Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Kajian Model RAT dalam Mendorong Transformasi Pembelajaran melalui Teknologi Digital: Suatu Literature Review Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 Universitas Baliem Papua1. Universitas PGRI Argopuro Jember2 pos-el: engelinaprisca@gmail. com1, robithfirdaus03@gmail. ABSTRAK Transformasi pembelajaran dengan teknologi digital menjadi kebutuhan penting dalam peningkatan mutu pendidikan abad ke-21. Namun, penggunaan teknologi di kelas sering masih sebatas menggantikan alat tradisional tanpa memberikan dampak pedagogis yang Model RAT (Replacement. Amplification. Transformatio. digunakan sebagai kerangka evaluatif untuk melihat tingkat integrasi teknologi secara sistematis. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Model RAT dalam mendorong pembelajaran yang lebih inovatif serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatannya. Metode yang digunakan berupa literature review terhadap 25 artikel jurnal dan prosiding terbitan 2022-2025 yang diperoleh dari Google Scholar dan Scopus. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, dan sintesis literatur. Hasil menunjukkan bahwa penerapan RAT dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, kreativitas pedagogis, dan literasi digital peserta didik. Level transform menjadi kunci karena memungkinkan kolaborasi, pemecahan masalah, dan pengalaman belajar autentik. Faktor pendukung implementasi meliputi kompetensi digital guru, infrastruktur memadai, serta dukungan kebijakan Hambatan utama adalah keterbatasan sarana, resistensi terhadap perubahan, dan kurangnya pelatihan pedagogi digital. Studi ini berkontribusi pada pemetaan komprehensif penggunaan RAT dalam konteks pembelajaran digital dan memberikan rekomendasi strategis bagi pendidik agar integrasi teknologi lebih bermakna dan Kata kunci : Model RAT. Pembelajaran. Digital. Transformasi. Pedagogis. Literasi ABSTRACT The transformation of learning through digital technology has become an important need in improving the quality of education in the 21st century. However, the use of technology in classrooms often remains limited to replacing traditional tools without producing significant pedagogical impacts. The RAT Model (Replacement. Amplification. Transformatio. serves as an evaluative framework to systematically examine levels of technology integration. This study aims to analyze the role of the RAT Model in promoting more innovative learning and to identify its supporting and inhibiting factors. The method used is a literature review of 35 journal articles and proceedings published between 2022 and 2025 sourced from Google Scholar and Scopus. Data were analyzed through reduction, categorization, and comparative The results show that applying the RAT Model can improve learning effectiveness, pedagogical creativity, and studentsAo digital literacy. The transformation level is crucial, as it enables collaboration, problem-solving, and authentic learning experiences. Supporting factors include teachersAo digital competencies, adequate infrastructure, and institutional policies. Major barriers involve limited resources, resistance to change, and insufficient training in Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan digital pedagogy. This study contributes a comprehensive mapping of RAT implementation within digital learning contexts and provides strategic recommendations for educators to ensure more meaningful and sustainable technology integration. Keywords: RAT Model. Digital. Learning. Transformation. Pedagogical. Literation PENDAHULUAN Percepatan adopsi teknologi digital di bidang pendidikan pada rentang tahun 2022-2025 menimbulkan perhatian baru terhadap bagaimana teknologi dapat lebih dari sekadar alat yakni sebagai pemicu perubahan pedagogis yang substansial. Banyak studi terbaru menekankan peran teknologi dalam membentuk pengalaman belajar yang lebih personal, kolaboratif, dan berfokus pada keterampilan abad ke21, namun juga menegaskan bahwa adopsi perangkat keras atau platform saja tidak otomatis menghasilkan transformasi Bukti empiris dan tinjauan sistematis menunjukkan kebutuhan akan kerangka kerja