Volume 9 No 1 . Pages 1-13 Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya ISSN: 2621-1017 (Onlin. 2549-7928 (Prin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/Purwadita Tradisi Menek Medesa di Desa Lemukih Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng (Kajian Bentuk Fungsi Makn. Gede Merta Dana 1. Ida Bagus Putu Eka Suadnyana 2. Ketut Agus Nova 3A 1 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia 2 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia 3 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia Abstrak Tradisi Menek Medesa dianggap sebagai adat istiadat sakral oleh masyarakat Desa Lemukih, yang wajib diikuti setelah pernikahan dilaksanakan. Tradisi ini sudah ada sejak sekitar abad ke-14 Masehi, sebelum pengaruh budaya Hindu-Jawa dari Kerajaan Majapahit datang. Diyakini oleh masyarakat Desa Lemukih memiliki makna yang dalam. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: . Bagaimana wujud tradisi Menek Medesa di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan. Kabupaten Buleleng? . Apa fungsi tradisi Menek Medesa di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan. Kabupaten Buleleng? . Apa makna tradisi Menek Medesa di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan. Kabupaten Buleleng? Teori yang digunakan untuk menganalisis permasalahan tersebut adalah: . Teori agama. Teori fungsionalisme struktural. Teori interaksionisme simbolik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut: . Asal usul tradisi Menek Medesa didasarkan pada kenyataan bahwa Desa Lemukih tidak mengenal sistem kasta. Siapa pun yang ingin tinggal atau menjadi bagian dari Desa Lemukih harus menerima prinsip ini. Tradisi tersebut telah dipraktikkan secara terus-menerus dari zaman dahulu hingga saat ini. Wujud tradisi Menek Medesa meliputi: tempat dan penyelenggara tradisi, tradisi itu sendiri, proses pelaksanaannya, serta sarana dan prasarana pendukung tradisi. Fungsi tradisi Menek Medesa meliputi: penguatan iman dan bakti, penyucian, fungsi sosial, dan sebagai sarana penolak bala. Makna yang terkandung dalam tradisi ini meliputi: makna etis, makna kerukunan . esuai dengan konsep Hindu Tri Hita Karan. , dan makna simbolis yang diungkapkan melalui unsur-unsur yang digunakan dalam upacara. Kata Kunci: Tradisi Menek Medesa. Bentuk. Fungsi. Makna Abstract The Menek Medesa tradition is considered a sacred custom by the people of Lemukih Village, which must be followed after a marriage is carried out. This tradition has existed since around the 14th century AD, before the influence of Hindu-Javanese culture from the Majapahit Kingdom arrived. It is believed by the people of Lemukih Village to carry deep meaning. Based on this background, the formulated problems are as follows: . What is the form of the Menek Medesa tradition in Lemukih Village. Sawan Subdistrict. Buleleng Regency? . What is the function of the Menek Medesa tradition in Lemukih Village. Sawan Subdistrict. Buleleng Regency? . What is the meaning of the Menek Medesa tradition in Lemukih Village. Sawan Subdistrict. Buleleng Regency? The theories used to analyze these problems are: . The theory of religion. Structural functionalism theory. Symbolic interactionism theory. The data collection methods used are observation, interviews, literature study, and documentation. The data collected was then analyzed to draw conclusions. The research results show the following: . The origin of the Menek Medesa tradition is based on the fact that Lemukih Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 1 Village does not recognize the caste system. Anyone who wishes to live in or be part of Lemukih Village must accept this principle. The tradition has been continuously practiced from ancient times to the present. The form of the Menek Medesa tradition includes: the place and organizers of the tradition, the tradition itself, the process of implementation, and the facilities and infrastructure supporting the tradition. The functions of the Menek Medesa tradition include: strengthening of faith and devotion, purification, social functions, and as a means of repelling misfortune. The meanings contained in this tradition include: ethical meaning, the meaning of harmony . n accordance with the Hindu concept of Tri Hita Karan. , and symbolic meaning expressed through the elements used in the ceremony. Keywords: Menek Medesa Tradition. Form. Function. Meaning Copyright . 2025 Ketut Agus Nova This is an open access article under the CCAeBY-SA license A Corresponding author: Ketut Agus Nova Email Address : jroanom@gmail. Received 21 February 2025. Accepted 7 March 2025. Published 13 March 2025 DOI: https://doi. org/10. 55115/purwadita. Publisher: Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja PENDAHULUAN Tradisi-tradisi dalam masyarakat tidak hanya mencakup aspek keagamaan, tetapi juga mengatur kehidupan sehari-hari individu dan masyarakat dalam berbagai tahapan kehidupan, dalam agama Hindu, terdapat berbagai praktik keagamaan, ritual, upacara, dan filosofi yang mengarah pada pemahaman mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia. Konsep utama dalam agama Hindu yang mengatur kehidupan sehari hari dalam tahapan-tahapan kehidupan manusia berdasarkan peran dan tanggung jawab sosialnya yaitu ada pada ajaran catur asrama (Santiawan dkk, 2021: Catur asrama, yang dikenal sebagai empat tahapan kehidupan dalam ajaran Hindu. Keempat tahapan ini adalah brahmacharya . ahap pembelajara. , grahastha . ahap berumah tangg. , vanaprastha . ahap pensiu. , dan Sannyasa . ahap pelepasa. Pada tahap grahastha asrama merupakan tahap kehidupan berumah tangga dalam ajaran Hindu merupakan fase kehidupan yang sangat penting dan kompleks, melibatkan peran aktif dalam membentuk keluarga, berkontribusi pada masyarakat, dan memenuhi berbagai kewajiban duniawi dan