Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt Manajemen Bimbingan dan Konseling Efektif untuk Kesejahteraan Psikososial Anak di Sekolah Dasar Muhammad Riza Darwin1 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas manajemen bimbingan dan konseling (BK) dalam meningkatkan kesejahteraan psikososial siswa di sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif deskriptif dengan analisis literatur dan konten dari jurnal ilmiah Data diperoleh dari artikel terakreditasi yang relevan dengan topik Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen BK yang terstruktur dan kolaboratif efektif dalam meningkatkan regulasi emosi, keterampilan sosial, serta mengurangi gangguan psikososial pada siswa. Dengan demikian, manajemen BK yang baik berperan penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung kesejahteraan psikososial siswa. Artikel ini ditulis untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya manajemen BK dalam mendukung kesejahteraan psikososial siswa, serta mengedukasi pembaca tentang peran konselor dalam menciptakan lingkungan yang mendukung. Data dikumpulkan melalui tinjauan literatur yang diakses melalui platform seperti Google Scholar dan Publish or Perish. Kata Kunci: manajemen BK. kesejahteraan psikososial. Abstract This study aims to evaluate the effectiveness of guidance and counseling (BK) management in improving the psychosocial well-being of elementary school students. The method used is a descriptive qualitative study with literature and content analysis from relevant scientific journals. Data were obtained from accredited articles relevant to the research topic. The results showed that structured and collaborative BK management was effective in improving emotional regulation and social skills, as well as reducing psychosocial disorders in students. Thus, good BK management plays an important role in creating a school environment that supports students' psychosocial well-being. This article was written to provide an understanding of the importance of BK management in supporting students' psychosocial well-being, as well as to educate readers about the role of counselors in creating a supportive environment. Data was collected through a literature review accessed through platforms such as Google Scholar and Publish or Perish. Keywords: BK management. psychosocial well-being. STKIP Budidaya Binjai, muhammadrizadarwin09@gmail. Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu fondasi utama dalam pembangunan Melalui pendidikan, setiap individu dibekali kemampuan kognitif, sosial, dan emosional untuk menghadapi tantangan hidup di masa depan. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya bertumpu pada pencapaian akademik semata, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain yang menunjang pembentukan karakter Hal ini sesuai dengan pandangan Pitaloka . , yang menyatakan bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya pembudayaan manusia secara utuh, bukan hanya penguasaan pengetahuan semata. Dalam konteks global saat ini, paradigma pendidikan mengalami pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada hasil akademik menuju pendekatan yang lebih holistik, yang memperhatikan perkembangan psikologis dan sosial peserta didik. Zulela, dkk . menekankan pentingnya pendidikan karakter yang terintegrasi dalam proses pembelajaran, sebagai respons terhadap kompleksitas tantangan sosial dan moral yang dihadapi anak-anak di abad ke-21. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari upaya pembentukan pribadi yang sehat secara mental dan sosial. Salah satu aspek yang kini semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan adalah kesejahteraan psikososial peserta didik. Kesejahteraan psikososial merupakan kondisi di mana individu mampu menjalani kehidupan secara seimbang, memiliki ketahanan emosional, serta menjalin hubungan sosial yang positif (UNICEF, 2. Di lingkungan sekolah, kesejahteraan ini menjadi indikator penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran, karena anak yang merasa aman secara emosional akan lebih terbuka terhadap proses belajar dan interaksi sosial. Masa sekolah dasar menjadi fase yang sangat penting dalam pembentukan kesejahteraan psikososial anak. Pada usia ini, anak sedang berada pada tahap perkembangan kognitif, afektif, dan sosial yang pesat. Jika tidak mendapatkan dukungan yang memadai, anak dapat mengalami tekanan psikologis, kecemasan sosial, bahkan mengalami penurunan kepercayaan diri. Menurut Hurlock . , ketidakseimbangan perkembangan emosi dan sosial pada usia ini dapat berdampak pada pola perilaku dan hubungan sosial anak hingga dewasa. Oleh karena itu, perhatian