Vol. No. Oktober 2025. DOI: https://doi. org/10. 60011/jumpa. PENYALAHGUNAAN LEM AIBON PADA ANAK: ANALISIS FAKTOR PENYEBAB DAN STRATEGI PENDAMPINGAN PASTORAL KOMPREHENSIF DI KELURAHAN KAMUNDU. KABUPATEN MERAUKE Yohanes Hendro Pranyoto. Dedimus Berangka. Hermanus Ndiken. 1-2-3 Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke. Papua Selatan. Indonesia yohaneshenz@stkyakobus. dedimus@stkyakobus. hermanndiken@student. Abstrak Penyalahgunaan lem aibon pada kalangan anak-anak usia di bawah umur merupakan fenomena yang semakin mendapatkan perhatian karena dampaknya yang serius terhadap kesehatan fisik dan psikologis anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab yang mendasari perilaku menyimpang di kalangan anakanak usia di bawah umur, serta mendeskripsi dampak menghirup lem aibon terhadap perkembangan anak dan upaya preventif-kuratif yang dapat dilakukan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor internal, eksternal, dan sosial yang berkontribusi terhadap penyalahgunaan lem aibon. Informan penelitian terdiri dari sepuluh orang yang meliputi anak pengguna lem aibon, orang tua, pembina, tokoh masyarakat, dan penanggung jawab lingkungan di Kelurahan Kamundu. Kabupaten Merauke. Papua Selatan. Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab utama meliputi kurangnya pengawasan dan perhatian dari keluarga, pengaruh lingkungan dan teman sebaya, faktor ekonomi, kurangnya pemahaman tentang bahaya lem aibon, dan ketersediaan lem yang mudah diakses. Dampak yang dialami anak-anak mencakup gangguan pertumbuhan fisik, gangguan mental, dan penurunan fungsi Upaya pencegahan dan kuratif melibatkan pendekatan holistik yang menggabungkan pembinaan keluarga, edukasi masyarakat, dukungan pastoral dari Gereja, dan kebijakan pemerintah. Penelitian menyimpulkan bahwa penanganan masalah penyalahgunaan lem aibon memerlukan kolaborasi intensif antara orang tua, masyarakat, gereja, dan pemerintah untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk perilaku penyalahgunaan zat. Kata Kunci: Penyalahgunaan Lem Aibon. Anak di Bawah Umur. Faktor Penyebab. Dampak Pastoral. Pendampingan Preventif-Kuratif Abstract The misuse of glue among minors is a phenomenon that is gaining increasing attention due to its serious impact on children's physical and psychological health. This study aims to identify the underlying factors that cause deviant behaviour among minors, as well as to describe the impact of glue sniffing on child development and the preventive and curative measures that can be taken. Using a descriptive qualitative approach with observation, interviews, and documentation methods, this study explores the internal, external, and social factors that contribute to glue sniffing. The research informants consisted of ten people, including glue sniffers, parents, mentors, community leaders, and environmental managers in Kamundu Village. Merauke Regency. South Papua. Indonesia. The results of the study show that the main contributing factors include a lack of supervision and attention from the family, the influence of the environment and peers, economic factors, a lack of understanding about the dangers of glue sniffing, and the easy availability of glue. The impacts experienced by children include physical growth disorders, mental disorders, and decreased cognitive function. Preventive and curative efforts involve a holistic approach that combines family guidance, community education, pastoral support from the Church, and government policies. The study concluded that addressing the problem of glue abuse requires intensive collaboration between parents, the community, the church, and the government to protect children from the adverse effects of substance abuse. Keywords: Abuse of Aibon Glue. Minors. Causative Factors. Pastoral Impact. Preventive-Curative Assistance Page | 1 PENDAHULUAN Anak-anak merupakan karunia dan amanah dari Tuhan yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya (Indonesia, 2. Dalam konteks Gereja Katolik. Paus Yohanes Paulus II mengakui bahwa dalam keluarga, perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak dengan mengembangkan penghargaan mendalam terhadap martabat pribadi mereka serta sikap sungguh-sungguh menghormati hakhak mereka . Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat memiliki peran vital dalam membentuk kepribadian dan nilai-nilai anak melalui interaksi, sosialisasi, dan pendidikan di lingkungan rumah. Realitas yang dihadapi banyak keluarga Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti Kabupaten Merauke, menunjukkan fenomena yang memprihatinkan. Penyalahgunaan lem aibon pada kalangan anak-anak usia di bawah umur telah menjadi masalah sosial yang mengkhawatirkan di wilayah Observasi di Kelurahan Kamundu. Distrik Merauke. Kabupaten Merauke. Provinsi Papua Selatan. Indonesia, menunjukkan bahwa anak-anak duduk secara berkelompok di emperan toko dan pusat perbelanjaan untuk menghirup lem aibon. Anak-anak yang terlibat dalam perilaku ini terlihat sangat kurus, kotor, tidak terawat, sering melakukan tindakan pelecehan, berkelahi sesama pengguna, meminta uang dari pedagang, bahkan melakukan pencurian untuk mendapatkan uang yang digunakan membeli lem aibon. Kondisi ini menggambarkan ketidakhadiran perhatian orang tua dan kurangnya pembinaan yang tepat dalam keluarga. Penyalahgunaan inhalansia . em aibo. merupakan bentuk ketergantungan pada zat yang mudah menguap yang mengandung halusinogen. Lem aibon, yang seharusnya digunakan sebagai perekat dalam pekerjaan kerajinan dan mebel, sering disalahgunakan sebagai sarana untuk mendapatkan efek Dampak kesehatan dari perilaku ini sangat serius, mencakup kerusakan sistem saraf, gangguan fungsi otak, kerusakan paru-paru, gagal jantung, dan bahkan kematian pada kasus overdosis (Rosalina, 2. Penelitian ini didasarkan pada tiga pertanyaan utama. Pertama, faktor-faktor apa yang mempengaruhi perilaku penyalahgunaan lem aibon pada anak di bawah umur di Kelurahan Kamundu Merauke? Kedua, bagaimana dampak menghirup lem aibon terhadap perkembangan fisik dan mental anak? Ketiga, upaya pastoral dan preventif-kuratif apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyalahgunaan lem aibon pada anak-anak? Peran Gereja dalam pendampingan anak, perspektif teologis tentang perlindungan anak, dan implikasi pastoral untuk keluarga Katolik menjadi aspek penting yang diintegrasikan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor penyebab penyalahgunaan lem aibon pada anak di bawah umur di Kelurahan Kamundu Merauke, mendeskripsikan dampak menghirup lem aibon terhadap perkembangan fisik dan psikis anak di bawah umur, serta menawarkan upaya pastoral dan strategi preventif-kuratif yang efektif untuk mengurangi penyalahgunaan lem aibon. KAJIAN PUSTAKA 1 Pola Asuh Orang Tua dan Pendidikan Anak Pola asuh orang tua merupakan kesatuan sistem atau cara yang dilakukan orang tua dalam rangka merawat, mendidik, dan membimbing anak. Pola asuh mencakup proses pemeliharaan, seperti memberi makan, membersihkan, dan melindungi, serta proses sosialisasi yang mengajarkan perilaku sesuai dengan norma masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan kepribadian anak dan pencegahan perilaku menyimpang (Djamarah, 2. Pada usia enam hingga dua belas tahun, anak-anak mengalami masa yang disebut "latent period" di mana pengetahuan dan pengalaman yang telah dipelajari mulai diterapkan. Perkembangan kognitif anak berkembang pesat menuju pemikiran operasional konkret. Kematangan sekolah yang dicapai pada usia ini Page | 2 tidak hanya mencakup kemampuan motorik dan inteligensi, tetapi juga kemampuan menerima otoritas dari figur selain orang tua. Pola asuh pembiaran, yang ditandai dengan pengabaian orang tua terhadap tanggung jawab pengasuhan anak, menghasilkan anak yang tidak terkontrol, mudah marah, tidak percaya diri, dan rentan melakukan tindakan jahat termasuk penyalahgunaan zat (Shochib, 2. Anak-anak yang tidak mendapatkan pembinaan yang tepat dan lingkungan yang mendukung akan mengalami hambatan perkembangan, yang dapat menghasilkan rasa rendah diri, mudah marah, sering memberontak, dan terlibat dalam aktivitas 2 Inhalansia dan Lem Aibon: Definisi dan Mekanisme Inhalansia adalah substansi yang mudah menguap dan dapat dihirup yang mengandung zat Contohnya termasuk aerosol, lem aibon, castol, tinner, tipex, cairan