Tradisi yang terkait dengan grahasta asrama meliputi berbagai upacara keagamaan dan praktik spiritual yang menguatkan ikatan keluarga dan mengarahkan individu pada pencapaian tujuan kehidupan yang lebih tinggi, seperti moksa . embebasan ro. Dalam ajaran Hindu, perkawinan dipandang sebagai suatu yadnya atau kewajiban suci. Melalui perkawinan, diharapkan lahir anak suputra, khususnya bagi umat Hindu. Selain itu, perkawinan juga dianggap sebagai momen sakral dalam kehidupan umat Hindu (Candrakusuma, 2007: vi. Seseorang yang sudah mencapai grahasta asrama akan melalui beberapa proses lagi yang berbeda-beda disetiap daerah, seperti halnya di Desa Lemukih bagi seseorang yang sudah mencapai grahasta asrama akan diwajibkan untuk mengikuti dan melakukan menek medesa. Tradisi menek medesa merupakan tradisi yang berada di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya ketika ada piodalan agung di Desa Lemukih berpuncak pada upacara sabha dalem, berselisih 15 hari akan menjelang sabha gede. Tradisi menek medesa diperankan oleh sepasang suami-istri yang istilahnya baru menikah. Tradisi menek medesa ini biasanya diikuti pasangan yang menikah maksimal 2 tahun terakhir sebelum upacara ini di lakukan. 2 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . METODE Metode penelitian ini bersifat kualitatif dengan studi pustaka (Darmalaksana, 2020. , dengan menelaah sumber pustaka seperti buku, artikel, dan hasil penelitian ilmiah tentang Sunda Wiwitan, dengan pendekatan analisis deskriptif akan lebih menekankan pada review terkait dengan tema yang sudah ditentukan dan kemudian dideskripsikan sesuai dengan rumusan, serta hasilnya disimpulkan secara singkat dan dan jelas (Wibisono et al. , n. HASIl DAN PEMBAHASAN 1 Bentuk Tradisi Menek Medesa di Desa Lemukih Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng Mengetahui bentuk tradis menek medesa yang mengacu pada tempat dan waktu pelaksanaan tradisi menek medesa yang didalamnya terdapat pembahasan terkait dengan tempat dilaksanakan tradisi menek medesa dan waktu pelaksanaanya. Selanjutnya mengacu ke pelaksana tradisi menek medesa yakni orang-orang yang terlibat langsung pada pelaksanaan tradisi menek medesa, untuk lebih detailnya dapat dilihat di pembahasan dibawah ini: 1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Tradisi Menek Medesa Tradisi menek medesa dilaksanakan pada saat piodalan sabha dalem yang jatuh pada tilem kapat, namun sebelum puncak dari pelaksanaan tradisi terdapat beberapa upacara yang dilakukan seperti upacara metatah atau potong gigi yang jatuh pada purnama kapat yang dilaksanakan di Wantilan Desa Lemukih sebagai tempat sementara pelaksanaan upacara metatah atau potong gigi. Kemudian tempat pelaksanaan tradisi menek medesa terlebih dahulu dilaksanakan di Pura Dalem sebagai Pura dasar untuk melaksanakan persembahyangan atau nguningang dengan mengaturkan banten pecingkrem, setelah itu, akan dilanjutkan berjalan dari Pura Dalem menuju Pura Desa untuk melaksanakan nulud dapuh guna mencari linggih atau tegak yang dilaksanakan di bale dawa bedangin sesuai tempat linggihan orang tua masingmasing, kemudian pada saat punama kelima atau piodalan sabha gede masyarakat yang sudah melaksanakan menek medesa atau pada saat menjadi kasinoman akan mengaturkan banten jerimpen di Pura Desa yang nantinya meintaran di Pura Puseh. 2 Pelaksana Tradisi Menek Medesa Pelaksana tradisi Menek Medesa para pelaku yang terlibat tidak hanya krama . yang melaksanakan menek medesa, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan kelompok - kelompok religius setempat. Keberadaan kelompok religius menjadi penting karena mereka berperan dalam menjaga nilai-nilai sakral serta memastikan bahwa setiap tahapan upacara dijalankan sesuai dengan adat dan ajaran yang berlaku. Kelompok-kelompok religius merupakan orang-orang yang menganut suatu sistem kepercayaan, sehingga setiap orang akan memiliki sistem kepercayaannya sendiri, dalam menjalani hidup manusia berhak memilih sistem kepercayaannya sendiri dengan demikian manusia memiliki suatu kebebasan (Koentjaraningrat 1992:. Adapun tokoh-tokoh adat yang mempunyai tugas khusus pada pelaksanaan tradisi menek medesa yang dijelaskan dalam wawancara dengan Gede Widiarta selaku penyarikan desa sekaligus pengenter acara pelaksanaan tradisi menek medesa, pada tanggal 05 April 2025 sebagi Nengah Kerta selaku jro mangku di Pura Dalem yang memuput upacara metatah atau potong gigi dan persembahyanga serta penyampaikan sesimpedan pada saat di Pura Dalem Gede Budiasa selaku jro mangku di Pura Desa yang memuput upacara persembahyanga dan penyampaikan sesimpedan pada saat di Pura Desa Gede Widarta selaku penyarikan desa di Desa Lemukih yang bertugas sebagai pengenter acara memberikan arahan kepada masyarkat yang mengikuti menek medesa Krama saya . asyarakat yang memiliki tugas khusu. yang bertugas membantu mempersiapkan sarana dan Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 3 prasana yang digunakan pada saat tradisi menek medesa berlangsung. Semua masyarakat Desa Lemukih yang ngeruntutin atau menghaturkan banten pada saat pelaksanaan tradisi menek medesa dan ikut ngayah dalam proses pembuatan lawar ataupun kelengkapan yang lainnya (Widiarta. Wawancara tanggal 05 April 2. Berdasarkan penjelasan diatas bahwa tokoh-tokoh adat dan masyarakat Desa Lemukih memiliki tugas khusus pada pelaksanaan tradisi menek medesa sehingga pelaksanaan tradisi menek medesa dapat berjalan dengan lancar. 