Implementasi Penguatan Moderasi Beragama Melalui Natal Bersama Di Sdn 05 Setabar Agapitus Gagas Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Email : gagasbalank@gmail. Metode Presentasi: Online Abstrak Moderasi beragama tidak hanya terbatas pada konsep belaka, dalam pelaksanaannya program ini harus diaplikasikan dengan cara memberi ruang dan waktu kepada semua umat yang ada pada saat adanya kegiatan-kegiatan keagamaan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji penguatan moderasi beragama yang sudah ada dilakukan di lingkungan sekolah SDN 05 Setabar jauh sebelum istilah moderasi beragama muncul. Salah satunya adalah dengan melaksanakan Natal Bersama di lingkungan sekolah dengan sistem bergantian antara agama Katolik dan agama Kristen sebagai pelaksana . acara secara berkesinambungan. Namun demikian, kegiatan tersebut perlu disempurnakan agar dapat menjadi kegiatan bersama yang utuh tanpa memandang perbedaan agama. Seperti melibatkan kelompok agama lain diluar dari agama yang menjadi pelaksana Natal Bersama dalam kegiatan hiburan atau ice breaking. Metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah studi kepustakaan dan deskriptif kualitatif, melalui observasi dan wawancara. Ditemukan adanya partisipasi aktif anggota sekolah yang beragama di luar agama pelaksana Natal Bersama, seperti ikut ambil bagian pada saat persiapan kegiatan, ikut ambil bagian pada saat sesi acara hiburan dan ice breaking. Tulisan ini memiliki implikasi nilai keberagaman dan keterlibatan semua umat manusia dalam suatu perayaan keagamaan seperti Natal Bersama yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. Kata kunci: Penguatan Moderasi Beragama, lingkungan sekolah. Natal Bersama Abstract Religious moderation is not only limited to a mere concept, in its implementation this program must be applied by giving space and time to all people present during religious The purpose of writing this paper is to examine the strengthening of religious moderation that was already carried out in the SDN 05 Setabar school environment long before the term religious moderation appeared. One of them is by implementing Christmas Together in the school environment with a system of alternating between Catholicism and Christianity as organizers . of the event on an ongoing basis. However, this activity needs to be refined so that it can become a complete joint activity regardless of religious Such as involving other religious groups outside the religion that is implementing Christmas Together in entertainment or ice breaking activities. The method used in this writing is literature study and qualitative descriptive, through observation and It was found that there was active participation of school members from religions other than the religion implementing Joint Christmas, such as taking part in preparation for activities, taking part in entertainment and ice breaking sessions. This article has implications for the value of diversity and the involvement of all human beings in a celebration. activities such as Christmas Together which is held in the school environment. Keywords: Strengthening Religious Moderation, school environment. Christmas Together A. PENDAHULUAN Moderasi beragama adalah suatu cara pandang terkait proses memahami dan mengamalkan ajaran agama, agar dalam melaksanakannya mampu memilih jalan yang moderat. Menjadikan seseorang untuk menjadi manusia yang menjunjung nilai-nilai toleransi dalam beragama maupun dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat, adalah satu diantara perwujudan sikap yang moderat. Moderasi beragama merupakan suatu cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengahtengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrim dalam beragama (Kemenag, 2. Sejalan dengan itu, moderasi beragama adalah sebuah jalan tengah dalam keberagaman agama