Jurnal Keislaman p-ISSN : 2089-7413 and e-ISSN : 2722-7804 Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293 Email: jurnalkeislaman@staitaruna. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Munawir1 UIN Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia1 munawir@uinsby. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah2 UIN Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia2 ririskarina5@gmail. Mega Adhelia Hapsari3 UIN Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia3 adheliahapsari9@gmail. https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract This study aims to identify strategies, challenges, and solutions carried out by Islamic Religious Education teachers in implementing differentiated learning in Islamic Religious Education subjects, as well as to analyze the role of teacher professionalism in aspects of pedagogical, social, personality, and professional competence, playing a role in supporting the successful implementation of differentiated learning in Islamic Religious Education subjects. This study uses a qualitative approach with a library research method. Data collection techniques in this study were obtained from various sources which were categorized into primary sources . ata obtained directly from original reference. and secondary . ata obtained from indirect source. and using descriptive qualitative methods in analyzing the data. Based on the results and discussions that have been described, the professionalism of Islamic Religious Education teachers greatly influences the successful implementation of differentiated learning in Islamic Religious Education subjects in Madrasah Ibtidaiyah. Teachers who have high pedagogical, personality, social, and professional competence are able to understand the characteristics and learning needs of students individually, and are able to design appropriate learning strategies through differentiation of content, process, and product. Differentiated learning in Islamic Religious Education is important because its value and historical content demands a flexible, contextual, and enjoyable Professional Islamic Religious Education teachers are not only able to manage heterogeneous classes effectively, but are also able to instill Islamic values with a humanistic and adaptive approach, so that Islamic Religious Education learning can achieve its goals optimally. Keywords: SKI subjects. Differentiated learning. Teacher professionalism. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi, tantangan, dan solusi yang dilakukan oleh guru PAI dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran SKI, serta menganalisis peran profesionalisme guru dalam aspek kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional, berperan dalam mendukung keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran SKI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber yang dikategorikan menjadi Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari sumber primer . ata yang diperoleh langsung dari referensi asl. dan sekunder . ata yang diperoleh dari sumber tidak langsun. serta menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam menganalisis data. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, bahwa profesionalisme guru PAI sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah. Guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang tinggi mampu memahami karakteristik dan kebutuhan belajar siswa secara individu, serta mampu merancang strategi pembelajaran yang sesuai melalui diferensiasi konten, proses, dan produk. Pembelajaran berdiferensiasi dalam SKI menjadi penting karena muatan nilai dan sejarahnya menuntut pendekatan yang fleksibel, kontekstual, dan menyenangkan. Guru PAI yang profesional tidak hanya mampu mengelola kelas yang heterogen secara efektif, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan yang humanis dan adaptif, sehingga pembelajaran SKI dapat mencapai tujuan secara Kata Kunci: Mata pelajaran SKI. Pembelajaran berdiferensiasi. Profesionalisme guru. Pendahuluan Tugas seorang guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting, karena mereka tidak hanya bertanggung jawab atas perkembangan akademik siswa, tetapi juga membentuk kepribadian dan moral mereka. Kualitas guru menjadi faktor utama dalam keberhasilan pembelajaran, sehingga perhatian lembaga pendidikan dan pemerintah terhadap profesionalisme guru sangat diperlukan. Seorang guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai pembimbing yang menanamkan nilai-nilai kehidupan serta membantu siswa mencapai kedewasaan dan kematangan tertentu. Oleh karena itu, profesionalisme guru menjadi isu yang terus diperjuangkan dalam dunia pendidikan, karena ketidaksiapan atau kurangnya kompetensi guru dapat berdampak pada rendahnya kualitas Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru, seperti sertifikasi, program pusat kegiatan guru (PKG), dan kelompok kerja guru (KKG). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 39, menyatakan tugas pendidik . adalah pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (UU Nomor 20 Tahun 2003, hl . Pada Bab l Pasal 1 ayat 4, menegaskan bahwa profesional yang dimaksud adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditegaskan bahwa guru profesional adalah adalah individu yang memiliki keahlian dalam membimbing serta membina peserta didik, baik dari aspek intelektual, spiritual, maupun emosional. Sesuai dengan Standar Pendidik dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pendidik harus memenuhi kualifikasi Irma Sulistiani and Nursiwi Nugraheni. AuMAKNA GURU SEBAGAI PERANAN PENTING DALAM DUNIA PENDIDIKAN,Ay Jurnal Citra Pendidikan (October 1261Ae68, https://doi. org/10. 38048/jcp. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 akademik dan memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran, dengan kondisi jasmani dan rohani yang sehat serta kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Persyaratan tersebut meliputi minimal pendidikan diploma empat (D-IV) atau sarjana (S. , latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang yang diajarkan, serta kepemilikan sertifikat profesi guru. Sejak tahun 2005. Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang Guru dan Dosen sebagai upaya meningkatkan kompetensi pendidik melalui kebijakan wajib memiliki kualifikasi S1 atau D4 serta sertifikasi profesi. Dengan adanya sertifikat profesi, guru berhak memperoleh tunjangan sebesar satu bulan gaji pokok, serta berbagai tunjangan lain yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan mereka. Kebijakan ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru sejalan dengan peningkatan kesejahteraan mereka, sehingga dapat menciptakan pendidikan yang lebih baik. Guru PAI memegang peranan penting dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada peserta didik, khususnya melalui mata pelajaran SKI. Dalam penerapannya, guru PAI dituntut mampu mengelola kelas secara berdiferensiasi, menyesuaikan strategi mengajar dengan perbedaan gaya belajar, minat, dan kemampuan siswa. 3 Dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), guru PAI dituntut untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guna menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan siswa. Strategi ini mencakup diferensiasi konten, proses, dan produk agar semua siswa dapat belajar secara efektif dan menyenangkan. Kurikulum Merdeka mendukung pendekatan ini dengan memberikan kebebasan kepada guru dalam memilih metode dan model pembelajaran, seperti PBL dan PjBL, serta melakukan evaluasi secara holistik. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman siswa, tetapi juga membentuk profil pelajar Pancasila. Profesionalisme guru menjadi kunci, dengan kompetensi yang terus ditingkatkan melalui pelatihan demi mewujudkan prinsip merdeka belajar. Guru PAI wajib memiliki empat kompetensi utama sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan Kompetensi pedagogik mencakup pemahaman terhadap karakteristik siswa, penguasaan teori pembelajaran, pemanfaatan TIK, dan evaluasi pembelajaran yang Kompetensi kepribadian mencerminkan integritas pribadi guru yang menjadi teladan, baik dalam sikap, moral, maupun spiritual. Kompetensi sosial menekankan kemampuan membangun komunikasi yang positif dan empatik dengan siswa, kolega, orang tua, dan masyarakat. Kompetensi profesional menuntut penguasaan substansi materi ajar, struktur ilmu, serta keterampilan mengembangkan materi secara kreatif dan berkelanjutan. Guru PAI profesional tidak hanya menguasai isi pelajaran, tetapi juga mampu Anggun Gunawan and Irsyad Khoerul Imam. AuGuru Profesional: Makna dan Karakteristik,Ay Cendekia Inovatif Dan Berbudaya 1, no. 2 (October 18, 2. : 181Ae85, https://doi. org/10. 59996/cendib. Siti Murtosiah and Lesti Edilia. AuUpaya Guru SKI Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Islam,Ay TAUJIH: Jurnal Pendidikan Islam 3, no. : 31Ae52. Abd Azis. AuPembelajaran Berdiferensiasi pada PembelajaranPAI di Kurikulum Merdeka,Ay n. Nur Amirul MuAominin. Azizil Muchtar, and Lailah ZakiyaturrobiAoah. AuKOMPETENSI PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLSAM,Ay n. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari mengaitkannya dengan konteks pembelajaran yang bermakna. Pemahaman terhadap kekuatan dan kelemahan diri sebagai pendidik, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri, menjadi ciri khas guru yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Pendekatan dan strategi yang digunakan pun harus relevan dan mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa. Guru profesional, menurut Sardiman yang dikutip dalam Roskina Mas . , memiliki tiga karakteristik utama, yaitu mampu . , inovatif . , dan pengembang . Guru yang mampu memiliki penguasaan materi dan mampu mengubah tantangan menjadi Guru inovatif selalu mencari pendekatan baru dalam mengatasi kesulitan belajar Guru pengembang senantiasa memperbarui diri dan menciptakan model pembelajaran yang mendorong motivasi serta keterlibatan siswa. Materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) mencakup berbagai aspek penting yang bertujuan untuk mengenalkan sejarah, tokoh, dan nilai-nilai Islam kepada peserta didik sejak dini. Sebagai bagian dari kurikulum Pendidikan Agama Islam. SKI berperan strategis dalam menanamkan kesadaran keislaman dan moralitas melalui kajian sejarah. Materi yang diajarkan meliputi sejarah bangsa Arab sebelum Islam, kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga wafat, peristiwa penting dalam sejarah Islam seperti hijrah dan fathu Makkah, kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, serta perkembangan peradaban Islam dan kontribusi tokoh-tokohnya dalam ilmu pengetahuan, budaya, dan agama. Selain itu, nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam peristiwa sejarah tersebut diharapkan dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan yang menyesuaikan proses belajar di kelas agar dapat memenuhi kebutuhan individu setiap peserta didik. Pendekatan ini bersifat fleksibel, memungkinkan siswa belajar dengan teman sebaya yang memiliki kemampuan serupa maupun berbeda, sesuai dengan kekuatan dan minat mereka. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi didasarkan pada tiga aspek utama, yaitu kesiapan belajar, minat, serta gaya belajar peserta didik, yang mencakup gaya visual, auditori, dan kinestetik Lestari et al. , . Namun, banyak guru yang masih kesulitan membayangkan penerapan metode ini karena telah terbiasa dengan pembelajaran satu arah yang berpusat pada guru. Marlina . menyatakan bahwa dalam kelas tradisional, perbedaan individu siswa sering kali dianggap sebagai tantangan, dengan fokus utama pada kecerdasan intelektual dan kurang memperhatikan minat serta profil belajar siswa. Selain itu, evaluasi biasanya dilakukan di akhir pembelajaran hanya untuk menentukan siapa yang menguasai materi, sementara guru berperan sebagai pemecah masalah utama dan menetapkan standar penilaian yang berlaku. Husnul Amin. AuPROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAHAy 4 . Fitriyah Fitriyah and Moh Bisri. AuPEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERDASARKAN KERAGAMAN DAN KEUNIKAN SISWA SEKOLAH DASAR,Ay Jurnal Review Pendidikan Dasar : Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian 9, no. 2 (July 11, 2. : 67Ae73, https://doi. org/10. 26740/jrpd. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Mengelola pembelajaran berdiferensiasi memang penuh tantangan, terutama bagi guru yang berkomitmen untuk meningkatkan profesionalismenya. Setiap siswa memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, mulai dari gaya belajar, tingkat pemahaman, hingga minat, yang mengharuskan guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan masingmasing individu. Tentu saja, ini memerlukan banyak waktu dan usaha. Selain itu, keterbatasan sumber daya seperti waktu, ruang, dan materi ajar seringkali menghambat pelaksanaan pembelajaran yang beragam. Guru yang profesional harus mampu mengelola kelas dengan berbagai tingkat kemampuan, memberikan perhatian individual tanpa mengabaikan keterlibatan seluruh siswa. Evaluasi yang adil dan akurat menjadi semakin rumit karena perbedaan gaya belajar dan kemampuan siswa, yang menuntut guru untuk mengembangkan metode penilaian yang lebih sesuai dengan perkembangan individu mereka, meskipun hal ini tidak mudah dilakukan. Tak jarang, beberapa guru merasa kurang nyaman atau kurang percaya diri saat mencoba pendekatan baru ini, terutama jika mereka terbiasa dengan metode pengajaran tradisional. Inilah mengapa dukungan tambahan dan pelatihan profesional sangat penting untuk mendukung guru dalam beradaptasi, sehingga mereka dapat terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi siswa mereka. Profesionalisme guru tercermin dari kemampuan mereka untuk terus belajar dan berinovasi dalam menghadapi tantangan ini. Meskipun profesionalisme guru PAI di Madrasah Ibtidaiyah terus ditingkatkan melalui kebijakan dan pelatihan, penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa penelitian sebelumnya belum mengkaji secara mendalam profesionalisme guru PAI, khususnya dalam konteks penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran SKI. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi yang digunakan oleh guru PAI dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, tantangan yang mereka hadapi, dan solusi yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Penelitian ini akan mengkaji sejauh mana profesionalisme guru PAI, dalam aspek kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional, berperan dalam mendukung keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran SKI. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Menurut Khatibah . , studi kepustakaan dilakukan secara sistematis dengan mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan data menggunakan metode tertentu untuk menemukan jawaban atas permasalahan penelitian. Studi kepustakaan merupakan metode penelitian yang mengandalkan sumber-sumber tertulis, seperti buku dan jurnal Anggi Umayrah and Dinn Wahyudin. AuAnalisis Kesulitan Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Berdasarkan Gaya Belajar Siswa pada Kurikulum Merdeka,Ay EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN 6, no. 3 (May 22, 2. : 1956Ae67, https://doi. org/10. 31004/edukatif. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari ilmiah, untuk memahami dan menganalisis suatu permasalahan secara mendalam. 9 Dalam penelitian ini, pendekatan tersebut dipilih karena peneliti membutuhkan referensi dari berbagai literatur, termasuk buku dan jurnal penelitian terdahulu, sebagai dasar teori dalam mengkaji bagaimana proses pemilihan merek sesuai dengan syariat Islam serta strategi branding yang tepat dalam perspektif Islam. Metode ini telah digunakan dalam penelitian sebelumnya, sebagaimana disebutkan oleh Yousda . dan Zed . 