PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Peran Ilmu AwAt Dalam Memahami Intonasi dan Jeda Kalimat Bahasa Arab Lina Marlina 1. Pajar Abdurahman 2,Yusri Yusron 3. Halwa Nida Nur Syariah 4 UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia linamarlina@uinsgd. id , fajarabdurahman43@gmail. yusriyusron95@gmail. com , syariahalwa03@gmail. Abstract: Ilm al-AwAt, the study of Arabic phonetics and phonology, plays a crucial role in enhancing both fluency and accuracy in spoken communication. This article aims to explore the role of phonetic knowledge in understanding intonation and pause . in Arabic sentences and its contribution to the development of learnersAo communicative competence. Using a literature review approach, this study analyzes recent scholarly works on how intonation distinguishes sentence types . eclarative, interrogative, imperative, and prohibitiv. , and how strategic pauses influence meaning especially within the QurAoanic context. The findings suggest that proper control of intonation and pausing not only strengthens sentence structure but also directly affects meaning, nuance, and message clarity in Arabic discourse. Therefore, integrating the science of awAt into Arabic language instruction is essential to support the formation of comprehensive speaking skills. This study recommends that awAt be taught not merely as a technical discipline but as a pragmatic strategy for developing both linguistic and sociolinguistic competence among learners. Keywords: Ilm al-AwAt. Suprasegmental Phonology. Intonation. Pausing. Arabic Language Abstrak: Ilmu awAt, sebagai kajian fonetik dan fonologi dalam bahasa Arab, memainkan peran vital dalam menunjang kefasihan dan ketepatan komunikasi lisan. Artikel ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam bagaimana ilmu awAt berkontribusi dalam memahami intonasi dan jeda kalimat bahasa Arab, serta relevansinya dalam membentuk kompetensi komunikatif pembelajar non-Arab. Melalui pendekatan studi pustaka, dikaji sejumlah literatur terkini yang mengupas fungsi intonasi dalam membedakan jenis kalimat . habariyyah, istifhAmiyyah, amr, nah. serta peran jeda . dalam menghindari ambiguitas makna, khususnya dalam konteks Al-QurAoan. Temuan menunjukkan bahwa ketepatan dalam mengelola intonasi dan jeda tidak hanya memperkuat struktur ujaran, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap makna, nuansa, dan keberterimaan pesan dalam komunikasi Arab. Oleh karena itu, integrasi ilmu awAt dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan kebutuhan mendesak dalam mendukung pembentukan maharah kalAm yang utuh. Penelitian ini merekomendasikan agar ilmu awAt tidak hanya diajarkan secara teknis, tetapi juga dimaknai sebagai strategi pragmatis dalam membangun kompetensi linguistik dan sosiolinguistik pembelajar. Kata kunci: ilmu awAt, fonologi suprasegmental, intonasi, jeda, bahasa Arab. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pendahuluan Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa Al-Qur'an dan Al-Sunnah yang kaya dengan sistem fonologi, baik segmental maupun Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa yang memiliki sistem fonologi yang kaya dan kompleks. Dalam proses memahami bahasa ini secara utuh, seseorang perlu menguasai ilmu tentang bunyi, yang dalam tradisi linguistik Arab disebut dengan Ilmu AwAt. Kajian ini berfokus pada cara bunyi dihasilkan, didengar, dan digunakan dalam komunikasi Melalui pemahaman yang mendalam terhadap bunyi bahasa, pembelajar dapat lebih terampil dalam menyampaikan makna secara tepat dan alami. 