Volume: 23 Nomor 2. September 2025 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 GAWAI DAN REKONSTRUKSI IDENTITAS DAYAK: STUDI KASUS PADA PEKAN GAWAI DAYAK KABUPATEN SINTANG Markus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Univesitas Kapuas Sintang. Jl. Oevang Oeray No. Sintang. Indonesia, email: markusfisip@gmail. Abstract: This study investigates the role of Gawai Dayak Festival in Sintang as a crucial arena for the reconstruction of Dayak ethnic identity. Using a qualitative approach and case study method, data was collected through participatory observation, in-depth interviews with traditional leaders, organizers, attendees, and visual documentation. The findings show that beyond the usual harvest thanksgiving celebration, the Gawai Dayak Festival is utilized as a strategic platform for demonstrating both the sustainability and the evolution of Dayak culture. The festival not only visually articulates ethnic identity through traditional clothing, dance, and music, but also embodies political and social statements that affirm Dayak presence and resistance within a context of modernization and cultural plurality. Moreover. Gawai serves as a cultural stage for negotiating values between tradition and modernity, the sacred and the commodified, and local and national identity. Thus. Dayak identity is presented not as something static or fixed concepts, but as a construct that is continuously changing, produced, and negotiated through cultural practices taking place in public space. This study contributes to advancing the theoretical understanding of cultural identity as a discursive and performative process embedded within contemporary social and political contexts. The research recommends the need to sustain such festivals due to their essential role for indigenous communities in responding to the dynamics of modernity. Further studies can be directed towards exploring the comparative dimension of this process across various indigenous cultural festivals in the regional area, to obtain a more comprehensive understanding of the construction and negotiation of cultural identity in a contemporary context. Keywords: Pekan Gawai Dayak, ethnic identity, reconstruction, modernity, public space Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perayaan Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang menjadi ruang penting dalam rekonstruksi identitas etnis Dayak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, panitia penyelenggara, serta peserta Gawai, dan dokumentasi visual. Hasil temuan menunjukkan bahwa Gawai tidak hanya dipahami sebagai bentuk syukuran atas hasil panen, tetapi juga sebagai medium strategis untuk memperlihatkan keberlanjutan sekaligus pembaruan budaya Dayak. Perayaan Gawai ini tidak hanya merepresentasikan identitas etnis secara visual melalui pakaian adat, tarian, dan musik tradisional, tetapi juga memuat pesan politik dan sosial yang menegaskan eksistensi dan resistensi Dayak di tengah arus modernisasi dan pluralitas budaya. Lebih jauh. Gawai kini berfungsi sebagai panggung budaya tempat terjadinya negosiasi nilai antara tradisi dan modernitas, antara sakralitas dan komodifikasi, serta antara lokalitas dan nasionalitas. Dengan demikian, identitas Dayak ditampilkan tidak sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai konstruksi yang terus berubah, diproduksi, dan dinegosiasikan melalui praktik budaya yang berlangsung di ruang publik. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan pemahaman teoretis mengenai identitas budaya sebagai proses diskursif dan performatif yang terikat pada konteks sosial dan politik kontemporer. Temuan penelitian ini merekomendasikan perlunya FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 keberlanjutan festival semacam ini karena memiliki peran esensial bagi komunitas adat dalam merespons dinamika modernitas. Kajian lebih lanjut dapat diarahkan pada eksplorasi dimensi komparatif dari proses tersebut pada berbagai festival budaya masyarakat adat di kawasan regional, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai konstruksi dan negosiasi identitas budaya dalam konteks kontemporer. Kata Kunci: Gawai Dayak, identitas etnis, rekonstruksi budaya, modernitas, ruang publik PENDAHULUAN Identitas budaya telah lama menjadi topik perdebatan dalam studi kebudayaan, terutama mengenai sifatnya yang dinamis dan cair. Sebagaimana dikemukakan oleh Hall . , identitas adalah konstruksi