Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. Tindakan Keluarga Miskin Kampung 1001 Malam Dalam Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi Di Era Pandemi Dan Pasca Pandemi Covid-19 Alfita Liasani1*. Fransiscus Xaverius Sri Sadewo2 Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISIPOL-Unesa 17040564065@mhs. Abstract The Covid-19 pandemic had hit all over the world, including Indonesia, the government was taking strategic steps to deal with the impact of the pandemic in terms of health, social and economic aspects. Social assistance was one of the assistance provided by the government to the people who needed, however, to cover all needs, people are still required to work to survive. 1001 Malam Village is a village located in Surabaya and an isolated village and during the pandemic the residents felt the impact of the pandemic, they carried out various behaviors to meet their needs during the pandemic and post-pandemic so that they could continue to survive. This research aims to describe the actions of poor families in 1001 Malam village in meeting their living needs in the pandemic and post-pandemic era of Covid-19. Using a qualitative approach or ethnographic method with data collection techniques through direct observation, interviews and online literature. The results show that families in 1001 Malam Village use rational value actions, by carrying out new innovations through starting a business, use instrumental rationality by switching to new jobs and adding more profitable side jobs, and some people use traditional actions, for those who remain in a job for a long time even though the job conditions are financially unstable. Pandemi covid-19 melanda di seluruh dunia termasuk Indonesia, pemerintah mengambil langkah Ae langkah strategis untuk menangani dampak pandemi baik dari segi kesehatan, sosial maupun ekonomi. Bansos merupakan salah satu bantuan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin, akan tetapi untuk meng cover semua kebutuhan masyarakat tetap diharuskan untuk bekerja untuk bertahan hidup. Kampung 1001 Malam merupakan kampung yang terletak di Surabaya dan merupakan kampung yang terisolasi dan selama pandemi warga merasakan dampak pandemi, beragam perilaku mereka lakukan dalam memenuhi kebutuhan saat pandemi dan pasca pandemi agar bisa membuat mereka terus bertahan hidup. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan tindakan keluarga miskin di kampung 1001 Malam dalam memenuhi kebutuhan hidup di era pandemi dan pasca pandemic covid-19. Menggunakan pendekatan kualitatif atau metode etnografi dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan literature Hasil menunjukkan bahwa keluarga di Kampung 1001 Malam menggunakan tindakan rasional nilai yaitu dengan melakukan inovasi baru melalui usaha atau merintis bisnis, menggunakan rasional instrumental dengan beralih ke pekerjaan baru dan menambah pekerjaan sampingan yang lebih menguntungkan, dan sebagian masyarakat yang menggunakan tindakan tradisional yaitu bagi mereka yang tetap bertahan dipekerjaan yang lama walaupun kondisi pekerjaan tidak stabil secara keuangan. Keywords: pandemic. poor family. economic needs Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. Pendahuluan 1 Latar Belakang Indonesia dan negara Ae negara lain di seluruh dunia pernah melawan pandemi global, yaitu pandemi virus covid Ae 19. Diketahui bahwa virus ini adalah virus coronavirus jenis baru yang muncul sejak kejadian di Wuhan pada Desember 2019 yang dikemudian hari diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV . yang menyebabkan penyakit coronavirus disease Ae 2019 (Covid-. Efek yang