wayang kulit untuk dakwah Islam. Dalam Al-QurAoan. Allah SWT menjelaskan bahwa para rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar mudah dipahami (Q. Ibrahim . , dan Allah mengakui keberagaman bahasa dan budaya sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya (Q. al-Rum . Ini memberi landasan teologis bahwa menghargai dan memanfaatkan budaya lokal dalam pendidikan bukanlah hal yang menyimpang, justru sejalan dengan prinsip Islam selama substansinya positif. Tujuan penelitian ini adalah: . Mendeskripsikan bagaimana tradisi-tradisi budaya lokal Jawa diintegrasikan dalam pengembangan materi muhadatsah kontekstual untuk mahasiswa semester 5 PBA di STAI MaAoarif Kendal Ngawi. Menganalisis respon dan hasil belajar mahasiswa terhadap penerapan materi muhadatsah berbasis budaya lokal tersebut. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan inovasi pembelajaran Bahasa Arab yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal, sekaligus menjadi referensi bagi institusi pendidikan Islam lainnya dalam mengintegrasikan nilai budaya lokal ke dalam kurikulum bahasa asing. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran mendalam tentang proses dan hasil integrasi budaya lokal dalam pembelajaran Muhadatsah. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester 5 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) STAI MaAoarif Kendal Ngawi yang mengikuti mata kuliah Muhadatsah pada semester gasal tahun akademik 2025/2026. Kelas tersebut terdiri dari 30 mahasiswa yang keseluruhannya berlatar belakang budaya Jawa. Penelitian dilaksanakan selama satu semester dengan kolaborasi dosen pengampu mata kuliah. bekerjasama dengan dosen mata kuliah menyusun perangkat pembelajaran Muhadatsah yang memasukkan sembilan tema budaya adat Jawa, yaitu: Slametan. Tingkeban. Siraman. Midodareni. Panggih. Tedhak Siten. Ruwatan. Sadranan, dan Wayang Kulit. Setiap tema budaya dijadikan topik utama dalam skenario dialog atau kegiatan percakapan berbahasa Arab. Vol. 13 No. 2 | 82 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Misalnya, untuk tema Slametan, materi muhadatsah berupa dialog antar mahasiswa yang mensimulasikan persiapan acara slametan . dalam bahasa Arab, termasuk ungkapan mengundang tetangga, mengungkapkan syukur, dan doa bersama. Tema Tingkeban . itoni, upacara 7 bulanan kehamila. diangkat dalam bentuk percakapan memberi ucapan selamat kepada pasangan yang menanti kelahiran, diskusi tentang tradisi siraman ibu hamil, dll. Midodareni dan Panggih . itual malam sebelum pernikahan dan upacara pertemuan penganti. diformulasikan dalam latihan dialog tentang adat pernikahan Jawa, sehingga mahasiswa berlatih kosakata keluarga, pernikahan, dan ungkapan memberi restu. Tedhak Siten . itual bayi turun tana. dijadikan topik untuk latihan menceritakan pengalaman keluarga, memperkenalkan budaya kepada teman asing, dan sebagainya. Adapun Ruwatan dan Sadranan . itual tolak bala dan nyekar/bersih des. digunakan sebagai bahan diskusi dalam Bahasa Arab mengenai kepercayaan lokal, nilai syukur, dan doa bersama di masyarakat. Wayang Kulit diintegrasikan melalui kegiatan role-play di mana mahasiswa menceritakan lakon wayang dalam Bahasa Arab secara singkat, atau berdialog seolah-olah seorang dalang menjelaskan tokoh wayang kepada penonton asing. Perancangan ini mengikuti model contextual learning, di mana materi pembelajaran dirancang sedekat mungkin dengan kehidupan nyata mahasiswa, sekaligus memperkenalkan kosakata Arab yang terkait budaya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Integrasi Budaya Lokal dalam Materi Muhadatsah Hasil implementasi menunjukkan bahwa kesembilan unsur budaya Jawa yang diangkat dapat terintegrasi dengan baik dalam materi muhadatsah. Berikut penjabaran integrasi tiap budaya beserta