https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 KONSTRUKSI MODERASI ISLAM (ISLAM WASATHIYYAH) DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM SAEFUDIN ZUHRI1 Dosen PAI STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan Email : saefudinzuhri@stitmakrifatulilmi. ABSTRAK Tujuan penulisan ini adalah membahas keragaman budaya bangsa Indonesia, moderasi beragama dalam keragaman dan peran pendidikan islam dalam mewujudkan kedamaian bangsa Indonesia. Pendidikan Islam merupakan faktor strategis dalam mencetak generasi moderat. Bangsa Indonesia memiliki masyarakat yang beragam budaya dengan sifat Untuk melahirkan generasi moderat ini diperlukan pemahaman dan pengembangan pendidikan Islam dengan menggunakan moderasi Islam sebagai paradigma. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu dikembangkan menjadi kajian yang lebih komprehensif untuk dilakukan reformasi pendidikan Islam pada semua komponennya. Pendekatan ini meliputi empat level pendekatan, yaitu pendekatan kontributif, pendekatan aditif, pendekatan transformatif, dan pendekatan aksi sosial. Beberapa prinsip pengembangan kurikulum yang digali dari prinsip moderasi dan pendekatan yang digunakan akan melahirkan konstruksi kurikulum pendidikan Islam berbasis moderasi Islam. Kata Kunci: Moderasi Islam. Prinsip moderasi. Kurikulum Pendidikan Islam ABSTRACT The purpose of this writing is to discuss the cultural diversity of the Indonesian nation, religious moderation in diversity and the role of Islamic education in realizing the peace of the Indonesian nation. Islamic education is a strategic factor in creating a moderate generation. The Indonesian nation has a culturally diverse society with its pluralistic To give birth to this moderate generation, it is necessary to understand and develop Islamic education using Islamic moderation as a Therefore. Islamic education needs to be developed into a more comprehensive study to reform Islamic education in all its components. This approach includes four levels of approach, namely the contributive approach, the additive approach, the transformative approach, and the social action approach. Some of the principles of curriculum development explored from the principle of moderation and the approach used will give birth to the construction of an Islamic education curriculum based on Islamic moderation. Keywords: Islamic Moderation. Principles of moderation. Islamic Education Curriculum Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 11 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 PENDAHULUAN Problematika umat Islam semakin kompleks, sebab tidak hanya menyangkut aspek teologis . , tetapi sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan, salah satunya aspek politik. Sejarah mencatat bahwa Islam terpecah menjadi beberapa golongan karena berlatar belakang masalah politik, terutama politik kekuasaan. Sementara masalah teologis yang dihadapi oleh umat Islam sekarang adalah benturan antara paham Islam Moderasi Islam hadir sebagai paradigma baru terhadap pemahaman keislaman yang menjunjung tinggi nilai-nilai tasamuh, pluralisme dan ukhuwah, sebagai jalan tengah paham fundamentalisme dan paham liberalisme. Islam yang mengedepankan persatuan dan kesatuan umat, dan Islam yang membangun peradaban dan kemanusiaan. Kajian terhadap konsep Islam moderat . slam wasathiyya. telah menarik perhatian banyak ilmuwan diberbagai bidang seperti: sosio-politik, bahasa, pembangunan Islam, sosial-keagamaan, dan pendidikan Islam. Terminologi ini merupakan terminologi dari sekian terminologi yang sering digunakan untuk menyebut label-label umat Islam seperti: islam liberalis dan islam fundamentalis ada juga istilah lain yaitu: Islam modernis, progresif, dan reformis. Sebagai pendekatan komprehensif dan terpadu, moderasi