ditimbulkan adanya covid dan kebijakan pemerintah adalah Indonesia mengalami resesi pada tahun 2020. Indonesia resmi mengalami resesi dikarenakan produk domestik bruto RI pada kuartal i Ae 2020 minus hingga mencapai 3,49% year on year. Dampak dari adanya resesi ini adalah banyaknya orang yang di PHK, menurunnya daya beli masyarakat, produksi barang dan jasa merosot, peningkatan pengangguran. Diketahui bahwa Indonesia pada saat pandemi mengalami kenaikan jumlah penduduk miskin, menurut berita yang diambil dari kompas. Indonesia pada periode September 2020 memiliki penduduk miskin mencapai 27,55 juta orang. Menurut BPS data tersebut menunjukkan angka kemiskinan menyentuh pada angka 10,19% pada september 2020 atau bertambah sebanyak 2,76 juta. Peningkatan jumlah penduduk miskin yang terjadi di indonesia ini lantaran disebabkan oleh pandemi yang membuat kegiatan ekonomi tidak bisa berjalan seperti biasanya dan pendapatan masyarakat akhirnya Pandemi juga menyebabkan lonjakan jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2020, tingkat pengangguran menjadi 29,12 juta atau 7,07%. Covid-19 berlangsung selama dua tahun dan pada tahun 2022 sudah beangsur Ae angsur membaik, langkah yang dilakukan pemerintah dari segi kesehatan, ekonomi dan sosial membawa dampak yang cukup baik hingga pada tahun 2022 kasus covid-19 sudah bisa teratasi dengan baik. Menurut Indonesia Economic Prospects (IEP) pada akhir tahun 2022. Kondisi ekonomi Indonesia tetap bisa dikatakan stabil di tengah guncangan pada tingkat global. Meskipun Indonesia mampu mengatasi covid -19, akan tetapi realitanya masyarakat pasca covid juga dihadapkan pada masalah Ae masalah baru yang disebabkan saat Ae saat covid-19. Fenomena pekerja lepas menjadi salah satu bentuk efek pasca pandemi, pengamat ketenagakerjaan Payaman Simanjuntak mengungkapkan bahwa fenomena pekerja lepas ini disebabkan oleh kondisi yang dinamis sehingga perusahaan berupaya untuk bertahan dan beradaptasi, mereka lebih memilih tidak membuat status pada karyawan menjadi pekerja . Kampung 1001 Malam adalah kampung pinggiran yang terletak di kelurahan Dupak, kecamatan krembangan Surabaya. Ada sekitar 250 kepala keluarga yang tinggal di kampung tersebut dan ada yang tinggal di bawah kolong jembatan tol Dupak Ae Gresik, tempat tinggal mereka sebenarnya adalah tanah milik pemerintah kota Surabaya yang ditinggali secara illegal oleh mereka, mata pencaharian warga adalah pemulung, pengamen, tukang becak, buruh kasar dan lain Ae lain. Hidup di bawah garis kemiskinan pada masa pandemi sangat berefek kepada kehidupan mereka. Di sini penulis bertemu dengan warga dan respon mereka beragam dalam menghadapi musibah covid Ae 19 dalam konteks pemenuhan kebutuhan hidup, ada yang mendadak berjualan di rumah demi mendapatkan tambahan pendapatan, ada yang tetap bertahan walaupun pendapatan terus menurun dan ada yang menitipkan anak nya di panti asuhan karena terbatasnya biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka melakukan hal tersebut saat pandemi dan berlangsung hingga pasca pandemi atau saat ini. Dengan Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. kondisi dibawah garis kemiskinan, tinggal di perkampungan illegal dan ada nya keberagaman perilaku di masyarakat dalam menghidupi kebutuhan ekonomi saat pandemi dan efek yang dirasakan pasca pandemi ini menarik bagi penulis unuk mengupas tindakan sosial keluarga di kampung 1001 malam di Surabaya. 