diskursif yang terus dibentuk melalui representasi, berada dalam proses becoming, bukan being. Giddens menekankan bahwa identitas dalam masyarakat modern merupakan proyek refleksif yang terus dibentuk sepanjang hidup . alam Farrugia et al. , 2. Amiot et al. mengungkapkan bagaimana identitas berubah seiring individu menghadapi migrasi dan integrasi budaya, sementara Khammag . menyoroti munculnya identitas hibrid dalam masyarakat global dan digital. Pandangan ini menggeser pemahaman esensialis tentang identitas sebagai bawaan, menekankan bahwa direproduksi melalui interaksi sosial, wacana, dan representasi. Identitas mengalami perubahan seiring dengan dinamika zaman, interaksi antarkelompok, dan pengaruh kekuasaan. Pada masyarakat multikultural dan modern seperti di Kota Sintang, identitas etnis tidak hanya diwarisi turun-temurun, dikonstruksi ulang melalui praktik-praktik budaya yang bersifat representasional. Salah satu medium utama dalam proses tersebut adalah perayaan Gawai Dayak. Sebagai sebuah bentuk perayaan budaya. Gawai Dayak merupakan contoh mengandung muatan simbolik dan politis dalam proses konstruksi identitas. Di Kota Sintang. Gawai tidak lagi sekadar upacara adat, melainkan telah berkembang menjadi festival kota yang menampilkan keberagaman dan dinamika identitas Dayak. Gawai Dayak itu sendiri telah mengalami transformasi signifikan dari ruang sakral menjadi arena publik. Kajian etnografi klasik dan sumber historis seperti tulisan Roth . dan Hose & Mdougal . memuat gambaran rinci tentang Gawai Dayak di masa lampau, yang mana Gawai adalah bagian dari keyakinan tradisional dan selalu dikaitkan dengan ritual pascapanen. Kajian etnografi modern menegaskan hal yang serupa bahwa perayaan Gawai awal merupakan upacara ritual pascapanen yang sakral sebagai sarana doa syukur kepada Jubata atau Tuhan (Syafrita & Murdiono, 2020. Bahri Pada masa kini, perayaan Gawai sudah menjadi arena publik. Elyta . menjelaskan Gawai diperankan sebagai festival budaya dan digunakan sebagai alat soft power dan daya tarik wisata Fatma Wati & Ardelia . mengkaji Gawai telah menjadi festival pluralisme budaya dan interaksi antar etnis dengan pelibatan aktif komunitas non- FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Dayak dalam proses perayaan. Perayaan Gawai melibatkan aktor-aktor beragam, mulai dari komunitas adat, pemerintah daerah, hingga pelaku industri pariwisata dan ekonomi Dalam ruang inilah, terjadi proses negosiasi identitas yang rumit antara pelestarian nilai-nilai adat dan tuntutan representasi budaya yang menarik, modern, dan komunikatif bagi khalayak Praktik-praktik seperti pemakaian busana adat, pertunjukan tarian tradisional, serta pelaksanaan ritual, tidak lagi bersifat murni seremonial, tetapi juga menjadi sarana artikulasi identitas Dayak di tengah arus homogenisasi budaya global. Fenomena ini menjadi relevan untuk dikaji karena mencerminkan bagaimana identitas budaya Dayak tidak bersifat statis, melainkan hasil dari terus-menerus dipengaruhi oleh dinamika sosial, politik, dan ekonomi. Proses rekonstruksi tersebut tidak hanya terjadi pada level simbolik, tetapi juga pada level praktik sosial, relasi kuasa, dan strategi eksistensial di ruang Ketegangan antara nilai-nilai sakral dengan logika spektakularisasi pun menjadi gejala penting yang menandai transformasi budaya ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses rekonstruksi identitas budaya Dayak terjadi dalam perayaan Gawai di Kota Sintang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami Gawai sebagai ruang representasi yang penuh dengan strategi simbolik dan negosiasi makna. Fokus utamanya adalah melihat bagaimana praktik budaya diartikulasikan ulang untuk memperkuat eksistensi etnis Dayak dalam P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 masyarakat Sintang yang semakin plural dan kompetitif secara identitas. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengeksplorasi bagaimana perayaan Gawai digunakan sebagi ruang rekonstruksi identitas bagi komunitas Dayak di Kota Sintang. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, partisipatif selama rangkaian kegiatan Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang Tahun 2025. Informan purposif, yang mencakup: tokoh adat, panitia pelaksana, dan masyarakat lokal Dokumentasi visual dan materi publikasi acara turut dikumpulkan sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan secara tematik dengan fokus pada tiga aspek rekonstruksi praktik budaya, dan afirmasi identitas melalui narasi publik. Validitas triangulasi teknik dan sumber, serta verifikasi hasil wawancara melalui member checking. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Representasi Simbolik Identitas Dayak dalam Gawai Selama kegiatan Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang, identitas Dayak secara simbolik direpresentasikan dalam berbagai dimensi. Representasi material ditunjukkan melalui bendabenda budaya yang khas seperti pakaian FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 adat dimana terdapat penggunaan kain tenun, manik-manik, dan hiasan kepala yang melambangkan status dan corak dari sub-suku Dayak tertentu. Selain itu penggunaan atribut sakral seperti mandau, perisai, dan bulu burung enggang sebagai simbol keberanian dan Motif ukiran khas Dayak seperti motif taring macan, lingkar menghiasi gapura dan panggung utama menciptakan ruang budaya yang khas. Tidak individu, simbol-simbol ini juga muncul dalam desain materi promosi dan dokumentasi acara. Observasi lapangan selama penyelenggaraan Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang memperlihatkan bagaimana simbolsimbol budaya di atas digunakan secara menegaskan identitas Dayak di ruang Berdasarkan hasil wawancara terhadap berbagai informan kunci, ditemukan bahwa Pekan Gawai Dayak di Kota Sintang tidak sekadar berfungsi Lebih dari itu. Gawai telah mengalami transformasi menjadi ruang menegaskan eksistensi dan identitas etnis masyarakat Dayak, terutama dalam konteks kehidupan urban yang sarat dengan dinamika sosial, politik, dan Penegasan tentang keberadaan Arena perayaan Gawai yang dipusatkan di rumah Betang Tampun Juah Jerora menjadi situs budaya yang strategis di mana simbol-simbol identitas P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Dayak direpresentasikan secara kolektif dan performatif. Secara kolektif, hal ini tampak melalui pelibatan aktif berbagai elemen komunitas Dayak dari berbagai sub-suku Secara performatif, prosesi Gawai disesuaikan dengan konteks urban, misalnya dengan penjelasan naratif dalam bahasa Indonesia. Selain itu, alat musik seperti sape . ecapi Daya. dan nyanyian berbahasa Dayak menguatkan identitas auditory Perayaan Gawai juga menjadi panggung dimana masyarakat Dayak tidak hanya berbicara kepada sesama komunitas internal mereka, tetapi juga menyampaikan pesan simbolik kepada audiens eksternal yang lebih luas, non-Dayak, domestik maupun mancanegara, serta para pemangku kepentingan lainnya. Dalam konteks ini. Gawai berfungsi sebagai sarana artikulasi identitas kultural yang bersifat strategis dan Salah seorang tokoh adat menyampaikan. AuGawai bukan hanya soal syukuran panen, tapi ini cara kami menunjukkan bahwa kami masih ada dan tetap menjaga budaya kami, walau sudah hidup di kota. Ay Pernyataan ini menegaskan bahwa di tengah proses urbanisasi dan integrasi sosial yang kompleks. Gawai dijadikan sebagai medium untuk memperkuat solidaritas keberadaan kultural yang tidak terhapus oleh modernitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gawai Dayak tidak hanya berfungsi sebagai ritual tradisional. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 tetapi telah bertransformasi menjadi ruang simbolik yang kompleks, dimana Dayak dalam konteks modern. Fenomena ini sejalan dengan teori Pierre Bourdieu . alam Swartz 2022: Bennett et al. tentang cultural capital, di mana simbolsimbol budaya tidak hanya menjadi warisan pasif, melainkan alat strategis untuk memperoleh pengakuan sosial dan politik. Penggunaan pakaian adat, ornamen khas, serta atribut sakral dalam Gawai masyarakat Dayak mengonversi nilainilai tradisional menjadi modal kultural yang dapat ditampilkan di ruang publik untuk memperkuat posisi mereka dalam struktur sosial yang lebih luas. Rekonstruksi Praktik Budaya melalui Gawai Gawai kini tidak lagi terikat sepenuhnya pada aturan adat yang Banyak elemen baru yang dengan kebutuhan zaman. Misalnya, tradisional dikreasikan dalam gaya yang lebih modis agar menarik bagi generasi Hal ini menunjukkan bahwa proses rekonstruksi identitas tidak bersifat regresif, melainkan adaptif dan Seorang panitia muda Gawai menyampaikan:AuKami ingin Gawai tetap menarik bagi anak muda. Kalau terlalu kaku, bisa ditinggalkan. Tapi kami tetap jaga maknanya. Transformasi ini mencerminkan bahwa identitas budaya bersifat dinamis, dibentuk secara terus-menerus melalui P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 