3 Proses Pelaksanaan Tradisi Menek Medesa Adapun Tahapan-tahapan mengenai proses pelaksanaan tradisi menek medesa sebagai 1 Tahap Awal Tahap awal pelaksaanaan tradisi menek medesa diawali dari dua . bulan sebelum puncak pelaksanaan tradisi menek medesa yaitu nguningan . Nguningan ini dilakukan kepada jro penyarikan desa oleh orang tua yang anaknya akan melakukan medesa. Satu . bulan kemudiaan sebelum acara dimulai krama yang bersangkutan akan melakukan ajang atau memakan makanan yang sudah disiapkan atau disediakan, makanan ini wajib dikonsumi oleh krama yang bersangkutan. Krama ini nantinya akan mengikuti pemberataan atau yang disebut kurungan desa yang artinya Krama bersangkutan tidak diperbolehkan mengunjungi pura-pura yang ada di Desa Lemukih. Selanjutnya, pada purnama kapat atau lima belas . hari sebelum puncak acara, krama . akan melaksanakan upacara metatah atau potong gigi. Pelaksanaan upacara metatah yang dilakukan pada tahap ini, hanya bagi krama . yang akan mengikuti menek medesa namun sebelumnya belum pernah melakukan metatah atau potong gigi dan bagi yang sudah pernah metatah sebelumnya tidak perlu ikut dalam prosesi upacara metatah ini. Upacara metatah ini diadakan oleh Desa Adat Lemukih dipuput oleh jro mangku dalem, metatah ini hanya khusus untuk krama . yang belum melaksanakan upacara metatah dan akan mengikuti menek medesa karena sebagai syarat sebelum mengikuti tradisi menek medesa sebagai simbol penyucian diri. Masyarakat yang akan melakuakan medesa baik perempuan maupun laki-laki wajib sudah melakukan potong gigi. Upacara metatah bertujuan untuk menyucikan sifat-sifat negatif, menandai transisi dari masa remaja ke dewasa, serta sebagai bentuk pemenuhan tanggung jawab orang tua dalam membimbing anak menuju hakikat kemanusiaan yang sejati (Ernawati, 2012:. Tahapan selanjutnya yakni pelaksanaan muduan . yang dilaksanakan 6 hari menjelang pelaksanaan tradisi menek medesa dilaksanakan muduan . Pelaksanaan muduan . bertujuan memberikan informasi mengenai pepeson atau sarana yang wajib dibawa pada saat pelaksanaan tradisi menek medesa. Muduan . ini dilaksanakan di Pura Desa diawali dengan matur piuning dilakukan oleh jro mangku gede selaku pengempon Pura Desa. Pelaksanaan muduan . menghadirkan semua masyarakat Desa Lemukih seperti. desa enam dasa termasuk ulun desa, penyarikan desa desa nyamping dan saya . asyarakat yang memiliki tugas khusu. 2 Tahap Inti Atau Puncak Acara Puncak Pelaksanaan tradisi tradisi menek medesa dilaksanakan pada tilem kapat yakni bertepatan dengan piodalan sabha dalem, tradisi menek medesa dimulai dari pagi hari pukul 07:00 wita. Krama . yang mengikuti menek medesa baik itu laki-laki dan perempuan sudah berada di Pura Dalem, pelaksanaan tradisi menek medesa diawali penataan banten pecingkrem yang di tempatkan dibagian utama mandala Pura Dalem. Penataan banten pecingkrem selesai setelah itu baru krama . yang medesa memasuki area utama mandala Pura dengan membawa canang sari yang sudah berisi canang kojong dan pungkusan . ama yang digunakan diada. Pada saat krama . memasuki jeroan atau utama mandala Pura Dalem. Memasuki jeroan atau utama mandala berutan sesuai dengan penyeroan mulai dari yang pertama penyeroan dalem kelod . adia bali mul. , kedua penyeroan dalem kaja . adia sanggin. , ketiga penyeroan dalem tengah . adia gust. , keempat penyeroan tumpang sebelas . adia tanah daa. , 4 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 kelima penyeroan tumpang siya . adia pasek bendes. , keenam penyeroan muterin jagat . adia muterin jaga. , ketuju penyeruan tumpang pitu . adia pasek kayu sele. , kedelapan penyeroan tumpang lima kangin . adia pant. , kesembilan penyeroan tumpang lima kauh . ro tukan. , kesepuluh penyeroan tumpang telu . , dan terakhir penyeroan pengiring . adia sumag. , (Widiarta, wawancara 14 januari 2. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bawah Desa Lemukih memiliki sebelas . penyeroan atau juga disebut dadia yang didalamnya terdapat pelinggih sesuhunan susai dengan pelinngih yang ada di Pura Desa Lemukih seperti Pura Khayangan Tiga. Pada saat Pelaksanaan tradisi menek medesa disaat krama . yang menek medesa hendak memasuki jroan atau utama mandala Pura Dalem harus secara berurutan sesuai dengan penyeroan . dari krama . yang melaksanakan menek medesa. Penyeroan . ini disesuaikan dengan kawaitan masing-masing di setiap krama desa yang akan melakukan menek Pada saat krama . yang menek medesa sudah berada di area pura yakni jroan atau utama mandala Pura Dalem dan membawa canang sari yang berisi canag kojong dan pungkusan . ama yang digunakan diada. canang sari ini natinya akan diambil satu persatu oleh ulun desa nantinya akan ditaruh di piyasan untuk diaturkan kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama. Persembahyangan ini adalah memohon keselamatan dan kelancaran dalam proses pelaksanaan menek medesa yang sedang berlangsung. Persebhayangan ini mengaturkan banten pecingkrem, canang sari berisi canang kojong dan pungkusan . ama digunakan diada. yang dipuput oleh jro mangku dalem atau pengempon Pura Dalem, selesai persembahyangan dilanjutkan dengan pemberian canang kojong yang diambil dari canang sari yang dibawa sesuai dengan pungkusan . ama yang digunakan diada. , canang Kojong tersebut harus dipegang dengan baik karena memiliki simbol sat maka jiwa permana dari krama . yang bersangkutan. Canang kojong ini dipercayai kesakralanya, jika canang kojong tersebut jatuh maka itu merupakan pertanda krama . yang bersangkutan akan mengalami musibah, setelah itu dilanjutkan dengan penyampaian sesimpedan Sesimpedan disampaikan ketika krama . yang mengikuti menek medesa sudah selesai melaksanakan persembahyangan dan sudah memegang canang kojong yang diberikan oleh ulun desa. Sesimpedan berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh oleh krama . yang sedang menikuti proses menek medesa yakni berbunyi: Ausedurung cening memargi jagi pacang nulud dapuh nunas linggih cening di bale panjang di pura bale agung sake wante setonden cening lakar memargi sautin petaken kakine ken adaan cening ke segarane molihang be gede ken cening ke gunung molihan anti utawi pakuAy Artinya: sebelum Cening menuju Pura Desa melaksanakan nulud dapuh di bale panjang