Islam juga harus menjadi identitas, visi, corak, dan karateristik utama pendidikan Islam, bukan sekedar nilai partikular. Disini diperlukan langkah yang lebih konstruktif dengan menempatkan moderasi Islam sebagai arus utama pendidikan Islam. Moderasi Islam dalam konteks pendidikan Islam Indonesia akhir-akhir ini bisa kita lihat dari upaya Kemenag melalui Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah dalam merumuskan 12 program andalan. Pengarusutamaan moderasi beragama terus diupayakan Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu ikhtiarnya adalah menyiapkan instruktur nasional moderasai beragama. Hal ini dilakukan Ditjen Pendidikan Islam melalui Pendidikan Instruktur Nasional Moderasi Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 12 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 Beragama (PIN-MB). Kegiatan ini diikuti 60 dosen dan 100 mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). PIN-MB dibuka Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Imam Safei. Beberapa program pengarusutamaan ini memancing diskusi lebih lanjut sejauh mana Islam moderat menjadi identitas pendidikan Islam. Namun, melihat wacana dan program yang dilakukan, setidaknya bisa dianalisis dari tiga hal. Pertama, adanya kekhawatiran menguatnya gerakan ekstrimisme, intoleran, dan radikalisme-terorisme dalam pendidikan Islam. Dalam rangka menghadang gerakan ini, moderasi Islam dianggap Kedua, pengarusutamaan ini bisa dibaca sebagai tindak lanjut dan penguatan Islam Nusantara, dimana karakter utamanya adalah moderat. Terlebih pendidkan Islam Nusantara memiliki akar historis sebagai bagian dari institusi sosial-keagamaan yang bercorak moderat. Ketiga, adanya kebutuhan untuk melakukan reformasi pendidikan Islam di tengah kompleksitas masalah global, yang diantaranya adalah tidak adanya keseimbangan antara intelektualitas dengan moralitas, modernitas dengan spiritualitas, dan ketidakseimbangan lainnya dalam semua aspek LANDASAN TEORI Konsep wasathiyya dalam beberapa literatur keislaman ditafsirkan secara beragam oleh para ahli (Dimyati, 2. Menurut al-Salabi, kata wasathiyyah memiliki banyak arti. Pertama, dari akar kata wasth,berupa dharaf, yang berarti baina . Kedua, dari akar kata wasatha, yang mengandung banyak arti, diantaranya: pertama berupa isim . ata bend. yang mengandung pengertian antara dua ujung. kedua berupa sifat yang bermakna . terpilih, terutama, terbaik. ketiga wasath yang bermakna al-Aadl atau adil. keempat wasath juga bisa bermakna sesuatu yang berada diantara yang baik . dan yang buruk. adiA). Sama dengan pemaknaan al-Sallabi. Kamali menganalisis wasathiyyah sinonim dengan kata tawassu. IAotidyl, tawyzun, iqtiyd. Istilah moderasi ini terkait erat dengan keadilan, dan ini berarti memilih posisi tengah diantara Kebalikan dari wasathiyyah adalah tatarruf, yang menunjukkan Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 13 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 makna Aukecenderungan ke arah pinggiranAy Auekstremisme,Ay Auradikalisme,Ay dan AuberlebihanAy (Intoleransi & Madrasah, 2. Terlepas dari berbagai pemaknaan di atas. Hilmy, mengidentifikasi beberapa karakteristik penggunaan konsep moderasi dalam konteks Islam Indonesia(Ardiansyah, 2. , diantaranya: ideologi tanpa kekerasan dalam menyebarkan Islam, mengadopsi cara hidup modern dengan semua turunannya, termasuk sains dan teknologi, demokrasi, hak asasi manusia dan sejenisnya, penggunaan cara berfikir rasional, pendekatan kontekstual dalam memahami Islam, dan penggunaan ijtihad . erja intelektual untuk membuat opini hukum jika tidak ada justifikasi eksplisit dari Al Qur'an dan Hadis. Wasathiyyah merupakan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Konsep ini sebenarnya meminta umat Islam untuk mempraktikkan