Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung Ayuzha Tidar Faradilla 1* Farida Kurniawati 1 Program Studi Psikologi Terapan. Program Magister. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia * Korespondensi Ayuzha. tidar@ui. Tel: 62 858 6523 8550 Diterima: 11 Februari 2025. Disetujui: 20 April 2025. Diterbitkan: 30 April 2025 Abstrak: Pengetahuan seksual menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak untuk membentuk nilai dan sikap yang tepat terhadap seksualitas dan meningkatkan kemampuan anak untuk dapat menghindar dari resiko kekerasan seksual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat pengetahuan seksual anak usia 4-6 tahun di Kota Bandung. Uji deskriptif dilakukan pada 261 responden menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, metode analisis statistik deskriptif dan metode penarikan sampel convenience sampling. Hasil uji menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak . ,1 perse. memiliki pengetahuan seksual yang tinggi dengan skor pengetahuan berada dalam rentang 14-19. Sebanyak 30,2 persen anak memiliki pengetahuan seksual dalam kategori sedang dengan skor 7-13 dan 2,7 persen anak memiliki pengetahuan seksual dalam kategori rendah dengan skor 0-6. Secara keseluruhan, hasil uji deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia dini di Kota Bandung memiliki pengetahuan seksual yang tinggi namun masih terdapat sebagian kecil anak dengan pengetahuan dalam kategori sedang dan rendah yang perlu dioptimalkan. Perlunya peningkatan kemampuan guru dan orang tua dalam menyampaikan materi pendidikan seksual, pemilihan metode dan media yang tepat, penyusunan kurikulum pendidikan seksual yang sesuai serta evaluasi program pendidikan seksual secara berkala sebagai upaya meningkatkan pengetahuan seksual anak usia dini yang berada pada kategori sedang dan rendah di Kota Bandung ini. Kata kunci: pengetahuan seksual, anak usia dini, pendidikan seksual Abstract: Sexual knowledge is an important part of childhood, as it helps to shape appropriate values and attitudes toward sexuality and enhances a childAos ability to avoid the risks of sexual violence. The aim of this study is to measure the level of sexual knowledge among children aged 4-6 years in Bandung City. A descriptive test was conducted on 261 children using a quantitative approach with a survey method, descriptive statistical analysis, and a convenience sampling technique. The results show that the majority of children . 1 percen. had high sexual knowledge, with scores ranging from 14 to 19. total of 30. 2 percent of the children had moderate sexual knowledge, with scores ranging from 7 to 13, and 2. 7 percent had low sexual knowledge, with scores ranging from 0 to 6. Overall, the descriptive results indicate that most young children in Bandung City possess high sexual knowledge, though a small portion still have moderate or low knowledge that needs to be There is a need improved teacher and parental capabilities in delivering sexual education material, appropriate selection of methods and media, development of a suitable sexual education curriculum, and regular evaluation of sexual education programs as efforts to enhance sexual knowledge among children in the moderate and low categories in Bandung City Keywords: sexual knowledge, early childhood, sexual education Pendahuluan Kekerasan seksual pada anak didefinisikan oleh World Health Organization sebagai keterlibatan anak yang belum siap secara perkembangan dalam aktivitas seksual yang melanggar hukum atau tabu sosial dalam masyarakat dimana anak tidak sepenuhnya memahami dan tidak dapat memberikan persetujuan (Ambarwati, 2. Jenis-jenis kekerasan seksual yang dapat terjadi pada anak antara lain: pelecehan seksual fisik, pelecehan seksual non fisik, penyiksaan atau eksploitasi seksual, pencabulan, perkosaan, persetubuhan, kekerasan seksual berbasis elektronik, serta pornografi (UU No. 12 tahun Tingginya kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia telihat pada data tahun 2016-2020 yang menunjukkan kasus kekerasan anak paling tinggi didominasi oleh kasus kekerasan seksual (Peraturan https://ejournal. id/index. php/jsk/article/view/3570 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 Presiden Republik Indonesia No. 101 tahun 2. Kementerian Sosial per 31 Januari 2022 juga merilis data yang menyatakan bahwa dari 1. 