OPEN ACCESS JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. November 2025. Hal. e-ISSN. 3090-028X DOI. https://doi. org/10. 58472/jipsh. Research Article Membangun Keterampilan Berargumentasi Siswa Melalui Metode Diskusi Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di MA Muhammadiyah 01 Jember Anggun Ning Tyas1. Sofyan Rofi2. Dhian Wahana Putra3 Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Corresponding Author: Anggun Ning Tyas. Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Email: anggunningt@gmail. Abstract This study aims to describe the implementation of the discussion method in developing students' argumentation skills in Aqidah Akhlak at MA Muhammadiyah 01 Jember. The background of this study is based on teachers who still rely on conventional methods such as lectures in delivering material so that students tend to be less active in class, and this discussion method is designed to determine the extent to which students understand the material that has been delivered. The study used a qualitative approach with a case study type, through observation, interview and documentation techniques. The discussion method has proven effective in enhancing students' ability to express opinions, think critically, and collaborate. Supporting factors include a conducive classroom atmosphere and the teacher's role as a facilitator, while time constraints are the main obstacle. Keywords: Method. Discussion. Aqidah Akhlak Lesson Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode diskusi dalam membangun keterampilan argumentasi siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MA Muhammadiyah 01 Jember. Latar belakang penelitian ini dilandasi oleh guru yang masih mengadalkan metode konvesional seperti ceramah dalam menyampaikan materi sehingga membuat siswa cenderung kurang aktif didalam kelas, serta metode diskusi ini dirancang untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami terhadap meteri yang telah disampaikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode diskusi terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk menyampaikan pendapat, berpikir kritis, dan bekerja sama. Faktor pendukung meliputi suasana kelas yang kondusif dan peran guru sebagai fasilitator, sementara keterbatasan waktu menjadi hambatan utama. Kata kunci: Metode. Diskusi. Pelajaran Aqidah Akhlak PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, serta mampu menghargai perbedaan pendapat. Pendidikan merupakan elemen JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 206 penting dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia serta memajukan pembangunan suatu bangsa (Slamet. Asmuni & Fitria, 2. Sektor pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis dan menjadi kunci utama dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan kompeten di masa depan (Fitria & Slamet, 2. Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi guna menghadapi beragam kebutuhan dan tantangan kehidupan modern (AsAoadi. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat . yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Dalam konteks ini, guru berperan bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk berpikir reflektif, kritis, dan analitis terhadap fenomena yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2. Salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan adalah keterampilan berargumentasi. Hendri & Defianti . menegaskan bahwa keterampilan berargumentasi diperlukan untuk membuat keputusan secara bijak berdasarkan pengetahuan sains yang diperoleh siswa dalam menyikapi berbagai isu sosial-ilmiah. Argumentasi merupakan dasar penting bagi siswa untuk melatih kemampuan berpikir, bekerja, dan berinteraksi dalam proses pembelajaran, khususnya pada bidang sains (Probosari et al. , 2. Dengan demikian, pembelajaran yang menekankan pada pengembangan keterampilan berargumentasi atau berdebat dapat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Menurut ynztyrk & Doanay, . , argumentasi adalah proses menegaskan, mendukung, mengkritisi, serta memperbaiki suatu ide atau sudut pandang. Sementara itu. Christenson . menjelaskan bahwa argumentasi merupakan proses kompleks yang melibatkan pembuatan, pembenaran, dan penjelasan terhadap suatu klaim, sedangkan Rahman . menambahkan bahwa kemampuan ini harus didasarkan pada penalaran kritis yang berlandaskan data dan bukti yang valid. Di lingkungan pendidikan menengah atas, terutama di madrasah, keterampilan berargumentasi menjadi aspek penting untuk dikembangkan. Siswa tidak hanya dituntut memahami konsep keagamaan secara tekstual, tetapi juga mampu menalar dan menjelaskan nilai-nilai Aqidah Akhlak dalam konteks kehidupan sosial yang