Prosiding Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I (Semnas PKP I) AuOptimalisasi Peran Sektor Peternakan. Kelautan, dan Perikanan dalam Mendukung Kemajuan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan Menyongsong Indonesia Emas 2045Ay Analisis Komposisi Jenis Hasil Tangkapan Payang yang Didaratkan di Pangali-Ali Kabupaten Majene Sulawesi Barat (Analysis of The Species Composition of The Payang Catches Landed in Pangali-ali. Majene Regency. West Sulawes. Muhammad Nur Ihsan*. Helmiati. Ady Jufri Program Studi Perikanan Tangkap. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Sulawesi Barat *Corresponding author: m. ihsan@unsulbar. ABSTRACT Majene Regency has a sea area of 13,124 kmA, a coastline length of 125 km, and is located along the Makassar Strait. The primary fishing activities in the coastal areas of Majene Regency involve payang and purse seine fisheries. This study aims to determine the species composition and frequency of occurrence of fish caught using payang fishing gear in Pangali-ali. Majene Regency. West Sulawesi Province. The research was conducted from September to November in Pangali-ali using an observational method, where researchers participated in fishing operations. The collected data included the composition of the payang catch, which consisted of fish species identification, fish length, the specific gravity of the catch, and the frequency of occurrence of the catch. The results from 30 observation trips indicated that bullet tuna (Auxis roche. had the highest catch volume percentage at 53 %, totaling 6,718 kg, whereas giant trevally (Caranx ignobili. had the lowest, accounting for only 0. 34% or 44 kg. The most frequently occurring fish species was the mackerel scad, which was caught 14 times during the observation trips. The length of the main catch using payang gear ranged from 11 to 42 cm, while the bycatch length varied from 8 to 18 cm. Over 30 trips, the total catch amounted to 12,647 kg. Keywords: Catch composition. Pangali-ali. Payang ABSTRAK Kabupaten Majene memiliki luas wilayah laut 13. 124 km2 dengan panjang garis pantai 125 km serta berada di pesisir selat Makassar. Aktivitas perikanan utama di wilayah pesisir kabupaten majene adalah perikanan payang dan purse seine. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi jenis dan frekuensi kemunculan hasil tangkapan payang yang didaratkan di Pangali-ali Kabupaten Majene. Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-November di Pangali-ali dengan menggunakan metode observasi mengikuti kegiatan operasi penangkapan. Data penelitian berupa komposisi hasil tangkapan payang yang meliputi identifikasi jenis ikan, ukuran panjang ikan, berat jenis hasil tangkapan, dan frekuensi kemunculan hasil tangkapan. Hasil pengamatan penelitian yang berlangsung selama 30 trip didapatkan volume persentase hasil tangkapan tertinggi yaitu 53 % jenis ikan tongkol lisong (Auxis roche. 718 kg dan terendah jenis ikan kuwe (Caranx ignobili. 0,34 % seberat 44 kg, frekuensi kemunculan jenis ikan didominasi oleh ikan layang biru yang tertangkap sebanyak 14 kali trip. Ukuran panjang hasil tangkapan utama yang tertangkap pada alat tangkap payang memiliki kisaran panjang antara 11 Ae 42 cm sedangkan ukuran panjang hasil tangkapan sampingan berkisar antara 8 Ae 18 cm dengan jumlah seluruh tangkapan selama 30 trip sebanyak 12. 