pembersih, dan uap Lem aibon merupakan merek dagang untuk perekat yang seharusnya digunakan dalam pekerjaan kerajinan dan pertukangan, namun sering disalahgunakan dengan cara dihirup. Mekanisme penyalahgunaan terjadi ketika anak menghirup uap lem untuk memperoleh efek psikotropika berupa euforia, halusinasi, dan sensasi melayang. Efek ini disebabkan oleh bahan kimia volatil yang terdapat dalam lem yang bersifat depresan terhadap sistem saraf pusat. Penggunaan lem aibon secara berlebihan dan berkelanjutan dapat menyebabkan dampak psikis yang mencakup halusinasi, ilusi, euforia berlebihan, hilang kontrol diri, sulit konsentrasi, depresi, kecemasan, perubahan mood ekstrem, perilaku agresif, bahkan keinginan bunuh diri (Saputra, 2. 3 Faktor-Faktor Penyebab dan Dampak Penyalahgunaan Zat pada Anak Penelitian oleh Hawari . mengidentifikasi bahwa penyalahgunaan zat pada anak dipengaruhi oleh faktor kepribadian, termasuk rasa ingin tahu, kebutuhan untuk melarikan diri dari masalah emosional, gangguan kecemasan atau depresi, dan stres atau trauma. Faktor keluarga juga berperan penting, terutama hubungan keluarga yang tidak harmonis, kurangnya perhatian orang tua, dan keluarga dengan masalah ekonomi atau kekerasan rumah tangga. Pengaruh teman sebaya menjadi faktor signifikan, di mana anak terpengaruh oleh teman kelompok yang menggunakan zat dan rasa ingin meniru perilaku teman. Faktor ketersediaan memainkan peran dalam kemudahan akses memperoleh lem aibon, sementara faktor sosiokultural mencerminkan larangan budaya yang lemah dan norma sosial yang tidak mendukung. Dampak penyalahgunaan inhalansia terhadap kesehatan anak sangat serius. Dampak fisik mencakup kerusakan otak dan fungsi inteligensi, kerusakan paru-paru, gangguan jantung dan pembuluh darah, kerusakan ginjal, kejang-kejang, gangguan sistem saraf, kehilangan berat badan dan malnutrisi, kesulitan tidur, sakit kepala, pusing, mual, muntah, hingga overdosis yang dapat berakibat fatal (Hawari, 2. Dampak sosial meliputi dikucilkan dari lingkungan, perilaku anti sosial, perkelahian dan tindakan kriminal, mencuri untuk membiayai kebiasaan, pendidikan terhambat, dan masa depan yang suram. 4 Peran Gereja dalam Pendampingan Pastoral Anak Gereja Katolik memiliki tanggung jawab penting dalam mengatasi masalah penyalahgunaan zat pada anak melalui pendekatan pastoral. Tanggung jawab preventif melibatkan memberikan edukasi kepada orang tua tentang dampak negatif sikap yang kurang bijaksana terhadap anak-anak, sehingga dapat mencegah tumbuhnya perilaku menyimpang. Pendamping pastoral harus siap bekerja sama untuk mengentaskan masalah anak yang telah terlibat dalam penyalahgunaan zat, termasuk konseling, pendampingan, dan pemberian dukungan spiritual, yang mencerminkan tanggung jawab kuratif. Tanggung jawab rehabilitasi melibatkan pengubahan sistem kehidupan sosial yang tidak sehat dan membantu mengubah cara pandang anak terhadap permasalahan dalam hidup. Langkah-langkah pastoral Page | 3 konkret meliputi menerima anak sebagai pribadi yang membutuhkan pengampunan, menjadi pendengar yang baik, membimbing dalam terang Firman Tuhan, membangun persekutuan dengan sesama anak yang telah bertobat, melibatkan keluarga dalam proses penyesuaian dan pemulihan, serta mempertemukan dengan profesional medis atau psikologis jika diperlukan (Keluarga, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengetahui dan memahami secara mendalam dampak penyalahgunaan lem aibon pada kalangan anak di bawah umur, serta mengeksplorasi pengalaman dan persepsi informan tentang faktor penyebab, dampak, dan upaya penanganan. Lokasi penelitian adalah Kelurahan Kamundu. Kabupaten Merauke. Papua Selatan. Indonesia. Kelurahan Kamundu dipilih karena berdekatan dengan pusat perbelanjaan . asar dan pertokoa. yang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak menghirup lem aibon. Lokasi ini berdekatan dengan pasar Mopah Baru di mana banyak anak-anak menjadi pekerja informal, dan memiliki tingkat kemiskinan yang relatif tinggi dengan pemukiman yang kurang layak huni. Penelitian dilaksanakan selama periode Februari-Agustus 2024. Total informan penelitian adalah sepuluh