yang mampu membedakan penggunaan teknologi yang bersifat substitusi, peningkatan efisiensi, atau benar-benar memungkinkan bentuk tugas dan interaksi belajar yang baru (Bui & Nguyen, 2. Salah satu kerangka yang banyak dipakai untuk mengkaji kualitas integrasi Model RAT (Replacement. Amplification. Transformatio. Model ini membantu praktisi dan peneliti memetakan tujuan penggunaan teknologi: apakah teknologi sekadar mengganti . metode lama, memperkuat atau meningkatkan . , atau mentransformasi tugas belajar sehingga muncul aktivitas . Dalam literatur 2022-2025. RAT banyak dipakai sebagai alat analisis untuk mengevaluasi praktik pembelajaran daring, blended, maupun penggunaan telehealth/teleinstruction pada konteks profesional (Read, 2. Meski semakin banyak studi yang mengadopsi RAT atau model turunannya . PICRAT), temuan utama pada periode 2022-2025 menunjukkan bahwa mayoritas penggunaan teknologi masih berada pada level replacement atau Hambatan untuk beralih ke level transformation yang berkelanjutan meliputi: . keterbatasan kompetensi pedagogis-digital guru/pendidik, . keterbatasan infrastruktur dan akses, . desain tugas yang kurang menuntut keterampilan tingkat tinggi, serta . kurangnya dukungan kebijakan dan mendorong praktik transformasional. Oleh karena itu, pemetaan bukti empiris terbaru penting untuk merumuskan mendorong praktik teknologi yang benarbenar transformasional (Wang, 2. Kajian mengenai penerapan Model RAT dalam konteks pembelajaran di Indonesia dapat dilihat pada penelitian dilakukan oleh (Lestarina et al. , 2. Penelitian ini mengkaji keyakinan dan praktik integrasi ICT guru EFL selama pembelajaran jarak jauh dan secara eksplisit memetakan tindakan guru pada tiga level RAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas integrasi Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan teknologi oleh guru berada pada level Amplification, sementara hanya sebagian Transformation. Temuan ini menjadi salah satu bukti empiris awal penggunaan RAT sebagai alat evaluasi praktik pembelajaran berbasis teknologi di Indonesia. Selain itu, artikel dari (Salsabila memanfaatkan Model RAT untuk menilai sejauh mana penggunaan teknologi digital dapat meningkatkan kompetensi digital peserta didik. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi di sekolahsekolah Indonesia masih didominasi oleh penggunaan pada level Replacement dan Amplification, sedangkan transformasi pembelajaran melalui teknologi belum banyak dioptimalkan. Hal ini memperkuat temuan penelitian sebelumnya bahwa implementasi RAT di Indonesia masih mengalami tantangan dalam mencapai tahap transformasional. Berdasarkan uraian tersebut, literature review ini bertujuan untuk: . mensintesis penelitian open-access tahun 2022-2025 yang menggunakan atau mereferensikan Model RAT . ermasuk adaptasi seperti PICRAT) dalam konteks pembelajaran berbasis teknologi. mengidentifikasi bukti empiris tentang dan . merumuskan rekomendasi desain pembelajaran dan transformasi pedagogis melalui teknologi (Bui & Nguyen, 2. Novelty penelitian ini terletak pada penguatan perspektif teoretis dan pemetaan empiris penerapan Model RAT (Replace. Amplify. Transfor. dalam konteks transformasi pembelajaran digital pascapandemi, dengan fokus publikasi ilmiah periode 2022-2025. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya menggunakan model SAMR atau TPACK sebagai kerangka analisis utama, studi ini secara spesifik menelaah kontribusi RAT pada dimensi pedagogis, personalisasi pembelajaran, serta evolusi budaya belajar digital. Selain itu, penelitian ini menyajikan sintesis sistematis terhadap 25 artikel open-access komprehensif mengenai tren, tantangan, determinan keberhasilan, dan potensi RAT pembelajaran berbasis AI, analitik pembelajaran, serta platform kolaboratif. Temuan konseptual kontribusi RAT terhadap transformasi pembelajaran yang lebih inovatif dan student-centered, yang belum banyak dikaji dalam literatur nasional. Dengan memberikan kontribusi baru berupa pemetaan komparatif level integrasi teknologi dalam pembelajaran digital secara terukur, serta rekomendasi strategis untuk memperkuat implementasi RAT pada kebijakan dan praktik pendidikan di Indonesia. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 METODE PENELITIAN Metode & Desain Penelitian Penelitian pendekatan systematic literature review (SLR) mengevaluasi, dan mensintesis berbagai temuan penelitian yang membahas implementasi Model RAT (Replacement. Amplification. Transformatio. dalam berbasis teknologi digital. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan perkembangan penelitian serta relevansi model dalam konteks pedagogis terkini. Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 Prosedur penelitian dilakukan secara sistematis melalui tahapan identifikasi publikasi, seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, ekstraksi informasi, serta analisis tematik. Seluruh proses seleksi dan sintesis mengacu pada panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) direplikasi dan terverifikasi secara Gambar 1. Alur Penggunaan Metode SLR Sumber & Basis Data Pencarian artikel ilmiah dilakukan pada beberapa basis data open-access yang kredibel, yaitu Google Scholar dan Scopus. Pemilihan basis data tersebut didasarkan pada ketersediaan full-text bebas akses dan relevansi dengan domain pendidikan serta teknologi pembelajaran. Pencarian kombinasi kata kunci dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan operator Boolean (AND. OR), meliputi: AuRAT modelAy AND Audigital learningAy. Autechnology integrationAy AND AupedagogyAy. AuPICRAT modelAy AND Audigital transformationAy Auintegrasi teknologiAy AND Aupembelajaran digitalAy Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Penelitian dibatasi pada artikel ilmiah yang diterbitkan dalam rentang tahun 2022-2025 untuk menangkap dinamika Artikel yang diterima berbahasa Inggris dan Indonesia. Kriteria Pencarian Kriteria Inklusi Artikel dimasukkan apabila memenuhi syarat berikut: Membahas Model RAT isalnya PICRAT). Berfokus pada integrasi teknologi dalam konteks pendidikan formal atau Menyediakan akses open-access dan dapat diunduh dalam bentuk full-text. Menyajikan data empiris, analisis teoretis, atau tinjauan konseptual terkait dampak teknologi terhadap Dipublikasikan pada jurnal bereputasi atau prosiding akademik terindeks. Kriteria Eksklusi Artikel dikeluarkan apabila: Tidak menyediakan teks lengkap atau berada di balik paywall. Tidak relevan dengan fokus pedagogis atau teknologi pembelajaran. Dipublikasikan pada jurnal predator atau tidak terindeks. Mengandung metodologi lemah atau tidak terverifikasi. Merupakan duplikasi dari publikasi Teknik Ekstraksi & Analisis Data Data yang diekstraksi dari setiap artikel A Penulis dan tahun publikasi A Konteks pendidikan yang dikaji A Teknologi A Level RAT (Replacement. Amplification. Transformatio. A Metode penelitian A Temuan utama dan implikasinya Data dimasukkan ke dalam matriks analisis untuk menjaga konsistensi dan reliabilitas ekstraksi. Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 Analisis pendekatan thematic synthesis. Proses ini A Kategorisasi temuan berdasarkan tema A Perbandingan penerapan teknologi antar-konteks pendidikan A Identifikasi faktor yang mendorong atau menghambat transformasi JURNAL Edueco Universitas Balikpapan HASIL DAN PEMBAHASAN Kajian penelitian tahun 2022-2025 menunjukkan bahwa penggunaan Model RAT Indonesia meningkat, tetapi sebagian besar masih berada pada tahap Replacement dan Amplification. Transformation masih jarang ditemukan. Pada tahap Replacement, teknologi hanya menggantikan cara manual, seperti penggunaan LMS untuk membagikan materi, video conference untuk pertemuan kelas, atau digitalisasi tugas. Penggunaan ini membuat proses lebih efisien, tetapi belum mengubah cara belajar dan mengajar secara signifikan. Pada tahap Amplification, teknologi pembelajaran, misalnya melalui materi interaktif, umpan balik otomatis, atau analitik untuk memantau aktivitas siswa. Teknologi pada tahap ini meningkatkan motivasi dan partisipasi, tetapi belum mengubah struktur pembelajaran secara Sementara itu, studi yang mencapai tahap Transformation masih sangat terbatas. Pada tahap ini, teknologi memungkinkan bentuk pembelajaran baru seperti simulasi, kolaborasi digital antar sekolah, pembelajaran berbasis masalah, atau penggunaan AI