Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Peran Karang Taruna dalam Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Limbah Kayu dan Pengembangan Tanaman Hias di Desa Panggungduwet Ibnu Wahab Manaqib. Yuni Puspitasari. Andina Prasetya. 1,2,. Program Studi Sosiologi. Universitas Cenderawasih. Jayapura e-mail : . ibnuwahabmanaqib@gmail. com, . yunipuspitasari3012@gmail. com, . andinaprasetya15@gmail. ABSTRACT Community empowerment has become an important approach in addressing rural economic challenges, particularly in areas with limited resources and underutilized local potential. Panggungduwet Village. Blitar Regency, faces issues such as low community income and limited awareness in managing available resources, including wood waste and ornamental plant potential. This study aims to analyze the role of youth organizations . in community empowerment through the management of wood waste and the development of ornamental plants as an effort to optimize the local economy. This research uses a descriptive qualitative approach with purposive sampling technique. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using triangulation to ensure data validity. The study focuses on the role of karangtaruna as the main actor, as well as the influence of conditional and normative factors in the empowerment process. The results show that karangtaruna plays a strategic role as an innovator in initiating community-based programs. Empowerment activities include training, institutional strengthening, application of appropriate technology such as greenhouses and wood workshops, and product marketing strategies. These activities contribute to increasing community income, strengthening social participation, improving human resource capacity, and promoting sustainable use of wood waste. In conclusion, community empowerment based on local potential through karangtaruna is an effective strategy to enhance rural economic development and community independence. This approach integrates economic, social, and environmental aspects, making it sustainable and adaptable for similar rural contexts. Keywords: Community Empowerment. Ornamental Plants. Rural Economy. Youth Organization. Wood Waste. ABSTRAK Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu pendekatan penting dalam mengatasi permasalahan ekonomi pedesaan, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya dan belum optimal dalam memanfaatkan potensi lokal. Desa Panggungduwet. Kabupaten Blitar, menghadapi permasalahan rendahnya pendapatan masyarakat serta minimnya kesadaran dalam mengelola potensi yang tersedia, seperti limbah kayu dan tanaman hias. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran karangtaruna dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias sebagai upaya optimalisasi perekonomian desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik penentuan subjek secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan triangulasi untuk memastikan validitas data. Penelitian ini berfokus pada peran karangtaruna sebagai aktor utama serta pengaruh faktor kondisional dan normatif dalam proses Hasil penelitian menunjukkan bahwa karangtaruna berperan strategis sebagai inovator dalam menginisiasi program berbasis potensi lokal. Kegiatan pemberdayaan meliputi pelatihan, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi tepat guna seperti greenhouse dan bengkel kayu, serta pengembangan strategi pemasaran produk. Kegiatan tersebut berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat partisipasi sosial, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong pemanfaatan limbah kayu secara berkelanjutan. DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Kesimpulannya, pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal melalui karangtaruna merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan perekonomian desa dan kemandirian masyarakat. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sehingga bersifat berkelanjutan dan dapat diterapkan pada konteks desa lainnya. Kata Kunci: Karang Taruna. Limbah Kayu. Pemberdayaan Masyarakat. Perekonomian Desa. Tanaman Hias. PENDAHULUAN Pemberdayaan masyarakat telah menjadi salah satu paradigma penting dalam pembangunan, yang mengalami pergeseran dari model top-down menjadi bottom-up (Afriansyah et al. , 2. Pembangunan bottom-up menekankan peran aktif masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pembangunan, sehingga masyarakat mampu menghadapi dinamika perubahan zaman secara lebih mandiri dan partisipatif. Dalam konteks ini, aksi pemberdayaan menjadi signifikan sebagai strategi peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat (Pakpahan et al. , 2. Di Desa Panggungduwet. Kabupaten Blitar, fenomena kemiskinan masih menjadi permasalahan Berdasarkan data administrasi desa tahun 2018, sekitar 70,99% kepala keluarga termasuk kategori miskin. Desa ini merupakan wilayah terujung Kecamatan Dawuhan, berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung, dan memiliki kondisi geografis serta infrastruktur yang masih minim. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, perdagangan, jasa, dan industri rumah tangga, dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp 750. 