terhadap aspek psikososial anak di sekolah dasar tidak dapat diabaikan. Sekolah sebagai institusi formal memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikososial siswa. Iklim sekolah yang inklusif, relasi interpersonal yang sehat antara guru dan siswa, serta adanya sistem pendukung psikologis menjadi elemen yang berkontribusi besar dalam membentuk kesejahteraan anak. Berkaitan dengan itu. Debyo, dkk . menyatakan bahwa siswa yang berada dalam lingkungan belajar yang positif memiliki tingkat stres akademik yang lebih rendah dan motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa di lingkungan yang kurang suportif. Salah satu pendekatan sistemik yang digunakan untuk membangun kesejahteraan psikososial anak adalah melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK). Layanan ini berfungsi untuk membantu siswa mengenali potensi diri, mengatasi masalah personal dan sosial, serta mengembangkan kemampuan penyesuaian diri. Manajemen BK yang baik akan membantu sekolah mengidentifikasi kebutuhan psikososial anak dan memberikan intervensi yang Sesuai dengan pendapat Agma . , efektivitas program BK bergantung Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt pada kemampuan manajerial sekolah dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi layanan secara sistematis. KAJIAN TEORI Manajemen dalam Bimbingan dan Konseling di Sekolah Manajemen bimbingan dan konseling di sekolah memegang peranan penting dalam mendukung kesejahteraan psikososial siswa. Dalam konteks ini, program bimbingan harus dirancang untuk mengatasi berbagai masalah emosional, sosial, dan akademik yang dihadapi oleh siswa. Rahman dan Aswar . menekankan bahwa penguatan layanan bimbingan dan konseling yang berfokus pada regulasi diri dan ketahanan psikososial dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan siswa. Sebagai bagian dari manajemen yang efektif, penting bagi guru dan konselor untuk membangun komunikasi yang efektif dengan siswa, guna menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung (Rahman & Aswar, 2. Program bimbingan dan konseling yang efektif harus memperhatikan kebutuhan individual siswa. Setiap siswa menghadapi tantangan yang unik, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun emosional. Oleh karena itu, manajemen bimbingan di sekolah harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tersebut. Konselor perlu mengidentifikasi masalah yang dihadapi siswa dan merancang intervensi yang tepat untuk menangani masalah tersebut. Yuris dan Siregar . berpendapat bahwa pendekatan bimbingan yang bersifat individual dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional dan psikososial siswa, serta membantu mereka dalam mengatasi tantangan hidup. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam manajemen bimbingan dan konseling sangat penting dalam menciptakan kesejahteraan psikososial siswa. Dalam banyak kasus, orang tua adalah pihak pertama yang mengetahui masalah yang dihadapi anak, baik yang berkaitan dengan sekolah maupun kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, koordinasi antara konselor, orang tua, dan pihak sekolah sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program bimbingan. Maemunah et al. menyarankan bahwa keberhasilan bimbingan tidak hanya bergantung pada peran konselor, tetapi juga pada partisipasi aktif orang tua dalam memberikan dukungan emosional kepada anak mereka. Penting untuk menerapkan program bimbingan yang juga berfokus pada pengembangan keterampilan sosial dan karakter siswa. Alwina . menjelaskan bahwa pengembangan keterampilan sosial dalam konteks bimbingan dapat membantu siswa untuk berinteraksi dengan lebih baik dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat sekitar. Keterampilan karakter seperti tanggung jawab, kepemimpinan, dan empati juga dapat meningkatkan kesejahteraan psikososial siswa, yang pada akhirnya akan mendukung kesuksesan akademik Evaluasi dan pengawasan terhadap program bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan untuk menilai efektivitas program tersebut. Program bimbingan yang baik harus dievaluasi secara berkala agar dapat disesuaikan dengan perubahan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah. Damanik et al. mengungkapkan bahwa evaluasi yang dilakukan secara rutin akan membantu konselor dan pihak sekolah untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan, serta memastikan bahwa program bimbingan memberikan manfaat yang maksimal bagi perkembangan siswa. Oleh karena itu, manajemen bimbingan Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt dan konseling harus bersifat dinamis, fleksibel, dan didasarkan pada data yang Kesejahteraan