8:1-. Sebelum melakukan kajian pustaka, penting bagi peneliti untuk mengetahui sumber-sumber yang akan digunakan. Beberapa referensi yang menjadi acuan dalam penelitian ini mencakup buku teks, jurnal ilmiah, data statistik, serta hasil penelitian seperti skripsi, tesis, disertasi, dan sumber daring yang relevan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber yang dikategorikan menjadi sumber primer dan sekunder. Sumber primer mencakup data yang diperoleh langsung dari referensi asli, seperti buku, artikel, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Sumber sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber tidak langsung, seperti penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Penelitian terdahulu berperan penting dalam memberikan landasan teoritis serta panduan dalam memahami metode penelitian, teknik analisis data, dan hasil-hasil yang telah dicapai Dengan memanfaatkan sumber primer dan sekunder secara komprehensif, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan analisis yang lebih mendalam dan sistematis sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam menganalisis data. Data yang diperoleh dari buku dan jurnal dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan mendeskripsikan informasi secara menyeluruh. Buku, artikel, dan jurnal menjadi sumber utama dalam analisis data untuk menemukan serta menjawab permasalahan penelitian. Proses analisis dimulai dengan mencari dan memahami berbagai referensi melalui membaca buku dan jurnal yang memiliki tema serupa. Setelah itu, informasi yang diperoleh dideskripsikan secara sistematis melalui studi literatur, kemudian disusun Selanjutnya, dilakukan reduksi data dengan teknik abstraksi, yakni menyeleksi informasi yang relevan dengan penelitian dan mengabaikan data yang tidak diperlukan. Milya Sari and Asmendri Asmendri. AuPenelitian Kepustakaan (Library Researc. dalam Penelitian Pendidikan IPA,Ay Natural Science 6, no. 1 (June 10, 2. : 41Ae53, https://doi. org/10. 15548/nsc. Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. Matthew B. Miles. Michael Huberman, and Johnny Saldaya. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Edition 3 (Los Angeles London New Delhi Singapore Washington DC: Sage, 2. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Hasil dan Pembahasan Strategi Profesionalisme Guru PAI dan Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Profesionalisme guru PAI dan pembelajaran berdiferensiasi merupakan dua pilar utama dalam pelaksanaan pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berpusat pada peserta Dalam konteks mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah, kedua hal ini menjadi sangat relevan mengingat karakteristik siswa MI yang beragam dari segi kemampuan, minat, dan cara belajar. Oleh karena itu, strategi yang diterapkan guru PAI dalam proses pembelajaran SKI tidak dapat dilepaskan dari tingkat profesionalismenya serta kemampuannya dalam merancang dan melaksanakan diferensiasi Profesionalisme Guru PAI dalam Merancang dan Melaksanakan Pembelajaran SKI Profesionalisme guru PAI secara substansial mencakup empat kompetensi inti, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempatnya tidak hanya bersifat administratif, tetapi menjadi dasar sikap, cara berpikir, dan tindakan guru dalam mengelola kelas, menyusun strategi pembelajaran, dan memberikan layanan yang setara kepada semua siswa. Guru yang profesional dalam konteks pembelajaran SKI di MI menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: Kompetensi Pedagogik Guru menunjukkan kompetensi pedagogiknya melalui kemampuannya dalam mengenali kebutuhan belajar siswa, merancang tujuan pembelajaran yang realistis, serta memilih metode dan media yang selaras dengan materi ajar dan kondisi Ketika mengajarkan topik AuPenyebaran Islam di NusantaraAy, misalnya, guru tidak sekedar menyampaikan data dan fakta sejarah. Ia terlebih dahulu memetakan sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi, lalu menyusun pertanyaan pemandu yang berbeda yang lebih menantang bagi siswa yang cepat memahami, dan yang lebih mendasar bagi siswa yang masih memerlukan penguatan. Untuk membantu siswa lebih mudah memahami dan membayangkan isi materi, guru juga memanfaatkan berbagai media yang relevan dan menarik. Penggunaan gambar peta wilayah dakwah, cerita pendek, hingga kisah para wali songo menjadi sarana yang efektif dalam membangun visualisasi dan daya imajinasi siswa terhadap proses penyebaran Islam di Nusantara. Pendekatan ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih kontekstual, tetapi juga lebih dekat dengan pengalaman belajar siswa sehari-hari. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari Berbagai indikator yang menunjukkan kompetensi pedagogik guru dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang bermakna dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Seorang guru yang kompeten mampu menyusun rencana pembelajaran dengan menelaah dan menguraikan materi ajar secara sistematis berdasarkan kurikulum yang berlaku. Tidak hanya itu, guru juga harus cermat dalam memilih bahan ajar yang tepat serta mampu memanfaatkan berbagai sumber belajar yang relevan agar pembelajaran menjadi lebih hidup dan mudah dipahami. Dalam pembelajaran yang ingin dicapai. Mereka harus memilih strategi atau metode yang sesuai dengan karakteristik materi dan kondisi siswa. Hal ini mencakup penyusunan langkah-langkah pembelajaran secara terstruktur, serta upaya untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya melalui pendekatan yang menyenangkan, interaktif, atau kontekstual. Kemampuan lain yang penting adalah perencanaan penggunaan media dan sarana pembelajaran. Guru yang inovatif dapat memanfaatkan berbagai alat bantu visual dan cerita kontekstual, seperti gambar peta wilayah dakwah, kisah para wali songo, atau cerita pendek inspiratif, untuk membantu siswa memahami dan membayangkan materi secara lebih konkret. Ini sangat penting terutama dalam pembelajaran sejarah kebudayaan Islam yang sering kali dianggap abstrak oleh Selain itu, guru yang profesional juga menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan tingkat pemahaman siswa. Mereka dapat menyusun pertanyaan pemandu atau tugas yang berbeda untuk siswa yang sudah menguasai materi dan bagi yang masih membutuhkan penguatan. Pendekatan diferensiasi seperti ini membantu memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya. Evaluasi pembelajaran juga menjadi bagian penting dari kompetensi pedagogik. Guru perlu mengevaluasi pembelajaran tidak hanya dari hasil akhir, tetapi juga melalui proses pembelajaran, seperti menilai partisipasi aktif siswa dalam diskusi, tanya jawab, serta memberikan penilaian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan 13 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Gani Jamora Nasution dkk, dengan judul penelitian AuKompetensi Guru SKI di SDIT Hidayatul Jannah Kabupaten Deli SerdangAy yang menekankan pentingnya kompetensi pedagogik guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan Lisa Anggraini. AuKOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA ISLAM AL-FALAH KOTA JAMBI,Ay Istoria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah Universitas Batanghari 4, no. 1 (April 30, 2. : 18Ae25, https://doi. org/10. 33087/istoria. Siti Rosidatul Nur Afni. AuPeran Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas XII Di MAN 2 Magetan,Ay 2023. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Berdasarkan hasil penelitian dan olah data dalam studi ini, dapat disimpulkan bahwa guru telah menunjukkan kompetensi pedagogik yang baik, ditandai dengan kemampuan memberikan pembelajaran yang mendidik dan relevan, menjalin komunikasi serta interaksi yang aktif dengan siswa, serta melakukan penilaian dan evaluasi pembelajaran secara terstruktur dan sesuai dengan tujuan Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu mengarahkan proses belajar dengan pendekatan yang adaptif terhadap kebutuhan siswa. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk dapat menjalankan perannya secara profesional. Kompetensi ini mencerminkan kemampuan pribadi yang kuat, berakhlak mulia, bijaksana, serta memiliki wibawa sehingga mampu menjadi panutan bagi peserta didik. Menurut Muhammad Surya . , kepribadian yang mantap dan luhur sangat dibutuhkan agar seorang guru dapat berperan sebagai pendidik yang baik. Sementara itu. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, kompetensi kepribadian merupakan kemampuan individu yang mencerminkan kualitas pribadi seorang guru dalam berbagai aspek. Pertama, guru harus memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, ditunjukkan melalui konsistensinya dalam bertindak sesuai dengan norma hukum, sosial, dan etika yang berlaku, serta rasa bangga terhadap profesinya. Kedua, guru harus menunjukkan kedewasaan, yaitu kemampuan untuk bersikap mandiri dalam mengambil keputusan serta memiliki semangat kerja yang tinggi. Ketiga, guru dituntut untuk bersikap arif dan bijaksana, yang tercermin dari keterbukaan dalam berpikir dan bertindak, serta berorientasi pada tindakan yang membawa manfaat bagi siswa, sekolah, dan masyarakat secara luas. Keempat, guru juga perlu memiliki wibawa, yakni perilaku yang dihormati dan memberikan pengaruh positif terhadap peserta didik. Kelima, guru harus memiliki akhlak yang terpuji, yang tampak dalam perilaku jujur, tulus, suka membantu, serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Terakhir, guru diharapkan memiliki kepribadian yang layak dijadikan teladan oleh siswa maupun lingkungan sekitar. Lebih lanjut, berdasarkan Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, dijelaskan bahwa penilaian kinerja guru mencakup empat kompetensi utama, salah Abdul Gani Jamora Nasution et al. AuKOMPETENSI GURU SKI DI SD IT HIDAYATUL JANNAH KABUPATEN DELI SERDANG,Ay Inspirasi Dunia: Jurnal Riset Pendidikan Dan Bahasa 1, no. 4 (December 30, 2. : 193Ae205, https://doi. org/10. 58192/insdun. Najamuddin Petta Solong and Luki Husin. AuPENERAPAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAI,Ay TAAoDIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 2 (December 6, 2. : 57, https://doi. org/10. 30659/jpai. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari satunya adalah kompetensi kepribadian. Dalam domain ini, guru diharapkan mampu bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, serta budaya nasional. Selain itu, guru juga dituntut untuk menunjukkan kedewasaan, menjadi teladan yang baik, memiliki etos kerja yang tinggi, rasa tanggung jawab yang kuat, serta kebanggaan dalam menjalani profesinya sebagai seorang pendidik. 16 Hal ini sejalan dengan hasil penelitian milik Nurul Indana dan Rani Roifah. dalam penelitiannya yang berjudul "Kompetensi Kepribadian Guru dalam Pembinaan Akhlak Siswa (Studi Kasus di MTs Al-MaAoarif Brudu Sumobito Jomban. ", yang menegaskan bahwa peran guru dalam membentuk akhlak siswa sangat ditentukan oleh kompetensi kepribadiannya. Guru yang menunjukkan keteladanan, mampu membiasakan perilaku positif, serta konsisten dalam komunikasi dan tindakan, memiliki pengaruh besar dalam pembinaan karakter siswa. Hal ini tampak pula pada guru Aqidah Akhlak, yang dalam membina akhlak siswa menunjukkan yang mencakup kedisiplinan, tanggung jawab, sikap adil, ketegasan, kesabaran, dan komitmen terhadap norma. Pembinaan dilakukan melalui beberapa metode, seperti keteladanan dalam sikap dan tanggung jawab, pembiasaan untuk beribadah, mengucapkan salam, serta bersikap sopan dan tolong-menolong, juga pemberian nasihat agar siswa menjauhi perilaku buruk dan lebih memilih tindakan yang terpuji. Di samping itu, metode pemberian sanksi edukatif juga diterapkan untuk membentuk kedisiplinan dan kesadaran siswa. Dampak dari upaya ini tercermin dalam perilaku siswa yang disiplin, berpakaian rapi, taat aturan, mengerjakan tugas dengan baik, serta membiasakan diri untuk beribadah dan bersikap santun di lingkungan madrasah. Seluruh perkembangan tersebut turut diperkuat melalui laporan berkala dari guru kepada kepala madrasah sebagai bentuk evaluasi dan tindak lanjut pembinaan. Kompetensi menunjukkan sikap yang mantap, stabil, sabar, bijak, dan konsisten dalam menjalankan tugasnya. Guru yang profesional tidak memperlihatkan sikap pilih kasih terhadap siswa, termasuk antara siswa dengan kemampuan tinggi dan siswa yang mengalami hambatan belajar. Sebaliknya, guru tetap memotivasi semua siswa agar percaya diri dan aktif dalam kegiatan pembelajaran, seperti diskusi kelompok. Dalam praktiknya, guru tidak mudah menyalahkan siswa yang mengalami kesulitan, melainkan lebih memilih membimbing dan memberi ruang bagi siswa untuk tumbuh dan berkembang. Sikap seperti ini menjadi teladan bagi siswa dan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan motivasi belajar mereka. Penelitian pada guru AuPermendikbud No. Tahun 2010,Ay May https://peraturan. id/Details/163916/permendikbud-no-35-tahun-2010. Nurul Indana and Rani Roifah. AuKOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA: (Studi Kasus di MTs Al-MaAoarif Brudu Sumobito Jomban. ,Ay Ilmuna: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam 3, no. (March 31, 2. : 46Ae65, https://doi. org/10. 54437/ilmuna. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Pendidikan Agama Islam (PAI) termasuk guru SKI menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru sangat penting dalam membina akhlak dan karakter peserta didik. Guru yang menjadi teladan dalam disiplin, komunikasi, dan sikap sosial mampu Guru yang sabar dan bijak mampu mengelola perbedaan kemampuan siswa tanpa diskriminasi, sehingga semua siswa merasa dihargai dan termotivasi. Kompetensi Sosial Dalam Standar Nasional Pendidikan. Pasal 28 ayat 3 butir d, dijelaskan bahwa kompetensi sosial merupakan salah satu aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai bagian dari masyarakat. Kompetensi ini mencakup kemampuan guru untuk menjalin komunikasi dan membangun hubungan sosial yang baik dengan berbagai pihak yang terlibat dalam lingkungan pendidikan. Guru tidak hanya dituntut mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan dengan jelas dan efektif, tetapi juga diharapkan dapat menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional dalam mendukung tugas dan interaksi sosialnya. Selain itu, guru perlu memiliki kemampuan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama rekan pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, serta masyarakat Kemampuan ini bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga mencerminkan sikap santun, empati, dan keterbukaan dalam menjalin hubungan sosial yang harmonis. Dengan kompetensi sosial yang baik, guru dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, kondusif, dan penuh dengan nilai-nilai kebersamaan serta saling menghargai. Penelitian yang dilakukan oleh Winda Restalia dengan judul skripsi AuStrategi Komunikasi Guru dalam Proses Pembelajaran untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas V di MI Islamiyah Petarukan. Kabupaten PemalangAy menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan guru memiliki peran penting dalam membangun motivasi belajar siswa. Komunikasi yang bersifat dua arah serta pendekatan yang persuasif terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa. Dalam hal ini, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjalankan fungsi sebagai konselor dan moderator yang membantu mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran. Untuk mendukung kelancaran komunikasi, guru juga memanfaatkan berbagai teknik seperti kegiatan ice breaking untuk mencairkan suasana dan pemberian penghargaan . sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi dan pencapaian siswa. Pendekatan ini secara efektif mampu mengatasi hambatan komunikasi yang muncul di kelas, sekaligus Zaharuddin M and Minnah Elwiddah. AuKompetensi Profesional Guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam Pengembangan Kreativitas Belajar Siswa MTsN Tebo Ilir,Ay INNOVATIO: Journal for Religious Innovation Studies 17, no. 2 (December 31, 2. : 75Ae108, https://doi. org/10. 