contoh penerapannya dalam pembelajaran: Slametan: Tradisi slametan . diperkenalkan sebagai konteks percakapan untuk ungkapan syukur dan mendoakan keselamatan. Dialog yang digunakan misalnya: seorang mahasiswa berperan sebagai tuan rumah mengundang tetangganya . iperankan mahasiswa lai. ke acara slametan kelahiran anak. Percakapan mencakup sapaan, ucapan selamat, ungkapan terima kasih kepada Allah, dan doa-doa sederhana dalam Bahasa Arab. Mahasiswa tampak antusias karena situasi ini familiar bagi mereka Ae banyak yang bercerita pernah menghadiri slametan di kampungnya. Mereka belajar padanan kata Arab untuk istilah seperti AuselamatanAy . ang dijelaskan sebagai haflatun syuk. AutumpengAy . asi kerucut, dijelaskan deskriptif dalam Arab karena tidak ada padanan langsun. , dan ungkapan seperti Ausemoga mendapat berkahAy yang diucapkan dalam Bahasa Arab. Menariknya, beberapa mahasiswa spontan menambahkan doa dalam bahasa Arab yang biasa dibaca dalam slametan, menunjukkan kreativitas mereka. Integrasi slametan ini membuat mereka menyadari bahwa Bahasa Arab dapat digunakan untuk menggambarkan tradisi sendiri, bukan hanya untuk konteks Arab Timur Tengah. Hal ini sejalan dengan pendapat Geertz . bahwa slametan merupakan inti kohesi sosial masyarakat Jawa yang sarat doa. ketika konsep ini dibahas dalam Bahasa Arab, mahasiswa merasakan jembatan antara agama dan budaya. Tingkeban & Siraman: Kedua tradisi terkait kehamilan dan pernikahan ini dijadikan tema percakapan bertema keluarga. Mahasiswa memainkan skenario percakapan antara teman yang berdiskusi tentang kerabatnya yang akan melangsungkan Tingkeban . pacara 7 bulanan Dalam dialog, mereka berlatih memberi selamat atas kehamilan (Mabrk Aoala alVol. 13 No. 2 | 83 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam uam. , menanyakan persiapan acara siraman, dan menjelaskan secara sederhana apa itu ritual siraman dalam bahasa Arab. Dosen membimbing dengan menyediakan kosakata seperti uammAm . untuk menjelaskan siraman. Mahasiswa sempat kebingungan menerjemahkan beberapa istilah adat, misal AukendiAy dan Aubunga setamanAy. ini diatasi dengan melatih mereka mendeskripsikan fungsi benda tersebut dalam bahasa Arab. Secara umum, mereka mampu melakukan percakapan dengan lancar, sambil sesekali menyelipkan kata Indonesia/Jawa jika tidak tahu padanan Arabnya, lalu dibantu dosen mencari ungkapan yang Hal ini menunjukkan adanya perluasan kosa kata dan kemampuan circumlocution . engungkapkan maksud dengan kata lai. Ae keterampilan berbahasa yang penting. Dari wawancara, mahasiswa mengaku topik tingkeban menarik karena Aubiasanya kami hanya pakai Bahasa Jawa/Indonesia untuk bahas begitu, ternyata bisa juga pakai Bahasa Arab walaupun agak sulit menjelaskan detailnya. Ay Mereka merasa bangga bisa menceritakan budaya sendiri dalam Bahasa Arab, seolah memperkenalkan budaya ke dunia internasional. Midodareni & Panggih: Kedua ritual pernikahan adat Jawa ini diintegrasikan dalam skenario dialog tentang acara pernikahan. Mahasiswa berlatih bermain peran sebagai tamu dari Timur Tengah yang datang ke pernikahan Jawa, berbincang dengan pengantin atau keluarga Satu mahasiswa berperan menjelaskan dalam Bahasa Arab: AuMalam ini ada tradisi Midodareni, pengantin wanita dipingit di rumah, dipercantik, diibaratkan bidadari turunAy. Tentu untuk istilah seperti Midodareni, tidak ada padanan literal, sehingga mahasiswa menjelaskan dengan kalimat Arab sederhana yang maknanya AuMalam sebelum pernikahan, pengantin tidak keluar rumah, didoakan agar secantik bidadari. Ay Panggih . pacara pertemuan penganti. juga dijelaskan sebagai Auprosesi pertemuan mempelai dengan adat khusus seperti injak telur. Ay Mahasiswa tertawa saat mencoba menerjemahkan konsep menginjak telur Ae akhirnya disepakati menggunakan kata