orang yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Profil lengkap informan dapat dilihat pada Tabel 1, meliputi anak yang menunjukkan ciri-ciri penggunaan lem dengan tubuh kurus, kotor, pucat, kuning, orang tua anak pengguna lem, pembina, tokoh masyarakat, dan penanggung jawab lingkungan. Tabel 1. Profil Informan Penelitian Inisial Umur Jenis Kelamin 54 tahun Laki-laki 38 tahun Laki-laki 12 tahun Laki-laki 10 tahun Laki-laki 8 tahun Perempuan 14 tahun Laki-laki 13 tahun Laki-laki 29 tahun Laki-laki 27 tahun Perempuan 10 MR 33 tahun Perempuan Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Keterangan Kepala Kelurahan Pembina/Pendamping lingkungan Anak pengguna lem aibon Anak pengguna lem aibon Anak pengguna lem aibon Anak pengguna lem aibon Anak pengguna lem aibon Orang tua dari anak pengguna Orang tua dari anak pengguna Orang tua dari anak pengguna Teknik pengumpulan data menggunakan tiga pendekatan utama yang disajikan dalam Tabel 2. Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati langsung aktivitas dan lingkungan anak yang menghirup lem aibon, kondisi keluarga, dan interaksi sosial mereka. Wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara terstruktur terhadap semua informan dengan durasi dan intensitas yang disesuaikan, dengan wawancara dilakukan beberapa kali untuk memastikan kedalaman dan konsistensi Dokumentasi meliputi pengumpulan dokumen terkait seperti data penduduk, catatan kesehatan, foto, catatan lapangan, serta merekam hasil wawancara dalam bentuk audio atau video. Page | 4 Tabel 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data Pelaksanaan Target Informan Pengamatan langsung aktivitas Semua informan di anak, lingkungan keluarga, dan interaksi sosial Wawancara Dilakukan beberapa kali dengan Semua informan Mendalam panduan terstruktur . Pengumpulan dokumen pendukung Data sekunder dan Dokumentasi dan merekam hasil wawancara Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Observasi Partisipatif Instrumen Catatan lapangan, fotografi Panduan wawancara, recorder Dokumen, foto, video Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan melalui tiga tahapan. Reduksi data melibatkan perangkuman, pemilihan hal-hal pokok, dan berfokus pada masalah penelitian dari data yang banyak dikumpulkan. Verifikasi atau penarikan kesimpulan dilakukan dengan melakukan triangulasi untuk menguji kredibilitas data dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, membandingkan pernyataan informan pada waktu yang berbeda, serta berdiskusi dengan dosen Uji kredibilitas menggunakan teknik triangulasi sumber yang meliputi membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan pernyataan informan di depan dengan pada saat penelitian, membandingkan perspektif informan dengan berbagai pendapat dan pandangan, serta melakukan wawancara berulang dalam kondisi yang sama untuk memastikan keandalan data. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Lem Aibon Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, penelitian mengidentifikasi lima faktor utama yang mempengaruhi penyalahgunaan lem aibon pada anak di bawah umur. Pertama, kurangnya pengawasan dan perhatian dari keluarga menjadi faktor fundamental dengan kontribusi 30 persen. Observasi menunjukkan bahwa hampir semua anak pengguna lem aibon berasal dari keluarga dengan pengawasan minimal. Orang tua sering sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga kurang memberikan kontrol dan perhatian kepada aktivitas anak-anak. Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan kesadaran akan keterlibatan mereka yang kurang. Pola asuh pembiaran yang diterapkan secara tidak disadari oleh orang tua menyebabkan anakanak mencari cara lain untuk mendapatkan kepuasan diri dan perhatian sosial. Kedua, pengaruh lingkungan dan teman sebaya dengan kontribusi 25 persen memainkan peran sangat signifikan dalam penyalahgunaan lem aibon. Hasil wawancara dengan anak pengguna mengungkapkan bahwa pada awalnya mereka tidak tahu cara menghirup lem, tetapi ketika bersama teman-teman mencari barang bekas, teman-teman tersebut mengajak mereka untuk mencoba menghirup lem. Pengaruh teman kelompok menciptakan keterikatan dan kebersamaan yang membuat anak sukar melepaskan diri dari perilaku tersebut (Labetubun, 2. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk meniru perilaku teman sebaya mendorong anak-anak mencoba hal-hal yang pada awalnya tidak mereka pahami. Lingkungan yang kurang kondusif dengan ketersediaan lem yang mudah diakses memfasilitasi perilaku ini. Ketiga, faktor ekonomi dan kemiskinan dengan kontribusi 20 persen merupakan faktor substansial dalam penyalahgunaan lem aibon. Kesulitan ekonomi keluarga sering menyebabkan ketidakmampuan untuk menyediakan kebutuhan dasar anak yang memadai, membiayai pendidikan anak, menyediakan pengawasan yang efektif, dan memberikan aktivitas positif alternatif. Kondisi ini membuat anak-anak merasa putus asa dan kurang termotivasi. Banyak anak yang terlibat dalam mencuri, meminta-minta, atau bekerja sebagai juru parkir untuk mendapatkan uang yang akhirnya digunakan membeli lem aibon. Page | 5 Gambar 1. Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Lem Aibon Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Keempat, kurangnya pemahaman dan pendidikan tentang bahaya zat dengan kontribusi 15 persen menjadi faktor penting. Anak-anak yang menghirup lem aibon sering kali tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang bahaya dan dampak jangka panjang perilaku tersebut. Kurangnya pendidikan formal dan informal mengenai dampak penggunaan zat berbahaya membuat anak-anak mudah terjerumus. Hasil wawancara dengan pendampin menunjukkan bahwa banyak orang tua juga tidak memahami bahaya lem aibon, sehingga mereka cenderung menghakimi anak tanpa memberikan penjelasan yang tepat. Diperlukan program edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan baik di sekolah maupun di komunitas untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif zat berbahaya. Kelima, ketersediaan lem aibon yang mudah diakses dengan kontribusi 10 persen memfasilitasi penyalahgunaan ini. Observasi menunjukkan bahwa lem aibon dapat diperoleh dengan sangat mudah di toko-toko, kios, atau bahkan dari toko besar. Tidak ada pembatasan penjualan lem kepada anak-anak, dan harga yang terjangkau membuat anak-anak dapat membeli tanpa kesulitan. Penanggung jawab lingkungan menyatakan perlunya pengawasan dan regulasi terhadap penjualan lem kepada anak-anak. Berdasarkan temuan, dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan lem aibon pada anak di bawah umur merupakan fenomena multifaktorial yang kompleks dan saling terkait. Faktor fundamental, yaitu kurangnya pengawasan dan perhatian keluarga . %), teridentifikasi sebagai akar masalah yang menciptakan kerentanan utama pada anak. Kerentanan ini kemudian berinteraksi kuat dengan pengaruh lingkungan dan teman sebaya . %) serta didorong oleh himpitan faktor ekonomi . %). Perilaku berisiko ini semakin diperparah oleh minimnya pemahaman akan bahaya . %) dan difasilitasi secara efektif oleh ketersediaan lem yang sangat mudah diakses . %), yang menunjukkan bahwa setiap faktor memiliki peran spesifik dalam melanggengkan masalah ini. Page | 6 2 Dampak Penyalahgunaan Lem Aibon terhadap Perkembangan Anak Penyalahgunaan lem aibon membawa dampak serius pada perkembangan anak baik secara fisik maupun psikis. Tabel 3 menunjukkan klasifikasi dampak yang dialami oleh anak-anak pengguna lem aibon berdasarkan kategori dan intensitas. Tabel 3. Klasifikasi Dampak Penyalahgunaan Lem Aibon pada Anak Kategori Dampak Jenis Dampak Malnutrisi dan penurunan berat badan Pertumbuhan terhambat Dampak Fisik Gangguan tidur dan kelelahan Penyakit pernapasan . atuk, bersi. Kerusakan gigi dan gusi Hilang kontrol diri Penurunan konsentrasi belajar Dampak Psikis Halusinasi dan ilusi Depresi dan kecemasan Perubahan mood ekstrem Pengasingan dari teman sebaya Perilaku agresif Dampak Sosial Perkelahian dengan pengguna lain Keterlibatan pencurian Putus sekolah atau tertinggal Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Intensitas Berat Berat Sedang Sedang Ringan Berat Berat Berat Sedang Sedang Berat Berat Sedang Sedang Berat Frekuensi Temuan Observasi terhadap anak-anak pengguna lem aibon menunjukkan gejala-gejala fisik yang jelas dan Semua