METAHUMANIORA ISSN: 2085-4838 : eISSN: 2657-2176 Vol. No. April 2026 Halaman: 53 - 60 CAT KUKU SEBAGAI GAYA HIDUP DAN IDENTITAS SOSIAL PEREMPUAN DI HINDIA BELANDA TAHUN 1920-1942 Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skober Program Studi Ilmu Sejarah. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran Email: atika22002@mail. skober@unpad. ABSTRAK. Penelitian ini berargumen bahwa cat kuku di Hindia Belanda pada periode 1920Ae1942 bukan sekadar produk kosmetik, melainkan benda yang berfungsi sebagai simbol gaya hidup sekaligus penanda identitas sosial perempuan dalam tatanan kolonial. Mengacu pada Teori Distingsi Sosial Pierre Bourdieu, praktik estetika tubuh bekerja sebagai instrumen pembentukan batas kelas melalui selera dan konsumsi. Dengan metode sejarah budaya dan analisis sumber primer berupa iklan kecantikan, arsip foto, serta dokumen kolonial, penelitian ini menunjukkan bahwa cat kuku, khususnya merek global seperti Cutex, beroperasi sebagai komoditas mewah yang hanya dapat diakses oleh perempuan kelas atas kolonial. Media cetak kolonial memainkan peran kunci dalam membakukan standar feminitas modern melalui representasi visual tangan yang terawat sebagai antitesis dari kerja fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa produk kecantikan menjadi alat kultural yang efektif untuk mempertahankan hierarki kolonial sekaligus mendefinisikan identitas sosial melalui disiplin tubuh perempuan. Kata Kunci: cat kuku, perempuan, kolonial, identitas, distingsi sosial. NAIL POLISH AS A LIFESTYLE AND SOCIAL IDENTITY AMONG WOMEN IN THE DUTCH EAST INDIES 1920-1942 ABSTRACT. This study argues that nail polish in the Dutch East Indies during the period 1920Ae1942 was not merely a cosmetic product, but an object that functioned as a symbol of lifestyle as well as a marker of womenAos social identity within the colonial order. Referring to Pierre BourdieuAos Theory of Social Distinction, bodily aesthetic practices operated as instruments for constructing class boundaries through taste and consumption. Using cultural historical methods and analysis of primary sources in the form of beauty advertisements, photographic archives, and colonial documents, this research demonstrates that nail polish, particularly global brands such as Cutex, operated as a luxury commodity accessible only to upper-class colonial women. The colonial print media played a key role in standardizing modern femininity through visual representations of well-groomed hands as the antithesis of physical labor. This study concludes that beauty products became an effective cultural tool for maintaining colonial hierarchies while simultaneously defining social identity through the discipline of womenAos bodies. Keywords: nail polish, women, colonial, identity, social distinction. PENDAHULUAN Dalam masyarakat Hindia Belanda, perempuan memegang peran sentral dalam ranah representasi sosial, khususnya terkait dengan praktik estetika. Tubuh perempuan, terutama dari kalangan elit pribumi, sering kali menjadi simbol untuk menunjukkan status sosial, modernitas, dan keterhubungan dengan nilai kolonial yang dianggap Dalam kerangka ini, kecantikan bukanlah persoalan pribadi semata, melainkan menjadi ruang publik yang sarat makna sosial dan simbolik. Kecantikan sosial, yakni bagaimana perempuan tampil sesuai standar yang diakui secara kolektif dan terhubung dengan struktur kekuasaan, menjadi sarana penting untuk mengonstruksi identitas, baik sebagai bagian dari kelas elit maupun sebagai representasi keberhasilan asimilasi budaya kolonial (Saraswati, 2. Tubuh manusia telah lama menjadi media tempat identitas, kekuasaan, dan budaya yang dibentuk, salah satunya melalui praktik kecantikan. Perawatan dan pewarnaan kuku adalah salah satu bentuk praktik estetika yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban manusia. Dalam berbagai kebudayaan kuno, kuku bukan hanya bagian tubuh yang dihias demi penampilan, tetapi juga menyandang fungsi sosial dan simbolik. Dalam budaya Mesir Kuno, misalnya, cat kuku merah tua berarti status bangsawan dan kekuasaan, di mana hanya perempuan kelas atas yang menggunakan hal Pada masa Tiongkok Dinasti Ming, penggunaan kuku panjang yang dilapisi emas menunjukkan status elit dan melambangkan kehidupan yang jauh dari pekerjaan berat. Praktik seperti ini menunjukkan bahwa kuku telah lama berperan sebagai simbol visual dari kelas sosial, kekayaan, dan bahkan spiritualitas (Krisnawati et al. , 2. Cat kuku, yang pada masa itu kerap diidentikkan dengan merek dagang dominan seperti Cutex sebuah eponim yang kemudian bergeser menjadi sebutan umum AukuteksAy dalam perbendaharaan bahasa sehari- DOI: https://doi. org/10. 24198/metahumaniora. Dikirim: 31 Maret 2026. Diterima: 29 April 2026. Terbit: 30 April 2026 Metahumaniora. Vol. No. April 2026 hari, mungkin tampak sebagai benda kecil di meja Namun benda kecil itu membawa jejak praktik sosial yang luas, bagaimana seseorang membeli, memakai, dan memaknai cat kuku memerlukan kondisi ekonomi, jaringan perdagangan, norma budaya, dan gambaran tentang siapa yang patut tampil seperti apa. Dalam setting Hindia Belanda, kira-kira wilayah yang kini menjadi Indonesia di bawah pemerintahan kolonial Belanda, fenomena ini menjadi menarik karena menggandeng sejumlah isu modernitas yang datang dari luar, stratifikasi kelas sosial, peran media cetak kolonial, serta negosiasi identitas oleh perempuan dari berbagai latar sosial (Saraswati, 2. Pada paruh pertama abad ke-20, khususnya dalam rentang tahun 1920 sampai 1942. Hindia Belanda mengalami intensifikasi budaya konsumsi yang berkaitan erat dengan perkembangan kapitalisme global dan kolonialisme gaya hidup. Arus barang impor dari Eropa dan Amerika, mulai dari pakaian, kosmetik, hingga produk perawatan tubuh semakin mudah masuk ke kota kolonial melalui jaringan perdagangan internasional. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan sebagai kebutuhan praktis, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup modern yang diasosiasikan dengan kelas sosial tertentu, terutama perempuan Eropa. Indo-Eropa, dan kalangan pribumi terdidik di perkotaan (Ariwibowo, 2. Kehadiran cat kuku di Hindia Belanda tidak bisa lepas dari proses kolonialisasi gaya hidup yang dipengaruhi oleh globalisasi perdagangan. Salah satu titik penting dalam sejarah ini adalah dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869, yang secara signifikan memperpendek jalur pelayaran antara Eropa dan Asia sehingga produk mode dan kecantikan asal Eropa dapat lebih cepat dan langsung menjangkau pasar Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam bidang ekonomi dan politik kolonial, tetapi juga dalam arus konsumsi barang, termasuk kosmetik dari Eropa dan Amerika (Tasnura, 2. Melalui pelabuhan besar seperti Batavia. Semarang, dan Surabaya, barang-barang tersebut membanjiri pasar Hindia Belanda, meski terbatas pada kalangan atas, dan kota-kota kolonial besar menjadi titik distribusi gaya hidup urban yang terinspirasi Paris sebagai pusat mode dunia. Pengaruh ini diperkuat oleh kehadiran toko barang impor atau warenhuis dan iklan dalam majalah perempuan berbahasa Belanda yang menyasar perempuan kelas atas Hindia Belanda (Tasnura, 2. Dalam kerangka inilah produk kecantikan memperoleh makna sosial yang jauh melampaui fungsi estetisnya semata. Kosmetik tidak hanya berfungsi untuk mempercantik tubuh, tetapi juga berperan sebagai penanda visual yang mengkomunikasikan selera, posisi kelas, dan afiliasi kultural penggunanya dalam hierarki masyarakat kolonial yang berlapis (Saraswati, 2. Meskipun secara material tampak sebagai benda kecil dan sederhana, cat kuku mengandung makna simbolik yang kompleks karena berkaitan dengan akses ekonomi, standar kecantikan kolonial, serta representasi feminitas modern. Ada gradien akses, yaitu perempuan Eropa dan Indo di kota besar mempunyai peluang paling besar untuk membeli kosmetik impor, sedangkan perempuan pribumi di kawasan pedesaan atau kalangan ekonomi rendah cenderung mengandalkan bahan lokal. Dengan kata lain, akses terhadap cat kuku menjadi salah satu indikator struktur ekonomi dan sosial kolonial. Cat kuku menjadi salah satu simbol kecantikan baru yang prestisius, hanya dikenakan oleh perempuan dari kalangan atas karena tingginya harga, terbatasnya distribusi, dan eksklusivitas makna sosial yang dikandungnya (Aulia & Afiyanto, 2. Sebagaimana dijelaskan oleh Locher-Scholten . , kehadiran cat kuku di wilayah Hindia Belanda tidak bisa lepas dari proses kolonialisasi gaya hidup. Perempuan elit kolonial, baik dari kalangan Eropa maupun pribumi bangsawan, mulai mengadopsi estetika Barat sebagai cara untuk membangun citra perempuan modern. Majalah wanita berbahasa Belanda memuat iklan dan artikel kecantikan yang menekankan pentingnya kuku yang rapi, bersih, dan diberi warna tertentu sebagai simbol ketepatan dan perawatan diri. Surat kabar memuat cara merawat kuku yang baik. Film Hollywood yang ditayangkan di bioskop elit Batavia dan iklan kosmetik Barat semakin memperkuat citra bahwa perempuan ideal adalah mereka yang merawat tubuh secara estetika, termasuk melalui kuku (Aulia & Afiyanto, 2. Pembahasan artikel ini dimulai pada tahun 1920 karena pada periode inilah ditemukan iklan pertama produk cat kuku merek Cutex yang dipasarkan melalui Au Bon Marchy, sebuah toko warenhuis di Kota Bandung. Temuan ini diposisikan sebagai titik awal analisis karena menandai momen transisi penting dalam distribusi dan konsumsi barang kosmetik modern di Hindia Belanda, khususnya ketika produk yang tergolong barang mewah dan berasal dari industri Barat mulai masuk ke ruang ritel modern yang terorganisasi. Masuknya Cutex ke dalam sistem distribusi warenhuis menunjukkan bahwa produk kosmetik tidak lagi beredar secara terbatas melalui jalur eksklusif Eropa, melainkan mulai diakses melalui ruang konsumsi kolonial yang bersifat publik dan Dengan demikian, pemilihan tahun 1920 sebagai batas awal penelitian didasarkan pada bukti Cat Kuku Sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942 (Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skobe. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 empiris berupa iklan, serta relevansinya sebagai momentum awal integrasi barang kosmetik modern ke dalam struktur konsumsi kolonial. Periode sebelum tahun tersebut tidak diabaikan, tetapi dipandang belum menunjukkan pola distribusi, representasi, dan konsumsi cat kuku yang cukup jelas untuk dianalisis dalam kerangka penelitian ini. Pembahasan tersebut kemudian mengalami peningkatan ketika masuk tahun 1930-an dengan dimunculkannya artikel serta iklan tentang cat kuku yang makin masif. Pada tahun 1938 hingga 1940 perkembangan informasi tentang cat kuku terlihat signifikan dan stabil, menjadi bukti dari adanya pengaruh nilai modernitas yang menciptakan keinginan memperoleh wawasan luas serta dorongan arus ekonomi modern yang mengutamakan perluasan Informasi tersebut tidak hanya menjadi ladang pengetahuan mengenai gaya hidup ataupun tren industri kecantikan Barat yang diserap oleh kaum Eropa. Indo-Eropa, dan elit pribumi, tetapi juga salah satu unsur yang memengaruhi aspek sosial dan ekonomi di Hindia Belanda. Meskipun sejumlah kajian telah menyentuh tema kosmetik, modernitas, dan perempuan kolonial secara umum, belum ada penelitian yang secara khusus memfokuskan satu produk tunggal, yakni cat kuku, sebagai kunci analitis untuk membaca secara terpadu mekanisme distingsi sosial, dinamika perdagangan global, dan konstruksi feminitas kolonial dalam rentang waktu yang spesifik. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengintegrasikan sumber primer iklan koran dan data statistik perdagangan kolonial guna menghasilkan pembacaan berlapis antara representasi simbolik dan realitas ekonomi akses konsumsi di Hindia Belanda. METODE Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang mengikuti tahapan yang diajukan oleh Gottschalk . dan Lubis . , yaitu pemilihan topik, heuristik atau pengumpulan sumber, kritik sumber atau verifikasi, interpretasi, dan historiografi atau penulisan sejarah. Objek penelitian adalah cat kuku sebagai simbol sosial dan produk budaya di Hindia Belanda selama periode 1920 sampai Sumber primer yang digunakan meliputi iklan kecantikan dalam surat kabar kolonial seperti Bataviaasch Nieuwsblad. De Locomotief. De Sumatra Post, dan De Preanger Bode, artikel kecantikan dalam majalah perempuan, arsip foto, dan dokumen statistik Mededeelingen van het Centraal Kantoor voor de Statistiek mengenai perdagangan dan harga pada masa kolonial. Surat kabar-surat kabar tersebut diakses melalui portal digitalisasi arsip, terutama Delpher. nl yang dikelola oleh Koninklijke Bibliotheek (Perpustakaan Nasional Beland. , serta sebagian melalui koleksi digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dan repositori KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-. Land- en Volkenkund. Leiden. Sumber sekunder mencakup buku dan artikel jurnal tentang sejarah kolonial, budaya kecantikan, dan gender di Hindia Belanda. Kritik sumber dilakukan secara eksternal dan internal untuk memastikan keaslian, kredibilitas, dan relevansi sumber. Kritik eksternal memeriksa aspek fisik seperti tanggal terbit surat kabar, format iklan, dan kondisi bahan visual. Kritik internal menganalisis konsistensi informasi dalam sumber, kredibilitas penulis atau penerbit, dan kecenderungan ideologis yang mungkin memengaruhi representasi. Interpretasi menggunakan teori Distingsi Sosial dari Pierre Bourdieu untuk menganalisis bagaimana konsumsi cat kuku menjadi praktik pembedaan sosial. Konsep habitus digunakan untuk memahami bagaimana selera estetika pada masa kolonial dibentuk oleh posisi kelas sosial, sementara konsep modal simbolik menjelaskan bagaimana cat kuku menjadi penanda status sosial. Analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, kategorisasi tematik sumber berdasarkan topik pembahasan seperti standar kecantikan, iklan cat kuku, dan representasi gender. Kedua, analisis visual iklan untuk mengidentifikasi elemen visual yang berulang, retorika naratif yang digunakan, dan citra feminitas ideal yang dikonstruksi. Ketiga, pembacaan kritis artikel kecantikan untuk memetakan wacana dominan tentang tubuh perempuan dan praktik perawatan diri. Keempat, perbandingan harga cat kuku dengan kebutuhan pokok dan upah pekerja untuk memahami struktur ekonomi yang mendasari akses konsumsi. Penulisan sejarah disusun secara kronologis dan tematik. Pendekatan kronologis digunakan untuk menunjukkan perkembangan distribusi dan representasi cat kuku dari tahun 1920 hingga 1942, sementara pendekatan tematik digunakan untuk mendalami dimensi spesifik seperti representasi iklan, praktik konsumsi, dan distingsi sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Standarisasi Perawatan Kuku sebelum Cat Kuku Modern Kemunculan cat kuku tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan berkaitan erat dengan konstruksi estetika modern yang disebarkan melalui media cetak Cat Kuku Sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942 (Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skobe. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 Surat kabar dan majalah perempuan dari tahun 1920-an hingga 1940-an tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai ruang normatif yang memproduksi dan menormalisasi pandangan tertentu tentang tubuh perempuan ideal. Salah satu aspek penting dari standarisasi estetika ini adalah fokus pada tangan dan kuku sebagai bagian tubuh yang harus mendapat perhatian khusus. Artikel yang muncul dalam surat kabar kolonial seperti Bataviaasch Nieuwsblad dan De Locomotief secara konsisten menekankan pentingnya perawatan kuku bukan sekadar untuk keperluan kebersihan, tetapi sebagai penanda visual modernitas, peradaban, dan kehalusan sosial. Dalam artikel berjudul Handen en voeten versieren atau Menghias Tangan dan Kaki yang diterbitkan pada 1 Juli 1995, merujuk pada praktik di periode sebelumnya, dijelaskan bahwa tangan dan kuku merupakan bagian tubuh yang mendapat perhatian khusus dalam standar kecantikan di kalangan elit kolonial. (Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad, 26 Januari 1. Gambar 2. Artikel berjudul De Handen Memasuki tahun 1930-an, wacana kecantikan kuku menjadi semakin teknis dan terperinci. Artikel seperti Let op Uw Handen atau Perhatikan Tangan Anda yang terbit di Bataviaasch Nieuwsblad pada 15 November 1937 tidak hanya membahas pentingnya perawatan kuku tetapi juga menjelaskan tahapan yang harus dilakukan, termasuk memotong kuku dengan gunting khusus, mengikir ujung kuku, membersihkan kutikula, dan terakhir mengoleskan cat kuku. Pola penjelasan ini menunjukkan bahwa perawatan kuku tidak lagi sekadar praktik spontan atau individual, melainkan prosedur berdisiplin yang memerlukan pengetahuan, alat, dan bahan yang tidak mudah diakses oleh semua kelas sosial. (Sumber: De Volkskrant, 1 Juli 1. Gambar 1. Artikel berjudul Handen en voeten versieren Wacana tentang tangan sebagai penanda identitas feminin juga muncul dalam artikel De Handen yang terbit di Bataviaasch Nieuwsblad pada 26 Januari 1918. Artikel ini menjelaskan bahwa tangan yang terawat baik merupakan tanda perempuan yang memahami pentingnya estetika pribadi. Lebih dari itu, tangan dianggap sebagai media visual yang mengomunikasikan status sosial. Perempuan dengan tangan halus, bersih, dan kuku yang berbentuk baik dikategorikan sebagai perempuan berbudaya, berbeda dengan citra perempuan pedesaan atau kelas bawah yang tangannya diasosiasikan dengan pekerjaan manual. (Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad, 15 November 1. Gambar 3. Artikel berjudul Let op Uw Handen Melalui pola ini, kuku bertransformasi menjadi proyek estetika yang memerlukan pengelolaan Hal ini tidak hanya mencerminkan nilai kecantikan modern tetapi juga memposisikan tubuh perempuan sebagai objek yang harus dikontrol, diatur, dan dipresentasikan sesuai standar peradaban Dengan demikian, cat kuku muncul bukan Cat Kuku Sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942 (Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skobe. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 sebagai alat dekoratif yang netral tetapi sebagai bagian dari mekanisme yang lebih besar yang membentuk feminitas ideal. Dalam kerangka ini, cat kuku bertransformasi menjadi lebih dari sekadar produk perawatan fisik. Ia menjadi ujung dari sebuah proyek normalisasi tubuh perempuan yang diproduksi melalui wacana media cetak kolonial, di mana kuku yang terawat dan berwarna dikonstruksi sebagai penanda disiplin diri, kehalusan sosial, dan kepatuhan pada standar feminitas modern. Dengan demikian, sebelum produk cat kuku modern mengisi rak-rak toko impor, wacana tentang tubuh ideal perempuan kolonial sudah lebih dulu dibentuk dan disebarluaskan melalui surat kabar dan majalah. Praktik estetika kuku di kalangan perempuan Hindia Belanda tidak hanya manifestasi tren kecantikan, tetapi juga bentuk negosiasi identitas dalam struktur sosial kolonial yang kompleks. Penggunaan cat kuku menjadi media yang melaluinya perempuan menavigasi hierarki sosial, menegosiasikan posisi mereka antara budaya lokal dan kolonial, serta mengonstruksi citra diri yang sesuai atau melawan norma kecantikan dominan. Bagi perempuan Eropa dan Indo-Eropa di kota, menggunakan cat kuku impor seperti Cutex menjadi cara untuk mempertahankan dan memperlihatkan posisi sosial mereka. Akses terhadap produk semacam ini bukan hanya soal daya beli tetapi juga tentang keanggotaan pada kelompok yang memiliki modal budaya tertentu. Dalam kerangka Bourdieu, praktik konsumsi ini berfungsi sebagai distingsi sosial, yaitu mekanisme yang membedakan kelas atas dari kelas bawah melalui selera estetika dan pola Namun bagi perempuan pribumi terdidik atau yang berasal dari keluarga bangsawan, penggunaan cat kuku melibatkan negosiasi yang lebih kompleks. Di satu sisi, mengadopsi praktik kecantikan Barat menjadi cara untuk mengklaim identitas modern dan kedekatan dengan budaya kolonial yang dianggap superior. Di sisi lain, praktik ini juga menghasilkan ketegangan dengan tradisi lokal yang memiliki praktik pewarnaan kuku sendiri, khususnya menggunakan daun pacar atau inai. Penggunaan daun pacar untuk pewarnaan kuku telah lama dipraktikkan dalam budaya Jawa. Sunda, dan Melayu, sering kali dikaitkan dengan ritual keagamaan, upacara pernikahan, atau praktik kecantikan sehari-hari. Praktik ini menggunakan bahan alami yang mudah didapat secara lokal dan merupakan bagian dari pengetahuan budaya kolektif yang diwariskan turun-temurun. Namun dengan munculnya cat kuku modern, khususnya yang berasal dari merek impor, praktik pacar mulai dipandang sebagai tradisional, kurang modern, bahkan ketinggalan zaman. Media cetak kolonial memainkan peran signifikan dalam pergeseran ini. Artikel yang menekankan pentingnya perawatan kuku modern sering kali secara implisit atau eksplisit memposisikan praktik lokal sebagai tidak ilmiah atau kurang higienis. Dalam beberapa artikel, cat kuku digambarkan sebagai produk yang melalui pengujian laboratorium, diproduksi secara higienis, dan aman bagi kesehatan. Sebaliknya, bahan alami seperti pacar sering kali tidak dibahas dalam wacana ilmiah modern ini, menciptakan kesan bahwa praktik tradisional tidak memiliki legitimasi ilmiah. Bagi perempuan pribumi yang menegosiasikan antara keduanya, muncul beberapa strategi. Sebagian sepenuhnya meninggalkan praktik lokal dan mengadopsi standar kecantikan Barat secara total. Yang lain melakukan adaptasi selektif, menggunakan cat kuku untuk acara formal atau pertemuan sosial yang memerlukan penampilan modern, sambil tetap mempertahankan penggunaan pacar dalam situasi yang lebih privat atau tradisional. Ada juga yang menciptakan hibriditas dengan menggabungkan kedua praktik, misalnya menggunakan pacar sebagai basis kemudian mengoleskan cat kuku transparan di Pola negosiasi ini menunjukkan bahwa estetika kuku bukan sekadar tentang pilihan visual, tetapi juga melibatkan pertanyaan yang lebih luas tentang identitas, keanggotaan, dan posisi dalam struktur sosial kolonial. Menggunakan cat kuku menjadi salah satu cara untuk mengklaim identitas modern, tetapi sekaligus praktik ini juga mencerminkan keterbatasan struktural dan ketidakseimbangan kekuasaan dalam masyarakat kolonial. Penyebaran Cat Kuku melalui Media Kolonial Media cetak kolonial menjadi ruang utama di mana cat kuku diberi makna sosial dan bertransformasi dari sekadar produk kosmetik menjadi simbol gaya hidup dan identitas sosial. Iklan dan artikel kecantikan dalam surat kabar serta majalah tidak hanya menawarkan produk tetapi juga mengonstruksi representasi tentang perempuan ideal, feminitas yang pantas, dan hubungan antara tubuh, kecantikan, dan kelas sosial. Iklan Cutex yang muncul di berbagai surat kabar kolonial menggunakan beberapa strategi visual dan naratif yang konsisten. Secara visual, iklan ini selalu menampilkan gambar tangan perempuan yang halus, putih, dan terawat baik. Tangan ideal menurut standar kecantikan kolonial dengan jari jemari langsing, kulit Cat Kuku Sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942 (Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skobe. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 mulus, kuku yang rapi, dan sering kali dihiasi cincin atau gelang sebagai penanda kekayaan. Narasi iklan menekankan aspek modernitas ilmiah, cat kuku dipresentasikan sebagai produk yang teruji secara laboratorium, aman bagi kesehatan, dan diproduksi secara higienis, sehingga menggunakannya menjadi pilihan rasional berbasis pengetahuan, bukan sekadar mengikuti tren. Dalam kerangka teori distingsi sosial Bourdieu, representasi semacam ini berfungsi sebagai mekanisme simbolik yang mengkonstruksi selera estetika tertentu sebagai penanda kelas: tubuh yang terdisiplin, terawat, dan mengonsumsi produk ilmiah-modern menjadi ekspresi habitus kelas atas kolonial yang membedakan diri dari perempuan kelas bawah. Iklan mengasosiasikan cat kuku dengan gaya hidup kelas atas. Cutex sering kali dipasarkan sebagai produk yang digunakan oleh perempuan modern, perempuan yang fashionable, atau perempuan yang memahami kecantikan. Retorika ini menciptakan batas simbolik antara perempuan yang menggunakan produk semacam ini dan yang Mereka yang memakai Cutex diposisikan sebagai bagian dari kelompok modern, terdidik, modis, sementara mereka yang tidak memiliki akses secara implisit dieksklusi dari representasi ideal ini. (Sumber: cosmeticandskin. com, 1. Gambar 5. Representasi Cutex dalam Iklan Variasi warna cat kuku ditonjolkan sebagai elemen penting. Iklan sering memperlihatkan puluhan pilihan warna yang tersedia, dari transparan hingga merah cerah. Variasi ini tidak hanya menawarkan pilihan estetika tetapi juga memperkuat gagasan bahwa kecantikan modern memerlukan ekspresi individual, kebebasan memilih, dan kemampuan konsumsi sesuai selera. Namun kebebasan ini terbatas pada mereka yang memiliki akses ekonomi untuk membeli berbagai varian warna. (Sumber: De Sumatra Post, 27 Desember 1. Gambar 6. Artikel berjudul Zeven en veertig nagelkleuritjes Artikel kecantikan dalam majalah perempuan memperkuat representasi ini. Artikel seperti Zeven en veertig nagelkleuritjes atau Empat Puluh Tujuh Warna Kuku yang terbit di De Sumatra Post pada 27 Desember 1930 tidak hanya membahas variasi warna tetapi juga menjelaskan teori tentang warna mana yang cocok untuk warna kulit tertentu, acara tertentu, atau suasana hati tertentu. Wacana ini mentransformasi cat kuku dari produk dekoratif sederhana menjadi elemen yang memerlukan pengetahuan, keahlian, dan pertimbangan estetika. Media juga berperan dalam menciptakan keahlian seputar perawatan kuku. Artikel yang menjelaskan teknik manikur, cara memotong kuku yang benar, atau cara menjaga kesehatan kuku memposisikan penggunaan cat kuku sebagai bagian dari rezim kecantikan yang lebih luas. Hal ini tidak hanya meningkatkan permintaan produk tetapi juga menciptakan ketergantungan pada pengetahuan dan praktik tertentu yang dianggap modern dan ilmiah. Melalui pola representasi ini, media kolonial berfungsi tidak hanya sebagai ruang iklan tetapi sebagai institusi normatif yang memproduksi dan menyebarkan nilai feminitas ideal. Cat kuku menjadi salah satu elemen dalam mekanisme yang lebih besar yang mengonstruksi perempuan modern menurut standar kolonial, berdisiplin, mengetahui Cat Kuku Sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942 (Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skobe. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 cara merawat diri, mengonsumsi produk yang tepat, dan menampilkan tubuh sesuai norma estetika yang (Sumber: Collectie Tropenmuseum,1. Gambar 7. Pembukaan Kios Cutex di Pasar Gambir Diferensiasi Sosial dalam Praktik Estetika Kuku Cat kuku di Hindia Belanda tidak dapat dipahami sekadar sebagai produk kosmetik atau tren mode, tetapi harus dianalisis sebagai artefak budaya kolonial yang membawa dan mereproduksi relasi sosial yang kompleks. Objek ini menghubungkan tubuh perempuan dengan jaringan kolonialisme global, industri kecantikan, media visual, dan hierarki kelas. Dari sudut pandang ekonomi, cat kuku diposisikan sebagai komoditas mewah dengan harga yang jauh melampaui daya beli sebagian besar Berdasarkan data statistik perdagangan Mededeelingen van het Centraal Kantoor voor de Statistiek No. 30 Tahun 1924, satu botol Cutex termurah yang dihargai 25 gulden setara dengan 147 kilogram beras. Sebagai pembanding, upah harian buruh perkebunan dan pabrik pada masa itu hanya berkisar 0,25 sampai 0,45 gulden. Dengan upah rata-rata 0,30 gulden per hari, seorang pekerja memerlukan 83 hari kerja untuk mengumpulkan pendapatan guna membeli satu botol Cutex termurah. Disparitas harga ini menunjukkan bahwa cat kuku bukanlah produk yang dapat diakses oleh semua perempuan, melainkan hanya mereka dari kelas ekonomi atas. Akses ekonomi tidak hanya menentukan siapa yang bisa membeli produk tetapi juga siapa yang bisa berpartisipasi dalam representasi feminitas modern yang dikonstruksi melalui media dan iklan. Dalam kerangka ini, cat kuku berfungsi sebagai artefak kelas, tidak hanya memperindah kuku tetapi menandai kepemilikan modal ekonomi dan budaya. Perempuan yang menggunakan cat kuku secara visual menampilkan afiliasi mereka dengan dunia modern kolonial, dengan toko impor, mode Eropa, dan gaya hidup urban. Sebaliknya, perempuan yang tidak memiliki akses terhadap produk semacam ini ditempatkan di luar representasi modernitas tersebut, sehingga memperkuat hierarki sosial yang Penggunaan cat kuku juga terlihat dari bahasa warna dan bentuk kuku yang berkembang pada masa itu. Warna merah, khususnya merah tua, banyak diasosiasikan dengan perempuan modern yang berjiwa avant-garde, berani, mandiri, dan sadar akan tubuhnya. Seperti halnya lipstik merah, cat kuku merah berfungsi sebagai tanda visual yang mencolok, menandai keberanian menampilkan tubuh sebagai ruang ekspresi modernitas. Dominasi warna ini tidak terlepas dari konstruksi feminitas kolonial yang menekankan keanggunan, gairah, dan kedisiplinan tubuh dalam satu kesatuan estetika. Dengan demikian, cat kuku di Hindia Belanda dapat dipahami sebagai artefak budaya kolonial, sebuah objek keseharian yang memuat dan mereproduksi makna sosial. menghubungkan tubuh perempuan dengan jaringan kolonialisme global, industri kecantikan, media visual, dan hierarki kelas. Kuku yang dicat bukan hanya bagian dari tubuh, tetapi pernyataan sosial yang eksplisit tentang modernitas, tentang status, dan tentang keterikatan pada nilai kolonial yang menempatkan budaya Barat sebagai tolok ukur SIMPULAN (Sumber: Data Statistik Perdagangan. Mededeelingen van het Centraal Kantoor voor de Statistiek No. 30, 1. Gambar 8. Perbandingan Harga Cutex dengan Lipstik Penelitian ini menyimpulkan bahwa cat kuku di Hindia Belanda pada periode 1920-1942 bukan sekadar praktik kosmetik atau tren mode yang netral, melainkan bagian dari proses kolonialisme budaya yang bekerja melalui tubuh perempuan dan produksi makna visual. Cat kuku beroperasi sebagai medium tempat modernitas kolonial ditanamkan dan dipertunjukkan, di mana merek global seperti Cutex diposisikan sebagai komoditas gaya hidup Cat Kuku Sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942 (Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skobe. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 melalui jaringan warenhuis dan media cetak. Praktik ini menciptakan mekanisme eksklusi simbolik. representasi visual tangan yang halus dan terawat membakukan standar feminitas modern yang secara implisit menyingkirkan perempuan kelas bawah dari imajinasi modernitas. Dalam kerangka Pierre Bourdieu, konsumsi cat kuku berfungsi sebagai praktik distingsi sosial yang menandai habitus kelas elit, menjadikan kuku yang dicat sebagai bahasa visual yang menyatakan afiliasi kelas, kedisiplinan tubuh, dan kedekatan dengan budaya Barat. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai resistensi atau adaptasi perempuan pribumi melalui analisis sejarah lisan guna melengkapi narasi yang selama ini didominasi oleh media kolonial. Studi masa depan juga dapat melakukan perbandingan antara estetika masa kolonial dengan masa pendudukan Jepang untuk melihat pergeseran makna simbolik kecantikan dalam konteks politik yang berbeda. Bagi institusi museum dan kearsipan, penelitian ini diharapkan dapat mendorong pelestarian artefak keseharian sebagai bagian dari arsip sejarah Selain itu, kajian ini dapat menjadi rujukan bagi akademisi sejarah gender untuk memahami bagaimana tubuh perempuan menjadi ruang penting bagi beroperasinya kekuasaan dan negosiasi identitas dalam masyarakat kolonial. DAFTAR PUSTAKA