di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan adanya ajaran moderasi pada agama-agama yang diakui di Indonesia (Sutrisno, 2. Contohnya seperti pada ajaran Islam dikenal dengan konsep washatiyah, dalam tradisi Kristen mempunyai konsep Golden Main, agama Budha juga mengenal istilah moderasi dalam konsep Majjima Patipada. Konghucu mengenal konsep Chung Yung, dan bagi agama Katolik meski tidak akrab dengan istilah moderat namun terbuka terhadap suatu perbedaan yang ada, tidak mengklaim sebagai yang paling benar (Sutrisno, 2. Apabila istilah-istilah dalam agama di atas ditafsirkan maka akan merujuk pada titik yang sama dengan makna moderasi beragama. Dengan demikian, secara teknis makna moderasi beragama telah dikenal oleh orang-orang yang menganut agama resmi di Indonesia. Seperti yang sudah dijelaskan secara istilah ajaran Gereja Katolik memang tidak mengenal Namun demikian dalam teks Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan Teologi Katolik agaknya moderat dalam beragama sungguh ada dan dihidupi hingga sekarang. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, senantiasa menekankan pengajaran akan kedamaian dan tidak membenarkan Tindakan merusak, kekerasan, maupun peperangan (Zeke, 2. Berikut setidaknya tiga kutipan Kitab Suci yang dapat menggambarkan pandangan Katolik tentang moderat. Matius 5:44: AuTetapi Aku Berkata Kepadamu: Kasihilah Musuhmu dan bedoalah bagi mereka yang menganiaya kamuAy. Yohanes 13:34: AuAku memberikan perintah kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. sama seperti Aku mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihiAy. Yakobus 2:8: AuJika kamu menjalankan hukum utama sesuai dengan Kitab Suci, yaitu Akasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,A kamu telah melakukan yang benarAy. Yesus Kristus dalam ketiga kutipan tersebut memberikan gambaran dan penekanan akan pentingnya mengasihi sesama manusia, baik orang terdekat hingga jauh sekalipun. Sama seperti Tuhan Allah mengasihi manusia yang memiliki perbedaan seperti kodrati, manusia dituntut untuk tetap mengasihi yang sejatinya memiliki kodrat insani yang sama. Selain itu. Kitab Suci juga telah digambarkan secara gamblang memiliki esensi yang dekat dengan mengasihi dan membuatnya sebagai kebenaran yang Dokumen-dokumen Gereja juga mempunyai isi pengajaran akan pentingnya memiliki jiwa moderat terkait pengamalan ajaran agama kepada sesama. Satu di antaranya adalah dokumen Nostra Aetate. Gagasan tentang Gereja Katolik tidak menolak apapun, terkait dengan ajaran agama-agama yang mengajarkan tentang kebenaran dan suci, yang tertuang dalam artikel nomor 2 di dalam dokumen tersebut (Zeke, 2. Cerminan Gereja Katolik dalam memandang moderasi beragama juga ada dalam dokumendokumen magisterium. Gaudium Et Spes. Paccem In Terris. Dignitatis Humanae. Nota Pastoral KWI, dan Surat-Surat Gembala (Darung dkk. , 2. Dengan demikian semakin tampaklah bahwa Gereja Katolik memang memberikan dukungan kepada umat manusia dalam menjalani kehidupan secara moderat. Gereja Katolik tidak menginginkan adanya perpecahan hanya karena segala macam perbedaan, seperti agama, aliran pikiran, maupun kebudayaan-kebudayaan yang ada di tengah masyarakat. Selain Kitab Suci dan Dokumen Gereja, pada prakteknya para teolog Katolik juga sering menyatakan hal yang senada dengan itu, satu di antaranya adalah Romo Agustinus Heri Wibowo. Menurutnya, untuk memberikan pemahaman akan pentingnya moderasi beragama diperlukan kegiatankegiatan seperti Katekese, dimana di dalamnya akan menyatakan realitas tentang praktik iman yang tidak hanya berfungsi di tengah orang Katolik saja, tetapi harus menyeluruh kepada setiap orang yang dijumpainya (Mata Milenial Indonesia TV, 2. Hal ini membuktikan bahwa peran para teolog Katolik dalam menyuarakan moderasi beragama sungguh ada, sehingga tampaklah pengamalan