interaksi antara generasi, teknologi, dan tuntutan sosial baru. Penelitian ini juga menemukan adanya ketegangan antara nilai-nilai sakral dan kebutuhan akan pertunjukan publik yang menarik sponsor dan Di satu sisi, ritual adat masih dilakukan, namun di sisi lain, aspekaspek yang lebih visual dan atraktif justru menjadi bagian utama dalam pertunjukan publik. Salah satu tetua adat menyatakan: AuKami takut, lama-lama Gawai hanya jadi tontonan. Maknanya hilang kalau hanya untuk objek Ay Proses rekonstruksi budaya yang terjadi dalam Gawai seperti modifikasi tarian dan pakaian adat agar lebih Anthony Giddens . alam Beck & Lau . tentang reflexive modernization, di mana tradisi tidak hilang, tetapi terus-menerus ditafsirkan ulang sesuai tuntutan zaman. Sebagaimana diungkapkan oleh Stuart Hall . alam Mercer 2021. Gilroy 2. , identitas bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dibentuk melalui proses negosiasi antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa kini. Narasi Kolektif dan Afirmasi Identitas di Ruang Publik Identitas yang dibentuk dalam Gawai tidak hanya bermakna kultural, tetapi juga mengandung dimensi politik. Beberapa momentum Gawai untuk menunjukkan kapasitas kolektif Dayak sebagai entitas sosial yang memiliki peran dalam pembangunan dan kebijakan daerah. Ini terlihat dari pidato-pidato tokoh adat FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 dan politisi lokal yang menekankan AuDayak bangkitAy. Aumelestarikan budaya sebagai kekuatan daerahAy, atau Aumembangun Sintang tanpa meninggalkan akar budayaAy. Dengan demikian. Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang bukan sekadar perayaan adat yang bernuansa ritual dan budaya, melainkan juga arena strategis dalam proyek rekonstruksi identitas. Di dalamnya, nilai-nilai, simbol, dan praktik budaya tidak hanya dipentaskan untuk melestarikan tradisi, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen politik dalam membangun posisi dan pengaruh kelompok etnis Dayak di tengah masyarakat yang majemuk. Identitas budaya diproduksi dan direproduksi melalui simbol-simbol seperti pakaian adat, tarian, musik tradisional, maupun ritual keagamaan, yang semuanya menghadirkan legitimasi sosial sekaligus menegaskan keberadaan mereka di hadapan kelompok lain. Dengan kata lain, identitas tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai sumber daya kultural yang dapat dimobilisasi untuk memperoleh pengakuan, memperkuat solidaritas internal, dan menegosiasikan relasi kuasa dalam tatanan masyarakat multikultural yang terus berubah dan berinteraksi dengan arus Gawai sebagai arena afirmasi identitas dan mobilisasi sosial sejalan dengan teori Benedict Anderson tentang imagined communities, di mana acara sekaligus menegaskan klaim atas ruang dan sumber daya. Narasi-narasi seperti "Dayak bangkit" atau "melestarikan budaya sebagai kekuatan daerah" menunjukkan bahwa identitas Dayak tidak hanya dibangun untuk kepentingan internal. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 tetapi juga sebagai alat negosiasi dalam percaturan politik lokal. James C. Scott . alam Ortner 2. juga menegaskan bahwa kelompok marginal sering menggunakan simbol-simbol budaya sebagai bentuk hidden resistance terhadap dominasi struktur kekuasaan yang lebih KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Gawai Dayak di Kota Sintang telah mengalami perluasan makna dan fungsi, dari sekadar ritus syukuran panen menjadi ruang simbolik dan politis bagi afirmasi identitas budaya masyarakat Dayak. Dalam konteks kehidupan urban yang sarat dengan perubahan sosial. Gawai menjadi menampilkan, merekonstruksi, dan Dayak secara kolektif. Dengan demikian. Gawai bukan hanya bentuk ekspresi budaya, melainkan juga alat mobilisasi sosial dan negosiasi politik. Disarankan program pendidikan budaya yang berkelanjutan untuk generasi muda Dayak agar mereka tidak hanya terlibat secara visual atau estetis dalam Gawai, tetapi juga memahami nilai-nilai filosofis dan sejarah yang melandasinya. Ini penting untuk memastikan bahwa transformasi budaya tetap berbasis pada pemahaman yang mendalam, bukan sekadar gaya. Pemerintah menjadikan Gawai sebagai bagian dari FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 berbasis budaya. Dukungan institusional sangat penting agar Gawai tidak sekadar menjadi event tahunan, tetapi menjadi platform resmi rekognisi identitas dan hak-hak budaya masyarakat Dayak. DAFTAR PUSTAKA