Psikososial anak Kesejahteraan psikosocial anak merujuk pada keadaan seimbang yang mencakup aspek emosional, sosial, dan psikologis, yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Ryff . menyatakan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan elemen esensial dalam perkembangan anak, yang melibatkan perasaan diterima oleh orang lain, pengendalian diri, pencapaian tujuan hidup yang jelas, serta hubungan sosial yang sehat. Dalam konteks pendidikan dasar, kesejahteraan psikosocial anak berhubungan erat dengan kemampuan anak dalam menghadapi stres, menjalin hubungan positif dengan teman sebaya, serta meningkatkan rasa percaya diri. Oleh karena itu, sangat penting bagi sekolah untuk memberikan dukungan yang menyeluruh melalui program bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling yang dilaksanakan di sekolah memiliki peran sentral dalam mendukung kesejahteraan psikosocial anak. Konseling yang dilaksanakan dengan baik dapat membantu anak dalam mengelola perasaan serta mengatasi berbagai permasalahan pribadi, seperti kecemasan, konflik antarpribadi, dan perasaan rendah diri. Mills . menyatakan bahwa pendekatan holistik yang mencakup aspek emosional, sosial, dan psikologis dalam program bimbingan sangat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup siswa secara keseluruhan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya integrasi antara dimensi emosional dan sosial dalam proses konseling di sekolah. Lebih lanjut, kesejahteraan psikosocial anak dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitar mereka, termasuk keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Bronfenbrenner . , dalam teorinya tentang sistem ekologi, mengemukakan bahwa interaksi sosial anak dengan orang tua, guru, dan teman-teman sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikosocial mereka. Oleh karena itu, dalam usaha mendukung kesejahteraan psikosocial anak, penting untuk menjalin kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keterlibatan orang tua dalam proses bimbingan dan konseling di sekolah dapat memperkuat dukungan emosional dan sosial yang diterima anak. Faktor lingkungan ini juga menyoroti pentingnya menciptakan suasana yang aman dan mendukung di sekolah. Dalam konteks ini, guru dan konselor harus memainkan peran aktif dalam membangun komunikasi yang konstruktif dengan siswa, orang tua, dan komunitas sekolah secara keseluruhan. Menurut Putra et al. , menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung kesejahteraan psikososial siswa sangat penting dalam mendorong motivasi belajar yang sehat dan memperkuat hubungan sosial yang positif di sekolah. Terakhir, untuk meningkatkan kesejahteraan psikosocial anak, evaluasi yang berkelanjutan terhadap program bimbingan dan konseling sangat diperlukan. Evaluasi ini tidak hanya berfungsi untuk mengukur efektivitas program, tetapi juga untuk menyesuaikan intervensi dengan kebutuhan masing-masing siswa. Fadly . menyatakan bahwa dengan melakukan evaluasi yang cermat terhadap program konseling, kita dapat mengidentifikasi dan memperbaiki aspek-aspek yang kurang efektif dalam mendukung perkembangan psikosocial siswa. Oleh karena itu, manajemen bimbingan dan konseling yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa sangat mempengaruhi kesejahteraan psikosocial Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt METODE PENELITIAN Penulisan artikel ini menggunakan metode Kajian Pustaka dan Journal Literature Review yang mana pengambilan data dilakukan melalui beberapa jurnal dan artikel yang dipublikasikan dan diakses melalui Google Scholar, serta Publish or Perish. Penelitian kepustakaan merupakan suatu cara untuk memperoleh informasi atau data dari sumber yang berhubungan dengan persoalan yang dibahas dalam penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif dilakukan dengan memaparkan fakta kemudian melakukan analisis yang tidak hanya menggambarkan, tetapi juga memberikan pengertian dan penjelasan yang memadai, serta merupakan jenis penelitian kepustakaan yang mencari referensi teoritis dari kasus atau masalah yang ditemukan. Seperti yang dikemukakan oleh Creswell. John W. , bahwa tinjauan pustaka adalah rangkuman yang ditulis dari artikel dalam jurnal, buku, serta dokumen yang menggambarkan teori dan pengetahuan masa lalu dan sekarang, dan mengatur literatur ke dalam topik dan dokumen yang diperlukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pentingnya Kesejahteraan Psikososial Anak di Sekolah Dasar Kesejahteraan psikososial anak merupakan bagian penting dari pembangunan pendidikan yang holistik. Anak-anak usia sekolah dasar tengah berada pada fase pembentukan konsep diri dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial yang lebih luas dibanding masa prasekolah. Dalam tahap ini, mereka mulai belajar mengenal emosi, membentuk hubungan sosial, dan mengembangkan cara-cara untuk menyelesaikan konflik. Oleh karena itu, kesejahteraan psikososial bukan sekadar pelengkap, tetapi pondasi utama dalam menunjang keberhasilan belajar dan adaptasi sosial anak di sekolah (Desnita, dkk, 2. Kesejahteraan ini mencakup berbagai aspek seperti stabilitas emosi, hubungan interpersonal yang sehat, perasaan diterima, dan pengendalian stres. Apabila seorang anak merasa tidak aman secara emosional di lingkungan sekolah, maka motivasi belajar dan keberaniannya untuk berinteraksi sosial bisa menurun Kondisi seperti ini bisa memunculkan perilaku menarik diri, mudah marah, atau kesulitan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Menurut Alwina . , anak-anak yang memiliki kesejahteraan psikososial tinggi lebih mampu menunjukkan sikap kooperatif dan memiliki daya juang lebih besar dalam proses Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kesejahteraan psikososial tersebut melalui iklim belajar yang positif, dukungan emosional dari guru, serta pembelajaran yang menyenangkan dan tidak menekan. Guru menjadi figur yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga memberi rasa aman dan dipercaya oleh siswa. Di sinilah pentingnya guru untuk mampu membangun hubungan empatik dan terbuka dengan anak-anak, terutama mereka yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan psikososial. Hubungan interpersonal yang baik di sekolah terbukti meningkatkan persepsi anak terhadap lingkungan belajar yang positif (Fadly, 2. Kesejahteraan psikososial yang terjaga juga mendorong tumbuhnya keterampilan sosial yang adaptif. Anak belajar bekerja sama, menunda keinginan, menyampaikan pendapat dengan sopan, dan memahami perasaan orang lain. Semua keterampilan ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi fondasi penting dalam perkembangan sosial jangka panjang. Sekolah Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt dasar merupakan fase terbaik untuk menanamkan nilai-nilai ini karena anak-anak sedang berada dalam tahap yang sangat terbuka terhadap pembentukan karakter. Kondisi psikososial yang buruk, sebaliknya, sering kali luput dari perhatian karena tidak selalu tampak secara eksplisit. Banyak anak yang secara akademik terlihat baik, tetapi menyimpan beban psikologis karena tekanan di rumah, perundungan di sekolah, atau isolasi sosial. Di sinilah perlunya penguatan sistem pendukung psikososial yang dapat mendeteksi dan menangani masalah secara dini, salah satunya melalui bimbingan dan konseling sekolah. Program yang berbasis pada kesejahteraan anak dapat mencegah timbulnya gangguan emosi dan meningkatkan daya tahan psikologis anak (Siswanto dan Hidayati, 2. Maka, perhatian terhadap kesejahteraan psikososial anak bukanlah tambahan, melainkan bagian integral dari proses pendidikan dasar. Sekolah yang berorientasi pada pembangunan manusia secara utuh harus memastikan bahwa semua siswanya tumbuh dalam lingkungan yang suportif secara emosional dan sosial. Tanpa itu, pencapaian akademik pun menjadi sulit untuk dicapai secara optimal. Pendekatan pendidikan semacam ini menempatkan kesehatan mental anak pada posisi yang sejajar dengan prestasi akademik, bukan sebagai hal yang terpisah. Peran Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Mendukung Anak Layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dasar bukan hanya ditujukan untuk menangani siswa yang mengalami masalah, tetapi juga sebagai upaya preventif dan pengembangan potensi anak. Anak-anak pada usia ini sering mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan atau memahami situasi sosial yang kompleks. Melalui pendekatan konseling yang tepat, anak dapat dibantu untuk mengenali, mengungkapkan, dan mengelola emosi mereka dengan cara yang sehat. Konseling tidak semata-mata untuk "anak bermasalah", melainkan sarana untuk memperkuat daya lenting . anak (Mubarokah dan Dwiyanti, 2. Berbagai teknik dalam layanan BK seperti bermain peran, bercerita, menggambar, dan permainan interaktif telah terbukti efektif dalam membangun keterbukaan anak terhadap konselor. Anak merasa lebih aman ketika pendekatan dilakukan sesuai dengan dunia mereka. Selain itu, kegiatan ini juga membantu dalam pengembangan kemampuan komunikasi anak, empati, dan pemecahan Menurut Siswanto dan Hidayati . , metode konseling berbasis bermain tidak hanya meningkatkan regulasi emosi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial anak di kelas. Selain aspek individual, layanan BK juga penting dalam penguatan dinamika