untuk personalisasi Keberhasilan pada tahap ini umumnya dipengaruhi oleh kesiapan guru, dukungan pimpinan, kurikulum Secara keseluruhan, tantangan yang kompetensi pedagogis guru dalam dominannya desain pembelajaran berbasis konten, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan internet, perangkat, dan literasi digital siswa. Selain itu, hasil analisis menunjukkan Pendidikan kecenderungan lebih cepat mencapai level Transformation infrastruktur dan kebijakan institusional Sebaliknya, pendidikan dasar dan menengah lebih sering terjebak pada level Replacement, terutama pada konteks daerah dengan keterbatasan teknologi. Studi literatur juga menyoroti perspektif baru melalui model turunan seperti PICRAT, yang menambah dimensi partisipasi siswa. Model ini menunjukkan bahwa interaksi belajar yang bersifat participating transforming memberikan dampak signifikan terhadap keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis dan kolaborasi digital. Dengan demikian. RAT pada level tertinggi tidak hanya mengubah bentuk media, tetapi juga struktur kognitif dan sosial Berdasarkan sintesis temuan, dapat disimpulkan bahwa tren penggunaan Model RAT pada periode 2022-2025 menunjukkan peningkatan kesadaran institusi pendidikan terhadap pentingnya integrasi teknologi yang bermakna. Namun. Transformation hambatan struktural, pedagogis, dan Oleh karena itu, berbagai studi Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Pertimbangan Etika Seluruh open-access, sehingga penggunaan datanya tidak melanggar hak cipta. Analisis dilakukan memastikan integritas akademik tetap Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan pedagogi digital, desain tugas berbasis teknologi jangka panjang, serta evaluasi Secara akademik sepakat bahwa Model RAT memiliki potensi kuat dalam mendorong digunakan sebagai kerangka reflektif dalam mendesain aktivitas belajar, bukan semata sebagai klasifikasi penggunaan Potensi transformasional baru terwujud ketika teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang tidak dapat dilakukan tanpa bantuan digital, serta didukung oleh ekosistem institusional yang adaptif. Tabel 1. Sintesis Studi Literatur Berdasarkan dianalisis, terlihat bahwa integrasi teknologi digital dalam pembelajaran menunjukkan variasi penerapan yang Model RAT (Replacement. Amplification. Transformatio. Secara umum, sebagian besar studi mengindikasikan bahwa teknologi lebih sering digunakan pada level Amplification, yaitu memperkuat praktik pembelajaran yang sudah ada. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan meningkatkan efisiensi penyampaian materi, memperluas akses sumber belajar, serta mendukung aktivitas pelatihan guru (Mayantao & Tantiado, 2024. Mukmi et , 2025. Risang Baskara et al. , 2. Pada konteks ini, teknologi diposisikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas interaksi, kejelasan materi, serta lingkungan daring dan campuran. Pada level Replacement, beberapa penelitian mencatat bahwa teknologi sangat membantu ketika pembelajaran harus beralih secara mendadak, terutama dalam situasi pandemi. Misalnya, telehealth digunakan sebagai pengganti praktik klinik tatap muka (Anderson et , 2. , tugas matematika berbasis AI menggantikan konsultasi manual (Mukmi et al. , 2. , dan LMS menggantikan pertemuan fisik dalam kurikulum daring (Stojan et al. , 2. Studi-studi tersebut teknologi pada level ini berfokus pada substitusi media tanpa perubahan substansial terhadap desain tugas atau pola pikir pedagogis guru. Dampaknya adalah efisiensi meningkat, tetapi kualitas pembelajaran kritis, kolaboratif, dan kontekstual belum berkembang optimal (Lestarina et al. , 2. Sementara itu, artikel-artikel yang menunjukkan capaian Transformation masih relatif terbatas, tetapi memberikan pengembangan pedagogi digital. Studi yang memanfaatkan Virtual Reality untuk penulisan kreatif, misalnya, menunjukkan perubahan peran guru dan siswa serta mendorong aktivitas pembelajaran yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan secara tradisional (Chen et al. , 2. Demikian pula, penggunaan PICRAT terbukti menggeser siswa dari pasif menjadi kreatif dan kolaboratif (Wang. Dalam konteks pembelajaran