Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau RAHMA PUTRI, FAUZAN KAHFI Sekolah Tinggi Pariwisata Riau Jln. Pattimura No. 54 Pekanbaru-Riau Putri.andita@yahoo.com Abstract: Community based ecotourism can be used as a tool for local community to conserve their own local forest (conservation forest). It must be done in order to preserve the forest from anthropogenic problems including illegal logging, wildlife poaching, encroachment, and forest fires. These condition also happen in one of fifty national parks in Indonesia which is Tesso Nilo National Park (TNNP). TNNP Authority and Its partner promote community based ecotourism for local community in TNNP area. In consequence of searching on either single solution or a set of them, for addressing the problems above mentioned and it becomes the background of this study. The aims of this study are to look at the implementation of community based ecotourism activities in TNNP and explain the implication of ecotourism activities, as well as to make ecotourism development strategy in TNNP. This is a descriptive study that combines qualitative and quantitative methods to determine the condition of the management of community-based ecotourism in TNNP’s utilization zone, to see the implication resulting from ecotourism management and ultimately make a recommendation in the form of ecotourism development strategy in TNNP. The result shows that community of Lubuk Kembang Bunga Village in ecotourism management has carried out the process of planning, organizing, actuating, and controlling. The community received many help from various stakeholders in order to manage ecotourism activity in TNNP’s utilization zone. The community has implemented most of community based ecotourism principles and criteria in ecotourism activity and still require improvement. Ecotourism activity in TNNP generate positive benefits for TNNP management and community of Lubuk Kembang Bunga Village. Ecotourism development strategy in TNNP are making collaborative management in TNNP’s utilization zone for community based ecotourism activities and combining in-situ conservation efforts with ecotourism activities. Keywords: community based ecotourism, national park, development strategy Berbagai usaha dilakukan Pemerintah dalam mengatasi permasalahan deforestasi, salah satunya dengan menetapkan sebagian wilayah hutan Indonesia menjadi kawasan hutan konservasi. Undang-Undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menjelaskan hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan Konservasi terbagi menjadi Kawasan Suaka Alam (KSA), Kawasan Pelestarian Alam (KPA meliputi: taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam), dan Taman Buru. Isu dan permasalahan di kawasan konservasi terutama di taman nasional banyak terjadi di sekitar wilayah penyangga atau berbatasan dengan kampung atau pemukiman penduduk lokal. Untuk itu dilakukan beberapa upaya seperti penataan batas kawasan; pencegahan dan penegakan hukum kasus perambahan, illegal logging. Untuk itu dikembangkan konsep konservasi baru (konservasi yang inovatif, kreatif, dan selektif) yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan bisnis yang prospektif yang dapat mensinergikan antara kepentingan ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan adanya bisnis yang tercipta, maka akan didapat dana untuk merehabilitasi dan mengendalikan serta menangani kerusakan lingkungan agar tidak semakin parah (Fandeli, 2012). 262 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) Untuk itu dikembangkan konsep konservasi baru (konservasi yang inovatif, kreatif, dan selektif) yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan bisnis yang prospektif yang dapat mensinergikan antara kepentingan ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan adanya bisnis yang tercipta, maka akan didapat dana untuk merehabilitasi dan mengendalikan serta menangani kerusakan lingkungan agar tidak semakin parah (Fandeli, 2012). Seiring waktu dengan adanya keterlibatan dan peran aktif dari masyarakat lokal, konsep ekowisata mengalami perkembangan menjadi ekowisata berbasis masyarakat. Denman (2001) menjelaskan, ekowisata berbasis masyarakat (EBM) mengambil dimensi sosial yang lebih jauh. EBM merupakan sebuah bentuk ekowisata, dimana masyarakat lokal memiliki kendali penuh yang substansial dalam manajemen dan pengembangan ekowisata, dan proporsi keuntungan yang utama menjadi milik masyarakat. Aktivitas ekowisata dalam pengelolaan kawasan hutan konservasi/taman nasional merupakan implementasi dari pasal 5 huruf c dalam UU no 5 tahun 1990 yang menyatakan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Penelitian tentang pengelolaan lingkungan melalui kegiatan wisata terbatas telah beberapa kali dilakukan diantaranya Nursyamsiah (2009) dan Hudisaputra (2012) dalam tesisnya menggunakan pendekatan kajian wisata dengan memadukan konsep lansekap dan menghubungkannya dengan konsep ekowisata sebagai wisata yang berkelanjutan. Hubungan lansekap dan ekowisata dalam kajian ini adalah pada potensi pengembangan ekowisata. Sementara itu Yan-li, et al. (2004) dan Siregar (2011) dalam penelitiannya menggunakan analisis multipihak (stakeholders) pada pengembangan ekowisata di kawasan hutan konservasi. Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) Lebih lanjut Lubis (2006), dan Nugraheni (2002) dalam penelitiannya melakukan analisis perencanaan pengembangan ekowisata di kawasan hutan konservasi melalui proses partisipatif dengan memperhatikan sensitifitas ekosistem, potensi sumberdaya alam dan optimalisasi peran serta masyarakat. Hal inilah yang membedakan dengan penelitian yang akan saya lakukan yaitu menjelaskan implementasi dan implikasi dari pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat serta menetapkan strategi pengembangan ekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo. Taman nasional merupakan kawasan dilindungi (protected areas) kategori II berupa daratan dan/atau lautan yang ditunjuk untuk (IUCN, 2008): Melindungi integritas ekologi dari satu atau lebih ekosistem bagi generasi sekarang dan generasi masa depan. Menghindari eksploitasi dan/atau penggunaan yang bertentangan dengan tujuan penetapan daerah tersebut dan Memberikan dasar untuk peluang spiritual, ilmu pengetahuan (ilmiah), pendidikan, dan rekreasi, yang semuanya harus kompatibel atau selaras dengan aspek lingkungan dan budaya. Dalam UU 5 Tahun 1990 dijelaskan bahwa taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Ditunjuknya suatu kawasan menjadi taman nasional harus memenuhi kriteriakriteria sebagai berikut (PP no.28 tahun 2011): Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik berupa jenis flora fauna dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami. Merupakan wilayah yang dapat p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan atau zona lainnya sesuai keperluan. Permenhut P.56/2006 memungkinkan penetapan ruang taman nasional sampai 7 zona berdasarkan fungsi konservasi dan pemanfaatan. Namun untuk mempermudah pengelolaan, proses penetapan dan pengaturan tata batas, sebaiknya penataan ruang taman nasional disederhanakan dengan membagi ruang taman nasional menjadi hanya dua zona yakni zona pemanfaatan (zona khusus) dan zona bukan pemanfaatan (zona inti). Zona khusus seharusnya merupakan hasil kesepakatan antar pihak yang dikelola secara kolaboratif sebagai satu kesatuan dengan taman nasional, tujuannya untuk menyatukan pembangunan masyarakat dengan konservasi (Mulyana, et al., 2010). Pada konferensi World Tourism Organization (WTO) di Ottawa tahun 1991 dijelaskan wisata (tourism) merupakan aktivitas perjalanan seseorang atau sekelompok orang untuk menetap di negara atau di tempat-tempat di luar tempat tinggalnya untuk jangka waktu tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk tujuan rekreasi, bisnis atau tujuan lainnya (WTO, 1995). Pembangunan pariwisata memiliki peran signifikan dalam aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam aspek ekonomi, sektor pariwisata mengkontribusi devisa dari kunjungan wisatawan manca negara dan produk domestik bruto (PDB) beserta komponen-komponennya. Dalam aspek sosial, pariwisata berperan dalam penyerapan tenaga kerja, apresiasi seni, tradisi dan budaya bangsa, dan peningkatan jati diri bangsa. Dalam aspek lingkungan, pariwisata khususnya ekowisata dapat mengangkat produk dan jasa wisata seperti kekayaan dan keunikan alam dan laut, dan alat efektif bagi pelestarian lingkungan alam dan seni budaya tradisional (RPJMN 2009-2014 dalam Nugroho, 2011). Meningkatnya kesadaran akan isuisu lingkungan, berkaitan dengan kesadaran bahwa konsep pembangunan yang Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) 263 berlebihan di bidang pariwisata harus dihapuskan, telah menempatkan ekowisata di garis depan dari berbagai tindakan pengembangan pariwisata. Ekowisata dan juga pariwisata secara keseluruhan harus dikembangkan sejalan dengan program-program pembangunan yang berkelanjutan (Diamanti, 2008). Soemarwoto (2004) menambahkan pengembangan pariwisata dapat menimbulkan dampak negatif berupa vandalism atau kegiatan manusia yang merusak; pencemaran lingkungan yaitu polusi padat, gas, cair dan polusi suara; kerusakan hutan untuk pembuatan shelter atau tempat penginapan yang tidak memperhatikan aspek ekologis dan perilaku merusak seperti berkemah dan berapi unggun, serta dampak sosial budaya. Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pemikiran yang mendasari penelitian ini adalah adanya aktivitas ekowisata di kawasan TNTN yang dikelola oleh masyarakat lokal (dengan dukungan dari Balai TN Tesso Nilo dan LSM). p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 264 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) METODE Objek penelitian ini adalah pengelolaan ekowisata pada zona pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang berada di seksi pengelolaan taman nasional wilayah I Lubuk Kembang Bunga. Sasaran dalam penelitian ini yaitu kelompok masyarakat pengelola ekowisata dan stakeholders yang mendukung kegiatan ekowisata di TNTN. Secara administratif lokasi penelitian berada di zona pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo dan wilayah Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan strategi embedded konkuren yang menerapkan satu tahap pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif dalam satu waktu. Pada strategi penelitian ini, metode kuantitatif yang kurang dominan ditancapkan (embedded) ke dalam metode kualitatif yang lebih dominan (Creswell, 2013). Penelitian ini menggunakan data primer sebagai data utama yang diperoleh secara langsung di lapangan dan data sekunder sebagai data pendukung untuk melengkapi hasil penelitian. HASIL Kawasan hutan Tesso Nilo, dahulu dikenal sebagai kawasan Hutan Langgam, pada awalnya ditetapkan sebagai Hutan Produksi Terbatas untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dan produk kayu lainnya. Namun, seiring dengan hilangnya hutan maka permasalahan baru juga timbul. Pada tahun 1980 permasalahan gajah sudah mulai timbul karena dibukanya kawasan hutan Tesso Nilo untuk daerah pemukiman transmigrasi. Sejak itu gajah selalu mendatangi kampung dan merusak lahan tanaman masyarakat. Secara Astronomi kawasan TNTN terletak pada koordinat antara 000 05’ 40" dan 000 20’ 47" LS, dan antara 1010 35’ 21," dan 1020 03’ 57" BT. Secara administrasi TNTN terletak di dua kabupaten di Provinsi Riau yaitu Kabupaten Pelalawan seluas Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) 82.540 ha dan Kabupaten Indragiri Hulu seluas 533 ha. Berdasarkan survei yang dilakukan di dalam zona pemanfaatan TN Tesso Nilo, diketahui bahwa zona pemanfaatan TNTN memiliki keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna yang tinggi, seperti (Sukmantoro, et al., 2010): a. 21 jenis pohon endemik dan unik khas TN Tesso Nilo, diantaranya: Meranti (Shorea, sp.), Balam (Madhuca sericea), Bintangur (Calophyllum macrocarpum), Medang (Litsea resinosa), Keranji (Dialium platysepalum), Kulim (Scorodocarpus borneensis), Tampui (Baccaurea sp.), Resak (Vatica walichii), Gaharu (Aquilaria sp.), Kelat (Eugenia olavimyrtus). b. 51 jenis burung, diantaranya: Elangular Bido (Spilornis cheela), Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Sikepmadu Asia (Pernis sp.), Takur Tenggeret (Megalaima sp.), Cinenen Belukar (Orthotomus atrogularis), Beluk Ketupa (Ketupa ketupu), Gagak Hutan (Corvus enca), Bul-bul (Pycnonotus spp.), Pekaka Emas (Pelargopsis capensis), Bangau Sandang-lawe (Ciconia episcopus), Bubut Alang-alang (Centropus bengalensis), 10 jenis mamalia, diantaranya: Beruang Madu, Ungko, Siamang, Tapir, Bajing Kelapa, Bajing Bancirot, Gajah Sumatera, Kera ekor panjang, Ungko Lengan Putih. Berdasarkan hasil identifikasi potensi kawasan TN Tesso Nilo sebagai lokasi ekowisata dan memperhatikan kondisi masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga, membuat pihak WWF IndonesiaProgram Riau (atau disingkat WWF Riau) menginisiasi pembentukan kelompok masyarakat ekowisata TNTN. Hingga pada tanggal 30 Desember 2011, terbentuklah kelompok masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga yang disebut Kelompok Kempas sebagai kelompok yang menyelenggarakan kegiatan ekowisata di zona pemanfaatan TNTN. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci dan observasi di lapangan terkait penerapan prinsip ekowisata berbasis masyarakat, diketahui p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) bahwa dalam pelaksanaan aktivitas ekowisata di kawasan TN Tesso Nilo, masih memiliki beberapa kekurangan, seperti: Belum adanya perjanjian kerjasama diantara pihak Balai TN Tesso Nilo dengan pihak Kempas dalam pelaksanaaan aktivitas ekowisata di TNTN. Tidak adanya perjanjian kerjasama atau izin tertulis dari Balai TN tesso Nilo, tidak menjadi sebuah halangan bagi kelompok Kempas untuk menjalankan aktivitas ekowisata di TNTN. Balai TN Tesso Nilo memberikan keleluasaan bagi Kelompok Kempas untuk mengelola aktivitas ekowisata, karena diantara kedua pihak tidak terdapat perbedaan kepentingan yaitu memanfaatkan zona pemanfaatan TNTN untuk kegiatan ekowisata dengan penuh tanggung jawab (dalam arti tidak merusak kawasan TNTN). Hal ini sesuai dengan Hernoko (2008) pada dasarnya suatu perjanjian kerjasama berawal dari terjadinya perbedaan kepentingan diantara para pihak yang bersangkutan. Kelompok Kempas secara khusus belum melakukan kegiatan perlindungan flora dan fauna khas kawasan TN Tesso Nilo. Namun, kelompok Kempas selalu menawarkan kegiatan penanaman tanaman yang merupakan tumbuhan asli kawasan TN Tesso Nilo kepada wisatawan. Kegiatan penanaman di zona pemanfaatan merupakan salah satu cara meningkatkan kepedulian wisatawan terhadap kawasan TN Tesso Nilo. c) Aktivitas ekowisata yang dikelola oleh kelompok Kempas belum memberikan kontribusi dalam pendanaan atau donasi untuk program rehabilitasi kawasan TN Tesso Nilo. Hal ini menjadi sesuatu kelemahan dalam implementasi pengelolaan ekowisata oleh kelompok Kempas di TNTN, sebab pada prinsipnya ekowisata berbasis masyarakat merupakan sebuah alat populer dalam konservasi keanekaragaman hayati. Pengembangan usaha kreatif seperti kerajinan tangan (ukiran, lukisan, anyaman, dsb), produk makanan khas dan souvenir belum berjalan di dalam pengelolaan ekowisata di TNTN. Hal ini terjadi dikarenakan masyarakat lokal belum memiliki Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) 265 keterampilan dalam usaha kreatif, dan membutuhkan bimbingan khusus dari orang atau institusi yang berpengalaman dengan usaha kreatif. Dan Kelompok Kempas saat ini belum memiliki pusat informasi sebagai tempat penyebaran informasi bagi wisatawan perihal kawasan TNTN dan upaya konservasi keanekaragaman hayati di TN Tesso Nilo; dan informasi tentang sejarah, kesenian, dan budaya masyarakat Desa Lubuk Kembang bunga. PEMBAHASAN Strategi pengembangan ekowisata di zona pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo dapat dipilih strategi SO (menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang), sebagai berikut: Membentuk Kerjasama Pengelolaan Kolaboratif Zona Pemanfaatan TNTN Untuk mendukung pengembangan program ekowisata berbasis masyarakat di zona pemanfaatan TN Tesso Nilo, sebaiknya wilayah zona pemanfaatan TNTN dikelola secara kolaboratif oleh pihak Balai TN Tesso Nilo-Stakeholders- Masyarakat. Dalam mekanisme ini diharapkan seluruh pihak berkolaborasi dan berbagi peran, sehingga diharapkan akan meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas pengelolaan kawasan zona pemanfaatan TNTN serta membuka peluang bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara adil dan berkelanjutan. Pengelolaan kolaboratif zona pemanfaatan taman nasional untuk kegiatan ekowisata berbasis masyarakat sangat memungkinkan untuk dilakukan, karena hal ini diatur melalui Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.19/Menhut- II/2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan KSA dan KPA; dan diperkuat dengan Permenhut nomor P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan KSA dan KPA. Pengelolaan kolaboratif zona pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo diatur dalam peraturan menteri kehutanan dengan ketentuan tidak merubah status kawasan sebagai kawasan konservasi, kewenangan penyelenggaraan pengelolaan p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 266 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) tetap berada pada menteri kehutanan, dan pelaksanaan kegiatan dalam rangka kolaborasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kolaborasi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Beberapa kebutuhan yang teridentifikasi dalam pengembangan ekowisata di zona pemanfaatan TNTN berdasarkan hasil kajian pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat pada kawasan TNTN, dan hasil wawancara dengan para pihak, maka hal-hal yang dibutuhkan yaitu: Penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik di lokasi ekowisata TNTN, yaitu dengan pemasangan pembangkit listrik tenaga matahari (solar panel) atau tenaga angin (kincir angin) atau tenaga air (mikrohidro). Pembangunan atau perancangan mekanisme pengelolaan sampah dan limbah sanitasi, serta pengurangan polusi udara. Sehingga dengan dibangunnya mekanisme ini dapat meminimalisir dampak negatif lingkungan yang terjadi dari penyelenggaraan