Vol. No. April 2024, pp 147-158 https://doi. org/10. 36590/jika. http://salnesia. id/index. php/jika jika@salnesia. id, p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENELITIAN Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-59 bulan: Penelitian Kasus-Kontrol di Wilayah Sub Urban The Risk Factors for Stunting in Children Aged 6-59 Months: A Study of Case Control in A Sub Urban Area Walliyana Kusumaningati1*. Nunung Cipta Dainy2 Program Studi Gizi. Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta. Indonesia Abstract Indonesia currently has a high incidence of stunting. The stunting prevalence in Bogor Regency is 28,6%, which is higher than the national stunting prevalence. Padasuka Village is categorized as sub-urban. Factors causing stunting can differ depending on the characteristics of the area. The objective of the study was to analyze the factors that cause stunting in children aged 6-59 months in sub-urban areas. Observational research method with case control design was conducted from December 2022 to June 2023. The research location was Padasuka Village. Bogor Regency. Data on children under five years old were weight, height, history of infectious diseases, exclusive breastfeeding, immunization, macro and micronutrient intake and maternal knowledge. Data were collected using a questionnaire with interview techniques. Nutrient intake data were obtained using a 2x24 hour food recall form. The study sample sizes were 41 cases and 41 controls, making a total of 82 subjects. Statistical analysis using SPSS 16 for Windows software used univariate analysis to see the description of each research variable and analysis of the relationship between variables . using the Chi-Square test for characteristic data and independent t-test for intake data. The results of the analysis were birth weight . -value=0,. , birth length . -value=0,. , energy intake . -value=0,. , carbohydrate intake . -value=0,. , and protein intake . -value=0,. had significant differences between the stunting group and the normal group. Birth weight, birth length, energy intake, carbohydrate intake, and protein intake are risk factors for stunting in children under five years old in sub-urban areas. Keywords: birth length, birth weight, children, macronutrients intake, stunting Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Submitted 16 September 2023 Accepted 30 April 2023 Published 30 April 2023 Email: info@salnesia. id, jika@salnesia. Phone: Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. No. April 2024 Abstrak Saat ini Indonesia memiliki angka kejadian stunting yang masih tinggi. Prevalensi stunting di Kabupaten Bogor sebesar 28,6%, angka ini lebih tinggi daripada prevalensi stunting nasional. Kelurahan Padasuka termasuk kategori sub urban. Faktor penyebab stunting dapat bervariasi tergantung dari karakteristik wilayah. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor penyebab stunting pada anak usia 6-59 bulan di wilayah sub urban. Metode penelitian observasional dengan desain case control dilakukan pada bulan Desember 2022 hingga Juni Lokasi penelitian di Kelurahan Padasuka Kabupaten Bogor. Data anak balita yang diambil adalah berat badan, tinggi badan, riwayat penyakit infeksi. ASI eksklusif, imunisasi, asupan zat gizi makro dan mikro serta pengetahuan ibu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Data asupan gizi diperoleh menggunakan formulir food recall 2x24 jam. Besar subjek penelitian sebanyak 41 orang kasus dan 41 orang kontrol, sehingga total subjek sebanyak 82 orang. Analisis statistik menggunakan software SPSS 16 for Windows menggunakan analisis univariat untuk melihat gambaran setiap variabel penelitian dan analisis hubungan antar variabel . menggunakan uji Chi-Square untuk data