253 kasus kekerasan terhadap anak yang telah ditangani oleh Kementerian Sosial, jumlah kasus tertinggi ada pada kasus anak korban kejahatan seksual sebanyak 338 anak. Pada tahun 2023 Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan aduan kasus tertinggi yang masuk setiap harinya terdapat pada klaster perlindungan khusus anak dengan jenis kasus anak korban kejahatan seksual. Data tersebut masih konsisten terjadi sampai tahun 2024 dimana data KEMENpA menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual anak menempati urutan tertinggi dalam kasus kekerasan pada anak di Indonesia. Pada ranah digital, kekerasan seksual berbasis elektronik juga meningkat seiring berkembangnya teknologi digital yang telah diakses oleh anak usia dini dimana sebanyak 22% anak di Indonesia menemukan konten seksual secara daring melalui iklan, media sosial, mesin pencari dan aplikasi pesan, serta sekitar 500. 000 anak menyatakan pernah mengalami eksploitasi seksual di dunia maya pada tahun 2023 (UNICEF, 2. Paparan data tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di Indonesia masih sangat rentan beresiko menjadi korban kekerasan seksual. Faktor penyebab tingginya kekerasan seksual di Indonesia antara lain adalah: Kemiskinan . erjadi di sekitar masyarakat dengan sosial ekonomi renda. , tingkat pendidikan yang rendah, peran media sosial . engaruh situs negatif, foto dan video porn. , kondisi keluarga . agaimana anak mempelajari cara berinteraksi, berekspresi, bersikap, berperilaku dan menganut prinsip hidup tertent. , kurangnya kesadaran dan partisipasi orang tua dalam pencegahan tindak kekerasan seksual serta program edukasi pemerintah yang sulit diakses masyarakat . idak adanya media edukasi seperti spanduk, poster atau leaflet terkait kekerasan seksual di lokasi-lokasi penting di lingkungan masyaraka. Selain itu dari sisi sosial budaya, persepsi masyarakat yang masih memandang tabu pembahasan kekerasan seksual dan menganggap hal tersebut sebagai aib dan perlu ditutupi juga menjadi penyebab meningkatnya kekerasan seksual di Indonesia (Raijaya & Sudibia, 2017. Farouqi dkk. , 2023. Napitupulu & Julio, 2. Sedangkan penyebab paling besar terjadinya kejahatan seksual pada anak adalah karena anak belum mendapatkan pendidikan seksual untuk meningkatkan pengetahuan seksual sebagai modal utama anak untuk melindungi diri dari berbagai resiko kekerasan seksual yang dapat terjadi di lingkungan terdekat (Yusuf, 2019. Nada, 2023. Zubaedah, 2. Pengetahuan seksual menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak khususnya anak usia dini untuk membentuk nilai dan sikap yang tepat pada anak terhadap seksualitas serta mempengaruhi persepsi anak untuk menghindar dari tindakan-tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual ( Jin & Park, 2011. Hartini, 2. Pengetahuan seksual merupakan kumpulan informasi yang mengacu pada pengetahuan dan kesadaran individu tentang seks dan seksualitas . ermasuk aspek fisiologis, reproduksi, kinerja, dan perilaku seksual individ. yang muncul bersamaan saat kehidupan seksual anak mencapai puncak pertamanya pada usia 3-5 tahun dan memiliki hubungan penting terhadap kehidupan seksual seseorang (Soltani et al. , 2017. Freud, 1. Pada kenyataannya, pengetahuan seksual anak pada usia ini masih terbatas. Dalam penelitian Margaretta & Kristyaningsih . menyatakan bahwa 58,3% anak usia sekolah memiliki pengetahuan seksual dalam kategori kurang dan 27,7% lainnya dalam kategori cukup. Di Amerika, dari 128 anak prasekolah menunjukkan