2 Tujuan Penelitian Mendeskripsikan tindakan keluarga miskin di kampung 1001 Malam dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi di era pandemi dan pasca pandemi covid-19. Kajian Pustaka 1 Kemiskinan Konsep kemiskinan, kemiskinan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu ada kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah kondisi ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar atau minimum hidup nya seperti sandang, pangan, papan dan pendidikan. Kebutuhan minimum ini dikenal dengan garis kemiskinan dan penduduk yang secara pendapatan nya berada di bawah garis kemiskinan adalah masyarakat miskin atau penduduk miskin. Sedangkan kemiskinan relative adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya pengaruh kebijakan pembangunan yang belum bisa merata di seluruh lapisan. Karakteristik kemiskinan, menurut Bappenas kemiskinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: dikarenakan kondisi geografis, demografis, dan aset. 2 Teori Tindakan Sosial Max Weber mendefisinikan tindakan sosial adalah tindakan manusia yang sifat nya subjektif dikarenakan adanya stimulus di luar individu tersebut. Berikut klasifikasi empat jenis tindakan sosial yang bisa mempengaruhi system dan struktur sosial di masyarakat: 1 Rasional Nilai atau Rasional murni Merupakan tindakan sosial yang murni atau asli. Dalam tindakan ini sang pelaku tidak hanya sekedar menilai cara yang baik dan benar dalam mencapai tujuannya tetapi juga menilai dari tujuan tersebut. 2 Rasional Instrumental Dalam tipe ini pelaku sukar untuk mengetahui cara yang dilakukan itu benar atau lebih banar dalam mencapai tujuan. Tindakan ini sifat nya masih rasional walaupun tidak se rasional yang pertama, karena pilihan terhadap cara Ae cara nya sudah menentukan tujuan yang diinginkan. 3 Tindakan Afektif Tindakan yang didasarkan oleh perasaan emosional dan kepura Ae puraan, tindakan ini juga sukar untuk dimengerti. Namun pada waktu Ae waktu tertentu kedua tipe tindakan ini dapat berubah menjadi tindakan yang penuh arti sehingga bisa dipertanggung jawabkan untuk difahami oleh sekitar nya. 4 Tindakan Tradisional Didasarkan atas kebiasaan Ae kebiasaan masa lalu dalam melalukan sesuatu Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan secara otomatis terhadap stimulus dari luar dirinya. Tindakan ini sifat nya mirip dengan tindakan afektif yaitu tidak didasarkan oleh pemikiran yang rasional melainkan emosional karena hanya berdasarkan penglaman yang tidak berdasar. Metode penelitian Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif atau metode etnografi, metode ini menggunakan filsafat postpositivisme sebagai dasar nya yang bisa disebut sebagai paradigma interpretif dan konstruktif. Penulis akan menggunakan objek yang sifat nya alamiah yaitu suatu tindakan sosial pada masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi ketika di hadapkan pada bencana pandemi dan pasca pandemi. Teknik pengumpulan data dilakukan pada kondisi natural setting atau kondisi yang alamiah, menggunakan sumber data primer dan Teknik pengumpulan data lebih banyak dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pada konteks ini akan menggunakan observasi atau pengamatan secara langsung, wawancara mendalam dengan informan, dokumentasi secara langsung maupun dokumentasi secara online melalui portal berita terkait kampung 1001 Malam Surabaya. Pada analisis data, penulis menggunakan teknik analisis data miles dan hubberman dengan tahap: reduction . engurangi data yang tidak pentin. , data display . ata disajikan, disusun dan analisi. , dan conclusion drawing/verivication . aitu kesimpulan, analisis dan mengecek kebenaran . Pada konteks ini, data yang kurang sesuai untuk menjawab rumusan masalah akan dieliminasi, lalu disajikan/display, disusun dan dianalisis menggunakan teori Max Weber. Setelah disajikan dengan dianalisis, selanjutnya adalah conclusion drawing atau membuat kesimpulan atas penjabaran yang sudah di paparkan sebelumnya. Hasil dan Pembahasan Penulis mewawancarai 10 orang dengan pekerjaan yang berbeda-beda dan strategi yang berbeda dalam menghadapi pandemi dan pasca pandemi covid-19. 