BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial P-ISSN: 2685-6700 E-ISSN: 2685-6719 https://jurnal. id/index. php/biyan IMPLEMENTASI TERAPI REALITAS DENGAN KETERAMPILAN PRAISE. REFLECTION. IMITATION. DESCRIPTION. ENTHUSIASM (PRIDE) TERHADAP PENINGKATAN DISIPLIN BELAJAR ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM (ABH) DI SENTRA HANDAYANI JAKARTA Ovi Nur Utami Politeknik Kesejahteraan ovinurutami@gmail. Sosial Bandung. Sosial Bandung. Sosial Bandung. Ellya Susilowati Politeknik Kesejahteraan ellyasusilowati1@gmail. Meiti Subardhini Politeknik Kesejahteraan meitisubardhini@gmail. ABSTRACT R PRIDE therapy is the result of engineering psychosocial therapy technology in the form of modifying reality therapy measures to be more effective with the involvement of a support system, namely dormitory caregivers who act as surrogate parents during the child's social rehabilitation period at Sentra Handayani. R PRIDE therapy is used to deal with the problem of Children in Conflict with the Law on the issue of low discipline behavior. This study aims to explain the results of the implementation of R PRIDE therapy on improving Children in Conflict with the LawAos learning discipline. This research used a quantitative approach with Single Subject Design (SSD) reversal type A-B-A. The subjects in this study were MT. GY, and HY. The target behavior observed in this study is orderly when participating in social guidance activities, carrying out worship according to religion, and orderly following dormitory Test the validity of measuring instruments using face validity and reliability tests using percent agreement. Then the data analysis used is visual analysis which consists of analysis within conditions and between conditions. The results showed that R PRIDE therapy has been tested to be able to improve Children in Conflict with the LawAos learning discipline, which means that R PRIDE therapy has an effect on improving the learning discipline of research subjects known through data trend analysis with an increasing trend and the percentage of overlapping data in intercondition analysis is below 50% because the smaller the percentage of overlapping data, the stronger the influence of interventions on treatment changes KEYWORDS: Reality Therapy. PRIDE Skills. Learning Discipline. Children in Conflict with the Law. Single Subject Design ABSTRAK Terapi R PRIDE merupakan hasil rekayasa teknologi terapi psikososial berupa modifikasi langkah-langkah terapi realitas agar menjadi lebih efektif dengan adanya pelibatan support system yaitu pengasuh asrama yang berperan sebagai orang tua pengganti selama anak menjalani masa rehabilitasi sosial di Sentra Handayani. Terapi R PRIDE digunakan untuk menangani permasalahan Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) pada isu rendahnya perilaku disiplin. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hasil implementasi terapi R PRIDE terhadap peningkatan disiplin belajar ABH. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan Single Subject Design (SSD) jenis reversal A-B-A. Subjek dalam penelitian ini adalah MT. GY, dan HY. Perilaku sasaran yang diobservasi dalam penelitian ini adalah tertib ketika mengikuti kegiatan bimbingan sosial, melaksanakan ibadah sesuai agama, dan tertib mengikuti aturan asrama. Uji validitas alat ukur menggunakan face validity . aliditas muk. dan uji reliabilitas menggunakan percent agreement. Kemudian analisis data yang digunakan yaitu analisis visual yang terdiri dari analisis dalam kondisi dan antar Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi R PRIDE telah teruji mampu untuk meningkatkan disiplin belajar ABH yang artinya bahwa terapi R PRIDE berpengaruh terhadap peningkatan disiplin belajar subjek penelitian yang diketahui melalui analisis kecenderungan data dengan trend meningkat dan persentase data overlap pada analisis antar kondisi berada di bawah 50% karena semakin kecil Author correspondence email: ovinurutami@gmail. Available online at: https://jurnal. id/index. php/biyan Copyright . 2024 by BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. persentase data overlap, semakin kuat pengaruh intervensi terhadap perubahan KATA KUNCIi: Terapi Realitas. Keterampilan PRIDE. Disiplin Belajar. Anak yang Berkonflik dengan Hukum. Single Subject Design PENDAHULUAN Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap anak yang merupakan hak asasi manusia. Anak adalah aset paling berharga bagi keluarga, masyarakat, atau bangsa dan mereka juga yang paling rentan (Subroto, 2. Dari sekian banyak kasus yang berkaitan dengan anak, kasus Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) menjadi kasus yang paling sering dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (Aghnia, 2. Seorang anak yang terlibat perkara hukum disebut sebagai Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH), mengutip dari pasal 1 ayat 2-3 (Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, 2. Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) adalah anak yang telah berumur 12 . ua bela. tahun, tetapi belum berumur 18 . elapan bela. tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Berdasarkan data dari KPAI . sejak tahun 2011 sampai Agustus 2020 jumlah kasus ABH yang dilaporkan ke KPAI mencapai angka 13. 071 kasus. Angka ini sangat jauh lebih banyak daripada laporan kasus anak yang terjerat pornografi dan cyber crime sejumlah 4. 448 kasus, masalah kesehatan dan NAPZA yaitu 3. 149 kasus, dan trafficking serta eksploitasi anak sebesar 2. 473 kasus. Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara Asia pun kasus ABH juga mencapai angka ribuan, salah satunya di Filipina dari tahun 2009 selama 10 tahun terdapat lebih dari 11. 000 kasus (Mariano, 2. Setiap anak memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang. Pembinaan dan perlindungan anak ini tanpa terkecuali termasuk untuk ABH juga berhak memperolehnya. Chrisandi . mengemukakan bahwa pembinaan dan perlindungan ABH dilaksanakan melalui program rehabilitasi sosial yang sangat penting dilakukan demi pertumbuhan dan perkembangan Salah satu pihak pelaksana program rehabilitasi sosial untuk ABH yaitu pada sentra terpadu dan sentra sebagai UPT dari Kementerian Sosial. Namun demikian, dalam praktiknya ternyata banyak ditemui problematika yang terjadi pada ABH selama berada di Sentra. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tetteng, et al . diketahui bahwa ABH memiliki masalah terkait dengan kedisiplinan dan etika berpakaian ABH yang tidak sesuai. Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh Destritanti dan Syafiq . ditemukan hasil bahwa menjadi ABH berdampak pada diri dan identitas mereka, dampak tersebut berbentuk stigma dan label dari masyarakat dan dijauhi oleh teman serta membuat anak merasakan suatu ancaman pada identitasnya. Oleh karena itu, mengakibatkan ABH memiliki konsep diri negatif yang berefek pada perilaku ketidaksiplinan yang sering dilakukan. Dari hasil praktikum peneliti pada tahun 2023 di Sentra Handayani juga tergambarkan bahwa konsep diri yang negatif bagi ABH menimbulkan kurangnya kepercayaan diri pada kemampuannya sendiri. ABH merasa tidak menyukai dirinya sendiri dan merasa tidak mampu dalam pergaulan atau lingkungan sosialnya saat ini sehingga cenderung malas dan berperilaku tidak disiplin seperti terlambat masuk kegiatan di sentra, tidak mematuhi aturan dalam kegiatan bimbingan sosial, sering meninggalkan solat lima waktu bagi yang beragama muslim, tidur larut malam dan bangun kesiangan serta malas membersihkan asrama. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Darwianis . , konsep diri negatif pada siswa menimbulkan kurangnya kepercayaan pada kemampuan sendiri, siswa tidak akan menyenangi dirinya dan merasa tidak mampu dalam mengenali diri, menarik diri dalam pergaulan, cenderung malas, dan cenderung gagal secara akademis. Terapi realitas menjadi pilihan bagi pekerja sosial dalam melakukan intervensi bagi ABH yang mengalami konsep diri negatif yang merupakan aspek kognitif. Adanya konsep diri yang negatif pada diri anak yang mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku yang mengakibatkan ABH memiliki disiplin belajar yang rendah. Terapi realitas yang diimplementasikan menggunakan tahapan menurut Wubbolding . yaitu Wants. Doing. Evaluation. Planning and Commitment. Penerapan terapi realitas dengan tahapan tersebut di Sentra Handayani dirasa memiliki kelemahan dalam Kelemahan tersebut antara lain masih mengalami kurang motivasi pada anak untuk komitmen mengimplementasikan perencanaan yang telah dibuat dan ketika dilakukan secara kelompok memberikan efek adanya perencanaan dari klien yang hanya ikut-ikutan dengan perencanaan teman sebayanya. Berdasarkan kelemahan yang dialami, dibutuhkan model pengembangan dari terapi realitas. Peneliti melakukan pengembangan model terapi realitas yaitu terapi R PRIDE. Terapi R PRIDE merupakan modifikasi dari terapi realitas yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penerapan terapi realitas. Terapi realitas realitas menambahkan teknik keterampilan praise, reflection, imitation, description, enthusiasm (PRIDE) pada Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh implementasi terapi R PRIDE dalam meningkatkan disiplin belajar anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pekerjaan sosial khususnya terapi psikososial untuk anak METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Single Subject Design (SSD) karena penelitian yang dilakukan termasuk ke dalam profil terapi psikososial dengan level praktik mikro (Pujileksono et al. , 2. Model rancangan penelitian yang digunakan yaitu model A1-B-A2 yang menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel terikat dan variabel bebas (Sunanto et al. , 2. Pengambilan sampel sebanyak tiga subjek sebagai subjek BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | tunggal berdasarkan kriteria yang telah ditentukan (Sugiyono, 2. antara lain subjek adalah ABH sebagai pelaku tindak pidana yang tinggal di asrama kepengasuhan dan memiliki konsep diri negatif yang diperoleh dari hasil pengujian kuesioner aspek konsep diri. Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa kuesioner dan pedoman observasi. Peneliti membuat kuesioner dalam bentuk pernyataan tertutup yang mengacu pada aspek konsep diri menurut Teori Berzonsky . untuk memperoleh subjek penelitian yang sesuai yaitu yang memiliki konsep diri negatif lalu membuat kuesioner aspek disiplin belajar menurut Arikunto . alam Fajaryanti, 2. yaitu aspek disiplin di dalam kelas, aspek disiplin di luar kelas, dan aspek disiplin di rumah dengan menyesuaikan pada lokasi penelitian. Sedangkan pedoman observasi digunakan untuk mengukur subjek dari aspek perilakunya dengan pencatatan kejadian atau frekuensi (Sunanto et al. , 2. Perilaku sasaran yang diobservasi yaitu tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos, melaksanakan ibadah sesuai agama ABH, dan tertib mengikuti aturan asrama. Selanjutnya uji validitas menggunakan face validity sedangkan uji reliabilitas melibatkan dua orang pengamat dengan percent agreement. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian antara lain implementasi intervensi terapi R PRIDE, kuesioner, observasi, dan studi dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis visual dalam kondisi dan analisis visual antar kondisi melalui penyajian data dari tabel dan grafik. HASIL PENELITIAN DISCUSSION Subjek Penelitian MT Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Gambar 1. Grafik Data Observasi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek MT Gambar 1 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek MT. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek MT. Tabel 1. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek MT Tabel 1 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek MT. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek 3 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. MT selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Tabel 2. Analisis Antar Kondisi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek MT Tabel 2 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek MT. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek MT pada kondisi baseline (A. dibandingkan dengan intervensi (B) dan intervensi (B) dibandingkan dengan baseline kedua (A. terjadi peningkatan perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek MT. Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Gambar 2. Grafik Data Observasi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek MT Gambar 2 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT Tabel 3. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek MT BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Tabel 3 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Tabel 4. Analisis Antar Kondisi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek MT Tabel 4 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT pada kondisi baseline (A. dibandingkan dengan intervensi (B) dan intervensi (B) dibandingkan dengan baseline kedua (A. terjadi peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT. Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Gambar 3. Grafik Data Observasi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek MT Gambar 3 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek MT. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek MT 5 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. Tabel 5. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek MT Tabel 5 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek MT. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku subjek MT selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan Tabel 6. Analisis Antar Kondisi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek MT Tabel 6 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek MT. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek MT pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku pada subjek MT Subjek Penelitian GY Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Gambar 4. Grafik Data Observasi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek GY Gambar 4 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku tertib mengikuti kegiatan bimsos subjek GY. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku mengikuti kegiatan bimsos subjek GY BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Tabel 7. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek GY Tabel 7 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek GY. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku subjek GY selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan. Tabel 8. Analisis Antar Kondisi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek GY Tabel 8 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos pada subjek GY. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek GY pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku pada subjek GY Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Gambar 5. Grafik Data Observasi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek GY 7 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. Gambar 5 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek GY. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek GY Tabel 9. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek GY Tabel 9 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek GY. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku subjek GY selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan Tabel 10. Analisis Antar Kondisi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek GY Tabel 10 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama pada subjek GY. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek GY pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku pada subjek GY Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Gambar 6. Grafik Data Observasi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek GY BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Gambar 6 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek GY. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek GY Tabel 11. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek GY Tabel 11 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek GY. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek GY selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan Tabel 12. Analisis Antar Kondisi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek GY Tabel 12 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek GY. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek GY pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek GY. Subjek Penelitian HY Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Gambar 7. Grafik Data Observasi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek HY 9 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. Gambar 7 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek HY. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek HY Tabel 13. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek HY Tabel 13 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos subjek HY. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos pada subjek HY selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan Tabel 14. Analisis Antar Kondisi Perilaku Tertib Ketika Mengikuti Kegiatan Bimsos Subjek HY Tabel 14 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos pada subjek HY. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek HY pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos pada subjek HY Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Gambar 8. Grafik Data Observasi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek HY BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Gambar 8 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek HY. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku tertib melaksanakan ibadah sesuai agama subjek HY Tabel 15. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek HY Tabel 15 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama subjek HY. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama pada subjek HY selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan Tabel 16. Analisis Antar Kondisi Perilaku Melaksanakan Ibadah Sesuai Agama Subjek HY Tabel 16 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama pada subjek HY. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek HY pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama pada subjek HY. Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Gambar 9. Grafik Data Observasi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek HY 11 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. Gambar 9 menunjukkan data pengukuran hasil observasi pada perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek HY. Grafik tersebut menunjukkan data pada fase baseline (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline kedua (A. Grafik tersebut menunjukkan adanya peningkatan perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek HY Tabel 17. Analisis Dalam Kondisi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek HY Tabel 17 menunjukkan analisis dalam kondisi perilaku tertib mengikuti aturan asrama subjek HY. Berdasarkan hasil analisis dalam kondisi terjadi peningkatan perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek HY selama tiga fase pengamatan yang telah dilakukan Tabel 18. Analisis Antar Kondisi Perilaku Tertib Mengikuti Aturan Asrama Subjek HY Tabel 18 menunjukkan analisis antar kondisi perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek HY. Berdasarkan hasil analisis antar kondisi yaitu dengan membandingkan data perilaku subjek HY pada kondisi baseline (A. dengan kondisi intervensi (B) dan kondisi intervensi (B) dengan baseline kedua (A. , terjadi peningkatan perilaku tertib mengikuti aturan asrama pada subjek HY. Model Terapi R PRIDE Terapi R PRIDE merupakan hasil rekayasa teknologi terapi psikososial berupa modifikasi terapi realitas dengan teknik keterampilan praise, reflection, imitation, description, enthusiasm (PRIDE) agar menjadi lebih efektif dengan adanya pelibatan support system yaitu pengasuh asrama yang berperan sebagai orang tua pengganti selama anak berada di sentra. Pada terapi realitas intervensi berakhir dengan perencanaan dan komitmen . lanning and Terapi R PRIDE menawarkan kebaruan untuk mengimplementasikan perencanaan dan komitmen . lanning and commitmen. melalui teknik keterampilan PRIDE. Tujuan dari penerapan terapi R PRIDE antara lain menstimulasi anak untuk merealisasikan perencanaan dan komitmen yang telah dibuat, menciptakan situasi yang mendukung implementasi perencanaan dan komitmen, memelihara perubahan perilaku yang terjadi karena adanya pelibatan pengasuh asrama sebagai peran pengganti orang tua, dan membangun pola asuh yang efektif sesuai kebutuhan klien. Kemudian sasaran dari terapi R PRIDE adalah ABH di dalam sentra atau yang menjalankan layanan residensial di panti atau lembaga dengan fokus masalah ABH yang memiliki perilaku disiplin belajar rendah atau sedang. Langkah-langkah penerapan terapi R PRIDE terdiri dari tiga tahap yaitu tahap persiapan yang terdiri dari tahap persiapan untuk anak dan tahap persiapan untuk BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | pengasuh, lalu tahap pelaksanaan dan tahap pengakhiran yang berisi pengakhiran untuk anak dan pengakhiran untuk Gambar 9. Bagan Alur Terapi R PRIDE PEMBAHASAN Berdasarkan data dan informasi yang disajikan di atas dapat dilihat bahwa implementasi terapi R PRIDE pada penelitian ini dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan perilaku yang menunjukkan meningkatnya disiplin belajar pada ketiga subjek yaitu MT. GY, dan HY. Terapi R PRIDE diberikan kepada ketiga subjek penelitian yang memiliki tingkat disiplin belajar yang rendah di antara ABH lain di Sentra Handayani. Terapi R PRIDE diberikan pada fase intervensi (B) dengan total masing-masing 6 sesi per subjek. Terapi R PRIDE menghadirkan peran pengasuh asrama sebagai support system yang menjadi orang tua pengganti dari subjek penelitian sehingga membuat anak menjadi termotivasi dan merasa dihargai sebagai anak. Pemberian terapi ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku disiplin belajar dengan tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos, melaksanakan ibadah sesuai agama, dan tertib mengikuti aturan asrama. Untuk mengetahui pengaruh intervensi terapi R PRIDE terhadap peningkatan disiplin belajar anak yang berkonflik dengan hukum (ABH), peneliti melakukan pengukuran perubahan perilaku dengan menggunakan Single Subject Design (SSD) dengan desain A-B-A. Berdasarkan pada latar belakang penelitian, terdapat dua hipotesis yang diujikan yaitu ada pengaruh implementasi terapi R PRIDE terhadap peningkatan disiplin belajar ABH dan tidak ada pengaruh implementasi terapi R PRIDE terhadap peningkatan disiplin belajar ABH. Kemudian berdasarkan hasil observasi, peneliti melakukan analisis data secara visual yaitu analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Analisis yang dilakukan berdasarkan pada kemunculan perilaku pada subjek MT. GY, dan HY. Perilaku yang dianalisis meliputi perilaku tertib ketika mengikuti kegiatan bimsos, perilaku melaksanakan ibadah sesuai agama, dan perilaku tertib mengikuti aturan Seluruh kejadian perilaku yang diamati dan dicatat frekuensinya dilakukan analisis pada fase A1 . , fase B . , dan fase A2 . aseline kedu. Selanjutnya berdasarkan hasil pengukuran kuesioner disiplin belajar yang dilakukan pada subjek MT. GY, dan HY sebelum dilakukan intervensi berupa terapi R PRIDE menunjukkan skor yang rendah yaitu subjek MT memperoleh skor 43, subjek GY memperoleh skor 38, dan subjek HY memperoleh skor 40 yang artinya berada pada kategori sedang tetapi masih dalam rentang batas bawah sehingga diperlukan intervensi agar skor tersebut dapat Lalu kondisi subjek MT setelah diberikan intervensi menunjukkan skor disiplin belajar sebanyak 88 dengan kategori tinggi, subjek GY memiliki skor disiplin belajar sebanyak 68 dengan kategori tinggi, dan subjek HY memiliki skor disiplin belajar sebanyak 82 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan disiplin belajar ketiga subjek setelah diberikan intervensi terapi R PRIDE. Dari hasil observasi, analisis data dan pengukuran yang telah dilakukan, diketahui bahwa penerapan terapi R PRIDE menunjukkan adanya pengaruh yang positif terhadap peningkatan disiplin belajar pada ketiga subjek penelitian yang dibuktikan dari hasil analisis dalam kondisi dan antar kondisi meliputi level perubahan dan tingkat perubahan yang terjadi. Terdapat level perubahan yang mengalami peningkatan cukup baik dalam dan antar kondisi, walaupun terdapat beberapa data