nilai, pendekatan TPACK terbukti mampu membentuk karakter moderat melalui integrasi materi digital (Moderat et al. , menandai bahwa transformasi tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga pedagogi moral dan sosial. Penelitian keterbatasan literasi digital guru, etika penggunaan AI, bias data, serta praktikum dalam pembelajaran berbasis laboratorium virtual (Haberbosch et al. Tantangan memperlihatkan bahwa transformasi digital memerlukan pendekatan bertahap dan sistematis. (Panakaje et al. , 2. menemukan bahwa pelatihan, akses perangkat, dan kebijakan digital meningkatkan kinerja guru dan keterlibatan siswa. Studi blended learning pasca-pandemi juga platform digital memerlukan kebijakan universitas yang lebih permanen (Nkhi et , 2. Secara keseluruhan, literatur pada tabel menunjukkan bahwa: A Replacement banyak digunakan pada transisi pendidikan digital yang mendadak. A Amplification mendominasi dalam pelatihan guru. LMS, dan AI A Transformation hanya terjadi ketika desain tugas, paradigma pengajaran, dan nilai karakter berubah secara fundamental. Dengan demikian. Model RAT terbukti menjadi kerangka yang efektif untuk memetakan tingkat pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran digital. Namun, keberhasilan mencapai level transformasional sangat bergantung pada keyakinan pedagogis guru, dukungan institusi, kompetensi literasi digital, serta integrasi desain belajar yang berorientasi pada kreativitas dan kolaborasi. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Pola Penggunaan Teknologi: Replacement Ie Amplification Ie Transformation Berdasarkan literatur yang dianalisis dalam tabel, pola penggunaan teknologi dalam pembelajaran digital menunjukkan Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan perkembangan bertahap yang sejalan dengan kerangka Model RAT. Pada tahap Replacement, terutama untuk menggantikan aktivitas pembelajaran tradisional tanpa mengubah struktur tugas atau pendekatan pedagogis. Contohnya, berbasis AI digunakan sebagai pengganti konsultasi manual dalam pembelajaran matematika (Mukmi et al. , 2. pembelajaran klinik tatap muka selama pandemi (Anderson et al. , 2. , dan Learning Management System (LMS) menggantikan ruang kelas fisik dalam pengelolaan materi dan penilaian (Stojan et al. , 2. Pada tahap ini, teknologi lebih berfungsi sebagai media substitusi untuk memastikan kelangsungan proses belajar dalam situasi transisi atau Selanjutnya. Amplification, dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran yang ada, meningkatkan efisiensi, memperluas akses sumber belajar, serta mendukung peningkatan kapasitas pedagogis guru. Hal tersebut tampak pada program pelatihan guru meningkatkan literasi digital dan integrasi Project-Based Learning (Risang Baskara et al. , 2. , penerapan Digital Task Analysis mengevaluasi nilai tambah sumber belajar digital (Lindenbauer et al. , 2. , serta dukungan institusional yang mampu mereduksi technostress mahasiswa dalam pembelajaran daring (Saleem et al. Pada fase ini, teknologi mampu mengoptimalkan proses evaluasi, dan memfasilitasi pembelajaran profesional berkelanjutan (Grady, 2. , namun belum sepenuhnya mengubah desain pedagogis secara mendalam. Sementara itu, studi yang mencapai Transformation bahwa teknologi dapat menciptakan pengalaman belajar baru yang tidak mungkin dilakukan melalui pembelajaran Contohnya, pembelajaran menulis berbasis Virtual Reality mampu menggeser peran siswa dari konsumen menjadi produsen konten pembelajaran (Chen et al. , 2. Transformasi terjadi rekonstruksi tugas, perubahan paradigma mengajar, serta perluasan kapabilitas pedagogis melampaui batasan ruang dan Secara keseluruhan, pola penggunaan teknologi dalam tabel menunjukkan bahwa mayoritas penelitian masih berada Amplification. Replacement pada masa transisi digital. Transformasi membutuhkan dukungan institusional, literasi digital, serta desain pembelajaran yang inovatif. Hal ini menegaskan bahwa teknologi tidak secara otomatis membawa tersebut baru muncul ketika guru merekayasa ulang aktivitas belajar, menggeser keyakinan pedagogis, dan mengembangkan keterampilan digital tingkat lanjut. Dengan demikian. Model RAT memberikan