Room of Civil Society Development DOI: https://doi. org/10. 59110/rcsd. Volume 4 Issue 6. Year 2025 Gerakan Literasi Berbasis Komunitas sebagai Upaya Meningkatkan Literasi Anak di Pulau Buru Risman Iye1*. Taufik1. Riki Bugis1. Susiati1. La Ode Alimin1. Idrus Hentihu1. Wa Rianti1. Anang Solissa1. Badrun Litiloly1. Sabaruddin1. Ulfa Ismail1 1Universitas Iqra Buru. Maluku. Indonesia *Correspondence: rismaniye@gmail. ABSTRACT ChildrenAos literacy in Buru Regency still faces several challenges, including limited access to reading materials, low use of technology, and insufficient support from families and communities. This community engagement program aims to enhance reading interest and writing skills among children in Lamahang Village through a community-based Reading and Writing Literacy Movement. The program was implemented over six months involving 65 children aged 7Ae12 years and 10 teachers and literacy volunteers from the Pulau Buru Community Learning House. participatory approach was employed through three main stages, namely preparation, implementation, and evaluation. Data were collected using participatory observation, questionnaires administered to teachers and parents, and in-depth interviews, and were analyzed using descriptive quantitative and qualitative techniques. The results indicate a significant increase in visit frequency to the reading corner, reading duration, childrenAos involvement in storytelling activities, ability to write simple sentences, coherent story writing, and parentsAo participation in accompanying children to read at home. These findings show that community-based literacy interventions that integrate reading materials, creative learning methods, and simple technology are effective in strengthening the literacy ecosystem in island regions. This program model has the potential to be replicated in other communities with similar characteristics. Keywords: ChildrenAos Literacy. Community. Digital Literacy. Literacy Movement. Pulau Buru ABSTRAK Tingkat literasi anak di Kabupaten Buru masih menghadapi tantangan, antara lain keterbatasan akses bahan bacaan, minimnya pemanfaatan teknologi, serta lemahnya dukungan keluarga dan komunitas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan keterampilan menulis anak-anak di Desa Lamahang melalui program Gerakan Literasi Baca-Tulis yang berbasis komunitas. Program dilaksanakan selama enam bulan dengan melibatkan 65 anak usia 7Ae12 tahun, 10 guru dan relawan literasi Rumah Belajar Komunitas Pulau Buru. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tiga tahap, yaitu persiapan, implementasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, angket kepada guru dan orang tua, serta wawancara mendalam, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada frekuensi kunjungan ke pojok baca, durasi membaca, keterlibatan anak dalam mendongeng, kemampuan menulis kalimat sederhana, penyusunan cerita runtut, serta partisipasi orang tua dalam mendampingi anak membaca di rumah. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi literasi berbasis komunitas yang memadukan bahan bacaan, metode pembelajaran kreatif, dan teknologi sederhana efektif dalam memperkuat ekosistem literasi di wilayah kepulauan. Model program ini berpotensi direplikasi pada komunitas lain dengan karakteristik serupa. Kata Kunci: Gerakan Literasi. Komunitas. Literasi Anak. Literasi Digital. Pulau Buru. Copyright A 2025 The Author. : This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development Pendahuluan Literasi merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi perkembangan sumber daya manusia. Kemampuan membaca dan menulis tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan teknis, tetapi juga menjadi fondasi bagi anak untuk berpikir kritis, berkreasi, dan berkomunikasi secara efektif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa literasi yang kuat sejak usia dini secara langsung memengaruhi kesiapan anak mengikuti