Islam secara seimbang dan komprehensif dalam semua aspek kehidupan masyarakat dengan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas kehidupan manusia yang terkait dengan pengembangan pengetahuan, pembangunan manusia, system ekonomi dan keuangan, sistem politik, sistem pendidikan, kebangsaan, pertahanan, persatuan, persamaan antar ras, dan lainnya. Dalam melakukan konstruksi moderasi kurikulum, yang pertama kali diperlukan adalah rumusan prinsip-prinsip yang akan menjadi acuannya (Futaqi, 2. Prinsip ini menyediakan petunjuk bagi pelaksanaan setiap aktivitas, dan oleh karenanya prinsip memiliki peran penting dalam mengembangkan berbagai kerja intelektual, termasuk didalam membuat Merujuk pada prinsip-prinsip yang digali dari moderasi Islam, kurikulum pendidikan Islam bisa dikembangan dengan mengacu pada beberapa prinsip (Anwar, 2. Salah satu prinsip mendasar moderasi Islam adalah prinsip universal. Bahwa, semua umat manusia berbeda adalah fakta yang tak terbantah. Secara fisik dan psikologis, tidak ada manusia yang sama persis. samping perbedaan ras, suku, budaya, bangsa, dan bahasa, yang merupakan perbedaan bawaan manusia, terdapat sekian banyak perbedaan perolehan manusia, antara lain dalam gagasan, pengetahuan, pendekatan. Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 14 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 prioritas, dan penilaian. Melalui sikap moderasi, akan hadir pengakuan terhadap perbedaan yang diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan universal. Seperti, kebebasan, koeksistensi damai, egalitarianisme, kasih- sayang, amar maAoruf nahi munkar, fastabiqul khairat, dan keadilan. Seluruh nilai-nilai tersebut bermuara pada nilai kesucian dan kesempurnaan Tuhan sebagai Wujud Mutlak dan modus eksistensi seluruh realitas. Oleh karena itu, muatan kurikulum harus mencakup semua aspek dan berlaku menyeluruh, tanpa dibatasi oleh sekat kedaerahan dan wilayah. Prinsip universalitas kurikulum juga menghendaki adanya totalitas dalam pengembangan potensi peserta didik, yang tercakup dalam tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum. Prinsip moderasi Islam juga memuat prinsip keseimbangan . Keseimbangan ini bisa dilihat dari aspek keseimbangan antara prilaku, sikap, nilai pengetahuan, dan keterampilan. Prinsip keseimbangan juga merupakan sikap dan orientasi hidup yang diajarkan Islam, di tengah keberagaman bangsa yang majemuk. Setidaknya sikap toleransi dan moderasi itu merupakan buah hasil dari cara berfikir, pemahaman dan cara pandang yang berlandaskan pada dua esensi dasar, yakni keseimbangan dan Lukman Hakim Saifudin berkata: "Jadi melihat apapun kita harus seimbang, tidak boleh ekstrim pada salah satu kutub. Karena dengan cara seperti itu keadilan akan terwujud, lalu kemudian kita menjadi toleran dan moderatAy. Sehingga peserta didik tidak terjebak pada ekstrimisme dalam semata-mata mengabaikan kehidupan duniawi. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan Islam harus didesain dengan menggunakan prinsip ini. Disini kurikulum moderat dikonstruksi melalui keseimbangan antara rasionalitas, moralitas, dan spiritualitas. Prinsip integrasi ini juga merupakan prinsip moderasi kurikulum yang sangat penting. Dalam pengembangan kurikulum, integrasi ini banyak dibicarakan oleh para ilmuwan muslim seperti Fazlur Rahman. Seyyed Hossein Nasr. Ismail Raji`al-Faruqi, dan Syekh Muhammad Naquib alJurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 15 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 Attas. Di Indonesia upaya integrasi ilmu juga dikembangkan oleh ilmuwan muslim seperti Kuntowijoyo dengan konsep AuPengilmuan Islam,Ay dengan menjadikan al-QurAoan sebagai paradigma keilmuan. Integrasi ini dalam pandangan Amin Abdullah perlu dipadukan dengan (Perspektif