647 kg. Kata kunci: Komposisi hasil tangkapan. Pangali-ali. Payang AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 e-ISSN: 3090-305X Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 Pendahuluan Penangkapan ikan dengan menggunakan payang di perairan Kabupaten Majene telah lama dilakukan nelayan setempat khususnya di Pangali-ali. Namun komposisi jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didapatkan tidak begitu diperhitungkan. Masih banyak nelayan yang hasil tangkapannya masih tidak layak tangkap yang dicirikan dengan hasil tangkapan yang berukuran kecil dan masih muda atau belum mengalami fase matang gonad. Apabila hal ini diabaikan, sumberdaya perikanan akan mengalami penangkapan berlebih bahkan turun drastis karena tidak terkontrolnya tingkat eksploitasi yang melebihi daya dukung sumber daya perikanan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Muhammad et al. tentang hubungan panjang bobot ikan laying biru (Decapterus macarellus Cuvier, 1. di perairan Kabupaten Majene. Sulawesi Barat, didapatkan ukuran ikan layang yang tertangkap dengan alat tangkap payang di perairan Majene, 153 Ae 220 mm yang paling dominan tertangkap di bulan juli dan dengan 140 Ae 150 mm yang dominan tertangkap di bulan mei. Dimana pada kisaran ukuran tersebut sebagian besar ikan yang tertangkap belum mengalami matang gonad sehingga dapat menyebabkan terganggunya kelestarian sumberdaya ikan layang. Akibat intensitas perikanan yang semakin tinggi maka informasi mengenai keadaan sumber daya perikanan dan kondisi terkini kegiatan perikanan di perairan Majene penting untuk diketahui. Salah satu informasi yang penting untuk dilakukan pemantauan secara berkala, adalah aktifitas yang meliputi wilayah penangkapan ikan, komposisi jenis hasil tangkapan, ukuran ikan yang tertangkap, berat ikan dan frekuensi kemunculan hasil Oleh karena itu, berdasarkan hal tersebut penulis menganggap perlu membahas terkait komposisi jenis hasil tangkapan payang sebagai judul penelitian. Ikan Kabupaten Majene adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Barat. Secara geografis. Kabupaten Majene terletak antara 2A38Ao00Ay - 3A38Ao00Ay Lintang Selatan dan 118A45'00Ay - 119A4'00Ay Bujur Timur dengan luas wilayah 947,84 km2 dan pada tahun 2020 berpenduduk sebanyak 844 jiwa. Memiliki luas wilayah laut 124 km2 dengan panjang garis pantai sebesar 125 km2 serta berada di pesisir selat Makassar membuat sebagian perekonomian masyarakat Majene berasal dari sektor perikanan (Pemkab Majene, 2. Salah satu sumber daya ikan yang ada di Kabupaten Majene adalah pelagisl seperti : Ikan Tembang (Sardinall. , ikan layang (Decapterus sp. ), ikan kembung (Rastrellige ), ikan selar (Selaroides leptolepi. , ikan (Stolephorus Barakuda (Sphyraenida. , dan ikan laut lainnya. Berdasarkan potensi tersebut maka alat tangkap yang digunakan untuk menangkap pelagis kecil di Kabupaten Majene salah satunya adalah paying . Payang termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal nelayan Indonesia dan banyak digunakan di Kabupaten Majene khususnya di Pangali-ali. Payang adalah jenis pukat kantong yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan . elagic fis. Kedua sayapnya berguna untuk mengejutkan serta menggiring ikan untuk Cara pengoperasiannya adalah dengan melingkari gerombolan ikan dan pukat kantong tersebut ditarik ke arah kapal . Payang termasuk dalam klasifikasi pukat kantong lingkar yang secara garis besar terdiri dari bagian kantong . , badan/perut . ody/bell. , dan kaki/sayap . eg/win. Alat tangkap payang umumnya digunakan untuk menangkap jenis ikan pelagis yang berada di permukaan air. Pada bagian sayap dan mulut jaring diberi pemberat, sedangkan dibagian atas diberi pelampung. Pelampung yang berukuran besar ditempatkan pada bagian tengah dari mulut jaring, pada kedua ujung depan sayap disambung dengan tali yang Pengoperasian alat tangkap ini dilakukan oleh lima sampai enam nelayan. Metode Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di sekitar pantai Lingkungan Pangali-ali. Kecamatan Banggae. Kabupaten Majene. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 1. Waktu penelitian selama 2 bulan terhitung dari bulan September November Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 Masyarakat lingkungan Pangali-ali sebagian besar bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan perekonomian seharihari. Di sepanjang pantai Lingkungan Pangaliali banyak dijumpai kapal penangkapan ikan salah satunya adalah kapal payang yang merupakan alat tangkap yang paling dominan digunakan oleh masyarakat setempat. Komposisi Ukuran dan Bobot Ikan Hasil Tangkapan Payang Hasil tangkapan per jenis ikan akan di sampling berdasarkan beberapa kelas ukuran kemudian dilakukan pengukuran panjang total ikan mulai dari ujung ekor sampai ke ujung Pengukuran terhadap panjang ikan sampel dilakukan dengan menggunakan meteran yang mempunyai ketelitian 0,1 mm. Selain itu, dilakukan juga penimbangan bobot mengetahui bobot ikan yang digolongkan berdasarkan jenisnya. Frekuensi Kemunculan Jenis Hasil Tangkapan Payang Frekuensi kemunculan di dalam ekologi digunakan untuk menyatakan proporsi atau jumlah sampel yang berisi suatu spesies tertentu terhadap jumlah total sampel . Setiap jenis ikan hasil tangkapan akan diamati kemunculannya per trip penangkapan, kemudian, jumlah kemunculan setiap jenis ikan yang tertangkap akan dibagikan dengan total trip selama penelitiaan. Hasil yang diperoleh akan dibuat persentase berdasarkan jenis ikan. Analisi frekuensi kemunculan setiap jenis ikan hasil tangkapan dihitung dengan formula 2 . Gambar 1. Peta lokasi penelitian Prosedur Penelitian Pengambilan data dilakukan pada saat pengoperasian alat tangkap dan ketika nelayan mendaratkan ikan hasil tangkapannya di tempat pendaratan ikan sebanyak 30 trip. Hasil dikumpulkan untuk diidentifikasi, ditimbang dan diukur berdasarkan jenis ikannya. Variabel yang Diamati Ft = Tx y 100 % . Komposisi Jenis Hasil Tangkapan Payang Keterangan: Hasil tangkapan payang yang diperoleh akan ditimbang per jenis ikan kemudian dibagi dengan seluruh berat total hasil tangkapan per Setiap jenis tangkapan akan dihitung dan akan dibuat persentase berdasarkan jenis ikan hasil tangkapan yang diperoleh. Komposisi jenis ikan dihitung menggunakan formula 1 menurut Hutomo . Fr = Frekuensi relatif JK = Jumlah kemunculan setiap jenis ikan hasil tangkapan Tx = Total trip P (%) = Ni y 100 Persentase Perbandingan Hasil Tangkapan Utama dan Sampingan Alat Tangkap Payang Jenis ikan hasil tangkapan akan diamati akan dikemlompokkan menjadi dua kelompok sebagai hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan berdasarkan beberapa referensi yang menjelaskan jenis-jenis ikan apa saja yang menjadi tangkapan utama alat tangkap payang dan jenis ikan yang masuk sebagai hasil tangkapan sampingan. Keterangan: P = Persentase jenisiIkan ni = Bobot jenis ikan hasil tangkapan . N = Bobot total hasil tangkapan . Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 Analisis Data tangkapan tertinggi 53 % yaitu jenis ikan tongkol lisong (Auxis roche. , sedangkan persentase terendah yaitu jenis ikan kuwe (Caranx ignobilli. dan ayam-ayam (Aluterus monoceru. yaitu 0 %. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat pengoperasian alat tangkap payang, diketahui hasil tangkapan yang sering tertangkap adalah jenis ikan layang biru (Decapterus macarellu. tongkol lisong (Auxis roche. dan cakalang (Katsuwanus pelami. Usman . menyatakan bahwa, perbedaan hasil tangkapan menurut spesiesnya disebabkan oleh perbedaan tingkah laku pada masing-masing jenis ikan. Ada jenis ikan yang tertarik secara langsung terhadap sinar atau sering disebut sebagai ikan berfototaksis positif, suka ada di sekitar area penangkapan yang terang dan yang kedua adalah jenis ikan yang tidak suka kepada cahaya lampu dan kehadiran ikan pada area penangkapan lebih disebabkan oleh kehadiran mangsanya pada daerah penangkap penangkapan Hasil tangkapan alat tangkap payang yang beroperasi di perairan Majene di kategorikan menjadi hasil tangkapan utama (Main catc. dan hasil tangkapan sampingan (By-catc. Hasil tangkapan utama terdiri dari ikan tongkol lisong (Auxis roche. dengan berat 718 kg, ikan cakalang (Katsuwanus pelami. dengan berat 87 kg, ikan layang biru (Decapterus macarellu. dengan bobot 4. kg, ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurt. dengan bobot 1. 296 kg, ikan selar kuning (Selaroiedes leptolepi. dengan bobot 215 kg. Dikatakan sebagai hasil tangkapan utama karena 5 spesies tersebut tergolong sebagai ikan pelagis yang merupakan target utama nelayan dengan menggunakan alat tangkap payang. Hasil tangkapan sampingan terdiri dari ikan kuwe (Caranx ignobili. dengan bobot 44 kg, dan ikan ayam-ayam (Aluterus monoceru. dengan bobot keseluruhan seberat 50 kg. Hasil tangkapan sampingan adalah ikan non target yang ikut tertangkap dalam operasi Tertangkapnya spesies ikan non target ini dapat disebabkan karena adanya tumpang tindih habitat antara ikan target dan non target serta kurang selektifnya alat tangkap yang digunakan Komposisi jenis hasil tangkapan utama dan sampingan payang dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4. Setiap data hasil tangkapan dianalisis menggunakan formula serta disajikan dalam bentuk diagram dan tabel . Hasil dan Pembahasan Komposisi Payang Jenis Hasil Tangkapan Penilaian Hasil identifikasi jenis-jenis ikan yang diperoleh selama penelitian menggunakan alat tangkap payang terdri dari 7 spesies yang tergolong dalam 4 famili Engraulididae. Clupeidae. Carangidae dan Scomberidae. Komposisi jenis-jenis hasil tangkapan alat tangkap payang disajikan pada Gambar 2. Gambar 2 menjelaskan bahwa jenis-jenis ikan hasil tangkapan yang tertangkap pada alat tangkap payang yang beroperasi di perairan Majene pada saat penelitian cukup beragam. Jenis hasil tangkapan terdiri dari hasil tangkapan utama (Main catc. dan tangkapan sampingan (By catc. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 7 jenis hasil tangkapan yang dominan tertangkap pada alat tangkap Tangkapan utama terdiri dari 5 jenis ikan dan tangkapan sampingan terdiri dari 2 jenis ikan. Layang Biru Tongkol Lisong Kembung Lelaki Cakalang Selar Kuning Kuwe Ayam-ayam Gambar 2. Grafik komposisi jenis hasil tangkapan alat tangkap payang Adapun jenis ikan dan persentase (%) yang tertangkap pada alat tangkap payang adalah ikan tongkol lisong (Auxis roche. sebanyak 53 %, layang biru (Decapterus macarellu. 34 %, kembung lelaki (Rastrelliger kanagurt. 10 %, selar kuning (Selaroides leptolepi. 2 %, ikan kuwe (Caranx ignobili. 0 %, cakalang (Katsuwanus pelami. 1 %, dan ayam-ayam (Aluterus monocero. 0 %. Volume persentase hasil Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 indikator selektivitas sebuah alat tangkap. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada saat penelitian, ukuran hasil tangkapan setiap spesies ikan yang tertangkap pada alat tangkap payang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 menunjukkan bahwa ikan tongkol lisong (Auxis roche. memiliki kisaran panjang tubuh 16 Ae 25 cm dengan panjang minimum 16 cm dan panjang maksimum 25 cm. Ikan layang biru (Decapterus macarellu. memiliki kisaran panjang tubuh 11 Ae 25 cm dengan panjang minimum 11 cm dan panjang maksimum 25 cm. Kembung lelaki (Rastrelliger kanagurt. memiliki kisaran panjang tubuh 15 Ae 25 cm dengan panjang minimum 15 cm dan panjang maksimum 25 Ikan selar kuning (Selaroides leptolepi. memiliki kisaran panjang tubuh 15 Ae 24 cm dengan panjang minimum 15 cm dan panjang maksimum 24 cm. Ayam-ayam (Aluterus monocero. memiliki kisaran panjang tubuh 10-18 cm dengan panjang minimum 10 cm dan panjang maksimum 18 cm. Ikan cakalang (Katsuwonus pelami. memiliki kisaran panjang tubuh 20 Ae 24 cm dengan panjang minimum 20 cm dan panjang maksimum 24 cm dan ikan kuwe (Caranx ignobilli. memiliki kisaran panjang tubuh 8 Ae 16 cm dengan panjang minimum 8 cm dan panjang maksimum 16 cm. Layang Biru Cakalang Tongkol Lisong Kembung Lelaki Selar Kuning Gambar 3. Grafik komposisi jenis hasil tangkapan Kuwe Ayam-ayam Gambar 4. Grafik komposisi jenis hasil tangkapan Komposisi Ukuran Ikan Hasil Tangkapan Payang Komposisi ukuran ikan yang tertangkap pada sebuah alat tangkap dapat menjadi Tabel 1. Ukuran panjang total hasil tangkapan utama dan sampingan alat tangkap payang Hasil tangkapan Utama Layang biru Tongkol lisong Cakalang Kembung lelaki Selar kuning Sampingan Kuwe Ayam-ayam Panjang . Decapterus macarellus Auxis rochei Katsuwonus pelamis Rastrelliger kanagurta Selaroides leptolepis 11 Ae 25 16Ae 25 20 Ae 42 15 Ae 25 15 Ae 24 Caranx ignobillis Aluterus monoceros 8 Ae 16 10 Ae 18 Sumber: Data primer hasil penelitian . Ikan layak tangkap dalam kegiatan penangkapan adalah ikan yang telah memasuki fase reproduksi. Fekunditas yang terjadi pada spesies ikan lebih sering dihubungkan dengan panjang tubuh ikan daripada berat ikan, sebab ukuran panjang ikan penyusutannya relatif kecil dibandingkan penyusutan berat. Kondisi ini terlihat bahwa ukuran panjang ikan pada saat diukur di atas perahu tidak mengalami penyusutan panjang pada saat pengukuran kembali di darat. Namun ukuran berat ikan saat diukur di atas perahu mengalami penyusutan setelah dilakukan pengukuran di Hal ini berhubungan dengan kandungan air yang masih terdapat di dalam tubuh ikan pada saat baru diangkut dari dalam air. Saat ikan tiba di darat, kadar air di dalam tubuh ikan akan berkurang . Berdasarkan penelitian terdahulu nilai Lm dari ikan ditentukan dari panjang cagak Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 ikan yang dapat menentukan layak tangkap atau tidaknya ikan tersebut. Ketentuan Lm dari ikan yang layak tangkap dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Ketentuan panjang cagak menurut peneliti terdahulu Panjang cagak . Cakalang Layang biru 10,25 Ae 25 Selar kuning 30 Ae 40 Tongkol lison 24,8 Ae 25 Kembung Kuwe Ayam-ayam Jenis ikan Sumber referensi Karman et al. Zamroni et al. Bubun & Mahmud . Noegroho & Chodrijah . Caesario et al. Bubun & Mahmud . Iskandar et al. lanjut, pada ikan tongkol lisong dan kembung lelaki, mayoritas ukuran ikan yang tertangkap pada tongkol lisong memiliki ukuran panjang 25 cm dan kembung lelaki 25 cm juga sudah layak tangkap. Hasil tangkapan ikan selar kuning, kuwe, dan ikan ayam-ayam selama penelitian masih belum layak tangkap. Mayoritas ukuran ikan selar kuning yang tertangkap memiliki panjang 15 Ae 20 cm, ikan kuwe 8 Ae 14 cm, dan ikan ayam-ayam 15 cm, yang berdasarkan Tabel 2 belum memenuhi ukuran Lm jenis untuk kelayakan tangkap Komposisi Bobot Hasil Tangkapan Payang Berdasarkan Tabel 2, jika dibandingkan ukuran layak tangkap maka hasil tangkapan payang selama penelitian yaitu untuk ikan cakalang masih belum layak tangkap karena mayoritas ukuran ikan yang tertangkap memiliki panjang antara 20 Ae 30 cm, ikan layang biru mayoritas ikan yang tertangkap memliki kisaran panjang antara 12 Ae 25 cm yang artinya sudah layak tangkap. Lebih Komposisi berat hasil tangkapan alat tangkapan payang yang beroperasi di perairan Majene dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan. Komposisi berat hasil tangkapan utama dan sampingan disajikan pada Gambar 4. 