pendidikan formal dan memperoleh peluang belajar yang lebih luas (Rahman et al. , 2024. Nurfadilah. Amelia, & Lestari, 2. UNESCO . juga menegaskan bahwa literasi adalah hak dasar setiap individu dan merupakan unsur penting dalam pembangunan masyarakat yang inklusif dan Meskipun demikian, berbagai studi di Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar masih perlu diperkuat, terutama dalam aspek minat membaca dan kualitas lingkungan literasi baik di sekolah maupun di rumah (Puspasari & Dafit, 2021. Yusuf & Wibowo, 2. Kesenjangan literasi antarwilayah di Indonesia juga masih terlihat jelas, khususnya di kawasan timur. Berdasarkan data BPS Provinsi Maluku . , tingkat kegemaran membaca masyarakat Kabupaten Buru hanya mencapai 56,25%. Angka ini menunjukkan bahwa akses terhadap bahan bacaan serta kebiasaan membaca di tingkat keluarga maupun komunitas masih terbatas. Kondisi ini tentu berpengaruh pada perkembangan literasi anak, terutama di desa-desa terpencil yang menghadapi keterbatasan sumber belajar, fasilitas pendidikan, serta dukungan lingkungan sosial yang kurang memadai. Di Pulau Buru, terutama di Desa Lamahang, tantangan tersebut terlihat nyata. Anakanak menghadapi keterbatasan akses terhadap buku bacaan yang sesuai usia, sementara pembelajaran di sekolah masih didominasi metode konvensional yang kurang mengaitkan materi dengan pengalaman belajar anak. Penelitian menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak dapat bertumpu pada sekolah saja, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan komunitas sebagai bagian dari lingkungan belajar anak (Goa. Makatita, & Tuati, 2023. Rahman et al. , 2. Selain itu, rendahnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran mempersempit kesempatan anak untuk mengembangkan literasi digital, padahal keterampilan ini sangat dibutuhkan di era saat ini. Literasi digital perlu diintegrasikan melalui media dan model pembelajaran yang relevan serta mudah diakses (Alyspa. Suyidno, & Miriam, 2023. Rosyid et al. , 2. Tanpa intervensi yang tepat, keterbatasan tersebut berpotensi menghambat perkembangan akademik anak dan memperbesar kesenjangan pendidikan di wilayah kepulauan. Data dari Kabupaten Buru Dalam Angka 2024 juga menunjukkan bahwa indikator pendidikan seperti rasio muridAeguru dan partisipasi sekolah belum sepenuhnya mendukung terciptanya ekosistem literasi yang ideal. Menjawab persoalan tersebut, program pengabdian masyarakat Gerakan Literasi Baca-Tulis bagi Anak-Anak di Desa Lamahang disusun dengan menggandeng Rumah Belajar Komunitas Pulau Buru. Rumah belajar ini menjadi ruang penting yang berfungsi menjembatani keterbatasan pendidikan formal, meskipun masih menghadapi hambatan berupa minimnya koleksi bahan bacaan, metode pembelajaran yang monoton, serta keterbatasan kompetensi pengajar. Program ini kemudian dirancang untuk memberikan solusi yang lebih menyeluruh, antara lain melalui penyediaan bahan bacaan variatif, kegiatan kreatif seperti mendongeng dan menulis cerita, permainan edukatif, pemanfaatan teknologi sederhana, serta pelatihan bagi pengajar dan relawan literasi. Temuan penelitian terkini mendukung pentingnya inovasi pembelajaran dan pemanfaatan teknologi sederhana yang mampu memperkaya pengalaman belajar anak dalam berbagai konteks lokal (Andriyatno et al. , 2. Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development Beberapa program literasi berbasis komunitas di wilayah lain juga menunjukkan efektivitas pendekatan partisipatif dalam mengembangkan budaya membaca anak. Studi tentang Program Membaca Desa di Lombok Tengah menunjukkan bahwa dukungan pemerintah desa dan masyarakat berperan penting dalam penyediaan ruang baca serta pendampingan belajar bagi anak (Santari et al. , 2. Selain itu, penelitian lain menegaskan bahwa gerakan literasi berbasis karakter dan keterlibatan masyarakat mampu memperkuat ekosistem literasi di desa (Nur, 2. Program literasi di Desa Lamahang memiliki karakter serupa, tetapi dengan