Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 26 No. 2 (Mei 2. Halaman: 241 Ae 254 Terakreditasi Peringkat 3 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 295/C/C3/KPT/2026 Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata Rimba Adventure Untuk Peningkatan Literasi Sains Sejak Dini Di Sekolah Rimba Nabila Pramidya Putri 1,*. Malpaleni Satriana 1. Husnawati 1. Wahdatan Nisa 1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Mulawarman. e-mail: np2585889@gmail. com, malpaleni@fkip. id, husnawati@fkip. wahnisa@fkip. * Korespondensi: e-mail: np2585889@gmail. Submitted: 21/05/2026. Revised: 25/05/2026. Accepted: 08/06/2026. Published: 09/06/2026 Abstract This study aims to examine the non-formal education model through Eduwisata Rimba Adventure for Improving Science Literacy from an Early Age in Rimba Schools. The research approach uses qualitative data collection methods through observation, interviews, and Data analysis was carried out through data reduction, data presentation, and conclusion drawn, with validity tests using triangulation techniques and sources. The results of the study show that the nature-based edutourism model in construction through direct field interaction, environmental interaction, and experiential reflection supports the development of early childhood science literacy. This study shows that the nature tourism based learning model supports the development of early childhood science literacy through exploratory experiences and direct interaction with the environment. Keywords: Early childhood. Eduwesista. Non-formal education. Science literacy Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji model pendidikan nonformal melalui Eduwisata Rimba Adventure untuk Peningkatan Literasi Sains Sejak Dini di Sekolah Rimba. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model eduwisata berbasis alam di konstruksi melalui langsung di lapangan, interaksi lingkungan, dan refleksi pengalaman yang mendukung pengembangan literasi sains anak usia dini. Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis eduwisata alam mendukung pengembangan literasi sains anak usia dini melalui pengalaman eksploratif dan interaksi langsung dengan lingkungan. Kata kunci: Anak usia dini. Eduwisata. Pendidikan nonformal. Literasi sains Pendahuluan Pelestarian Lingkungan merupakan salah satu isu yang terjadi secara berkembang karena berkaitan dengan kerusakan lingkungan yang kerap terjadi. Masyarakat merupakan yang ketergantungan langsung oleh lingkungan, maka dari itu masyarakat harus bisa mencegah kerusakan lingkungan hidup dengan cara melestarikan lingkungan (Hasan et al. Secara umum kerusakan lingkungan bukanlah permasalahan yang biasa. Oleh karena itu, pentingnya menjaga lingkungan wajib dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat. Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Nabila P Putri. Malpaleni Satriana. Husnawati. Wahdatan Nisa Upaya pelestarian lingkungan ini sendiri tidak hanya sekedar kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap permasalahan lingkungan. Maka dari itu, dibutuhkannya pemahaman literasi sains pada masyarakat. Karena, dengan adanya pemahaman literasi sains pada masyarakat, dapat membantu masyarakat dalam membentuk karakter peduli lingkungan, hal ini tercermin dari kesadaran masyarakat dalam upaya mencegah kerusakan lingkungan hidup dan cara masyarakat menjaga serta melestarikan lingkungan sekitar (Kartini et al. , 2. Literasi Sains merupakan sebuah pengetahuan dasar yang memiliki peranan penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat, baik pada masa sekarang maupun di masa yang akan datang (Irsan, 2. Literasi Sains merupakan aspek penting yang perlu ditingkatkan pada anak usia dini, karena kemampuan literasi sains akan berpengaruh terhadap perkembangan anak usia dini (Mahardini & Widayanti, 2. Namun, peran tersebut sulit tercapai apabila pembelajaran sains masih berfokus pada teori, kurang relevan dengan kondisi nyata, serta terbatas pada aktivitas pembelajaran di kelas (Suparya et al. , 2. Dengan adanya kondisi tersebut menyebabkan anak kurang mendapatkan pengalaman langsung dalam mengenal lingkungan alam, khususnya terkait tumbuhan dan fenomena alam di sekitarnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah Pendidikan mengembangkan potensi setiap individu dengan menekankan penguasaan pengetahuan serta pengembangan kapasitas diri (Niba et al. , 2. Dalam mendukung penguatan literasi sains pada anak usia dini, pendidikan nonformal menerapkan pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman nyata sesuai dengan perkembangan anak. Salah satu bentuk penerapannya adalah dengan eduwisata yang dapat digunakkan sebagai model pendidikan nonformal berbasis pengalaman. Wisata edukasi atau eduwisata merupakan perjalanan yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran untuk mengenal dan memahami suatu bidang atau aktivitas yang menjadi tujuan kunjungan (Chasanah et al. Eduwisata mendukung pengembangan literasi sains melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung yang sesuai dengan lingkungan belajar anak. Oleh sebab itu, eduwisata berperan sebagai model pembelajaran pendidikan nonformal yang tepat dalam mendukung pengembangan literasi sains anak usia dini melalui pengalaman langsung, pemahaman konsep, dan kepedulian terhadap lingkungan. Program eduwisata memberikan kesempatan pada anak untuk peningkatan literasi sains yang berguna untuk masa depannya. Program eduwisata di Kota Samarinda Sekolah Rimba. Sekolah Rimba Kota Samarinda menyelenggarakan beragam aktivitas pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sebagai sumber belajar utama. Sekolah Rimba Samarinda adalah lembaga pendidikan nonformal yang berada dalam tanggung jawab Yayasan Kaindea Study Center yang berlokasi di Batu Besaung. Samarinda Utara. Lembaga ini mengembangkan pembelajaran berbasis alam melalui aktivitas luar ruang kelas yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung bagi anak-anak, terutama sebagai pilihan pendidikan alternatif bagi masyarakat Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata RimbaA dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan formal. Dengan demikian. Sekolah Rimba Samarinda merupakan wujud dari penerapan eduwisata berbasis alam yang memberikan pengalaman belajar secara nyata sekaligus mendukung pengembangan literasi sains anak usia Penerapan pembelajaran berbasis alam di Sekolah Rimba Samarinda diwujudkan melalui Program Rimba Adventure dengan berbagai kegiatan edukatif. Program Rimba Adventure di Sekolah Rimba Samarinda dikembangkan sebagai kegiatan pembelajaran yang menggabungkan unsur petualangan dengan pengalaman belajar langsung di alam bagi anak usia dini hingga sekolah dasar. Melalui program ini, anak-anak terlibat dalam penjelajahan lingkungan alami, seperti melintasi jalur tanah dan rintangan alam, serta menyelesaikan tantangan sederhana yang mendorong rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga dirancang untuk menumbuhkan keberanian, keterampilan motorik, dan kemandirian anak melalui pengalaman nyata di alam, sekaligus mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan dan kerja sama dalam kelompok dengan pendampingan fasilitator. Dengan demikian. Rimba Adventure menghadirkan pembelajaran sains yang sesuai dengan situasi nyata dan menyenangkan karena anak belajar memahami lingkungan dan dirinya melalui interaksi langsung dengan alam, di luar pembelajaran yang berlangsung di dalam ruang kelas. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana model pendidikan nonformal melalui Eduwisata Rimba Adventure dalam meningkatkan literasi sains sejak dini di Sekolah Rimba Samarinda. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Model Pendidikan Nonformal melalui Eduwisata Rimba Adventure untuk Peningkatan Literasi Sains Sejak Dini di Sekolah Rimba. Hasil dari penelitian ini berupa gambaran terkait model eduwisata oleh Sekolah Rimba Samarinda. Penelitian yang dilakukan oleh (Sakan et al. , 2. menunjukkan bahwa kegiatan eduwisata pembuatan gamelan di Desa Banjar berfungsi sebagai ruang pembelajaran autentik dalam mengembangkan literasi sains. Melalui pengalaman langsung, peserta didik dapat memahami konsep-konsep sains, khususnya materi bunyi, yang terintegrasi dengan budaya Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis eduwisata mampu menghubungkan pengetahuan sains dengan kehidupan nyata sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Penelitian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian ini karena sama-sama meningkatkan literasi sains. Perbedaannya terletak pada lokasi dan objek pembelajaran. Penelitian (Sakan et al. , 2. berfokus pada eduwisata pembuatan gamelan untuk memahami konsep bunyi, sedangkan penelitian ini berfokus pada model pendidikan nonformal melalui Eduwisata Rimba Adventure di Sekolah Rimba yang memanfaatkan lingkungan alam sebagai sumber belajar dalam meningkatkan literasi sains sejak dini. Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Nabila P Putri. Malpaleni Satriana. Husnawati. Wahdatan Nisa Metode Penelitian Penelitian ini berjudul Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata Rimba Adventure untuk Peningkatan Literasi Sains Sejak Dini di Sekolah Rimba. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Rimba Kota Samarinda, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berada dalam tanggung jawab Yayasan Kaindea Study Center yang berlokasi di Batu Besaung. Kelurahan Sempaja Utara Kecamatan Samarinda Utara. Kota Samarinda. Kalimantan Timur. Lokasi ini dipilih karena Sekolah Rimba Samarinda menerapkan pembelajaran berbasis alam melalui program eduwisata yang berfokus pada pengembangan literasi sains anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, karena bertujuan untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai model pendidikan nonformal melalui eduwisata dalam meningkatkan literasi sains sejak dini. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap proses pembelajaran. aktivitas eduwisata, serta pengalaman belajar anak dalam Program Rimba Adventure yang dilaksanakan di lingkungan alam terbuka. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara, observasi, dan studi Wawancara dilakukan secara mendalam untuk memperoleh informasi terkait perencanaan, pelaksanaan, dan tujuan program eduwisata dalam mendukung literasi sains anak usia dini. Penentuan informan dalam pebelitian ini menggunakkan Teknik purposive sampling, yakni pemilihan informan dilakukan secara sengaja berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Kriteria yang menjadi dasar pemilihan informan meliputi terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan Program Rimba Adventure, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan fokus penelitian, serta bersedia memberikan informasi secara terbuka (Simamora et al. , 2. Informan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang, yang terdiri 1 orang kepala sekolah Rimba Adventure, 1 orang ketua panitia Program Rimba Adventure, 2 fasilitator dan 5 orang wali murid. Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung pelaksanaan kegiatan Program Rimba Adventure, khususnya aktivitas pembelajaran berbasis alam, interaksi anak dengan lingkungan, serta bentuk-bentuk stimulasi literasi sains yang muncul selama kegiatan berlangsung. Studi dokumen dilakukan dengan mengkaji berbagai dokumen pendukung, seperti profil lembaga, program. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Annisa & Mailani, 2. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan memfokuskan data hasil wawancara, observasi, dan dokumen agar sesuai dengan tujuan penelitian. Penyajian data dilakukan peneliti dengan menarasikan data dari hasil redukasi data untuk menggambarkan model pendidikan nonformal melalui eduwisata yang diterapkan di Sekolah Rimba Samarinda. Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil analisis data yang telah disajikan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai peran eduwisata dalam peningkatan literasi sains anak usia dini. Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata RimbaA Keabsahan data dalam penelitian ini diuji menggunakan teknik triangulasi, yang meliputi triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Sementara itu, triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai informan yang terlibat dalam pelaksanaan Program Rimba Adventure (Susanto et , 2. Dengan demikian, data yang diperoleh saling melengkapi. Hasil dan Pembahasan Program Rimba Adventure dalam penelitian ini tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan karakter anak, seperti menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian, kemandirian, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan (Nisa et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan eduwisata mampu menciptakan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna bagi anak usia dini. Penelitian ini akan mengkaji tentang Model Pendidikan Nonformal melalui Eduwisata Rimba Adventure untuk Peningkatan Literasi Sains Sejak Dini di Sekolah Rimba. Yang berkaitan dengan proses pendidikan nonformal Sekolah Rimba melalui program Rimba Adventure. Oleh karena itu. Proses pendidikan nonformal dalam penelitian ini dilaksanakan berdasarkan beberapa tahapan yaitu, tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Fatoni et al. , 2. Ketiga tahapan tersebut memiliki keterkaitan yang terpadu dan berlangsung secara optimal, efektif, dan selaras dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Tahapan Perencanaan Tahapan perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan sebelum suatu program dilaksanakan, sebagai bentuk persiapan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik dan sesuai tujuan yang diharapkan. Perencanaan adalah proses menyusun dan menetapkan berbagai keputusan tentang tujuan program yang ingin dicapai, serta kegiatan yang akan dilakukan (Situmorang et al. , 2. Proses ini dilakukan secara terarah agar tujuan program yang telah direncanakan dapat benar-benar terwujud (Amini et al. , 2. Proses ini dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan peserta sebagai dasar dalam menentukan program yang akan Proses tersebut memperlihatkan bahwa perencanaan dilakukan secara terstruktur guna memastikan kesiapan program secara menyeluruh. Oleh karena itu, perencanaan yang disusun dengan baik sangat diperlukan agar setiap kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan secara teratur dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan (Sasoko, 2. Dengan demikian. Perencanaan yang matang menjadi pedoman pelaksanaan sekaligus meminimalkan kendala, sehingga kegiatan berjalan sesuai tujuan yang telah Identifikasi kebutuhan merupakan salah satu langkah awal yang dilakukan untuk mengetahui apa saja kebutuhan, masalah, dan potensi yang ada sebelum program dibuat. Proses ini dilakukan secara sistematis guna memperoleh informasi yang akurat tentang kondisi serta kebutuhan peserta, sehingga membantu perencana mengetahui kebutuhan yang Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Nabila P Putri. Malpaleni Satriana. Husnawati. Wahdatan Nisa sebenarnya, sehingga program yang disusun tidak bersifat umum, melainkan menyesuaikan dengan kondisi dan karakteristik peserta (Ghufron & Saraka, 2. Dengan demikian, program dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan (Nurbayani et al. , 2. Melalui identifikasi kebutuhan, perencanaan dapat dibuat dengan lebih sesuai dan terarah, karena didasarkan pada hasil identifikasi kebutuhan yang menggambarkan kondisi dan kebutuhan nyata peserta (Cahyaningtyas & Suherman, 2025. Fatimatuzzahra & Wahyuni, 2022. Rahayu & Winarti, 2. Dalam pendidikan nonformal, identifikasi kebutuhan merupakan langkah awal yang berperan penting dalam sebuah program, karena menjadi dasar dalam penyusunan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar (Mustangin. Iqbal, et al. Sejalan dengan hal tersebut, dalam Program Rimba Adventure kepala sekolah rimba mengungkapkan identifikasi kebutuhan dilakukan dengan pengamatan terhadap peserta untuk memahami kemampuan motorik, minat belajar, serta tingkat pemahaman peserta terhadap lingkungan alam sebagai dasar penyusunan kegiatan pembelajaran yang sesuai. Identifikasi kebutuhan dalam Program Rimba Adventure di Sekolah Rimba Kota Samarinda, dilakukan dengan mengumpulkan informasi langsung dari pengelola dan juga orang tua peserta. Berdasarkan penelitian tersebut, identifikasi kebutuhan dilakukan melalui observasi dan wawancara sebagai metode pengumpulan data untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber (Maulana et al. , 2. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung kebutuhan anak dari berbagai macam aspek, seperti perkembangan, pembelajaran, dan lingkungan. Dengan melakukan identifikasi kebutuhan, sebagai bagian dari analisis kebutuhan, perencanaan program dapat disusun dengan lebih terarah dan sesuai dengan kondisi nyata (Adelya et al. , 2024. Arkam et al. , 2. Hal ini penting agar program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak di lapangan serta menghasilkan kegiatan yang lebih tepat sasaran. Identifikasi kebutuhan dalam perencanaan Program Rimba Adventure dilakukan berdasarkan kondisi nyata di masyarakat dan anak usia dini. Pembelajaran berbasis alam digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam aktivitas eksploratif dan mengurangi dominasi aktivitas berbasis gadget. Dengan adanya hal tersebut, menghadirkannya kegiatan yang melibatkan anak secara langsung dalam interaksi fisik dan sosial, agar dapat mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget, serta untuk memberikan anak pengalaman belajar yang lebih nyata dan bermakna dalam mendukung perkembangan literasi sains sejak dini (Putri, 2. Dengan demikian kegiatan pembelajaran perlu dirancang untuk mendukung perkembangan fisik dan sosial anak secara seimbang. Tahapan Pelaksanaan Tahapan pelaksanaan merupakan bagian penting dalam suatu program karena pada tahap ini rencana yang telah disusun sebelumnya mulai diterapkan secara langsung di Pelaksanaan juga menggambarkan proses menggerakkan semua pihak yang terlibat untuk menjalankan setiap kegiatan sesuai rencana, sehingga seluruh kegiatan dapat berjalan Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata RimbaA secara teratur dan terarah untuk mencapai tujuan program (Islami et al. , 2. Berdasarkan hasil wawancara alur pelaksanaan Program Rimba Adventure diawali dengan tahap persiapan dan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pembukaan kegiatan serta pembagian kelompok, kemudian peserta mengikuti jelajah hutan menuju beberapa pos aktivitas hingga ditutup dengan sesi tanya jawab dan evaluasi sederhana. Selain itu, pelaksanaan juga dipahami sebagai tahap untuk melihat sejauh mana perencanaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan, hal ini juga sejalan dengan konsep monitoring yang berfokus pada kesesuian antara pelaksanaan dengan rencana yang telah di tetapkan, terutama dalam pendidikan nonformal yang menekankan pengalaman belajar langsung serta partisipasi aktif aktif peserta (Genius et al. , 2025. Yuliedy et , 2. Oleh karena itu, keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas Pembelajaran yang berlangsung di lapangan menunjukkan penerapan literasi sains berbasis pengalaman cukup kuat. Kepala sekolah rimba menyampaikan bahwa pembelajaran tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi lebih menekankan keterlibatan langsung peserta dengan lingkungan alam sebagai sumber belajar, sebagai wujud penerapan prinsip Pendidikan nonformal yang menempatkan pengalaman langsung dan lingkungan sekitar sebagai media utama dalam proses pembelajaran yang bermakna (Hasbiyalloh et al. , 2. Interaksi langsung dengan objek alam membentuk kemampuan observasi, klasifikasi sederhana, dan rasa ingin tahu sebagai bagian dari literasi sains anak usia dini. Secara tidak langsung melatih kemampuan dasar literasi sains, seperti mengamati, mengajukan pertanyaan, dan memahami sesuatu melalui pengalaman nyata (Nuraisyah & Nuraini, 2. Kondisi pembelajaran tersebut membuat proses belajar menjadi lebih bermakna karena peserta terlibat langsung dalam kegiatan eksplorasi di lingkungan sekitar. Pelaksanaan kegiatan di lapangan menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat dengan literasi sains. Dalam kegiatan pembuatan tempat berlindung sederhana dari bahan alam . , peserta tidak hanya dilatih keterampilan bertahan hidup, tetapi juga belajar mengenali kondisi lingkungan, memilih bahan yang sesuai, serta memahami fungsi dari setiap bahan yang Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar, melalui keterlibatan aktif dalam berinteraksi dengan lingkungan dan berbagai objek di lapangan. Sehingga mampu membantu peserta mengembangkan kemampuan mengamati, menganalisis, dan menarik kesimpulan sederhana (Sufiyanto & Hefni, 2. Selain itu, peserta juga mengenal konsep sederhana seperti kekuatan struktur, perlindungan terhadap cuaca, serta pentingnya menjaga keamanan. Dengan demikian, kegiatan tersebut mencerminkan penerapan proses ilmiah dalam pembelajaran melalui aktivitas