8,000 7,000 Bobot Ikan . 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 Layang Biru Tongkol Lisong Kembung Lelaki Cakalang Selar Kuning Kuwe Ayam-ayam Gambar 4. Grafik Komposisi bobot hasil tangkapan utama dan sampingan alat tangkap payang Gambar 4 menunjukkan total bobot hasil tangkapan utama dan sampingan alat tangkap payang yang beroperasi di perairan Majene yang diperoleh selama penelitian sebanyak 647 kg selama 30 kali trip. Hasil tangkapan terbanyak berdasarkan berat didominasi oleh ikan tongkol lisong (Auxis roche. yaitu 718 Kg . ,11 %), kemudian diikuti oleh ikan layang biru (Decapterus macarellu. 237 kg . ,50 %), lalu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurt. 296 kg . ,24 %), selanjutnya ikan selar kuning (Selaroides leptolepi. sebanyak 215 kg . ,70 %), kemudian cakalang (Katsuwonus pelami. sebanyak 87 kg . ,68 %), lalu diikuti ikan ayam-ayam (Aluterus Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 monocero. sebanyak 50 kg . ,39 %), dan yang paling kecil adalah ikan kuwe (Caranx ignobilli. yaitu sebanyak 44 kg . ,34 %). Hasil tangkapan tertinggi didominasi oleh hasil tangkapan utama yaitu ikan tongkol lisong(Auxis roche. yaitu sebanyak 6,718 kg . 11%). Berbeda dengan hasil penelitian Prihatiningsih et al. yang mengemukakan bahwa ikan petek merupakan salah satu jenis ikan yang paling dominan tertangkap nelayan payang di perairan Laut Jawa dan Teluk Banten. Hasil penelitian lainnya. Triharyuni et . juga menemukan tujuh jenis ikan petek yang dominan ditangkap nelayan di Teluk Jakarta diantaranya L. dan L. Hasil penelitian Akbar & Patria . menunjukkan hal yang berbeda dimana terdapat dua jenis ikan kelompok pelagis kecil yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan (PP) Ciparage Karawang dalam jumlah besar dan merupakan tujuan utama penangkapan ikan dengan alat tangkap payang yaitu ikan teri (Stolephorus commersoni. dan ikan tembang (Sardinella fimbriat. Begitu pula hasil penelitian Rahmawati et al. menunjukkan bahwa hasil tangkapan payang didominasi oleh ikan teri nasi (Stolephorus sp. ), kemudian diikuti oleh tenggiri (Scomberomerusi sp. ) dan tongkol (Auxis sp. Hal ini berbeda dengan hasi penelitian sebelumnya yang dilaporkan oleh Najamuddin et al. di Perairan Majene bahwa hasil tangkapan yang paling dominan tertangkap yaitu ikan Layang Biru (Decapterus Hasil tangkapan alat tangkap payang selama penelitian menunjukkan bahwa jumlah tangkapan ikan Tongkol Lisong (Auxis roche. dan ikan Layang Biru (Decapterus macarellu. tidak jauh berbeda, hal ini menunjukkan bahwa alat tangkap payang memilki tingkat selektivitas yang rendah terhadap spesies, sehingga hasil tangkapannya tidak didominasi oleh spesies tertentu. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa jenis spesies yang tertangkap oleh alat tangkap payang cukup beragam dalam jenis maupun ukuran, hal ini mengidentifikasi bahwa nelayan payang mempunyai preferensi yang rendah terhadap suatu target hasil tangkapan. Hal ini dieperkuat oleh peneliti terdahulu oleh Saptaji . yang dilakukan di Pelabuhan Ratu yang menyimpulkan bahwa hasil tangkapan payang cukup beragam. Persentase Perbandingan Hasil Tangkapan Utama dan Sampingan Alat Tangkap Payang Nilai penangkapan hasil tangkap utmana dan sampingan alat tangkap paying disajikan pada Gambar 6. Gambar 6 menjelaskan hasil tangkapan alat tangkap payang yang beroperasi di perairan Majene didominasi oleh hasil tangkapan utama yakni sebesar 99% dan hasil tangkapan sampingan sebesar 1%. Persentase hasil tangkapan utama yang tertangkap pada alat tangkap payang selama penelitian didominasi oleh jenis ikan tongkol lisong (Auxis roche. 