kekhasan berupa integrasi teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan anak di wilayah kepulauan. Pendekatan ini menjadi keunggulan penting karena memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan relevan, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya belum terbiasa dengan media digital. Dari uraian kondisi tersebut, terdapat beberapa persoalan pokok yang perlu ditindaklanjuti, yaitu keterbatasan akses anak terhadap bahan bacaan yang memadai, kurangnya variasi dalam metode pembelajaran, minimnya integrasi teknologi dalam aktivitas literasi, serta rendahnya kapasitas pengajar dan relawan. Program ini bertujuan untuk: . meningkatkan minat baca melalui penyediaan bahan bacaan yang beragam. mengembangkan keterampilan menulis melalui pendekatan kreatif. memperkuat keterlibatan keluarga dan komunitas. membangun model literasi komunitas yang berkelanjutan serta dapat direplikasi di wilayah kepulauan lainnya. Dengan demikian, program ini diharapkan menjadi praktik baik dalam pengembangan literasi anak serta memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di daerah terpencil, khususnya di Kabupaten Buru. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan dalam program Gerakan Literasi Baca-Tulis bagi Anak-Anak di Pulau Buru menggunakan pendekatan partisipatif dengan desain deskriptif-kualitatif yang melibatkan anak-anak, pengajar, orang tua, dan masyarakat setempat. Pendekatan ini dipilih karena partisipasi aktif komunitas terbukti efektif dalam mendukung keberhasilan program literasi di berbagai daerah. Program ini dilaksanakan selama enam bulan (JanuariAeJuni 2. dengan melibatkan 65 anak usia 7Ae12 tahun dan 10 guru serta relawan literasi dari Rumah Belajar Komunitas Pulau Buru. Peserta program ditetapkan menggunakan teknik purposive, yaitu anak-anak yang secara rutin mengikuti kegiatan di Rumah Belajar Komunitas Pulau Buru dan telah memperoleh persetujuan orang tua atau wali. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahap utama: persiapan, implementasi, dan evaluasi. Tahap Persiapan Tahap persiapan dimulai dengan identifikasi kebutuhan mitra melalui focus group discussion (FGD) dan observasi lapangan untuk memahami kondisi literasi anak-anak serta tantangan yang dihadapi pengajar. Kegiatan FGD dilaksanakan bersama pengajar, relawan, dan perwakilan mitra komunitas untuk memperoleh gambaran awal mengenai kebutuhan program dan kapasitas pelaksana. Dokumentasi kegiatan FGD ditunjukkan pada Gambar 1. Pendekatan ini penting agar program sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan (Creswell & Plano Clark, 2. Pada tahap ini, tim juga melakukan pengadaan buku bacaan sesuai usia anak, penyusunan modul literasi berbasis cerita, serta perencanaan kegiatan interaktif yang memanfaatkan teknologi sederhana seperti aplikasi membaca berbasis audio-visual. Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development Gambar 1. Kegiatan FGD dan koordinasi tim pengajar serta relawan pada tahap persiapan Tahap Implementasi Tahap implementasi mencakup pelaksanaan kegiatan utama seperti mendongeng, membaca bersama, pojok baca keliling, dan lomba menulis cerita sederhana. Kegiatankegiatan ini melibatkan anak-anak secara aktif di ruang belajar komunitas dan di lingkungan sekitar Rumah Belajar Pulau Buru. Dokumentasi pelaksanaan kegiatan literasi bersama anak-anak ditunjukkan pada Gambar 2. Strategi pembelajaran berbasis cerita dipilih karena efektif dalam menumbuhkan imajinasi, meningkatkan pemahaman bacaan, dan membangun keterampilan menulis anak. Selain itu, media digital sederhana digunakan untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan anak. Kegiatan ini dilengkapi dengan pelatihan bagi pengajar dan relawan literasi mengenai strategi pembelajaran inovatif. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas guru dalam mengelola kegiatan literasi secara kreatif dan interaktif, sejalan dengan temuan Guthrie et al. bahwa peningkatan kompetensi pendidik berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan hasil belajar anak. Keterlibatan orang tua juga menjadi bagian penting dari tahap ini, karena dukungan keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan kebiasaan membaca di rumah. Melalui pertemuan bulanan dan kegiatan membaca bersama keluarga, program berupaya memperkuat sinergi antara sekolah, rumah, dan komunitas. Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development Gambar 2. Dokumentasi kegiatan literasi bersama anak-anak di Rumah Belajar Komunitas Pulau Buru pada tahap implementasi program. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas program dengan menggunakan tiga jenis instrumen evaluasi, yaitu observasi partisipatif, angket . , dan wawancara mendalam. Observasi digunakan untuk menilai keterlibatan dan perilaku anak selama kegiatan literasi, sedangkan angket disebarkan kepada guru dan orang tua untuk mengukur perubahan minat baca dan dukungan keluarga terhadap kegiatan literasi. Wawancara dilakukan terhadap guru, relawan, dan beberapa anak untuk memperoleh data kualitatif mengenai persepsi dan pengalaman selama program. Data kuantitatif dari angket dianalisis secara deskriptif melalui perhitungan persentase dan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah program. Sementara itu, data kualitatif dari hasil observasi dan wawancara dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola perubahan perilaku literasi anak, dinamika dukungan keluarga, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program. Untuk menjamin kualitas data, validitas instrumen diuji melalui expert judgment oleh dua dosen pendidikan literasi dan satu praktisi literasi komunitas. Sementara itu, reliabilitas data diuji menggunakan metode inter-rater reliability pada hasil observasi serta koefisien CronbachAos Alpha untuk angket, yang menghasilkan nilai 0,87 dan menandakan tingkat konsistensi yang tinggi. Pendekatan evaluasi partisipatif ini memungkinkan hasil yang diperoleh lebih objektif dan memberikan gambaran nyata mengenai keberhasilan program (Patton, 2. Hasil evaluasi kemudian dijadikan dasar untuk merumuskan rekomendasi dan strategi keberlanjutan program literasi di Pulau Buru. Hasil Hasil pelaksanaan program Gerakan Literasi Baca-Tulis bagi Anak-Anak di Desa Lamahang menunjukkan adanya peningkatan yang nyata pada tiga aspek utama, yaitu minat baca, keterampilan menulis, dan partisipasi orang tua dalam kegiatan literasi. Peningkatan minat baca anak terlihat dari frekuensi kunjungan ke pojok baca, durasi membaca, serta keterlibatan dalam kegiatan mendongeng. Sebelum program dilaksanakan. Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development rata-rata kunjungan anak ke pojok baca hanya sekitar 5Ae7 anak per minggu, dengan durasi membaca sekitar 10 menit per anak. Setelah program berjalan, kunjungan meningkat menjadi 25Ae30 anak per minggu, dan durasi membaca bertambah menjadi 25 menit per anak. Jumlah anak yang berani tampil mendongeng juga naik dari 3 anak menjadi 15 anak. Secara ringkas, peningkatan ini ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Perkembangan Minat Baca Anak (Pra dan Pasca Progra. Indikator Minat Sebelum Program Sesudah Program Peningkatan (%) Baca Rata-rata kunjungan pojok baca per 5Ae7 anak 25Ae30 anak Rata-rata durasi membaca per anak 10 menit 25 menit 150% . Jumlah anak yang 3 anak 15 anak ikut mendongeng Dari sisi keterampilan menulis, terjadi perkembangan yang konsisten pada seluruh Persentase anak yang mampu menulis kalimat sederhana dengan benar meningkat dari 40% menjadi 75%. Penggunaan kosakata yang tepat meningkat dari 35% menjadi 70%, sedangkan kemampuan menyusun cerita secara runtut naik dari 25% menjadi Rincian perkembangan keterampilan menulis disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Perkembangan Keterampilan Menulis Anak Aspek Pra Program (% Pasca Program (% Keterampilan Peningkatan (%) Menulis Menulis kalimat sederhana dengan 