baysah . dan kata kerja dAs . dalam kalimat Melalui latihan ini, mahasiswa belajar banyak kosakata seputar pernikahan . eluarga, doa restu, mas kawin, dll. ) dalam suasana yang menyenangkan karena konteksnya familiar namun menantang untuk dijelaskan. Observasi kelas mencatat para mahasiswa perempuan terutama sangat bersemangat berdiskusi tentang detail adat pernikahan dalam bahasa Arab, sedangkan mahasiswa laki-laki tertarik pada makna filosofisnya. Ini mengindikasikan topik lokal semacam ini mampu memancing student talk lebih aktif. Secara keseluruhan, percakapan konteks Midodareni dan Panggih berhasil meningkatkan kepercayaan diri berbicara. mahasiswa merasa Aupunya bahanAy untuk diomongkan karena mereka memahami alur acaranya, tinggal berusaha mengungkapkan dalam Bahasa Arab. Tedhak Siten: Tradisi tedhak siten . pacara bayi turun tana. dijadikan tema tugas monolog naratif. Mahasiswa diminta menceritakan . ecara pende. urutan acara tedhak siten dalam Bahasa Arab seolah-olah bercerita kepada teman dari negara lain. Sebelum itu, dosen menampilkan gambar bayi dituntun berjalan di atas tanah dan berbagai pernak-pernik tedhak siten seperti kurungan ayam berisi barang-barang, tangga tebu, dll. Mahasiswa berlatih menyebutkan benda-benda tersebut dalam Bahasa Arab: misal Ausangkar ayamAy dijelaskan sebagai qaftas . eranjang/kandan. AutebuAy sebagai qaab al-sukkar . ebu gul. Walau beberapa terjemahan kurang lazim, latihan deskripsi ini memperkaya kosakata mereka dan melatih speaking berstruktur. Saat presentasi naratif, mahasiswa relatif lancar menceritakan ritual tersebut, meski sederhana. Beberapa bahkan mengaitkan dengan nilai moral: misalnya Vol. 13 No. 2 | 84 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam seorang mahasiswa menyimpulkan dalam Bahasa Arab bahwa tedhak siten mengandung harapan agar anak kelak mandiri dan menginjak bumi kuat. Hal ini menunjukkan integrasi kearifan lokal dapat sekaligus menyisipkan pendidikan karakter secara implisit. Temuan ini sejalan dengan riset Hatima . yang menyatakan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dapat menumbuhkan karakter positif siswa seperti kebanggaan dan Ruwatan & Sadranan: Kedua tradisi ini diperkenalkan dalam konteks diskusi kelas berbahasa Arab mengenai kepercayaan dan nilai spiritual lokal. Ruwatan, yaitu ritual tolak bala biasanya untuk Auanak sukertaAy . nak semata wayang, dll. ), dibahas dari sudut pandang budaya dan Islam. Mahasiswa diminta berpendapat dalam Bahasa Arab sederhana tentang apakah mereka pernah mengikuti ruwatan wayang kulit, dan bagaimana pandangan mereka. Sadranan . sebagai tradisi ziarah kubur massal jelang Ramadan juga diangkat. Diskusi berlangsung menarik. ada mahasiswa yang mencoba menjelaskan makna ruwatan dengan istilah AoibAdah thard al-sharr . badah mengusir keburuka. walaupun tidak tepat secara harfiah, namun ini memicu dialog tentang akidah. Dosen meluruskan bahwa dalam Islam semua perlindungan datang dari Allah, namun menghormati budaya bisa dilakukan dengan mengambil sisi positif . isal ruwatan dijadikan syukuran dan doa bersam. Diskusi dalam Bahasa Arab tentang hal abstrak ini menantang, tetapi mahasiswa mampu mengungkapkan opini sederhana seperti AuA II OEc EO Ic II IAUA( AyE CEO I EEI NEEASaya percaya baik buruk dari Allah, tapi saya menghormati tradisi keluarg. Hal ini menumbuhkan sikap toleran dan kritis. Sementara topik Sadranan menghasilkan percakapan tentang ziarah makam dalam Islam, di mana mahasiswa berdialog mengenai pentingnya mendoakan leluhur . engan kosakata seperti AuziyArah al-qubrAy. Aual-ajr wa al-ikhlAA. Teramati bahwa integrasi kedua tradisi ini membawa dimensi diskusi religi-kultural dalam kelas Muhadatsah, membuat praktik bahasa lebih berbobot. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu mahasiswa: AuTernyata ngomong pakai Bahasa Arab bisa juga dipakai bahas tradisi kampung dan pendapat kita, tidak melulu topik buku saja. Ay Ini menandakan peningkatan confidence untuk menggunakan Bahasa Arab secara fungsional. Wayang Kulit: Integrasi wayang kulit dilakukan dengan metode unik, yakni projectbased learning. Mahasiswa secara berkelompok diminta menyusun dialog singkat dalam Bahasa Arab yang berisi cuplikan kisah wayang kulit. Mereka boleh memilih tokoh atau lakon sederhana, misalnya percakapan antara Arjuna dan Semar, atau dialog Gatotkaca dengan Antareja. Proyek mini ini berlangsung dua minggu. Hasilnya, kelompok mahasiswa menampilkan role-play pendek memakai tokoh wayang . engan kertas bergambar tokoh sebagai propert. sambil berdialog dalam Bahasa Arab. Misalnya, satu grup menampilkan adegan Semar memberi nasihat kepada Gareng dalam Bahasa Arab campur sedikit Jawa . ntuk efek humo. Nasihat Semar diucapkan: Auwahai anakku, bekerjalah dengan jujurAy yang aa diterjemahkan ke Arab sederhana AuAAyIOc O A IEA. Suasana kelas sangat hidup dengan tawa dan tepuk tangan. Kendala bahasa justru diatasi dengan kreativitas: mahasiswa menggunakan ekspresi non-verbal dan intonasi khas dalang, sehingga pesan tetap tersampaikan meski Bahasa Arab mereka terbatas. Melalui kegiatan ini, kecintaan terhadap wayang sebagai budaya adiluhung tumbuh, sekaligus kemampuan berkomunikasi meningkat karena mereka Vol. 13 No. 2 | 85 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam lebih enjoy belajar. Salah satu dosen tamu yang mengamati presentasi proyek berkomentar bahwa pendekatan ini adalah bentuk Aupembelajaran berbasis proyek budayaAy yang patut Dari wawancara, seorang mahasiswa mengaku awalnya cemas harus berdialog Arab dengan tokoh wayang. Ausulit bayangkan Semar ngomong ArabAy, namun setelah latihan, ia justru merasa kosa kata bertambah dan tidak canggung lagi berbicara. Ini membuktikan teori bahwa learning by doing dalam konteks budaya sendiri dapat mengurangi ketakutan berbicara. Temuan lapangan ini konsisten dengan pandangan Hasan dkk. bahwa lingkungan belajar berorientasi budaya lokal menciptakan suasana belajar yang partisipatif dan menumbuhkan kebanggaan. Respon Mahasiswa terhadap Pembelajaran Kontekstual Berbasis Budaya Lokal Berdasarkan analisis wawancara, respon mahasiswa terhadap integrasi budaya lokal dalam muhadatsah sangat positif. Beberapa tema utama yang muncul dari pernyataan mahasiswa antara lain: peningkatan motivasi dan kepercayaan diri, kemudahan pemahaman karena konteks familiar, tumbuhnya apresiasi budaya, serta catatan tantangan dalam kosakata. Berikut rangkuman temuan tersebut disertai kutipan-kutipan naratif dari mahasiswa . engan inisial anoni. Meningkatnya Motivasi dan Partisipasi: Seluruh responden menyatakan pembelajaran muhadatsah menjadi Aulebih menarikAy dan Autidak membosankanAy dibandingkan sebelum integrasi budaya lokal. Seorang mahasiswa (AN, 21 tahu. mengungkapkan: AuBiasanya kalau muhadatsah topiknya itu-itu saja, kami kurang semangat. Tapi waktu bahas slametan, wayang, saya jadi antusias karena saya tahu topiknya. Jadi lebih semangat ngomong. Ay Peningkatan minat ini terlihat pula dari keaktifan di kelas Ae dosen mencatat jumlah mahasiswa yang sukarela berbicara meningkat hampir dua kali lipat setelah minggu-minggu menggunakan topik budaya. Temuan ini menguatkan hasil penelitian Handayani dkk. yang menemukan pembelajaran berbasis budaya lokal meningkatkan minat dan keterlibatan siswa secara Bahkan beberapa mahasiswa yang biasanya pasif mulai berani berpendapat ketika membahas tradisi yang mereka kenal. Hal ini selaras dengan teori culturally responsive teaching (Gay, 2. yang menyatakan menghubungkan materi dengan budaya siswa dapat memotivasi mereka karena merasa dihargai latar