hanya 10% anak-anak yang mengetahui terminologi alat kelamin yang benar (Bergstrym et al. , 2. Penelitian di TK Tirmi Ara Aceh Tengah juga menunjukkan bahwa pengetahuan seksual anak usia prasekolah masih sangat rendah dimana sebagian besar anak belum mengetahui perbedaan laki-laki dan perempuan, area privasi tubuh dan cara menjaga diri dari resiko kekerasan seksual (Ismiulya, et al. , 2. Hasil observasi di TK Harapan Bunda Telanaipura juga menunjukkan 9 dari 14 anak masih belum berkembang pengetahuan seksualnya (Indryani et al. , 2. Pengukuran pengetahuan seksual penting dilakukan pada anak usia dini sebagai rujukan pemberian pendidikan seksual yang sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangan seksual anak sehingga anak dapat membangun citra diri dan citra tubuh yang positif, membangun harga diri, kepercayaan Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 diri dan sikap positif, memahami ekspresi emosi, mampu mengambil keputusan sendiri, menghormati tubuh sendiri dan orang lain serta dapat menerima aturan sosial terkait privasi (WHO, 2. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran pengetahuan seksual anak usia dini di Kota Bandung yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat yang menjadi salah satu Provinsi di Indonesia dengan tingkat kekerasan seksual anak tertinggi menurut data KEMENpA per Januari 2024 setelah Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Utara. Anak usia dini yang dimaksud menjadi responden penelitian merupakan anak pada rentang usia 4-6 tahun. Menurut WHO . , terdapat delapan topik pengetahuan seksual yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku seksual serta membantu mengembangkan identitas seksual anak usia 4-6 tahun yakni pengetahuan terkait perkembangan tubuh manusia, proses reproduksi, seksualitas, emosi, hubungan dan gaya hidup, kesehatan seksual, hak-hak seksual serta faktor sosial budaya yang mempengaruhi seksualitas. Delapan topik pengetahuan seksual inilah yang akan menjadi dasar dimensi pengetahuan seksual yang akan diukur dan diujikan pada anak usia dini dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan program pendidikan seksual yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan tahapan perkembangan anak usia dini di Kota Bandung. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan metode analisis data statistik deskriptif untuk memperlihatkan gambaran pengetahuan seksual yang dimiliki oleh anak usia dini. Metode penarikan sampel yang digunakan adalah non probability sampling dengan teknik convenience sampling yang dipilih berdasarkan ketersediaan dan kemudahan dalam mendapatkan sampel sesuai karakteristik yang ditentukan (Sugiyono, 2. Dimensi pengetahuan seksual dalam instrumen penelitian disusun oleh peneliti berdasarkan delapan dimensi pengetahuan seksual WHO . yakni: . Perkembangan tubuh manusia . Proses reproduksi . Seksualitas . Emosi . hubungan dan gaya hidup . Kesehatan seksual . Hak-hak seksual dan . Faktor sosial budaya yang mempengaruhi seksualitas. Lokasi penelitian ini berada di Kota Bandung. Provinsi Jawa Barat dengan kriteria responden: . Anak usia dini pada rentang usia 4-6 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Berdomisili di Kota Bandung. Tidak didiagnosa berkebutuhan khusus atau gangguan psikologis lainnya berdasarkan keterangan guru atau orang tua. Anak bersedia mengikuti kegiatan pengambilan data penelitian dan telah mendapatkan izin dari orang tua yang dinyatakan dengan informed consent. Penelitian ini sudah mendapatkan Surat Keterangan Lolos Kaji Etika Penelitian dari Komite Etika Penelitian Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan Nomor : 207/FPsi. Komite Etik/PDP. 00/2025 tanggal 6 Januari 2025. Uji validitas instrument dilakukan melalui content validity untuk mengukur sejauh mana isi instrumen pengukur mewakili seluruh aspek kerangka konsep (Silalahi, 2. yang dilakukan melalui expert judgement dengan pertimbangan ahli dari dosen psikolog. Uji validitas melalui construct validity untuk mengukur apakah indikator dalam instrumen pengukur merupakan bagian dari variabel yang ingin diukur berdasarkan definisi operasional (Silalahi, 2. dilakukan dengan uji keterbacaan kepada lima anak usia dini yang sesuai dengan kriteria responden. Uji reliabilitas dilakukan dengan interrater consistency method dengan nilai analisis reliabilitas CronbachAos Alpha 0. 