35% Menggunakan 35% kosakata yang tepat Menyusun cerita Partisipasi orang tua dalam program literasi juga menunjukkan peningkatan yang Orang tua yang mendampingi anak membaca di rumah meningkat dari 20% menjadi 65%. Kontribusi dalam bentuk penyumbangan buku bacaan lokal naik dari 5% menjadi 25%, sedangkan kehadiran orang tua dalam kegiatan literasi meningkat dari 10% menjadi 40%. Gambaran lengkap partisipasi orang tua disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Partisipasi Orang Tua dalam Program Literasi Bentuk Partisipasi Orang Tua Mendampingi anak membaca di rumah Menyumbang buku bacaan lokal Ikut hadir dalam kegiatan literasi Sebelum Program Sesudah Program Peningkatan (%) 45% 20% 30% Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development Secara keseluruhan, data pada ketiga tabel menunjukkan bahwa program literasi memberikan dampak yang cukup signifikan. Minat baca meningkat lebih dari tiga kali lipat, keterampilan menulis anak berkembang positif pada seluruh aspek yang diukur, dan partisipasi orang tua dalam kegiatan literasi mengalami peningkatan yang konsisten. Untuk memberikan gambaran visual mengenai tren peningkatan tersebut, ringkasan perubahan ketiga indikator utama disajikan pada Gambar 1 yang menampilkan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah program. Gambar 3. Tren Peningkatan Literasi (PraAePasca Progra. Pembahasan Hasil program menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada minat baca anakanak di Desa Lamahang. Jumlah kunjungan ke pojok baca, durasi membaca, dan keterlibatan dalam kegiatan mendongeng meningkat secara konsisten. Temuan ini sejalan dengan penelitian JaAofaruddin et al. yang menunjukkan bahwa aktivitas literasi berbasis komunitas seperti mendongeng dan membaca bersama efektif dalam menumbuhkan minat baca karena memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan interaktif. Efektivitas penggunaan pojok baca keliling dalam program ini juga didukung oleh Wahyuddin et al. yang menegaskan bahwa pojok baca kreatif dapat meningkatkan motivasi dan kesiapan membaca siswa sekolah dasar. Perkembangan kemampuan menulis anak juga terlihat melalui peningkatan kualitas struktur kalimat, pilihan kosakata, dan alur cerita sederhana yang disusun oleh anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan menulis kreatif dapat membantu anak mengekspresikan ide secara terstruktur. Hasil ini relevan dengan penelitian Veronica . yang menemukan bahwa metode kreatif dalam pembelajaran menulis mampu meningkatkan keterampilan menulis sekaligus rasa percaya diri siswa. Selain itu, pembelajaran interaktif sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad et al. terbukti dapat memperkuat kemampuan literasi melalui aktivitas yang mendorong anak untuk berpartisipasi secara aktif. Penggunaan teknologi sederhana seperti aplikasi membaca digital dan video pembelajaran turut meningkatkan motivasi anak-anak dalam mengikuti kegiatan literasi. Pemanfaatan media digital yang ramah anak ini sejalan dengan temuan Alyspa et al. Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development yang menjelaskan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran literasi mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik pada tingkat dasar. Selain itu, penggunaan media berbasis kearifan lokal sebagaimana ditunjukkan oleh Rosmalia et al. juga memperkaya pengalaman literasi anak dan memberikan alternatif pembelajaran yang lebih kontekstual bagi wilayah dengan keterbatasan bahan bacaan cetak. Peningkatan kapasitas guru dan relawan literasi turut memberikan kontribusi penting terhadap keberhasilan program. Pelatihan yang dilakukan membantu mereka memahami strategi pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan anak. Penelitian Rahmadhani dan Suriani . menegaskan bahwa strategi guru dalam mengelola pembelajaran literasi memiliki pengaruh langsung terhadap minat membaca siswa. Temuan ini juga sejalan dengan kajian Jatmiko et