anak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi dengan tubuh sangat kurus, warna kulit pucat atau kekuningan, dan penampilan kotor serta tidak terawat. Mayoritas anak . %) mengalami pertumbuhan yang terhambat, sementara 86 persen menunjukkan gangguan tidur dan kelelahan yang Sekitar 71 persen sering batuk, bersin, dan hidung berair, mengindikasikan masalah pernapasan yang signifikan. Dampak jangka panjang yang teridentifikasi mencakup kerusakan paru-paru, gangguan jantung, kerusakan ginjal, gangguan sistem saraf, dan pada kasus ekstrem dapat berakibat fatal (Nuraeni, 2. Dampak psikis dan kognitif juga sangat signifikan dengan frekuensi yang tinggi. Seluruh anak . %) mengalami hilang kontrol diri dan penurunan konsentrasi belajar. Sebanyak 71 persen menunjukkan gejala halusinasi dan ilusi akibat efek zat kimia dalam lem, sementara 86 persen mengalami depresi dan Perubahan mood yang ekstrem diamati pada 71 persen anak. Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa secara psikis anak kadang-kadang hilang kontrol seperti lupa-lupa ingatan. Penurunan fungsi kognitif menyebabkan anak-anak tidak mampu mengikuti pendidikan formal dengan baik, sehingga prestasi akademis menurun drastis (Kusuma, 2. Dampak sosial dari penyalahgunaan lem aibon juga merugikan dengan tingkat keterlibatan yang tinggi. Semua anak . %) mengalami pengasingan dan dihindari oleh teman sebaya "normal", serta menghadapi putus sekolah atau ketinggalan akademis. Sebanyak 86 persen menunjukkan perilaku agresif, sedangkan 71 persen terlibat dalam pencurian untuk membiayai kebiasaan mereka. Sekitar 57 persen terlibat dalam perkelahian dengan sesama pengguna lem. Kondisi sosial ini menciptakan lingkaran negatif yang sulit diputus tanpa intervensi yang tepat. Data temuan ini secara gamblang menunjukkan bahwa dampak penyalahgunaan lem aibon bersifat masif dan merusak secara holistik, menyentuh setiap aspek kehidupan anak. Dampak tersebut teridentifikasi Page | 7 pada pilar-pilar fundamental perkembangan, mencakup kerusakan fisik . alnutrisi dan pertumbuhan terhamba. , gangguan psikis . ilang kontrol diri dan penurunan konsentrasi belaja. , serta disfungsi sosial . engasingan teman sebaya dan putus sekola. Kondisi ini diperparah dengan tingginya prevalensi dampak berat lainnya seperti perilaku agresif . %), depresi dan kecemasan . %), serta halusinasi . %). Kombinasi destruktif dari gangguan fisik, kognitif, dan sosial ini secara efektif menjebak anak dalam lingkaran negatif yang tidak hanya merenggut kesehatan mereka saat ini, tetapi juga merampas masa depan akademis dan sosial mereka. 3 Upaya Preventif dan Kuratif Berbasis Pastoral Upaya penanganan penyalahgunaan lem aibon memerlukan pendekatan multi-dimensi yang melibatkan berbagai stakeholder. Upaya pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan pengawasan dan keterlibatan orang tua melalui pembinaan pola asuh yang responsif. Orang tua perlu memberikan perhatian lebih kepada anak-anak mereka, membangun komunikasi yang baik dan terbuka, menetapkan aturan dan batasan yang jelas namun fleksibel, memantau aktivitas anak dengan konsisten, menerapkan pola asuh yang demokratis . ukan otoriter atau pembiara. , dan menciptakan suasana keluarga yang hangat dan mendukung. Ketua Kelurahan menekankan pentingnya peran orang tua untuk mengawasi dan menciptakan pergaulan yang positif. Tabel 4. Strategi Intervensi Komprehensif Penyalahgunaan Lem Aibon Aspek Intervensi Preventif (Pencegaha. Kuratif (Penyembuha. Strategi Utama Peningkatan pengawasan orang Program edukasi dan Pihak yang Bertanggung Jawab Target Outcome Pembinaan iman dan mental Gereja & Keluarga Penyediaan aktivitas positif Masyarakat & Pemerintah Berkurangnya akses anak terhadap lem Peningkatan pemahaman bahaya lem Penguatan nilai-nilai moral anak Alih perhatian dari perilaku negatif Konseling individual & Tenaga profesional Pemulihan psikis anak Pendampingan berkelanjutan Gereja & Pembina Terapi psikologis Psikolog & Dokter Reintegrase sosial Komunitas & Sekolah Keluarga Sekolah & Masyarakat Rumah singgah & Pemerintah Rehabilitatif Pelatihan keterampilan Lembaga pelatihan Dukungan pascarehabilitasi Gereja & Keluarga Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Karantina/pengawasan khusus Perubahan perilaku Normalisasi fungsi psikis Penerimaan kembali di Pemutusan akses lem Pemberdayaan ekonomi Pencegahan relaps Program penyuluhan dan edukasi yang komprehensif harus dilakukan terhadap anak-anak, orang tua, dan masyarakat luas. Edukasi kepada anak-anak mencakup dampak negatif lem aibon, alternatif aktivitas positif, pengembangan keterampilan, dan pembangunan kepercayaan diri. Program edukasi untuk orang tua harus menekankan pentingnya peran orang tua, ciri-ciri anak yang menyalahgunakan zat, dan cara mengatasi masalah dengan bijak. Kampanye kesadaran untuk masyarakat luas tentang bahaya penyalahgunaan lem dan pentingnya kolaborasi komunitas juga perlu dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan oleh individu yang kompeten. Page | 8 Pembinaan iman dan mental dari perspektif pastoral menjadi kunci penting. Sebagaimana ditekankan oleh pendampin, iman mental harus dibina dari keluarga sebagai sekolah pertama. Gereja Katolik melalui pelayanan pastoral memiliki tanggung jawab untuk pencegahan melalui pemberian pendampingan kepada orang tua via katekese keluarga tentang pentingnya pendidikan agama anak, nilai-nilai moral, dan pencegahan perilaku menyimpang. Kurasi melibatkan bimbingan anak-anak yang sudah terlibat melalui konseling pastoral, pemberian teladan, doa, dan sakramen, terutama pengakuan dosa dan Ekaristi. Rehabilitasi mencakup membantu anak untuk mengembalikan kepercayaan diri, mengubah pola pikir, dan mengintegrasikan kembali ke komunitas paroki. Gambar 2 menunjukkan struktur ekosistem intervensi yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara holistik: Gambar 2. Ekosistem Intervensi Komprehensif Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Penyediaan fasilitas dan kegiatan positif sangat diperlukan. Ketua Kelurahan menekankan pentingnya pembangunan rumah singgah atau pusat pembinaan yang aman dan nyaman untuk kegiatan pembinaan iman anak sekaligus pengajaran tentang pengetahuan dasar. Fasilitas yang perlu disediakan meliputi rumah singgah atau pusat pembinaan, kapela untuk kegiatan rohani, ruang pembelajaran untuk pendidikan dasar dan keterampilan, fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan medis dan dukungan kesehatan mental, serta ruang rekreasi untuk aktivitas positif yang menyehatkan. Kolaborasi multi-sektor dan keterlibatan komunitas menjadi fondasi kesuksesan. Kolaborasi harus melibatkan keluarga untuk pengawasan, pembinaan, dan dukungan emosional, sekolah untuk pendidikan formal, konseling, dan pengawasan. Gereja untuk pembinaan rohani dan pastoral care, pemerintah untuk kebijakan dan regulasi penjualan lem, masyarakat untuk kesadaran bersama dan penciptaan lingkungan sehat, serta tenaga profesional seperti dokter, psikolog, dan konselor. Penanggung jawab lingkungan menekankan bahwa solusi terbaik adalah ketika semua komponen baik itu gereja, pemerintahan, maupun instansi-instansi yang berkaitan dapat menanggulangi masalah ini secara bersama-sama. Page | 9 Untuk anak-anak yang sudah kecanduan, diperlukan program rehabilitasi intensif yang meliputi karantina atau pengawasan khusus untuk memutus akses terhadap lem, konseling individual dan kelompok, terapi psikologis dari tenaga profesional, pembinaan karakter dan pelatihan keterampilan, reintegrase sosial bertahap ke komunitas, serta dukungan berkelanjutan pasca-rehabilitasi. Tabel 5 berikut menunjukkan timeline dan target pencapaian program rehabilitasi yang direkomendasikan: Tabel 5. Timeline Program Rehabilitasi Intensif Fase Rehabilitasi Durasi Fase I: Detoksifikasi 2-4 minggu Fase II: Stabilisasi Psikis 4-8 minggu Fokus Utama Pemutusan akses lem, observasi medis, stabilisasi Konseling, terapi psikologis, pembinaan iman Pelatihan keterampilan. Fase i: Resosialisasi 8-12 minggu pendidikan dasar, aktivitas Pendampingan keluarga. Fase IV: Berkelanjutan monitoring, dukungan Pascarehabilitasi Sumber: Hasil Analisis Data (Pranyoto. Berangka, & Ndiken, 2. Target Pencapaian Anak bebas dari penarikan gejala akut Anak menunjukkan kontrol diri dan kesadaran diri Anak siap reintegrasi ke Anak tetap abstinen