1 Pembelajaran bahasa Arab di Indonesia cukup berkembang dan digandrungi saat ini. Namun, fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa banyak kendala yang harus dihadapi dalam proses 2 Salah satu aspek penting dalam bunyi bahasa adalah intonasi, yaitu pola naik-turunnya nada suara yang membawa nuansa makna tertentu dalam Intonasi bukan sekadar unsur ekspresif, melainkan berfungsi untuk memperjelas struktur kalimat, menandai akhir wacana, dan menunjukkan sikap 1 NiAomah Khoirotun and Salamiyah AnisaAoatus. AuIlmu Ashwat Dalam Pembelajaran Bahasa Arab,Ay Humanis. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol 16 No1, no. Vol 16 No 1 . Januari . 36Ae49, http://w. id/index. php/Humanis/article/ view/5729. 2 Lina Marlina. AuAnalisis Kontrastif Fonologi Bahasa Arab Dan Bahasa Indonesia Dalam Pembelajaran Pidato Bahasa Arab Pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Uin Sunan Gunung Djati Bandung (Contrastive Analysis of Arabic and Indonesian Language Phonology in Arabic Speech,Ay Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa . https://doi. org/10. 26499/metalingua. 3 Selain itu, jeda atau waqf dalam bahasa Arab memegang peran kunci dalam memperjelas batas makna. Ketepatan dalam menempatkan jeda dapat memengaruhi pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara, terutama dalam konteks formal seperti membaca Al-QurAoan atau pidato. Dengan demikian, keterampilan memahami intonasi dan jeda tidak bisa dilepaskan dari penguasaan Ilmu AwAt. Pengabaian terhadap aspek ini dapat menyebabkan penyampaian makna menjadi rancu, bahkan salah tafsir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peran strategis Ilmu AwAt dalam mengembangkan kemampuan memahami intonasi dan jeda kalimat bahasa Arab secara akurat dan bermakna. Dalam komunikasi lisan, intonasi . dan jeda . memegang peranan penting karena dapat mengubah makna kalimat secara signifikan. Contoh klasik dalam bahasa Arab adalah perbedaan makna kalimat akibat jeda: AEI IO EOAJika jeda di AIeIA Jika jeda di A IeIOAkepala sekolahnya yang baru. Dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua, aspek ini kerap Fokus pengajaran sering terbatas pada nahwu dan sharaf, sementara aspek prosodi kurang mendapatkan porsi Padahal ilmu awAt menawarkan perangkat analisis untuk memahami dan mengajarkan intonasi dan jeda dengan Artikel ini mengkaji peran ilmu awAt dalam mendukung pemahaman tersebut, dengan tujuan memberikan kontribusi pada bidang pengajaran bahasa Arab. Viqri Aditya et al. AuAl Waraqah:,Ay AL WARAQAH: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab 5, 2 . : 45Ae52. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Rumusan Masalah Bagaimana peran ilmu awAt dalam memahami intonasi dalam kalimat bahasa Arab? Bagaimana pengaruh jeda . terhadap makna komunikasi bahasa Arab? Sejauh mana kontribusi ilmu awAt komunikatif pembelajar bahasa Arab? Tujuan penelitin Menganalisis peran ilmu awAt dalam memahami unsur intonasi dalam bahasa Arab. Mengkaji pengaruh jeda kalimat . terhadap interpretasi makna dalam komunikasi lisan bahasa Arab. Menjelaskan kontribusi ilmu awAt terhadap peningkatan keterampilan berbicara . aharah kalA. dan kompetensi komunikatif pembelajar bahasa Arab, terutama di Indonesia. Metode Artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan sumber primer berupa buku ilmu awAt, fonologi Arab, dan artikel jurnal nasional maupun internasional terkait fonologi suprasegmental. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan pendekatan teoritis untuk mensintesiskan peran ilmu awAt dalam memahami intonasi dan jeda. Pembahasan Hakikat Ilmu AwAt dalam Linguistik Arab Ilmu AwAt merupakan bagian dari linguistik yang membahas bunyi bahasa secara sistematis, baik secara artikulatoris maupun akustik. Dalam konteks bahasa Arab, ilmu ini tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan cara pengucapan fonem secara benar, tetapi juga memuat aspek suprasegmental seperti tekanan . , jeda . , dan intonasi . ntonAsiyA). 4Fungsi utama ilmu awAt adalah sebagai landasan bagi keterampilan kebahasaan lainnya, terutama maharah kalAm . dan maharah istimA . , yang keduanya sangat bergantung pada ketepatan pengucapan dan kejelasan struktur suara. Dalam pengajaran bahasa Arab, banyak pendidik yang menekankan nahwu dan sharaf, tetapi melupakan pelatihan fonetik secara sistematis. Padahal, ketepatan dalam membedakan bunyi /s/ dan /e/, atau antara /s/ dan //, sangat memengaruhi makna. 5 Artinya. Ilmu AwAt tidak bisa diabaikan jika ingin membentuk kompetensi kebahasaan yang utuh. Intonasi dan Fungsinya dalam Kalimat Bahasa Arab Intonasi merupakan unsur prosodik yang berperan penting dalam pembentukan makna ujaran. Dalam fonologi, intonasi didefinisikan sebagai variasi tinggirendahnya nada suara . dalam suatu memengaruhi struktur makna dan jenis Dalam bahasa Arab, intonasi memiliki fungsi linguistik dan pragmatik, yaitu sebagai penanda jenis kalimat, ekspresi emosi, serta sebagai indikator struktur sintaksis ujaran Secara umum, terdapat empat bentuk dasar fungsi intonasi dalam kalimat bahasa Arab, yaitu: Kalimat Berita (Jumlah Khabariyya. Diakhiri dengan intonasi menurun sebagai penanda informasi atau Kalimat Tanya (Jumlah IstifhAmiyya. Mengandung intonasi naik di akhir kalimat, terutama pada pertanyaan ya/tidak . es-no questio. Kalimat Perintah (Jumlah Amriyya. Biasanya diucapkan dengan nada tinggi 4 NiAomah Khoirotun and Salamiyah AnisaAoatus. AuIlmu Ashwat Dalam Pembelajaran Bahasa Arab. Ay 5 Aditya et al. AuAl Waraqah:Ay PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 pada bagian awal dan menurun di akhir, menandakan penegasan. Kalimat Larangan (Jumlah Nah. Memiliki pola tekanan emosional dengan nada sedang ke tinggi, terutama pada ekspresi larangan yang tegas. Contonya A NaeaNaaeeua EaOeEcaOCaAKalimat tersebut secara struktur merupakan kalimat tanya . stifhAmiyya. , sehingga secara fonetik harus diucapkan dengan pola intonasi naik di akhir. Jika dibaca datar atau menurun, maka akan terdengar sebagai membingungkan pendengar. Hal ini sejalan dengan teori Gussenhoven . yang menyatakan bahwa intonasi merupakan perangkat penting dalam komunikasi manusia yang dapat AumengisyaratkanAy fungsi sintaksis dan Dalam pembelajaran bahasa Arab, intonasi menjadi aspek suprasegmental yang wajib dilatihkan agar siswa mampu membedakan jenis kalimat secara oral dengan benar. Lebih lanjut, dalam komunikasi interpersonal, intonasi juga berfungsi sebagai penanda sikap . ttitudinal functio. dan penekanan makna . mphatic functio. Intonasi yang naik drastis bisa menandakan keterkejutan, keraguan, atau antisipasi, sedangkan 6 Aditya et al. MUHAMMAD AFIF AMRULLOH, AuFONOLOGI BAHASA ARAB (Tinjauan Deskriptif Fonem Bahasa Ara. ,Ay Jurnal Al Bayan: Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab . https://doi. org/10. 24042/albayan. IRZA HIDAYATULLOH, Suparmanto Suparmanto, and Moh Nasikin. AuStrategi Pembelajaran Bahasa Arab Al-Ashwat Di Dalam Meningkatkan Keterampilan Menyimak Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Mataram,Ay AlMuAoArrib: Journal of Arabic Education 3, no. : 24Ae31, https://doi. org/10. 