karakteristik dan uji independent t-test untuk data asupan. Hasil analisis, berat lahir . -value=0,. , panjang lahir . -value=0,. , asupan energi . -value=0,. , asupan karbohidrat . -value=0,. , dan asupan protein . -value=0,. terdapat perbedaan signifikan antara kelompok stunting dengan kelompok normal. Berat lahir, panjang lahir, asupan energi, asupan karbohidrat, dan asupan protein merupakan faktor risiko stunting pada anak balita di wilayah sub-urban. Kata Kunci: panjang lahir, berat lahir, balita, asupan zat gizi makro, stunting *Penulis Korespondensi: Walliyana Kusumaningati, email: walliyana. kusumaningati@umj. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Stunting adalah kondisi saat seorang anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari yang seharusnya pada usia tertentu, biasanya diukur dengan standar deviasi (SD) dari median tinggi badan populasi menurut World Health Organization (WHO) (Kemenkes RI, 2. Stunting dapat disebut sebagai salah satu bentuk dari gagal tumbuh . ailure to thriv. yang terjadi pada masa awal kehidupan. Gagal tumbuh dapat terjadi sejak bayi masih dalam kandungan, misalnya karena kurangnya asupan gizi yang adekuat oleh ibu hamil atau masalah kesehatan ibu yang memengaruhi pertumbuhan Meskipun gejalanya mungkin tidak terlihat secara jelas pada awalnya, stunting bisa menjadi manifestasi yang terlihat ketika anak mencapai usia sekitar 2 tahun atau Periode usia anak 0-24 bulan merupakan periode masa keemasan yang sangat Kurangnya gizi pada rentang usia tersebut dapat menimbulkan akibat yang permanen dan tidak dapat diperbaiki jika sudah melewati rentang usia tersebut. Sehingga asupan gizi yang adekuat diperlukan untuk mengurangi risiko tersebut (Rahayu et al. , 2. Stunting masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%. Angka ini menunjukkan bahwa hampir seperempat anak di Indonesia mengalami stunting, yang dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan, perkembangan, dan produktivitas mereka di masa depan (Kemenkes RI, 2. Pemerintah telah membuat kebijakan untuk mengatasi permasalahan stunting berdasarkan lokasi fokus . di tingkat desa/kelurahan. Data prevalensi stunting di Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 148 Kusumaningati & Dainy Vol. No. April 2024 Jawa Barat masih tinggi yakni 24,5% (Kemenkes RI, 2. Kabupaten Bogor termasuk salah satu wilayah yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar di Jawa Barat. Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bogor sebesar 28,6% menunjukkan bahwa masalah stunting memang cukup signifikan di wilayah tersebut. Prevalensi yang lebih tinggi dari rata-rata nasional menunjukkan adanya tantangan khusus yang mungkin dihadapi oleh Kabupaten Bogor dalam hal gizi, akses terhadap layanan kesehatan, sanitasi, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan anak (Kemenkes RI. Kelurahan Padasuka termasuk kedalam salah satu wilayah lokus stunting di Kabupaten Bogor berdasarkan SK Bupati Bogor Tahun 2021. Berdasarkan data PK21 jumlah keluarga berisiko stunting di Kelurahan Padasuka sebanyak 2. 013 keluarga atau sebesar 41,7% (BKKBN, 2. Status Kelurahan Padasuka sebagai wilayah lokus stunting mengindikasikan bahwa permasalahan stunting di Kelurahan Padasuka harus menjadi prioritas utama untuk segera ditanggulangi. Kelurahan Padasuka terdiri dari 14 RW dan memiliki 18 posyandu dengan jumlah kader total sebanyak 96 orang. Selain memiliki kader posyandu. Kelurahan Padasuka juga memiliki Kader KB sebanyak 1 orang, kader PKK 23 orang, dan telah terbentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). Posyandu di wilayah Kelurahan Padasuka melakukan pelayanan di bawah pengawasan dan pembinaan Puskesmas Laladon. Luas wilayah Kelurahan Padasuka sebesar 132,8 ha yang berbatasan dengan Kota Bogor di wilayah utara, timur dan tenggara. Oleh karena itu. Kelurahan Padasuka memiliki potensi ekonomi kreatif yang baik. Adapun wilayah barat dan selatan berbatasan dengan Kecamatan Dramaga dan Kecamatan Tamansari yang memiliki potensi lahan pertanian. Jalur transportasi di Padasuka sangat mudah karena tersedia angkutan umum perkotaan serta alternatif transportasi berbasis online. Topografi wilayah Kelurahan Padasuka merupakan daerah padat penduduk dengan jumlah penduduk sebesar 18. 