kerangka evaluatif yang efektif untuk memetakan posisi institusi dan praktik pembelajaran dalam Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Hambatan dan Kendala Literatur dalam tabel menunjukkan bahwa terdapat sejumlah hambatan yang Transformation sebagaimana digambarkan dalam Model RAT. Salah satu kendala yang paling dominan adalah rendahnya literasi digital guru dan peserta didik, sehingga teknologi hanya digunakan sebatas substitusi atau peningkatan efisiensi tanpa Kondisi ini tampak pada beberapa studi yang menemukan bahwa pemahaman pendidik terhadap integrasi teknologi masih bersifat dangkal dan Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan berorientasi prosedural (Lestarina et al. Risang Baskara et al. , 2. Hambatan ketergantungan pada metode tradisional, di mana guru yang berorientasi keterampilan dasar cenderung berhenti pada level Replacement (Chen et al. Hambatan penurunan keaslian pengalaman belajar, terutama pada konteks laboratorium dan menurunkan sense of authenticity dan keterlibatan emosional (Haberbosch et al. Dalam konteks keamanan data, literatur juga menyoroti adanya risiko bias AI dan ketidakakuratan informasi, misalnya pada penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran matematika yang berdampak negatif pada pengembangan kemampuan berpikir kritis (Mukmi et al. Dari keterbatasan infrastruktur dan kebijakan yang tidak stabil turut menjadi penghambat adopsi teknologi secara Beberapa studi menunjukkan bahwa tanpa dukungan kebijakan lembaga yang kuat, transformasi hanya menjadi inisiatif individual dan sulit melembaga (Nkhi et al. , 2. Hambatan lain yang sering muncul adalah bias demografis dan keterbatasan cakupan sampel, sehingga praktik transformasional belum teruji pada skala yang lebih luas (Anderson et al. , 2022. Lestarina et al. Tantangan konseptual juga muncul dalam bentuk redesign tugas digital yang belum optimal. Banyak studi mencatat bahwa guru belum mampu merancang aktivitas pembelajaran baru yang memanfaatkan nilai tambah teknologi, sehingga teknologi cenderung hanya menggantikan atau mempercepat proses yang sudah ada (Mcculloch et al. , 2021. Stojan et al. , 2. Kurangnya integrasi etika digital dalam pembelajaran AI juga membuat peserta didik rentan melakukan pelanggaran privasi mukmi(Maheshwari et al. , 2021. Mukmi et al. , 2. Selain itu, hambatan budaya dan sikap juga menghambat transformasi. Resistensi sebagaimana dicatat dalam studi blended teaching pasca pandemi, menghasilkan adaptasi teknologi yang setengah hati dan transformasional (Nkhi et al. , 2. Ketergantungan pembelajaran tradisional menyebabkan proses digitalisasi berhenti pada level Amplification, perancangan tugas yang kreatif dan kolaboratif (Joshua, 2. Hambatan lain yang muncul adalah rendahnya dukungan tutorial dan mentoring, yang membuat guru kesulitan mengembangkan praktik digital berorientasi transformasi (Grady. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Implikasi untuk Desain Pembelajaran dan Pengembangan Profesional Literatur dalam tabel menunjukkan bahwa terdapat implikasi penting bagi desain pembelajaran ketika teknologi digital diintegrasikan secara sistematis. Pertama, hasil penelitian menegaskan perlunya rekayasa ulang aktivitas belajar agar teknologi tidak hanya berfungsi sebagai media substitusi, tetapi mampu menciptakan pengalaman belajar baru. Digital Task Analysis, membantu guru mengidentifikasi nilai tambah teknologi dalam desain tugas matematika sehingga pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual (Lindenbauer Demikian pembelajaran menulis berbasis Virtual Reality mendorong siswa memproduksi konten, sehingga mengubah posisi teknologi dari sekadar alat bantu menjadi fasilitator kreativitas dan kolaborasi (Chen et al. , 2. Temuan ini menuntut pendidik untuk berpindah dari desain instruksional statis menjadi task-based digital redesign yang meningkatkan Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan keterlibatan, kreativitas, dan pengalaman Kedua, integrasi teknologi menuntut pendekatan pedagogis berbasis karakter dan nilai, terutama pada disiplin yang bersifat afektif seperti Pendidikan Agama Islam, di mana pendekatan TPACK berperan