1 Bertahan dengan pekerjaan yang ada dan melakukan inovasi baru . 1 Latar Belakang Informan yang penulis wawancarai adalah Bu Saidah. Beliau merupakan pedagang sayur di pasar Kalianak, beliau sudah tinggal di kampung tersebut selama 23 tahun dan merupakan penduduk rantauan asal Sampang. Madura. Bu Saidah berjualan sayur di pasar setiap hari dengan berbelanja bahan baku di pasar Keputran atau di pasar Bangunrejo. Bu Saidah merasakan adanya hantaman pandemi ketika ada pembatasan sosial karena orang Ae orang yang biasa berbelanja di pasar ikut membatasi dan menyebabkan pembeli menjadi menurun, orang yang pergi ke pasar turun drastis. Pemasukan normal bisa 300 ribu Ae 500 ribu jika hari minggu menjadi 100 ribu bahkan kurang, biasanya 5 karung bisa satu hari tapi ketika pandemi 5 karung bisa satu minggu sendiri. 2 Motif Melakukan inovasi di tengah pandemi adalah untuk bisa terus menyambung Dalam kasus Bu Saidah, beliau masih ada anak yang masih disekolahkan, ada anak yang di pesantren yang butuh untuk dibiayai. Suami Bu Saidah menganggur saat pandemi, sehingga Bu Saidah lah yang menjadi tulang punggung untuk membiayai anak nya yang terakhir. Anak yang pertama dan ke dua sudah memiliki kehidupan sendiri dan tidak bisa diandalkan untuk membantu setiap hari nya. Bu Saidah memiliki pandangan bahwa hidup harus tetap dijalankan dan diusahakan apapun kondisinya, beliau mengatakan yang terpenting anak Ae anaknya tetap harus lanjut 3 Gambaran Pekerjaan Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. Bu Saidah berjualan penyetan di dalam rumah dengan strategi pemasaran dari mulut ke mulut. Bu Saidah menjual penyetan ayam, lele, telur. Beliau berjualan penyetan setelah berjualan di pasar selesai, yaitu sekitar pukul 9 pagi. Beliau mengaku bahwa pemasukan nya untuk berjualan di rumah relatif lebih baik dibandingkan dengan berjualan sayur pada saat pandemi berlangsung, beliau mematok sekitar 10 ribu rupiah sampai 12 ribu rupiah saja, tergantung lauk nya. Untuk porsinya penyetannya sama dengan penyetan pada umumnya. Pemasukan Bu Saidah dalam berdagang di rumah sehari sekitar 100 ribu rupiah. Pasca pandemi penjualan relatif sama dan tidak ada peningkatan yang signifikan dikarenakan pasarnya tetap warga kampung 1001 Malam. 2 Bertahan dengan pekerjaan yang ada 1 Latar Belakang Dalam konteks ini penulis mewawancarai keluarga Ibu Dolah. Ibu Mutilah. Ibu Susi. Ibu Menik, dan Ibu Wanti. Informan pertama bernama Ibu Dolah dengan berjualan makanan ringan di depan rumah . eperti jualan camilan telur gulung, sosis, tempura, kerupuk, dan e. Bu Dolah merupakan single parent sejak tahun 2018 dengan status cerai mati dan sekarang tinggal dengan ke dua anaknya, yang pertama sudah memiliki anak dan yang ke dua sudah lulus sekolah menengah atas. Bu Dolah pertama kali menempati rumah di kampung 1001 Malam pada tahun 1999, dengan kondisi sudah menikah dan memiliki dua anak. Sebelumnya dari Jepara dan lalu pindah ke Surabaya. Bulak Banteng. Informan ke-dua yaitu Ibu Mutilah, beliau tinggal di kampung 1001 Malam sejak tahun 2012 bersama dengan suami dan anak Ae anaknya, dan sejak tahun ini lah Bu Mutilah dan suami bekerja dengan cara berjualan nasi di sekitar Perak sampai sekarang. Awalnya suami Bu Mutilah ini bekerja ikut dengan saudaranya, lalu diputuskan untuk berjualan mandiri dengan Bu Mutilah setelah pindah rumah di kampung 1001 Malam. Bu Mutilah berjualan makanan dan