dan KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1 Kesimpulan Penyalahgunaan lem aibon pada anak di bawah umur di Kelurahan Kamundu Merauke merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal, eksternal, dan sosial. Penelitian mengidentifikasi lima faktor utama penyebab: kurangnya pengawasan dan perhatian keluarga . %), pengaruh lingkungan dan teman sebaya . %), faktor ekonomi . %), kurangnya pemahaman tentang bahaya . %), dan ketersediaan lem yang mudah diakses . %). Dampak yang dialami anak-anak sangat serius, mencakup gangguan pertumbuhan fisik . % kasu. , gangguan mental . % kasu. , penurunan fungsi kognitif . % kasu. , dan permasalahan sosial yang mengancam masa depan mereka . % putus sekolah atau tertinggal akademi. Perbandingan antara tiga kategori dampak menunjukkan bahwa dampak sosial memberikan kontribusi terbesar terhadap kerusakan masa depan anak, diikuti dampak psikis dan kemudian dampak fisik. Meskipun demikian, ketiga kategori dampak ini saling terkait dan memperkuat satu sama lain dalam menciptakan lingkaran kerusakan yang sulit diputus tanpa intervensi yang tepat dan komprehensif. Penanganan masalah ini memerlukan pendekatan holistik dan kolaboratif yang melibatkan keluarga, sekolah. Gereja, pemerintah, dan masyarakat luas. Keluarga perlu meningkatkan pengawasan, memberikan perhatian yang lebih besar, dan membina iman serta mental anak-anak mereka dengan konsisten. Lingkungan sekitar harus menyediakan aktivitas positif yang dapat menarik minat anak-anak dan menjauhkan mereka dari pengaruh buruk. Pendidikan, baik formal maupun informal, harus ditingkatkan untuk memberikan pemahaman yang cukup kepada anak-anak mengenai bahaya lem aibon. Kolaborasi antara berbagai pihak merupakan kunci utama dalam memberantas perilaku menyimpang ini dan membantu anak-anak mencapai perkembangan yang sehat dan normal. Upaya pastoral Gereja Katolik memiliki peran penting dalam pembinaan iman dan mental anak-anak, baik melalui tanggung jawab preventif, kuratif, maupun rehabilitatif. Program-program edukasi, penyediaan fasilitas, peningkatan pengawasan keluarga, dan penciptaan lingkungan yang kondusif menjadi Page | 10 kunci kesuksesan. Ekosistem intervensi yang melibatkan lima pilar utama . eluarga, sekolah, gereja, pemerintah, dan tenaga profesiona. harus dibangun dengan kuat dan saling mendukung. Dengan pendekatan yang terpadu dan komitmen jangka panjang, diharapkan anak-anak dapat terhindar dari bahaya penyalahgunaan lem aibon dan tumbuh menjadi individu yang sehat, baik secara fisik maupun mental, serta dapat berkontribusi positif bagi masyarakat. 2 Rekomendasi Bagi Gereja Katolik, disarankan untuk memperkuat program katekesis keluarga tentang pendidikan anak dan nilai-nilai moral, menyediakan pastoral care yang komprehensif bagi anak dan keluarga yang terlibat, membangun rumah singgah atau pusat pembinaan yang terintegrasi dengan spiritual formation, dan memberikan pelatihan kepada pastor dan katekis tentang konseling pastoral untuk kasus penyalahgunaan Bagi orang tua, rekomendasi mencakup meningkatkan perhatian dan kontrol terhadap aktivitas anak, membangun komunikasi yang terbuka dan suportif dengan anak, menerapkan pola asuh yang seimbang dan konsisten, serta melibatkan diri dalam kegiatan paroki dan pembinaan iman keluarga. Bagi pemerintah dan Dinas Sosial, diperlukan pembuatan regulasi ketat terhadap penjualan lem aibon kepada anak-anak, penyediaan program rehabilitasi dan fasilitas kesehatan mental, dukungan pembangunan rumah singgah dan pusat pembinaan, serta pelaksanaan kampanye kesadaran publik tentang bahaya penyalahgunaan zat. Bagi sekolah, rekomendasi meliputi pengintegrasian edukasi tentang bahaya narkoba dan zat adiktif dalam kurikulum, penyediaan konseling dan dukungan psikologis kepada siswa, serta kolaborasi dengan orang tua dan Gereja dalam pembinaan anak. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian longitudinal guna mengevaluasi efektivitas program intervensi, mengeksplorasi lebih dalam aspek teologis perlindungan anak dalam konteks Indonesia, serta mengembangkan model pendampingan pastoral yang disesuaikan dengan budaya lokal. DAFTAR PUSTAKA