11 % dan tangkapan terendah selama penelitian adalah tangkapan sampingan jenis ikan kuwe (Caranx ignobilli. yaitu sebesar 0. Frekuensi Kemunculan Jenis Hail Tangkapan Payang Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata frekuensi kemunculan jenis ikan berturut-turut yaitu ikan Tongkol Lisong 40 %, ikan layang biru 47 %, ikan kembung lelaki 40 %, selar kuning 20 %, cakalang 7 %, ayamayam 10 % dan ikan kuwe 10 %. Gambaran terkait frekuensi kemunculan hasil tangkapan payang dapat dilihat pada Gambar 5 Kuwe Ayam-Ayam Selar Kuning Cakalang Kembung Lelaki Layang Biru Tongkol Lisong Tangkapan Utama Tangkapan Sampingan Gambar 5. Grafik frekuensi kemunculan hasil tangkapan payang Gambar 6. Persentase hasil tangkapan utama dan sampingan alat tangkap payang Nur et al. | Seminar Nasional PKP I . : 242 Ae 250 Jumlah perbedaan jenis hasil tangkapan jelas terjadi dikarenakan beberapa faktor yang pertama sumber daya perikanan bersifat multispesies . eranekaragam jenis biota lau. , kemudian jumlah setting, semakin banyak setting alat penangkapan yang dilakukan semakin besar pula hasil tangkapan yang diperoleh dan banyak faktor lainnya seperti pengaruh perbedaan musim, ukuran mata jaring, keadaan kondisi perairan, lamanya waktu melaut dan selektivitas alat tangkap yang digunakan . penangkapan ikan ramah lingkungan. Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management. 6, 2 . , 177Ae186. DOI: https://doi. org/10. 29244/jmf. Caesario. Delis. dan Julian. Struktur pertumbuhan dan faktor kondisi ikan (Rastrelliger Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing. Jurnal Akuatika Indonesia. 7, 2 . 87Ae92. DOI: https://doi. org/10. Fadli. Miswar. Rahmah. Irham. dan Perdana. Tingkat keramahan lingkungan alat tangkap purse seine di PPI Sawang BaAoU Kabupaten Aceh Selatan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 5, 1 . , 1Ae10. Iskandar. Hariwisudo. Iskandar, dan Baskoro. Komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan. Pesisir dan Perikanan. 9, 3 . , 516Ae524. DOI: https://doi. org/10. 13170/depik. Karman. Martasuganda. Sondita, dan Baskoro. Basis biologi cakalang sebagai landasan pengelolaan perikanan berkelanjutan di Provinsi Maluku Utara. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 8, 1 . 159Ae173. Muhammad. Ihsan. Tenriware dan Atjo. Hubungan panjang bobot ikan layang biru (Decapterus macarellus Cuvier, 1. di perairan Kabupaten Majene. Sulawesi Barat. Jurnal Saintek peternakan dan Perikanan. 1, 1 . , 40Ae44. Najamuddin. Palo. Assir. Asni. Produktivitas payang di Majene Sulawesi Barat. Prosiding Simposium Nasional VII Kelautan dan Perikanan (Makassar, 2. , 211Ae216. Kesimpulan Komposisi hasil tangkapan payang selama penelitian di dominasi oleh ikan tongkol lisong (Auxis roche. sebanyak 53 % dengan nilai persentase tertinggi dan sedangkan persentase terendah yaitu jenis ikan kuwe (Caranx ignobilli. dan ayam-ayam (Aluterus monoceru. yaitu 0 %. Frekuensi kemunculan jenis ikan layang biru 47 % tertinggi dan yang terendah ikan cakalang 7 %. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang telah mendanai penelitian ini melalui program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Penulis juga berterima kasih kepada para nelayan Kelurahan Rangas dan Kelurahan Mosso serta para asisten peneliti yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. Daftar Pustaka