minuman di sekitar Perak dengan suaminya menggunakan tosa, mulai dari jam 15. sampai jam 09. Infroman ke-tiga yaitu Ibu Susi yang membuka warung di rumahnya . erjualan minuman, rokok, camilan instan, es ds. , beliau merupakan asli Lamongan yang merantau ke Surabaya dan menetap sendirian di kontrakan di kampung 1001 Malam, beliau sudah berumur 60 tahun lebih dan harus membayar kontrakan sebesar 200 ribu per bulan. Beliau hidup sebatang kara dengan mencari kebutuhan hidup sehari Ae hari secara sendiri. Beliau mengumpulkan rongsokan, hasil rongsokan tersebut dijadikan modal untuk kulak dagangannya. Informan ke-empat yaitu Ibu Menik. Bu Menik tinggal di kampung 1001 Malam sudah 3 tahun bersama dengan suaminya, sebelumnya tinggal di Tambak Asri. Sebagai asumsi suami dari Bu Menik yang sekarang adalah sumai ke dua dikarenakan yang pertama sudah meninggal, dan suaminya ini lah yang membawa Bu Menik dan anak Ae anaknya tinggal di kampung 1001 Malam. Bu Menik memiliki empat orang anak, saat ini ada dua orang anak yang dititipkan di yayasan panti asuhan dikarenakan statusnya sebagai anak yatim sehingga bisa mendapatkan bantuan secara pendidikan. Informan ke-lima ada keluarga Ibu Wanti. Ibu Wanti sebagai ibu rumah tangga yang suaminya sebagai ojek online. Bu Wanti memiliki dua orang anak, anak pertama berada di pesantren dan anak ke dua Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. tinggal bersama. Bu Wanti merupakan koordinator humas yang ditunjuk oleh warga untuk menjembatani kampung 1001 Malam dengan pihak luar. Motif Motif dari mereka yang tetap mempertahankan pekerjaan yang sudah digeluti bertahun Ae tahun adalah karena mereka merasa bahwa covid tidak terlalu berdampak atau tidak terlalu signifikan bagi kehidupan mereka . arena ada sebagian orang yang sudah tidak terlalu terbebani dengan pengeluaran untuk anak, seperti biaya sekolah ataupun memang sebelumnya sudah pas-pas a. , contoh kongkrit adalah Bu Dolah yang mengungkapkan bahwa saat pandemi covid-19 berlangsung pendapatannya tetap stabil dikarenakan memang sebelumnya pelanggannya hanya masyarakat kampung Informan Bu Mutilah mengaku bahwa pandemi covid-19 tidak terlalu berdampak secara signifikan pada penjualannya jika pun berdampak juga tidak ada opsi atau sumber daya untuk menambah pekerjaan lain atau beralih ke pekerjaan lain Infroman Bu Susi tidak memiliki pandangan yang penting bisa untuk mencukupi keseharian nya, hal ini juga bisa dikarenakan faktor usia dan melihat kehidupannya yang sudah sebatang kara tanpa keluarga, sehingga jika kebutuhan makan saja terpenuhi maka hal tersebut sudah cukup. Informan Bu Menik dan Bu Wanti mengaku bahwa suaminya bertahan dengan profesinya yang sudah digeluti sejak dulu dikarenakan tidak ada opsi lain, sehingga mau tidak mau tetap dijalani walaupun dalam satu bulan panggilan untuk tukang tidak stabil dan sebagai ojek online juga sangat sepi atau bahkan tidak ada sama sekali. Gambaran Pekerjaan Gambaran pekerjaan yang dilakukan Bu Dolah adalah berjualan di depan rumah dengan meja yang dipasangi oleh dagangan nya berupa camilan ringan seperti kerupuk Ae kerupuk, es intan, mie instan, pentol, telur gulung, kerupuk dan lain sebagainya, penghasilan setiap harinya sekitar 100 ribu hingga 150 ribu yang dipergunakan untuk membeli bahan Ae bahan jualan lagi. Pasca pandemi. Bu Dolah tetap berjualan seperti biasanya, pemasukan beliau relatif sama seperti saat pandemi Bu Mutilah dan suami berjualan nasi bungkus dan warkop dengan menggunakan tosa yang mangkal di daerah jalan Perak, beliau bekerja saat sore hingga pagi hari . 