Vol. 6, No. 1, Juni 2025, pp 155-165 https://doi.org/10.36590/jagri.v6i1.1445 http://salnesia.id/index.php/jagri jagri@salnesia.id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) ARTIKEL PENGABDIAN Peningkatan Literasi Keuangan Rumah Tangga melalui Media Edukasi Nutriladder di Lokus Stunting Kota Sukabumi Improving Household Financial Literacy through Nutriladder Educational Media at the Stunting Locus of Sukabumi City Delita Septia Rosdiana1*, Laely Purnamasari2, Anisa Nur Wulan1 1 Program Studi Gizi, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia 2 Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Sosial dan Ekonomi, Universitas Linggabuana PGRI Sukabumi, Sukabumi, Indonesia Abstract Stunting is one of the serious nutritional problems that currently has not been resolved. One of the risk factors for stunting is economic factors. The level of household financial management plays an important role in choosing nutritious food for each family member. This community service aims to improve family welfare and reduce the risk of stunting by providing knowledge on financial literacy,. Community service activities were carried out in Sukakarya Village, Sukabumi Regency with a total of 46 housewives attending. The education provided was about household budget management and balanced nutrition knowledge. The methods used were lectures, filling out questionnaires, and Nutriladder educational game. The results showed that 80% of participants did not understand financial literacy and did not have savings or insurance. This education is expected to improve family financial decision-making and support efforts to prevent stunting. Keywords: balanced nutrition, financial literacy, stunting Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) Address: Jl. Dr. Ratulangi No. 75A, Baju Bodoa, Maros Baru, Kab. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Submitted 20 Januari 2025 Revised 22 Juni 2025 Accepted 30 Juni 2025 Email: info@salnesia.id, jagri@salnesia.id Phone: +62 85255155883 155 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Abstrak Stunting merupakan salah satu masalah gizi serius yang hingga saat ini belum teratasi. Salah satu faktor risiko terjadinya stunting adalah faktor ekonomi. Tingkat pengelolaan keuangan rumah tangga memegang peranan penting dalam memilih makanan bergizi bagi setiap anggota keluarga. Pengabdian ini dilakukan bertujuan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan keluarga dan penurunan risiko terjadinya stunting dengan memberikan pengetahuan mengenai literasi keuangan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Sukakarya, Kabupaten Sukabumi dengan jumlah peserta sebanyak 46 orang ibu rumah tangga. Edukasi yang diberikan adalah tentang pengelolaan anggaran rumah tangga dan pengetahuan gizi seimbang. Metode yang digunakan adalah ceramah, pengisian kuesioner, dan permainan edukatif Nutriladder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% peserta belum memahami literasi keuangan dan belum memiliki tabungan maupun asuransi. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan keuangan keluarga dan mendukung upaya pencegahan stunting. Kata Kunci: gizi seimbang, literasi keuangan, stunting *Penulis Korespondensi: Delita Septia Rosdiana, email: delitaseptia@upi.edu This is an open access article under the CC–BY license Highlight: • • Sebanyak 80,4% ibu rumah tangga di lokasi pengabdian belum melakukan pencatatan pengeluaran, belum memiliki tabungan atau asuransi, dan cenderung bergantung pada utang atau bantuan pihak lain. Hal ini mencerminkan rendahnya literasi keuangan, yang berpotensi mempengaruhi kesejahteraan keluarga dan meningkatkan risiko stunting akibat alokasi anggaran pangan yang tidak optimal. Penggunaan permainan edukatif “Nutriladder” terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta terhadap materi gizi seimbang dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Media interaktif ini membantu peserta memahami konsep literasi keuangan secara menyenangkan dan aplikatif, serta mendorong perubahan perilaku ke arah pengelolaan keuangan yang lebih bijak dalam mendukung pencegahan stunting. PENDAHULUAN Tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak beberapa tahun terakhir (Berliani, 2021). Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia memberikan berbagai dampak positif maupun negatif, diantaranya adalah tersedia tenaga kerja yang cukup banyak dalam meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat (Sari et al., 2023). Namun, di satu sisi peningkatan jumlah penduduk berdampak pada kualitas lingkungan masyarakat yang menurun akibat dari kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Salah satu dampak dari meningkatnya populasi di Indonesia adalah risiko kesehatan (Karyati dan Julia, 2021). Kesehatan berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membantu meningkatkan kualitas ekonomi (Berliani, 2021). Dalam upaya 156 Rosdiana1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 meningkatkan kualitas ekonomi, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah kualitas kesehatan masyarakat, dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga (Nurwati dan Listari, 2021). Keluarga sebagai unit terkecil di lingkungan masyarakat memiliki peran penting dalam proses kehidupan setiap orang. Kondisi kesehatan keluarga termasuk hal penting yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya risiko gangguan kesehatan yang serius sejak usia dini, seperti kekurangan gizi dan masalah stunting (Agustin dan Rahmawati, 2021). Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan status gizi <-2SD. Masalah stunting di Indonesia saat ini masih menjadi topik serius yang banyak dibicarakan dengan melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka kejadian stunting (Arifuddin et al., 2023). Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di Indonesia hanya mengalami penurunan sebanyak 0,1% dari semula 21,6% menjadi 21,5% (SKI, 2023). Di Indonesia, stunting menjadi masalah gizi utama yang sedang dihadapi. Masalah stunting dapat berdampak pada masalah yang cukup serius seperti risiko penyakit tidak menular, penurunan kualitas sumber daya manusia, dan penurunan tingkat ekonomi (Agustin dan Rahmawati, 2021). Proses tumbuh kembang yang tidak optimal berisiko pada gangguan kognitif sehingga menyebabkan penurunan kemampuan produktivitas di usia dewasa. Kondisi ini dapat berpengaruh pada pengelolaan ekonomi tingkat individu dan rumah tangga (Nurwati dan Listari, 2021). Pengambilan keputusan ekonomi sehari-hari terutama terkait konsumsi pangan menjadi kunci dalam mencegah terjadinya masalah gizi seperti stunting. Pengelolaan keuangan rumah tangga merupakan hal mendasar yang dapat menentukan status kehidupan suatu keluarga (Mireku et al., 2023). Konsep pengelolaan keuangan rumah tangga yang berdampak pada kesehatan anggota keluarga mempengaruhi daya beli makanan dan non makanan yang dibutuhkan (Yulianti et al., 2024). Pengelolaan keuangan rumah tangga termasuk dasar keterampilan yang perlu dimiliki oleh suami ataupun istri dalam mengelola keuangan dengan efektif (Karyati dan Julia, 2021). Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 65,43% (Fadilla et al., 2024). Indeks literasi keuangan merupakan ukuran pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan masyarakat yang diukur melalui survei (Yushita, 2017). Literasi keuangan bertujuan untuk memahami proses pengelolaan anggaran keuangan dengan tepat (Lindiawatie dan Shahreza, 2021). Perilaku konsumsi dan belanja yang tidak sesuai dengan kebutuhan dapat menyebabkan terjadinya pengeluaran lebih sehingga tidak mampu mengalokasikan dana pada kebutuhan lainnya (Lindiawatie dan Shahreza, 2021). Menurut Hidayat (2018), banyak masyarakat kelas menengah di wilayah perkotaan di Indonesia lebih memilih membeli produk berdasarkan faktor sosial daripada mempertimbangkan nilai guna. Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi keluarga berisiko stunting mengenai literasi keuangan rumah tangga di Kelurahan Sukakarya Kabupaten Sukabumi. METODE Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di wilayah Kelurahan Sukakarya Kabupaten Sukabumi yang merupakan salah satu wilayah lokus stunting di Sukabumi pada tanggal 13 Juni 2024 yang melibatkan masyarakat sekitar dengan total 157 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 46 orang ibu rumah tangga. Pada kegiatan ini digunakan media edukasi berupa permainan “Nutriladder” untuk meningkatkan pengetahuan para ibu terkait literasi gizi, makanan gizi seimbang, dan literasi keuangan rumah tangga. Media edukasi “Nutriladder” merupakan inovasi media edukasi gizi yang dibuat untuk sasaran masyarakat luas. Selain melakukan permainan gizi, dilakukan kegiatan pengisian kuesioner terkait literasi keuangan rumah tangga dan penyuluhan tentang gizi seimbang dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Tahapan pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Berikut disajikan diagram tahap pelaksanaan kegiatan penyuluhan menggunakan media edukasi “Nutriladder”. Persiapan media permainan “Nutriladder” Pengisian Kuesioner dan Sosialisasi Pelaksanaan permainan edukasi “Nutriladder” Evaluasi kegiatan Gambar 1. Diagram alir pelaksanaan pengabdian kepada menggunakan media edukasi “Nutriladder” masyarakat Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan dilakukan serangkaian kegiatan yang meliputi penyusunan materi penyuluhan dalam bentuk presentasi visual, penyusunan instrumen kuesioner untuk mengukur literasi keuangan rumah tangga, serta persiapan media permainan edukatif berbasis gizi yang diberi nama “Nutriladder”. Tahap pelaksanaan, diawali dengan pengisian kuesioner oleh peserta untuk mengidentifikasi tingkat awal pemahaman mereka terkait pengelolaan keuangan rumah tangga. Selanjutnya dilakukan penyuluhan materi dengan menggunakan media PowerPoint yang membahas topik seputar literasi keuangan dan pentingnya pemenuhan gizi keluarga. Setelah sesi penyuluhan, peserta mengikuti permainan edukatif “Nutriladder” sesuai dengan alur dan instruksi yang telah disiapkan oleh tim pelaksana. Permainan ini tidak hanya bersifat interaktif dan menyenangkan, tetapi juga dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Tahap evaluasi dilakukan dengan mengamati keterlibatan peserta selama mengikuti permainan “Nutriladder” sebagai metode alternatif untuk menilai peningkatan pengetahuan. Permainan ini menjadi media reflektif yang memungkinkan peserta menguji pemahaman mereka terkait isi penyuluhan secara aplikatif. Pendekatan ini memberikan gambaran mengenai efektivitas kegiatan dalam meningkatkan literasi gizi dan keuangan rumah tangga pada sasaran program. 158 Rosdiana1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan edukasi dan pelaksanaan permainan “Nutriladder” Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di salah satu lokus stunting di Kota Sukabumi, Kelurahan Sukakarya pada bulan Juni 2023. Pelaksanaan pengabdian Masyarakat ini merupakan rangkaian kegiatan dari P2MB Tematik Stunting yang dilaksanakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia yang bekerjasama dengan BKKBN Provinsi Jawa Barat dalam upaya penanganan stunting. Edukasi kepada ibu balita dan kader PKK ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan dan berhubungan dengan penyediaan makanan bergizi di rumah bagi kelompok berisiko stunting di kelurahan tersebut. Proses kegiatan dimulai dengan memberikan edukasi dan informasi mengenai materi food budgeting, gizi seimbang dan informasi umum mengenai stunting. Tahapan berikutnya adalah sesi tanya jawab dan diakhiri dengan penguatan materi berupa permainan yang diadaptasikan dari ular tangga yang disebut dengan “Nutriladder”. Gambar 2. Pelaksanaan edukasi gizi Permainan “Nutriladder” dirancang sebagai media edukasi interaktif yang melibatkan partisipasi aktif peserta