TEORI SEMANTIK BAHASA ARAB AL-AMIDIY DALAM KITAB AL-IHKAM FI USHL ALAHKAM Wildan TaufiqA. Toneng ListianiA UIN Sunan Gunung Djati Bandung wildantaufiq204@gmail. com1, tonenglistiani79556@gmail. ABSTRACT The aims of this research are to develop the theories of classical Arabic scholars, one of which is the Semantic theory of al Amidiy in his monumental work al-IhkAm fi Ushl al-AhkAm. The research method used is a qualitative. The results of the analysis of al Amidiy's work found a theory of the origin of language, namely the theory of wadh'i Ae tauqifi . anguage was created by humans/Alla. According to al Amidiy, differences in sound structure will produce meaning . ilAla. for speech. According to him, language signs are divided into two: sounds and body According to Al-Amidiy, language is "arbitrary" . adh'u ikhtiyari. According to al Amidiy, the meaning of a word doesnAot automatically indicate certain objects, but depends on the speakerAos intention. The referential theory, according to him, consists of three aspects: , words . Al/lafaz. and interpretrants . utakallim/wadhi') that determine the dAl and madlul. According to him, the relationship between meanings is divided into three: , mutaradif . and mutabayin . rdinary wor. The types of meanings according to al-Amidi are as follows: Muthlaq & Muqayyad. Mujmal & Bayan. Hakikat . & Majaz (Branc. DilAlah Manzhum. DilAlah ghair manzhum. Keywords: Arabic Language. Semantic Theory, al-Amidi. Ushul Fiqh. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan teori sarjana Arab klasik, salah satunya teori Semantik al Amidiyy dalam karya monumentalnya al-IhkAm fi Ushl al-AhkAm. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil analisis pada karya al Amidiy ditemukan teori asal-usul bahasa yaitu teori wadhAoi Ae tauqifi . ahasa diciptakan oleh manusia/Alla. Menurut al Amidiy Perbedaan struktur bunyi akan menghasilkan makna . ilAla. bagi tuturan. Tanda bahasa menurutnya terbagi dua: bunyi dan isyarat tubuh. Menurut Al-Amidiy bahasa bersifat AuarbitrerAy . adhAou ikhtiyAri. Menurut al Amidiy makna suatu kata tidak otomatis menunjukan benda-benda tertentu, melainkan tergantung pada maksud penutur. Teori referensial, menurutnya terdiri dari tiga aspek: makna . , kata . Al/lafaz. dan interpretrant . utakallim/wAdhiA. yang menentukan dAl dan madll-nya. Hubungan antar makna menurutnya terbagi tiga: musytarak . , mutaradif . dan mutabayin . ata bias. Adapun jenis makna menurut al Amidiy adalah sebagai berikut: Muthlaq & Muqayyad. Mujmal & Bayan. Hakikat . & MajAz (Caban. DilalAh Manzhm. DilAlah ghair manzhm. Kata Kunci: Bahasa Arab. Teori Semantik, al-Amidi. Ushul Fiqh. PENDAHULUAN Semantik merupakan subdisiplin linguistik yang mengkaji makna. Lalu seberapa pentingkah peran makna dalam kajian bahasa (Linguisti. ? Mari kita simak definisi-definisi Seorang ulama bahasa dan ahli hukum dai Mesir Ibnu Hajib . , memberi batasan pada bahasa . sebagai berikut: A( EE EA O EIIOASetiap lafazh yang diciptakan untuk suatu makn. Senada dengan Ibnu Hajib. Jamaluddin al-Asnawy . ahli bahasa Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 102 Arab dari Mesir dan ulama ahli fiqih syafiAoiyyah mendefinisikan AubahasaAy dengan: A I EEAA A( EIOO EEIIOAUngkapan tentang kata-kata yang dituturkan untuk makna-makna tertent. lSuyuthy,tth: . Seorang ulama bahasa lainnya mendefinisikan bahasa -dengan berbeda sedikit redaksi dengan kedua definisi sebelumnya- sebagai berikut: A( IIO IOO AO AOAMakna yang diungkapkan dengan buny. l-Hamd, 2005:. Ilmu Sharaf merupakan bagian dari ilmu bahasa (AoIlmu al-Lugha. Ibrahim Ubadah . 1: . mendefinisikan Sharaf sebagai berikut: AEEI EO OIOE OE IO eI EOOE eIA AuEO IO IEA E O II EIIO EEAO OEEO OEIO OEIA. Sharaf yang mengkaji bentuk-bentuk kata seperti mengubah kata ke bentuk-bentuk yang beragam untuk menyampaikan makna yang bermacam-macam seperti AumengecilkanAy. AumemperbanyakAy, menjadikan dua, dan membuat banyak. Ilmu Nahwu didefinisiakn oleh Yabati . 