belakangnya. Percaya Diri Berbicara Meningkat: Sebagian besar mahasiswa mengaku lebih percaya diri berbicara dalam Bahasa Arab ketika topik pembicaraan adalah hal yang mereka kuasai . udaya sendir. AuWaktu disuruh ceritakan Tedhak Siten, saya lancar Bu, soalnya kan tahu acaranya gimana. Biasanya mau ngomong Arab takut salah, tapi ini saya coba saja,Ay kata seorang mahasiswi (FN, 22 tahu. Ini menunjukkan bahwa penguasaan konten . ontent familiarit. membantu kelancaran berbahasa asing. Mereka tidak terlalu khawatir kehabisan ide atau konten pembicaraan, sehingga lebih fokus mencari kata-kata Arab yang tepat. Dosen juga mengamati penurunan frekuensi jeda Auumm. Ay atau diam ketika mahasiswa berbicara, karena mereka sebetulnya tahu apa yang ingin disampaikan. Dengan kata lain, integrasi budaya lokal berperan sebagai scaffolding isi pembicaraan. Keyakinan diri yang tumbuh ini merupakan indikator penting kesuksesan pembelajaran bahasa, karena menurut Krashen . menurunnya affective filter . akan meningkatkan intake bahasa. Satu catatan tambahan: ada mahasiswa mengatakan bahwa berbicara tentang budaya sendiri dalam bahasa Vol. 13 No. 2 | 86 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Arab memberinya kebanggaan tersendiri. AuSaya merasa keren bisa jelasin budaya Jawa pakai ArabAy. Aspek kebanggaan ini berkontribusi pada kepercayaan diri dan motivasi intrinsik Kemudahan Memahami Materi: Integrasi kearifan lokal membuat mahasiswa lebih mudah memahami konteks percakapan. Topik-topik seperti slametan, pernikahan, atau wayang sudah akrab di benak mereka, sehingga ketika dialog diberikan, mereka cepat mengerti alur tanpa perlu penjelasan panjang lebar. Sebagai perbandingan, pada awal semester pernah dicoba topik percakapan Audi pasar ArabAy dari buku, mahasiswa lambat memahami situasi karena kurang familiar . isal tidak tahu istilah buah khas Timur Tenga. Dengan topik lokal. Aunggak perlu banyak mikir alur ceritanya, jadi langsung fokus ke bahasa Arab-nya,Ay ujar mahasiswa (RM, 20 tahu. Hal ini mendukung prinsip contextual learning di mana keterkaitan dengan pengalaman nyata meningkatkan pemahaman. Beberapa mahasiswa menambahkan bahwa belajar kosakata baru jadi mudah karena ada gambaran nyatanya dalam tradisi mereka. Contoh: kata Audukun bayiAy . yang sulit diterjemahkan, setelah dijelaskan sebagai AualuakmahAy . idan tradisiona. , mereka ingat terus karena terasosiasi dengan figur nyata di komunitas mereka. Ini sejalan dengan konsep meaningful learning Ausubel bahwa informasi baru melekat lebih kuat bila dikaitkan pengetahuan lampau yang bermakna. Dari segi hasil evaluasi, meski penelitian ini bukan berfokus kuantitatif, diketahui nilai rata-rata ujian lisan akhir semester mahasiswa mengalami kenaikan dibanding kelas tahun sebelumnya. Hal ini bisa jadi indikasi pembelajaran kontekstual membantu kompetensi komunikasi mereka. Apresiasi dan Pelestarian Budaya: Menariknya, integrasi budaya lokal tidak hanya berdampak pada aspek bahasa, tetapi juga pada sikap mahasiswa terhadap budaya mereka Beberapa responden mengaku baru memahami makna filosofi tradisi setelah dibahas di kelas. AuSaya baru tahu lho arti simbol di tedhak siten pas disuruh ceritakan kemarin. Jadi tambah menghargai tradisi Jawa,Ay kata (SL, 21 tahu. Diskusi tentang ruwatan dan sadranan juga memicu mereka berdialog dengan orang tua/nenek di rumah untuk menggali informasinya, yang secara tak langsung mendekatkan generasi muda pada tradisi leluhur. Integrasi ini, menurut mereka, membuat pelajaran Bahasa Arab Aubernilai gandaAy Ae selain dapat bahasa, dapat pengetahuan budaya. Hal tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk memperkuat identitas dan karakter peserta didik melalui muatan lokal. Temuan ini serupa dengan laporan Hasan dkk. di mana pembelajaran