al. yang menekankan bahwa pendekatan partisipatif dalam pendidikan komunitas dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran serta memperkuat kolaborasi antara pendidik, peserta didik, dan masyarakat. Partisipasi orang tua menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Orang tua mulai menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama dan lebih aktif mendukung kegiatan literasi komunitas. Kondisi ini konsisten dengan penelitian Rahman et al. yang menegaskan bahwa keterlibatan orang tua merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan literasi anak. Dukungan keluarga tersebut membantu memperluas dampak program dari ruang komunitas ke lingkungan rumah, sehingga kebiasaan literasi lebih berpotensi untuk berkelanjutan. Secara keseluruhan, hasil program ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi anakanak di Desa Lamahang tidak hanya dipengaruhi oleh penyediaan sumber bacaan, tetapi juga oleh pendekatan pembelajaran inovatif, pemanfaatan teknologi sederhana, peningkatan kapasitas pendidik, dan keterlibatan aktif orang tua. Temuan ini diperkuat oleh studi Goa et . yang menekankan bahwa efektivitas literasi di wilayah Buru sangat dipengaruhi oleh dukungan komunitas dan kesesuaian program dengan konteks sosial budaya lokal. Kecenderungan serupa juga terlihat dalam temuan Santari et al. yang menunjukkan bahwa program literasi berbasis desa yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat setempat mampu memperkuat budaya membaca di lingkungan pedesaan. Dengan demikian, program Gerakan Literasi Baca-Tulis di Desa Lamahang menunjukkan potensi untuk menjadi model praktik baik yang dapat diterapkan di wilayah terpencil lain yang memiliki karakteristik serupa. Kesimpulan Program Gerakan Literasi Baca-Tulis bagi Anak-Anak di Pulau Buru telah memberikan dampak yang nyata terhadap peningkatan minat baca, keterampilan menulis, serta partisipasi orang tua dalam mendukung budaya literasi di Desa Lamahang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunjungan anak ke pojok baca meningkat secara signifikan, durasi membaca bertambah, dan keterlibatan dalam kegiatan mendongeng menjadi lebih Dari aspek keterampilan menulis, anak-anak mampu menyusun kalimat sederhana, memperkaya kosakata, hingga merangkai cerita dengan lebih runtut. Selain itu, keterlibatan orang tua yang semakin intensif menunjukkan adanya perubahan perilaku keluarga terhadap pentingnya literasi. Pembahasan hasil ini menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penyediaan bahan bacaan, tetapi juga pada penerapan metode pembelajaran yang kreatif, pemanfaatan teknologi, serta dukungan lingkungan keluarga. Hal ini sejalan dengan teori literasi dan penelitian terdahulu yang menekankan pentingnya Volume 4 No 6: 978-988 Room of Civil Society Development sinergi antara sekolah, keluarga, dan komunitas dalam membangun budaya literasi yang Dengan demikian, program ini dapat dijadikan contoh praktik baik . est practic. dalam pengembangan gerakan literasi berbasis komunitas di wilayah kepulauan. Ke depan, diperlukan upaya berkelanjutan berupa penguatan kapasitas pengajar, perluasan akses bahan bacaan, serta integrasi teknologi digital agar gerakan literasi di Pulau Buru dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan anakanak di daerah tersebut. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia atas dukungan pendanaan PKM Skema Pemberdayaan Masyarakat. Dukungan ini telah memungkinkan terlaksananya program Gerakan Literasi Baca-Tulis bagi Anak-Anak di Pulau Buru dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi mitra serta masyarakat Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Rumah Belajar Komunitas Pulau Buru sebagai mitra pelaksana, para relawan literasi, serta masyarakat Desa Lamahang yang telah berpartisipasi aktif dan mendukung kegiatan ini dari awal hingga akhir. Tanpa keterlibatan seluruh pihak, program ini tidak dapat berjalan secara optimal. Daftar Pustaka