dengan level tidak mengalami perubahan karena total kejadian perilaku subjek pada awal dan pada akhir kondisi memiliki total yang sama. Analisis antar kondisi juga menunjukkan data overlap yang sedang. Data overlap yang semakin kecil mendukung kesimpulan bahwa pelaksanaan terapi R PRIDE memiliki 13 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Ovi Nur Utami, et al. pengaruh dalam meningkatkan disiplin belajar pada subjek yang diteliti. Data overlap yang tinggi dapat disebabkan karena jumlah kejadian pada beberapa sesi dalam satu kondisi memiliki jumlah yang sama. Sedangkan jumlah data overlap yang terendah yaitu 0% secara keseluruhan sering terjadi baik dalam kondisi baseline maupun kondisi Sedangkan pada hasil analisis terhadap stabilitas data juga lebih banyak menunjukkan nilai yang stabil. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan bahwa terapi R PRIDE dapat digunakan sebagai salah satu pilihan dalam menangani permasalahan rendahnya disiplin belajar pada klien di Sentra Handayani Jakarta. Keberhasilan dari implementasi terapi R PRIDE terhadap subjek penelitian MT. GY, dan HY juga tidak terlepas dari beberapa kelemahan yang dialami saat penelitian, antara lain proses pelaksanaan terapi R PRIDE bergantung pada karakteristik subjek karena masing-masing subjek penelitian memiliki kecenderungan yang berbeda sehingga dibutuhkan penyesuaian kembali teknik-teknik yang tepat dan cocok diimplementasikan terhadap penyelesaian masalah masing-masing subjek, kelekatan atau faktor kedekatan dengan pengasuh asrama berpengaruh terhadap penerapan keterampilan PRIDE sehingga perubahan perilaku tidak terjadi secara berkelanjutan, dan sasaran penelitian ini adalah ABH dengan usia remaja yang menurut Santrock Autahap perkembangan kognitif remaja yang sesuai adalah mencapai tahap pemikiran operasional formalAy . alam Robiah, 2020, hal. sehingga ABH suka mencoba-coba sesuatu atau situasi baru salah satunya dengan melarikan diri dari wilayah Sentra Handayani yang berarti melanggar komitmen awal dari implementasi terapi R PRIDE ini. KESIMPULAN Implementasi terapi R PRIDE merupakan langkah yang tepat untuk menjawab kondisi anak yang mengalami konsep diri negatif yang terlihat dengan rendahnya perilaku disiplin belajar karena terlibat perkara hukum dan menjalani masa rehabilitasi sosial di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial. Hasil implementasi terapi R PRIDE menunjukkan adanya peningkatan skor perilaku disiplin belajar pada saat sebelum diberikan intervensi dengan sesudah diberikan intervensi. Keberhasilan dari implementasi terapi juga didukung dengan hasil analisis dalam kondisi dan antar kondisi yang dilakukan. Secara umum jejak data pada fase intervensi mengalami kenaikan dari fase baseline dengan arah perubahan meningkat positif. Sedangkan perubahan level secara umum juga menunjukkan hasil yang membaik, walaupun terdapat tiga data perubahan level yang menunjukkan tidak ada perubahan atau memburuk karena subjek masih beradaptasi dengan intervensi yang diberikan, lalu di fase berikutnya data kembali menunjukkan hasil Selanjutnya kecenderungan stabilitas pada data sebagian besar menunjukkan data yang stabil dengan level stabilitasnya menunjukkan nilai yang terus meningkat pada masing-masing kondisi jika dibandingkan data awal dan juga bergerak ke arah membaik yang sesuai dengan tujuan intervensi yaitu meningkatnya perilaku disiplin belajar. Kemudian pada desain akhir dari terapi R PRIDE memiliki perubahan berupa penambahan kegiatan pada tahap persiapan untuk anak dan pengasuh asrama. Berdasarkan hasil kajian secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan temuan yang mampu menjawab rumusan masalah penelitian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inplementasi terapi R PRIDE telah teruji mampu untuk meningkatkan disiplin belajar ABH. Terapi R PRIDE telah diimplementasi dan menunjukkan respons dan hasil yang positif yaitu terjadinya perubahan perilaku disiplin belajar yang semakin meningkat. Walaupun demikian, perlu adanya kajian lebih dalam untuk mengembangkan desain terapi R PRIDE ini menjadi lebih adaptif untuk diterapkan di berbagai lokus dan kasus di masa yang akan datang. Beberapa rekomendasi dapat diberikan untuk melengkapi keterbatasan dari rekayasa teknologi terapi R PRIDE antara lain mengembangkan lebih lanjut hasil rekayasa teknologi terapi R PRIDE berdasarkan perkembangan permasalahan ataupun kebutuhan, lalu pekerja sosial dan pengasuh asrama diharapkan dapat terus berkelanjutan mengontrol perkembangan dari perilaku anak agar dapat melihat perubahan yang terjadi dan benar-benar terlihat pengaruh dari terapi R PRIDE. Implementasi terapi R PRIDE ini belum diteliti pada lintas variabel, diharapkan penelitian selanjutnya dapat meneliti pada lintas variabel untuk menjawab apakah hasil rekayasa teknologi ini berlaku untuk berbagai jenis perilaku atau hanya perilaku tertentu. BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | REFERENCES