817 yang mengindikasikan satisfactory internal consistency reliability atau reliabel dan layak digunakan sebagai instrumen ukuran untuk penelitian (Silalahi, 2. Kedelapan dimensi menunjukkan angka koefisien reliabilitas a C 0. yang mengindikasikan unsatisfactory internal consistency reliability (Silalahi, 2. sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu dimensi dan dilebur menjadi satu dimensi pengetahuan seksual anak . ni Uji indeks validitas dan item test correlation dilakukan dengan membandingkan skor setiap item dengan skor total dan menghasilkan 19 item kuesioner dengan nilai korelasi tinggi yang akan digunakan sebagai alat ukur pengetahuan seksual anak usia dini dalam penelitian ini. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner alat ukur pengetahuan seksual kepada responden secara daring melalui media sosial. Jumlah minimal responden untuk studi Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 deskriptif menurut Fraenkel dan Wallen . adalah 100 orang dan responden yang mengisi kuesioner penelitian ini berjumlah 261 anak dengan rincian usia sebagai berikut: Tabel 1. Rincian Usia Responden Usia 4 tahun 5 tahun 6 tahun Total Sumber: Hasil Data Penelitian Jumlah Seluruh responden mengisi 19 item instrumen pengetahuan seksual yang telah disesuaikan dengan kemampuan anak usia dini . enggunakan bahasa yang mudah dipahami, tidak menggunakan kalimat yang terlalu panjang, menggunakan gambar serta diberikan simbol pada pilihan jawaban benar, salah dan tidak tah. Instrumen memiliki tiga pilihan jawaban yakni benar, salah dan tidak Jawaban yang benar mendapatkan skor 1 dan jawaban salah dan tidak tahu mendapatkan skor Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk melihat faktor usia dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan seksual anak. Hasil Tingkat pengetahuan seksual anak dilihat dari jumlah skor jawaban benar. Semakin tinggi skor menunjukkan semakin tinggi pengetahuan seksual yang dimiliki oleh anak usia dini. Skor tertinggi adalah 19 dan skor terendah adalah 0 yang akan dibagi kedalam tiga rentang kategori pengetahuan seksual yakni kategori tinggi . kor pengetahuan seksual 14-. , kategori sedang . kor pengetahuan seksual skor 7-. dan kategori rendah . kor pengetahuan seksual 1-. Dalam tabel terlihat sebanyak 67,1% anak usia dini di Kota Bandung memiliki tingkat pengetahuan seksual tinggi, 30,2% anak memiliki tingkat pengetahuan seksual sedang dan 2,7% anak memiliki tingkat pengetahuan seksual Tabel 2. Hasil Skor Pengetahuan Seksual Kategori Jumlah Anak Persentase Tinggi (Skor 14-. 67,1% Sedang (Skor 7-. 30,2 % Rendah (Skor 0-. 2,7 % Tingkat pengetahuan seksual anak dilihat dari jumlah skor jawaban benar. Semakin tinggi skor menunjukkan semakin tinggi pengetahuan seksual yang dimiliki oleh anak usia dini. Skor tertinggi adalah 19 dan skor terendah adalah 0 yang akan dibagi kedalam tiga rentang kategori pengetahuan seksual yakni kategori tinggi . kor pengetahuan seksual 14-. , kategori sedang . kor pengetahuan seksual skor 7-. dan kategori rendah . kor pengetahuan seksual 1-. Dalam tabel terlihat sebanyak 67,1% anak usia dini di Kota Bandung memiliki tingkat pengetahuan seksual tinggi, 30,2% anak memiliki tingkat pengetahuan seksual sedang dan 2,7% anak memiliki tingkat pengetahuan seksual Berikut merupakan hasil uji deskriptif tingkat pengetahuan seksual anak usia dini di Kota Bandung menggunakan aplikasi JAMOVI: Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 Tabel 3. Hasil Uji Deskriptif