tetapi sebelum Cening akan berjalan jawab pertanyaan Kakine Cening pergi ke segara mendapatkan be gede . kan besa. Atau Cening Pergi ke gunung mendapatkan anti dan paku. Sesimpedan tersebut memiliki makna tujuan dari krama . mengikuti menek medesa misalnya pergi ke segara mendapatka be gede yang berarti krama . tersebut mencapai atau menjadi kebayan gede . dan pergi ke gunung mendapatkan anti atau paku berarti krama . tersebut bisa menjadi pengganti jro mangku (Budiasa, wawancara 04 januari 2. Selesai penyampaian sesimpedan tersebut dilanjutkan dengan perjalanann krama menuju Pura Desa dengan memegang canang kojong, saat dalam perjalanan menuju Pura Desa ada pantangan yang tidak boleh dilakuan oleh krama yang sedang menek medesa yakni tidak diperbolehkan berhenti ditengah jalan dan melihat kekanan atau kekiri hanya fokus berjalan menuju Pura Desa, ketika dalam perjalanan terdapat hambatan atau canang kojong yang dibawa jatuh maka menandakan krama yang bersangkutan akan mengalami musibah. Sesampainya Pura Desa langsung dilanjutkan dengan nulu dapuh di bale panjang bedangin. Nulud dapuh yakni mendorong canang kojong di sisi kauh . atau kangin . bale dawa bedangin sesuai dengan linggi orang tua masing-masing. Mendorong mulai dari pojok kelod . sampai ke kaja . bale dawa bedangin. Kemudian canang kojong tersebut disimpan didalam lubang yang terdapat pada sisi sudut bale dawa bedangin. Ketika sudah selesai lubang tersebut akan ditutup mengunakan bata oleh ulun desa. Penyimpanan canang Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 5 kojong yang memiliki simbol sat maka jiwa permana dari masing-masing krama . tersebut menandakan tempat linggi masing-masing krama . pada saat menjadi bagian dari desa enam dasa. Selesai penyimpanan canang kojong tersebut akan dilanjutkan dengan persebahyangan bersama di Pura Desa. Persebahyangan ini dipuput oleh jro mangku gede atau pengempon Pura Desa. Pelaksanaan persebahyangan ini tidak hanya diikuti oleh krama . yang mengikuti menek medesa saja tetapi diikuti juga oleh orang tua dari masing-masing krama . Persembahyangan ini adalah memohon agar krama . yang mengikuti prosesi menek medesa ini langgeng dalam hubungan rumah tangga dan panjang umur serta sebagai ungkapan puji syukur atas kelanjaran kelancaran dalam pelaksanakan menek medesa yang sudah berlangsung. Setelah melaksanakan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan penyampaian sesimpedan dari jro mangku gede. Sesimpedan ini sama seperti yang telah disampaikan di Pura Dalem sebelumnya, kemudian diakhir pada saat akan meningalkan Pura Desa krama . akan mundur tiga langkah kebelakang sebelum berbalik badan dan meningalkan Pura Desa untuk menganti pakain. 3 Tahap akhir Tahap akhir dalam pelaksanaan tradisi menek medesa yakni setelah sesimpedan oleh jro mangku gede di Pura Desa, setelah sesimpedan tersebut selesai maka serangkaian proses tradisi menek medesa telah selesai dilaksanakan, kemudian krama . yang mengikuti menek medesa akan mengganti pakain dan akan dilanjutkan dengan ngayah serangkaia piodalan sabha Bagi yang sudah melaksanaan tradisi menek medesa ini sudah menjadi kasinoman baru yang mendapatkan tugas khusus atau ngayah selama upacara piodalan yang berlangsung di Desa Lemukih seperti sabha dalem, sabha gede dan piodalan lainya selama 1 tahun. Setelah itu, disebut dengan kasinoman lama yang bertugas mendampingi kasinoman baru sampai tilem kesanga, barulah nantinya disebut dengan desa nyamping, kemudian dari desa nyamping akan menjadi desa enam dasa . erjumlah 60 oran. jika dari salah satu anggota dari desa enam dasa . erjumlah 60 oran. meninggal dan digantikan oleh yang berada di desa nyamping sesuai urutan menek medesa paling lama, terkecuali ulun desa yaitu bau dan kebayan ketika meninggal diganti secepatnya diambil dari anggota desa enam dasa . erjumlah 60 oran. tersebut berdasarkan urutan menek medesa. 4 Sarana dan Prasarana Tradisi Menek Medesa di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan. Kabupaten Buleleng. Adapun sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi menek medesa sebagai berikut: 1 Sarana Wiana . menjelaskan bahwa tanpa sarana, manusia tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan yadnya, dengan demikian sarana itu mutlak diperlukan, baik dalam bentuk material maupun non material. Penggunaan sarana dalam upacara yadnya merupakan sebuah alat yang mampu menghubungkan antara pemuja dengan yang di puja dan merupakan rasa ucapan syukur kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. Sarana yang digunakan sebagai persembahan dalam keberadaan umat Hindu di Bali disebut dengan Banten. Adapun sarana digunakan dalam pelaksanaan tradisi menek medesa sebagai berikut: Sarana canang kojong Sarana canang kojong yang memiliki simbol sat maka jiwa permana yang digunakan pada saat proses nulud dapuh. Adapun yang terdapat canang kojong yakni nasi kepelan, pis bolong asli solas . , sekar miyik . unga berbau haru. , pijitan . aun siri. dan daun pisang digunakan sebagai kojong. Sarana canang sari Sarana canang sari yang dihaturkan di Pura Dalem. Canang sari tersebut berisi Pungkusan nama yang berawalan pan untuk laki-laki dan men untuk perempuan serta akhiran sesuai keinginan tetapi harus sama. Misalnya. pan sriada untuk laki laki maka untuk perempuan men sriada. 