30 sampai 09. , untuk harga nasi bungkus 10 ribu rupiah. Menu nasi bungkus yang dijual juga bervariasi, yaitu ada babat, ayam, bebek dan Selama covid Ae 19. Bu Mutilah mengalami penurunan pembeli dan akhirnya nasi yang dijualnya dikurangi sedikit secara jumlah jual nya, saat pandemi smapai pasca pandemi pemasukannya sekitar 500 ribu dan itu kotor. Pasca pandemi penjualannya masih belum sepenuhnya stabil dan cenderung relatif sama, hal ini dikarenakan banyak pesaingnya. Bu Susi membuka warung kecil di dalam rumah dengan menjual minuman seperti air mineral, sprite, fanta, mie instan, rokok dsb. Beliau menjual dagangan nya ini selama 24 jam, kadang juga ada pembeli yang mengetuk pintunya untuk membeli dagangan nya di jam 2 pagi atau bahkan jam 12 malam untuk membeli rokok atau Beliau mengaku bahwa pemasukan saat covid cenderung sama dengan kondisi pada umumnya atau sebelum dan pasca covid, karena Bu Susi mengaku sejak Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. awal memang dagangannya sepi dan hanya sedikit pembeli saja. Suami Bu enok yang bekerja sebagai tukang bangunan di daerah tersebut mengatakan bahwa selama pandemi orang jarang sekali melakukan renovasi rumah atau bangunan rumah, frekuensi untuk dapat panggilan sangat tidak menentu dan tidak bisa dipastikan, bisa beberapa bulan hanya sekali atau dua kali dengan waktu satu minggu atau bahkan kurang, untuk fee tukang bangunan sendiri Bu Menik mengaku sama kisaran 150 ribu per hari. Pasca pandemi, suami Bu Enok kembai bekerja seperti semula dan mulai membaik kondisi nya, mulai ada beberapa project bangunan dan panggilan bekerja. Saat pandemi tiba sampai akhir pandemi, suami dari Bu Wanti tetap bekerja sebagai ojek online, dikarenakan ojek online menggunakan sistem professionalisme yang mengharuskan driver menerapkan protokol covid-19, termasuk suami Bu Wanti. Wanti menjelaskan bahwa pekerjaan sebagai tukang ojek online mengalami ketidak stabilan saat pandemi berlangsung. Pasca pandemi suami Bu Wanti tetap menjelankan profesi sebagai ojek online, beliau mengaku bahwa orderan sudah mulai Walaupun covid-19 sudah mereda. Pak Sigit yang merupakan suami dari Bu Wanti tetap menggunakan masker sebagai protokol pencegahan covid-19. 3 Bertahan dengan pekerjaan dan melakukan pekerjaan sampingan 1 Latar Belakang Penulis melakukan wawancara terhadap Informan yang menambah pekerjaan sampingan ditengah badai pandemi, penulis melakukan wawancara terhadap Bu Mariati dan Bu Enok. Bu Mariati tinggal di kampung 1001 Malam sejak tahun 1960 atau sejak lahir sudah ada di daerah sekitaran kampung tersebut. Beliau berjualan makanan seperti gorengan, lontong mie di rumah atau juga bisa berkeliling di kampung 1001 Malam setiap seminggu 2 kali. Saat situasi covid-19 semakin parah akhirnya beliau membuka peluang usaha lain yaitu dengan berjualan minuman dengan membuka warung di depan rumah, seperti macam Ae macam es di rumah nya dengan membuka warung kecil. Bu Enok merupakan orang tua tunggal yang berumur 40 tahun, harus menghidupi tiga anaknya. Anak pertama sudah berumur 21 tahun, anak ke dua berumur 10 tahun dan yang terakhir berumur 7 tahun. Bu Enok merupakan single parent dengan cerai mati. Bu Enok mengungkapkan bahwa Beliau tinggal di kampung 1001 malam sejak tahun 1. Bu Enok bekerja serabutan sebagai kernet container atau truck Ae truck dan angkat Ae angkat barang di daerah perak, sudah berjalan selama 3 tahun. Bu Enok selain bekerja sebagai kernet juga bekerja sebagai pembersih makam, bersih-bersih makam ini sudah berjalan selama 7 tahun. 