944 jiwa. Jumlah bayi dan balita di Kelurahan Padasuka sebanyak 1513 jiwa atau sekitar 8% dari jumlah penduduk (BPS, 2. Berdasarkan karakteristik wilayah tersebut, maka Kelurahan Padasuka termasuk kategori wilayah sub-urban. Faktor-faktor penyebab stunting dapat bervariasi tergantung dari karakteristik wilayah masing-masing. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stunting antara lain asupan zat gizi makro, asupan zat gizi mikro (Fe. Zn. ASI Eksklusif, riwayat penyakit infeksi, serta pengetahuan ibu. Akan tetapi, penelitian mengenai analisis faktor penyebab stunting di wilayah sub-urban belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab stunting di wilayah suburban, sehingga solusi program yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan stunting di wilayah sub-urban menjadi lebih fokus dan berdampak maksimal. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan desain casecontrol study. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2022 hingga Juni 2023. Tahapan penelitian dimulai dari persiapan di lapangan, persiapan instrumen penelitian, pengambilan data dan diakhiri dengan pengolahan dan analisis data. Tempat penelitian di Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor. Alat yang digunakan adalah peralatan tulis dan perlengkapan wawancara. Timbangan badan dan microtoise untuk mengukur antropometri subjek. Adapun bahan yang digunakan adalah bahan kontak bagi subjek penelitian. Tahapan kegiatan penelitian meliputi tahap persiapan lapang, tahap persiapan instrumen, dan tahap pengambilan data. Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 149 Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. No. April 2024 Perhitungan minimal subjek menggunakan sample size calculator untuk studi case-control dari software sampsize. Informasi nilai Odds Ratio (OR) dan persentase controls exposed terhadap variabel yang diteliti diinput kedalam Berdasarkan penelitian Yanti . dengan minimum OR 9,33, power 90% dan alpha 5%, maka minimum besar subjek yang diperlukan sebanyak 40 orang per kelompok atau total sebanyak 80 orang. Kriteria inklusi subjek yaitu anak laki-laki dan perempuan berusia 6-60 bulan, untuk kelompok kasus memiliki status gizi berdasarkan TB/U dengan Z-score<-2,00, untuk kelompok kontrol memiliki status gizi berdasarkan TB/U dengan Z-scoreOu-2,00, berdomisili di Kelurahan Padasuka Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, dan orang tua bersedia mengikuti rangkaian penelitian. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah memiliki cacat lahir/kelainan fisik dan atau mental, serta memiliki riwayat penyakit kronis. Berdasarkan kriteria di atas, didapatkan jumlah subjek pada tiap kelompok sebanyak 41 orang atau total sebanyak 82 orang. Adapun prosedur pengambilan subjek telah tercantum pada Gambar 1. Purposive RW 1-14 Penentuan sampling frame dan screening berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi Balita Stunting Z-skor TB/U <-2 Balita Normal Z-skor TB/U Ou-2 Simple Random Sampling Simple Random Sampling 41 Kasus 41 Kontrol Gambar 1. Prosedur pengambilan subjek Variabel dependen penelitian ini adalah status gizi balita, sementara variabel independen antara lain asupan zat gizi makro . nergi, protein, lemak, karbohidra. , asupan zat gizi mikro (Fe. Zn. , riwayat ASI Eksklusif, riwayat penyakit infeksi, riwayat imunisasi, dan pengetahuan ibu. Data variabel status gizi balita TB/U didapatkan dengan melakukan pengukuran antropometri . ut off: stunting . -core <-. -skor >-. Data asupan zat gizi mikro didapatkan dengan menggunakan instrumen food recall 2x24 jam. Adapun cut off yang digunakan adalah dari Permenkes . antara lain: > 120%: Lebih. 