aktivitas ekowisata di kawasan TN Tesso Nilo. Pembangunan atau perbaikan fasilitas penunjang atraksi ekowisata. Atraksi ekowisata TNTN menawarkan daya tarik berupa keanekaragaman hayati fauna seperti burung (bird watching) dan mamalia. Perancangan model atau mekanisme dalam pengumpulan dana atau bantuan finansial dari pengunjung (wisatawan) yang dapat mendukung kegiatan konservasi dan restorasi kawasan TNTN melalui skema donasi atau paket wisata ramah lingkungan misalnya paket wisata adopsi pohon. Pengembangan atau diversifikasi atraksi wisata, dimana kawasan zona pemanfaatan TNTN memiliki bentang alam berupa sungai dan daratan (hutan) yang dapat digunakan untuk wisata olahraga. Paket wisata olahraga yang dapat dikembangkan yaitu bersepeda (forest biking), kegiatan olahraga berperahu kano, dan memancing. Untuk itu diperlukan penyediaan sarana atau peralatan yang memadai. Pembangunan kantor pusat informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyebaran informasi bagi wisatawan perihal aktivitas ekowisata TNTN, wisata Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) budaya masyarakat lokal, serta informasi perihal kawasan TNTN dan upaya konservasinya. Selain itu, pusat informasi juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat penyuluhan kehutanan, pendidikan lingkungan dan perpustakaan “rumah baca” bagi masyarakat lokal. ) Peningkatan dan perluasan peluang kerja masyarakat lokal melalui pelatihan yang mendorong terciptanya usaha kreatif seperti kerajinan tangan (ukiran, lukisan, anyaman rotan atau pandan, dsb), Peningkatan promosi ekowisata TNTN dengan melakukan perbaikan atau menggunakan metode baru dalam melakukan promosi seperti bekerja sama dengan agen perjalanan, penggunaan media sosial, kerjasama promosi dengan travel blogger dan membuat event khusus seperti mengundang grup atau organisasi wisata minat khusus seperti organisasi bird watcher nasional-internasional dan 9) Penggunaan sistem tiket untuk mengganti dokumen Simaksi dalam penyelenggaraan aktivitas ekowisata TNTN. Penggunaan sistem tiket dapat memudahkan calon wisatawan untuk berkunjung ke lokasi ekowisata TNTN, tanpa harus mengurus dokumen Simaksi ke kantor Balai TN Tesso Nilo. Hal ini dikarenakan jauhnya jarak kawasan TNTN dengan kantor Balai TN Tesso Nilo ± 90 km (setara 3 jam perjalanan). Lebih jauh, penggunaan tiket juga dapat mengakomodir kepentingan pemerintah daerah dalam bagi hasil berupa retribusi untuk PAD. Heywood dan Dulloo (2005) menyatakan, dalam konvensi keanekaragaman hayati artikel nomor 8 dijelaskan konservasi in-situ mengandung arti mempromosikan perlindungan ekosistem, habitat alami dan pemeliharaan populasi spesies di alam sekitarnya. Anonim (2013) menambahkan konservasi in- situ biasanya dilakukan pada lingkungan asal seperti pada kawasan taman nasional atau wilayah dilindungi lainnya seperti kawasan konservasi laut. Pada metode konservasi in-situ, spesies target dijaga di dalam ekosistem di mana spesies berada secara alami, tata guna lahan terbatas pada p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) 267 kegiatan yang tidak memberikan dampak merugikan pada tujuan konservasi habitat dan regenerasi spesies target tanpa manipulasi manusia. Konservasi jenis satwa in-situ, dengan melakukan program reintroduksi satwa ke dalam kawasan TNTN memungkinkan untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan kawasan TNTN memiliki luasan yang cukup sebagai lokasi program reintroduksi satwa. Satwa-satwa potensial yang bisa dimasukkan dalam program reintroduksi adalah satwa yang terlibat konflik dengan manusia atau satwa yang didapat dari hasil penegakan hukum seperti operasi pasar. Satwa-satwa ini harus menjalani program rehabilitasi sebelum akhirnya dilepasliarkan atau direintroduksi ke dalam kawasan TN Tesso Nilo. Strategi konservasi flora-fauna in-situ mutlak diperlukan, sehingga kegiatan ekowisata dapat mendukung kegiatan pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Dengan mengadopsi strategi ini, pengelolaan ekowisata pada akhirnya turut membantu dalam menjaga fungsi kawasan TN Tesso Nilo sebagai tempat perlindungan sistem penyangga kehidupan. Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Kab. Pelalawan. Kelompok Kempas dalam penyelenggaraan aktivitas ekowisata di TN Tesso Nilo telah menerapkan sebagian dan masih membutuhkan penyempurnaan dalam penerapan prinsip ekowisata berbasis masyarakat yang meliputi aspek konservasi, partisipasi masyarakat; ekonomi berbasis masyarakat; edukasi; dan pengembangan rencana tapak lokasi ekowisata. Implikasi pengelolaan ekowisata di TN Tesso Nilo yang dilakukan oleh kelompok Kempas yaitu (i) manfaat finansial; (ii) persepsi dan perilaku yang baik dari masyarakat, (iii) penghijauan kawasan TN Tesso Nilo; dan (iv) dampak lingkungan dari aktivitas ekowisata TNTN. Alternatif strategi pengelolaan kawasan TNTN dan pengembangan kegiatan ekowisata: Membentuk kerjasama pengelolaan kolaboratif di kawasan zona pemanfaatan TNTN untuk mendukung program ekowisata berbasis masyarakat. Penggabungan usaha konservasi in-situ dengan kegiatan ekowisata. SIMPULAN Dari penelitian ini dapat diambil simpulan sebagai berikut: Kelompok Kempas yang didukung oleh pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders), telah melakukan aktifitas pengelolaan lingkungan melalui kegiatan ekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo yang meliputi perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Perencanaan dilakukan secara bertahap dengan inisiatif datang dari LSM (WWF Riau). Pengorganisasian dalam kelompok Kempas telah memperlihatkan adanya struktur organisasi dan pembagian kerja yang baik. Pelaksanaan aktivitas ekowisata oleh kelompok Kempas sudah tertata dengan baik. Pengendalian terhadap aktivitas ekowisata dilakukan kelompok Kempas secara mandiri dan dibantu oleh pihak Balai TN Tesso Nilo, WWF Riau, dan Agustina, R. 2013. Strategi Pengembangan Ekowisata Jalak Bali Berbasis Masyarakat di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Unud: Tesis (Tidak dipublikasikan). Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) DAFTAR RUJUKAN Anggraheni, B.L. 2012. Pengetahuan Lokal Pemanenan Madu Hutan Tesso Nilo. IPB: Tesis (Tidak dipublikasikan). Anonim. Tanpa tahun. Ecotourism in Kerinci with Wild Sumatera. http://www.21stcenturytiger.org/do nate/tiger-shop/ecotourism-withwild- sumatra/. [3 November 2015]. Anonim. 2013. Metode Konservasi Genetik. Buletin Konservasi Biodiversitas Raja 4: 2 - 9. p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 268 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) Ariyanto, D. tanpa tahun. Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. http://tnalaspurwo.org/wpcontent/uploads/2012/04/art_makala h_tn_ basrot.pdf. [26 Agustus 2015]. Azizah, C. 2013. Metoda Analisis Kebutuhan Air dalam Mengembangkan Sumberdaya Air. Lentera: 13-1. Babbie, E. R. 2009. The Practice of Social Research. Wadsworth Publishing: 12 Edition. Balai Taman Nasional Kutai. 2009. Lokakarya Taman Nasional Kutai, Membangun Kesamaan Visi dan Kesatuan Gerakan dalam Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam Taman Nasional Kutai Secara Terpadu. http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/Pnach 567.pdf. [26 Agustus 2015]. Balai Taman Nasional Tesso Nilo. 2009. Review Rencana Pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo Tahun 2010-2029. (Tidak dipublikasikan). Balai Taman Nasional Tesso Nilo. 2010. Laporan Tahunan Balai Taman Nasional Tesso Nilo Tahun 2010. (Tidak dipublikasikan). Balai Taman Nasional Tesso Nilo. 2015a. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo Tahun 20152024. (Tidak dipublikasikan). Balai Taman Nasional Tesso Nilo. 2015b. Zonasi Taman Nasional Tesso Nilo. (Tidak dipublikasikan). Basalamah, F., et al. 2010. Status Populasi Satwa Primata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat. Jurnal Primatologi Indonesia, Vol.7, No.2, Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) 55-59. Pusat Studi Satwa Primata, Institut Pertanian Bogor. Bicard, S. C., Bicard, D. F. dan The Iris Center. (2012). Defining Behaviour. http://iris.peabody.vanderbilt.edu/c ase_studies/ICS-015.pdf. [3-112015] Bismark, M. dan Sawitri, R. 2007. Pengembangan dan Pengelolaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi. Makalah Utama pada Ekspose Hasil- Hasil Penelitian: Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bjork, P. 2000. Ecotourism from a conceptual perspective, an extended definition of a Unique Tourism form. International Journal of Tourism Research, 2, 189-202. Carlson, L. and Berkes, F. 2005. Comanagement: Concepts and Methodological Implications. Journal of Environmental Management 75, 65-76. Cresswell, J.W. 2013. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: Putaka Pelajar. Damanik, J. dan H.F. Weber 2006. Perencanaan Ekowisata, dari Teori ke Aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset. Denman, R. 2001. Guideline for Community Based Ecotourism Development. UK: WWF International. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF Indonesia. 