Skor Total Missing Mean Std. error mean Median Mode Sum Standard deviation Variance Range Minimum Maximum Skewness Std. error skewness Kurtosis Std. error kurtosis Shapiro-Wilk W Shapiro-Wilk p < . Sumber : Hasil uji dengan aplikasi JAMOVI Tabel tersebut telah memberikan gambaran distribusi dan karakteristik pengetahuan seksual anak-anak usia dini di Kota Bandung yakni sebagai berikut: Nilai n = 261 menunjukkan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 261 responden. Nilai mean = 15. Jika mengacu pada rentang berikut: Kategori tinggi . kor pengetahuan seksual 14-. , kategori sedang . kor pengetahuan seksual skor 7-. dan kategori rendah . kor pengetahuan seksual 1-. maka rata-rata anak usia dini di Kota Bandung memiliki pemahaman cukup baik terkait Pendidikan seksual. Nilai standard error mean . menunjukkan bahwa nilai rata-rata . merupakan perkiraan yang cukup akurat terhadap rata-rata populasi sebenarnya sehingga sampel dinilai cukup mewakili populasi yang lebih luas. Nilai median atau nilai tengah dari skor pengetahuan seksual ini adalah 16. Karena nilai median lebih besar dari nilai mean dan lebih kecil dari nilai modus sehingga menunjukkan bahwa distribusi data sedikit miring ke kiri . eft-skewe. di mana lebih banyak anak yang memperoleh skor lebih tinggi dibandingkan dengan skor rendah. Nilai modus 19. 0 menunjukkan skor ini yang paling banyak muncul yang menandakan bahwa sebagian besar anak-anak memperoleh nilai pengetahuan seksual pada rentang kategori tinggi atau memiliki pengetahuan seksual cukup baik. Sum . merupakan total skor seluruh responden yakni hasil penjumlahan dari semua skor Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 Nilai standar deviasi sebesar 3. 86 menunjukkan seberapa jauh nilai-nilai pengetahuan seksual anak ini tersebar dari nilai rata-rata . Artinya, standar deviasi menunjukkan adanya variasi cukup besar dalam data, data tidak terkonsentrasi terlalu dekat dengan mean dan tersebar lebih luas di sekitar nilai tersebut yakni sekitar 68% dalam distribusi normal berada di antara 11. 14 dan 86 sehingga penyebaran data cukup moderat, tidak terlalu sempit atau tersebar jauh dari nilai Range . merupakan rentang skor antara nilai minimum dan maksimum yang menunjukkan variasi yang cukup besar dalam data. Nilai variance menunjukkan ukuran penyebaran data. Data ini memiliki varians yang relative tinggi . dan rentang yang lebar . yang menunjukkan adanya keberagaman pengetahuan seksual yang signifikan pada anak-anak. Rentang yang besar . yang merupakan selisih dari nilai maksimum skor . dengan nilai minimum . menunjukkan terdapat perbedaan besar dalam tingkat pengetahuan seksual anak. Meski mayoritas anak memperoleh skor pengetahuan seksual yang tinggi, namun terdapat sebagian kecil yang memiliki pengetahuan seksual tidak Nilai skewness adalah -0. 823 yang menunjukkan distribusi data miring ke kiri . Artinya, sebagian besar data berada di sisi kanan rata-rata namun terdapat beberapa nilai yang cukup rendah atau ekstrem . yang lebih kecil dari rata-rata sehingga distribusi lebih berat ke kiri. Nilai standard error of skewness . adalah ukuran ketepatan dari estimasi skewness. Semakin kecil nilai ini maka semakin akurat estimasi skewness dalam menggambarkan distribusi data. Nilai kurtosis -0. 366 yang lebih rendah dari kurtosis distribusi normal yakni 0 menunjukkan distribusi data yang cenderung lebih datar dari distribusi normal . Artinya tidak ada konsentrasi puncak yang tajam di sekitar rata-rata yang menunjukkan bahwa sebagian besar anakanak memperoleh skor yang relatif dekat dan cenderung berpusat di sekitar rata-rata dengan penyebaran yang tidak terlalu tajam . urang bervarias. Standard error of kurtosis merupakan ukuran ketepatan estimasi dari nilai kurtosis yang dihitung. Nilai 0. 