30631/innovatio. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari meningkatkan keterlibatan aktif siswa selama proses belajar berlangsung. Hasilnya, siswa menjadi lebih antusias, berani mengemukakan pendapat, dan secara umum menunjukkan peningkatan dalam hasil belajar. 19 Temuan serupa juga didapatkan dalam penelitian milik Muhammad Maulana, dkk dengan judul artikel jurnal AuKomunikasi Interpersonal Guru Pendidikan Agama Islam Proses Pembelajaran Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Assalam MartapuraAy yang mengungkap bahwa komunikasi interpersonal guru Pendidikan Agama Islam . ermasuk dalam materi Sejarah Kebudayaan Isla. berjalan cukup baik. Guru memperlihatkan sikap empatik, hangat, dan penuh perhatian kepada siswa, sehingga tercipta hubungan yang akrab dan mendukung terciptanya ruang belajar yang nyaman. Sikap komunikatif guru ini mendorong siswa untuk lebih terbuka, aktif bertanya, dan merasa didengar, yang pada akhirnya memperkuat ikatan sosial serta mendukung tercapainya proses pembelajaran yang lebih efektif dan kondusif. Dengan demikian, kompetensi sosial bukan hanya sekedar tuntutan profesional bagi seorang guru, melainkan bagian dari sikap kemanusiaan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Guru yang mampu membangun komunikasi hangat, terbuka, dan penuh empati dengan siswa, rekan kerja, serta orang tua, akan lebih mudah menciptakan suasana belajar yang nyaman dan inklusif. Ketika siswa merasa dihargai, didengar, dan dipahami, mereka akan lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Relasi yang terjalin bukan hanya soal penyampaian materi, tetapi juga tentang kehadiran guru sebagai pribadi yang mampu menyentuh hati siswa. Di sinilah kompetensi sosial menjelma menjadi kekuatan yang membentuk karakter, semangat belajar, dan iklim pendidikan yang lebih manusiawi. Kompetensi Profesional Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan kurikulum, substansi keilmuan, serta metodologi pembelajaran yang relevan dengan bidang studi yang diajarkan. Kompetensi ini memungkinkan guru untuk menetapkan tujuan pembelajaran, mengorganisasi konten pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, serta mengembangkan pembelajaran secara kreatif dan reflektif. Kompetensi profesional merupakan salah satu aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya secara optimal. Seorang guru Winda Restalia. AuPROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KH. ABDURRAHMAN WAHID PEKALONGAN 2024,Ay 2024. Muhammad Maulana. Murdiansyah Heman, and Laila Qadariah. AuKOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PROSES PEMBELAJARAN SISWA DI MADRASAH IBTIDAIYAH ASSALAM MARTAPURA,Ay n. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 yang profesional dituntut untuk benar-benar menguasai materi pelajaran yang diajarkannya, termasuk memahami secara mendalam struktur, konsep, dan pendekatan keilmuan yang melandasinya. Tidak hanya itu, guru juga perlu memahami dan mampu mengimplementasikan kurikulum dengan baik, mulai dari standar kompetensi hingga kompetensi dasar, serta menyesuaikannya dengan kebutuhan peserta didik. Dalam proses pembelajaran, kreativitas menjadi hal yang tak kalah penting. guru dituntut untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang inovatif, menarik, dan relevan dengan perkembangan zaman dan karakter siswa. Selain itu, guru juga perlu memiliki kemampuan reflektif, yakni kemampuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri berdasarkan pengalaman mengajar demi peningkatan kualitas pembelajaran. Di era digital seperti sekarang, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kompetensi profesional guru, karena teknologi dapat menjadi jembatan dalam menyampaikan materi secara lebih efektif dan dalam membangun komunikasi yang lebih luas dengan peserta didik maupun rekan sejawat. Kompetensi profesional guru SKI mencakup penguasaan materi sejarah kebudayaan Islam secara utuh dan kontekstual. Guru yang profesional tidak hanya menghafal isi buku, tetapi juga mampu menyampaikan materi sejarah dengan bahasa yang mudah dipahami anak dan mengaitkannya dengan situasi kekinian. Misalnya, ketika membahas perjuangan Rasulullah dalam dakwah Islam, guru mengaitkannya dengan perjuangan siswa dalam belajar dan berbuat baik kepada orang tua. Selain itu, guru profesional memperluas wawasan dengan membaca berbagai referensi pendukung seperti buku sejarah populer, artikel, atau video edukasi dari media Islam terpercaya untuk memperkaya penyampaian materi22 Strategi Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi oleh Guru PAI dalam Pembelajaran SKI Profesionalisme guru PAI menjadi dasar kuat dalam pelaksanaan strategi pembelajaran berdiferensiasi. Di Madrasah Ibtidaiyah, guru menghadapi kelas yang sangat heterogen: ada siswa yang cepat menangkap materi, ada yang perlu diulang berkali-kali. yang senang membaca, ada yang lebih suka mendengar cerita. ada yang senang mengerjakan tugas individu, dan ada pula yang lebih berkembang saat bekerja kelompok. Indah Hari Utami and Aswatun Hasanah. AuKOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK DI SD NEGERI MAGUWOHARJO 1 YOGYAKARTA,Ay n. M and Elwiddah. AuKompetensi Profesional Guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam Pengembangan Kreativitas Belajar Siswa MTsN Tebo Ilir. Ay Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari Strategi Diferensiasi Konten Salah satu strategi utama yang digunakan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran berdiferensiasi adalah diferensiasi konten. Strategi ini dilakukan dengan menyesuaikan materi pelajaran berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan gaya belajar siswa. Dalam konteks mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), guru PAI sering menyusun bahan ajar dengan berbagai tingkat kompleksitas. Misalnya, untuk siswa dengan kemampuan tinggi, guru memberikan teks sejarah yang lebih panjang dan detail, sementara untuk siswa yang membutuhkan bantuan tambahan, disediakan ringkasan cerita sejarah yang lebih sederhana, kadang disertai ilustrasi atau peta konsep agar lebih mudah dipahami. Selain itu, penerapan diferensiasi konten juga dapat dilakukan dengan menyesuaikan media pembelajaran sesuai gaya belajar siswa, seperti penggunaan presentasi PowerPoint dan video untuk siswa visual, ceramah dan diskusi kelompok untuk siswa auditori, serta aktivitas fisik untuk siswa kinestetik. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih efektif dan dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam memahami materi SKI. Diferensiasi konten merupakan bagian dari tiga komponen utama pembelajaran berdiferensiasi, yaitu konten, proses, dan produk. Diferensiasi konten fokus pada apa yang dipelajari siswa dengan menyesuaikan materi agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan individu siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif dan tidak monoton. Ringkasnya, strategi diferensiasi konten dalam pembelajaran PAI, khususnya SKI, meliputi: Menyusun materi dengan tingkat kesulitan berbeda sesuai kesiapan belajar siswa . Menggunakan berbagai media pembelajaran sesuai gaya belajar siswa . isual, auditori, kinesteti. Memberikan materi yang lebih mendalam untuk siswa yang mampu dan materi sederhana untuk siswa yang membutuhkan bantuan . Menyediakan bahan ajar yang menarik dan mudah dipahami seperti ilustrasi, peta konsep, dan ringkasan cerita. Strategi ini bertujuan untuk mengakomodasi perbedaan karakteristik siswa sehingga pembelajaran PAI dapat berjalan efektif dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi SKI. Guru yang profesional memang melakukan asesmen awal atau diagnostik untuk mengetahui kesiapan belajar siswa sebelum proses pembelajaran dimulai. Asesmen ini bisa dilakukan secara formal . isalnya tes diagnosti. maupun informal . isalnya observasi, tanya jawab, diskus. Tujuannya adalah untuk memahami kemampuan, minat, dan kebutuhan belajar siswa secara individual maupun kelompok. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, guru dapat menyesuaikan konten dan metode pembelajaran Marsanda Shinta Maharani. AuIMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF PESERTA DIDIK MATA PELAJARAN PAI DI SMA NEGERI 3 SIDOARJO,Ay n. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 agar sesuai dengan karakteristik siswa, tanpa mengurangi esensi materi yang harus dikuasai bersama. Pendekatan ini mencerminkan prinsip diferensiasi pembelajaran, di mana perbedaan kemampuan siswa tidak dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas Strategi Diferensiasi Proses Strategi berikutnya adalah diferensiasi proses, yakni penyesuaian dalam cara siswa mengakses dan mengolah informasi. Dalam pembelajaran SKI yang pada umumnya disampaikan melalui narasi atau cerita sejarah, guru PAI yang profesional tidak hanya menyampaikan materi melalui ceramah, tetapi juga menyediakan alternatif proses belajar seperti diskusi kelompok, pembacaan teks bersama, pemutaran video sejarah, permainan peran tokoh sejarah, atau pemetaan alur peristiwa. Penelitian milik Khalib Gadafi dkk mendukung bahwa strategi pembelajaran diferensiasi, termasuk diferensiasi proses, sangat efektif dalam pendidikan Islam. Studi menunjukkan bahwa penerapan strategi ini memungkinkan guru lebih responsif terhadap perbedaan individu siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif dan adaptif. Hasilnya, siswa tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ini juga meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan aktif siswa, dan pembentukan karakter yang kuat sesuai nilai Islam. Siswa dengan gaya belajar auditori memang lebih cocok menyimak materi sejarah melalui audio atau storytelling langsung dari guru, karena mereka mengandalkan indera pendengaran untuk menangkap informasi. Sebaliknya, siswa dengan gaya belajar visual lebih mudah memahami alur sejarah dengan bantuan peta zaman, ilustrasi tokoh, atau timeline visual yang memanfaatkan indera penglihatan. Penelitian yang mendukung hal ini milik Shafa Syawalina dkk antara lain studi yang menunjukkan bahwa gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik (VAK) berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran sejarah. Dalam penelitian tersebut, siswa dengan gaya belajar visual menggunakan indera penglihatan, siswa auditori menggunakan indera pendengaran, dan siswa kinestetik menggunakan indera gerak untuk belajar. Setelah diberikan perlakuan pembelajaran Carol Ann Tomlinson. The Differentiated Classroom: Responding to the Needs of All Learners, 2nd Edition (ASCD, 2. Khalib Gadafi. Andika Saputra, and Gusmaneli Gusmaneli. AuPeran Strategi Pembelajaran Diferensiasi dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Islam,Ay Jurnal Budi Pekerti Agama Islam 3, no. 2 (March 10, 2. : 297Ae 308, https://doi. org/10. 61132/jbpai. Yunika Ciptaning Tyas. Henry Januar Saputra, and Ranto Nety Sofiati. AuAnalisis Gaya Belajar Terhadap Pembelajaran Berdiferensiasi pada Siswa Kelas IV SD Supriyadi 02,Ay ALACRITY : Journal of Education. January 5, 2025, 158Ae69, https://doi. org/10. 52121/alacrity. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing, terjadi peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa, yang menunjukkan efektivitas pendekatan ini dalam pembelajaran Guru profesional juga melakukan scaffolding atau pemberian bantuan bertahap kepada siswa yang membutuhkan. Misalnya, guru memberi panduan berupa pertanyaan pemicu, contoh jawaban, atau struktur kerangka berpikir saat siswa mengerjakan tugas yang menantang. Strategi ini membantu siswa belajar secara bertahap dan tidak merasa tertinggal dari teman-temannya. 28 Hal ini sejalan dengan penelitian milik Suparjo dengan judul penelitian AuUpaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan Metode Pembelajaran Scaffolding dan Kerja Kelompok di Kelas X TP 2 SMK N 1 Bangkinang Tahun Pelajaran 2021/2022Ay menunjukkan bahwa penerapan metode scaffolding dalam pembelajaran, khususnya sejarah, efektif meningkatkan aktivitas belajar dan pemahaman konsep siswa. Dalam proses pembelajaran, guru memberikan bantuan berupa petunjuk, dorongan, contoh, dan langkah pemecahan masalah, sekaligus mendorong siswa untuk belajar mandiri. Hasil penelitian di SMK N 1 Bangkinang misalnya, memperlihatkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep sejarah siswa setelah penerapan scaffolding dan kerja kelompok melalui pendekatan konstruktivis, dengan nilai rata-rata meningkat dari 67,1 menjadi 70,3 serta peningkatan keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab. Strategi Diferensiasi Produk Strategi diferensiasi produk digunakan untuk memberi kesempatan kepada siswa menunjukkan pemahaman mereka dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam mata pelajaran SKI, guru PAI yang profesional tidak hanya menilai pemahaman siswa berdasarkan hasil tes tertulis, tetapi juga melalui proyek kreatif seperti membuat poster tokoh sejarah, menulis refleksi pribadi dari nilai yang terkandung dalam peristiwa sejarah, menyusun timeline peristiwa, hingga membuat drama pendek tentang peristiwa penting dalam sejarah Islam. Pembelajaran berdiferensiasi ini memungkinkan guru menyesuaikan produk atau hasil belajar siswa sesuai dengan minat, gaya belajar, dan kemampuan masing-masing, sehingga setiap siswa dapat mengekspresikan Shafa Syawalina. Agus Rustamana, and Yuni Maryuni. AuPengaruh Gaya Belajar VAK (Visual. Auditorial Dan Kinesteti. Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 7 Kota Serang,Ay J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah 4, no. 1 (November 22, 2. : 342Ae52, https://doi. org/10. 56799/jceki. Piki Setri Pernantah. AuMEMBANGUN WAWASAN SEJARAH LOKAL SISWA DENGAN PENGUATAN SCAFFOLDING DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH,Ay Diakronika (July https://doi. org/10. 24036/diakronika/vol17-iss1/15. Suparjo Suparjo. AuUpaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Scaffolding Dan Kerja Kelompok Di Kelas X TP 2 SMK N 1 Bangkinang Tahun Pelajaran 2021/2022,Ay Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK) 5, no. : 1681Ae92. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 pemahamannya secara optimal. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran diferensiasi yang menurut Tomlinson . mencakup perubahan pada konten, proses, produk, dan lingkungan belajar untuk mengakomodasi kebutuhan individu siswa. Penelitian di berbagai sekolah Islam di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dengan pendekatan berbasis proyek dan variasi produk belajar mampu meningkatkan pemahaman agama serta keterampilan sosial dan emosional siswa. Misalnya, siswa yang diberi pilihan proyek sesuai minat dan bakatnya menunjukkan peningkatan motivasi dan hasil belajar yang lebih baik. Selain itu, dalam pembelajaran sejarah di tingkat sekolah dasar, strategi diferensiasi produk seperti pembuatan karya visual, narasi, dan drama pendek telah terbukti meningkatkan antusiasme dan pemahaman siswa terhadap materi sejarah perjuangan dan nilai-nilai kepahlawanan, dengan hasil belajar yang signifikan dan respons positif dari siswa. Siswa diberikan kebebasan memilih bentuk produk akhir yang sesuai dengan kekuatan mereka. Siswa yang pandai menggambar bisa membuat komik sejarah, siswa yang senang berbicara bisa membuat presentasi lisan atau video singkat, sementara siswa yang lebih tenang bisa menyusun tulisan naratif. Guru memberikan kriteria penilaian yang jelas, namun tetap fleksibel terhadap bentuk produk yang dipilih siswa. Hal ini mencerminkan prinsip inklusivitas dan penghargaan terhadap keragaman potensi peserta didik. Strategi Pengelompokan yang Fleksibel Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pengelompokan siswa secara fleksibel sesuai kebutuhan pembelajaran. Dalam satu kali pertemuan, siswa dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat pemahaman terhadap topik tertentu, di pertemuan lain berdasarkan minat, dan pada kesempatan lain secara acak untuk melatih kerja sama sosial. Pendekatan ini dikenal sebagai pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan dengan keberagaman gaya belajar, minat, dan kemampuan peserta didik, sehingga setiap individu dapat berkembang secara optimal. Tesis milik Mariani Haji Ibrahim menunjukkan bahwa guru PAI menggunakan strategi pembelajaran berdiferensiasi dengan memadukan berbagai metode dan media yang fleksibel, seperti diskusi kelompok dan praktik langsung, yang tidak hanya memperkuat pemahaman materi tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial Umi Fitri Lestari et al. AuStrategi Pembelajaran Diferensiasi dalam Pendidikan Agama Islam: Perspektif Psikologis,Ay Journal of Education Research 5, no. 4 (November 6, 2. : 5272Ae80, https://doi. org/10. 