6 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Sarana banten pecingkrem Banten pecingkrem merupakan salah satu sarana yang wajib dihaturkan oleh krama . yang akan menek medesa di Pura Dalem. Sarana yang digunakan pada banten pecingkrem yaitu. dulang sebagai wadah, kebat banten, dodol, bantal uli, dan tape sebagai dasaran atau paling bawah, batang pisang sebagai dan lidi sebagai perekat, tipat, raka . uah-buaha. , telur ayam atau bebek dan jaja apem yang disusun memanjang ke atas, kemudian paling atas terdapat punggalan yang berisi jaja calcalan, jaja tongkok, jaja sirat, jaja iwel, jaja satuh, jaja ucur, dan jaja empuk serta wajib berisi udang dan ayam yang sudah dipangang dan berisi canang kepet. Ketingian banten pecingkrem yakni bisa mencapai satu . sampai tiga . meter atau lebih. Sarana banten pajegan Sarana banten pajegan dihaturkan di Pura Desa, sarana yang terdapat pada banten pajegan dulang sebagai wadah, kebat banten, dodol, bantal uli, dan tape sebagai dasaran atau paling bawah, batang pisang sebagai dan lidi sebagai perekat, tipat, raka . uah-buaha. , telur ayam atau bebek, dan jaja apem membetuk memanjang ke atas, jaja calcalan, jaja tongkok, jaja sirat, jaja iwel, jaja satuh, jaja ucur dan jaja empuk serta berisi canang, kepet, dan ayam yang sudah dipanggang. Ketingian banten pajegan bisa mencapai kurang lebih dua . Sarana banten penyacak Sarana banten penyacak yang dihaturkan setiap pelinggih dan bale seperti bale saya, bale gong, bale pewaregan dan lain-lain yang berada di Pura Dalem. Banten penyacak ini berjumlah 45 banten sesuai dengan jumlah pelingih dan bale yang ada di Pura Dalem. Sarana yang terdapat pada banten penyacak yait. bokor atau ceper yang terbuat dari daun jaka sebagai wadah, kebat banten, dodol, bantal, uli, dan tape sebagai dasar, raka . jenis, jaja calcalan, jaja tongkok, jaja sirat, jaja iwel, jaja satuh, jaja ucur, jaja empuk dan jaja apem serta paling atas berisi porosan untuk yang berwadah ceper dan canang sari untuk yang berwadah bokor. 2 Prasarana Prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung mendukung pelaksanaan yadnya, namun tetap penting dalam menjaga keharmonisan dan kelengkapan upacara (Sutrisna, 2010:. Prasarana merupakan unsur pelengkap yang menunjang keberlangsungan sebuah kegiatan. Pada konteks upacara yadnya, prasarana dapat berupa alat bantu seperti tempat sesajen, panggungan, pelinggih, perlengkapan upacara, dan hal-hal teknis lainnya yang diperlukan agar proses yadnya berjalan lancar dan sesuai dengan tatanan. Adapun prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi menek medesa sebagai berikut: Penggunan spiker atau toa Pengunaan spiker atau toa yang berfungsi untuk memperkuat dan pengeras suara yang digunakan pada saat tradisi menek medesa berlangsung. Pengunaan bale dawa bedangin Bale dawa bedangin yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan proses nulud dapuh dan tempat linggihan desa enam dasa . erjumblah 60 oran. Pengunaan tiker ental Tikar Ental yang digunakan untuk alas tempat banten pecingkrem, tikar ental berperan penting dalam menjaga kebersihan dan kerapian susunan banten, serta mencegah banten bersentuhan langsung dengan tanah yang dianggap kurang suci. Penggunaan tiker plastik Tikar plastik yang digunakan untuk tempat duduk krama pada saat melaksanakan persembahyangan agar tetap berada dalam kondisi bersih dan suci. 2 Fungsi Tradisi Menek Desa di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan. Kabupaten Buleleng Setiap upacara dalam agama hindu, memiliki fungsi tertentu agar pelaksanaannya memiliki nilai keagamaan, seperti halnya dengan tradisi yang berada di Desa Lemukih yakni tradisi menek medesa yang memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai berikut: Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 7 1 Fungsi Penguatan Srada dan Bakti Masyarakat Agama Hindu memberi pedoman kepada pengikutnya untuk menjalani kehidupan dunia dengan terus meningkatkan keyakinan dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Widhi Wasa. Kepercayaan ini dikenal sebagai Panca Sradha, atau lima kepercayaan (Mudana dkk, 2. Panca Sradha merupakan landasan utama dalam mencapai tujuan hidup tertinggi dengan mengamalkan lima keyakinan yang dianut oleh umat Hindu, yakni Brahman. Atman. Karma Phala. Purnarbawa, dan Moksa. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sudarsana, dkk. Tradisi menek medesa dapat menjadi salah satu fungsi penguatan masyarakat melakukan sradha dan bhakti. Masyarakat yang melakukan persembahyangan pada saat tradisi ini didasari dengan adanya sradha atau panca sradha dalam ajaran agama Hindu diantaranya percaya dengan adanya Brahman atau Sang Hyang Widhi Wasa, percaya dengan adanya atman, percaya dengan adanya karma phala, percaya dengan adanya purnabawa dan percaya dengan adanya moksa. Implementasi Masyarakat Desa Lemukih terhadap bagian dari panca sradha yang pertama yaitu Percaya dengan adanya Sang Hyang Widhi Wasa dapat dilihat dari pelaksanaan upacara atau yadnya yang dilakukann pada saat tradisi menek medesa seperti pelaksanaan persebahyanagn bersama. Persembahyangan bersama yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lemukih. Persembahyangan ini dilakukan membuktikan bahwa keberadaan tradisi menek medesa ini dapat meningkatkan srada dan bakti terhadap masyarakat yang dapat dilihat dari antusian masyarakat dalam mengikuti proses persembahnyangan yang dilaksanakan baik pada saat sebelum maupun pada saat tradisi menek medesa Masyarakat Desa Lemukih memiliki keyakinan yang tinggi terhadap tradisi menek medesa ini, yang dengan demikian masyarkat setempat mampu melakukan upacara dengan maksimal. Upacara akan berjalan dengan lancar apabila didasari dengan keyakinan. Aktivitas ini sangat dilakukan dengan penuh kepercayaan, mulai dari persiapan-persiapan dalam pelaksanaannya seperti persiapan sarana dan prasarana hingga prosesi upacara Dimulai dari persiapan pembuatan banten untuk pelaksanaan upacara, hingga ngayah yang dilakukan masyarakat Desa Lemukih. 