32923/almuarrib. intonasi turun secara perlahan dapat menunjukkan ketenangan, kepastian, atau akhir ide. Dalam interaksi sehari-hari, intonasi juga menjadi pembeda antara ungkapan ramah dan nada marah, meskipun kata-katanya sama. Maka, kemampuan menggunakan intonasi dengan tepat mencerminkan kecakapan berbahasa yang komunikatif dan kontekstual. Jeda Kalimat (Waq. dan Implikasinya Terhadap Makna Dalam kajian ilmu awAt, jeda atau waqf merupakan salah satu aspek suprasegmental yang memiliki fungsi signifikan dalam ujaran, khususnya dalam bahasa Arab. Jeda tidak sekadar menjadi tempat bernapas atau istirahat fisiologis dalam pembacaan teks, tetapi juga menjadi penting dalam pemahaman makna kalimat. Dengan kata lain, jeda merupakan elemen prosodik yang memengaruhi interpretasi sintaksis dan semantik suatu ujaran. Dalam konteks bahasa Arab klasik, khususnya pembacaan Al-QurAoan, ilmu tajwd memberikan perhatian khusus terhadap jeda dengan menetapkan berbagai macam kategori waqf yang memiliki aturan Jenis-jenis waqf seperti waqf kAmil . erhenti sempurn. , waqf jAAoiz . erhenti yang diperbolehka. , dan waqf lA yajz . erhenti yang tidak diperbolehka. tidak hanya mempengaruhi keindahan pelafalan, tetapi juga berdampak pada makna yang disampaikan. 10 Oleh karena itu, memahami jeda bukan hanya penting dalam aspek fonetik, tetapi juga krusial dalam Delmadji Abdelkader. AuPhonological Manifestations Resulting of the Phenomenon of Waqf in the Recitation of the Qur Ao AnAy 7, no. 11Ae15, https://doi. org/10. 11648/j. 10 Nuril Mufidah. AuMetode Pembelajaran AlAshwat,Ay Al MahAra: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab 4, no. : 199Ae218, https://doi. org/10. 14421/almahara. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 memahami isi pesan secara utuh. Sebagai Al-QurAoan: eAOe aa OIA e aea AIA AuA Jika . setelah kata AOA e a, maka akan terjadi pemisahan makna dari sifat eA aa OIAyang juga merupakan bagian dari deskripsi sifat Allah. Hal ini dapat menyebabkan penurunan makna semantik ayat, karena kesan keutuhannya hilang. Dalam hal ini, waqf yang tidak sesuai berpotensi menimbulkan pemahaman pesan ilahi. Dalam komunikasi lisan sehari-hari, jeda memiliki fungsi pragmatik dan retorik. Salah penempatan jeda dapat menyebabkan ambiguitas makna atau bahkan kesalahpahaman. Misalnya. Ae eINA AEEA AEA ACEA Jika setelah aeAEA, maka struktur kalimat menjadi ambigu, karena bisa diartikan bahwa Ausang guru berkataAy, atau justru Auguru adalah siswa yang rajinAy. Maka dari itu, kontrol terhadap jeda menjadi bagian penting dalam kompetensi fonetik dan Hal ini diperkuat oleh penelitian Wahyuni, yang menyatakan bahwa kesalahan dalam penempatan jeda dalam ujaran bahasa Arab dapat memengaruhi keberterimaan ujaran di kalangan penutur 11 Bahkan dalam konteks pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing (Taf. , pelatihan waqf menjadi bagian integral Sejalan dengan itu. Gibbon menyebut jeda sebagai Aupause unitsAy yang tidak hanya berfungsi sebagai penanda prosodi, tetapi juga memiliki efek linguistik terhadap pemrosesan informasi dalam Jeda yang tidak tepat dapat menyebabkan cognitive break pada Iswah Adriana. AuALQURAN MENURUT TINJAUAN FONOLOGI ARAB Iswah Adriana Abstract :,Ay Okara 1 . : 57Ae84. pendengar, mengganggu kohesi makna dan menyebabkan disorientasi wacana. Oleh karena itu, pembelajaran mengenai jeda kalimat tidak dapat dipisahkan dari pelatihan intonasi dan ritme dalam pengajaran bahasa Arab. Ketiganya membentuk komponen prosodik yang mendasari pemahaman dan produksi bahasa secara komprehensif. Dalam desain kurikulum pengajaran ilmu awAt, perlu ditekankan bahwa penguasaan waqf akan memperkuat kompetensi fonetik, retorik, dan bahkan pemahaman tafsiriyah dalam konteks keislaman. Peran Ilmu AwAt dalam Pembentukan Kompetensi Komunikatif Ilmu awAt, sebagai cabang linguistik fonetik dan fonologi dalam bahasa Arab, memiliki peranan yang sangat strategis dalam pembentukan kompetensi komunikatif siswa. Kompetensi komunikatif tidak hanya mencakup kemampuan menyusun kalimat secara gramatikal, melainkan juga keterampilan dalam melafalkan bunyi dengan benar, mengatur intonasi secara tepat, dan menempatkan jeda secara wajar sesuai konteks ujaran. 13 Oleh karena itu, ilmu awAt menjadi landasan utama dalam . aharah kalA. yang efektif. Peserta didik yang mendapatkan pelatihan fonetik Arab secara intensif menunjukkan peningkatan yang signifikan aspek pronunsiasi huruf, terutama dalam pelafalan huruf-huruf makhrajiyyah yang rumit seperti /ayn/, 12 Mohd Mustaffami Imas et al. AuWaqaf in Surah Al-Fatihah : A Comparison among Authoritative Texts on Waqaf and Ibtida,Ay no. 3420Ae24, https://doi. org/10. 6007/IJARBSS/v14i12/24325. 13 Lina Marlina. Pengantar Ilmu Ashwat. Fajar Media Bandung, http://digilib. id/30539/1/PENGANT AR ILMU ASHWAT. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 /uA/, dan /A/. Pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kejelasan artikulasi, tetapi juga memberikan rasa percaya diri siswa dalam menggunakan bahasa Arab secara lisan. Lebih mengelola intonasi dan jeda juga membantu siswa dalam membedakan jenis kalimat . eperti perintah, tanya, larangan, atau berit. , serta menyesuaikan nada bicara dengan sikap komunikatif yang tepat. Hal ini sangat penting dalam situasi percakapan nyata, baik formal maupun informal. Sebagai contoh, penggunaan intonasi menaik pada akhir kalimat dalam pertanyaan terbuka . A NaeaNaaeua EaOe aIEakan memberikan efek komunikasi yang berbeda jika dibandingkan dengan intonasi datar atau menurun, yang justru dapat menimbulkan kesan sebagai Dari sisi pedagogik, pendekatan fonetik dalam pengajaran bahasa Arab memungkinkan guru untuk memberikan umpan balik langsung terhadap kesalahan pelafalan dan membantu siswa menyesuaikan artikulasi melalui latihan makhArij al-uurf dan ifAt al-uurf. Misalnya, pelafalan antara huruf AA e dan ayang tampak serupa bagi pelajar Indonesia, dapat dilatih secara sistematis melalui pendekatan ilmu awAt yang berbasis simulasi bunyi dan cermin Penelitian oleh Mulyadi dan Akbar mengungkapkan bahwa integrasi ilmu awAt dalam kurikulum pengajaran bahasa Arab terbukti efektif dalam membangun mempercepat pencapaian kelancaran Amriani Amriani and Hardianto Rahman. AuPengaruh Ilmu Ashwat Terhadap Keterampilan Berbicara Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Di Iaim Sinjai,Ay Jurnal Naskhi: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Bahasa Arab 2, no. 25Ae32, https://doi. org/10. 47435/naskhi. 15 Bahkan, siswa yang sudah terbiasa dengan latihan intonasi dan jeda cenderung mampu menyampaikan ideidenya dengan runtut dan mudah dipahami oleh lawan bicara. Kompetensi komunikatif yang dibangun melalui ilmu awAt juga mencakup dimensi kontekstual dan sosiolinguistik, seperti kemampuan menyesuaikan nada suara dengan situasi formal atau informal, berbicara dengan sikap yang sopan . aAoabbu. , dan memperhatikan norma percakapan dalam budaya Arab. Oleh karena itu, ilmu awAt bukan hanya ilmu teknis tentang bunyi, tetapi juga membentuk keterampilan