akan pesan-pesan yang dihadirkan oleh teks-teks iman Gereja Katolik. Jauh sebelum istilah moderasi beragama muncul, perilaku orang Indonesia secara umum sudah mencerminkan semangat rukun, damai, dan taat akan ideologi negara. Sebagai negara yang pernah dijajah oleh bangsa lain, eksistensi Indonesia nyatanya masih tetap berlanjut hingga sekarang. Hal itu sedikitnya dipengaruhi oleh semangat kesatuan atau mengesampingkan perbedaan yang ada, sehingga secara tidak langsung moderasi beragama merupakan bagian dari prinsip hidup Indonesia sejak dulu. Namun demikian, beberapa tahun terakhir gejala-gejala terkait terkikisnya masyarakat yang moderat mulai menunjukkan eksistensi meskipun dalam skala yang relatif kecil. Di dunia politik, misalnya, ada istilah politik identitas yang kemudian mengakibatkan adanya batasan antara Aukita dan merekaAy. Aukatolik dan non katolikAy. Aucalon penghuni surga dan penghuni nerakaAy. Aupartai Allah dan partai setanAy, hal semacam ini kemudian cenderung membuat seseorang untuk membabi buta membela identitasnya masing-masing (Lelono, 2. Hal lain yang tidak kalah bahaya dalam konteks membangun moderasi beragama adalah masalah penyebaran ide-ide yang mempunyai sumber yang dangkal dari berbagai aneka kelompok, disertai dengan dalih-dalih agama yang tafsirannya sangat jauh dari hakikat yang sebenarnya (Shihab. Batasan dan fenomena tersebut memiliki kemungkinan yang besar dalam menjegal langkah menuju masyarakat yang moderat. Merujuk pada permasalahan tersebut di atas, moderasi beragama menjadi penting untuk dibahas sebagai upaya mempertahankan kerukunan antar umat beragama. Lingkungan sekolah sebagai pusat pengendalian budi pekerti seseorang, sudah selayaknya berperan aktif dalam membangun generasi penerus yang memiliki rasa kerukunan ditengah segala macam perbedaan. Pengenalan dan penanaman konsep moderasi beragama serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, memerlukan penanganan sejak dini, terutama bagi siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) (Lessy, 2. Karena itu, sikap toleransi dalam hal ini siswa perlu menjadi perhatian serius bagi satuan pendidikan, khususnya para guru sehingga cita-cita mulia tersebut terus tumbuh berkesinambungan dari generasi ke generasi. Penelitian tentang upaya meningkatkan moderasi beragama dilingkungan sekolah kerap kali dilakukan, baik dalam bentuk penelitian maupun jurnal artikel. Pertama, hasil riset Rofik dan Misbah yang memiliki topik bahasan tentang implementasi program moderasi beragama yang dicanangkan oleh Kemenag Banyumas dilingkungan sekolah, yang kemudian memaparkan faktor pendukung dan penghambat program pembinaan nilai moderasi beragama pada tingkat SD dan Menengah, dengan implementasinya menunjukkan keberhasilan sehingga menjadikan toleransi kerukunan tinggi di wilayah tersebut (Rofik, 2. Kedua, hasil penelitian Sari yang memiliki tema penerapan nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia dini melalui Pendidikan Islam, yang memiliki hasil adanya penerapan nilai-nilai moderat dengan pengenalan sikap menghargai dan menghormati perbedaan antar agama di Indonesia (Sari, 2. Penelitian-penelitian tersebut di atas, merupakan cara menggali urgensi moderasi beragama ditingkat pendidikan dasar, dimulai dengan pemaknaan, prinsip, nilai hingga implementasi moderasi beragama di lingkungan pendidikan dasar. Implementasi moderasi beragama dalam penelitian ini adalah dengan melaksanakan kegiatan Natal Bersama di lingkungan lembaga pendidikan SD Negeri 05 Setabar. Kegiatan ini berupaya memberikan penguatan akan pentingnya moderasi beragama bagi siswa-siswi yang ada di sekolah Menurut Romo Agustinus Heri Wibowo moderasi beragama sejatinya telah dilaksanakan terlepas dari individu yang menjalankannya sadar atau tidak sadar, tahu atau tidak tahu akan makna dari tindakannya tersebut, karena