2 Fungsi Penyucian Ajaran agama Hindu menjelaskan bahwa penyucian diri terhadap seseorang selama hidupnya dianggap perlu dilakukan dengan harapan dapat mencapai kesempurnaan lahir dan batin. Perlunya penyucian dalam hidup manusia disebutkan dalam Manawa Dharma Sastra V. Adbhir gAtrAni uuddhyanti Manah satyena uuddhyati vidyAtapobhyAm bhtAtma Buddhir jyAnena uuddhyati Terjemahannya: Tubuh dibersihkan dengan air. Pikiran disucikan dengan kebenaran,Jiwa dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dan tapa brata. Kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar (Pudja,2004:. Uraian sloka diatas menjelaskan bahwa sifat lahiriah dan jasmaniah dapat dibersihkan menggunakan sarana keduniawian seperti menggunakan air, sabun dan lain-lain. Pikiran dapat dibersihkan dengan sebuah kejujuran dan selalu berfikiran positif dan rohani dibersihkan dengan cara batiniah. Penyucian dalam ajaran Hindu dapat diwujudkan melalui pelaksanaan yadnya, salah satunya adalah upacara manusa yadnya, yang mencakup berbagai ritual seperti upacara megedong-gedongan, tiga bulanan, otonan, dan lain sebagainya. Hidup dalam kesucian pada dasarnya adalah keinginan setiap individu karena kesucian memungkinkan seseorang untuk lebih dekat dengan Sang Hyang Widhi Wasa, yang maha 8 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 kuasa dan maha suci, melalui proses penyucian manusia dapat mencapai kesucian lahir dan Begitu pula, pelaksanaan tradisi menek medesa memiliki makna sebagai simbol pengukuhan, yang menandai telah dilaksanakannya tahapan penyucian, baik secara lahiriah maupun batiniah. Tradisi menek medesa memiliki fungsi penyucian diri, yang dapat dilihat dari tahapantahapan dalam pelaksanaannya. Unsur penyucian dapat dilihat dengan jelas pada salah satu tahapan tradisi menek medesa yakni upacara metatah atau potong gigi bagi masyarakat yang akan mengikuti menek medesa yang belum pernah melakukan metatah atau potong gigi yang dilaksanakan pada setiap purnama kapat atau 15 hari tepatnya sebelum piodalan sabha dalem atau puncak dari tradis menek medesa sebagai dasar upacara, selain itu upacara metatah sebagai simbol pengendalian enam musuh dalam diri manusia yang disebut sad ripu dan simbol penyucian diri. Tujuan dari upacara metatah adalah membersihkan sifat-sifat buruk tersebut, menandai peralihan dari masa remaja ke dewasa, upacara metatah ini satu syarat yang harus dilakukan bagi masyarakat yang akan mengikuti tradisi menek medesa. 3 Fungsi Harmoni Sosial Manusia adalah makhluk dengan derajat yang tinggi karena dikaruniai akal dan budi. Sebagai makhluk sosial manusia memiliki kewajiban untuk menjalin hubungan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat yang merupakan makhluk sosial tidak terlepas dari nilai-nilai yang menjadi tolak ukur dalam melaksanakan kegiatan yang berbasis Desa Lemukih merupakan desa yang sistem kemasyarakatannya sangat baik dan memegang teguh adat dan aturan yang berlaku di Desa Lemukih. Sosial berkaitan dengan segala hal yang menyangkut masyarakat, di mana masyarakat terdiri atas sekumpulan individu yang hidup di suatu tempat dan menjalani kehidupan bersama. Mereka saling berinteraksi, bekerja sama, serta bergantung satu sama lain. Kehidupan dalam bermasyarakat, individu tidak dapat hidup sendiri, sehingga terbentuklah suatu organisasi sosial (Arsadi, 2022: . Organisasi sosial dibentuk untuk menumbuhkan tanggung jawab akan pekerjaan yang sudah direncanakan, agar pekerjaan tersebut dapat di selesaikan dengan baik dan dilakukan secara bersama-sama tanpa adanya saling memiliki rasa enggan untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab (Beni, 2012: . Tradisi menek medesa dapat dikatakan memiliki fungsi harmoni sosial yang dapat dilihat dari kegitan-kegiatan yang dilakukan. Kegitan yang dilakukan masyarakat seperti ngayah pembuatan sate digunakan sebagai sarana upacara, yang biasanya dilakukan oleh masyarakat desa enam dasa . yang laki-laki ini dapat meninggkatakan keharmonisan masyarakat setempat dan mempererat sistem kekerabatan, karena dengan ngayah ini masyarakat dapat berkumpul-kumpul dan bertukar cerita sehingga hal ini dapat memberikan kesan yang positif dan harmonis, selain ngayah fungsi harmoni sosial tradisi menek medesa sebagai salah satu ajang pertemuan yakni dilaksanakanya muduan yang dilaksanakan oleh desa adat yang mehadirkan semua masyarakat yang terdaftar secara adat, sehingga kegitan-kegiatan tersebut dapat meningkatkan sikap sosial antar individu. 4 Fungsi Penolak Bala Agama Hindu memiliki kekayaan akan upacara keagamaan yang berada dimasyarakat. Upacara keagamaan adalah rangkaian tindakan atau ritual yang dilakukan oleh umat beragama sebagai bentuk penghormatan kepada tuhan selain itu juga ritual yang dilakukan oleh umat beragama dengan tujuan memohon perlindungan dari segala macam bahaya atau Upacara ini biasanya melibatkan doa, mantra, persembahan, dan tindakan simbolis lainya yang dipercayai memiliki kekuatan spiritual untuk menangkal segala kejahatan atau musibah, seperti pelaksanaan tradisi menek medesa adalah sebuah ritual tahunan yang dilaksanakan pada tilem kapat. Tradisi ini telah diwariskan secara turuntemurun oleh masyarakat Desa Lemukih dan dipercaya sebagai upaya menolak musibah. ritual ini diselenggarakan bersamaan dengan upacara piodalan sabha dalem di Desa Lemukih. Tradisi menek medesa ini tidak hanya semata-mata dilakukan begitu saja, namun ada fungsi yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini mengandung fungsi penolak bala atau Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 9 penolak musibah agar masyarakat Desa Lemukih yang sudah melakukan pernikahan tidak mengalami musibah dan dipermudah mendapatkan keturunan (Kerti, wawancara14 Januari tradisi menek medesa telah lama dipercaya oleh masyarakat Desa Lemukih sebagai ritual tolak bala atau musibah. Tradisi ini diyakini dapat mencegah musibah terutama bagi pasangan yang telah menikah seperti kesulitan mendapatkan keturunan atau keguguran, yang pada akhirnya dapat berujung pada perceraian, sehingga masyarakat meyakini bahwa selain sebagai simbol pengesahan secara niskala, tradisi ini juga dipercaya dapat menjaga keharmonisan dalam hubungan rumah tangga bagi masyarakat yang telah menikah. 