2009. p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) Prinsip dan Kriteria, Ekowisata Berbasis Masyarakat. Diamanti, D. 1998. Environmental Auditing: A Tool In Ecotourism Development. Eco-Management and Auditing 5: 15-21. Evans, M.S. dan Birchenough, A.C. 2001. Community-based Management of the Environment: Lessons from the Past and Options for the Future. Aquatic conservation: Marine and Freshwater Ecosystem, 11, 137-147. Fadlilah, A.Y. 2015. Kajian CO-management Dalam Pengelolaan Lingkungan Pada Program Biogas Rumah (Biru) di Kabupaten Ponorogo. Unpad: Tesis (tidak dipublikasikan). Fandeli, C. 2002. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Fandeli, C. 2012. Bisnis Konservasi, Pendekatan Baru dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Fandeli, C. dan M. Nurdin. 2005. Pengembangan Ekowisata Berbasis Konservasi di Taman Nasional. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan dan Pusat Studi Pariwisata UGM. Gillison, A.N. 2001. Vegetation survey and habitat assessment of the Tesso Nilo forest complex. Biodiversity Survey in Tesso Nilo Sumatera Indonesia. WWF-US. Graburn, N.H.H. 2001. What is Tradition? Museum Anthropology 24 (2/3), 611. Gui Yan-li, Fan Yan-gang, dan Liu Ji-sheng. 2004. Community-Based Ecotourism Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) 269 in Nature Reserve of China. Chinese Geographical Science Vol. 14, Nomor 3, hal. 276-282. Hackel, J.D. 1999. Community Conservation and the Future of Africa's Wildlife. Conservation Biology, 13, 4, 726-734. Hernoko, A.Y. 2008. Hukum Perjanjian Azas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial. Jogjakarta: Laksbang Mediatama. Heywood, V. H. dan M.E. Dulloo. 2005. In-situ Conservation of Wild Plant Species: a critical global review of good practices. IPGRI Technical Bulletin No.11. Hudisaputra, A.K. 2012. Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, Melalui Pengembangan Ekowisata. Unpad: Tesis (tidak dipublikasikan). Indrawan, M., et.al. 2014. Co-management and the creation of national parks in Indonesia: positive lessons learned from the Togean Islands National Park. Journal of environmental planning and Management, 57, 8, 1183- 1199. Indriyanto. 2012. Menghayati Makna Peringatan Hari Bumi. Unila: Artikel Ilmiah. IUCN. 2008. Defining Protected Areas: an international conference in Almeria, Spain. Gland, Switzerland: International Union for Conservation of Nature. 220 pp. Jogja Tourism Training Center Universitas Gadjah Mada (JTTCUGM). Tanpa Tahun. Faktor Pendukung Ekowisata. http://jttcugm.com/faktorp.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 270 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) pendukung-ekowisata/. 2014]. [17 Juli Kementerian Dalam Negeri. 2013. Petunjuk Pelaksanaan Dekonsentrasi, Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Ekowisata Berbasis Masyarakat. Direktorat Jenderal Bina Pembangunan DaerahKementerian Dalam Negeri. Kementerian Kehutanan. 2010. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam tahun 2010-2014. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan UNDP. 2000. Agenda Pariwisata Untuk Pengembangan Kualitas Hidup Secara Berkelanjutan. Kiss, A. 2004. Is Community-Based Ecotourism a Good Use of Biodiversity Conservation Funds?. TRENDS in Ecology and Evolution Vol. 19 N0.5. Mitchell, B., B. Setiawan, dan D.H. Rahmi. 2010. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Mitchell, R., Wooliscroft, B., dan Higham, J.E.S. 2013. Applying Sustainability in National Park Management: Balancing Public and Private Interest Using a Sustainable Market. Journal of Sustainable tourism. 21, 5, 695715. Mulyana, A., et al. 2010. Kebijakan Pengelolaan Zona Khusus, Dapatkah Meretas Kebuntuan Dalam Menata Ruang Taman Nasional di Indonesia? http://www.cifor.org/publications/ pdf_files/infobrief/001- BriefI.pdf. [26 Agustus 2015]. Nugroho, I. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lannon, R. 2008. 12 Rules of Delegation. http://www.pmhut.com/12-rules-ofdelegation. [26 Agustus 2015]. Nursyamsiah. 2009. Kajian Potensi Pengembangan Ekowisata Pada Lansekap Panaruban, Kabupaten Subang. Unpad: Tesis (tidak dipublikasikan). LIPI (Pusat Penelitian Biologi) dan WWF Indonesia. 2003. Keanekaragaman Hayati di Tesso Nilo, Provinsi Riau. (Tidak Dipublikasikan). Pusat Penelitian Biologi LIPI dan WWF Indonesia. 2003. Keanekaragaman Hayati di Tesso Nilo, Provinsi Riau. Lubis, Rakatama, A. 2013. Kegiatan Ekstraksi Kayu Bakar Dari Taman Nasional Way Kambas Untuk Pemenuhan Energi Rumah Tangga. Unpad: Tesis (tidak dipublikasikan). H.S. 2006. Perencanaan Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas Di Kawasan Wisata Tangkahan Kabupaten Langkat Sumatera Utara. USU: Tesis (tidak dipublikasikan). MacKinnon, J dan Kathy Mackinnon. 