2 Motif Motif informan untuk melakukan pekerjaan sampingan lain nya adalah dikarenakan keterbatasan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah pandemi, pekerjaan utama yang mengalami penurunan drastis, atau adanya kondisi mendesak tertentu seperti sakit pada salah satu anggota keluarga sehingga harus mencari sumber tambahan penghasilan sampingan. Bu Mariati mencari uang adalah untuk tambahan biaya operasional berobat, beliau mengungkapkan bahwa suami nya harus rutin ke Rumah Sakit untuk berobat dan kontrol. Motif Bu Enok melakukan pekerjaan tersebut karena Bu Enok merasakan adanya penurunan lumayan drastis Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. sebagai pekerja serabutan kernet dan bantu angkat Ae angkat di daerah Perak. Enok memiliki rasa tanggung jawab sebagai tulang punggung dikareankan suaminya yang meninggal, akan tetapi terkadang dibantu oleh anaknya yang nomor satu terkait biaya hidup tertentu, walaupun jumlah yang diberikan kepada Bu Enok tidak besar. 3 Gambaran Pekerjaan Saat pandemi berlangsung. Bu Mariati sempat off sementara untuk berdagang makanan karena ada suami yang sedang sakit dan akhirnya ketika covid sudah melandai beliau berdagang di rumah dengan menjual es seperti marimas, nutrisari, es cao, es lilin dsb dengan ada warung kecil untuk memajang macam Ae macam es yang dijual, es yang dijual pun juga cukup murah hanya sekitar 2. 000 rupiah Ae 3. 000 rupiah Selain minuman Bu Mariati menjual gorengan seperti pisang goreng, tahu isi, bakwan dan lain sebagainya, selain itu beliau juga kembali berjualan makanan berat dan sayuran matang seperti lontong mie. Makanan yang beliau jual semuanya dikerjakan sendiri atau dimasak sendiri. Pasca pandemi berlangsung. Bu Mariati tetap berjualan warung di rumahnya seperti biasanya, menerima pesanan kue atau makanan tertentu dan juga menjual gorengan. Pekerjaan Bu Enok sebagai kernet adalah seperti pada umum nya, hanya saja ini kernet ekspedisi . yaitu untuk membantu sopir dalam perjalanan nya. Bu Enok bekerja sebagai kernet tidak setiap hari, melainkan momentual jika ada sopir yang butuh untuk dibantu dengan cara mengontak beliau. Secara jam kerja tidak ada batasan. Bu Enok menerima panggilan di jam apapun akan beliau terima. Untuk pekerjaan bersih Ae bersih makam beliau juga mengerjakan nya pada pagi dan sore hari di hari Ae hari tertentu saja, tidak setiap hari atau serabutan, biasnaya di hari Membersihkan makam milik orang seperti menyapu, menyabuti rumput liar dan lain sebagainya, nantinya Bu Enok akan mendapatkan upah dari keluarga atau kerabat yang makam nya sudah dibersihkan. Pasca pandemi berlangsung Bu Enok tetap menjalankan ke dua pekerjaan tersebut, perbedaan yang signifikan adalah pada intensitas pekerjaan nya, panggilan untuk menjadi kernet lebih banyak atau sering. 4 Beralih ke pekerjaan baru 1 Latar Belakang Pada konteks ini penulis mewawancarai keluarga Ibu Eva dan Ibu Jumiati. Eva meninggalkan pekerjaan nya yang lama sebagai sales yakult dan beralih untuk Target yang dibebankan sebanyak 200 botol per hari dan pada saat covid-19 berlangsung, informan mengatakan bahwa hampir setiap hari selalu nombok karena target belum tercapai dan kadang menjual murah kepada pembeli, hal ini dilakukan karena target harus tercapai, jika tidak tercapai maka sales lah yang harus membeli. Gaji yang diterima dengan besarnya uang denda yang harus di bayar dan perjuangan di tengah hamil sambil kerja tidak sebanding. Gaji yang diterima dalam sebulan Informan ke dua ada keluarga Bu Jumiati yang sudah berada di kampung 1001 Malam selama puluhan tahun. Bu Jumiati dan suami memiliki pekerjaan sebagai supir dan pengumpul rongsokan, mereka dikaruniai 3 anak yang harus dihidupi karena masih ada anak yang masih bersekolah dan ada yang masih Saat pandemi berlangsung, pekerjaan rongsokan semakin tidak stabil harganya dan semakin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari Ae hari. Bu Jumiati Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. akhirnya ditawai oleh saudaranya untuk berdagang sebagai tukang sate Madura di pinggir jalan. 