000 per bulan. Selain itu, banyak penduduk, termasuk para pemuda, merupakan mantan tenaga kerja wanita (TKW), yang menunjukkan keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi lokal. Sektor pertanian di desa ini masih terbatas pada pemenuhan pangan dasar, dan kegiatan ekonomi masyarakat sebagian besar mengandalkan sumber daya alam, seperti pemanfaatan limbah kayu untuk mebeler, tanaman jagung, serta pengambilan pasir dan batuan untuk dijual. Organisasi sosial dan kegiatan pemberdayaan masyarakat juga belum berkembang optimal, sehingga memerlukan intervensi yang terstruktur dan berkelanjutan. Melihat potensi tersebut, kelompok karangtaruna Desa Panggungduwet berperan sebagai aktor utama dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias. Program ini tidak hanya memberikan wadah kewirausahaan bagi pemuda, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian desa (Ramli et al. , 2. Mitra program, seperti kelompok Wanita Tani Barokah, turut mendukung implementasi program ini melalui diseminasi teknologi dan pendampingan usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran karangtaruna dalam pemberdayaan masyarakat Desa Panggungduwet, khususnya dalam pengelolaan limbah kayu dan tanaman hias, serta mengidentifikasi dampaknya terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan perekonomian lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek ditentukan secara purposive, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui triangulasi untuk memastikan validitas dan reliabilitas informasi. Beberapa tinjauan pustaka relevan yang mendukung penelitian ini mencakup konsep pemberdayaan masyarakat (Ratih & Trinugraha, 2. , partisipasi pemuda dalam pembangunan desa (Pakpahan et , 2. , dan optimalisasi potensi lokal melalui kegiatan kewirausahaan berbasis komunitas (Setiawan, 2. Berdasarkan landasan teori tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif melalui peran karangtaruna dan partisipasi komunitas lokal. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kondisi yang sedang berlangsung terkait pemberdayaan DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index masyarakat di Desa Panggungduwet. Kabupaten Blitar. Penelitian deskriptif kualitatif memungkinkan peneliti memperoleh informasi mengenai keadaan nyata di lapangan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan fenomena yang terjadi. Objek penelitian ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui karangtaruna, khususnya dalam pengelolaan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias sebagai upaya optimalisasi perekonomian desa. Penelitian ini mencakup partisipasi berbagai aktor, mulai dari pemerintah desa, karangtaruna, kelompok wanita tani, akademisi, hingga partisipan masyarakat yang ikut serta dalam program tersebut. Sumber data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua: Data primer: diperoleh melalui wawancara langsung dengan warga desa yang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan, anggota karangtaruna, dan kelompok wanita tani. Data sekunder: diperoleh dari dokumen, laporan, profil organisasi, bagan struktur, foto kegiatan, dan sumber lain yang mendukung validitas penelitian. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan purposive sampling, yaitu pemilihan berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Kriteria subjek ditunjukkan pada tabel Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian No Subjek Penelitian Keterangan/Kriteria Kepala Desa Pimpinan desa yang mendukung program Panggungduwet Karang Taruna Anggota aktif dalam pengelolaan program. Toegoe Hijoe meliputi: Bengkel Kayu. Greenhouse. Budidaya Anggrek, dan Tanaman Hias Kelompok Wanita Anggota yang ikut mengembangkan budidaya Tani anggrek dan tanaman hias Akademisi Pembimbing sesuai bidang: Agroteknologi. Sosial. Marketing/Pemasaran Partisipan luar Masyarakat desa yang terlibat dalam kegiatan Jumlah Jumlah 1 Orang 5 Orang 15 Orang 3 Orang 4 Orang 28 Orang Sumber: Data hasil olahan peneliti . Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dalam tahapan berikut : Observasi: dilakukan secara sistematis untuk mempelajari perilaku dan kegiatan pemberdayaan di lapangan. Wawancara: dilakukan secara tatap muka dengan narasumber untuk memperoleh informasi, pengalaman, dan persepsi terkait kegiatan pemberdayaan. Wawancara dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan sensitivitas narasumber. Dokumentasi: berupa foto kegiatan, dokumen organisasi, dan catatan lain yang relevan dengan penelitian. Penelitian ini dilakukan selama kegiatan pemberdayaan berlangsung di Desa Panggungduwet, menyesuaikan dengan jadwal dan implementasi program yang sedang berjalan. Data dianalisis menggunakan triangulasi untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas informasi. Triangulasi tidak bertujuan mencari kebenaran mutlak, tetapi untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai fenomena yang terjadi di lapangan. Proses analisis meliputi: pengelompokan data, interpretasi, dan penyusunan kesimpulan berdasarkan temuan lapangan. LOKASI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Panggungduwet. Kecamatan Dawuhan. Kabupaten Blitar. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada adanya program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh karangtaruna dalam pengelolaan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias. Selain itu. Desa Panggungduwet memiliki karakteristik wilayah pedesaan dengan potensi sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih tergolong rendah. Lokasi ini dipilih karena relevan dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengkaji peran karangtaruna dalam pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Dengan adanya kegiatan DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index pemberdayaan yang melibatkan berbagai pihak, seperti kelompok wanita tani dan masyarakat umum. Desa Panggungduwet menjadi lokasi yang tepat untuk mengamati secara langsung proses, dinamika, serta dampak dari program pemberdayaan yang dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN AKTOR PEMBERDAYAAN Dalam perspektif sosiologi. Talcott Parsons melalui teori tindakan sosial . heory of actio. menjelaskan bahwa tindakan individu bersifat voluntaristik, yaitu aktor memiliki kemampuan untuk memilih cara dan alat dari berbagai alternatif yang tersedia guna mencapai tujuan tertentu (MaAoarij et , 2. Setiap tindakan sosial selalu berorientasi pada tujuan . oal oriente. , serta dipengaruhi oleh kondisi situasional dan orientasi normatif yang melingkupinya. Dalam konteks ini, aktor tidak hanya dipahami sebagai pelaku pasif, tetapi sebagai subjek aktif yang mampu merumuskan tujuan, menentukan strategi, serta mengelola sumber daya untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Gambar 1. Model Perilaku Voluntaristik Parson (Susilo, 2016, p. Konsep tindakan voluntaristik tersebut menekankan bahwa aktor memiliki kebebasan relatif dalam bertindak, namun tetap berada dalam batasan norma, nilai, dan kondisi sosial yang ada . e Haas, 2. Dengan demikian, tindakan aktor tidak bersifat sepenuhnya bebas, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang membentuk pilihan tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu tindakan sosial sangat ditentukan oleh kemampuan aktor dalam membaca situasi serta memanfaatkan peluang yang tersedia secara efektif (Baki, 2. Berdasarkan hasil penelitian, karangtaruna Desa Panggungduwet berperan sebagai aktor utama dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Karangtaruna tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kepemudaan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial yang mampu mengidentifikasi permasalahan sekaligus potensi yang dimiliki desa. Peran ini terlihat dari inisiatif karangtaruna dalam mengembangkan program pemberdayaan berbasis pemanfaatan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Permasalahan yang dihadapi masyarakat Desa Panggungduwet cukup kompleks, antara lain rendahnya tingkat pendapatan masyarakat yang rata-rata hanya sekitar Rp750. 000 per bulan, serta rendahnya kesadaran dalam memanfaatkan potensi lokal. Di sisi lain, desa memiliki sumber daya yang cukup potensial, seperti limbah kayu dari industri mebel dan kondisi lingkungan yang mendukung pengembangan tanaman hias. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan dan inovasi dari masyarakat. Melihat kondisi tersebut, karangtaruna mengambil peran sebagai inovator dengan menginisiasi berbagai kegiatan pemberdayaan yang DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index melibatkan masyarakat secara langsung. Tindakan ini mencerminkan kemampuan aktor dalam menentukan tujuan serta memilih strategi yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Karangtaruna tidak hanya berupaya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa potensi lokal dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. Jika dianalisis menggunakan perspektif tindakan voluntaristik, tindakan karangtaruna menunjukkan bahwa aktor mampu mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan tertentu (Albarracin et al. , 2. Karangtaruna sebagai aktor tidak hanya menggunakan pendekatan ekonomi, tetapi juga pendekatan sosial dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan pemberdayaan. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses pembelajaran sosial bagi masyarakat. Dengan demikian, karangtaruna dapat diposisikan sebagai aktor strategis dalam proses pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet. Keberhasilan program pemberdayaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan aktor dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, serta menggerakkan partisipasi masyarakat. Peran ini menjadi penting karena aktor tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu mendorong transformasi menuju kondisi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. FAKTOR KONDISIONAL DAN SITUASI LINGKUNGAN Dalam perspektif teori tindakan sosial. Talcott Parsons menegaskan bahwa tindakan aktor tidak dapat dilepaskan dari kondisi situasional yang melingkupinya (Etzrodt, 2. Aktor bukanlah individu yang sepenuhnya bebas dalam bertindak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti kondisi