UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK JINTAN HITAM (Nigella sativ. KONSENTRASI 50%, 75% DAN 100% TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphyloccocus aureus Kadek Lusi Ernawati1. Ilma Yudistian2. Ni Putu Anom Vaijayanti Putri3 Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University anomvaijayanti11@gmail. ABSTRACT Introduction: This research is a laboratory research using Post Test Control Group Design. The samples used were Staphylococcus aureus bacteria which were divided into 5 groups, namely the group treated with black cumin extract with a concentration of 50%, 75% and 100%, the treatment group given ChKM as a positive control, and the group treated with aquadest as a negative control, with each 5 repetitions. Cumin extraction was carried out by maceration method using 96% ethanol solvent. Inhibition zone testing was carried out using the Kirby Bauer method. The inhibition produced at 50% extract concentration was 9. 87 mm, 75% concentration was 14. 24 mm and at 100% concentration was 17. 19 mm. The higher the extract concentration, the greater the amount of antibacterial compounds released. Where antibacterial compounds identified are saponins, phenols, alkaloids, flavonoids, tannins. It can be concluded that the inhibition of black cumin extract (Nigella sativ. at concentrations of 50%, 75% and 100% can inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria, with the most effective concentration being in the treatment group containing black cumin extract with a concentration of 100%. Keywords: Staphylococcus aureus, dental root canal sterilization, inhibition, black cumin ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian laboratorium dengan menggunakan rancangan Post Test Control Group Design. Sampel yang digunakan merupakan bakteri Staphylococcus aureus yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok dengan perlakuan ekstrak jintan hitam dengan konsentrasi 50%, 75% dan 100%, kelompok perlakuan yang diberi ChKM sebagai kontrol positif, dan kelompok yang diberi perlakuan dengan aquadest sebagai kontrol negatif, dengan masing-masing 5 kali pengulangan. Ekstraksi jintan dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian zona hambat dilakukan dengan menggunakan metode Kirby Bauer. Daya hambat yang dihasilkan pada konsentrasi ekstrak 50% sebesar 9,87 mm, konsentrasi 75% sebesar 14,24 mm dan pada konsentrasi 100% sebesar 17,19 mm. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka jumlah senyawa antibakteri yang dilepaskan semakin besar. Dimana senyawa antibakteri yang teridentifikasi adalah saponin, fenol, alkaloid, flavonoid, tannin. Dapat disimpulkan bahwa daya hambat ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. pada konsentrasi 50%, 75% dan 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, dengan konsentrasi yang paling efektif yaitu pada kelompok perlakuan yang mengandung ekstrak jintan hitam dengan konsentrasi 100%. Kata Kunci: Staphylococcus aureus, sterilisasi saluran akar gigi, daya hambat, jintan INTRODUCTION Kesehatan gigi dan mulut memiliki peran yang sangat penting untuk diperhatikan karena gigi dan mulut merupakan pintu masuknya bakteri dan kuman ke dalam tubuh. Kebersihan rongga mulut yang buruk dapat menyebabkan berbagai penyakit pada rongga mulut dan dapat mengganggu kesehatan organ tubuh lainnya. 14 Penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai di masyarakat salah satunya adalah karies. Karies adalah penyakit yang terjadi pada jaringan keras gigi yaitu sementum, email, dan dentin karena adanya mikroorganisme pada karbohidrat yang difermentasi. 5 Kerusakan jaringan keras gigi yang disebabkan oleh karies gigi, apabila dibiarkan terlalu lama tanpa adanya perawatan dapat mengakibatkan bakteri yang bisa menginfeksi jaringan pulpa gigi sehingga dapat menyebabkan kematian pulpa gigi atau disebut nekrosis. Perawatan saluran akar gigi merupakan tindakan preventif, diagnosis dan manajemen pulpa yang mengalami kerusakan. Perawatan saluran akar merupakan suatu perawatan penyakit pulpa dengan melakukan pengambilan pulpa vital atau nekrotik dari saluran akar dan menggantinya dengan bahan pengisi untuk mencegah terjadinya infeksi berulang. Tujuan dari perawatan saluran akar adalah untuk mencegah perluasan penyakit pulpa pada jaringan periapikal dan mengembalikan kondisi gigi yang mengalami kerusakan agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya. 10 Perawatan saluran akar (PSA) meliputi tiga tahapan yang disebut triad endodontik antara lain, preparasi biomekanis, sterilisasi saluran akar, dan pengisian saluran akar Salah satu bakteri yang terdapat pada saluran akar gigi nekrosis adalah bakteri Staphyloccocus aureus. Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang teridentifikasi di saluran akar gigi yang dapat menyebabkan infeksi. Irigasi merupakan bagian penting dari perawatan saluran akar karena dapat membantu menghilangkan bakteri dan debris sehingga saluran akar dapat diobturasi. Macam-macam bahan irigasi yang umum atau sering digunakan pada perawatan saluran akar yaitu sodium hipoklorit (NaOC. dan klorheksidin (CHX). Bahan irigasi yang digunakan saat ini masih memiliki kekurangan, sehingga masih perlu adanya pengembangan bahan alami atau herbal sebagai alternatif bahan irigasi saluran akar yang memiliki biokompatibilitas, antiinflamasi, sifat antioksidan, ketersediaan yang mudah, toksisitas rendah, tetapi mempunyai aktivitas antimikroba yang baik dan biaya yang Salah satu tumbuhan yang sering diolah menjadi obat herbal adalah Habatussaudah atau disebut dengan Jintan hitam (Nigella sativ. Zat utama yang dikandung oleh jintan hitam berfungsi sebagai zat antibakteri yaitu, thymohydroquinone, tannin,dan thymoquinone. Thymoquinone adalah bahan aktif yang terdapat pada jintan hitam yang memiliki aktivitas antibakteri dan menyebabkan gangguan fungsi sel bakteri dengan menghambat sintesa protein. 2 Sudah banyak dilakukannya penelitian terhadap pengaruh antibakteri jintan hitam (Nigella sativ. ini, salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Makmun dkk. pada ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 25%, 50%. 75%, dan 100%, kloramfenikol sebagai kontrol positif, dan aquadest sebagai kontrol negatif. Dari penelitian tersebut pengaruh ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. konsentrasi 25% menghasilkan rata-rata diameter zona hambat sebesar 10 mm. Pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% dengan rata-rata diameter zona hambat pada masingmasing konsentrasi adalah 12 mm, 13 mm, dan 24 mm berdasarkan klasifikasi diameter rata-rata zona hambat terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. maka semakin besar diameter rata-rata zona hambat yang dihasilkan. Jintan hitam (Nigella sativ. jika dilihat dari sifat antibakterinya, maka ekstrak jintan hitam dapat dikembangkan sebagai bahan sterilisasi pada perawatan saluran akar. Berdasarkan dari zat yang dikandung jintan hitam (Nigella sativ. tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui uji daya hambat ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. konsentrasi 50%, 75% dan 100% terhadap pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus. METHODS Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian Post Test Only Control Group Design. Sampel adalah bagian dari populasi yang dijadikan objek penelitian. Baik tidaknya sampel akan berpengaruh terhadap validitas penelitian. Untuk mendapatkan sampel yang layak dan representative, digunakan teknik sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 yang diperoleh dari stock culture bakteri yang disimpan di Laboratorium Mikrobiologi Research center Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Surabaya. Dalam penelitian ini menggunakan tiga konsentrasi, kontrol negative menggunakan aquadest steril dan kontrol positif menggunakan ChKM. Konsentrasi dan bahan dibagi menjadi lima kelompok. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini 25 sampel. Subjek penelitian ini menggunakan bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri Staphylococcus aureus dibiakkan pada media agar selama 24 jam dengan suhu 37A C, kemudian di ambil dengan osse dan disuspensikan dengan cara dimasukkan ke dalam tabung berisi larutan NaCl, setelahnya dihomogenkan menjadi suspensi bakteri. Suspensi yang terbentuk disesuaikan tingkat kekeruhannya dengan standar Mc Farland yaitu 0,5 . x 108 CFU/m. Penanaman stok kuman dengan osse steril pada media cair kemudian inkubasi 48 jam secara anaerob pada suhu 37AC. Setelah itu mengamati kekeruhan kuman kemudian distandarkan dengan standar mcfarland 0,5 . x 108 CFU/m. Kemudian menanam bakteri pada media agar dengan teknik spreading. Diberi perlakuan sampel uji pada paperdisk steril sebanyak 0,01 ml dengan mikropipet steril lalu tempelkan paperdisk pada bagian permukaan mediar agar kemudian inkubasi 48 jam secara anaerob pada suhu 37AC. Kemudian mengamati dan mengukuukur diameter zona jernih yang timbul di sekitar paperdisk. RESULTS Uji Fitokimia Tabel 1 Uji FitokimiaJintan Hitam. Golongan Kimia Pereaksi Kesimpulan Flavonoid Pereaksi Asam Oksalat Mengandung Flavonoid Asam Borat UV 366 nm Saponin HCL 2 N Mengandung Saponin Steroid Liebermann-Burchard Tidak Mengandung Sreroid Terpenoid Vanilin Asam Sulfat 5% Tidak Mengandung Terpenoid Alkaloid Mayer Mengandung Alkaloid Dragendorf Fenol FeCl3 2% Mengandung Fenol Tanin Pb Asetat 10% Mengandung Tanin Uji Zona Hambat Bakteri Sthapylococcus aureus Pengujian daya hambat antibakteri dilakukan pada bulan Desember 2023. Hasil pengujian ekstrak jintan hitam dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada media Mueller Hinton Agar menunjukkan hasil seperti pada Tabel 2 berikut. Tabel 2 Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambat Bakteri Staphylococcus aureus Pengukuran Zona Hambat . Pengulangan K( ) K(-) 10,40 14,80 17,20 21,40 II 9,80 14,20 16,80 21,80 i 9,75 15,20 17,20 21,95 9,60 13,80 17,80 21,60 9,80 13,20 16,95 21,35 Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Uji Normalitas Tabel 3 Uji Normalitas Data Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Konsentrasi 50% Konsentrasi 75% Konsentrasi 100% Kontrol Positif Pada Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa zona hambat pertumbuhan koloni bakteri Staphylococcus aureus merupakan data yang terdistribusi normal dari masing-masing kelompok karena memiliki nilai signifikasi p > 0. Uji Homogenitas Tabel 4 Uji Homogenitas Zona Hambat Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic Sig. 4,270 3,688 3,688 10,415 4,267 Berdsasarkan hasil dari uji homogenitas pada Tabel 4 di atas. Test Homogenitas menunjukkan bahwa nilai uji Levene Test = 0,000 dimana nilai p < 0. sehingga data berdistribusi tidak homogen maka dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji statistik non-parametrik yaitu Kruskal-Wallis. Uji Kruskall-Wallis Pengujian data menggunakan uji Kruskall-Wallis disebabkan karena data yang tidak terdistribusi normal. Kruskall-wallis disebut juga H test yang merupakan prosedur alternatif dari One Way Annova jika data yang diperoleh tidak memenuhi tingkat kemaknaan 95% atau =0,05. Hasil pengujian Kruskall-Wallis ditunjukkan pada Tabel 5 berikut. Tabel 5 Hasil Uji Kruskall-Wallis Zona Hambat Variabel Antar Kelompok Mean Rank Konsentrasi 50% 8,00 Konsentrasi 75% 13,00 Konsentrasi 100% 18,00 Kontrol Positif 23,00 Kontrol Negatif 3,00 Total Sig(P) Hasil uji pada Tabel 5. 5 di atas menujukkan nilai p pada uji Kruskal Wallis = 0,000 dimana nilai p < 0,05 sehingga terdapat perbedaan bermakna pada efektivitas antibakteri konsentrasi 50%, 75%, 100%, dan kontrol positif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Uji Mann Withney Hasil pengujian Mann Whitney Test menunjukkan terdapat perbedaan pada zona hambat antibakteri ekstrak Jintan Hitam pada konsentrasi 50%, 75% dan 100% terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hasil uji ditunjukkan pada Tabel 6 berikut. Tabel 6 Hasil Uji Mann Whitney Test Kelompok Beda Rata- p-value Perbedaan Rata Kontrol Negatif 21,62 0,00 Signifikan Ekstrak Jintan Hitam 4,430 0,00 Signifikan 7,380 0,00 Signifikan 11,750 0,00 Signifikan Kontrol Positif -21,620 0,00 Signifikan Ekstrak Jintan Hitam -17,190 0,00 Signifikan -14,240 0,00 Signifikan -9,870 0,00 Signifikan Kontrol Positif -4,430 0,00 Signifikan Kontrol Negatif 17,190 0,00 Signifikan Ekstrak Jintan Hitam 2,950 0,00 Signifikan 7,320 0,00 Signifikan Kontrol Positif -7,380 0,00 Signifikan Kontrol Negatif 14,240 0,00 Signifikan Ekstrak Jintan Hitam Ekstrak Jintan Hitam Ekstrak Jintan Hitam Ekstrak Jintan Hitam Ekstrak Jintan Hitam Ekstrak Jintan Hitam 0,00 Signifikan 0,00 Signifikan Kontrol Positif 0,00 Signifikan Kontrol Negatif 0,00 Signifikan Ekstrak Jintan Hitam 0,00 Signifikan 0,00 Signifikan Ekstrak Jintan Hitam Ekstrak Jintan Hitam Berdasarkan hasil uji Mann-Withney pada table 5. 