2:1. sebagai berikut: ANO EI u EEI EA AI O EN AO E EON II A O IA O O I OIA. Nahwu adalah ilmu tentang perubahan . Aora. perkataan orang Arab dalam suatu struktur, baik dalam keadaan rafaAo, nashab, jarr, jazm, maupun ketidakberubahan . Lalu al-Zamakhsyari . menambahkan bahwa bahwa iAorab rafa, nashab, dan seterusnya menunjukan pada suatu makna . Seperti rafa menunjukan peran kepelakuan . aAoiliyya. dan nashab menunjukan peran keobjekan . afAouliyyh. Balaghah didefinisikan oleh Ali al-Jarim dan Musthafa Amin . sebagai berikut: " A I IEI EE EEI EEIOI EO OCEA,A EN AO EIA EA,AEE NO O EIIO EEOE O AO AAOA A OEA EOI OOIA,AAONA. " AuBalaghah adalah ilmu yang mengkaji tata cara penyampaian makna yang agung . dengan jelas, menggunakan redaksi yang benar . dan diksi yang terpilih . Redaksi tersebut memiliki efek psikologis bagi . ,dan juga ia memiliki koherensi dengan lawan bicara serta konteks di mana ia dituturkan. Ay Jika diperhatikan definisi-definisi di atas secara seksama, maka makan memiliki peran pentingnya AumaknaAy dalam setiap level kajian bahasa (Linguisti. mulai bunyi, bentuk, struktur hingga wacana. Lalu bagaimana peran makna dalam kajian Ushul Fiqih (Filsafat Hukum Isla. ? Kita bisa mengetahui jawabannya dari sejarah Semantik bahasa Arab (Ilmu al-DilAlah al-AoArabi. Dalam sejarah Semantik Bahasa Arab, diketahui bahwa Muhammad bin Idris alSyafiAoI, atau yang dikenal dengan Imam SyafiAoiy merupakan perintis Semantik bahasa Arab. Dalam karya monumentalnya, al-Risalah dalam tema-tema Ushul fiqihnya. Imam SyafiAoiy telah membicarakan masalah-masalah makna seperti makna khusus dan umum (AoAmm wa khA. , makna dari redaksi Al-QurAoan yang berimplikasi pada hukum Islam, seperti wajibnya shalat lima waktu, puasa, haji, zakat, dan haramnya zina, khamar, memakan bangkai, dan daging Pada bagian awal Imam SyafiAoiy secara tegas mengatakan:AyAlqurAoan diturunkan dengan bahasa Arab. Karena banyaknya aspek-aspek bahasanya serta mendalam maknanya, maka Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 103 orang yang tidak menguasai bahasa Arab secara sempurna maka tidak akan memahami AlqurAoan dengan baik. Ay Di ulama Ushul Fiqih yang memiliki peran penting dalam kajian Semantik Bahasa Arab adalah Saifuddin bin Muhammad al-Amidiy yang dilahirkan di kota Amidi, salah satu kota di Turki pada tahun 551 H. Menurut Manqur Abdul Jalil . al-Amidiy telah meletakkan teori-teori Semantik yang sangat kokoh dalam karya magnum opusnya al-IhkAm fi shl alAhkAm. Dengan kejelasan dan kedalaman teorinya itu, tak salahnya jika kita sejajarkan dengan teori-teori Semantik modern dari Barat hari ini. Al-AoAmidiy . 1:I,. menjelaskan dalam al-IhkAm fi shl al-AhkAm sebagai berikut:AyTujuan Ushul Fiqih adalah mengetahui hukum-hukum syaraAo untuk kebahagiaan dunia &akhirat. Objek Ushul Fiqih adalah pembahasan dalil-dalil hukum syaraAo. Kajian ini seyogianya dibantu oleh tiga cabang ilmu, yaitu ilmu kalam, ilmu bahasa arab dan hukumhukum syaraAo. Ay Di antara prinsip-prinsip dasar bahasa yang diletakkan Al-AoAmidiy (Ibid:. adalah sebagai berikut: Setiap kata menunjukan pada makna . di luar dirinya. Makna yang dirujuk oleh kata tidak serta merta ditunjuk oleh kata sendiri, tapi tergantung pada maksud si pembicara. Pada artikel ini, penulis akan membahas tentang teori Semantik Bahasa Arab yang dirumuskan oleh al-Amidiy dalam karnya dalam bidang Ushul Fiqih, al-IhkAm fi shl alAhkAm. PENELITIAN TERDAHULU Berikut ini penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini: Muhbib Abdul Wahab . ttps://ftik. id/id/pemikiran-semantik-al-amidi:2. Pada artikel ini penulis menjelaskan bahwa al-Amidy merupakan seorang ulama ensiklopedik dengan keunggulan pada pada ilmu hukum Islam (Ushul Fiq. dan ahli bahasa (Lisaniyya. , termasuk Semantik (AoIlm al-DilAla. Menurut penulis lm dilAlah dijadikan ilmu untuk mengembangkan Ushul Fiqh. Pada artikel ini penulis mengulas tentang biografi singkat alAmidiy termasuk rihlah Aoilmiyyah-nya serta karya-karyanya. Terkait dengan kajian Semantik, penulis menjelaskan pemikiran al-Amidiy dalam karya