300 menunjukkan bahwa pengukuran kurtosis cukup stabil. Nilai Shapiro-Wilk W menunjukkan apakah data mengikuti distribusi normal. Nilai Shapiro-Wilk W . dan p-value (<0. menunjukkan data tidak sepenuhnya mengikuti distribusi normal meski nilai kurtosis dan skewness tidak menunjukkan deviasi ekstrim dari normalitas. Hal ini kemungkinan terjadi karena sebagian besar anak-anak memiliki skor yang tinggi, sementara hanya sebagian kecil yang memiliki skor rendah. Oleh karena itu, distribusi cenderung terdistorsi ke sisi tinggi yang menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak memiliki pengetahuan seksual yang baik namun sebagian kecil masih sangat terbatas pengetahuannya. Meskipun data tidak terdistribusi normal, namun dengan sampel 261 responden, distribusi data mungkin cukup besar untuk memberikan gambaran umum yang representatif untuk populasi anak usia dini di Kota Bandung. Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linear Sederhana Model Model Coefficients Predictor Estimate Intercept < . Usia Sumber : Hasil uji dengan aplikasi JAMOVI Tabel hasil uji regresi linear sederhana memberikan gambaran pengaruh faktor usia terhadap pengetahuan seksual anak-anak usia dini di Kota Bandung yakni sebagai berikut: Nilai R . oefieisien korelas. = 0. 197 menunjukkan korelasi antara nilai yang diprediksi dan nilai Nilai R pada rentang 0. 00 - 0. 19 menunjukkan hubungan linear yang lemah atau hampir tidak ada Nilai RA = 0. 0387 menunjukkan hanya 3,87% variasi dalam variabel dependen (Skor pengetahuan seksua. yang dapat dijelaskan oleh variabel prediktor (Usi. Artinys variabel usia memiliki kemampuan prediksi yang sangat lemah terhadap pengetahuan seksual anak usia dini di Kora Bandung. Nilai intercept . 54, p < 0. menunjukkan jika usia anak = 0 maka skor pengetahuan seksual yang diprediksi adalah 9. Usia . 10, p = 0. menunjukkan pada setiap kenaikan 1 unit pada usia akan meningkatkan skor pengetahuan seksual sebesar 1. Nilai p = 0. 001 (< 0. menunjukkan variabel usia secara statistik signifikan dalam mempengaruhi skor pengetahuan seksual. Hasil uji regresi linear sederhana menunjukkan variabel usia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap skor pengetahuan seksual namun dengan nilai RA yang sangat rendah . yang berarti faktor usia tidak menjelaskan variasi skor pengetahuan seksual dengan baik atau usia hanya menjelaskan sebagian kecil dari variasi pengetahuan seksual anak. Pembahasan Mengacu pada hasil uji regresi linear sederhana dimana avariabel usia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap skor pengetahuan seksual namun dengan nilai RA yang sangat rendah . menunjukkan faktor usia tidak menjelaskan variasi skor pengetahuan seksual dengan baik atau usia hanya sedikit mempengaruhi tingkat pengetahuan seksual anak. Ini menunjukkan jika anak tidak mulai dikenalkan dengan pengetahuan seksual sedini mungkin, maka pengetahuan seksual mereka dapat kurang optimal sampai pada usia selanjutnya dan dapat berpengaruh pada perkembangan kehidupan anak hingga remaja dan dewasa. Pengenalan pendidikan seksual sejak usia dini menjadi penting karena segala sesuatu yang dipelajari dan dialami anak dalam periode keemasan cenderung bertahan lama dan memiliki potensi besar untuk mempengaruhi masa depan anak (Syima, 2. Penyampaian pendidikan seksual yang wajar, jujur, sederhana serta menggunakan bahasa yang dipahami anak akan membentuk konsep diri positif serta membantu anak untuk dapat menjaga diri dari ancaman kekerasan seksual (Putinah et al. , 2. Para guru juga berpendapat bahwa materi terkait pendidikan seksual belum dijelaskan secara rinci dalam kurikulum pendidikan nasional sehingga membuat mereka sulit melakukan adaptasi materi pendidikan seksual untuk anak-anak usia dini. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 penelitian Ismiulya et al. yang menyatakan bahwa guru taman kanak-kanak mengharapkan adanya kajian yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas guru dalam menerapkan pendidikan seksual kepada anak. Hal ini memerlukan kerja sama dengan orang tua agar terdapat kesinambungan antara pemahaman dan pendidikan di sekolah dan di rumah karena peran keluarga dan sekolah belum berjalan sebagaimana mestinya dalam memberikan informasi pengetahuan seksual pada anak (Febriyansyah, 2. Peran orang tua menjadi sangat penting karena pendidikan seksual harus dimulai sedini mungkin dalam lingkungan terdekat guna menunjang perkembangan anak di masa mendatang. Orang tua tidak dapat menyerahkan tanggung jawab pendidikan seksual kepada sekolah karena sekolah hanya sebagai media bantu dalam memberikan informasi kepada anak (Putinah et al. , 2. Pendidikan seksual masih dianggap sulit untuk disampaikan karena orang tua kurang memahami tahapan pendidikan seksual sesuai usia dan cara penyampaiannya, orang tua merasa bingung, malu dan tidak nyaman menyampaikan hal berbau seksual kepada anak serta merasa khawatir menyampaikan sesuatu yang kurang tepat karena anak belum cukup usianya (Ismiulya et al. Putinah et al. , 2. Secara garis besar, kurang optimalnya pengetahuan seksual yang dimiliki anak dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti: Kesempatan mendapatkan pendidikan seksual baik di rumah maupun di sekolah sangat terbatas, kurangnya kompetensi guru dalam melaksanakan pendidikan seksual, tingkat pengetahuan orang tua, keraguan orang tua dalam menyampaikan materi dan isu terkait seksualitas pada anak serta latar belakang sosial ekonomi, pendidikan dan budaya keluarga (Ismiulya et al. Pandia et al. , 2. Hal-hal inilah yang perlu diperbaiki dan dipertimbangkan dalam upaya penyusunan program pendidikan seksual sehingga dapat tepat dan sesuai untuk meningkatkan pengetahuan seksual anak usia dini. Program pendidikan seksual juga harus disesuaikan dengan tingkat usia dan perkembangan kognitif anak dalam menerima suatu informasi. Anak pada usia ini berada dalam tahap praoperasional dimana anak tumbuh dalam kemampuannya untuk menggunakan simbol-simbol termasuk bahasa, belum mampu berpikir operasional, berpusat pada satu pemikiran atau ide, tidak mampu melakukan konservasi dan bersifat egosentris. Berdasarkan tingkat perkembangan tersebut, metode pembelajaran yang sesuai untuk diberikan adalah memberi kebebasan anak untuk eksplorasi, memberi aktifitas untuk bereksperimen, menyediakan pengalaman belajar yang beragam, mengatur lingkungan belajar yang memfasilitasi anak, menyediakan materi yang konkret serta menggunakan kegiatan langsung agar anak terlibat aktif dalam pembelajaran (Morrison, 2. Penggunaan media dan metode pendidikan seksual yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kognitif tersebut, dapat dilakukan melalui: Pembacaan buku cerita, mendongeng, menayangkan video edukasi, menyanyikan lagu seputar pendidikan seksual, bermain peran bersama, bermain tebak-tebakan, menggunakan media gambar atau poster serta dapat menjelaskan materi dengan alat peraga seperti boneka, wayang, dll (Azzahra, 2020. Ismiulya et al. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pembuatan program pendidikan seksual yang tepat dan sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak. Terdapat beberapa kekurangan penelitian yakni minimnya data terkait latar belakang dalam identitas responden penelitian seperti tingkat pendidikan yang diikuti, asal sekolah, tingkat pendidikan orang tua maupun tingkat penghasilan orang tua yang menghambat proses analisa terhadap hasil uji deskriptif secara lebih luas. Peneliti berharap dalam penelitian selanjutnya dapat dicantumkan lebih banyak informasi identitas dan latar belakang responden dalam kuesioner sehingga dapat memperkaya proses dan analisa hasil penelitian yang dilakukan. Data dalam penelitian ini tidak terdistribusi normal dan melanggar asumsi statistik parametrik sehingga dapat menggunakan uji non-parametrik dan metode statistik yang lebih fleksibel jika akan digunakan dalam penelitian selanjutnya. Dapat juga dipertimbangkan ukuran Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 sampel yang lebih besar sesuai hukum