PENELITIAN ASLI ANALISIS AKURASI DAN EFISIENSI SISTEM PENILAIAN LUKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN WOUND ASSESMENT DIGITAL Henny Syapitri1. Riah Ukur Ginting2. Marthalena Simamora1. Rinawati Sembiring3 Asrizal4 1Departemen Keperawatan. Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Sari Mutiara Indonesia 2Departemen Sistem Informasi. Fakultas Sains Teknologi dan Informasi. Universitas Sari Mutiara Indonesia 3Departemen Kebidanan. Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan. Universitas Sari Mutiara Indonesia 4Asri Wound Care Center Medan Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Penilaian luka secara manual masih Tanggal Dikirim: 27 Oktober 2025 menghadapi tantangan berupa variasi subjektivitas antar Tanggal Diterima: 26 November 2025 penilai yang dapat memengaruhi akurasi dan konsistensi Tanggal Dipublish: 10 Desember 2025 hasil evaluasi klinis. Seiring meningkatnya beban penanganan luka kronis dan kebutuhan transformasi digital layanan kesehatan, sistem penilaian luka berbasis teknologi Kata kunci: Digital Wound Assesment. menjadi alternatif yang berpotensi meningkatkan ketepatan Akurasi Pengukuran. Efisiensi Klinis dan efisiensi kerja tenaga kesehatan. Namun, efektivitas implementasi teknologi ini masih bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor pengguna, kondisi klinis, serta karakteristik luka. Tujuan: menganalisis akurasi, konsistensi, dan efisiensi Penulis Korespondensi: penilaian luka digital serta memahami pengalaman tenaga Henny Syapitri kesehatan dalam menggunakannya dalam praktik klinis. Email: heny_syahfitri86@yahoo. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik di Asri Wound Care Center Medan. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur dengan tenaga medis luka dan dokter, serta observasi langsung terhadap penggunaan aplikasi penilaian luka digital. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan persepsi terkait akurasi, alur kerja, dan aspek subjektif klinis. Hasil: menunjukkan bahwa penilaian luka digital memberikan akurasi dan konsistensi yang lebih tinggi dibandingkan metode manual, terutama dalam pengukuran ukuran luka dan identifikasi jaringan. Digital wound assessment juga meningkatkan efisiensi waktu melalui proses dokumentasi otomatis yang mempercepat alur kerja Meskipun demikian, beberapa aspek subjektif seperti bau luka, nyeri, dan penilaian kedalaman luka tetap membutuhkan pemeriksaan manual. Kesimpulan: bahwa teknologi penilaian luka digital merupakan alat bantu yang efektif dalam meningkatkan kualitas evaluasi luka, tetapi belum dapat sepenuhnya menggantikan peran klinis tenaga kesehatan. Pendekatan hibrid yang menggabungkan kemampuan teknologi dengan keahlian klinis tetap menjadi strategi terbaik untuk menghasilkan penilaian luka yang komprehensif dan akurat. Jurnal Mutiara Elektromedik e-ISSN: 2614-7963 Vol. 9 No. 2 Desember 2025 (Hal 87-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/Elektromedik DOI: https://doi. org/10. 51544/elektromedik. How To Cite: Syapitri. Henny. Riah Ukur Ginting. Marthalena Simamora. Rinawati Sembiring, and Asrizal. AuAnalisis Akurasi Dan Efisiensi Sistem Penilaian Luka Menggunakan Pendekatan Wound Assesment Digital. Ay Jurnal Mutiara Elektromedik 9 . : 87Ae93. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/elektromedik. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Teknologi Elektromedik Fakultas Pendidikan Vokasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Penilaian luka merupakan aspek penting dalam praktik keperawatan dan manajemen penyakit, terutama pada kasus luka kronis seperti ulkus diabetikum, ulkus vena, dan dekubitus. Secara konvensional, penilaian luka dilakukan melalui observasi visual dan pengukuran manual oleh tenaga kesehatan. Namun metode ini kerap menimbulkan variasi interpretasi antar penilai . nter-rater variabilit. sehingga memengaruhi akurasi dan konsistensi penilaian klinis (BatesJensen. M, 2. Ketergantungan pada kemampuan subjektif tenaga medis dalam mengukur ukuran luka, menilai kedalaman, eksudat, dan kondisi jaringan sering menjadi hambatan dalam memberikan keputusan klinis yang tepat. Kondisi ini menegaskan perlunya inovasi teknologi yang mampu meningkatkan ketepatan penilaian luka (Langemo. , & Brown. Meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan manfaat sistem penilaian luka digital, variasi hasil akurasi dan efektivitas antar aplikasi atau perangkat masih ditemukan (Khoo. , & Jansen, 2. Beberapa studi melaporkan bahwa algoritma pengukuran digital dapat mengalami bias karena pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan warna kulit pasien Selain itu, tidak semua tenaga kesehatan memiliki tingkat literasi digital yang sama, sehingga memengaruhi proses penggunaan teknologi ini (Chang. , et al. Oleh karena itu, evaluasi mendalam melalui pendekatan kualitatif dibutuhkan untuk memahami bagaimana teknologi penilaian luka digital benar-benar digunakan dalam konteks klinis nyata. Penelitian kualitatif memiliki peran penting dalam menggali persepsi tenaga kesehatan, kemudahan penggunaan, serta hambatan yang dialami selama implementasi sistem penilaian luka digital. Pendekatan ini memberikan pemahaman mendalam mengenai proses kerja, pola interaksi pengguna dengan teknologi, serta faktor-faktor kontekstual yang memengaruhi keberhasilan implementasi (Barbour. Penelitian semacam ini diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga efisien, dapat diadopsi secara luas, dan sesuai dengan kebutuhan operasional di berbagai fasilitas kesehatan. Di Indonesia, beban penyakit akibat luka kronis semakin meningkat seiring tingginya prevalensi diabetes mellitus dan hipertensi (Kemenkes RI, 2. Tantangan dalam penilaian dan pemantauan luka membuat beban tenaga kesehatan semakin besar. Upaya transformasi digital dalam layanan keperawatan telah menjadi agenda nasional, termasuk melalui penerapan teknologi dokumentasi dan penilaian klinis. Namun, bukti empiris terkait akurasi, efisiensi, serta penerimaan tenaga kesehatan terhadap teknologi penilaian luka digital masih terbatas, sehingga penelitian mendalam perlu dilakukan untuk memastikan implementasi yang tepat sasaran dan berdampak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akurasi dan efisiensi sistem penilaian luka menggunakan pendekatan digital dari perspektif teknis . , proses . emudahan, kecepatan, dokumentas. Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan landasan bagi pengembangan teknologi yang lebih adaptif, valid, dan mudah digunakan dalam konteks pelayanan kesehatan. Selain itu, hasil penelitian juga dapat berkontribusi pada perumusan kebijakan dan standar kerja terkait penggunaan teknologi digital untuk penilaian luka, sehingga mampu mendukung peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik, yang bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman, persepsi, dan proses penggunaan sistem penilaian luka digital dalam praktik klinis. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman kontekstual yang komprehensif terhadap dinamika implementasi teknologi penilaian luka pada situasi nyata, yang tidak dapat dijelaskan secara memadai melalui pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan di Pusat Perawatan Luka di Asri Wound Care Center Medan. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur terhadap perawat luka dan dokter bedah untuk menggali persepsi informan tentang akurasi aplikasi, kemudahan penggunaan, hambatan teknis, dampak terhadap alur kerja, serta proses pengambilan keputusan klinis. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana teknologi penilaian luka digital digunakan dalam praktik, termasuk interaksi pengguna dengan perangkat, waktu yang dibutuhkan, serta konsistensi hasil penilaian. Peneliti menggunakan lembar catatan lapangan . ield note. untuk mendokumentasikan temuan situasional. Seluruh data yang diperoleh kemudian dianalisis secara tematik mengikuti langkah-langkah Braun & Clarke, mulai dari transkripsi, pembacaan berulang, pemberian kode, pengelompokan tema, hingga penyusunan narasi temuan yang berfokus pada akurasi, konsitensi, efisiensi, dan aspek subjektivitas klinis. Penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dan metode, member checking kepada informan, serta peer debriefing untuk memastikan keabsahan dan kredibilitas Hasil Penelitian ini mengungkapkan tiga tema utama terkait pengalaman tenaga medis dalam menggunakan teknologi digital untuk penilaian luka, yaitu: Akurasi dan konsistensi