lingkungan, ketersediaan sumber daya, serta situasi sosial yang berkembang. Faktor kondisional ini menjadi penting karena menentukan arah, strategi, dan efektivitas tindakan yang dilakukan oleh aktor dalam mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, keberhasilan suatu tindakan sosial sangat bergantung pada kemampuan aktor dalam membaca dan merespons kondisi lingkungan secara tepat (Weiy et al. , 2. Kondisi situasional yang dimaksud tidak hanya mencakup aspek fisik lingkungan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi yang memengaruhi kehidupan Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, faktor kondisional menjadi dasar dalam merumuskan strategi intervensi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kondisi lingkungan menjadi langkah awal yang penting sebelum aktor melakukan tindakan pemberdayaan agar program yang dijalankan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan (Zulu et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian. Desa Panggungduwet memiliki kondisi geografis yang cukup menantang, yaitu berada di wilayah dataran tinggi dengan keterbatasan sumber air. Masyarakat desa sebagian besar mengandalkan tandon buatan . untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan sektor pertanian maupun kegiatan ekonomi lainnya yang bergantung pada ketersediaan air. Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga menjadi faktor yang memperlambat perkembangan ekonomi masyarakat di desa tersebut. Dari sisi sumber daya manusia, terdapat fenomena banyaknya masyarakat yang pernah bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Kondisi ini menunjukkan adanya keterbatasan peluang kerja di tingkat lokal sehingga masyarakat cenderung mencari pekerjaan di luar daerah bahkan luar negeri. Namun, setelah kembali ke desa, sebagian besar dari mereka bekerja secara serabutan dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah. Hal ini mencerminkan belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh masyarakat Desa Panggungduwet. Selain itu, dukungan dari pemerintah desa terhadap kegiatan pemberdayaan sebelumnya masih tergolong terbatas, terutama dalam hal dukungan material dan penguatan kapasitas sumber daya Keterbatasan ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan masyarakat dalam menghasilkan output yang signifikan, sehingga program pemberdayaan belum mampu menunjukkan efektivitas dan efisiensi yang optimal. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi karangtaruna sebagai aktor dalam merancang program yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Namun demikian, di balik berbagai keterbatasan tersebut. Desa Panggungduwet juga memiliki potensi yang cukup besar, seperti ketersediaan limbah kayu dari industri mebel serta lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman hias. DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Potensi ini menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat apabila dikelola secara tepat. Dalam hal ini, karangtaruna sebagai aktor mampu melihat peluang tersebut sebagai dasar dalam merancang program pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi Jika dianalisis lebih lanjut, faktor kondisional yang ada di Desa Panggungduwet tidak hanya menjadi hambatan, tetapi juga menjadi peluang bagi pengembangan program pemberdayaan. Kemampuan karangtaruna dalam mengidentifikasi kondisi lingkungan serta mengubah keterbatasan menjadi potensi menunjukkan adanya kapasitas adaptif yang tinggi sebagai aktor pemberdayaan. Dengan demikian, tindakan pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya bersifat reaktif terhadap masalah, tetapi juga proaktif dalam memanfaatkan peluang yang tersedia untuk mencapai tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. FAKTOR NORMATIF PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Dalam perspektif sosiologi, tindakan sosial tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi situasional, tetapi juga oleh faktor normatif yang mencakup nilai, norma, dan moralitas yang berkembang dalam masyarakat (Bykov & Nastina, 2. Talcott Parsons menekankan bahwa orientasi normatif menjadi salah satu komponen penting dalam membentuk tindakan aktor, karena nilai dan norma berfungsi sebagai pedoman dalam menentukan tindakan yang dianggap tepat atau tidak dalam suatu Dengan demikian, setiap upaya pemberdayaan harus mempertimbangkan aspek normatif agar tidak bertentangan dengan sistem nilai yang telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat (Kurniawan et al. , 2. Selain itu, faktor normatif juga berkaitan erat dengan konsep kepercayaan sosial . ocial trus. , yaitu keyakinan antarindividu dalam suatu komunitas yang memungkinkan terjadinya kerja sama dan pertukaran sosial yang saling menguntungkan. Kepercayaan sosial ini menjadi modal penting dalam proses pemberdayaan, karena tanpa adanya kepercayaan, partisipasi masyarakat akan sulit terbentuk (Malta, 2. Nilai, norma, dan moralitas yang positif dapat mendorong terbentuknya hubungan timbal balik . eciprocal relationship. yang memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat Desa Panggungduwet memiliki nilai dan budaya yang cukup