mencoba, mengamati dan menilai hasil. Aktivitas eksplorasi lingkungan seperti pengenalan berbagai jenis tanaman beserta manfaatnya pada saat kegiatan berlangsung juga dapat memperkuat literasi sains peserta. Fasilitator juga menyebutkan bahwa peserta diajak mengenal tanaman seperti kemiri dan kapulaga langsung di alam, dengan instruktur menyampaikan pemahaman menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami anak usia dini. Melalui interaksi langsung dengan Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Nabila P Putri. Malpaleni Satriana. Husnawati. Wahdatan Nisa objek di alam, peserta lebih mudah memahami materi dibandingkan hanya melalui penjelasan. Hal ini terlihat dari kemampuan peserta dalam memahami penerapan konsep-konsep sains dalam kehidupan sehari-hari, serta kesadaran bahwa tanaman memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aftina & Hanik, 2. Kegiatan ini juga mendorong munculnya rasa ingin tahu yang menjadi dasar penting dalam literasi sains. Interaksi langsung objek alam seperti dalam kegiatan mempelajari kemiri dan kapulaga langsung di alam membentuk kemampuan observasi, klasifikasi sederhana, dan rasa ingin tahu sebagai bagian dari literasi sains anak usia dini. Melalui kegiatan ini, peserta dilatih untuk lebih cermat dalam mengamati lingkungan, mengenali karakteristik tumbuhan yang ditemukan, serta berdiskusi dengan teman kelompok mengenai hasil temuannya (Aeni & Kartikasari, 2. Kegiatan tersebut pada akhirnya memperkuat pemahaman peserta bahwa pembelajaran sains dapat diperoleh secara langsung melalui interaksi dengan lingkungan sekitar. Aktivitas eksplorasi berbasis tantangan seperti outbond mendorong kemampuan problem sloving dan pengambilan keputusan anak melalui pengalaman belajar kontekstual. Berdasarkan hasil wawancara kegiatan tersebut disusun secara berurutan, sehingga setiap kelompok berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, seperti melewati ban, titian tali, mendaki jaring, merayap, hingga mendaki gunungan di dalam hutan. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan peserta dalam program ini tidak hanya bersifat aktivitas fisik edukatif, tetapi juga mendorong keterampilan berpikir melalui pengalaman langsung di lapangan (Hamna et al. Kepala sekolah juga menyampaikan bahwa Pada akhir kegiatan, sesi pos tanya jawab memiliki peran penting dalam memperkuat pemahaman peserta. Melalui kegiatan ini, peserta dapat mengulas kembali pengalaman yang telah diperoleh serta mengungkapkan apa yang mereka pahami. Kegiatan ini juga membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi (Cahyani & Redna, 2. Melalui pos tanya jawab tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk mengulas kembali pengalaman belajar secara langsung serta menyusun kembali pemahaman yang dimiliki. Oleh karena itu, kegiatan ini cukup efektif dalam meningkatkan literasi sains anak. Dilihat dari sudut pandang pendidikan nonformal, pemanfaatan lingkungan alam sebagai media pembelajaran menunjukkan adanya pendekatan pendekatan berbasis pengalaman langsung yang menekankan keterlibatan aktif peserta melalui lingkungan sekitarnya (Widodo et al. , 2. Pembelajaran akan lebih bermakna ketika peserta terlibat secara langsung dalam prosesnya, karena melalui pengalaman langsung peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis tetapi melalui pengalamangan langsung yang di alami sendiri (Aminah et al. , 2. Selain itu, peran fasilitator sebagai pendamping yang menyesuaikan strategi pembelajaran dengan karakteristik peserta, serta tidak menempatkan diri sebagai pihak yang mendominasi pembelajaran, melainkan hadir secara setara dengan peserta dalam proses pembalajaran, mencerminkan prinsip dasar Pendidikan nonformal yang menempatkan fasilitator sebagai mitra belajar yang mendorong kemandirian dan partisipasi aktif peserta (Lukman, 2021. Sari & Husnah, 2. Dengan demikian, program ini tidak hanya Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata RimbaA berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pemberian pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta. Tahapan Evaluasi Dalam proses pelaksanaan program, evaluasi menjadi tahap penting untuk mengukur kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan dengan perencanaan yang telah disusun. Tahapan evaluasi merupakan tahap yang digunakan untuk menilai pelaksanaan program dengan membandingkan antara rencana yang telah disusun dan hasil yang dicapai di lapangan. Evaluasi sendiri dapat dipahami sebagai suatu proses sistematis dalam mengumpulkan, mengolah informasi untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan serta menilai efektivitas suatu program (Hidayah & Navlia, 2025. Opitasari et al. , 2. Melalui tahapan ini, tidak hanya hasil akhir yang diperhatikan, tetapi juga bagaimana proses kegiatan berlangsung, termasuk faktor pendukung dan kendala yang muncul (QurratuAoain & Ali, 2. Evaluasi juga berfungsi sebagai dasar penting dalam menentukan langkah perbaikan dan pengembangan program, agar pelaksanaan selanjutnya dapat berjalan lebih optimal dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Fahira et al. , 2024. Katuuk et al. , 2025. Mustangin et al. , 2. Dengan adanya evaluasi, pelaksanaan program dapat terus disempurnakan agar hasil yang diperoleh menjadi lebih baik pada tahap selanjutnya. Berdasarkan hasil wawancara, tahapan evaluasi dalam Program Rimba Adventure tidak hanya dilakukan sebagai kegiatan penilaian di akhir program, tetapi juga sebagai proses yang berkelanjutan. Ketua panitia Program Rimba Adventure menyampaikan bahwa evaluasi program Rimba Adventure dilakukan melalui penyebaran angket secara online kepada orang tua peserta dan observasi langsung oleh fasilitator di lapangan. Penggunaan dua metode ini menunjukkan bahwa evaluasi tidak hanya mengandalkan satu sumber data, tetapi menggabungkan data dari berbagai cara pengumpulan informasi. Hal tersebut sejalan dengan konsep evaluasi program yang menekankan pentingnya pengumpulan data dari berbagai aspek untuk memperoleh hasil penilaian yang komprehensif terhadap pelaksanaan program (Nursabki & Ansori, 2. Dengan demikian, pelaksanaan evaluasi yang dilakukan secara beragam memungkinkan diperolehnya gambaran yang lebih menyeluruh terhadap pelaksanaan program serta menjadi dasar dalam perbaikan program selanjutnya. Berdasarkan hasil wawancara bahwa observasi dalam evaluasi dilaksanakan secara langsung oleh berlangsung di lapangan. Namun belum menggunakkan instrument yang tersusun secara sistematis, melainkan hanya berupa pencatatan sederhana dalam bentuk catatan lapangan. Pada dasarnya evaluasi program hendaknya dikembangkan dengan penggunaan instrumen yang disusun secara sistematis dan ilmiah agar data yang diperoleh akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan (Saputra & Mayurida, 2. Oleh karena itu, penggunaan instrumen observasi yang lebih sistematis sangat diperlukan agar hasil evaluasi dapat terdokumentasi dengan lebih baik dan memiliki tingkatan keakuratan yang lebih tinggi. Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 241 - 254 (Mei 2. Nabila P Putri. Malpaleni Satriana. Husnawati. Wahdatan Nisa Sumber: Hasil Pengolahan Data . Gambar 1. Bagan Alur Model Pendidikan Nonformal Melalui Eduwisata Rimba Adventure untuk Peningkatan Literasi Sains Sejak Dini di Sekolah Rimba Kesimpulan Model pendidikan nonformal melalui Eduwisata Rimba Adventure di Sekolah Rimba merupakan model pembelajaran berbasis pengalaman yang dikonstruksi melalui tahapan perencanaan berbasis identifikasi kebutuhan, pelaksanaan melalui eksplorasi lingkungan dan interaksi langsung dengan alam, serta evaluasi berkelanjutan untuk penyempurnaan program. Model ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi sains sejak dini dapat dibangun melalui pengalaman eksploratif, aktivitas berbasis tantangan, dan refleksi pengalaman yang mendorong kemampuan observasi, rasa ingin tahu, berpikir kritis, serta pemahaman anak terhadap lingkungan. Dengan demikian. Eduwisata Rimba Adventure dapat menjadi model konseptual pendidikan nonformal berbasis alam yang mendukung pengembangan literasi sains anak usia dini secara kontekstual dan bermakna. Untuk mendukung keberlanjutan program, model ini perlu dikembangkan melalui penyusunan instrumen evaluasi yang lebih sistematis serta penguatan indikator literasi sains yang terukur agar efektivitas program dapat ditingkatkan dan direplikasi pada konteks pendidikan nonformal lainnya. Daftar Pustaka