pragmatis dan etika komunikasi. Dengan demikian, penguasaan ilmu awAt menjadi pra-syarat mutlak dalam penguasaan berbicara bahasa Arab yang benar, bermakna, dan berterima. Tanpa pemahaman yang baik terhadap aspek fonetik dan prosodik, kemampuan berbicara siswa hanya akan bersifat mekanis, tidak kesalahpahaman makna. Implikasi terhadap Pengajaran Bahasa Arab Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditegaskan bahwa Ilmu AwAt harus mendapat tempat dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab, baik di tingkat dasar maupun lanjutan. Penggunaan pendekatan prosodik dalam pengajaran . ntonasi dan jed. dapat dimasukkan ke dalam metode latihan dialog, membaca puisi Arab, serta pelatihan membaca AlQurAoan. Model mengintegrasikan ilmu awAt dengan pendekatan komunikatif terbukti lebih efektif dalam membentuk kebiasaan pelafalan yang benar, intonasi ekspresif. Analisis dan Implikasi Linguistik 15 Mufidah. AuMetode Pembelajaran Al-Ashwat. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Dari pembahasan yang telah dipaparkan, dapat dianalisis bahwa ilmu awAt memiliki pengaruh langsung terhadap akurasi fonologis dan efektivitas komunikasi dalam bahasa Arab. Intonasi bukan hanya bagian dari keindahan retorika lisan, tetapi juga menjadi penentu fungsi kalimat. Sementara jeda . memainkan peran pragmatis dalam membingkai makna. Ketidaktahuan terhadap keduanya dapat menyebabkan perubahan makna secara drastis, bahkan dalam konteks ibadah seperti tilawah Al-QurAoan. Dari segi pedagogik, kurangnya perhatian terhadap ilmu awAt dalam kurikulum pengajaran bahasa Arab berpotensi menimbulkan kesenjangan antara penguasaan gramatikal dan keterampilan lisan. Dengan kata lain, seorang siswa bisa saja menguasai nahwu dan sharaf secara teori, tetapi gagal dalam menyampaikan pesan secara fasih dan Implikasinya, pembelajaran ilmu awAt harus diposisikan sebagai bagian inti pengajaran maharah kalAm . eterampilan berbicar. , bukan hanya sebagai pengantar tajwid. Guru bahasa Arab perlu mengintegrasikan latihan intonasi dan jeda dalam pembelajaran kelas secara eksplisit, bahkan sejak tahap pemula. Kesimpulan Ilmu awAt berperan vital dalam membantu pemahaman intonasi dan jeda Arab. Fonologi suprasegmental tidak hanya mendukung keindahan pelafalan, tetapi juga mencegah kesalahan makna dalam komunikasi. Pemanfaatan ilmu ini dalam pembelajaran bahasa Arab sangat diperlukan untuk meningkatkan kompetensi lisan peserta pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua di Indonesia. Ilmu awAt bukan sekadar telaah teoretis tentang bunyi bahasa Arab, melainkan pilar utama dalam membangun kompetensi komunikatif yang utuh dan bermakna. Pemahaman terhadap intonasi dan jeda kalimat tidak hanya menentukan kejelasan bunyi, tetapi juga menjadi penentu utama dalam pemaknaan pesan, penghindaran ambiguitas, serta penyesuaian sikap dalam interaksi lisan. Dari pembahasan yang telah diuraikan, jelas bahwa integrasi ilmu awAt dalam proses pembelajaran bahasa Arab memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pelafalan yang tepat, intonasi yang kontekstual, dan penempatan jeda yang logis semuanya merupakan komponen esensial dalam komunikasi yang efektif dan Lebih dari itu, ilmu awAt juga jembatan antara kompetensi linguistik dan kompetensi pragmatik, menjadikannya bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga seni dalam meresapi ruh bahasa Arab. Maka, membekali pelajar dengan ilmu awAt ibarat memberikan kompas untuk menavigasi samudra komunikasi Arab secara jernih, fasih, dan bermartabat. Daftar Pustaka