kelas. Konselor sekolah dapat memfasilitasi sesi kelompok yang membahas nilai-nilai seperti toleransi, tanggung jawab, kerja sama, dan pencegahan bullying. Intervensi ini membentuk norma sosial yang positif dalam kelompok belajar. Siswa menjadi lebih sadar akan dampak perilakunya terhadap orang lain dan belajar menyelesaikan konflik secara konstruktif. BK berfungsi sebagai pengawal iklim sosial yang sehat di lingkungan sekolah. Konselor juga memiliki peran sebagai mediator antara anak, guru, dan orang tua. Dalam kasus di mana anak menunjukkan gejala tekanan emosional atau perubahan perilaku, guru BK dapat melakukan asesmen dan berkomunikasi dengan keluarga untuk mencari pendekatan yang tepat. Menurut Rahayu, dkk , kolaborasi ini menjadi krusial untuk memastikan anak mendapatkan Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt dukungan yang konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Intervensi lintas konteks ini terbukti efektif dalam mempercepat pemulihan psikososial anak. Sebagai bentuk dukungan sistemik, guru BK juga perlu berperan aktif dalam edukasi guru kelas mengenai pentingnya penguatan karakter dan pendekatan ramah anak. Bekerja sama dalam merancang kelas emosi atau sesi reflektif dalam kegiatan harian dapat menjangkau lebih banyak siswa dan membangun rutinitas yang mendukung kesehatan mental. Pendekatan terpadu seperti ini memberi sinyal kepada anak bahwa kesejahteraan mereka diperhatikan dalam setiap aspek pembelajaran. Dengan demikian, bimbingan dan konseling di sekolah dasar merupakan komponen strategis dalam membentuk siswa yang sehat secara psikologis dan Ketika layanan ini dijalankan dengan profesional, berbasis empati, dan relevan dengan konteks perkembangan anak, maka BK menjadi elemen yang mampu menjembatani tantangan psikososial dengan pendekatan yang menyeluruh dan manusiawi. Manajemen BK yang Efektif di Sekolah Dasar Manajemen layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dasar memerlukan sistem yang terstruktur agar pelaksanaannya tidak berjalan sporadis atau hanya bersifat insidental. Proses manajemen dimulai dengan perencanaan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan siswa. Pemetaan ini dapat dilakukan dengan observasi, angket sederhana, serta konsultasi dengan guru kelas dan orang tua. Menurut Khoeriyah . , data kebutuhan menjadi landasan utama dalam menyusun program BK yang relevan dan kontekstual. Program BK yang baik mencakup layanan pengembangan, pencegahan, dan kuratif. Dalam tahap pengembangan, konselor merancang kegiatan untuk meningkatkan keterampilan sosial, pengendalian emosi, dan pengenalan diri. Layanan pencegahan diarahkan pada antisipasi masalah psikososial seperti kecemasan berlebih, konflik sosial, atau tekanan akademik. Sementara layanan kuratif dilakukan ketika siswa sudah menunjukkan gejala atau menghadapi masalah tertentu, melalui konseling individu atau kelompok. Pelaksanaan program BK harus bersifat rutin dan terintegrasi dalam kegiatan sekolah. Misalnya, sesi kelas emosi dijadwalkan mingguan, atau pelatihan komunikasi asertif disisipkan dalam pembelajaran tematik. Hidayat. Wahyudi dan Rismawati . menekankan bahwa keberlanjutan program BK secara langsung berkaitan dengan efektivitasnya dalam menciptakan perubahan Oleh karena itu, konsistensi dalam pelaksanaan menjadi tolok ukur penting dalam menilai kualitas manajemen BK. Koordinasi antarpihak merupakan elemen kunci dalam keberhasilan manajemen BK. Guru BK harus menjalin kerja sama erat dengan kepala sekolah, guru kelas, dan komite sekolah agar program dapat didukung dari berbagai sisi. Fadilla, dkk . menyebutkan bahwa manajemen kolaboratif dalam layanan BK mempercepat proses adaptasi siswa dan memperkuat rasa memiliki terhadap Ini juga membantu dalam advokasi kebutuhan psikososial siswa dalam kebijakan sekolah. Selain pelaksanaan, evaluasi program menjadi bagian penting dalam siklus manajemen BK. Evaluasi tidak hanya mengukur output berupa kehadiran siswa dalam layanan, tetapi juga outcome seperti perubahan sikap, peningkatan kepercayaan diri, dan keberhasilan siswa menyelesaikan konflik secara mandiri. Metode evaluasi bisa berupa refleksi siswa, wawancara, atau jurnal emosi yang Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt ditulis siswa. Iqbal, dkk . menyarankan evaluasi dilakukan secara periodik untuk memperbarui strategi pelaksanaan dan memperbaiki hambatan yang Melalui manajemen yang terarah dan berkelanjutan, layanan bimbingan dan konseling dapat bertransformasi dari program pelengkap menjadi pilar utama dalam pendidikan dasar. Efektivitas layanan ini sangat ditentukan oleh komitmen sekolah dalam menyediakan sumber daya manusia, waktu, dan