kuat, terutama dalam hal kebersamaan dan gotong royong. Namun, dalam konteks pemberdayaan, masih terdapat beberapa hambatan normatif yang memengaruhi perkembangan Salah satu permasalahan yang ditemukan adalah kecenderungan masyarakat untuk hanya mengikuti program yang berasal dari pemerintah pusat atau kabupaten tanpa adanya inisiatif mandiri untuk mengembangkan potensi lokal. Hal ini menunjukkan bahwa pola pikir masyarakat masih cenderung bergantung pada pihak eksternal. Selain itu, terdapat keterbatasan dalam hal pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap potensi yang dimiliki, seperti pemanfaatan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias. Masyarakat belum sepenuhnya memiliki mindset kewirausahaan yang inovatif, sehingga potensi yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Kurangnya pengetahuan tentang budidaya tanaman hias serta konsep ekonomi berkelanjutan juga menjadi faktor penghambat dalam pengembangan pemberdayaan masyarakat di desa tersebut. Karangtaruna sebagai aktor pemberdayaan tidak hanya mempertimbangkan faktor kondisi lingkungan, tetapi juga memperhatikan faktor normatif yang ada dalam masyarakat. Pendekatan yang dilakukan tidak bersifat memaksakan perubahan, melainkan melalui proses sosialisasi dan pendampingan yang bertujuan menyesuaikan program pemberdayaan dengan nilai dan budaya lokal. Hal ini dilakukan agar perubahan yang terjadi dapat diterima oleh masyarakat tanpa menghilangkan identitas sosial yang telah ada. Jika dianalisis lebih lanjut, faktor normatif dapat berfungsi sebagai pendukung sekaligus penghambat dalam proses pemberdayaan masyarakat. Di satu sisi, nilai kebersamaan dan gotong royong menjadi modal sosial yang kuat untuk mendorong partisipasi masyarakat (Itriyah & Rusdy, 2. Namun, di sisi lain, pola pikir yang masih bergantung serta rendahnya inovasi menjadi tantangan yang harus diatasi oleh aktor pemberdayaan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada perubahan pola pikir masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet sangat dipengaruhi oleh kemampuan aktor dalam mengelola faktor normatif secara Upaya pemberdayaan tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dan kemandirian masyarakat (Setyawan et al. , 2. Melalui DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index pendekatan yang berbasis nilai dan budaya lokal, diharapkan program pemberdayaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. METODE PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas individu maupun kelompok agar mampu mandiri dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Afriansyah et al. , 2. Dalam pendekatan pembangunan, model pemberdayaan bottom-up menjadi alternatif yang menekankan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan. Pendekatan ini berupaya melawan ketidakberdayaan dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki secara mandiri dan berkelanjutan. Oleh karena itu, metode pemberdayaan tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses pembelajaran sosial yang terjadi di dalam masyarakat (Suyono et al. , 2. Dalam implementasinya, metode pemberdayaan yang dilakukan oleh karangtaruna di Desa Panggungduwet berangkat dari identifikasi potensi lokal serta kebutuhan masyarakat. Pendekatan yang digunakan tidak bersifat top-down, melainkan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam kegiatan pemberdayaan (Sujianto et al. , 2. Hal ini terlihat dari berbagai kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola potensi yang ada, khususnya limbah kayu dan tanaman Salah satu metode utama yang digunakan adalah melalui kegiatan pelatihan dan seminar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi (Najamudin & Al Fajar, 2. Dalam pelaksanaannya, karangtaruna bekerja sama dengan akademisi dari berbagai bidang, seperti agroteknologi, sosial, dan pemasaran. Materi yang diberikan mencakup pengenalan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomis, teknik budidaya tanaman anggrek, serta pengelolaan usaha berbasis potensi Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar lebih inovatif dan produktif. Selain itu, metode pemberdayaan juga dilakukan melalui penguatan kelembagaan masyarakat. Karangtaruna Toegoe Hijaoe berperan sebagai pelaksana utama dalam program pemberdayaan, sementara kelompok Wanita Tani menjadi mitra dalam pengelolaan kegiatan budidaya tanaman hias dan anggrek. Penguatan kelembagaan ini bertujuan untuk menciptakan sistem organisasi yang mampu mendukung keberlanjutan program Dengan adanya struktur kelembagaan yang kuat, diharapkan masyarakat dapat mengelola kegiatan secara mandiri dan tidak bergantung pada pihak eksternal (Pakpahan et al. , 2. Metode lain yang diterapkan adalah penggunaan pendekatan teknis dalam budidaya tanaman, seperti penerapan konsep Good Agricultural Practices (GAP). Penerapan konsep ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hasil budidaya serta memastikan proses produksi dilakukan secara efektif dan Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya belajar tentang teknik budidaya, tetapi juga tentang manajemen produksi yang baik sehingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual tinggi di pasar. Dalam aspek pemasaran, metode pemberdayaan dilakukan dengan memperluas akses pasar bagi produk yang dihasilkan masyarakat (Ramli et al. , 2. Strategi pemasaran tidak hanya dilakukan secara konvensional melalui penjualan langsung . oor to doo. , tetapi juga melalui partisipasi dalam pameran, bazar, dan lomba. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk menjalin kemitraan dengan pedagang tanaman hias maupun wirausahawan lain yang dapat membantu dalam memasarkan produk, seperti pot, rak tanaman, dan tanaman hias. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran. Jika dianalisis secara keseluruhan, metode pemberdayaan yang dilakukan oleh karangtaruna menunjukkan adanya pendekatan yang komprehensif, yaitu menggabungkan aspek edukasi, kelembagaan, teknis, dan pemasaran. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan individu, tetapi juga pada penguatan sistem sosial yang mendukung keberlanjutan program (Harry et al. , 2. Dengan demikian, metode pemberdayaan yang diterapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas, baik dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia maupun dalam pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan. DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index PENUNJANG PEMBERDAYAAN Dalam proses pemberdayaan masyarakat, keberadaan sarana dan prasarana pendukung memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan program (Ratih & Trinugraha. Pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu masyarakat dalam mengoptimalkan potensi lokal secara lebih efektif dan efisien. Teknologi dalam konteks pemberdayaan tidak selalu harus bersifat modern dan kompleks, tetapi dapat berupa alat atau fasilitas sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat (Ariyani et al. , 2. Dengan adanya dukungan fasilitas yang memadai, proses pembelajaran dan pengembangan keterampilan masyarakat dapat berlangsung secara lebih terarah dan berkelanjutan. Salah satu bentuk penunjang pemberdayaan yang dikembangkan di Desa Panggungduwet adalah pembangunan greenhouse sebagai laboratorium tanaman hias. Greenhouse ini berfungsi sebagai ruang budidaya yang mampu menciptakan kondisi lingkungan yang lebih terkendali bagi pertumbuhan tanaman. Dalam praktiknya, greenhouse digunakan sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat dalam mengembangkan budidaya tanaman hias dan anggrek. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat untuk memahami teknik budidaya secara langsung, mulai dari proses pembibitan hingga perawatan tanaman. Keberadaan greenhouse menjadi sangat penting mengingat kondisi geografis Desa Panggungduwet yang memiliki keterbatasan sumber air dan lingkungan yang kurang mendukung untuk budidaya tanaman secara konvensional. Dengan adanya sistem lingkungan terkendali, masyarakat dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman meskipun berada dalam kondisi alam yang kurang ideal (Setyawan et al. , 2. Selain itu, greenhouse juga berfungsi sebagai media eksperimen bagi masyarakat dalam mencoba berbagai teknik budidaya yang lebih efektif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi tanaman hias. Selain greenhouse, penunjang pemberdayaan lainnya adalah pembangunan bengkel kayu yang digunakan untuk mengolah limbah kayu menjadi produk bernilai ekonomi. Bengkel kayu ini dilengkapi dengan peralatan seperti mesin pemotong dan ruang kerja yang memadai, sehingga masyarakat dapat mengelola limbah kayu dari industri mebel secara lebih produktif. Limbah kayu yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal, diolah menjadi berbagai produk seperti rak tanaman hias dan pot tanaman dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran. Pengelolaan limbah kayu melalui bengkel ini tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga mendukung konsep keberlanjutan melalui pemanfaatan kembali . bahan yang sebelumnya dianggap tidak Produk yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk dipasarkan secara lebih luas. Variasi produk yang dihasilkan, seperti rak susun tanaman hias dengan berbagai ukuran, memberikan fleksibilitas bagi konsumen dalam menyesuaikan kebutuhan mereka, sehingga meningkatkan daya tarik produk di pasar. Lebih lanjut, keberadaan fasilitas penunjang ini juga berperan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan (Agung et al. , 2. Greenhouse dan bengkel kayu menjadi pusat aktivitas yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat, seperti karangtaruna, kelompok wanita tani, dan masyarakat umum. Interaksi yang terjadi dalam kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarindividu dalam Dengan demikian, fasilitas penunjang tidak hanya berfungsi sebagai alat produksi, tetapi juga sebagai media pembelajaran sosial yang mendorong terbentuknya kerja sama dan solidaritas (Nainggolan et al. , 2. Jika dianalisis secara keseluruhan, keberadaan greenhouse dan bengkel kayu sebagai penunjang pemberdayaan menunjukkan bahwa faktor fasilitas memiliki kontribusi yang signifikan dalam keberhasilan program. Fasilitas tersebut tidak hanya mendukung aspek teknis dalam produksi, tetapi juga memperkuat aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan adanya dukungan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan lokal, program pemberdayaan di Desa Panggungduwet memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. DAMPAK DAN IMPLIKASI PEMBERDAYAAN Pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet melalui pengelolaan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias memberikan berbagai dampak yang signifikan, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh kelompok DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index yang terlibat secara langsung, seperti karangtaruna dan kelompok wanita tani, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Hal ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang dirancang secara partisipatif mampu menciptakan efek multiplier dalam kehidupan masyarakat desa. Dari aspek ekonomi, pemberdayaan yang dilakukan memberikan peluang baru bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan melalui kegiatan wirausaha berbasis potensi lokal (Sujianto et al. , 2. Pengolahan limbah kayu menjadi produk seperti rak tanaman hias dan pot kayu, serta budidaya tanaman hias dan anggrek, telah menciptakan sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat. Selain itu, adanya kegiatan pemasaran melalui pameran, bazar, dan kemitraan dengan pedagang juga memperluas akses pasar bagi produk yang dihasilkan (Rahmatullah et al. , 2. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada pekerjaan utama yang sebelumnya memiliki pendapatan rendah, tetapi mulai memiliki alternatif sumber ekonomi yang lebih produktif. Dari aspek sosial, program pemberdayaan ini mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kolektif (Rahmani & Humaedi, 2. Keterlibatan karangtaruna sebagai penggerak utama, serta partisipasi kelompok wanita tani dan masyarakat umum, menunjukkan adanya peningkatan kesadaran akan pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Interaksi yang terjadi dalam kegiatan pelatihan, pengelolaan greenhouse, dan bengkel kayu juga memperkuat hubungan sosial antarindividu. Hal ini berdampak pada terbentuknya solidaritas sosial yang lebih kuat serta meningkatnya kepercayaan . ocial trus. dalam masyarakat. Selain itu, pemberdayaan ini juga berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Melalui pelatihan, seminar, dan pendampingan, masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, baik dalam bidang budidaya tanaman maupun pengolahan limbah kayu. Peningkatan kapasitas ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada perubahan pola pikir masyarakat yang menjadi lebih terbuka terhadap inovasi dan peluang usaha. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya menghasilkan output berupa produk, tetapi juga outcome berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia (Sujianto et al. , 2. Dari aspek lingkungan, program pemberdayaan ini memberikan dampak positif melalui pemanfaatan limbah kayu yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Limbah yang dihasilkan dari industri mebel diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual, sehingga mengurangi potensi pencemaran lingkungan. Selain itu, pengembangan tanaman hias dan budidaya anggrek juga mendorong pemanfaatan lahan secara lebih produktif dan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan yang masih perlu diatasi dalam pelaksanaan program pemberdayaan ini. Tantangan tersebut antara lain keterbatasan sumber daya, baik dari segi pendanaan maupun kapasitas masyarakat, serta masih adanya pola pikir masyarakat yang cenderung bergantung pada pihak eksternal. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas masyarakat serta meningkatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga terkait. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa (Setyawan et al. , 2. Program yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, didukung oleh kelembagaan yang kuat serta fasilitas yang memadai, memiliki peluang besar untuk berkembang secara berkelanjutan. Selain itu, pemerintah desa diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih optimal, baik dalam bentuk kebijakan maupun pendanaan, guna memperkuat program pemberdayaan yang telah berjalan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet melalui karangtaruna tidak hanya memberikan dampak jangka pendek dalam peningkatan ekonomi, tetapi juga memiliki implikasi jangka panjang dalam membangun kemandirian dan keberlanjutan Pendekatan yang terintegrasi antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan menjadi kunci utama dalam menciptakan pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya keterkaitan dengan Teori Tindakan Voluntaristik Talcott Parsons yang memandang bahwa individu bertindak secara sadar berdasarkan tujuan, nilai, norma, serta situasi yang dihadapi. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet, karang taruna dan masyarakat desa berperan sebagai aktor sosial yang aktif dalam memanfaatkan potensi lokal melalui pengelolaan limbah kayu dan pengembangan tanaman hias. DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Tindakan tersebut dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tetapi juga didorong oleh nilai kerja sama, partisipasi, dan semangat kemandirian yang berkembang dalam masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam pelatihan, pengelolaan usaha, serta kegiatan kolektif lainnya menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat tercipta melalui tindakan sadar masyarakat dalam mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, teori volunteristik Parsons tercermin dalam kemampuan masyarakat Desa Panggungduwet untuk bertindak secara aktif dan adaptif dalam menciptakan perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet melalui peran karangtaruna menunjukkan bahwa aktor lokal memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan sosial dan ekonomi masyarakat. Karangtaruna sebagai aktor pemberdayaan mampu mengidentifikasi permasalahan dan potensi desa, serta merumuskan langkah-langkah inovatif dalam mengelola sumber daya yang tersedia, khususnya limbah kayu dan tanaman hias. Peran ini sejalan dengan konsep tindakan sosial yang menempatkan aktor sebagai subjek aktif dalam mencapai tujuan perubahan. Faktor kondisional dan situasi lingkungan menjadi aspek penting yang memengaruhi pelaksanaan pemberdayaan. Keterbatasan sumber daya alam, kondisi geografis, serta rendahnya pendapatan masyarakat menjadi tantangan yang dihadapi. Namun demikian, kondisi tersebut juga membuka peluang untuk mengembangkan potensi lokal yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Selain itu, faktor normatif seperti nilai, norma, dan pola pikir masyarakat turut memengaruhi keberhasilan program, baik sebagai pendukung maupun sebagai hambatan dalam proses Metode pemberdayaan yang diterapkan menunjukkan pendekatan yang komprehensif melalui kegiatan pelatihan, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi, serta pengembangan pemasaran. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir menuju kemandirian dan inovasi. Keberadaan fasilitas penunjang seperti greenhouse dan bengkel kayu turut memperkuat keberhasilan program dengan menyediakan sarana pembelajaran dan produksi yang berkelanjutan. Pemberdayaan yang dilakukan memberikan dampak positif dalam berbagai aspek, antara lain peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan partisipasi sosial, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan limbah secara lebih produktif dan ramah lingkungan. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi, seperti keterbatasan dukungan dan perlunya penguatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal melalui karangtaruna dapat menjadi model yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Keberhasilan program ini menunjukkan pentingnya sinergi antara aktor lokal, masyarakat, dan dukungan kelembagaan dalam menciptakan pembangunan yang partisipatif, mandiri, dan berkelanjutan. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan untuk mendukung keberlanjutan dan pengembangan program pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet. Pertama, bagi pemerintah desa, diharapkan dapat meningkatkan dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat, baik dalam bentuk kebijakan, pendanaan, maupun fasilitasi pelatihan. Dukungan ini penting untuk memperkuat keberlanjutan program yang telah dirintis oleh karangtaruna, serta mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam kegiatan Kedua, bagi karangtaruna sebagai aktor utama pemberdayaan, disarankan untuk terus mengembangkan inovasi program yang berbasis pada potensi lokal. Selain itu, karangtaruna perlu meningkatkan kapasitas manajerial dan kewirausahaan agar mampu mengelola program secara lebih profesional, termasuk dalam aspek produksi, pengemasan, dan pemasaran produk. Ketiga, bagi DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 330-341 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index masyarakat Desa Panggungduwet, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif dalam kegiatan pemberdayaan serta mengubah pola pikir menjadi lebih mandiri dan inovatif. Kesadaran untuk memanfaatkan potensi lokal, seperti limbah kayu dan tanaman hias, perlu terus ditingkatkan agar mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi dan berkelanjutan. Keempat, bagi pihak akademisi dan lembaga terkait, diharapkan dapat terus memberikan pendampingan, pelatihan, serta transfer pengetahuan kepada masyarakat. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat sangat penting dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam penerapan teknologi tepat guna dan pengembangan usaha berbasis komunitas. Kelima, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan penelitian yang lebih mendalam terkait aspek keberlanjutan program pemberdayaan, termasuk analisis dampak jangka panjang terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penelitian selanjutnya juga dapat mengkaji model pemberdayaan yang lebih inovatif dengan memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran dan pengembangan usaha masyarakat. Dengan adanya saran-saran tersebut, diharapkan program pemberdayaan masyarakat di Desa Panggungduwet dapat terus berkembang secara berkelanjutan serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA