Jurnal Agrotek Lestari Vol. 12 No. April 2026 PP. 12 Ae 20 P-ISSN: 2477-4790 E-ISSN: 2721-8945 Inventarisasi Dan Identifikasi Penyakit Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L. Di Desa Ujong Tanjong Kabupaten Aceh Barat Inventory and Identification of Disease Symptoms in Chili (Capsicum annuum L. ) in West Aceh District Agustinur*1. Marwiah1. Chairudin1. Vina Maulidia2. Siti Aminah1 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Teuku Umar Jalan Alue Peunyareng. Ujong Tanoh Darat. Meureubo. Kabupaten Aceh Barat. Aceh 23681 Program Studi Magister Ilmu Pertanian,Fakultas Pertanian. Universitas Teuku Jalan Alue Peunyareng. Ujong Tanoh Darat. Meureubo. Kabupaten Aceh Barat. Aceh 23681 *Email korespondensi. e-mail: agustinur@utu. ABSTRACT Red chili (Capsicum annuum L. ) is a strategic commodity whose productivity is often hindered by pathogen This study aims to inventory the types of diseases and characterize the pathogens based on morphology and damage symptoms in Ujong Tanjong Village. West Aceh Regency. The research was conducted using a survey method with a purposive sampling technique for field observations, followed by laboratory characterization including pathogen isolation on Potato Dextrose Agar (PDA) and confirmation via KochAos Postulates. The results identified four major diseases: Fusarium wilt, leaf spot (Cercospora sp. ), fruit rot . , and chili leaf curl virus (CLCV). Fusarium wilt was found to be the most dominant threat, with the highest disease incidence of 34. 13% and a severity index of 12. Morphological characterization of the isolates showed distinct features consistent with field symptoms, including the presence of pink conidial masses in the anthracnose isolates. KochAos Postulates validated all isolates as the causal agents with high virulence, where clinical symptoms emerged within 14Ae21 days post-inoculation. In conclusion, soil-borne pathogens are the primary biotic constraint in the coastal areas of West Aceh, exacerbated by microclimatic conditions with high humidity. The implications of this study highlight the urgency of implementing integrated disease management, particularly the use of biological control agents and farmer education on field sanitation techniques, to prevent further yield loss and maintain regional chili production stability. Keywords: West Aceh. Red Chili. Disease Inventory. Fusarium Wilt. KochAos Postulates. ABSTRAK Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L. ) merupakan komoditas strategis yang produktivitasnya sering terhambat oleh serangan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis penyakit serta melakukan karakterisasi patogen berdasarkan morfologi dan gejala kerusakan di Desa Ujong Tanjong. Kabupaten Aceh Barat. Penelitian dilaksanakan melalui metode survei dengan teknik purposive sampling untuk pengamatan lapangan, serta karakterisasi laboratorium yang meliputi isolasi patogen pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dan uji konfirmasi melalui Postulat Koch. Hasil penelitian mengidentifikasi empat penyakit utama: Layu Fusarium. Bercak Daun (Cercospora sp. Busuk Buah (Antraknos. , dan Virus Daun Keriting. Penyakit Layu Fusarium ditemukan sebagai ancaman paling dominan dengan persentase serangan tertinggi sebesar 34,13% dan intensitas serangan 12,23%. Karakterisasi morfologi isolat menunjukkan ciri khas yang konsisten dengan gejala lapangan, termasuk adanya massa konidia berwarna merah muda pada isolat Antraknosa. Uji Postulat Koch memvalidasi seluruh isolat sebagai agen penyebab penyakit dengan tingkat virulensi tinggi, di mana gejala klinis muncul dalam waktu 14Ae21 hari setelah inokulasi. Kesimpulannya, patogen tular tanah . oil-born. merupakan kendala biotik utama di wilayah pesisir Aceh Barat yang didukung oleh kondisi mikroklimat dengan kelembapan tinggi. Implikasi hasil penelitian ini menekankan urgensi penerapan manajemen penyakit terpadu, khususnya penggunaan agens hayati dan edukasi teknik sanitasi lahan bagi petani lokal, guna mencegah kehilangan hasil yang lebih luas dan menjaga stabilitas produksi cabai Kata Kunci: Aceh Barat. Cabai Merah. Inventarisasi Penyakit. Layu Fusarium. Postulat Koch. Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 PENDAHULUAN Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L. ) merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peran krusial dalam ketahanan pangan di Indonesia. Secara global, cabai tidak hanya dimanfaatkan sebagai bumbu dapur, tetapi juga sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, dan pangan olahan karena kandungan senyawa bioaktifnya seperti kapsaisin, vitamin C, dan antioksidan (Batiha et al. , 2020. Sanati et al. , 2. Namun, produktivitas cabai nasional seringkali mengalami fluktuasi yang signifikan akibat berbagai kendala teknis di lapangan. Salah satu menyebabkan penurunan hasil secara drastis adalah serangan berbagai patogen penyebab penyakit, mulai dari jamur, bakteri, virus, hingga nematoda. Di tingkat global, tantangan produksi cabai semakin meningkat seiring dengan perubahan iklim yang ekstrem. Perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu udara menciptakan mikroklimat yang sangat kondusif bagi perkembangan dan penyebaran patogen Penyakit-penyakit antraknosa yang disebabkan oleh kompleks spesies Colletotrichum, layu fusarium (Fusarium oxysporu. , serta penyakit virus seperti Chilli Veinal Mottle Virus (ChiVMV) dan Pepper Yellow Leaf Curl Virus (PepYLCV) dilaporkan telah menyebabkan kehilangan hasil hingga 80% bahkan gagal panen total di berbagai wilayah tropis (Menge et al. , 2020. Saxena et al. , 2016. Nalla et al. , 2. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya berdampak pada pendapatan petani secara langsung, tetapi juga memicu ketidakstabilan harga pasar yang sering kali menjadi pemicu inflasi nasional. Urgensi Kabupaten Aceh Barat didukung oleh data statistik yang menunjukkan fluktuasi Berdasarkan data BPS Kabupaten Aceh Barat . , produksi cabai merah di wilayah ini mengalami dinamika yang tidak stabil dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai gambaran, luas panen cabai merah di Kabupaten Aceh Barat mencapai puluhan hektar dengan produktivitas ratarata yang masih berada di bawah potensi . ang seharusnya mencapai 18Ae20 ton/h. Rendahnya produktivitas ini salah satunya disebabkan oleh serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Di Desa Ujong Tanjong. Kecamatan Meureubo, kondisi agroklimat pesisir dengan kelembapan udara mencapai >80% dan intensitas curah hujan yang tidak menentu menjadi faktor pemicu utama bagi proliferasi spora jamur dan aktivitas vektor serangga pembawa virus (Sam-on et al. , 2. Ketidakmampuan petani dalam mengidentifikasi jenis penyakit secara akurat menyebabkan aplikasi pestisida seringkali tidak tepat sasaran . , yang justru memicu resistensi patogen dan degradasi lingkungan. Pentingnya penelitian ini juga terletak pada perlunya ketersediaan data epidemiologi yang akurat sebagai dasar pengelolaan penyakit tanaman terpadu (PHT). Identifikasi penyakit berdasarkan gejala klinis di lapangan sering kali menyesatkan karena adanya kemiripan gejala . verlapping symptom. antara penyakit yang disebabkan oleh biotik maupun abiotik. Misalnya, gejala layu dapat disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, jamur Fusarium, atau serangan nematoda puru akar. Oleh karena itu, inventarisasi yang sistematis dan identifikasi yang akurat menjadi langkah fundamental dalam menentukan strategi berkelanjutan di tingkat lokal wilayah pesisir Aceh Barat. Berdasarkan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis penyakit yang menyerang tanaman cabai di Desa Ujong Tanjong identifikasi patogen berdasarkan karakter Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 morfologi dan gejala kerusakan yang Hasil diharapkan dapat menjadi pedoman bagi instansi terkait dan petani dalam penyakit yang lebih efektif, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani cabai di Aceh Barat secara berkelanjutan. media PDA dan diamati karakteristik koloninya setelah inkubasi selama 7 hari pada suhu ruang. Uji Konfirmasi Patogenesitas Isolat Terhadap Tanaman Cabai Merah Untuk memastikan bahwa isolat yang diperoleh merupakan agen penyebab penyakit . ausal agen. , dilakukan uji patogenisitas pada tanaman cabai sehat. Prosedur ini dilakukan mengikuti protokol Postulat Koch yang dimodifikasi berdasarkan jenis patogen yang ditemukan (Rao et al. , 2. Teknik inokulasi dilakukan berdasarkan target serangan patogen di lapangan. Patogen buah (Antraknos. dilakukan dengan metode luka . dan tanpa luka . menggunakan jarum steril, kemudian suspensi konidia diteteskan pada permukaan buah cabai sehat (Jayawardena et al. , 2. Patogen daun . ercak dau. , suspensi inokulum disemprotkan secara merata pada permukaan daun menggunakan hand sprayer hingga mencapai titik jenuh (Sarker et al. , 2. Sementara patogen tanah . : Dilakukan dengan metode siraman akar . oot drenchin. sebanyak 50 mL suspensi inokulum per pot tanaman (Ferniah et al. , 2. METODE Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman cabai merah (Capsicum annuum L. ) Desa Ujong Tanjong. Kabupaten Aceh Barat, yang ditentukan secara purposive. Proses identifikasi laboratorium dilakukan di Laboratorium Proteksi Tanaman. Universitas Teuku Umar. Pengambilan Sampel dan Penilaian Penyakit Metode survei lapangan dilakukan dengan mengikuti teknik purposive sampling berdasarkan kemunculan gejala visual pada tanaman. Pengambilan sampel dilakukan pada lima titik pengamatan dalam satu hamparan lahan dengan pola Penentuan persentase penyakit berdasarkan persentase tanaman yang tanaman yang diamati, sesuai dengan protokol yang diterapkan oleh Rao et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Serangan Patogen pada Tanaman Cabai Merah Berdasarkan hasil observasi di lokasi penelitian Desa Ujong Tanjong, ditemukan empat jenis penyakit utama yang menyerang tanaman cabai merah dengan karakteristik gejala yang beragam pada organ daun, batang, dan buah. Identifikasi visual menunjukkan dominasi penyakit yang disebabkan oleh jamur dan virus (Tabel . Manifestasi gejala yang ditemukan menunjukkan kompleksitas patogen biotik yang menyerang tanaman cabai di wilayah pesisir Aceh Barat. Kondisi agroklimat Kabupaten Aceh Barat yang memiliki curah hujan tinggi . ata-rata >3. Isolasi Patogen Isolasi menggunakan metode tissue transplanting pada media Potato Dextrose Agar (PDA) untuk jamur dan Nutrient Agar (NA) untuk bakteri. Untuk memastikan isolat murni, jaringan tanaman yang sakit . kar, permukaannya menggunakan larutan Natrium Hipoklorit (NaOC. 1% selama 1-2 menit, diikuti dengan etanol 70% selama 30 detik, kemudian dibilas dengan akuades steril (Deepak et al. , 2. Isolat yang tumbuh kemudian dimurnikan pada Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 mm/tahu. dan kelembapan udara relatif yang sering mencapai >80% menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi perkecambahan spora jamur. Gejala bercak daun yang melebar menyerupai deskripsi infeksi Cercospora capsici, di mana nekrosis jaringan daun dipicu oleh toksin serkosporin yang merusak membran sel tanaman. Pada gejala layu Fusarium, fenomena layu di siang hari . ayu sementar. merupakan indikator kerusakan pembuluh xilem oleh hifa jamur yang menghambat transportasi air secara sistemik. Tabel 1. Hasil Obsevasi pada Lokasi di Desa Ujong Tanjong Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat Gejala Kondisi tanaman cabai yang diamati Prediksi Penyakit Pada daun terdapat bercak- bercak Bercak berwarna coklat membentuk luka daun (Cercospor. yang besar, daun berwarna kuning dan berguguran langsung. Tepi daun melengkung ke atas, daun yang lebih tua menjadi kasar, daun kerdil dan rapuh. Tanda-tanda layu Fusarium selama siang hari Layu Fusarium Daun muda berwarna kuning muda dan daun menggulung atau berkerut keatas, daun muda berukuran kecil dan berwarna kuning. Virus daun keriting (CLCV) Bagian pantat buah berkerut, busuk berwarna coklat dibagian bawah dan busuk hitam. Busuk Antraknosa Dibandingkan dengan penelitian terdahulu di wilayah dataran tinggi Aceh . eperti Bener Meria. , perkembangan gejala busuk buah (Antraknos. di pesisir Ujong Tanjong terpantau lebih progresif yaitu 26 Ae 31AC. Hal ini sejalan dengan temuan Hussain et al. yang Buah menyatakan bahwa pada wilayah pesisir dengan suhu hangat . -32AC) dan kelembapan tinggi, masa inkubasi Colletotrichum spp. menjadi lebih singkat dibandingkan di dataran tinggi yang bersuhu sejuk. Suhu yang lebih hangat di Aceh Barat juga mempercepat siklus Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 hidup vektor Bemisia tabaci, yang menjelaskan tingginya persistensi virus CLCV (Daun Keritin. di lahan terbuka Desa Ujong Tanjong (Sarker et al. , 2. Hal lain yang juga mendukung kondisi ini adalah mayoritas petani masih menerapkan sistem monokultur tanpa pergiliran tanaman . rop rotatio. yang Kebiasaan membiarkan sisasisa tanaman yang terinfeksi tetap berada di sekitar lahan menjadi sumber inokulum . anitasi yang buru. Menurut Tudi et al. , keberadaan residu tanaman sakit merupakan faktor kunci persistensi Fusarium oxysporum di dalam tanah, karena patogen ini mampu membentuk struktur bertahan . Persentase dan Intensitas Serangan Penyakit pada Tanaman Cabai Data kuantitatif (Tabel . menunjukkan bahwa penyakit Layu Fusarium mendominasi di wilayah penelitian, baik dari sisi sebaran . maupun tingkat kerusakan . Tabel 2. Persentase dan intensitas Serangan Penyakit pada Tanaman Cabai Merah di Desa Ujong Tanjong Penyakit Persentase serangan(%) Intensitas serangan (%) Bercak daun 26,28 8,30 Layu Fusarium 34,13 12,23 Busuk buah 22,56 6,49 Daun keriting 19,94 5,13 Dominasi Layu Fusarium . ,13%) menunjukkan bahwa patogen tular tanah . oil-born. merupakan kendala utama di Desa Ujong Tanjong. Tingginya persentase ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan marginal pesisir dan praktik budidaya yang mungkin belum menerapkan pergiliran tanaman secara efektif. Menurut Adhikari et al. , intensitas serangan di atas 10% pada penyakit layu sudah dianggap kritis karena potensi kehilangan hasil yang bersifat permanen pada tanaman yang terinfeksi. Intensitas serangan bercak daun dan busuk buah . yang berada di kisaran 6-8% menunjukkan bahwa serangan masih bersifat lokal pada organ tertentu . aun dan bua. namun tetap menurunkan kualitas hasil panen. Penelitian Hussain et al. menyebutkan bahwa pada wilayah dengan curah hujan tinggi, intensitas antraknosa cenderung meningkat pesat saat fase Jika dibandingkan dengan ratarata serangan di kabupaten lain di Aceh, angka serangan di Meureubo ini tergolong moderat namun memerlukan manajemen terpadu untuk mencegah epidemi yang lebih luas. Karakteristik Patogen dan Konfirmasi Proses biakan murni dengan karakteristik morfologi yang berbeda pada media agar. Identifikasi ini dikonfirmasi dengan uji patogenisitas kembali pada tanaman . ostulat Koc. yang memunculkan gejala nekrosis dan kelayuan pada tanaman uji. Pada Gambar 1. Isolat 01 . enyebab bercak dau. menunjukkan koloni putih keabuan dengan tekstur kapas. Pada uji konfirmasi, gejala nekrosis muncul 2 minggu setelah aplikasi, ditandai dengan bercak cokelat yang meluas mengelilingi daun hingga menyebabkan kerontokan. Isolat 02 . enyebab lay. menunjukkan koloni jamur putih. Gejala kelayuan muncul 3 minggu setelah inokulasi, tanaman terinfeksi mengalami kerusakan akar yang parah dibandingkan tanaman sehat yang akarnya tetap utuh dan kokoh. Isolat 03 (Busuk Buah/Antraknos. memiliki pigmentasi merah muda/pink di bagian tengah koloni. Uji konfirmasi pada Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 buah menunjukkan gejala pengerutan dan pembusukan yang signifikan dalam waktu 3 minggu. Gambar 1. Isolat jamur pathogen (A. Isolat 01 Patogen penyebab bercak daun. Isolat 02 Patogen penyebab layu. Isolat 03 Patogen penyebab busuk bua. Pada Gambar 2, uji konfirmasi membuktikan bahwa isolat 01 mampu menyebabkan gejala penyakit yang serupa pada tanaman sehat. Tanaman yang diinfeksi menunjukkan gejala nekrosis . ercak cokela. mulai muncul pada umur 2 minggu setelah aplikasi isolat. Daun terinfeksi tampak lebih kuning, kecil, dan layu dibandingkan tanaman kontrol yang daunnya lebih hijau dan tulang daunnya Gambar 2. Perbandingan tanaman cabai merah sehat dengan yang diinfeksikan dengan isolat 01 . Tanaman dan sampel daun sehat. Tanaman dan sampel daun dan terinfeks. daun, namun semakin lama infeksi Pada Gambar 3. Tanaman yang semakin terlihat pada bagian batang bahkan buah. Setelah tanaman dicabut menunjukkan gejala layu. Gejala ini muncul pada umur 3 minggu setelah mengalami kerusakan sehingga proses inokulasi isolat 02. Pada awal gejala penyerapan air dan hara menjadi tanaman menujukkan layu pada bagian Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 Gambar 3. Perbandingan tanaman cabai merah sehat dengan yang diinfeksikan dengan isolat 02 . Tanaman dan akar tanaman sehat. Tanaman dan akar tanaman terinfeks. Gambar perbandingan buah cabai control dengan buah cabai yang diberikan perlakuan Aplikasi isolat 03 pada buah menyebabkan buah menjadi mengkerut, busuk hitam meluas, dan akhirnya buah rontok dalam waktu 3 minggu. Gambar 4. Perbandingan buah cabai sehat dengan yang diinfeksikan isolat 03 . Buah cabai Buah cabai terinfeks. fisiologis yang ditimbulkan. Kecepatan Uji konfirmasi ini menunujukkan kemunculan gejala . -3 mingg. di bahwa patogen yang ditemukan di laboratorium menunjukkan bahwa isolat lapangan merupakan agen penyebab lokal dari Aceh Barat memiliki tingkat gejala penyakit pada tanaman cabai di virulensi yang relatif tinggi, sehingga Desa Ujong Tanjong. Munculnya gejala memerlukan strategi pengendalian yang