Abdullah. Pendekatan keilmuan umum dan agama sadar akan keterbatasan masing-masing dalam memecahkan persoalan manusia, hal ini akan melahirkan sebuah kerjasama setidaknya saling memahami pendekatan . dan metode berpikir . rocessand procedur. antara kedua kelimuan tersebut (Yulanda, 2. Dalam masyarakat multikultural, interaksi sesama manusia cukup tinggi (Yulanda, masyarakat dalam berinteraksi antar manusia perlu dimiliki setiap anggota Kemampuan tersebut menurut Curtis mencakup tiga wilayah, yaitu : affiliation . erja sam. , cooperation and resolution conflict . erjasama dan penyelesaian konfli. , kindness, care and affection/ emphatic skill . eramahan, perhatian, dan kasih sayan. Prinsip moderasi Islam sebenarnya juga mengandung prinsip AuBhineka Tunggal Ika,Ay suatu prinsip kesetaraan dan keadilan ditengah perbedaan untuk mencapai Prinsip ini dimaksudkan sebagai pemelihara terhadap perbedaan-perbedaan peserta didik, baik berupa perbedaan bakat, minat, kemampuan, kebutuhan, agama, ras, etnik, dan perbedaan lainnya. Pemeliharaan terhadap kurikulum dengan kebutuhan-kebutuhan peserta didik dalam konteks Negara Indonesia yang multikultur. Pendidikan Islam dengan karakter keislaman moderat bisa menjadi kontribusi bagi perumusan pendidikan Islam. Meminjam empat pendekatan dikenalkan oleh Banks, konstruksi wasatiyyah dalam kurikulum pendidikan Islam bisa dianalisis dengan pendekatan kontributif . he contributions aditif/penambahan . he pendekatan transformasi . ransformation approac. , dan pendekatan aksi sosial . he social action approac. Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 16 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 Karakteristik penting dari pendekatan kontribusi adalah bahwa struktur dasar, sasaran, dan karakteristik utama kurikulum tidak berubah, melainkan hanya menyisipkan konten-konten tertentu dalam mata pelajaran, yang turut berkontribusi dalam melahirkan sikap moderat, seperti tokoh-tokoh Islam nusantara, yang dianggap secara nyata memiliki pemikiran dan sikap Pendekatan kontribusi ini dapat memberi pengalaman belajar peserta didik akan ketokohan seseorang. Dengan pendekatan ini, moderasi Islam bukan merupakan arus utama kurikulum pendidikan Islam, melainkan sebagai nilai kontributif yang disisipkan melalui kurikulum. Meski demikian, pendekatan ini merupakan langkah yang paling minimal didalam ide pengarusutamaan moderasi Islam. Namun, dalam beberapa aspek, ia sedikit banyak turut memberikan kontribusi bagi warna kurikulum pendidikan Islam. Dalam melakukan konstruksi moderasi Islam dalam kurikulum, konten, materi, tema, dan perspektif moderasi Islam bisa ditambahkan kedaam Penambahan ini tidak lain merupakan pelengkap dan bukan Hampir kontributif, yang membedakan adalah pendekatan penambahan tidak cukup menyisipkan konten, melainkan perlu adanya penambahan beberapa konsep, tema, bahan ajar dan serangkaian pelatihan tambahan terkait isu-isu dalam moderasi Islam. Pendekatan tranformatif sangat berbeda dengan pendekatan kontributif dan aditif (Retnasari & Hidayat, 2. Dalam dua pendekatan tersebut, konten ditambahkan ke kurikulum inti tanpa mengubah asumsi dasar, sifat, dan strukturnya. Sedangkan, dalam pendekatan transformatif, tujuan Pendekatan transformasi ini memungkinkan peserta didik untuk melihat konsep, isu, tema, dan masalah dari berbagai sudut pandang. Transformasi Islam perubahan paradigma, perspektif, dan struktur dasar kurikulum (Safuan. Tentu saja transformasi ini tidak mudah karena harus ulang dan merubah beberapa struktur dasar kurikulum yang selama ini Namun, jika dilihat dari paradigma perubahan kurikulum Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 17 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 pendidikan nasional yang pernah terjadi di Indonesia, perubahan