berorientasi budaya lokal di pesantren Ponorogo membangkitkan integrasi antara materi dan nilai kearifan lokal. Secara psikologis, mahasiswa merasakan bangga karena budaya mereka diakui sebagai bagian dari Ini berbeda dari paradigma lama yang kadang menganggap budaya lokal kurang relevan di kelas bahasa asing. Dengan demikian, strategi ini berkontribusi pula pada pelestarian budaya: mahasiswa menjadi agen yang mampu menceritakan budayanya dalam bahasa internasional (Ara. , sehingga memperluas jangkauan apresiasi budaya tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Rahayu & Ruruk . , pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan kecintaan siswa pada budaya daerah. Tantangan dan Solusi: Tentu, integrasi budaya lokal tidak sepenuhnya tanpa kendala. Tantangan utama yang diutarakan mahasiswa adalah keterbatasan kosakata Bahasa Arab untuk istilah budaya spesifik. Beberapa kata/konsep adat memang tidak memiliki padanan langsung. Vol. 13 No. 2 | 87 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Contohnya AumidodareniAy. AusukertaAy. AusesajenAy, atau nama-nama tokoh wayang. Mahasiswa kadang frustasi mencari terjemahan, hingga terpaksa menggunakan bahasa Indonesia di tengah kalimat Arab. Namun, hal ini dijadikan pembelajaran oleh dosen: mahasiswa diajarkan teknik descriptive paraphrase Ae menjelaskan makna kata dalam bahasa Arab ketimbang menerjemahkan satu kata yang tiada padanannya. Metode ini cukup berhasil, meski memerlukan waktu membimbing. Tantangan lain adalah potensi miskonsepsi budaya jika dijelaskan dalam bahasa asing. Namun, diskusi kelas memastikan konsep yang diajarkan tetap sesuai fakta budaya. Dari sisi dosen, tantangannya adalah menyiapkan materi ekstra dan memastikan akurasi istilah. Dosen mengaku harus melakukan riset kecil, misalnya mencari tahu istilah Arab klasik untuk beberapa upacara . eski akhirnya lebih sering menggunakan Tantangan ini sejalan dengan yang diungkap Misriani dkk. bahwa integrasi budaya lokal perlu kesiapan guru dalam pemahaman budaya dan kreativitas mengaitkan dengan materi. Meski demikian, seluruh tantangan ini bersifat teknis dan dapat diatasi dengan Tidak ada tantangan resistensi dari sisi mahasiswa. mereka justru berharap lebih banyak tradisi lokal lain dibahas. Ini menunjukkan penerimaan yang baik terhadap pendekatan Pembahasan Temuan dalam Kerangka Teori dan Penelitian Terdahulu Secara umum, temuan penelitian ini mengukuhkan manfaat pendekatan kontekstual berbasis budaya lokal dalam pembelajaran bahasa, khususnya Bahasa Arab. Peningkatan motivasi, partisipasi, dan kemudahan belajar yang dialami mahasiswa konsisten dengan berbagai penelitian terdahulu lintas mata pelajaran. Handayani et al. membuktikan integrasi budaya lokal pada pembelajaran bahasa meningkatkan minat belajar dan keterlibatan taruna, serupa dengan hasil di kelas Muhadatsah ini. Dari sudut pandang teori motivasi . isalnya menurut ARCS model Kelle. , relevansi materi dengan pengalaman siswa adalah faktor kunci untuk menarik perhatian dan mempertahankan motivasi. Dalam kasus ini, relevansi diwujudkan melalui konteks budaya yang akrab, sehingga memenuhi komponen Relevance dan Attention sekaligus. Temuan peningkatan kemampuan berbicara dan kepercayaan diri mahasiswa sejalan dengan konsep communicative competence oleh Hymes, yang menekankan kompetensi sosiokultural dalam berbahasa. Dengan berlatih Bahasa Arab dalam konteks budaya sendiri, mahasiswa mengembangkan kompetensi sosiokultural Ae mereka belajar menyesuaikan ekspresi bahasa asing untuk menggambarkan realitas lokal. Ini meningkatkan strategic competence . trategi berkomunikasi saat kekurangan kosakata, misalnya dengan parafras. dan sociolinguistic competence . emahaman konteks sosial budaya pembicaraa. Alam & Asyrofi . dalam studi tentang