monumentalnya al-IhkAm fi Ushl alAhkAm secara singkat yaitu pokok-pokok pemikirannya seperti simboltas bahasa, kerbitreran makna bahasa, sistem makna, prinsip medan makna, kesatuan wacana bahasa, serta hakikat dan majaz. Selain itu penulis menyajikan jenis makna serta contohnya dari AlqurAoan seperti muthlaq-muqayyad, dilAlah manthiqiyyah-lazhiyyah, dilAlah iltizam, dan dilAlah haqiqiyyahmajaziyyah. Semua pemikrian al-Amidiy dibahas secara singkat oleh penulis. Muhammad BiniAomar . net/10411/Mabhats al-Dilalat fi al-Dars Ushuliy: Pada artikel ini penulis memaparkan kontribusi para ulama dari berbagai bidang ilmu Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 104 keislaman klasik terhadap Semantik (AoIlm al-DilAla. seperti Ushul Fiqh. Ilmu al-Lughah. Manthiq, serta Leksikologi. Penulis mengungkapkan bahwa kontribusi ulama Ushul Fiqh terhadap semantik Aemenurutnya- melebihi kontribusi para ulama bahasa sendiri. Penulis menjelaskan bahwa kajian Semantik Arab dimulai dari kajian makna kosa kata dalam AlqurAoan termasuk makna dasar serta makna kontekstual dalam pemakaiannya. Selanjutnya penulis menyajikan jenis-jenis kamus kosa kata AlqurAoan. Dalam setiap kamus tersebut dijelaskan perbedaan makna, variasi makna karena perbedaan posisi kata dalam struktur serta Lalu ia menegaskan bahwa syarat sebagai mufassir adalah menguasai makna kosa kata AlqurAoan. Di bagian akhir ia menyajikan pembagian makna menurut Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, yaitu al-DilAlah al-haqiqiyyah dan al-dilAlah al-tabiAoah. Agus Yusron (Jurnal Tafakkur Vol. 1 No. 02 / April 2. ORIENTASI SEMANTIK AL-ZAMAKHSYARI: Kajian Penafsiran Makna Ayat Kalam dan Ayat Ahkam. Dalam artikelnya, penulis berusaha menyajikan pendekatan Semantik pada ayat-ayat hukum dalam tafsiran Zamakhsyariy dalam tafsirnya al-Kasysyyf Aoan Haqyiq al-Tanzyl wa AoUyyn al-AoAqywil fi Wujyh al-Ta`wyl. Pada tulisan ini, penulis memfokuskan pada instrumen teknik Zamakhsyariy dalam mempertahankan teologi muAotazilah-nya. Fokus penelitiannya penulis hanya membatasi pada ayat-ayat hukum yang berkaitan tentang sihir serta hukum suami menjauhi istri yang sedang haid saja. Adapun pada aspek kalam, penulis membahas dengan panjang lebar tentang melihat Allah di akhirat, keadilan Allah, sifat-sifat-Nya, antropomorfisme bagi Allah, kehendak bebas bagi manusia dan juga fatalisme bagi manusia. Samih Abdus Salam Muhammad (Syabakah Alukah/Afaq al-SyarAoiyyah/Dirasat SyarAoiyyah/Fiqh wa Ushuluddin: 2. AoALAQAH AL DILALAH BI AoILMI USHUL AL-FIQH. Pada artikel ini penulis menjelaskan definisi fiqih dan ushul fiqih, baik secara bahasa maupun Lalu penulis menyebutkan bahwa perintis ilmu Ushul Fiqih adalah Imam SyafiAoi. Beliau dianggap sebagai perintis ilmu Ushul Fiqih sekaligus ulama peletak semantik bahasa Arab. Hal ini karena dalam karyanya yang monumental al-Risalah beliau membahas tema-tema semantik seperti makna kosa kata yang umu & khusus, serta pembatasan makna dengan indikator-indikator intrinsik dan ekstrinsik. Lebih lanjut penulis menyebutkan beberapa ulama yang mematangkan ilmu Ushul Fiqih seperti al-Ghazaliy, al-Amidiy, al-Syathiby. Kemudian penulis berkesimpulan bahwa peran Semantik dalam bidang Ushul Fiqih sangat jelas dan Misalnya tema sinonim . dan polisemi . , makna logika dan penyimpulan dalam suatu wacana, kompetensi bahasa dalam membatasi makna, makna umum & khusus, makna syarat-jawab . , istitsna, taqdim-taAokhir serta muthlaqmuqayyad dsb. Ini menunjukan bahwa teori-teori Ushul Fiqih itu berbasis Semantik. Al-Alwaniy (Majallah Kulliyyah al-Tarbiyyah JamiAoah al-Azhar: 2. DIRASAT USHULIYYAH MUQARANAH FI DILALAT AL-ALFAZH AL-WADHIHAH WA AL-KHAFIYYAH AoINDA AL-USHULIYYIN. Pada artikel ini penulis menyajikan tentang macam-macam makna Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 105 dari aspek kejelasan dan kesamarannya dalam kajian Ushul Fiqih. Penulis memulai tulisannya denga menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih itu terjadi karena perbedaan mereka metode semantik