angka besar . aw of large number. yang dapat membantu data mendekati distribusi normal. Kesimpulan Hasil uji deskriptif ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia dini di Kota Bandungmemiliki tingkat pemahaman dan pengetahuan seksual dalam kategori tinggi dengan skor rata-rata 15 yang menunjukkan program pendidikan atau informasi yang diterima anak-anak sangat efektif dalam membangun pengetahuan seksual mereka meski dalam usia dini. Di sisi lain, meskipun persentasenya kecil, masih ada anak-anak yang masih memiliki pengetahuan seksual yang sangat terbatas dan kurang memadai yang menunjukkan kekurangan dalam pendidikan seksual atau kurangnya akses pada informasi yang tepat. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia dini di Kota Bandung memiliki pengetahuan seksual yang baik . engan skor tingg. namun masih terdapat anak yang memiliki pengetahuan seksual dalam kategori sedang dan rendah yang belum optimal dan harus ditingkatkan. Hasil temuan ini telah menjawab pertanyaan penelitian terkait tingkat pengetahuan seksual anak usia 4-6 tahun di Kota Bandung. Saran Penelitian ini menyarankan: Mendorong keterlibatan orang tua dalam memberikan pendidikan seksual yang tepat yang dapat dilakukan pelatihan komunikasi efektif agar orang tua memiliki kemampuan dalam menyampaikan materi tersebut kepada anak. Peningkatan kapasitas guru agar mampu menyampaikan materi pendidikan seksual dengan baik dan efektif kepada anak usia dini. Penggunaan media dan metode pendidikan seksual yang disukai dan dipahami anak sesuai usianya seperti: Pembacaan buku cerita, mendongeng, menayangkan video edukasi, menyanyikan lagu seputar pendidikan seksual, bermain peran bersama, bermain tebak-tebakan, menggunakan media gambar atau poster, menjelaskan materi dengan alat peraga seperti boneka, wayang, dll. Dapat pula dilakukan pendekatan yang lebih personal sesuai dengan keinginan dan ketertarikan anak guna membantu anak-anak pada rentang kategori pengetahuan seksual sedang dan rendah ini dapat memperoleh informasi mendalam terkait materi seksualitas sesuai Pemilahan media dan metode ini dapat dilakukan oleh orang tua di rumah maupun guru di sekolah untuk meningkatkan pengtehuan seksual anak usia dini. Pendekatan sosial budaya dapat dilakukan untuk menyesuaikan lingkungan masyarakat yang masih tabu terhadap pendidikan seksual yang dapat dilaksanakan melalui pemberian informasi secara massal pada kelompok masyarakat melalui kegiatan masyarakat terkait poin-poin materi pendidikan seksual anak usia dini serta tujuan pelaksanaanya. Tujuannya adalah untuk membuka pandangan masyarakat bahwa pendidikan seksual merupakan pengetahuan yang penting dan tidak berbahaya untuk diajarkan sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. Perlu disusun kurikulum pendidikan seksual yang lebih detail dan komprehensif sesuai tahapan perkembangan anak, media yang dibutuhkan, metode penyampaian yang sesuai serta target pencapaian anak sebagai acuan para guru dan orang tua dalam meningkatkan pengetahuan seksual anak usia dini. Selain itu, diperlukan pula pemantauan pelaksanaan kurikulum dan program pendidikan seksual melalui uji pengukuran kompetensi guru dan orang tua serta penilaian pengetahuan seksual anak secara berkala untuk mengevaluasi program yang telah terlaksana sehingga dapat menciptakan suasana pendidikan seksual yang menyenangkan dan sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. Ayuzha Tidar Faradilla & Farida Kurniawati Studi Deskriptif Gambaran Pengetahuan Seksual Anak Usia Dini di Kota Bandung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 197-208 Ucapan Terima Kasih : Terima kasih banyak untuk dosen pembimbing. Prodi Psikologi Terapan Program Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Pusat Pendidikan. Pelatihan dan Pengembangan Profesi Kemensos RI, suami dan kedua buah hati, keluarga, serta seluruh pihak yang membantu penyelesaian penelitian ini. Daftar Pustaka