90 Ae 120%: Normal. 80 Ae 89%: Defisit tingkat ringan. 70 Ae 79%: Defisit tingkat sedang. < 70%: Defisit tingkat berat. Data riwayat ASI Eksklusif, riwayat penyakit infeksi dan riwayat imunisasi didapatkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner. Sementara itu, untuk data pengetahuan ibu menggunakan metode wawancara dengan kuesioner pengetahuan ibu tentang stunting yang telah dilakukan uji validasi . ronbachAos alpha > 0,. Data Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 150 Kusumaningati & Dainy Vol. No. April 2024 hasil wawancara dan pengukuran ditabulasi dan dirata-ratakan kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat gambaran univariat tiap variabel. Data yang digunakan pada analisis univariat merupakan nilai rataan dan standar deviasi. Selanjutnya dilakukan uji hubungan dengan uji Chi-Square untuk data karakteristik . tatus gizi balita, riwayat ASI Eksklusif, riwayat penyakit infeksi, riwayat imunisasi, dan pengetahuan ib. dan uji independent t-test untuk data asupan zat gizi makro dan mikro menggunakan SPSS 16 for Windows. Penelitian ini dijalankan dengan memperhatikan etika dan keamanan subjek penelitian dengan surat persetujuan etik penelitian nomor:18/PE/KE/FKK-UMJ/II/2023. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik subjek Subjek penelitian terdiri dari dua kelompok balita, yakni kelompok balita dengan tinggi badan kategori stunting dan normal berdasarkan indeks TB/U. Hasil analisis statistik menggunakan uji komparatif chi-square pada tabel 1 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan jenis kelamin, pemberian ASI eksklusif, riwayat imunisasi, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan ibu diantara kedua kelompok subjek. Secara prinsip, jenis kelamin . aki-laki atau perempua. tidak secara langsung menentukan peluang untuk mengalami stunting. Namun, faktor-faktor seperti pola makan, status gizi, akses terhadap layanan kesehatan, sanitasi, lingkungan, dan sosial-ekonomi dapat mempengaruhi risiko stunting pada anak, dan faktor-faktor ini dapat berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dan kejadian stunting (Savita dan Amelia, 2020. Anggraeni et al. , 2020. Sari IP et al. , 2. Oleh karena itu, setiap orang tua harus memantau tumbuh kembang anak tanpa terkecuali. Tabel 1. Hasil uji komparasi karakteristik subjek antara kelompok stunting dan normal Stunting Normal Total P-value (N=. (N=. Variabel Jenis Kelamin 0,659 - Laki-laki - Perempuan Berat Lahir 0,012*a - BBLR (< 2. - Normal (Ou 2. Panjang Lahir - Pendek (< 47 c. OR 95% - Normal (Ou 47 c. CI =5,881 ASI Eksklusif 0,391 - Tidak - Ya Riwayat Imunisasi 0,153 - Tidak Lengkap - Lengkap Riwayat Penyakit Infeksi 0,264 - Ya Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 151 Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Variabel - Tidak Pengetahuan Ibu - Kurang (Skor <. - Baik (Skor Ou. Vol. No. April 2024 Stunting (N=. Normal (N=. Total P-value 0,824 Keterangan: auji Fisher, buji Chi-square, *berbeda signifikan pada <0,05 ASI Eksklusif dan imunisasi merupakan salah satu faktor yang cakupannya menjadi target nasional. Pemerintah memiliki program khusus untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif dan imunisasi pada bayi dan balita. Pada penelitian ini, balita yang mendapatkan ASI eksklusif dan imunisasi memiliki peluang yang sama mengalami stunting. Hal