dinamis. Hal ini sejalan dengan pandangan Zubaedi . yang menegaskan bahwa pendidikan agama di sekolah dan madrasah seharusnya berorientasi pada pembentukan akhlak mulia, nalar kritis, serta sikap dialogis dalam memahami ajaran Islam. Dalam konteks tersebut, metode diskusi merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang efektif untuk membangun kemampuan berargumentasi siswa. Metode ini memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara guru dan siswa maupun antar siswa. Menurut Djamarah dan Zain . , metode diskusi memberikan ruang bagi siswa untuk mengemukakan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, serta menemukan kesimpulan secara bersama-sama. Pembelajaran berbasis diskusi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berani menyampaikan argumen secara rasional. Penelitian oleh Rachmawati . menunjukkan bahwa penerapan metode diskusi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat secara terstruktur dan logis. Hal serupa diungkapkan oleh Fitriani dan Fadilah . bahwa diskusi kelompok mampu menumbuhkan kepercayaan diri siswa serta melatih mereka dalam menalar dan mempertahankan argumentasi berdasarkan dalil dan nilai moral Islam. Sementara penelitian Viyanti, et al. , . menunjukkan bahwa siswa fokus memberdayakan keterampilan argumentasi . lemen clai. tanpa memberdayakan elemen JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 207 keterampilan argumentasi lainnya, hal ini berdampak pada lemahnya pemahaman konsep materi terapung dan tenggelam siswa. Idealnya pemberdayaan keterampilan argumentasi secara utuh berdampak pada perluasan pemahaman konsep siswa. Mata pelajaran Aqidah Akhlak memiliki peran strategis dalam mengembangkan dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Melalui mata pelajaran ini, siswa diarahkan untuk memahami prinsip-prinsip keimanan serta mengimplementasikannya dalam sikap dan perilaku. Pembelajaran Aqidah Akhlak yang hanya berpusat pada guru . eacher-centere. cenderung membuat siswa pasif dan kurang mampu berpikir kritis terhadap nilai-nilai moral dan keagamaan yang dipelajari. Oleh karena itu, pendekatan yang melibatkan siswa secara aktif, seperti metode diskusi, menjadi sangat relevan dalam konteks pembelajaran ini. Lebih lanjut, penelitian oleh Rahmawati & Kurniawan . menegaskan bahwa penerapan metode diskusi pada pembelajaran Aqidah Akhlak berpengaruh positif terhadap kemampuan siswa dalam menalar ajaran Islam secara logis dan kontekstual. Siswa menjadi lebih mampu menyampaikan argumen dengan dasar keagamaan yang kuat serta terbiasa menghargai perbedaan pandangan di antara teman-temannya. Dengan demikian, metode diskusi tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga membentuk karakter demokratis dan toleran di lingkungan Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa membangun keterampilan berargumentasi siswa merupakan kebutuhan penting dalam pendidikan abad ke-21, khususnya dalam pembelajaran Aqidah Akhlak. Penggunaan metode diskusi diyakini mampu menjadi sarana efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berargumentasi, serta membentuk karakter religius dan terbuka terhadap perbedaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana penerapan metode diskusi dapat membangun keterampilan berargumentasi siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MA Muhammadiyah 01 Jember. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mencatat dan merekam data terkait penelitian, sementara wawancara digunakan untuk memperoleh informasi relevan dari responden. Dokumentasi mencakup pengumpulan informasi dari catatan, traskip, dan dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian. Instrumen pengumpulan data meliputi lembar observasi, lembar wawancara, dan lembar dokumen yang berfungsi untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Lokasi penelitian adalah MA Muhammadiyah 01 Jember desa andongsari, kecamatan ambulu, kebupaten jember, jawa timur. dengan fokus pada siswa kelas XI Saintek. Subjek penelitian terdiri dari guru Aqidah Akhlak dan siswa kelas XI Saintek. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif (Alaslan, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Membangun Keterampilan Berargumentasi Siswa melalui Metode Diskusi dalam mata Pelajaran Aqidah Akhalak di MA Muhammadiyah 01 Jember Metode diskusi memiliki peran yang sangat signifikan dalam membangun dan mengembangkan keterampilan argumentasi siswa, karena melalui proses diskusi yang terstruktur, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi pelajaran secara mendalam dan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 208 komprehensif, tetapi juga didorong untuk mampu menyampaikan ide, gagasan, dan pendapat mereka secara lisan dengan jelas, logis, dan terorganisasi, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain dengan baik. Selain itu, dalam situasi diskusi yang melibatkan interaksi antar peserta, siswa juga dilatih untuk mendengarkan secara aktif dan merespons pendapat orang lain dengan cara yang sopan, santun, dan tetap berlandaskan pada argumen yang rasional, bukan berdasarkan emosi semata, sehingga mereka terbiasa untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan pandangan, dan membangun komunikasi yang sehat serta produktif. Dengan demikian, metode diskusi tidak hanya memperkaya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, tetapi juga secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan mereka dalam berargumentasi secara konstruktif dan bertanggung jawab. Proses diskusi secara aktif mendorong siswa untuk merumuskan argumen yang kuat, relevan, dan terstruktur dengan baik, yang tidak hanya didasarkan pada pendapat pribadi semata, tetapi juga didukung oleh alasan yang logis, data yang akurat, serta bukti yang meyakinkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam proses ini, siswa belajar untuk tidak sekadar menerima informasi secara pasif, melainkan dituntut untuk mengevaluasi, menganalisis, dan menyaring berbagai informasi yang mereka peroleh guna membangun argumen yang dapat dipertahankan dalam forum diskusi. Hal ini secara langsung membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan evaluatif, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan intelektual di dalam maupun di luar lingkungan Melalui diskusi, siswa juga belajar mengidentifikasi asumsi yang mendasari sebuah pernyataan, menilai validitas dan relevansi bukti yang digunakan, serta menarik kesimpulan yang logis dan beralasan berdasarkan proses penalaran yang sistematis. Dengan demikian, diskusi tidak hanya menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang efektif untuk membentuk pola pikir ilmiah dan argumentatif yang kokoh dalam diri siswa. Selain itu, metode diskusi juga menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan kolaboratif, di mana siswa dapat bertukar pikiran, berdebat secara sehat, dan membangun pemahaman bersama tentang suatu topik. Dalam proses ini, siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari teman sebaya. Mereka belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian, menghormati perbedaan pendapat, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (Hermansyah, 2. Melalui metode diskusi, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan argumentasi, tetapi juga keterampilan komunikasi yang efektif. Mereka belajar untuk menyampaikan ide mereka dengan jelas dan persuasif, serta untuk mendengarkan dan merespons orang lain dengan hormat dan pengertian. Keterampilan-keterampilan ini sangat penting untuk keberhasilan akademik, profesional, dan sosial siswa di masa depan (Haq, 2. Faktor Pendukung dan Penghambat Terdapat berbagai faktor yang dapat mendukung keberhasilan penerapan metode diskusi dalam pembelajaran. Salah satu faktor yang paling penting adalah peran guru sebagai fasilitator yang efektif. Guru yang baik mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk diskusi, mendorong partisipasi aktif siswa, dan membimbing siswa dalam mencapai tujuan Motivasi dan minat belajar siswa juga merupakan faktor pendukung yang sangat signifikan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan metode diskusi dalam proses Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi serta minat yang kuat terhadap JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 209 topik yang dibahas cenderung menunjukkan partisipasi yang lebih aktif, baik dalam menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, maupun memberikan tanggapan terhadap argumen yang dikemukakan oleh teman-temannya. Keaktifan ini tentu memberikan kontribusi yang bermakna terhadap dinamika diskusi di kelas dan meningkatkan kualitas interaksi antar Selain itu, metode diskusi itu sendiri dapat menjadi pemicu meningkatnya motivasi belajar siswa karena memberikan kesempatan kepada mereka untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran, mengekspresikan ide-ide, serta belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan teman sebaya. Pembelajaran yang bersifat partisipatif seperti ini menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dan menantang, sehingga siswa merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap proses belajarnya. Dengan demikian, motivasi dan minat belajar yang tinggi akan memperkuat efektivitas metode diskusi dan mendorong siswa untuk belajar secara lebih aktif, kritis, dan mandiri. Ketersediaan fasilitas dan sarana yang memadai merupakan salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh dalam mendukung terlaksananya kegiatan diskusi yang efektif di lingkungan pembelajaran. Ruang kelas yang nyaman, misalnya, dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi siswa untuk saling bertukar pendapat dan berpartisipasi aktif tanpa merasa tertekan atau terganggu. Selain itu, perlengkapan penunjang seperti papan tulis, proyektor, dan alat bantu visual lainnya sangat membantu dalam menyampaikan materi secara lebih jelas dan menarik, sehingga peserta didik dapat lebih mudah memahami topik yang sedang dibahas. Akses terhadap sumber daya informasi seperti perpustakaan yang lengkap, jaringan internet yang stabil, dan bahan bacaan digital maupun cetak juga berperan besar dalam memperkaya wawasan siswa serta mendukung argumen yang mereka sampaikan selama proses diskusi Dengan tersedianya fasilitas dan sarana yang memadai, proses diskusi di kelas tidak hanya menjadi lebih lancar dan interaktif, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pemikiran kritis dan keterampilan berargumentasi peserta didik secara signifikan. Lingkungan belajar yang positif dan inklusif juga merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan metode diskusi, karena ketika siswa berada dalam suasana kelas yang aman, nyaman, dan bebas dari tekanan atau rasa takut akan penilaian negatif, mereka akan merasa lebih dihargai, diterima, dan dihormati, sehingga lebih terdorong untuk secara aktif berbagi ide, pendapat, serta pandangan pribadi mereka tanpa rasa ragu atau malu. Dalam lingkungan yang demikian, siswa dapat mengembangkan keberanian untuk berpartisipasi dalam diskusi, karena mereka tahu bahwa setiap pendapat yang disampaikan akan didengarkan dan diperlakukan dengan hormat, terlepas dari benar atau tidaknya argumen yang mereka kemukakan. Selain itu, dukungan sosial yang kuat dari teman sebaya maupun guru, seperti dorongan untuk berbicara, penguatan positif, dan penerimaan terhadap berbagai perbedaan sudut pandang, juga berperan besar dalam meningkatkan rasa percaya diri siswa, terutama dalam mengemukakan pendapat dan menyusun argumen yang logis serta meyakinkan. Dengan demikian, terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan suportif akan memperkuat semangat partisipatif siswa dalam diskusi serta membantu mereka mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan berargumentasi secara lebih efektif dan bertanggung jawab. Namun, terdapat juga beberapa faktor penghambat yang dapat mempengaruhi efektivitas metode diskusi. Salah satu penghambat utama adalah keterbatasan waktu. Diskusi yang mendalam dan bermakna membutuhkan waktu yang cukup untuk eksplorasi ide, debat, dan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 210 refleksi. Dalam jadwal kelas yang padat, guru mungkin kesulitan untuk menyediakan waktu yang cukup untuk diskusi yang efektif (Djollong, 2. Meskipun demikian, guru dapat mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan dampak hambatan-hambatan ini. Misalnya, guru dapat mengelola waktu diskusi dengan cermat, memberikan arahan yang jelas, dan menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda untuk mengakomodasi keterbatasan waktu. Guru juga dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif untuk mendorong partisipasi siswa dan mengatasi masalah kurangnya rasa percaya diri. KESIMPULAN Metode diskusi terbukti menjadi strategi pembelajaran yang efektif dalam membangun dan mengembangkan keterampilan argumentasi siswa, khususnya dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak di MA Muhammadiyah 01 Jember. Melalui penerapan metode ini, siswa diberikan ruang dan kesempatan yang luas untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, tidak hanya sebagai pendengar pasif, tetapi sebagai peserta yang berkontribusi secara langsung dalam menyampaikan pendapat, mengemukakan pandangan, serta merespons argumen yang dikemukakan oleh teman-temannya. Dengan situasi pembelajaran yang interaktif ini, siswa terdorong untuk berpikir secara kritis dan reflektif terhadap berbagai isu atau materi yang dibahas, sehingga mereka mampu menyusun argumen yang logis, sistematis, dan didukung oleh dasar-dasar keilmuan yang kuat. Selain itu, metode diskusi juga membantu siswa dalam membangun rasa percaya diri, keberanian untuk berbicara di depan umum, serta kemampuan untuk menghargai perbedaan pendapat yang muncul selama proses diskusi berlangsung. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa metode diskusi tidak hanya efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Aqidah Akhlak, tetapi juga sangat berperan dalam membentuk keterampilan berpikir kritis dan kemampuan berargumentasi yang konstruktif. REFERENSI