dalam pembentukan karakter moderat melalui literasi digital yang relevan dengan budaya sosial (Moderat et , 2. Selain itu, penggunaan PICRAT untuk pengajaran linguistik memungkinkan desain tugas yang menggeser peserta didik dari pasif menjadi kreator, menunjukkan urgensi desain pembelajaran yang memfasilitasi kreativitas digital (Wang, 2. Ketiga, literatur menegaskan pentingnya desain pembelajaran yang mempertimbangkan keseimbangan antara efektivitas kognitif dan keaslian pengalaman, khususnya pada konteks laboratorium sains. Studi menunjukkan bahwa pendekatan blended learning dapat meningkatkan pemahaman menurunkan persepsi keaslian proses praktikum (Haberbosch et al. , 2. Implikasi ini mendorong penggunaan teknologi secara selektif dan terintegrasi, bukan sepenuhnya menggantikan praktik Temuan juga menunjukkan bahwa prasyarat pengembangan profesional yang Studi mengonfirmasi bahwa dukungan kebijakan, infrastruktur, dan sistem pelatihan memiliki efek mediasi terhadap peningkatan keterlibatan dan kinerja guru (Panakaje et al. , 2. Aspek lainnya adalah pentingnya pengembangan literasi etika AI dalam program pelatihan pendidik. Penggunaan ChatGPT dalam matematika, misalnya, membantu akses informasi tetapi berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis jika tidak dilengkapi dengan strategi validasi sumber (Mukmi et al. , 2. Implikasi memasukkan modul tentang AI literacy, data privacy, dan etika akademik. Selain aspek kompetensi personal, literatur dalam tabel menunjukkan bahwa desain pembelajaran inovatif juga membutuhkan pergeseran keyakinan pedagogis . eacher belief syste. Guru identitas-sentris skill-based cenderung berhenti pada Replacement (Chen et al. , 2. Ini berarti bahwa memasukkan pelatihan tentang mindset pedagogis bukan hanya perangkat digital. Secara menunjukkan bahwa implikasi bagi desain pembelajaran dan pengembangan profesional meliputi: rekonstruksi tugas pengembangan etika AI, pelatihan multisiklus, dukungan kelembagaan, fleksibilitas kurikulum, serta penguatan mindset pedagogis progresif. Kombinasi faktor tersebut menjadi fondasi bagi pergeseran pembelajaran dari Amplification menuju Transformation pendidikan digital. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 KESIMPULAN Kajian literatur ini menunjukkan bahwa Model RAT (Replace. Amplify. Transfor. memiliki peran signifikan pembelajaran melalui teknologi digital pada berbagai jenjang pendidikan. Temuan studi menegaskan bahwa integrasi teknologi pada level replace masih mendominasi praktik pembelajaran digital di banyak konteks, ditandai oleh digitalisasi materi, penggunaan platform berbagi dokumen, serta pemanfaatan media presentasi dasar. Meskipun demikian, tren menunjukkan peningkatan penggunaan teknologi pada level amplify, terutama dalam proses asesmen digital. Engelina Prisca Kalensun1. Ahmad Robith Firdaus2 instruksi, dan optimalisasi efisiensi manajemen kelas. Selain itu, hasil kajian menemukan bahwa keberhasilan penerapan RAT dipengaruhi oleh kompetensi literasi digital pendidik, dukungan infrastruktur, kebijakan institusional, dan budaya Tantangan utama yang muncul meliputi kesenjangan akses, resistansi perubahan, keterbatasan pelatihan, serta terhadap efektivitas pedagogis teknologi. Oleh karena itu, strategi peningkatan kapasitas guru, penguatan kebijakan berkelanjutan merupakan faktor kunci dalam mengoptimalkan penerapan RAT. Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperkuat posisi RAT sebagai model melengkapi kerangka lain seperti SAMR dan TPACK. Sementara secara praktis, hasil kajian dapat menjadi basis penyusunan kurikulum digital, desain pengembangan kebijakan transformasi Untuk selanjutnya, diperlukan studi empiris longitudinal dan komparatif guna menilai dampak penerapan RAT terhadap capaian belajar, motivasi peserta didik, dan efektivitas pedagogis dalam konteks yang lebih luas. Dengan demikian. Model RAT tidak hanya memfasilitasi integrasi teknologi secara bertahap, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk mendorong inovasi pembelajaran dan mempersiapkan ekosistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berorientasi masa depan pada era digital. DAFTAR PUSTAKA