dalam merumuskan hukum-hukum syaraAo. Kemudian penulis menyajikan komparasi dua metode perumusan . hukum antara golongan hanafiyyah . azhhab hanaf. dengan mayoritas para ulama . l-jumhu. Lalu penulis menyimpulkan bahwa perbedaan kedua golongan tersebut dalam mengklasifikasikan makna, -baik kejelasan maupun kesamaranny- adalah pada aspek metodologinya. Perbedaan Ushul Fiqih telah menyuburkan kekayaan pemikiran fiqih yang laur biasa. Dari penelitian-penelitian di atas, belum ada yang mengkaji teori semantik bahasa Arab secara komprehensif dan terperinci mulai dari definisi makna, jenis-jenis makna, pendekatan dalam kajian makna, metode analisis makna, serta implikasinya pada hukum Islam (Fiqi. METODE Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan pada peneltian ini adalah desain kualitatif. Berikut ini desain penelitian kualitatif pada penelitian ini: Identifikasi dan masalah penelitian, yaitu pengembangan teori semantik bahasa Arab dan AlqurAoan dengan menggali pemikiran ulama Arab, baik ulama bahasa (Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Pemilihan kerangka konseptual atau teori semantik modern untuk mengembangkan teori semantik bahasa Arab dan AlqurAoan dengan menggali pemikiran ulama Arab, baik ulama bahasa (Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Merumuskan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan batasan masalah penelitian. Mencatat data hasil penelaahan pemikiran ulama Arab, baik ulama bahasa (Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Merangkum hasil analisis A Membahas hasil analisis A Membuat simpulan, implikasi dan saran. Sumber Data Teks kitab AuAl Ihkam fi Ushul AhkamAy karya al Amidiy menjadi sumber data pada Jenis Data Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 106 Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif, yaitu data yang berupa kata-kata1. Adapun data dalam penelitian ini berupa teori-teori linguistik dan semantik dari kitab AuAl Ihkam fi Ushul AhkamAy karya al Amidiy. Teknik Pengumpulan Data Teknik dokumentasi . digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini. Teknik dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari kitab-kitab ulama Arab, baik ulama bahasa (Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih yang berisi pemikiran Berikut ini langkah-langkah dalam proses pengumpulan data: Mencari definisi makna . ilAla. dari kitab-kitab para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Mencari jenis-jenis makna . ilAla. dari kitab-kitab para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Mencari metode analisis makna . ilAla. dari kitab-kitab para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih Menganalisis implikasi-implikasi makna . ilAla. dari teori para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih, terhadap bidang hukum, atau penafisran AlqurAoan. Pengolahan Dan Analisis Data Data-data penelitian yang diinventarisasi berupa teori-teori semantik . lmu dilAla. yang telah dirumuskan para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih dalam karya-karyanya dengan panduan teori semantik modern. Proses analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Penyajian semantik modern sebagai panduan perumusan teori semantik ulama Arab. Penyajian teori semantik ulama Arab dengan langkah-langkah sebagai berikut: Definisi makna . ilAla. dari kitab-kitab para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Jenis-jenis makna . ilAla. dari kitab-kitab para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih. Metode analisis makna . ilAla. dari kitab-kitab para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih Implikasi-implikasi makna . ilAla. dari teori para ulama Arab, baik ulama bahasa (Linguistik. Nahwu & Balagha. maupun ulama Ushul Fiqih, terhadap bidang hukum, atau penafisran AlqurAoan. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 107 HASIL DAN PEMBAHASAN Teori Semantik Al Amidiyy Teori Asal Usul Bahasa Bahasa tercipta secara wadhiyyah . iciptakan oleh manusi. Al-Amidy berpendapat bahwa asal-usul bahasa adalah wadhiyyah . iciptakan oleh Karena menurutnya, pada mulanya . uatu kata diciptaka. jika seseorang mengatakan kata wujud . bagi sesuatu yang tidak ada (Aoada. -begitu pula sebaliknnya, maka hal itu tidak mungkin terjadi . l-Amidiy, . Asumsi dasar al Amidiyy adalah bahwa satu kata benda . itu tentunya tidak mesti merujuk ada adanya sesuatu atau ketiadaannya. Karena yang membuat kata . merujuk pada suatu hal . secara spesifik adalah si pembuat kata tersebut . karena ada maksud tertentu . radah mukhashasha. Adapun si pecipta bahasa menurut al Amidiyy adalah Allah swt atau makhluk. Penciptaan tersebut untuk tujuan tertentu atau tidak ada tujuan apapun (Ibi. Dari asumsi dasar ini maka pandangan bahwa bahasa bersifat natural . habiAoi. , di mana hubungan antara kata . dan maknanya bersifat alamiah . idak diciptakan oleh seorang pencipt. Pandangan ini sebagai dianut oleh kaum Ilmu Taksir . lmu simbo. dan sebagian kaum MuAotazilah (Ibi. Pengikut AsyAoariyyah, pengiktu mazhab zhahiri dan segolongan ulama Fiqih berpendapat bahwa pencipta bahasa adalah Allah swt. Kemudian Dia transmisikan kepada kita lewat tauqif ilahi . ertolongan Alla. , baik dengan wahyu atau Allah menciptakan bunyi . dan huruf-huruf. Lalu Dia perdengarkan kepada seseorang atau kelompok masyarakat (Ibid: 66-. Kemudia Dia ciptakan bagi seseorang atau kelompok tersebut ilmu dharuriy . agar bunyi dan huruf-huruf merujuk pada makna-makna tertentu. Argumen mereka adalah firman Allah swt QS. al Baqarah: 31. Menurut al Amidy ayat di atas menunjukan bahwa Adam dan Malaikat tidak akan mengetahui . kecuali dengan pengajaran dari Allah swt. Ayat lainya yang dijadikan dalil oleh mereka adalah al-AnAoam:38, al Nahl: 89 dan al AlAoaq: 3 Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 108 Teori Asal-Usul Bahasa secara Istilahi . & tauqifi . ertolongan Alla. Al-Jubai dan segolongan ulama mutakallimin berpandangan bahwa proses pembentukan bahasa oleh penuturnya adalah sebagai berikut. Seseorang atau sekelompok orang mengajak yang lainnya untuk menciptakan kata-kata beserta maknanya. Selebihnya adalah bahasa isyarat . erak anggota tubu. dan pengulangannya sebagaimana dilakukan oleh kedua orang tua kepada anaknya yang masih Begitu pula sebagaimana yang dilakukan oleh seorang yang bisu untuk mengungkapkan perasaannya dengan isyarat dan pengulangan gerak anggota tubuh. Hal ini berdasarkan surat Ibrahim:4 Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 109 Menurut mereka dalil . atas menunjukan lebih dahulunya bahasa secara ishthilahi . erbentuk secara konvens. atas diangkatnya kenabian dan penciptaan bahasa oleh Allah . Dari sana ada 3 kategori tanda bahasa: Bahasa berupa bunyi Bahasa berupa isyarat . nggota tubu. dan pengulangannya Menurut Abu Ishaq al Isfiraaini bahwa kemampuanlah yang membuat manusia mengajak yang lainnya untuk menciptakan bahasa dengan pertolongan Allah . Jika tanpa pertolongan Allah maka penciptaan bahasa oleh manusia sendiri . maka suatu penciptaan . ata & maknanny. akan tergantung pada penciptaan lain . ata & maknanny. Hal itu akan terus begitu secara berantai . ak terhingg. Hal tersebut tidak mungkin, karena tidak ada ujungnya . 1: . Bahasa Adalah Bunyi Yang Memiliki Makna Menurut al-Amidy bunyi bahasa . aqathiAo shauthiyya. merupakan ciri khas yang dianugerahkan kepada manusia saja oleh Allah swt, tidak kepada makhluk-Nya yang lain. Perbedaan struktur bunyi akan menghasilkan makna . ilAla. pada tuturan dan redaksi bahasa . ada tulisa. , baik diciptakan untuk suatu makna atau tidak. Tanda Bahasa Bersifat Arbitrer (Semen. Al-Amidiy . 1:67 juz I) menegaskan bahwa penunjukan secara spesifik adalah bersifat arbitrer . adhAou ikhtiyari. Beliau berkata: AuYang jelas bahwa dasar bagi penkhususan sejumlahr kata dengan makna tertentu adalah penciptaan yang dipilih secara bebas . Ay Lebih lanjut al Amidiy menegaskan bahwa makna suatu kata tidak otomatis menunjukan benda-benda tertentu, melainka tergantung pada maksud di penutur (Ibid:. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 110 Teori Bahasa Komunikasi Menurut al-Amidi. Jika penciptaan bahasa dimaksudkan untuk komunikasi satu sama lain, maka polisemi tidak akan muncul pada bahasa. Karena makna atau apa yang ditunjuk oleh bahasa itu . tentu akan sama-sama dipahami satu sama lainnya . aik penutur, maupun lawan tutu. Kendatipun kosa kata yang diucapkan tidak dipahami dengan benar, di mana koteksnya kadang muncul, kadang tidak. Jika dengan mengasumsikan konteks yang tersembunyi tersebut, maka maksud tuturan tidak akan dipahami dengan baik . Peranan Semantik Dalam Bidang Filsafat Hukum Islam (Ushul Fiqi. Al-Amidi . 1:9 Juz I) menegaskan bahwa referensi Ushul Fiqih adalah perkataan orang Arab . inguistik Ara. dan hukum-hukum syaraAo. Selanjutnya al-Amidy berpandangan bahwa Ilmu bahasa Arab atau linguistik Arab adalah ilmu yang mengkaji makna dalil-dalil lafzhi dari AlqurAoan. Sunnah dan pandangan para anggota perwakilan masyarakat . hlul hall wal aqd. untuk mengetahui tema-tema kajiannya secara bahasa. Aspek kebahasaan itu meliputi tema hakikat- majaz, umum-khusus, muthlaqmuqayyad, hadzfu, idhmar, manthuq-mafhum, iqtidha, isyarat, tanbih, imaa dan sebagainya. Makna Referensial Al-Amidi . 1:20 juz I) berkata: Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 111 Dari perkataa di atas dapat dipahami bahwa di sana terdapat teori makna referensial. Menurut teori ini, makna . suatu kata . Al/lafaz. ditentukan oleh interpretrant . utakallim/wadhiA. A EOA/ AEIEEcIA A EEAA/ AE cEA A EIIOA/ AEIEOEA Hubungan Antar Makna Musytarak . Musytarak atau polisemi menurut al-Amidi . 1: 19. Juz I) adalah satu kata/nama . dan memiliki beragam hal yang dinamai . , baik yang dinamai tersebut merupakan makna asli dari pertama diciptakan atau makna pinjaman dari hal lainnya. Misalnya kata A EOIAyang bermakna putih dan hitam. Taraduf . Menurut al-Amidi (Ibid:. taraduf atau sinonim adalah jika kata/nama . yang beragam merujuk pada satu hal yang dinamai . Contohnya adalah A NAkata dan A Ayang merujuk pada hal yang pendek . l qashi. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 112 Mutabayin . ata yang berbed. Menurut al-Amidi (Ibid( mutabayin adalah jika kata/nama . yang beragam merujuk pada hal yang dinamai . beragam juga. Contohnya adalah kata A uIIAyang merujuk pada makna AumanusiaAy dan A AAyang merujuk pada makna AukudaAy. Macam-Macam Makna Muthlaq & Muqayyad Makna muthlaq adalah redaksi nakirah . dalam konteks itsbat . AEIEC A I EIE AO OC uEA Kata nakirah diungkapkan adalah agar kata maAorifat yang maknanya satu dan definitif atau kata umum yang mencakup segala hal maknanya tidak masuk pada kategori muthlaq. Adapun frase dalam konteks istbat adalah agar kata nakirah dalam konteks nafyi . tidak masuk. Atau - lanjut al-Amidiy-, yang dimaksud muthlaq adalah lafazh yang menunjuk . pada hal yg ditunjuknya . yang telah dikenal kejenisannya. Adapun muqayyad bisa dipahami dalam dua keadaan: Jika kata-kata yang menunjukan . pada hal yang ditunjukannya secara definitif . adlul muAoayya. Contoh kata Zaid. Amar. Laki-laki ini dan sebaginya. Jika kata-kata yang menunjukan . pada hal yang muthlaq namun disifati. Contoh Dinar mesir, dan Dirham makkah. Dinar dan dirham asalnya muthlaq. Namun ketika dinisbatkan . dengan kata Mesir dan Makkah maka keduanya menjadi muqayyad. Mujmal & Bayan Mujmal menurut Al Amidiy . 1, i:. adalah kata yang tidak menunjukan pada salah satu dari dua hal, di mana satu sama lainnya tidak memiliki kelebihan bagi kata tersebut. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 113 Adapun yang al-Amidi (Ibi. maksud dengan Autidak menunjukanAy adalah bahwa kata tersebut bersifat umum, termasuk perkataan dan perbuatan. Yang dimaksud dengan Aupada dua halAy adalah untuk mencegah masuknya kata yang hanya memiliki satu makna. Begitu juga yang dimaksud dengan Ausatu sama lainnya tidak memiliki kelebihan bagi kata tersebutAy adalah agar kata yang sudah jelas pada satu makna dan jauh pada makna lainnya tidak Kata yang bisa dikategorika mujmal menurutnya adalah jika: Kata yang memiliki makna polisemi . dengan dua makna, dan tidak bisa Misalnya kata Aoain yang bermakna emas dan matahari. atau kata qurAou yang bermakna suci dan haidh. Kata yang murakkab . sebagaimana firman Allah swt (Q. al Baqarah:. Kata A aO eAa aOAsekali-sekali merujuk pada suami dan wali dari si perempuan yang diceraikan. Karena kata yang dirujuk oleh dhamirnya secara berulang-ulang, seperti perkataan berikut: AEE I EIN EACON ANO EI EINA Kata yang berulang-ulang mengumpulkan bagian-bagian dan mengumpulkan sifatsifat. Seperti perkataan orang Arab AEI O OAA Kata yang bisa diwaqafkan . erhenti di san. , atau dimulai dari sana . Seperti firman Allah dalam surat Ali Imran: 6. AacEEa aOE a aO aI aOA EeaeE aI Oa aCOEaO aI aII aaNA AaOaI Oa eEa aI ae aOOEaNa uaE A Pada ayat di atas bisa waqafkan pada kata a AcEEA A u a acE A. Lalu kalimat baru dimulia . dari kata AE a a O aIA AO A. a Atau bisa diwashalkan . dengan diathafkan. Kata sifat yang maknanya masih tidak jelas. Seperti pada kalimat A( O O INAZaid adalah dokter yang mahi. Kata mahir sebagai sifat yang bisa bermakna mahir dalam kedokteran atau mahir di bidang lain. Kata yang memiliki makna majaznya banyak, dan sulit dikembalikan pada makna Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 114 A Kata yang bermakna umum, kemudian ditakhsis oleh kata yang bermakna tidak jelas. a a eCaEaO eE aI e aEaOIa aOA Seperti pada ayat Ae aO a e a aIONa eIA Kata umum yang kemudian digunakan dalam konteks syariat, seperti kata shalat, zakat dan haji. Hakikat . & Majaz (Caban. Hakikah adalah kata yang memiliki makna dasar . Sedangkan majaz adalah kata/nama . yang memiliki yang disebutannya . beragam karena sebagian yang disebutnya itu ada peminjaman . ustaAoa. DilAlah Manzhum . emantik linguisti. Dilihat dari di dalam dan di luar struktur bahasa. Al Amidiy membagi makna menjadi dua besar, yaitu dilAlah manzhum . emantik linguisti. yaitu makna yang didapat dari aspek kebahasaan . dan dilAlah ghair manzhum . emantik non linguisti. Yang termasuk dilAlah manzhum adalah amar, nahyi. Aoam-khas, dan istitsna. Amar Amar didefinisikan sebagai permintaan untuk melakukan sesuatu dari atasan ke Para ilmuwan telah bersepakat bahwa amar merupakan bagian dari jenis fiAoil . elain madhi dan mudhariA. Hal yang perlu diperhatikan bahwa amar tidak mesti berbentuk . tertentu dan juga tidak membutuh maksud . dari si pembicara. Shighat amar bemakna thalab merupakan makna hakikat, jika tidak disertai dengan indikator-indikator yang menunjukan makna lain. Kemudian para Ulama Ushul Fiqih menyepakati 15 makna lain bagi amar ini. Di antaranya: Makna wajib . , sebagaimana dalam firman Allah swt al Isra:78 Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 115 Makna sunnat . , sebagaimana dalam firman Allah swt, al Nur:33. Makna arahan . , sebagaimana dalam firman Allah swt, al Nisa:15. Makna boleh . , sebagaimana dalam firman Allah swt al Maidah: 2. Makna memberikan pelajaran . aAodi. , sebagaimana Rasulullah saw berikut: Makna memberikan penghormatan . , sebagaimana dalam firman Allah swt Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 116 Para ulama Ushul bersepakat bahwa selain makna thalab, tahdid, dan ibahah adalah makna Namun menurut al-Amidi bahwa makna amar selain thalablah yang bermakna majazi. Nahyi Nahyi memiliki sejumlah makna, di antaranya: Menghinakan . sebagaimana firman-Nya, surat Thaha:131 A Menjelaska akibat . ayan al-Aoaqiba. , sebagaimana firman-Nya, surat Ibrahim 42 BerdoAoa/memohon . l-duAo. , sebagaimana doAoa Nabi saw berikut. Psimistik . l yaAos. , sebagaimana firman-Nya, surat al Tahrim: 7 n aAOeaOac aN Eac aOeIa aEA aa eO aE a ea aaO eEOa eO a aI aIac aI ae a eOIa aI aE eI a eI a e aIEa eOIA Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 117 A Memberi arahan . l irsya. , sebagaimana firman-Nya, surat al Maidah:101 AoAmm & Khash Dengan mengutip Abu Hasan al Bishry, al Amidiy mendefinisikan kata Aoamm . adalah kata yang mencakup semua makna yang pantas/cocok bagi dirinya. Namun