ini memberikan suatu pandangan bahwa kita tidak bisa merasa aman jika cakupan ASI eksklusif dan imunisasi telah memenuhi target capaian. Namun tidak berarti bahwa ASI eksklusif dan imunisasi menjadi tidak penting untuk diberikan, justru dengan pemberian ASI eksklusif dan imunisasi merupakan kebutuhan dasar anak sebagai upaya meningkatkan pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Hal tersebut terlihat juga dari data riwayat penyakit infeksi . untaber, diare, dan infeksi saluran pernafasan ata. antara kedua kelompok subjek yang tidak berbeda signifikan. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Yuniarti . yang menyatakan bahwa ASI eksklusif dan riwayat penyakit infeksi berhubungan dengan kejadian stunting di Kabupaten Pekalongan. Hal ini dapat disebabkan subjek pada penelitian tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, walaupun desain penelitian menggunakan casecontrol. Subjek penelitian Yuniarti . adalah balita di daerah banjir rob Pekalongan Utara sehingga kemungkinan terpapar infeksi lebih tinggi dibandingkan dengan subjek penelitian ini yang berada di wilayah sub-urban Kabupaten Bogor. Faktor pengetahuan ibu yang tidak berbeda nyata selaras dengan hasil penelitian lain di Kota Padang yakni tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting di Kota Padang (Setiawan et al. , 2. Pertanyaan dalam instrumen pengetahuan ibu terkait dengan faktor-faktor penyebab stunting. Rata-rata skor pengetahuan ibu pada penelitian ini adalah 76,4 dari skor maksimal 100. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para ibu di wilayah ini telah mendapatkan penyuluhan tentang stunting sehingga memiliki rata-rata tingkat pengetahuan pada kategori baik (Evani et al. , 2022. Dainy et al. , 2. Riwayat berat lahir dan panjang lahir berbeda signifikan antara kelompok stunting dengan kelompok normal. Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh anak dengan berat lahir kategori BBLR mengalami stunting. Adapun riwayat panjang lahir pada data menunjukkan bahwa 81,3% anak dengan riwayat panjang lahir pendek (<47 c. mengalami stunting. Nilai OR (Odds Rati. pada variabel panjang lahir menunjukkan bahwa risiko stunting pada anak dengan panjang lahir yang pendek adalah 5,8 kali lebih Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Sutrio dan Lupiana . di Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung yang menghasilkan data sebanyak 100% anak dengan berat lahir kategori BBLR mengalami stunting dan 78,1% anak dengan panjang lahir kategori pendek mengalami stunting. Penelitian ini memperkuat temuan dari penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya korelasi antara berat lahir rendah dan panjang lahir pendek dengan kejadian stunting di berbagai daerah di Indonesia (Ayuningtyas et al. , 2020. Andini et al. , 2020. Hanifa dan Mon, 2. Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 152 Kusumaningati & Dainy Vol. No. April 2024 Asupan zat gizi makro dan mikro Tabel 2 menampilkan hasil analisis perbandingan asupan zat gizi makro dan mikro antara kelompok stunting . dan kelompok normal . berdasarkan persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG). Hasil analisis menunjukkan bahwa asupan energi pada kelompok stunting memiliki rata-rata persentase AKG yang lebih rendah . ,17%) jika dibandingkan dengan kelompok normal . ,51%). Hasil tersebut sesuai dengan temuan penelitian lain yang menunjukkan bahwa balita yang mengalami stunting memiliki proporsi asupan energi yang kurang lebih tinggi . ,8%) dibandingkan dengan balita yang memiliki status gizi normal . ,5%) (Azmy dan Mundiastuti, 2. Sementara itu, energi dibutuhkan seseorang terutama anak-anak untuk pembentukan jaringanjaringan baru di dalam tubuh (Almatsier, 2. Rendahnya rata-rata asupan energi pada kelompok stunting mengindikasikan bahwa kondisi tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya stunting pada balita. Rata-rata asupan karbohidrat kelompok stunting dan normal sama-sama pada rentang defisit tingkat berat (<70%) (Sirajuddin et al. , 2. meskipun pada kelompok stunting tetap lebih rendah . ,93%) jika dibandingkan dengan kelompok normal . Bagi manusia, karbohidrat menjadi sumber energi utama untuk mendukung kehidupan (Almatsier, 2. Asupan karbohidrat yang sangat rendah pada balita di wilayah sub urban dapat disebabkan sebagian besar subjek memilih mengonsumsi kudapan ringan lebih banyak jika dibandingkan dengan sumber karbohidrat pada menu utama. Mudahnya akses mendapatkan kudapan ringan di sekitar rumah dan kurangnya pengetahuan orangtua atau pengasuh mengenai pentingnya mencukupi kebutuhan karbohidrat pada menu utama, menjadi penyebab rendahnya asupan karbohidrat. Menurut penelitian Raudhatusabrina et al. , anak-anak di bawah usia 5 tahun telah mengonsumsi kudapan dalam proporsi yang cukup tinggi, mencapai 70,9%, dan sebanyak 11,2% di antaranya telah mulai mengonsumsi kudapan sejak usia kurang dari dua tahun. Sementara itu, pada fase krusial kehidupan . 0 hari pertam. , terjadi pertumbuhan dan perkembangan otak yang sangat cepat pada bayi. Jika asupan gizi tidak tercukupi maka dapat mengganggu proses pertumbuhan anak tersebut, salah satunya yaitu dengan terjadinya stunting (Raudhatusabrina et al. , 2. Rata- rata asupan protein dan lemak pada kedua kelompok tergolong tinggi, namun tetap terdapat perbedaan rentang pada kedua kelompok yaitu protein kelompok stunting 148,67% sedangkan kelompok normal 174,31% begitu juga lemak pada kelompok stunting memiliki rata-rata 108,79% sedangkan kelompok normal 128,44%. Hasil tersebut dapat menggambarkan bahwa masyarakat di wilayah sub-urban cukup paham mengenai pentingnya memberikan asupan protein dan lemak pada anak-anaknya. Mudahnya akses untuk mendapatkan sumber pangan protein dan lemak membuat tingginya konsumsi zat gizi Hal yang perlu diwaspadai oleh orangtua adalah kelebihan konsumsi protein dan lemak yang dilakukan terus menerus juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan di masa yang akan datang seperti obesitas (Suryandari dan Widyastuti, 2. Obesitas . izi lebi. merupakan kondisi ketika terjadi akumulasi lemak di dalam tubuh dalam jumlah berlebih. Anak yang mengalami obesitas pada usia dini memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit degeneratif daripada anak dengan status gizi normal. Sehingga jika hal tersebut terjadi di usia dewasa, maka akan dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup individu tersebut (Purba et al. , 2. Asupan rata-rata zat gizi mikro pada kelompok stunting terlihat lebih rendah dibandingkan dengan kelompok normal. Asupan zat besi dan zinc baik pada kelompok stunting maupun normal masih berada di rentang normal AKG (>90%). Untuk asupan kalsium, hasil rata-rata asupan pada kelompok stunting dan normal berada di bawah 90% Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 153 Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. No. April 2024 . tunting 60,69%. normal 77,12%). Rendahnya asupan kalsium terlihat dari data wawancara recall yang menyatakan sebagian besar subjek jarang mengonsumsi pangan tinggi kalsium. Mayoritas subyek mendapatkan asupan kalsium dari sumber pangan nabati seperti serealia, kacang-kacangan . ahu dan temp. , dan sayuran hijau. Meskipun sumber nabati juga menjadi sumber asupan kalsium yang baik, akan tetapi pangan nabati banyak mengandung zat-zat yang dapat menghambat penyerapannya antara lain fitat, serat, dan oksalat (Almatsier, 2. Kebutuhan asupan kalsium berasal dari sumber nabati tidak dapat memenuhi kebutuhan kalsium yang cukup tinggi terutama