penilaian, waktu dan efisiensi, dan aspek subjektif klinis. Akurasi dan Konsistensi Penilaian Informan menyatakan bahwa penilaian luka secara digital memberikan hasil yang lebih konsisten dan terstandar dibandingkan dengan penilaian manual. Sebaliknya, penilaian manual dianggap sangat tergantung pada subjektivitas dan pengalaman tenaga AuKadang saya sendiri menilai berbeda dengan teman saya, apalagi kalau lukanya ada Tapi kalau digital, secara otomatis dapat mengukur panjang luka, lebar luka, luas luka dan warna luka hanya dari foto, dan hasilnya bisa disimpan secara sistematis untuk pemantauan jangka Panjang. Ay (Informan 1. Perawat Luka Bersertifika. AuKalau secara digital itu hasilnya lebih stabil, terutama dalam pengukuran ukuran luka dan warna jaringan, jadi tidak terlalu bergantung pada siapa yang menilai, sehingga penggunaan AI dalam aplikasi sangat membantu menstandarisasi penilaian antar tenaga Tapi memang masih ada keterbatasan, seperti belum bisa mengukur kedalaman luka secara akurat hanya dari foto 2DAy (Informan 2. Dokter Beda. AuDengan sistem digital, saya merasa hasil pengukuran lebih objektif. Misalnya perubahan warna jaringan, aplikasi bisa membedakan mana jaringan granulasi dan mana yang nekrosis dengan cukup baik. Kalau manual, perbedaan persepsi antar perawat sering terjadi, apalagi pada luka kronis yang kompleks. Ay (Informan 3. Dokter Penyakit Dala. AuUntuk kasus pasien diabetes, penilaian digital sangat membantu karena biasanya ukuran luka berubah sedikit-sedikit setiap hari. Aplikasi bisa mendeteksi perubahan milimeter, yang mungkin terlewat jika diukur manual. Tetapi memang, shadow dari Ay (Informan 4. Perawat Manajer Unit Luk. Waktu dan Efisiensi Informan menyatakan bahwa penilaian digital dinilai lebih cepat dan efisien dan memudahkan dalam pendokumentasian dan pelaporan. AuSangat terbantu, terutama saat jumlah pasien banyak. Biasanya kami harus melakukan pengukuran satu per satu dengan penggaris, lalu menggambar atau mencatatnya di Sekarang dengan aplikasi digital, kami hanya perlu ambil foto dengan kamera standar dan aplikasi langsung memberikan ukuran serta dokumentasi otomatis. (Informan 1. Perawat Luka Bersertifika. AuDari segi efisiensi, digital jelas lebih cepat dan praktis. Kalau pakai aplikasi digital, hasilnya langsung terekam, dan kita bisa lihat grafik progresnya. Sementara kalau manual harus tulis, ukur, foto, lalu masukkan ke laporan secara terpisah. Ay (Informan 2. Dokter Beda. AuSaat visit pagi dengan jumlah pasien luka yang cukup banyak, penggunaan aplikasi benar-benar menghemat waktu. Biasanya saya butuh sekitar 5Ae7 menit per pasien untuk ukur dan dokumentasi manual. Dengan digital, hanya sekitar 2 menit karena langsung tersimpan otomatis. Ay (Informan 3. Dokter Penyakit Dala. AuPendokumentasian digital mengurangi beban administratif kami. Dulu banyak waktu habis untuk menggambar sketsa luka dan mengetik laporan. Sekarang cukup foto, upload, dan sistem otomatis membuat ringkasan. Itu sangat membantu saat harus membuat laporan mingguan ke dokter penanggung jawab. Ay (Informan 4. Perawat Manajer Unit Luk. Aspek Subjektif Klinis Meskipun digital dinilai akurat, beberapa informan menyampaikan bahwa penilaian manual tetap dibutuhkan untuk interpretasi klinis yang kompleks, seperti bau luka, rasa nyeri, dan kondisi jaringan sekitar luka. AuTeknologi bisa bantu ukur dan identifikasi, tapi kami tetap butuh periksa langsung untuk bisa menangkap bau luka atau eksudat yang nyata, nyeri pada luka, dan ada infeksi atau Ay (Informan 1. Perawat Luka Bersertifika. AuPenilaian digital dapat mengurangi risiko infeksi silang karena tidak perlu menyentuh luka secara langsung untuk pengukuran. Namun, tidak semua luka bisa ditangkap akurat oleh kamera, apalagi jika ada luka yang dalam atau tersembunyi sehingga tetap membutuhkan pemeriksaan metode manual menggunakan probeAy (Informan 2. Dokter Bedah RS) AuTeknologi memang bagus untuk mengukur ukuran dan warna luka, tapi tidak menggantikan pemeriksaan sensasi nyeri pasien. Kadang pasien mengeluh nyeri tusukan atau rasa terbakar di tepi luka hal seperti itu tidak bisa muncul dalam penilaian digital. Ay (Informan 3. Dokter Penyakit Dala. AuLuka dengan eksudat kental atau bau menyengat tetap perlu pemeriksaan langsung. Aplikasi tidak bisa menangkap karakteristik bau atau konsistensi eksudat. Jadi menurut saya, teknologi mendukung, tetapi tetap harus dikombinasikan dengan pemeriksaan manual untuk akurasi klinis. Ay (Informan 4. Perawat Manajer Unit Luk. Pembahasan Analisis kualitatif dilakukan untuk mengeksplorasi persepsi dan pengalaman tenaga medis terhadap penilaian luka secara digital dan manual. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 4 orang tenaga medis (Perawat luka bersertifikat, dokter bedah, dokter penyakit dalam dan perawat manajer unit luk. yang memiliki pengalaman dalam perawatan Akurasi dan Konsistensi Penilaian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian luka secara digital memberikan akurasi dan konsistensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan penilaian manual. Informan yang terlibat dalam penelitian menyatakan bahwa penggunaan sistem digital memungkinkan hasil pengukuran yang lebih terstandar, mengurangi variasi subjektivitas yang kerap muncul pada penilaian manual oleh tenaga kesehatan. Hal ini sejalan dengan pendapat Blanco G. , et al. yang menegaskan bahwa sistem berbasis digital mampu meningkatkan reliabilitas pengukuran luka karena memanfaatkan algoritme segmentasi citra untuk menilai luas dan dimensi luka secara objektif. Konsistensi penilaian menjadi aspek penting dalam praktik klinis karena berdampak langsung terhadap rencana perawatan dan evaluasi keberhasilan terapi. Pada penilaian manual, variasi antar-penilai . nter-rater variabilit. sering terjadi, terutama ketika pengukuran dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan tingkat pengalaman yang berbeda. Penelitian oleh Wannous et al. menemukan bahwa perbedaan persepsi dalam menentukan batas luka secara visual dapat menimbulkan deviasi hasil pengukuran hingga lebih dari 10%, sementara penggunaan metode digital berbasis analisis warna dan segmentasi otomatis mampu menekan deviasi tersebut secara signifikan. Lebih lanjut, penelitian Rippon. G et al. menunjukkan bahwa sistem digital berbasis kecerdasan buatan tidak hanya meningkatkan konsistensi, tetapi juga mempercepat proses dokumentasi luka. Dengan demikian, tenaga kesehatan dapat lebih fokus pada pengambilan keputusan klinis daripada pada prosedur teknis Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian ini, di mana informan menilai penggunaan penilaian digital lebih efisien sekaligus menjaga standar evaluasi luka. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa meskipun akurasi dan konsistensi penilaian digital telah terbukti lebih baik, keterbatasan tetap ada, misalnya dalam hal kemampuan sistem untuk menilai kedalaman luka. Oleh karena itu, kombinasi antara penilaian digital dan keahlian klinis tenaga kesehatan masih diperlukan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi luka. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperkuat bukti empiris bahwa digitalisasi penilaian luka dapat meningkatkan kualitas perawatan melalui akurasi dan konsistensi yang lebih baik. Waktu dan Efisiensi Informan yang dilibatkan dalam penelitian menyatakan bahwa penilaian luka secara digital dipandang lebih objektif dan efisien dibandingkan penilaian manual. Informan menyatakan bahwa penilaian digital membutuhkan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan metode manual. Informan juga melaporkan bahwa dengan bantuan perangkat digital, proses pengambilan foto dan analisis luka dapat dilakukan dalam waktu rata-rata yang lebih Sebaliknya, pengukuran manual membutuhkan waktu lebih lama karena harus dilakukan secara langsung dan disertai pencatatan data secara manual. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chan et al. yang melaporkan bahwa penggunaan aplikasi digital dalam penilaian luka kronis mampu mengurangi waktu ratarata penilaian hingga 70% dibandingkan metode manual. Hasil serupa juga ditemukan oleh Wang et al. yang menyebutkan bahwa analisis luka berbasis citra digital tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan konsistensi antar penilai. Penelitian oleh Schmidt et al. memperkuat temuan ini dengan menegaskan bahwa metode manual seringkali menghadapi keterbatasan dalam hal kecepatan dan reliabilitas, sementara teknologi digital menghadirkan efisiensi sekaligus standarisasi dalam dokumentasi luka. Selain itu, efisiensi waktu yang dilaporkan dalam penelitian ini juga berimplikasi pada peningkatan produktivitas tenaga kesehatan. Dengan waktu penilaian yang lebih singkat, tenaga kesehatan dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk aspek intervensi dan perawatan luka, bukan sekadar pencatatan data. Dengan demikian, temuan penelitian ini memberikan bukti tambahan bahwa digitalisasi dalam penilaian luka tidak hanya menawarkan kecepatan, tetapi juga berpotensi meningkatkan alur kerja klinis dan memungkinkan pelayanan yang lebih berpusat pada pasien. Aspek Subjektif Klinis Informan yang dilibatkan dalam penelitian menyatakan bahwa penggunaan teknologi digital dalam penilaian luka memberikan keunggulan pada aspek objektivitas dan standarisasi, khususnya dalam mengestimasi persentase jaringan granulasi. Teknologi digital mampu mengklasifikasikan jaringan berdasarkan warna dan tekstur, sehingga menghasilkan nilai estimasi yang lebih konsisten dibandingkan penilaian manual. Hal ini sejalan dengan temuan Khoo et al. yang melaporkan bahwa segmentasi luka berbasis deep learning dapat mengurangi variabilitas antarpenilai dan meningkatkan reliabilitas hasil pengukuran. Sebaliknya, penilaian visual manual lebih rentan dipengaruhi oleh subjektivitas dan interpretasi klinis masing-masing evaluator, yang pada akhirnya memunculkan perbedaan estimasi granulasi antara tenaga medis . erawat maupun dokte. Selain itu, penelitian ini juga menegaskan bahwa penilaian digital mampu mendeteksi tanda-tanda infeksi, seperti eritema, eksudat, dan perubahan warna jaringan melalui analisis visual terprogram. Meskipun tenaga klinis berpengalaman dapat mengidentifikasi gejala tersebut dengan baik, tingkat subjektivitas tetap tinggi terutama pada luka dengan karakteristik kompleks. Hasil ini sejalan dengan studi Li et al. yang menunjukkan bahwa AI-based wound assessment dapat mengenali tanda-tanda infeksi lebih awal dengan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan penilaian konvensional. Deteksi dini yang dihasilkan oleh sistem digital berpotensi mempercepat intervensi klinis dan mencegah komplikasi luka lebih lanjut. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa penilaian manual tetap memiliki peran penting, khususnya untuk aspek klinis yang sulit diidentifikasi secara digital, seperti bau luka, rasa nyeri, dan kondisi jaringan sekitar luka. Temuan ini didukung oleh penelitian Wang et al. yang menyatakan bahwa teknologi digital masih memiliki keterbatasan dalam menangkap parameter klinis yang bersifat subjektif dan sensorik. Dengan demikian, integrasi antara penilaian digital dan manual perlu dipertahankan, di mana teknologi berfungsi sebagai alat bantu objektif sementara tenaga klinis tetap memegang peran sentral dalam interpretasi komprehensif. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penilaian luka digital menawarkan keunggulan dari segi objektivitas, konsistensi, dan deteksi dini infeksi, namun tidak sepenuhnya menggantikan penilaian manual. Hasil penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa pendekatan hibrid antara teknologi dan keahlian klinis masih merupakan strategi terbaik dalam praktik penilaian luka. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian luka digital memiliki keunggulan nyata dibandingkan metode manual, terutama dalam hal akurasi, konsistensi, dan efisiensi Teknologi digital dinilai mampu menghasilkan pengukuran yang lebih objektif dan terstandar, sehingga mengurangi variasi subjektivitas antar tenaga kesehatan. Bukti empiris sebelumnya juga mendukung temuan ini, di mana algoritme analisis citra dan kecerdasan buatan terbukti meningkatkan reliabilitas penilaian serta mempercepat proses dokumentasi, sehingga memperbaiki alur kerja klinis. Penilaian digital belum sepenuhnya mampu menggantikan penilaian manual, terutama untuk aspek subjektif klinis seperti bau luka, intensitas nyeri, dan kondisi jaringan sekitar yang membutuhkan keahlian tenaga medis. Oleh karena itu, pendekatan hibrid yang memadukan teknologi digital dengan keterampilan klinis tetap menjadi strategi terbaik untuk menghasilkan evaluasi luka yang menyeluruh dan mendukung pengambilan keputusan perawatan yang optimal. Referensi