1986. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) Rice, D. 2001. Community Based Forest Management: The Experience of the Ikalahan. Forest, Trees and Livelihoods, 11, 127-148. p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) 271 Riharno, et al. 2009. Menuju Pengelolaan Taman Nasional Mandiri: Pengelolaan Berbasis Resort, di Taman Nasional Alas Purwo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. IPB: Artikel Ilmiah. (tidak dipublikasikan). Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Rochmantyo, Y. 2014. Cadangan Karbon Pada Berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Jogjakarta: Kanisius. Sukmantoro, W., et al. 2010. Assesment on Ecotourism in Tesso Nilo National Park and Its Surrounding Areas. WWF Indonesia-Program Riau: Technical Report. Rodwell LD., Lowther J., Hunter C., Mangi SC. 2014. Fisheries co-management in a new era of marine policy in the UK?: A preliminary assessment of stakeholder perceptions. Marine Policy 45:279–286. Sastrayuda, G. S. 2010. Konsep Resort and Leisure: Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort and Leisure. STBA Yapari-ABA: Handout Mata Kuliah. Sekartjakrarini, S. 2004. Ekowisata: Batasan dan Pengertian. Dalam Seri Ekowisata. Jakarta: IdeA. Sen, S., dan Nielsen, J.R. 1996. Fisheries Co-Management: A Comparative Analysis. Marine Policy, 20, 5, 405418. Senyk, J. 2005. Lessons from the Equator Initiative: Community-based Management by Pred Nai Community Forestry Group in the Mangroves of Southeastern Thailand. Winnipeg: Natural Resources Institute. University of Manitoba. Shackelton, S., et al. 2002. Devolution and Community-Based Natural Resource Management: Creating Space for Local People to Participate and Benefit? ODI, Natural Resource Perspective (76). Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) Soemarwoto, O. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan. Sulistiani, S.N., et al. 2011. Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat di Desa Malasari, Taman Nasional Gunung Halimun Salak. IPB: Artikel Ilmiah (tidak dipublikasikan). Suwantoro, G. 1997. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi. Sumardi, dkk. 1997 Penilaian Nilai Budaya Daerah Dalam Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta Depdikbud. Yogyakarta Syahid, A. R. 2015. Ecotourism, Pariwisata Berwawasan Lingkungan. http://studipariwisata.com/analisis/ ecotourism-pariwisataberwawasan- lingkungan/. [23 November 2015]. Terry, G. R. 1986. Asas-Asas Manajemen. Bandung: Penerbit Alumni. Thakadu, O. T. 2005. Success Factors in Community-based Natural Resources Management in Northern Botswana: Lessons from Practice. Natural Resource Forum. 29, 199-212. Tran, D.T.T., et al. 2015. Tourists’ Preferences Toward Ecotourism p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356 272 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri, Fauzan Kahfi) Developtment and Sustainable Biodiversity Conservation in Protected Areas of Vietnam – The Case of Phu My Protected Area. Journal of Agricultural Science. 7. 8. 81-89. Trimble M. dan Berkes F. 2013. Participatory research towards comanagement: Lessons from artisanal fisheries in coastal Uruguay. Journal of Environmental Management 128: 768–778. Kalimantan Barat. http://www.wwf.or.id/?40164/Men gelola-EkowisataBerbasisMasyarakat-di-Kalimantan-Barat. [23 November 2015]. Yara, R.A. 2011. Studi Pengembangan Ekowisata di Kawasan Karst Citatah Padalarang Bandung. Unpad: Tesis (tidak dipublikasikan). Wahyuni, N.I. dan Mamonto, R. 2012. Persepsi Masyarakat Terhadap Taman Nasional dan Sumberdaya Hutan: Studi Kasus Blok Aketajawe, Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Info BPK Manado Vol. 2 No.1. Wallace, G., dan Pierce, S. 1996. An Evaluation of Ecotourism in Amazonas, Brazil. Annals of Tourism Research, 23, 4, 843-873. World Agroforestry Center. Tanpa tahun. Pemeliharaan Permudaan Alam. http://worldagroforestry.org/sea/Pub lications/files/book/BK003404/BK0034-04-6.pdf. [23 November 2015]. World Bank. 1999. Report from the International Workshop on Community-Based natural Resource Management (CBNRM), Washington, DC. World Tourism Organization. 1995. UNWTO Technical Manual: Collection of Tourism Expenditure Statistic. http://pub.unwto.org/WebRoot/Store / Shops/Infoshop/Products/1034/1034 -1.pdf. [26 agustus 2015]. WWF Indonesia. 2015. Mengelola Ekowisata Berbasis Masyarakat di Jurnal Daya Saing (Vol. 5, No. 3 Okober 2019) p.ISSN: 2407-800X e.ISSN: 2541-4356