37985/jer. Yulia Siska. AuImplementasi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Materi Sejarah Kelas IV SD di Kota Bandar LampungAy 6, no. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari Kelompok yang dibentuk bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai kebutuhan dan pengalaman belajar siswa, sehingga pembelajaran menjadi responsif dan inklusif. Salah satu penelitian eksperimen milik Anita Aisah & Dwi Santosa mendukung efektivitas pendekatan ini adalah pelatihan modifikasi kurikulum menggunakan Differentiated Instruction untuk guru PAI yang mengajar siswa dengan kebutuhan khusus . isabilitas intelektua. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan guru dalam memodifikasi kurikulum dan menerapkan pengelompokan fleksibel dalam pembelajaran, yang disesuaikan dengan karakteristik siswa. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, kelompok tidak homogen dan guru mengatur serta memonitor kelas dengan aktivitas bersama-sama sehingga pembelajaran tetap terstruktur dan efektif. 33 Pengelompokan ini memungkinkan siswa belajar dari satu sama lain, saling menguatkan, dan memperluas perspektif mereka terhadap isi materi. Dalam konteks SKI, diskusi kelompok tentang nilai-nilai moral dari kisah sejarah akan lebih kaya ketika siswa dari latar belakang dan gaya berpikir berbeda duduk bersama dalam kelompok yang sama. Guru yang profesional akan memantau dinamika kelompok dan memberikan dukungan jika ada kelompok yang kurang seimbang atau mengalami kesulitan bekerja sama. Strategi Asesmen Berkelanjutan Pembelajaran berdiferensiasi tidak akan efektif tanpa strategi asesmen yang Guru PAI yang profesional secara konsisten melakukan penilaian selama proses belajar berlangsung, bukan hanya pada akhir pembelajaran. Guru menggunakan asesmen formatif berupa pertanyaan lisan, pengamatan proses diskusi, catatan anekdot, dan refleksi siswa untuk memahami sejauh mana proses belajar berlangsung. Penelitian di SMP Negeri 3 Punggelan menunjukkan bahwa implementasi asesmen dalam pembelajaran berdiferensiasi pada kurikulum merdeka dilakukan dengan tiga jenis asesmen: diagnostik . ntuk mengetahui kondisi awal sisw. , formatif . ntuk memantau perkembangan selama pembelajara. , dan sumatif . ntuk menilai capaian Asesmen formatif dilakukan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik yang membantu siswa memperbaiki pemahaman dan meningkatkan kinerja akademisnya. 34 Selain itu, studi di SMA Negeri 1 Kediri Mariani Haji Ibrahim. AuStrategi Guru PAI Untuk Memotivasi Siswa Pada Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Di SD Kota Sabang,Ay 2025. Anita Aisah and Dwi Santosa. AuPeningkatan Kapasitas Guru PAI Melalui Pelatihan Modifikasi Kurikulum Menggunakan Differentiated Instruction Untuk Siswa Disabilitas Intelektual,Ay Islamadina: Jurnal Pemikiran Islam, 2019, 19Ae35. Sofiana Atika. AuIMPLEMENTASI ASESMEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI KURIKULUM MERDEKA DALAM PEMBELAJARAN PAI BP DI SMP NEGERI 3 PUNGGELANAy . UIN Prof. Saifuddin Zuhri, 2. , https://repository. id/25327/. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 mengungkapkan bahwa asesmen formatif dalam pembelajaran PAI dilakukan melalui perencanaan instrumen, pelaksanaan tes lisan dan observasi, serta tindak lanjut berupa pengayaan dan remedial. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa secara real time dan menyesuaikan proses pembelajaran agar lebih efektif. Asesmen formatif adalah proses sistematis dan berkelanjutan yang mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa untuk pengambilan keputusan Dengan asesmen formatif, guru dapat memberikan umpan balik yang tepat sehingga siswa dapat terus meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka. Hal ini sangat penting dalam pembelajaran berdiferensiasi yang berfokus pada kebutuhan dan perkembangan individual siswa. 36 Asesmen ini tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menyusun pembelajaran Guru dapat mengidentifikasi siswa yang membutuhkan dukungan tambahan, serta siswa yang perlu tantangan lebih. Dengan cara ini, pembelajaran berdiferensiasi benar-benar bersifat dinamis dan berpusat pada siswa. Tantangan dan Solusi Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah Implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memerlukan kesiapan yang kompleks dari guru PAI, tidak hanya dari sisi teknis pembelajaran, tetapi juga dari sisi profesionalisme yang utuh. Meskipun secara konsep pembelajaran berdiferensiasi memberikan peluang besar bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai potensi dan kebutuhan mereka, realitas di lapangan menunjukkan bahwa guru PAI di madrasah ibtidaiyah masih menghadapi berbagai tantangan yang signifikan. Tantangan dan Solusi dari Aspek Kompetensi Profesional Guru Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran SKI adalah keterbatasan kompetensi profesional guru PAI dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut secara tepat. Banyak guru mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa secara individual, sehingga sulit merancang pembelajaran yang sesuai dengan kesiapan, minat, dan gaya belajar siswa. Guru seringkali masih fokus pada target kurikulum yang seragam dan belum mengadopsi pendekatan yang bervariasi sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa. Akibatnya, pembelajaran kurang responsif terhadap kebutuhan individual dan berpotensi Rohmat RobiAo Rozaqiy. AuPROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) KEDIRI 2024,Ay 2024. Edith S B Djegho et al. AuAsesmen Formatif dalam Pembelajaran Berdiferensiasi,Ay n. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari menyebabkan learning loss bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar berbeda. Dalam pembelajaran SKI, guru PAI dituntut untuk mampu menyajikan materi sejarah yang sarat dengan nilai dan narasi secara variatif. Namun, karena minimnya pemahaman terhadap konsep diferensiasi konten, proses, dan produk, beberapa guru justru menyampaikan pembelajaran dengan cara yang sama kepada seluruh siswa. Padahal, materi SKI seperti sejarah peradaban Islam, perjuangan para tokoh, serta perkembangan kebudayaan Islam di berbagai wilayah menuntut pendekatan yang fleksibel dan kontekstual agar mampu ditangkap maknanya oleh seluruh siswa. Selain itu, salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah masih terbatasnya pemahaman dan kemampuan guru dalam mengaplikasikan konsep ini. Hambatan ini semakin diperparah oleh keterbatasan sarana dan infrastruktur yang tersedia di sekolah. Banyak guru mengalami kesulitan saat merancang kegiatan belajar yang dapat mengakomodasi kebutuhan setiap siswa secara individual. Kondisi ini menjadi lebih kompleks ketika guru harus mengelola kelas yang terdiri dari siswa dengan latar belakang, kemampuan, dan gaya belajar yang sangat beragamAisementara fasilitas pendukung masih jauh dari memadai. Kurangnya pelatihan profesional yang berkelanjutan juga memperburuk situasi, terutama dalam hal manajemen kelas yang dinamis dan penilaian yang adil bagi semua siswa. Dukungan yang masih terbatas dari pihak sekolah maupun pemerintah menjadi kendala tambahan yang membuat penerapan pembelajaran berdiferensiasi belum berjalan optimal. Untuk mengatasi berbagai hambatan ini, perlu dilakukan langkah nyata seperti menyediakan pelatihan rutin bagi para guru agar mereka lebih memahami dan terampil dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, khususnya dalam konteks Kurikulum Merdeka. Selain itu, peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan untuk menyediakan sarana pengajaran yang memadai, termasuk teknologi yang mendukung proses pembelajaran. Jika tantangan-tantangan ini dapat diatasi, pembelajaran berdiferensiasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan hasil belajar Guru pun diharapkan menjadi lebih siap dan percaya diri dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan bermakna. Dirjo Dirjo et al. AuIMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMAS BINA PUTERA-KOPO,Ay Fikrah : Journal of Islamic Education 7, no. 1 (May 18, 2. : 21, https://doi. org/10. 