itu istilah penguatan moderasi beragama cenderung cocok digunakan (Mata Milenial Indonesia TV, 2. Hal ini kemudian memiliki relevansi terhadap nilai moderasi beragama di SD Negeri 05 Setabar, karena telah malaksanakan apa yang menjadi makna sesungguhnya dari moderasi beragama, yaitu sikap toleransi dan berhubungan baik tanpa memandang perbedaan latar belakang. Hal itu dapat ditinjau dari kecocokkan antara realitas dengan indikator-indikator moderasi beragama di lingkungan lembaga tersebut. Adapun indikator-indikator moderasi beragama yakni, . komitmen kebangsaan yang kuat, . sikap toleran terhadap sesama, . memiliki prinsip menolak tindak kekerasan baik fisik maupun verbal, dan . menghargai tradisi dan budaya lokal masyarakat Indonesia yang beragam (Zeke, 2. Prinsipnya dari keempat indikator tersebut ditemukan telah dilaksanakan secara berkesinambungan oleh seluruh warga lembaga pendidikan tersebut, baik sesama guru, guru ke siswa-siswi, maupun sesama siswa-siswinya. Namun demikian, kesadaran tersebut perlu adanya penegasan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu seperti Perayaan Natal Bersama di lingkungan sekolah, dengan indikasi seluruh warga sekolah terlibat aktif baik dalam proses persiapan maupun pelaksanaannya, tanpa memandang perbedaan dari agama yang menjadi pelaksana . kegiatan Penegasan tersebut menjadi penting dilakukan sejak usia dini, agar setiap warga sekolah dapat merayakan suatu kegiatan ditengah perbedaan yang ada. METODE Metode dalam penulisan ini adalah dengan menggunakan studi kepustakaan elektronik dan deskriptif kualitatif. Studi kepustakaan telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu dalam merancang penelitiannya. Adapun contoh studi kepustakaan elektronik seperti, buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis, dan sumber-sumber tertulis secara elektronik (Susanta, 2. Sedangkan dengan melalui deskriptif kualitatif, penulis memaparkan hasil penelitian dengan menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul, yakni memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya (Kriyantono, 2. Penelitian ini dilakukan di lembaga pendidikan SDN 05 Setabar. Desa Bebatung. Kecamatan Mandor. Kabupaten Landak. Kalimantan Barat. Adapun subjek penelitian adalah 3 orang siswa-siswi, 1 orang kepala sekolah dan 2 orang guru. Data yang akan dikumpulkan oleh penulis berdasarkan informasi yang didapatkan saat bertemu langsung dengan informan, melalui observasi dan wawancara. Selain itu, hasil studi pustaka referensi, jurnal, artikel, internet juga sebagai bahan untuk mengumpulkan data. Adapun teknik pengumpulan data yakni, . Observasi lokus penelitian, . wawancara terbuka secara mendalam dengan informan yang hendak digali pengalamannya tentang objek penelitian. Langkah selanjutnya adalah dengan mereduksi data yakni memfokuskan data yang telah didapat, penyajian data dengan menarasikan hasil data yang telah direduksi sebelumnya berupa kata-kata atau deskriptif, dan melakukan penarikan HASIL DAN PEMBAHASAN Natal Bersama sebagai Perwujudan Pastoran Sekolah Sekolah Negeri merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemerintah dimana siswa-siswi yang beragama katolik tidak sedikit bersekolah di lembaga tersebut. Hal ini kemudian mendasari perlu adanya pengembalaan dari gereja katolik, sehingga kehidupan rohani mereka tetap tumbuh dan terjamin sebagai warga gereja. Mereka perlu dibina menuju keselamatan dan kelestarian sebagaimana yang diwartakan dan diwujudkan oleh Allah dimana Kristus sebagai gembala utama, pelaksanaan Pastoral tetap perlu dilaksanakan dimana pun umat katolik berada tanpa terkecuali dilingkungan sekolah negeri (Chandra, 2. Hal ini dapat dikaitkan dengan istilah domba-domba yang perlu didampingi dan digembalakan di dalam kehidupan yang Ada banyak kegiatan yang berkaitan dengan implementasi pastoral di