metode Muhadatsah Yaumiyah . ercakapan sehari-har. juga menekankan pentingnya melatih santri berbicara dengan tema keseharian agar maharah kalam Studi ini memperluas cakupan Autema keseharianAy ke ranah budaya lokal keseharian, yang terbukti efektif. Dari perspektif Culturally Responsive Teaching (Gay, 2. , pembelajaran ini memenuhi ciri-ciri CRT: . Student-centered Ae budaya dan pengalaman siswa dijadikan pusat proses belajar, bukan sesuatu yang diabaikan. Empowering Ae mahasiswa merasa dihargai identitasnya dan menjadi lebih berdaya untuk berbicara. Transformative Ae mengubah pola Vol. 13 No. 2 | 88 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pikir bahwa bahasa Arab hanya untuk konteks Arab. kini mereka tahu bahasa dapat menjembatani budaya. Hal ini dapat memperkuat dimensi pendidikan multikultural dan identitas nasional. Sebagaimana Erawati dkk. temukan, integrasi budaya lokal memperkuat dimensi kognitif, afektif, psikomotor siswa serta mendukung pembentukan karakter Pancasila. Pada mahasiswa PBA, karakter yang tumbuh antara lain rasa percaya diri, rasa ingin tahu, dan toleransi terhadap perbedaan. Lebih lanjut, hasil penelitian ini tidak terlepas dari koridor nilai-nilai Islami. Tidak ada penolakan dari kalangan kampus maupun mahasiswa terkait penggunaan budaya lokal, karena sebelumnya telah dipastikan bahwa tradisi yang diangkat netral/tidak syirik. Diskusi dalam kelas juga menggarisbawahi mana aspek budaya yang boleh diambil dan mana yang harus diluruskan menurut Islam . isal, meluruskan bahwa keselamatan tetap dari Allah meski kita mengadakan slametan sebagai do. Ini persis implementasi konsep Pribumisasi Islam ala KH. Abdurrahman Wahid (Gus Du. , yang menggunakan kaidah al-Aoadat muhakkamah dalam mengakomodasi unsur budaya ke dalam praktik Islam. Gus Dur berpendapat kebudayaan lokal dapat berjalan beriringan dengan ajaran Islam sepanjang substansinya tidak bertentangan. Dalam konteks pembelajaran, hal ini berarti tradisi lokal justru bisa menjadi alat untuk menjelaskan nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang akrab bagi siswa. Misalnya, saat membahas nyadran (Sadrana. , dosen mengaitkan dengan ajaran Islam tentang menghormati orang tua dan mendoakan leluhur Ae sehingga mahasiswa memahami esensi islami di balik budaya itu. Contoh ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal juga dapat berfungsi sebagai pendidikan nilai. Nilai-nilai seperti gotong royong . alam slameta. , hormat orang tua . alam tedhak site. , kasih sayang keluarga . alam tingkeba. , dan kejujuran/nasihat . alam lakon wayan. muncul dalam diskusi muhadatsah. Dengan kata lain, kegiatan berbahasa telah menjadi wahana pendidikan karakter yang organik. Di sisi lain, penelitian ini juga menegaskan pentingnya kesiapan pendidik dalam mengimplementasikan inovasi serupa. Guru/dosen dituntut menguasai dua hal: pemahaman budaya lokal secara benar dan kompetensi menerjemahkan atau mendeskripsikan konsep budaya dalam bahasa Arab dengan tepat. Dalam studi Harisatunisa & Sauqi . , guru yang menerapkan pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal Penginyongan harus berkreasi dalam menyusun bahan ajar dan aktivitas. Demikian pula, dosen dalam penelitian ini menyusun sendiri materi dialog karena buku teks yang ada belum tentu memuat konten budaya lokal. Ini bisa menjadi pertimbangan bagi pengembang kurikulum dan penulis buku Bahasa Arab di Indonesia: peluang memasukkan muatan lokal agar materi lebih dekat dengan siswa. Bahkan, seperti disinggung dalam referensi Misriani dkk. , integrasi semacam ini dipandang urgent untuk membuat pembelajaran bahasa Indonesia . an analoginya bahasa asin. tidak terlepas dari konteks budaya bangsa. Temuan penelitian ini konsisten dengan prinsip-prinsip pembelajaran inovatif berbasis