32507/fikrah. Nishfatul Lailiyah and Sulthon MasAoud. AuAnalisis Tantangan Guru Dalam Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar,Ay Journal on Teacher Education 6, no. 2 (December 3, 2. : 1Ae12, https://doi. org/10. 31004/jote. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Tantangan dan Solusi dari Aspek Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik yang terbatas memang menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Guru PAI yang belum menguasai manajemen kelas yang adaptif akan mengalami kesulitan dalam mengelola kegiatan belajar yang melibatkan beberapa kelompok dengan pendekatan berbeda. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa guru sering menghadapi kendala dalam memahami gaya belajar siswa, keterbatasan sumber daya, waktu, serta fasilitas yang tidak memadai, sehingga sulit untuk merancang dan menerapkan pengalaman belajar yang berbeda secara efektif. Pembelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah, seringkali hanya menggunakan metode ceramah dan hafalan. Variasi kegiatan belajar yang bersifat reflektif, naratif, atau berbasis proyek sejarah Islam jarang diterapkan, padahal metode-metode tersebut dapat meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa Islam. Keterbatasan keterampilan dalam mengelola kelas yang beragam juga membuat guru cenderung memilih metode yang paling mudah dan cepat, meskipun kurang efektif untuk mengakomodasi perbedaan kebutuhan belajar siswa. Guru PAI di Madrasah Ibtidaiyah mengalami kesulitan dalam menyusun RPP dan perangkat ajar berdiferensiasi karena tingginya beban administrasi, sehingga waktu untuk merancang pembelajaran responsif menjadi terbatas. Akibatnya, banyak guru hanya menyalin template pemerintah tanpa penyesuaian yang sesuai, menjadikan diferensiasi bersifat formalistik. Dampaknya terlihat pada ketidak terstrukturan pembelajaran SKI, seperti ketidakjelasan target capaian untuk berbagai tingkat kemampuan siswa, penggunaan asesmen seragam yang mengabaikan pendekatan proyek atau refleksi nilai, serta metode ceramah massal yang menggantikan pendekatan kelompok kecil. Studi di SMP Negeri 31 Bandar Lampung menunjukkan bahwa 48% waktu guru tersita untuk administrasi kurikulum, bukan pengembangan materi kreatif. Solusi yang ditawarkan mencakup penyederhanaan format RPP dan pelatihan integrasi nilai-nilai SKI dalam pembelajaran berdiferensiasi. Tantangan dan Solusi dari Aspek Kepribadian dan Sikap Mental Selain kompetensi teknis, aspek kepribadian dan sikap mental sangat berpengaruh dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Guru PAI dituntut memiliki kesabaran, empati, serta kemauan untuk terus belajar dan berinovasi agar mampu mengakomodasi Anggi Umayrah and Dinn Wahyudin. AuAnalisis Kesulitan Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Berdasarkan Gaya Belajar Siswa pada Kurikulum Merdeka,Ay EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN 6, no. 3 (May 22, 2. : 1956Ae67, https://doi. org/10. 31004/edukatif. Muhammad Raja Iqbal Fahri et al. AuPengaruh Apresiasi Guru Kepada Murid Berdasarkan Teori Motivasi AlGhazali dan Abraham Maslow,Ay JAMPARING: Jurnal Akuntansi Manajemen Pariwisata dan Pembelajaran Konseling 2, no. 1 (February 1, 2. : 251Ae60, https://doi. org/10. 57235/jamparing. Profesionalisme Guru PAI dalam Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah Ae Munawir. Rizky Lailatul Ramadhanis Sholikhah. Mega Adhelia Hapsari kebutuhan siswa yang beragam. Namun, masih ada guru yang cenderung berpegang pada metode konvensional dan menunjukkan resistensi terhadap perubahan. Beberapa guru merasa bahwa penerapan diferensiasi terlalu rumit atau tidak sesuai dengan konteks kelas mereka, terutama pada mata pelajaran seperti SKI yang sering dianggap kurang menuntut variasi metode karena sifatnya yang tidak eksakta. 41 Kompetensi kepribadian guru PAI juga mencakup kemampuan untuk bertindak sesuai norma agama, sosial, dan budaya, serta menunjukkan sikap terbuka dan toleran terhadap Guru yang kurang memiliki sikap ini cenderung sulit menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang menuntut fleksibilitas dan pendekatan personal terhadap siswa. Padahal, justru karena SKI mengandung muatan nilai, sejarah, budaya, dan keteladanan tokoh Islam, pembelajaran berdiferensiasi sangat dibutuhkan agar siswa mampu mengakses dan menghayati materi sesuai kemampuan dan pengalaman mereka masing-masing. Jika guru tidak memiliki keterbukaan dan kemauan untuk berkembang, maka potensi SKI sebagai media pembentukan karakter Islam akan kurang tergali secara maksimal. Penguatan sikap mental dan kepribadian guru menjadi aspek penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi, khususnya pada mata pelajaran SKI. Melalui pelatihan pengembangan diri, program mentoring antara guru senior dan junior, serta keterlibatan aktif dalam komunitas belajar, guru dapat dibimbing untuk lebih terbuka terhadap perubahan, memiliki empati yang lebih tinggi, serta menunjukkan kemauan untuk terus berinovasi. 43 Selain itu, kolaborasi dan diskusi profesional seperti Focus Group Discussion (FGD) dan pertemuan rutin komunitas belajar guru menjadi wadah strategis untuk berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas antar pendidik, dan menemukan solusi praktis atas tantangan yang dihadapi di Pendekatan ini tidak hanya membantu guru dalam memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi secara lebih utuh, tetapi juga memperkuat karakter dan kesiapan mental mereka dalam mengelola kelas yang beragam secara efektif. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru PAI sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah. Guru yang Lestari et al. AuStrategi Pembelajaran Diferensiasi dalam Pendidikan Agama Islam. Ay Muh Rizkiansah Hatam. AuDiajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Pendidikan (S. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI),Ay n. Rita Widyaningsih. AuFAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO 2016,Ay n. Iis Suryatini et al. AuKompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran PAI Berdasarkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS),Ay TAAoDIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. 2 (August 31, 2. : 211Ae21, https://doi. org/10. 69768/jt. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang tinggi mampu memahami karakteristik dan kebutuhan belajar siswa secara individu, serta mampu merancang strategi pembelajaran yang sesuai melalui diferensiasi konten, proses, dan produk. Pembelajaran berdiferensiasi dalam SKI menjadi penting karena muatan nilai dan sejarahnya menuntut pendekatan yang fleksibel, kontekstual, dan menyenangkan. Guru PAI yang profesional tidak hanya mampu mengelola kelas yang heterogen secara efektif, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan yang humanis dan adaptif, sehingga pembelajaran SKI dapat mencapai tujuan secara optimal. Dengan demikian, peningkatan profesionalisme guru PAI menjadi hal yang esensial untuk mendukung terlaksananya pembelajaran berdiferensiasi yang bermakna dan berkualitas di lingkungan madrasah. Daftar Pustaka