lingkungan sekolah yakni, pelajaran agama, rekoleksi, retret, misa sekolah, pendalaman iman, aksi natal bersama, dan aksi puasa (Chandra, 2. Dalam penelitian ini kegiatan pastoral yang dimaksud adalah natal bersama dilingkungan sekolah SD Negeri 05 Setabar. Kegiatan ini diharapkan mewujudnyatakan pengembalaan gereja akan umatnya yang ada dilingkungan sekolah. Dimana dalam pelaksanaannya seluruh warga sekolah termasuk yang bukan beragama katolik terlibat langsung dalam setiap tahapan-tahapan kegiatan, baik itu dalam proses perencanaan maupun Moderasi dalam Perspektif Agama Katolik Kata moderasi mempunyai arti penjauhan dari hal-hal yang ekstrim atau pengurangan kegiatan kekerasan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2. Moderasi adalah suatu cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrim dalam beragama (Kemenag, 2. Merujuk pada pengertian tersebut, meskipun tidak mempunyai istilah yang jelas dalam agama Katolik, arti moderasi memiliki kedekatan dengan nilai cinta kasih seperti yang ada pada konsep agama Katolik. Konsep cinta kasih dapat dijumpai pada ayat-ayat Kitab Suci Katolik, khususnya di dalam Perjanjian Baru contohnya dalam Yohanes . :9-10,. AuSeperti Bapa telah mengasihi Aku demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu. tinggalah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain. Ay Melalui kutipan satu diantara teks Kitab Suci tersebut di atas, iman Katolik mengarah pada apa yang disebut dengan sudut pandang yang moderat. Dengan mengakui dan menerima pembaptisan yakni mematikan kuasa dosa dalam diri seseorang serta menjadi pengikut Allah yang adalah cinta kasih itu sendiri (Darmaatmadji, 2. Ada cinta kasih dalam setiap umat katolik yang benar-benar menghayati makna pembaptisan. Karena itu idealnya umat katolik memiliki kesadaran akan penting hidup saling mengasihi sesama manusia tanpa memandang perbedaan yang ada. Sebagai sebuah organisasi keagamaan, katolik memiliki makna iman yang luas dan tidak hanya berpusat pada hubungan individu dengan Tuhan nya, tetapi juga sebagai sarana dalam membangun hubungan sosial di berbagai bidang. Hal ini dapat dipertegas dengan ungkapan Santo Yakobus, satu diantara tokoh yang ada pada Kitab Suci. Aujika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati. Ay (Yak. Berdasarkan ayat Kitab Suci di atas, sebagai umat beriman seseorang tidak hanya mementingkan dan menjalankan upacara-upacara keagamaan yang bersifat liturgis, tetapi juga memerlukan adanya rasa tanggung jawab dalam mengemban suatu iman dengan mewujudkannya melalui kehidupan sehari-hari, dalam hal ini kepada sesama dalam iman maupun berbeda dalam Matius 5:44: AuTetapi Aku Berkata Kepadamu: Kasihilah Musuhmu dan bedoalah bagi mereka yang menganiaya kamuAy. Yohanes 13:34: AuAku memberikan perintah kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. sama seperti Aku mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihiAy. Yakobus 2:8: AuJika kamu menjalankan hukum utama sesuai dengan Kitab Suci, yaitu Akasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,A kamu telah melakukan yang benarAy. Yesus Kristus dalam ketiga kutipan tersebut memberikan gambaran dan penekanan akan pentingnya mengasihi sesama manusia, baik orang terdekat hingga jauh sekalipun. Sama seperti Tuhan Allah mengasihi manusia yang memiliki perbedaan seperti kodrati, manusia dituntut untuk tetap mengasihi yang sejatinya memiliki kodrat insani yang sama. Selain itu. Kitab Suci juga telah digambarkan secara gamblang memiliki esensi yang dekat dengan mengasihi dan membuatnya sebagai kebenaran yang utama. Selain teks Kitab Suci, dalam agama katolik moderasi beragama juga dipertegas dengan ungkapan-ungkapan dan tindakan tokoh-tokoh katolik . Salah seorang teolog katolik. Mgr. Alb. Soegijapranata SJ, menyatakan diperlukannya suatu komunikasi sosial sebagai bagian dari