budaya yang diulas Iswatiningsih . bahwa penguatan pendidikan karakter melalui nilai lokal akan lebih efektif karena siswa mengalami langsung nilai tersebut dalam proses belajar, bukan hanya teori. Meskipun fokus penelitian ini adalah keterampilan berbahasa . , dampak afektif dan psikomotor juga muncul, misalnya sikap bangga dan partisipasi aktif. Ini mengindikasikan tercapainya learning outcomes holistik. Ke depan, hasil ini bisa dibandingkan Vol. 13 No. 2 | 89 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam dengan integrasi budaya dari daerah lain atau suku lain dalam pembelajaran bahasa Arab untuk melihat generalisasinya. Sebagai perbandingan. Wahyuningsih & Muslimin . di Bima berhasil mengintegrasikan topik budaya Bima dalam berbagai metode (Grammar Translation. Direct Method. Audio-Lingua. , artinya pada konteks manapun integrasi budaya lokal cenderung memperkaya strategi pembelajaran. Secara praktis, pembelajaran muhadatsah kontekstual berbasis budaya lokal ini dapat dianggap sebagai bentuk inovasi kurikulum mikro yang mendukung Merdeka Belajar. Mahasiswa diberi ruang mengeksplorasi budaya sendiri dengan bahasa target, yang sejalan dengan Kurikulum Merdeka di mana muatan lokal diberi tempat penting. Ini juga menjawab isu globalisasi yang kadang dikhawatirkan menggerus identitas lokal Ae justru di sini globalisasi . enguasaan bahasa asin. dijalankan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Seperti ungkapan populer. Aulocal wisdom goes globalAy, para mahasiswa kini mampu membawa cerita budayanya ke ranah bahasa internasional (Arab sebagai bahasa dunia Isla. Dari temuan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran muhadatsah memberikan multi-dampak positif: peningkatan keterampilan berbahasa, motivasi yang lebih tinggi, serta internalisasi nilai budaya. Hal ini memperkaya khazanah model pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia yang sebelumnya banyak berpusat pada teks kitab atau budaya Timur Tengah, menuju model yang lebih kontekstual dan berakar pada budaya sendiri. Tentu, penulis menyadari keterbatasan penelitian ini misalnya pada lingkup subjek yang hanya satu kelas dan waktu satu semester. Metrik peningkatan kemampuan berbicara juga belum diukur secara kuantitatif terpisah. Namun, kekayaan data kualitatif dari pengalaman mahasiswa ini sudah cukup menjadi evidensi manfaat pendekatan Kajian lanjut bisa dilakukan dengan melibatkan kelas atau kampus lain, atau bahkan mengembangkan module Muhadatsah berbasis budaya Jawa secara resmi dan mengujicobakannya untuk evaluasi hasil belajar secara terukur. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi budaya lokal Indonesia . hususnya budaya adat Jaw. dalam pengembangan materi Muhadatsah kontekstual terbukti efektif meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Arab. Sembilan tradisi Jawa Ae Slametan. Tingkeban. Siraman. Midodareni. Panggih. Tedhak Siten. Ruwatan. Sadranan, dan Wayang Kulit Ae berhasil dijadikan tema-tema percakapan yang dekat dengan pengalaman mahasiswa, sehingga membuat latihan Muhadatsah lebih hidup dan bermakna. Mahasiswa menunjukkan motivasi yang lebih tinggi, partisipasi aktif, dan kepercayaan diri berbicara yang meningkat ketika berdialog dalam konteks budaya sendiri. Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata mereka, sehingga mempermudah pemahaman dan retensi kosa kata baru. Selain peningkatan aspek berbahasa, integrasi ini menumbuhkan apresiasi mahasiswa terhadap kearifan lokal dan budaya warisan leluhur. Mahasiswa merasa bangga dapat menceritakan tradisi Jawa dalam Bahasa Arab, dan hal ini secara tidak langsung memperkuat identitas budaya mereka di tengah proses pembelajaran bahasa asing. Vol. 13 No. 2 | 90 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam DAFTAR PUSTAKA