dalam memahami materi gizi dan literasi keuangan. Permainan ini dimainkan secara berkelompok, dengan jumlah anggota dalam satu tim terdiri dari 3 hingga 5 orang. Setiap anggota tim memiliki peran berbeda, yakni satu orang bertugas sebagai pemain utama yang bergerak di area permainan “Nutriladder”, satu orang bertugas menyampaikan jawaban kepada panitia, sementara anggota lainnya mencari kartu jawaban yang disediakan oleh tim pelaksana. Permainan ini dilengkapi dengan kotak misteri yang berisi berbagai elemen kejutan seperti hadiah, pertanyaan seputar materi edukasi, serta pertanyaan yang dirancang untuk menguji ketelitian peserta. Pelaksanaan permainan dilakukan secara bergiliran antar kelompok, dan permainan berakhir ketika salah satu tim berhasil mencapai titik akhir atau “finish” pada lintasan “Nutriladder”. Strategi ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan peserta, tetapi juga memperkuat pemahaman mereka terhadap materi dengan cara yang menyenangkan dan kompetitif. Pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan dengan total subjek sebanyak 46 orang yang hadir dan ikut serta kegiatan. Tabel berikut menyajikan kondisi sosio-demografi subjek yang terdiri atas usia dan kondisi umum subjek. 159 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Gambar 3. Media edukasi “Nutriladder” Berdasarkan Tabel 1 diketahui rata-rata subjek yang mengikuti kegiatan sosialisasi belajar literasi keuangan mayoritas ibu rumah tangga berusia 40-59 tahun (65,3%) dengan status perkawinan ibu menikah sebanyak 91,3%. Selain itu, diketahui juga rata-rata usia subjek saat menikah berada di usia ideal pernikahan yaitu 17-29 tahun sebanyak 37 orang (80,4%). Ditinjau dari usia subjek, dalam kegaitan sosialisasi literasi keuangan ini lebih banyak diikuti oleh ibu rumah tangga yang berusia lebih dari 40 tahun. Kelompok usia dewasa termasuk kelompok yang sudah mendapatkan cukup banyak terkait sistem pengelolaan keuangan khususnya pada pengelolaan keuangan rumah tangga. Namun, diperlukan peningkatan pengetahuan terkait literasi keuangan mengingat semakin tingginya kondisi ekonomi dan pengeluaran yang dibutuhkan. Variabel Usia 21-39 tahun 40-59 tahun >59 tahun Status perkawinan Menikah Janda/ duda Usia saat menikah <17 tahun 17-29 tahun >29 tahun Tabel 1. Kondisi sosio-demografi subjek Frekuensi (n=46) Persentase (%) 14 30 2 30,4 65,3 4,3 42 4 91,3 8,7 7 37 2 15,2 80,4 4,3 Kegiatan sosialisasi literasi keuangan ini meliputi kegiatan pengisian kuesioner dimana subjek akan menjawab beberapa pertanyaan terkait keuangan rumah tangga, pendapatan, banyaknya pengeluaran yang digunakan untuk jenis makanan dan nonmakanan, serta kepemilikan tabungan dan asuransi dalam keuangan rumah tangga. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner literasi keuangan rumah tangga, diperoleh ratarata hasil kuesioner pada Tabel 2. 160 Rosdiana1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Tabel 2. Hasil kuesioner literasi keuangan rumah tangga Frekuensi Variabel Persentase (%) (n=46) Selalu mencatat pengeluaran Ya 9 19,6 Tidak 37 80,4 Mengetahui manfaat mencatat pengeluaran Ya 24 52,2 Tidak 22 47,8 Frekuensi mencatat keuangan Setiap hari 6 13 Setiap minggu 3 6,5 Setiap bulan 2 4,3 Tidak pernah 12 26,1 Sesekali 21 45,6 Besaran pengeluaran untuk jenis pangan per hari < Rp 20.000 0 0 Rp 20.000 – Rp 50.000 31 67,4 >Rp 50.000 15 32,6 Jenis pangan yang dibeli setiap hari >2 jenis 2 4,3 2-4 jenis 35 76 >4 jenis 9 19,6 Besaran pengeluaran jenis non-pangan per hari < Rp 20.000 6 13 Rp 20.000 – Rp 50.000 35 76 >Rp 50.000 5 11 Memiliki hutang untuk belanja rumah tangga Ya 19 41,4 Tidak 27 58,6 Memiliki asuransi Ya 7 15,2 Tidak 39 84,8 Jenis Asuransi yang dimiliki Asuransi kesehatan 4 8,7 Asuransi rumah 1 2,2 Asuransi jiwa 2 4,3 Tidak punya 39 84,8 Memiliki Tabungan Ya 9 19,6 Tidak 37 80,4 Kecukupan kebutuhan berdasarkan pendapatan yang dimiliki Ya 16 34,8 Tidak 30 65,2 Cara menambah pemasukan anggaran keluarga Tidak, hanya mengandalkan pemberian 15 32,6 Berhutang 8 17,4 Menambah jenis pekerjaan lain 23 50 161 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Perilaku pencatatan keuangan rumah tangga Berdasarkan hasil kuesioner yang ditampilkan dalam Tabel 2, hanya 19,6% ibu rumah tangga yang secara rutin mencatat pengeluaran keuangan rumah tangga, sementara 80,4% lainnya belum melakukan pencatatan keuangan secara konsisten. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran dan kebiasaan dalam mengelola keuangan secara tertib di tingkat rumah tangga. Pencatatan keuangan memiliki peran penting dalam mengatur aliran kas masuk dan keluar, serta membantu dalam proses perencanaan dan evaluasi penggunaan keuangan rumah tangga secara lebih objektif dan terukur (Lindiawatie dan Shahreza, 2021). Perilaku pencatatan keuangan menjadi indikator awal literasi keuangan. Melalui pencatatan yang teratur, keluarga dapat memantau sejauh mana kebutuhan hidup dipenuhi, mengidentifikasi pengeluaran yang tidak penting, serta merencanakan keuangan masa depan dengan lebih bijak (Pradinaningsih dan Wafiroh, 2022). Walaupun hanya sebagian kecil subjek yang mencatat keuangan, sekitar 50% dari total subjek sudah mengetahui manfaat dari kegiatan ini. Adanya peluang besar untuk mengembangkan program edukasi keuangan dapat mengubah pengetahuan menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan mencatat pengeluaran juga dapat memperkuat kontrol keuangan rumah tangga, terlebih dalam kondisi pendapatan yang terbatas. Menurut Brillianti dan Kautsar (2020), pencatatan keuangan yang dilakukan secara detail dapat membantu menghindari pemborosan dan memberikan dasar dalam pengambilan keputusan finansial yang lebih baik. Maka dari itu, pembiasaan mencatat keuangan seharusnya menjadi bagian dari edukasi literasi keuangan dasar, terutama bagi ibu rumah tangga yang berperan penting dalam mengelola ekonomi keluarga. Pengeluaran kebutuhan pangan dan non-pangan Berdasarkan tabel diatas, diketahui rata-rata pengeluaran keluarga untuk kebutuhan pangan adalah sekitar Rp 20.000 – Rp 50.000 sebanyak 31 subjek (67,4%). Jenis pangan yang dibeli biasanya 2–4 jenis, yang mencerminkan keterbatasan variasi konsumsi. Dalam konteks ekonomi rumah tangga, alokasi dana tersebut perlu dioptimalkan agar tidak hanya mencukupi kebutuhan kuantitatif tetapi juga berkualitas secara gizi. Edukasi mengenai pengelolaan belanja pangan yang sehat dan ekonomis menjadi penting agar ibu rumah tangga dapat memprioritaskan pangan lokal yang murah namun bergizi tinggi, seperti sayuran daun, tahu-tempe, ikan lokal, dan buah musiman. Selain kebutuhan pangan, sekitar 76% subjek juga mengalokasikan dana sebesar Rp. 20.000 – Rp. 50.000 untuk kebutuhan non-pangan. Kebutuhan ini meliputi biaya transportasi, sandang, rekreasi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Bila tidak dikendalikan dengan baik, pengeluaran non-pangan dapat menggerus dana untuk kebutuhan pokok seperti pangan atau kesehatan (Brillianti dan Kautsar, 2020). Hal ini semakin penting mengingat mayoritas subjek belum melakukan pencatatan keuangan, sehingga risiko overbudgeting terhadap hal-hal non-esensial menjadi tinggi. Pemahaman ibu rumah tangga terhadap prioritas kebutuhan sangat menentukan efektivitas alokasi keuangan keluarga. Pengetahuan gizi dan keterampilan manajemen keuangan harus dikembangkan seiring untuk mendorong konsumsi pangan bergizi dan pengelolaan pengeluaran non-pangan yang rasional (Yulianti et al., 2024). Literasi ini mendukung upaya menciptakan ketahanan ekonomi keluarga, khususnya dalam kondisi ekonomi yang fluktuatif. 