6 di atas, di ketahui semua kelompok memiliki perbedaan yang signifikan terhadap daya hambat ekstrak jintan hitam terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. DISCUSSION Hasil penelitian menunjukkan terdapat zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% serta terdapat perubahan yang cukup signifikan akibat perlakuan ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. , hal ini dibuktikan dengan terbentuk zona hambat pada media agar. Zona jernih ini mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar. Ekstrak jintan hitam (Nigella sativ. didapatkan zona hambat yang paling tinggi pada konsentrasi 100% dengan rerata zona hambat sebesar 24 mm, sedangkan zona hambat yang paling rendah yaitu pada konsentrasi 50% dengan rerata zona hambat sebesar 10 mm. Pada kontrol positif menggunakan antibiotik kloramfenikol didapatkan rerata zona hambat sebesar 30 mm yakni sensitif menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan pada kontrol negatif menggunakan akuades tidak terbentuk zona hambat. Penelitian ini menggunakan aquadest steril sebagai kontrol negatif. Kontrol positif pada penelitian ini adalah chlorphenol kamfer menthol yang merupakan campuran dari 27% 4- klorofenol, 71% kamfer rasemik, dan 1,6% levomentol. Perbedaan yang dihasilkan berupa ukuran dari zona hambat yang terbentuk, dimana pada kelompok kontrol positif zona hambat yang dihasilkan sebesar 21,62 mm kemudian pada kelompok perlakuan konsentrasi 50% didapatkan rata-rata sebesar 9,87 mm, konsentrasi 75% didapatkan rata-rata sebesar 14. 24 mm dan pada konsentrasi 100% didapatkan rata-rata sebesar 17,19 mm. Beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi diameter zona hambat pertumbuhan bakteri m yaitu adanya pengaruh dari suspensi bakteri jika suspensi bakteri kurang keruh diameter zona hambat akan lebih besar, dan sebaliknya jika suspensi lebih keruh diameter zona hambat makin kecil. Dalam mengukur kekeruhan suspensi sebaiknya digunakan suatu alat. Alat yang digunakan yaitu nephelometer agar kekeruhan suspensi bakteri lebih akurat saat dibandingkan dengan kekeruhan Mc Farland 0,5 . x 108 CFU/m. Penelitian ini menunjukkan peningkatan diameter zona hambat, namun tidak termasuk pada golongan sangat kuat, hal ini bisa terjadi dikarenakan senyawa aktif berupa steroid dan terpenoid yang berada dalam kandungan jintan hitam tidak ditemukan dalam ekstrak jintan hitam. Hasil uji identifikasi fitokimia menunjukkan bahwa senyawa Flavonoid. Saponin. Alkaloid. Fenol, dan Tanin ditemukan positif sedangkan untuk senyawa Terpenoid dan Steroid ditemukan negatif. Senyawa-senyawa tersebut memiliki daya antibakteri. Ekstraksi jintan hitam dilakukan dengan menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Metode maserasi dipilih karena ekstraksi dilakukan pada suhu kamar sehingga degradasi atau kerusakan metabolit dapat diminimalisir. Etanol mampu melarutkan hampir semua zat, baik yang bersifat polar, semi polar dan non polar serta kemampuannya untuk mengendapkan protein dan menghambat kerja enzim sehingga dapat terhindar dari proses hidrolisis dan oksidasi. Etanol sangat efisien untuk ekstraksi dari berbagai konstituen tanaman. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian uji zona hambat ekstrak jintan hitam terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jintan hitam terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hasil uji zona hambat ekstrak jintan hitam terhadap bakteri Staphylococcus aureus dihasilkan zona hambat tertinggi pada konsentrasi 100% menghasilkan rata-rata 17,19 mm dan zona hambat terendah pada konsenrasi 50% menghasilkan rata-rata 9,87 mm. Pada penelitian ini ekstrak jintan hitam terjadi peningkatan rerata zona hambat dari konsentrasi terendah hingga konsentrasi tertinggi. Ekstrak dengan konsentrasi 100% merupakan konsentrasi paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan dengan konsentrasi 50% dan 75%. REFERENCES