paradigma juga sangat mungkin dilakukan dalam konteks kurikulum pendidikan Islam. Pendekatan transformasi namun menambahkan komponen yang mengharuskan peserta didik membuat keputusan dan mengambil tindakan yang terkait dengan konsep dan masalah yang dihadapi (Salis Husniatin & Asrul Anan, 2. Tujuan utama pembelajaran dengan pendekatan ini adalah untuk mendidik keterampilan membuat keputusan. Dalam pendekatan ini, moderasi Islam tidak hanya terjadi dalam internal unit pendidikan, melainkan bergerak sebagai agen tofsocialcritic dan agentofsocial change di tengah-tengah masyarakat. Orientasi kurikulum dikembangkan dengan menekankan pada Ausocial orientedAy. Pendekatan moderasi kurikulum ini melatih peserta didik untuk terlibat dalam aksi-aksi sosial dalam rangka membumikan moderasi Islam pada semua aspek kehidupan masyarakat. Empat pendekatan integrasi konsep wasathiyyah diatas bisa menjadi pertimbangan dalam melakukan konstruksi kurikulum berbasis moderasi Islam. Ini sejalan dengan ide pengarusutamaan moderasi islam dalam pendidikan Islam yang sedang dikembangkan. Jika melihat 12 Program yang dirancang oleh Kemenag RI, misalnya, pengarusutamaan Islam moderat dalam pendidikan Islam, terutama pada komponen kurikulum, masih berada pada level kontributif dan aditif, dan belum menyentuh pada level transformatif dan aksi sosial. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur sebagai metode penelitian dengan menggunakan berupa jurnal dan buku yang terkait dengan Konstruksi Moderasi Islam (Islam Wasathiyya. Dalam Kurikulum Pendidikan Islam. Pendekatan kualitatif adalah pengamatan yang mendalam cenderung menganalisis suatu hal yang menjadi tujuan. Sedangkan studi literatur adalah sebuah cara untuk menyelesaikan masalah dengan mencari sumber-sumber kajian. Oleh karena itu, peneliti ingin melihat secara deskriptif bagaimana keterkaitan antara Konstruksi Moderasi Islam (Islam Wasathiyya. Dalam Kurikulum Pendidikan Jurnal El Makrifat: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman | 18 https://ojs. id/index. php/pgmi Volume 1 No 1 tahun 2023 ISSN 2723-7834 Islam. Wasathiyyah merupakan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Konsep ini sebenarnya meminta umat Islam untuk mempraktikkan Islam secara seimbang dan komprehensif dalam semua aspek kehidupan masyarakat dengan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas kehidupan manusia Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengidentifikasi dan menganalisis literatur yang telah dikaji sebelumnya. Sumber data utama dari Jurnal nasional dan Jurnal internasional dengan berpedoman yang Konstruksi Moderasi Islam (Islam Wasathiyya. Dalam Kurikulum Pendidikan Islam, serta bacaan dari internet dengan menganalisi bacaan yang telah di peroleh kemudian disimpulkan. Dengan demikian, kebenaran antara teori dan fakta saling berkesinambungan karena tepat sekali jika moderasi Islam diposisikan sebagai arus utama pendidikan Islam di Indonesia. Pengarusutamaan ini perlu dikembangkan menjadi kajian yang lebih komprehensif untuk melakukan reformasi pendidikan Islam pada semua komponennya. PENUTUP Pendidikan Islam merupakan elemen strategis dalam mencetak generasi moderat. Untuk melahirkan generasi moderat ini diperlukan pengembangan pendidikan Islam dengan menggunakan moderasi Islam sebagai paradigma dan arusutama. Ini merupakan konsekuensi logis dari penggunaan Islam sebagai basis utama dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, dimana moderasi merupakan identitas dan watak dasarnya. Oleh karena itu, tepat sekali jika moderasi Islam diposisikan sebagai arus utama pendidikan Islam di Indonesia. Pengarusutamaan ini perlu dikembangkan menjadi kajian yang lebih komprehensif untuk melakukan reformasi pendidikan Islam pada semua komponennya. DAFTAR PUSTAKA