penghayatan dan pengamalan iman. Sebagai satu bukti, beliau mengasuh majalah AuSwara TamaAy . ahasa jaw. dan majalah AuSuara KatolikAy dalam bahasa Indonesia (Darmaatmadji. Penting untuk dicatat, hal tersebut sebagai suatu upaya darinya untuk memanfaatkan media komunikasi yang ada dengan sebaik mungkin, yang bertujuan membangun masyarakat Indonesia era 1920-an atau pra kemerdekaan dibidang pendidikan dan pengajaran. Implementasi Penguatan Moderasi Beragama Melalui Natal Bersama Masyarakat Indonesia pada dasarnya telah menjalankan perilaku yang moderat, baik disengaja maupun tidak disengaja, baik dipahami sebagai suatu tindakan moderasi maupun tidak. Jauh sebelum istilah moderasi beragama muncul, perilaku orang Indonesia secara umum sudah mencerminkan semangat rukun, damai, dan taat akan ideologi negara. Sebagai negara yang pernah dijajah oleh bangsa lain, eksistensi Indonesia nyatanya masih tetap berlanjut hingga Hal itu sedikitnya dipengaruhi oleh semangat kesatuan atau mengesampingkan perbedaan yang ada, sehingga secara tidak langsung moderasi beragama merupakan bagian dari prinsip hidup Indonesia sejak dulu. Namun demikian, moderasi beragama bukanlah perkara masa lalu atau sekarang melainkan perlu ada dan dihidupi oleh setiap generasi yang akan eksis di masa mendatang. Perilaku yang moderat perlu diajarkan pada generasi-generasi penerus bangsa seperti pada anak-anak yang sedang menggeluti dunia pendidikan saat ini, yakni dengan melaksanakan dan menanamkan jiwa yang moderat kepada tingkat yang paling dini sekalipun, misalnya seperti ditingkat sekolah dasar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD Negeri 05 Setabar, lingkungan belajar yang mengarah pada moderasi beragama telah dilaksanakan oleh lembaga tersebut. Hal ini dapat dilihat dari perilaku antar sesama guru, guru dengan siswa-siswi, dan siswa-siswi dengan Selain itu, melalui kegiatan yang pernah dilakukan di sekolah tersebut, seringkali adanya kegiatan yang bersinggungan dengan moderasi beragama. Satu diantara kegiatan tersebut adalah upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin, yakni pada pelaksanaannya siswasiswi diingatkan untuk tetap memiliki ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia terhadap tanah air dan bangsa, serta peraturan dan hukum yang berlaku di Indonesia. Gambar. 1 Arsip Peneliti Gambar tersebut merupakan teks janji siswa yang dibacakan dan diulangi oleh seluruh siswasiswi SD Negeri 05 Setabar pada saat kegiatan upacara bendera dilaksanakan. Dengan demikian para siswa-siswi diharapkan menanamkan perilaku yang moderat baik dilingkungan sekolah maupun luar sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SD Negeri 05 Setabar. Santy, mengatakan sekolah tersebut berupaya penuh dalam menyadarkan siswa-siswinya, untuk hidup rukun dan damai kepada setiap anggota sekolah tanpa memandang status dan latar belakang, disetiap kesempatan yang ada baik pada saat proses pembelajaran maupun kegiatan lainnya. Selain itu, salah satu guru agama Kristen. Ralin, mengatakan adanya upaya dari sekolah dalam memberikan pemahaman kepada siswa-siswi agar hidup berdampingan dengan seluruh anggota sekolah, baik itu satu atau beda agama. Senada dengan itu, selaku siswa Elo mengatakan tidak ada perbedaan antara teman yang satu agama dengan agamanya yang berbeda. Siswa lainnya. Aurelia Amora juga mengatakan hal yang sama, menurutnya siswa-siswi yang ada di sekolah tersebut menyenangkan dan dapat dijadikan teman meskipun memiliki perbedaan agama. Selain itu menurut Ahmad Iqbal, meskipun sebagai siswa minoritas dalam bidang agama, dirinya diperlakukan dengan sangat baik oleh teman sebaya yang ada di sekolah tersebut. Natal bersama merupakan suatu upaya dalam membangun perilaku yang moderat dari siswasiswi khususnya yang ada di SD Negeri 05 Setabar. Melalui kegiatan tersebut adanya keuntungan