pada masa pertumbuhan. Susu merupakan salah satu sumber kalsium terbaik, terutama susu sapi. Namun, produk susu lainnya seperti yoghurt, kefir, dan keju juga mengandung kalsium yang baik. Beberapa jenis ikan, terutama ikan yang dimakan secara utuh dengan tulangnya, merupakan sumber kalsium yang baik. Tabel 2. Hasil uji beda asupan gizi subjek stunting dan normal berdasarkan persentase AKG Stunting (N=. Normal (N=. Asupan p- value Mean SD (%) Mean SD (%) Zat Gizi Makro 77,17 19,74 90,51 17,97 0,002* A Energi 57,93 17,02 68,44 23,81 0,024* A Karbohidrat 148,67 43,17 174,31 64,47 0,037* A Protein 108,79 51,57 128,44 52,69 0,092 A Lemak Zat Gizi Mikro 60,69 31,83 77,12 44,98 0,060 A Kalsium 104,44 41,78 110,84 50,73 0,535 A Zat Besi 97,89 40,99 117,03 58,90 0,092 A Zink Keterangan: *Uji independent t-test, berbeda signifikan jika p<0,05 Untuk membandingkan rata-rata antara dua kelompok data . tunting dan norma. , digunakan uji independent t-test pada data asupan zat gizi makro dan mikro. Perbedaan yang signifikan dalam asupan energi ditemukan antara kelompok stunting dan kelompok normal, dengan nilai p-value sebesar 0,002. Temuan tersebut konsisten dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menegaskan adanya hubungan yang signifikan antara asupan energi dan kejadian stunting (Ayuningtyas et al. , 2. Risiko terjadinya stunting dapat meningkat pada anak-anak berusia 6-59 bulan yang memiliki asupan energi yang rendah. Energi dibutuhkan oleh tubuh untuk membantu mempertahankan gradien elektrokimia, transpor molekul, mendukung proses biosintesis, mendukung kerja sistem pernapasan dan sirkulasi darah serta dapat menghasilkan kontraksi otot (Jr et al. , 2. Energi yang ada dalam tubuh adalah hasil dari pembakaran zat gizi makro . arbohidrat, protein, lema. Sehingga untuk dapat menghasilkan energi yang cukup dibutuhkan asupan zat gizi yang adekuat (Azmy dan Mundiastuti, 2. Pada variabel asupan karbohidrat, diketahui terdapat perbedaan signifikan asupan karbohidrat antara kelompok stunting dengan kelompok normal . value 0,. Hal tersebut sejalan dengan temuan dalam penelitian Ayuningtyas et al. yang menegaskan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara jumlah asupan karbohidrat dan risiko terjadinya stunting . -value=0,. Karbohidrat memiliki fungsi utama sebagai penyedia energi bagi tubuh. Selain itu, karbohidrat juga dapat menghemat penggunaan protein di dalam tubuh. Jika asupan karbohidrat tidak tercukupi, maka kebutuhan energi tersebut akan didapatkan dari proses metabolisme zat Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 154 Kusumaningati & Dainy Vol. No. April 2024 gizi makro lainnya seperti protein. Protein yang awalnya memiliki fungsi utama sebagai zat pembangun, akan mengalihkan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh menggantikan karbohidrat. Oleh karena itu, kurangnya asupan karbohidrat pada balita juga secara tidak langsung menghambat proses pemeliharaan dan pertumbuhan tubuh (Almatsier, 2. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam asupan protein antara dua kelompok studi, dengan nilai p 0,037. Temuan ini konsisten dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami stunting memiliki perbedaan yang signifikan dalam konsumsi protein dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami stunting (Sari et al. , 2016. Yushananta dan Ahyanti, 2. Dalam penelitian Azmy dan Mundiastuti . disebutkan bahwa anak-anak memiliki kemungkinan 1,6 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting jika mereka kekurangan asupan protein. Menurut penelitian Ayuningtyas et al. bahwa ada keterkaitan yang signifikan antara konsumsi protein dan risiko stunting pada anak-anak balita berusia 24-59 bulan, dengan nilai p sebesar 0,008. Protein merupakan zat gizi