hal itu disanggah oleh al-Amidi bahwa definisi tersebut memiliki kelemahan ditinjau dari dua aspek. Pertama. Abu Hasan al-Bishri mendefinisikan amm dengan mustaghraq yang mana keduanya adalah sinonim . Karena target definisi adalah bukanlah menjelaskan kosa kata secara harfiah. Kedua, tidak menolak hal-hal yang tidak seharusnya ada. Adapun kata khash adalah setiap kata yang bukan Aoamm. Kata khash tidak menolak masuknya makna yang tidak bermakna. Kata khash bisa dilihat dari dua aspek: Kata tunggal yang tidak bisa dimasuki oleh makna lain, seperti nama Zaid dan Umar. Kata yang dilihat dari satu sisi bermakna khash, sedang dilihat dari sisi lain bermakna Aoamm. Seperti kata A uIIAsatu sisi bermakna khash jika dilihat sebagai bawahan kata Kata A uIIAjuga bermakna umum jika dilihat dari kata nama-nama. Istitsna Adapun istitsna sebagaimana didefinisikan oleh al-Ghazali adalah: Perkataan yang memiliki redaksi pengkhususan tertentu yang menunjukan bahwa yang dikecualikan itu tidak ada dalam perkataan. Kendati demikian definisi ini ditolak oleh al-Amidi karena beberapa alasan. DilAlah ghair manzhum . emantik non linguistik/penalara. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 118 Makna jenis terakhir ini adalah makna yang terkandung pada bahasa secara tidak eksplisit, baik disengaja atau tidak. Makna ini terbagi: DilAlah iqtidha: makna yang dikehendaki . penutur A DilAlah tanbih & imaa: makna yang dipahami secara implisit dari tuturan A DilAlah mafhum: makna yang tidak dipahami secara implisit dari tuturan A DilAlah isyarah: makna yang tidak dikehendaki . penutur Analisis Hubungan Antar Makna Menurut al-Amidy makna memiliki tiga aspek dasar yaitu nama . , objek yang dinamai . dan penamaan . asmiyah/perspekti. Hubungan ketigannya jika dihubungkan satu sama lainnya seperti tiga sudut sama sisi yang tidak dipisahkan satu sama AEIOA AEIA AEI cIOA SIMPULAN Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa teori semantik yang disajikan al Amidiy dalam karya monumentalnya, al-IhkAm fi Ushl al-AhkAm adalah sebagai berikut: Teori asal-usul bahasa yang mana al Amidiy lebih memilik teori wadhAoI Ae tauqifi, yaitu bahwa bahasa diciptakan pertamakali oleh manusia atau Allah swt. Jika manusia yang menciptakan sendiri maka itu terjadi secara wadhAoi. Namun jika Allah swt sebagai penciptanya, maka hal itu Allah lakukan melalui pengajaran sebagaimana kepada Nabi Adam a. atau secara ilham kepada selain Adam. Bunyi bahasa . aqathiAo shauthiyya. merupakan ciri khas yang dianugerahkan Allah swt kepada manusia saja, tidak kepada makhluk-Nya yang lain. Perbedaan struktur bunyi akan menghasilkan makna . ilAla. pada tuturan dan redaksi bahasa . ada tulisa. , baik diciptakan untuk suatu makna atau tidak. Tanda bahasa menurut Amidi terbagi dua, yaitu bunyi dan isyarat anggota tubuh. Al-Amidiy bahasa bersifat AuarbitrerAy . adhAou ikhtiyari. Menurut al Amidiy makna suatu kata tidak otomatis menunjukan benda-benda tertentu, melainkan tergantung pada maksud di penutur. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 119 A Teori Bahasa Komunikasi. Menurut al Amidiy, jika penciptaan bahasa dimaksudkan untuk komunikasi satu sama lain, maka polisemi pada bahasa tidak akan muncul. Karena makna atau apa yang ditunjuk oleh bahasa itu . tentu akan sama-sama dipahami. Kendatipun bahasa yang diucapkan tidak diketahui. Begitu pula konteks dan koteksnya kadang muncul, kadang tidak. Teori Makna Referensial. Menurut al Amidiy teori ini terdiri dari tiga aspek, yaitu makna . , kata . Al/lafaz. dan interpretrant . utakallim/wadhiA. yang menentukan dAl dan madlul-nya. Hubungan antar makna yang menurut al Amidiy terbagi tiga: musytarak . , mutaradif . dan mutabayin . ata bias. Adapun jenis makna menurut al Amidiy adalah sebagai berikut: Muthlaq & Muqayyad Mujmal & Bayan Hakikat . & Majaz (Caban. DilAlah Manzhum . emantik linguisti. : amar, nahyi. Aoam-khas, dan istitsna. DilAlah ghair manzhum . emantik non linguistik/penalara. : iqtidha, tanbih-iimaa & dilAlah isyarah REFERENSI