dari dua kutub yang berbeda, misalnya kepada siswa-siswi beragama penyelenggara Natal bersama . , yakni memberikan pemahaman kepada mereka akan pentingnya keterlibatan teman sebaya yang memiliki perbedaan agama dalam suatu perayaan agar tercipta harmonisasi yang tinggi. Selain itu, bagi siswa-siswi yang bukan agama penyelenggara dapat menghayati perbedaan dan ikut ambil bagian dalam perayaan keagamaan orang lain. Menurut Ralin, kegiatan natal bersama juga dapat merajut kebhinekaan kepada setiap warga masyarakat, seperti menghadirkan pernak-pernik natal, nilai-nilai kebajikan yang disampaikan Pastor atau pemimpin ibadat pada saat khotbah, dan acara hiburan bernuansa kerohanian. Menurut. Santy, tahun 2023 adalah tahunnya agama Katolik sebagai penyelenggara natal bersama, salah satu konsepnya adalah dengan melibatkan siswa-siswi beragama lain pada saat persiapan dan pelaksanaan dalam sesi hiburan . ce breakin. Selain itu, siswa beragama katolik. Elo, mengatakan adanya kerjasama dirinya dengan teman lain yang bukan berasal dari satu agama dengannya, disaat kegiatan hiburan drama bertemakan natal. Senada dengan itu. Aurelia Amora, terhibur dengan penampilan teman yang menampilkan drama meskipun memiliki agama yang berbeda dengannya. Ahmad Iqbal mengatakan bahwa dirinya terlibat dalam salah satu kegiatan hiburan, yakni dengan ikut ambil bagian dalam dance yang ditampilkan oleh kelasnya. Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan natal bersama di sekolah tersebut menurut Santy, dibentuknya kepanitian natal bersama yang melibatkan seluruh warga sekolah yakni perwakilan guru dan siswa-siswi, baik itu yang beragama katolik maupun non katolik. Lebih lanjut dirinya memaparkan alasan melibatkan warga sekolah yang bukan beragama katolik adalah karena kegiatan tersebut adalah bagian dari pesta keagamaan yang diselenggarakan pihak sekolah, sehingga hal tersebut merupakan acara milik bersama tanpa memandang perbedaan yang ada. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sekaligus ketua panitia. Angelina, adapun susunan acara natal bersama yakni, diawali dengan Perayaan Sabda yang dipimpin oleh guru agama katolik, ramah Tamah seperti kata sambutan dari berbagai pihak mulai dari ketua panitia, kepala sekolah, pengawas sekolah dasar kabupaten landak, dan kepala desa Bebatung. Acara kemudian dilanjutkan dengan kemeriahan penampilan-penampilan dari siswa-siswi, mulai dari tarian jungle beals kelas 6, baca puisi bertemakan natal dari perwakilan kelas 5, dan tarian-tarian lainnya dari kelas 4 dan kelas 3. Angelina menyampaikan natal bersama kemudian ditutup dengan makan bersama, dimana guru dan siswa-siswi diajak untuk membawa bekal masing-masing dari rumah sehingga terciptanya kebersamaan di dalamnya. Dengan mengusung semangat natal, sekolah SD Negeri 05 Setabar dapat membangun lingkungan belajar yang moderat. Unsur-unsur toleransi dapat ditanamkan kepada guru dan siswa-siswinya. Sehingga terciptanya generasi penerus bangsa yang memiliki sudut pandang yang tidak hanya menekuni dan mengamalkan ajaran agamanya tetapi juga menghormati dan toleran terhadap orang lain yang memiliki kepercayaan berbeda. KESIMPULAN Moderasi beragama memiliki tempat masing-masing pada seluruh agama yang diakui di Indonesia, salah satunya adalah agama katolik. Dalam agama katolik, semangat hidup mederat dapat dijumpai melalui Kitab Suci, dokumen-dokumen, dan para teolog. Melalui semangat itu, penerapannya ada pada kegiatan kerohanian seperti natal bersama yang mampu menghadirkan nuansa berbeda, yakni melibatkan orang lain yang notabene memiliki agama berbeda baik pada saat persiapan maupun pelaksanaan kegiatan. Hal ini dapat dilakukan pada setiap jenjang pendidikan, khususnya di sekolah dasar. Dalam pelaksanaan tersebut setiap individu ditanamkan hidup berdampingan ditengah perbedaan yang ada. DAFTAR PUSTAKA