nekrosis pada daun dalam 14 hari bersifat preventif sebelum fase generatif menunjukkan siklus hidup patogen bercak tanaman dimulai. daun yang relatif cepat dalam kondisi Analisis pada akar tanaman KESIMPULAN yang terinfeksi Fusarium menunjukkan Berdasarkan hasil penelitian, dapat degradasi jaringan korteks akar, yang disimpulkan bahwa terdapat empat jenis secara langsung memutus suplai hara ke penyakit utama yang menyerang tanaman bagian tajuk tanaman. Menurut penelitian cabai merah di Desa Ujong Tanjong. Prasetyo dan Agustinur . penyakit Kabupaten Aceh Barat, yaitu Layu layu Fusarium menjadi salah satu penyakit Fusarium. Bercak Daun (Cercospor. , yang mendominasi di kebun cabai Busuk Buah (Antraknos. , dan Virus masyarakat tradisional di Aceh Barat. Daun Keriting (CLCV). Di antara Perbandingan visual antara tanaman sehat tersebut. Layu . Fusarium merupakan penyakit yang memberikan bukti mengenai kerusakan paling destruktif dan dominan dengan Agustinur et al. / J. Agari 12 . : 12 Ae 20 Hussein. Abdel-Aal. Rawa. Mousa. Moustafa. , & Abo-Elyousr, . Enhancing chili pepper (Capsicum annuum L. resistance and yield against powdery mildew (Leveillula tauric. with beneficial bacteria. Egyptian Journal of Biological Pest Control, 33. https://doi. org/10. 1186/s41938-02300758-0 Menge. Patil. Dr. Gadhave. Giri. & Phondekar. Integrated disease management for chilli wilt caused by Fusarium oxysporum F. Sp. capsici, in wilt sick pots. International Journal of Chemical Studies, 8. , 2114Ae2117. https://doi. org/10. 22271/chemi. Nalla. Schafleitner. Pappu. , & Barchenger. Current status, breeding strategies and future prospects for managing chilli leaf curl begomoviruses in Chilli (Capsicum Frontiers in Plant Science, 14. https://doi. org/10. 3389/fpls. Prasetyo. , & Agustinur. Inventarisasi Penyakit Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum l. ) di Kebun Warga Gampong Suak Raya Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat. Jurnal Agrotek Lestari, 8. , https://doi. org/10. 35308/jal. Rao. Danish. Keflemariam. Tesfagergish. Tesfamariam and T. Habtemariam. Pathological Survey on Disease Incidence and Severity of Major Diseases on Tomato and Chilli Crops Grown in Sub Zoba Hamelmalo. Eritrea. International Journal of Research Studies in Agricultural Sciences, 2. https://doi. org/10. 20431/24546224. Sam-on. Mustafa. Yusof. Mohd Hashim. , & Ku Aizuddin. Exploring the Global Trends of Bacillus. Trichoderma and Entomopathogenic Fungi for Pathogen and Pest Control in Chili Cultivation. Saudi Journal of Biological Sciences, persentase serangan tertinggi sebesar 34,13% dan intensitas serangan mencapai 12,23%, sedangkan Virus Daun Keriting memiliki tingkat sebaran terendah sebesar 19,94%. Hasil karakterisasi isolat menunjukkan variasi morfologi yang spesifik, yaitu isolat Bercak Daun memiliki koloni putih bertekstur kapas, isolat Layu Fusarium berwarna putih keabu-abuan dengan hifa halus, dan isolat Antraknosa menunjukkan pigmentasi merah muda . yang merupakan massa konidia. Gejala kerusakan yang ditimbulkan meliputi kerusakan sistemik berupa degradasi jaringan vaskular dan pembusukan akar pada Layu Fusarium, serta gejala lokal berupa nekrosis melingkar pada daun dan pembusukan buah yang meluas. Validasi melalui uji Postulat Koch mengonfirmasi bahwa seluruh isolat yang diperoleh merupakan agen penyebab utama . ausal agen. dengan masa inkubasi gejala antara 14 hingga 21 hari, yang mengindikasikan bahwa isolat lokal dari Aceh Barat memiliki tingkat virulensi yang relatif DAFTAR PUSTAKA