3 Makna Tradisi Menek Desa di Desa Lemukih. Kecamatan Sawan. Kabupaten Buleleng Tradisi menek medesa yang dilaksanakan bertepatan dengan piodalan di sabha dalem Desa Lemukih yang memiliki nilai filosofis yang terkandung didalamnya hingga sampai saat ini tradisi ini dilestarikan dan tetap dilaksanakan di Desa Lemukih. Adapun pembahasan yang lebih mendalam mengenai nilai filosofis dari tradisi menek medesa yang terkandung didalamnya sebagai berikut: 1 Makna Pelestarian Budasa Tradisi menek medesa ini memiliki makna mempertahankan budaya lokal, hingga identitas dan warisan leluhur tidak punah dilekang waktu. Hal ini dikarenakan tradisi menek medesa merupakan budaya keagamaan lokal Desa Lemukih yang sudah ada sejak dulu, oleh karena itu masyarakat tetap mempertahankan budaya lokal ini. Pembertahanan budaya lokal yang dimaksud adalah melestarikan kearifan lokal dalam proses pelaksanaan tradisi menek Secara historis Tradisi menek medesa memang diwariskan oleh leluhur Desa Lemukih yang dilaksanakan sampai berkelanjutan secara turun temurun hingga sampai sekarang. Hal ini menjadikan masyarakat tetap mempertahankan budaya lokal ini. Jadi budaya lokal yang dipertahankan yaitu nilai dari kearifan lokal dalam pelaksanaan tradisi menek medesa sesuai dengan pakem yang sudah diturunkan turun temurun oleh leluhur (Candi, wawancara 22 Desember 2. Masyarakat Desa Lemukih tetap mempertahankan dan melestarikan budaya lokal yang sudah diturunkan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Pelestarian ini dilakukan dengan tetap berpegang pada kearifan lokal, sesuai dengan pakem dan dresta yang ada. Segala konsep pelaksanaan agama Hindu di Bali selalu berkaitan dengan dresta, yang sepatutnya tetap dipertahankan demi menjaga nilai-nilai budaya yang ada selama dresta tersebut mengacu pada nilai esensial Veda, oleh karena itu, maka dapat dicermati bahwa keberadaan tradisi menek medesa merupakan suatu kearifan lokal yang harus dipertahankan (Subagiasta, 1997:. Berdasarkan data dilapangan disimpulkan bahwa tradisi menek medesa mengandung makna budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Para tokoh masyarakat berperan sebagai penggerak dalam mendorong masyarakat untuk terus melestarikan tradisi dan budaya warisan leluhur. Dengan demikian, budaya lokal yang telah diwariskan secara turuntemurun dapat tetap dipertahankan sesuai dengan kearifan lokal dan pakem yang ada, sehingga warisan budaya leluhur tetap lestari dan terus dilaksanakan hingga sekarang. 2 Makna Etika Etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yakni "ethos," yang dalam bentuk tunggal memiliki berbagai makna, seperti tempat tinggal, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, sikap, perasaan, dan cara berpikir, dalam bentuk jamak . a eth. istilah ini berarti adat kebiasaan dan arti terakhir ini menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah AuetikaAy yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles . -322 SM) sudah dipakai untuk menunjukkan filsafat moral dengan demikian, dalam pandangan filsafat Barat, etika adalah ilmu yang mempelajari kebiasaan yang umum dilakukan atau ilmu tentang adat istiadat (Bertens, 2013:. Etika ini diyakini bersumber dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik untuk mencapai kehidupan yang harmonis dan damai. Ketiga perbuatan tersebut dalam agama Hindu disebut dengan tri kaya parisudha. Konsep Tri Kaya Parisudha mengajarkan pentingnya manacika . erpikir yang bai. , wacika . erkata yang bai. , dan kayika . erbuat yang bai. 10 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Konsep ini juga tercermin dalam pelaksanaan tradisi menek medesa, di mana masyarakat menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan selama prosesi berlangsung. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk menerapkan nilai-nilai kesucian dan keharmonisan dalam kehidupan Antusias masyarakat yang tinggi terhadap pelaksanaan tradisi menek medesa sehingga masyarakat juga sangat menjaga ketaatan dan kebersamaan dalam proses pelaksanaan tradisi menek medesa ini. Kesopanan dalam berbicara dan berprilaku tidak arogan sangat di amalkan oleh masyarakat Desa Lemukih, karena dengan didasari hal ini akan membuat kesucian dan pelaksanaan tradisi semakin sakral dan juga akan membuat pelaksanaan tradisi menek medesa ini berjalan dengan lancar. Ketaatan dan etika sangat dijaga oleh masyarakat Desa Lemukih karena masyarakat sangat menghormati dan menjaga kelestarian dari tradisi menek medesa ini. Dimana dalam bertindak didasari kebersamaan dan dalam berucap juga menjaga tutur kata, oleh karena itu kesopanan dan ketaatan masyarakat ini masih dipegang teguh sampai sekarang (Widiarta, wawancara 22 Desember 2. Makna etika dalam pelaksanaan tradisi menek medesa tercermin dari ketaatan dan kebersamaan masyarakat Desa Lemukih. Sikap sopan santun dalam berbicara, berpikir, dan bertindak sangat dijunjung tinggi serta diamalkan dengan baik. Masyarakat menghormati dan menganggap sakral pelaksanaan tradisi menek medesa, sehingga nilai-nilai etika tetap terjaga dalam setiap prosesi ritualnya. 3 Makna Keharmonisan Pada umumnya manusia selalu menginginkan kebahagiaan hidup lahir dan batin, keseimbangan material dan spiritual serta keharmonisan dengan sesama makhluk hidup. Jaman . 7:18-. menyatakan bahwa istilah tri hita karana berasal dari bahasa sanskerta yaitu dari kata tri, hita dan karana yang artinya tiga sumber keharmonisan dan kesejahteraan. Ketiga unsur dalam tri hita karana adalah unsur jiwa . , unsur tenaga . dan unsur badan . Konsep tri hita karana, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan . , sesama manusia . , dan lingkungan . Pelaksanaan tradisi Menek Medesa mengandung makna keharmonisan, yang mencerminkan keindahan dalam hubungan antar manusia. Keharmonisan ini terwujud dalam kebersamaan, saling menghormati, serta keterikatan sosial yang kuat di antara anggota masyarakat dalam menjalankan tradisi tersebut. Keharmonisan dapat mewujudkan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Hal ini sesuai sejalan dengan ajaran tri hita karana dalam agama Hindu, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyanga. , manusia dengan sesama manusia (Pawonga. , serta manusia dengan lingkungan sekitarnya (Palemaha. Ketiga hubungan ini menjadi dasar dalam mencapai tujuan hidup yang sejati, yaitu Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin. Tradisi menek medesa mengandung makna keharmonisan. Keharmonisan dalam ajaran Hindu merupakan bagian dari ajaran tri hita karana, ajaran yang terkandung yaitu: Aspek parahyangan dapat dilihat dari persembahyangan yang dilakukan saat tradisi menek medesa berlangsung. Aspek pawongan dapat dilihat dari antusias masyarakat pada saat ngayah dan pelaksanakan tradisi menek medesa, sehingga terjalin keharmonisan dan kebersamaan dari masyarakat sudah medesa maupun yang baru akan medesa dalam melaksanakan tradisi menek medesa ini. Aspek palemahan dapat dilihat dari adanya sarana dan prasarana dari pelaksanaan tradisi menek medesa dimana masyarakat juga menjaga kebersihan areal pura dan juga areal tempat berlangsungnya tradisi menek medesa. Hal tersebut Membuktikan bahwa dengan adanya tradisi menek medesa tersebut dapat menunjang nilai keharmonisan masyarakat Desa Lemukih baik dengan Tuhan dari segi prosesi ritualnya, kebersamaan antara sesama dari segi toleransi antara sesama dan terakhir Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 11 dengan lingkungan itu terlihat masyarakat setempat dan truna-truni bersama-sama melakdanakan pembersian diare tempat pelaksanaan tradisi menek medesa karena itu masyarakat Desa Lemukih sangat antusias memelihara area Pura agar tetep kebersihan sebagai tempat untuk upacara keagamaan. 4 Makna Simbolik Simbol dapat diartikan sebagai suatu bentuk atau kondisi yang merepresentasikan pemahaman terhadap suatu objek. Kata "simbol" berasal dari bahasa Yunani symbollein, yang bermakna "cocok" atau "dua bagian yang sesuaiAy. Awalnya, simbol digunakan sebagai benda, tanda, atau kata yang berfungsi sebagai alat pengenal dan memiliki makna yang dapat dimengerti secara langsung (Wardani, 2010: . Simbol dapat diartikan sebagai suatu bentuk atau kondisi yang merepresentasikan pemahaman terhadap suatu objek. Terkait dengan pelaksanaan tradisi menek medesa di Desa Lemukih, makna simbolik terlihat dari beberapa sarana yang digunakan yakni sebagai Pungkusan . ama ada. Pungkusan adalah nama yang digunakan di desa adat yang diberikan awalan pan untuk laki-laki melambangkan purusha dan men untuk perempuan melambangkan pradhana. Pungusan ini digunakan untuk menyatukan nama suami-istri dalam sistem adat. Sarana canang kojong Sarana canang kojong melambangkan sat maka jiwa permana dari sang metata krama atau orang yang sedang mengikuti proses menek medesa. Adapun sarana yang terdapat didalamnya berisi nasi kepel Melambangkan kesatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam menjalani kehidupan. Pis bolong purna asli solas . keping uan. mengandung unsur-unsur Panca Dhatu . esi, perak, tembaga, emas, dan perungg. yang masingmasing melambangkan dewa-dewa dalam kosmologi Hindu. Berdasarkan hal tersebut pelaksanaan tradisi menek medesa memiliki makna simbolik tertentu yang mendalam dapat dilihat seperti pengunaan pungkusan bertujuan untuk menyamakan nama dari suami istri yang bersangkutan dan penggunaan sarana canang kojong yang menyimbol sat maka jiwa permana dari orang yang sedang mengikuti menek medesa. SIMPULAN Bentuk tradisi menek medesa di Desa Lemukih Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng, terkait hal ini membahas beberapa bentuk yaitu: . Tempat Pelaksanaan Tradisi Menek Medesa, tempat pelaksanaan tradisi menek medesa terlebih dahulu dilaksanakan di Pura Dalem sebagai Pura dasar untuk melaksanakan persembahyangan dilanjutkan Pura Desa untuk melaksanakan nulud dapuh. Pelaksanaan tradisi menek medesa yang terdapat berapa tahapan diantaranya: . Tahap awal, ditahap ini krama . yang akan menek medesa terlebih dahulu melakukan pendaftaran yang disebut nguningan, kemudian akan mendapatkan ajang . yang wajib dikomsumsi. Setelah mengikuti kurungan desa. Pada saat purnama kapat dilaksanakan upacara metatah, kemudia enam hari mejelang pelaksanaan tradisi menek medesa masyarakat Desa Lemukih melaksanakan muduan. Tahap inti atau puncak acara, tradisi menek medesa dimulai dari pukul 07:00 wita yang diawali dengan penataan banten pecingkem di utama mandala Pura Dalem. kemudian dilanjutkan dengan krama . yang menek medesa memasuki utama mandala Pura Dale. , dilanjutkan dengan persembahyangan bersama setelah itu pemberian sesimpedan yang diberikan oleh jro mangku dalem, setelah itu baru krama . menuju Pura Desa dengan berjalan kaki, sesampai di Pura Desa dilanjutkan dengan nulud dapuh di bale dawa bedangin guna mencari linggih sesuai dengan linggi dari orang tuanya, dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Desa dan sesimpedan yang diberikan oleh jro mangku gede. Tahap akhir, pada tahap ini krama . sudah diperboleh kan meninggalkan Pura Desa untuk menganti pakaian dan akan dilanjutkan dengan ngayah. Sarana dan Prasarana dalam pelaksananaan tradisi menek medesa ini mengunakan beberapa sarana seperti. canang kojong, canang sari, banten pecingkrem, banten dan banten pajegan. 12 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Fungsi yang terkandung dalam tradisi menek medesa yakni: . fungsi penguatan sradha dan bhakti masyarakat, . fungsi penyucian, . fungsi harmoni sosial, . fungsi penolak Makna yang terkadung dalam tradisi menek medesa yakni: . Makna pelestarian budaya, . Makna etika, . Makna keharmonisan, . Makna Simbolik. DAFTAR PUSTAKA