162 Rosdiana1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Kepemilikan hutang, asuransi dan tabungan Berdasarkan total subjek sebanyak 46 orang, diketahui sebanyak 19 orang masih memiliki hutang untuk belanja keperluan rumah tangga. Banyaknya subjek masih memiliki utang yang disebabkan untuk memenuhi pangan rumah tangga dapat menunjukkan bahwa subjek masih kurang mengetahui pentingnya literasi keuangan dan pengelolaan keuangan (Wafiroh, 2022). Rendahnya kemampuan perencanaan keuangan dapat menjadi pemicu utama, yang juga mencerminkan tingkat literasi keuangan yang masih rendah (Salam, 2019). Ketidaktahuan akan pentingnya menyisihkan pendapatan untuk tabungan atau pengeluaran tak terduga membuat keluarga lebih rentan terhadap krisis finansial. Keluarga belum sepenuhnya memahami terkait asuransi dan perlindungan finansial yang dapat memberikan jaminan saat terjadi risiko yang tidak diinginkan (Mireku et al., 2023). Kepemilikan asuransi juga masih sangat minim; hanya 7 subjek yang memiliki asuransi kesehatan atau jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap risiko keuangan belum menjadi prioritas dalam rumah tangga. Rendahnya pemahaman terhadap manfaat asuransi berpotensi memperburuk kondisi keuangan saat terjadi musibah atau kondisi darurat medis. Perlu adanya sosialisasi yang intensif mengenai pentingnya asuransi sebagai salah satu bentuk perencanaan keuangan jangka panjang (Mireku et al., 2023). Pada kuesioner terkait kepemilikan tabungan, hanya 9 subjek yang memiliki tabungan keluarga. Kepemilikan tabungan dalam rumah tangga digunakan sebagai dana simpanan untuk jangka panjang. Pada kuesioner terkait pendapatan dan kecukupan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekitar 65% subjek merasa kurang cukup dengan pendapatan dan pengeluaran yang terdapat di rumah tangga. Alternatif pilihan yang paling banyak dilakukan untuk menambah pemasukan keluarga diantaranya dengan menambah pekerjaan lain (50%), berhutang (17,4%), dan hanya mengandalkan pemberian dari keluarga atau tetangga (32,6%). Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di Kelurahan Sukakarya menunjukan bahwa mayoritas subjek masih belum melakukan kegiatan pencatatan dan pengelolaan keuangan rumah tangga, sebesar 80,4%. Menurut Mireku et al. (2023), pengelolaan keuangan rumah tangga yang baik dapat menjadi dasar tingkat ekonomi suatu keluarga. Proses pencatatan keuangan rumah tangga yang dibuat secara detail mampu memudahkan pemasukan dan pendapatan rumah tangga sehingga meminimalisir terjadinya pengeluaran berlebih (Brillianti dan Kautsar, 2020). Pentingnya mengetahui literasi keuangan dapat membantu keluarga dalam mengelola anggaran rumah tangga yang efektif. Konsep literasi keuangan yang berkaitan dengan pengelolaan anggaran rumah tangga memberikan pengetahuan dan pengambilan keputusan finansial rumah tangga yang bijak (Wafiroh, 2022). Melalui pemahaman konsep literasi keuangan dapat membantu ibu rumah tangga khususnya untuk mengelola merencanakan pengeluaran, tabungan, dan meningkatkan kesejahteraan jangka panjang (Rahmayanti et al., 2019). Literasi keuangan bagi setiap rumah tangga bermanfaat dalam membantu meningkatkan kualitas keluarga, dengan mengetahui cara mengelola keuangan yang baik akan membentuk kebiasaan setiap anggota keluarga dalam memilih keperluan yang penting dan membuat keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan kehidupan di masa depan (Fadila dan Fadlillah, 2021; Wafiroh, 2022). 163 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No. 1, Juni 2025 KESIMPULAN Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan rumah tangga di kalangan ibu rumah tangga pada lokus stunting Sukakarya, Kota Sukabumi, masih tergolong rendah, ditandai dengan minimnya pencatatan pengeluaran, rendahnya kepemilikan tabungan dan asuransi, serta ketergantungan pada pendapatan tambahan atau utang. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas literasi keuangan untuk mendorong pengelolaan keuangan rumah tangga yang lebih efektif. Intervensi edukatif menggunakan media permainan “Nutriladder” terbukti mampu meningkatkan pengetahuan peserta mengenai pengaturan anggaran pangan bergizi dan pengelolaan keuangan keluarga. Literasi keuangan yang memadai berkontribusi dalam pengambilan keputusan finansial yang lebih bijak, mencegah perilaku konsumtif, serta mendukung kesejahteraan keluarga dan penurunan risiko stunting. Oleh karena itu, dibutuhkan program edukasi literasi keuangan yang sistematis, terstruktur, dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, lembaga sosial, dan kader posyandu, guna memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan mendukung upaya pencegahan stunting secara lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA Agustin, L., Rahmawati, D., 2021. Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Stunting. Indonesian Journal of Midwifery 4(1), 30-34. doi:10.35473/ijm.v4i1.715. Arifuddin, A., Prihatin, Y., Setiawan, A., Wahyuni, R.D., Nur, A.F., Dyastuti, N.E., Arifuddin, H., 2023. Epidemiological Model of Stunting Determinants in Indonesia. Healthy Tadulako Journal 9(2), 224-234. doi:10.22487/htj.v9i2.928. Berliani, K., 2021. Pengaruh Tingkat Pengangguran, Tingkat Pendidikan dan Laju Pertumbuhan Penduduk terhadap Tingkat Kemiskinan Penduduk Provinsi Jawa Barat Tahun 2015-2020. Jurnal Ilmiah Indonesia 6(2), 839-872. doi:10.36418/syntax-literate.v6i2.2244. Brilianti, F., Kautsar, A., 2020. Apakah Literasi Keuangan Memengaruhi Kesejahteraan Rumah Tangga di Indonesia? Kajian Ekonomi dan Keuangan 4(2), 104-115. http://dx.doi.org/10.31685/kek.v4i2.541. Fadila, A., Fadlillah, A.M., 2021. Edukasi Pengelolaan Keuangan bagi Ibu Rumah Tangga pada Orang Tua Siswa. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2(1), 169-174. https://ejournal.unma.ac.id/index.php/bernas/article/view/650. Fadilla, F., Faisal, Y.A., Cupian, C., Mulyana, A., 2024. Pengaruh Sikap dan Literasi Keuangan terhadap Keputusan Keuangan. Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 18(5), 3298-3316. doi:10.35931/aq.v18i5.3922. Hidayat, A., 2018. Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Meningkatkan Literasi Keuangan pada Masyarakat Lembaga Jasa Keuangan. [Skripsi]. Institut Agama Islam Negri (IAIN), Purwokerto. Karyati, Y., Julia, A., 2021. Pengaruh Jumlah Penduduk Miskin, Laju Pertumbuhan Ekonomi, dan Tingkat Pendidikan terhadap Jumlah Stunting di 10 Wilayah Tertinggi Indonesia Tahun 2010-2019. Jurnal Riset Ilmu Ekonomi dan Bisnis 1(2), 101-108. doi:10.29313/jrieb.v1i2.401. Lindiawatie, L., Shahreza, D., 2021. Penyuluhan Literasi Keuangan pada Ibu Rumah Tangga di Depok sebagai Dasar Membangun Ketahanan Keuangan Keluarga. 164 Rosdiana1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Warta LPM 24(3), 521-532. doi:10.23917/warta.v24i3.13351. Mireku, K., Appiah, F., Agana, J.A., 2023. Is There A Link Between Financial Literacy and Financial Behaviour? Cogent Economics and Finance 11(1), 1-25. doi:10.1080/23322039.2023.2188712. Nurwati, R.N., Listari, Z.P., 2021. Pengaruh Status Sosial Ekonomi Keluarga terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan Anak. Social Work Journal 11(1), 74-80. doi:10.24198/share.v11i1.33642. Pradinaningsih, N.A., Wafiroh, N.L., 2022. Pengaruh Literasi Keuangan, Sikap Keuangan dan Self-Efficacy terhadap Pengelolaan Keuangan Ibu Rumah Tangga. E-Jurnal Akuntansi 32(6), 1518-1535. doi:10.24843/eja.2022.v32.i06.p10. Rahmayanti, W., Nuryani, H.S., Salam, A., 2019. Pengaruh Sikap Keuangan dan Perilaku Keuangan terhadap Literasi Keuangan. Jurnal Manajemen dan Bisnis 2(1), 1-9. https://doi.org/10.37673/jmb.v2i1.267. Sari, A.P., Rahmadini, G., Charlina, H., Pradani, Z.E., Ramadan, M.I., 2023. Analisis Masalah Kependudukan di Indonesia. Journal of Economic Education 2(1), 2937. https://online-journal.unja.ac.id/JEec/article/view/23180 Yulianti, V., Wulandari, D.S., Widiastuti, W., Pasha, R., 2024. Pengembangan Program Edukasi Keuangan Keluarga dalam Meningkatkan Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga. Jurnal Pelita Pengabdian 2(2), 203-209. Yushita, A.N., 2017. Pentingnya Literasi Keuangan bagi Pengelolaan Keuangan Pribadi. Barometer Riset Akuntansi dan Manajemen 6(1), 11-26. doi:10.21831/nominal.v6i1.14330. 165