makro yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek kesehatan tubuh. Selain sebagai sumber energi, protein juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuh, serta pemeliharaan jaringan. Protein membentuk ikatan-ikatan penting dalam tubuh, menjaga keseimbangan pH, mengatur distribusi air dalam tubuh, membentuk antibodi untuk sistem kekebalan tubuh, dan mengangkut zat-zat gizi lainnya dari saluran pencernaan ke seluruh tubuh (Almatsier, 2. Data asupan zat gizi lainnya seperti lemak, kalsium, zat besi, dan juga zinc diketahui memiliki hasil analisis yang tidak berbeda signifikan . value < 0,. Hal ini dapat disebabkan selisih antara kelompok stunting dengan kelompok normal tidak berbeda jauh, meskipun kelompok stunting tetap lebih rendah asupannya dibandingkan yang normal. Temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian lain yang menunjukkan bahwa balita yang mengonsumsi lemak dalam jumlah yang kurang memiliki risiko stunting yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan asupan lemak yang cukup (Nur et al. , 2019. Ayuningtyas et al. , 2020. Natara et al. , 2. Pada beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa asupan zat besi dan zinc juga menjadi faktor risiko kejadian stunting. Asupan zat besi yang rendah memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita (Nur et al. , 2019. Nugraheni et al. Balita yang tidak mendapatkan cukup kalsium memiliki kemungkinan stunting yang 3,93 kali lebih tinggi daripada mereka yang mendapatkan asupan kalsium yang mencukupi (Sari et al. , 2. Zinc, zat besi, dan kalsium merupakan mineral makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan balita. Zinc berperan dalam sintesis protein, metabolisme asam nukleat, serta pertumbuhan sel dan sistem imun tubuh (Azmy dan Mundiastuti, 2. Asupan kalsium memiliki peranan yang penting pada pertumbuhan linier masa anak-anak karena dapat mempengaruhi kadar kalsium dalam tulang. Kekurangan asupan kalsium pada bayi dan anak-anak dapat mengakibatkan gangguan dalam proses mineralisasi tulang dan gigi, menghambat pertumbuhan dan perkembangan normal, serta meningkatkan risiko terjadinya kondisi medis seperti Kemudian zat besi berfungsi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan jaringan serta metabolisme energi di dalam tubuh. Zat besi memiliki kemampuan mengikat oksigen . ersama dengan haemoglobi. di dalam sel darah merah yang kemudian dapat mempengaruhi perkembangan otak, metabolisme energi, dan kekebalan tubuh (Sari NP et al. , 2. Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia . p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 155 Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. No. April 2024 KESIMPULAN Terdapat perbedaan yang signifikan pada berat lahir, panjang lahir, asupan energi, asupan karbohidrat, dan asupan protein di antara kelompok stunting dan normal pada balita di wilayah sub-urban. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin, asupan lemak, asupan zat gizi mikro (Fe. Zn. , pemberian ASI eksklusif, riwayat imunisasi, riwayat penyakit infeksi, dan pengetahuan ibu di antara kedua kelompok tersebut. Saran untuk penelitian berikutnya adalah agar dapat dilakukan analisis lebih lanjut mengenai asupan zat gizi mikro lainnya, dan faktor sosial ekonomi yang dapat menjadi faktor risiko kejadian stunting di wilayah sub-urban. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah RISETMU. LPPM Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Program Studi Sarjana Gizi FKK UMJ atas dukungan dan bantuan selama proses penelitian Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Kelurahan Padasuka. Kecamatan Ciomas. Kabupaten Bogor yang telah bersedia menjadi mitra penelitian dan mendukung kelancaran kegiatan penelitian. DAFTAR PUSTAKA