kebijakan yang mendukung penguatan psikososial anak. Dengan begitu, sekolah dapat menjadi ruang aman dan sehat untuk tumbuh kembang anak secara utuh. KESIMPULAN Kesejahteraan psikososial merupakan komponen penting dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Anak-anak usia ini sedang mengalami fase perkembangan emosi, sosial, dan identitas diri yang membutuhkan dukungan dari lingkungan yang aman dan responsif. Sekolah sebagai institusi pendidikan dasar memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan iklim yang sehat secara psikologis. Lingkungan belajar yang suportif, relasi yang positif antara siswa-guru, serta pendekatan pembelajaran yang tidak menekan secara emosional akan memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dengan percaya diri dan seimbang secara emosi. Manajemen layanan bimbingan dan konseling (BK) menjadi salah satu strategi utama dalam membangun kesejahteraan psikososial tersebut. Ketika layanan BK dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan siswa, dilaksanakan secara berkelanjutan, serta melibatkan kolaborasi antar pihakAi termasuk guru kelas dan orang tuaAimaka program ini dapat berfungsi tidak hanya sebagai penanganan masalah, tetapi juga sebagai upaya pencegahan dan pengembangan potensi siswa. Pendekatan BK yang ramah anak, seperti konseling bermain, sesi emosi, dan pelatihan keterampilan sosial, terbukti mampu meningkatkan keterlibatan sosial dan mengurangi potensi gangguan psikologis pada siswa sekolah dasar. Berdasarkan temuan yang telah dikaji, dapat disimpulkan bahwa manajemen BK yang efektif dan terintegrasi dengan sistem pendidikan dasar memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter dan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, penguatan peran guru BK, penyediaan pelatihan profesional, serta dukungan kebijakan dari pihak sekolah dan pemerintah perlu terus dikembangkan. Sekolah dasar yang mampu mengelola kesejahteraan psikososial secara optimal melalui layanan BK akan menjadi pondasi yang kuat bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial dan emosional di masa SARAN Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan manajemen layanan bimbingan dan konseling (BK) di tingkat sekolah dasar guna mendukung kesejahteraan psikososial anak. Pertama, penguatan peran guru BK perlu dilakukan melalui pemberian pelatihan yang lebih komprehensif mengenai teknik konseling yang sesuai dengan kebutuhan anak, seperti konseling berbasis bermain dan pelatihan keterampilan sosial. Pelatihan berkelanjutan ini sangat penting agar guru BK dapat memberikan layanan yang lebih responsif terhadap Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 2. Oktober 2025, 163 - 173 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt kebutuhan psikososial siswa. Kedua, kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua perlu diperkuat untuk menciptakan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mendukung kesejahteraan anak. Keterlibatan orang tua dalam program bimbingan dan konseling akan memastikan adanya konsistensi serta kelanjutan dukungan baik di rumah maupun di sekolah. Oleh karena itu, sekolah perlu menyediakan saluran komunikasi yang lebih efektif dengan orang tua untuk melibatkan mereka dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh guru BK. Selanjutnya, sangat penting bagi sekolah untuk meningkatkan fasilitas dan sumber daya yang diperlukan guna mendukung keberhasilan program BK, seperti penyediaan ruang konseling yang aman dan nyaman bagi siswa. Selain itu, penyediaan sumber daya yang memadai untuk guru BK juga merupakan faktor penting agar pelaksanaan program bimbingan dan konseling dapat berjalan dengan efektif. Program ini sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai kegiatan tambahan, melainkan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dasar, terutama dalam hal pengembangan karakter dan keterampilan sosial siswa. Hal ini akan memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, manajemen bimbingan dan konseling di sekolah perlu dievaluasi secara berkelanjutan dan dikembangkan berdasarkan hasil yang diperoleh. Evaluasi berkala terhadap program BK diperlukan untuk menilai efektivitasnya dan mengidentifikasi area yang perlu perbaikan. Selain itu, dukungan dari pemerintah dan pihak sekolah terhadap riset yang mengkaji efektivitas layanan BK sangat penting agar program ini terus berkembang dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Dengan menerapkan rekomendasi-rekomendasi tersebut, diharapkan manajemen bimbingan dan konseling di sekolah dasar dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan psikososial anak. DAFTAR PUSTAKA