2 Motif Bu Eva berganti pekerjaan dikarenakan adanya keluarga yang butuh untuk di hidupi dan berjualan roti lumayan untung dan perputaran nya cepat tanpa ada beban tanggung jawab dari atasan. Bisa memutuskan untuk menjual roti karena ada saudara nya yang menawari untuk berjualan dan juga sudah menemukan supplier roti, selain itu bu Eva dibantu oleh suami nya sehingga pekerjaan terasa lebih ringan dibanding bekerja sebagai sales yakult harus berkeliling. Bu Eva mengaku bahwa yang memotivasinya untuk banting setir dan bekerja keras adalah ada anak-anak yang masih kecil yang butuh untuk dihidupi. Motif dari Bu Jumiati dan suami untuk beralih pekerjaan dikarenakan harga rongsokan yang tidak stabil di masa pandemi dan kebutuhan yang terus meningkat serta adanya peluang dari saudaranya untuk berjualan sate, selain itu juga dikarenakan ada anak yang masih butuh untuk dibiayai. Bu Jumiati memiliki anak yang masih bersekolah SD dan satu anak yang terakhir masih bayi. 3 Gambaran Pekerjaan Saat ini informan Bu Eva berjualan roti dan keringan di pasar Bangunrejo, informan menjual roti tawar, roti sisir, rengginang di jual dari pagi selepas subuh sampai jam 11. 30 siang, ambil dari orang ada yang ambil dari kakak sendiri, nanti Bu Eva merasakan per ekonomian nya cukup membaik dengan berjualan di pasar karena penjualan roti tawar lumayan cepat. Informan per hari nya kulak sekitar 200 bungkus dan tetap dijalankan nya sampai pandemi covid mereda atau sampai pasca covid. Pada konteks Bu Jumiati dan suami, pada awalnya belajar dari 0 dan diajari oleh saudaranya secara perlahan bagaimana menyajikan sate dan bagaimana berbisnis sate dengan baik. Mereka membuka lapak di depan jalan disekitar daerah Mojosari. Hasil yang didapat lebih baik dan cenderung menguntungkan daripada mencari rongsokan yang dirasa sudah semakin sulit dan harga yang murah. Pasca pandemic Bu Jumiati dan suami tetap berjualan sate dan kondisi pemasukan secara perlahan sudah mulai membaik. Kesimpulan Dari pembahasan di atas diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat Kampung 1001 Malam menggunakan tiga tindakan sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu: 1 Rasional Nilai Melakukan inovasi baru dengan membuka usaha atau bisnis, hal ini dilandasi oleh situasi yang semakin mendesak secara kebutuhan dan pekerjaan utama sudah dirasa tidak mampu mencukupi, akan tetapi di satu sisi memiliki keahlian untuk menjalankan usaha 2 Rasional Instrumental Beralih ke pekerjaan baru lainnya dan bekerja sampingan atau tambahan. Motivasi mereka melakukan ini dikarenakan pekerjaan utama sudah tidak bisa diandalkan lagi dan bila diteruskan akan rugi, sehingga jalan terbaik adalah berganti pekerjaan lain. Bagi mereka yang melakukan pekerjaan sampingan lainnya . ukan membuka usah. adalah karena mereka tidak Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. bisa melepaskan pekerjaan utama dikarenakan beberapa hal dan adanya peluang pekerjaan lain yang dirasa bisa menunjang pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari Ae hari. 3 Tindakan Tradisional Mereka yang tetap bertahan dipekerjaan lama selama pasa pandemi dan pasca Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki modal, keberanian dan keahlian untuk mencoba peluang baru. Mereka mengatur ekonomi selama pandemi dengan mengurangi pengeluaran dikarenakan pendapatan yang juga minim. Paradigma,Volume 13. Number 2, 2024, pp. Daftar Pustaka