Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi https://journal. id/index. php/psikosains MENGURAI KONFLIK DENGAN MERTUA: PERAN HARDINESS TERHADAP STRES LINGKUNGAN PADA MENANTU PEREMPUAN Santi Nurhusaini1. Rahmad Purnama2. Khoiriyah Ulfah3 1,2,3 Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama. UIN Raden Intan Lampung Article Info Article History Submitted: 21th April Final Revised: 11th August 2025 Accepted: August 2025 This is an open access article under the CC-BY-SA license Copyright A 2024 by Author. Published by Universitas Muhammadiyah Gresik Abstract Background: Couples who live with parents . n-law. have various dynamics in family life such as interpersonal conflict between daughters-in-law and in-laws. Interpersonal conflict can have a significant impact on the level of environmental stress experienced in the household environment, especially in daughters-in-law. So that the daughter-in-law needs considerable psychological resilience in dealing with the perceived environmental stress. Objective: This study aims to determine the relationship between interpersonal conflict of daughters-in-law on in-laws and hardiness on environmental stress. Method: This study used a quantitative correlational method with variance-based analysis techniques (Partial Least Squar. and processed using Structural Equation Modeling (SEM). In this study there was a research sample of 326 daughters-in-law who lived with in-laws who were selected using purposive sampling techniques with research participant criteria such as age, education, length of marriage, and length of stay with in-laws. The instruments in the study consisted of environmental stress, interpersonal conflict, and hardiness scales. Result: The results showed that hardiness has a significant positive effect on environmental stress and interpersonal conflict also has a significant effect on environmental stress. Conclusion: The results of this study indicate that people with higher levels of hardiness tend to be better at dealing with environmental stress as a challenge. Conversely, high interpersonal conflict can increase environmental stress, so high resilience ability is needed to cope with the pressure that arises from interpersonal conflict. Keywords: Interpersonal Conflict. Hardiness. Environmental Stress. Daughterin-law. In-laws Abstrak Latar Belakang: Pasangan yang tinggal bersama orang tua . memiliki berbagai dinamika dalam kehidupan keluarga seperti adanya konflik interpersonal antara menantu perempuan dan mertua. Konflik interpersonal dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap tingkat stres lingkungan yang dialami dalam lingkungan rumah tangga khususnya pada menantu Sehingga pada menantu perempuan membutuhkan ketangguhan psikologis yang cukup besar dalam menghadapi stres lingkungan yang Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik interpersonal menantu perempuan pada mertua dan hardiness terhadap stres lingkungan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode korelasional kuantitatif dengan teknik analisis berbasis variance (Partial Least Squar. 4 dan diolah menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Pada penelitian ini terdapat sampel penelitian sebanyak 326 menantu perempuan yang tinggal bersama mertua yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria partisipan penelitian yaitu seperti berdasarkan usia, pendidikan, lama menikah, dan lama tinggal bersama mertua. Instrumen pada penelitian terdiri dari skala stres lingkungan, konflik Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 137-150 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 interpersonal, dan hardiness. Hasil: Hasil penelitian melihatkan bahwa hardiness memiliki pengaruh positif signifikan terhadap stres lingkungan serta konflik interpersonal juga memiliki pengaruh signifikan terhadap stres Kesimpulan: Pada hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa seseorang dengan tingkat hardiness yang lebih tinggi cenderung lebih baik dalam menghadapi stres lingkungan sebagai tantangan. Sebaliknya, konflik interpersonal yang tinggi dapat meningkatkan stres lingkungan, sehingga diperlukan kemampuan ketangguhan yang tinggi untuk mengatasi tekanan yang muncul dari konflik interpersonal. Kata Kunci: Konflik Interpersonal. Hardiness. Stres Lingkungan. Menantu Perempuan. Mertua *email: nurhusainisnti@gmail. Psikologi Islam. UIN Raden Intan Lampung Jl. Letkol H. Endro Suratmin. Sukarame. Kota Bandarlampung. Lampung. PENDAHULUAN Pernikahan merupakan perjanjian suci seorang pria dan seorang wanita yang, sesuai dengan hukum negara dan agama, secara resmi melangsungkan pernikahan mereka. Bab 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 AuPerkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga . umah tangg. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,Ay Demikian bunyi pada pasal 1, selain itu, pernikahan juga bertujuan untuk mencapai status sosial sebagai lambang kehormatan dan untuk mendukung interaksi yang menjaga reputasi keluarga yang terhormat, dengan mendasari proses pernikahan tersebut (Suhadi, 2. Stres adalah aspek yang tak terhindarkan bagi kehidupan sehari-hari menantu perempuan yang harus menghadapi berbagai kewajiban dan tuntutan. Salah satu karakteristik yang sering dialami oleh banyak orang, terutama menantu perempuan, adalah stres lingkungan. Menurut Hardjana . , stres lingkungan adalah suatu keadaan dimana suatu stimulus dari lingkungan sekitar dapat dipandang sebagai stressor, atau faktor yang memberikan tekanan psikologis pada individu. Stres lingkungan merupakan tiga sudut pandang mengenai stres, yaitu stres sebagai proses, stres sebagai reaksi atau respons, dan stres sebagai pemicu stres yang didasarkan pada proses input-process-output dan mengaplikasikannya dalam lingkungan. Menurut Iskandar . faktor-faktor di lingkungan sekitar individu memberikan rangsangan yang bisa diinterpretasikan sebagai penyebab stimulus atau stres sehingga dapat menghasilkan tuntutan terhadap individu Bagi menantu perempuan yang tinggal bersama mertua, stres lingkungan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masalah finansial, beban pekerjaan rumah, peran ganda sebagai ibu dan pekerja, serta konflik interpersonal dengan anggota keluarga lainnya (Krishnakumar, 2. Salah satu bentuk stres lingkungan yang signifikan adalah konflik antarpribadi, khususnya pada menantu perempuan dan mertua, sehingga seringkali kejadian konflik akibatnya perbedaan budaya, nilai, serta ekspektasi antar individu (Basu, 2. Sehingga setiap pasangan ingin memiliki keluarga yang harmonis terhadap antar keluarga, orangtua . dan anggota keluarga lainnya. Namun tidak memungkinkan jika didalam keluarga tidak adanya konflik, terlebih lagi jika pasangan yang sudah menikah tetapi masih tinggal bersama orangtua pasangannya. Menantu perempuan yang tinggal bersama orang tua pasangannya dapat menimbulkan perbedaan seperti cara pandang, pendapat, pola pikir, dan kepentingan, yang dapat menimbulkan konflik, terutama jika menantu dan mertua memiliki latar belakang suku, etnis, dan budaya yang berbeda. Konflik juga dapat terjadi karena sindir-sindiran Mengurai Konflik dengan Mertua: Peran Hardiness Terhadap Stres Lingkungan pada Menantu Perempuan Santi Nurhusaini. Rahmad Purnama. Khoiriyah Ulfah seperti mengatakan kata-kata kasar yang diucapkan pada mertua maupun menantu perempuan (Winbaktianur, 2. Meskipun diskusi pada sekelompok cenderung berpusat pada konflik, ada juga hubungan positif antara mertua dan menantu perempuan. Menurut sebuah penelitian oleh Utah State University, 60% pasangan yang sudah menikah mengatakan bahwa mereka memiliki masalah dengan mertua mereka, terutama hubungan mertua dan menantu perempuan. Di Indonesia dan budaya lainnya, konflik pada menantu perempuan terhadap mertua adalah hal dalam kehidupan yang biasa terjadi dalam hubungan keluarga. Kesehatan psikologis mereka yang terlibat dapat terpengaruh oleh konflik ini, terutama perempuan yang sering kali harus menyeimbangkan antara mengurus rumah tangga dan menjaga hubungan dengan keluarga besar (Rahman, 2. Dalam situasi ini, sehingga dalam mengelola stres yang ditimbulkan oleh konflik interpersonal membutuhkan hardiness yang tinggi (Lestari, 2. Adapun faktor internal yang dapat mempengaruhi stress lingkungan yaitu hardiness atau Auketangguhan psikologisAy sangat penting dalam mengatasi tekanan lingkungan. Menurut Kobasa . Hardiness adalah kualitas atau atribut kepribadian yang berfungsi untuk mekanisme pertahanan dalam upaya mengatasi stres, sehingga seseorang dapat lebih kuat, tahan, dan stabil ketika menghadapi tekanan di lingkungan mereka. Namun, hardiness juga dapat berpotensi menyebabkan stres negatif (Oktavia, 2. Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan yang muncul saat menantu perempuan dan mertua mengalami konflik, diperlukan hardiness dalam merespons masalah terkait stres lingkungan yang dihadapi. Hardiness bisa merubah stressor negatif menjadi positif, dengan cara memandang stressor sebagai tantangan. Terdapat tiga aspek dalam kepribadian hardiness, yaitu challenge, control. Hardiness memiliki fungsi untuk memahami suasana yang dapat menyebabkan stress (Kobasa, 1. Hardiness mengacu pada ketahanan individu yang mencakup sikap, pola pikir, dan strategi untuk mengelola stres dengan efektif serta melihat tantangan sebagai peluang untuk pertumbuhan pribadi (Jusoh, 2. Penelitian menyebutkan bahwa ketidakharmonisan yang diakibatkan oleh konflik ini dapat berdampak pada kualitas hubungan pasangan suami istri, serta hubungan antara orangtua pada anak (Hafidz, 2. Dengan demikian, hardiness bukan hanya penting bagi menantu perempuan dalam mengelola konfliknya dengan mertua, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan keluarga. Terdapat beberapa studi sebelumnya yang dilakukan oleh Rahayuningsih dkk . dengan hasil temuan didapatkan bahwa alasan pasangan yang sudah menikah dan masih tinggal bersama orangtua . meliputi ketidakstabilan finansial, suami adalah anak tunggal atau anak bungsu, serta alasan pekerjaan. Menurut Zahrakar dkk . bahwa hasil temuan menunjukkan adanya konflik yang dialami disebabkan oleh ketidakpedulian, penghinaan, diskriminasi, serta konteks budaya yang berbeda. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh (Winbaktianur, 2. menurut temuan penelitian, konflik interpersonal antara menantu perempuan dan ibu mertua yang tinggal serumah dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti fitnah dan sindiran yang dilakukan mertua atau menantu perempuan dengan menggunakan bahasa yang kasar. Selanjutnya studi yang dilakukan oleh Yasmin dkk . dengan hasil temuan bahwa orang mengalami lebih banyak stres jika semakin banyak konflik peran ganda yang mereka alami. Pada pemaparan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam terkait AyHubungan antara Konflik Interpersonal menantu perempuan pada Mertua dan Hardiness terhadap Stres LingkunganAy. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 137-150 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Karena pada dasarnya stres lingkungan, yang dapat dipengaruhi yaitu berupa konflik interpersonal dalam rumah tangga, yaitu sebuah masalah yang sering dihadapi oleh masyarakat modern. Konflik interpersonal antara menantu perempuan dan mertua, sebagai contoh, dapat memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup individu dan keluarga. Pada penelitian ini mempunyai perbedaan terhadap penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahayuningsih dkk . yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif sedangkan pada penelitian ini menggunakan metode penelitian METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kuantitatif korelasional. Dengan menguji hubungan antar variabel adalah tujuan dari penelitian korelasional (Creswell, 2. Pada penelitian ini terdapat dua variabel independen yaitu konflik interpersonal dan hardiness dan satu variabel dependen yaitu stres lingkungan dalam penelitian ini. Partisipan Penelitian Partisipan dalam penelitian ini yaitu menantu perempuan yang mempunyai konflik dengan mertua, pada penelitian ini purposive sampling adalah teknik yang digunakan untuk memilih partisipan penelitian dengan kriteria partisipan penelitian yaitu seperti berdasarkan usia, pendidikan, lama menikah, dan lama tinggal bersama mertua. Pada bulan November 2024, didapatkan hasil responden yang mengisi instrument penelitian yaitu sebanyak 326 responden. Teknik Pengumpulan Data Skala yang digunakan pada peneliti dalam penelitian ini adalah skala stres lingkungan. Dimana pertanyaan pertanyaan disusun dengan menggunakan skala likert 1 - 4 dengan jumlah pernyataan sebanyak 30 pernyataan dan 4 indikator dalam variabel stres lingkungan setelah dilakukan uji coba terdapat 10 pernyataan yang gugur, sehingga dalam penelitian ini digunakan 20 pernyataan dan 4 indikator dalam variabel stres lingkungan. Penyusunan pertanyaan kuesioner mengacu pada aspek dari teori stres lingkungan oleh Hardjana . Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan peneliti terhadap 326 responden, stres lingkungan memiliki nilai koefisien cronbach's alpha sebesar 0,920 yang menunjukkan bahwa variabel stres lingkungan dalam penelitian ini yang dianggap reliabel. Skala konflik interpersonal. Item kuesioner konflik interpersonal mengadaptasi dari teori Hocker . yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya yaitu (Melia, 2. Indikator pertanyaan kuesioner dalam variabel konflik interpersonal berjumlah 25 pertanyaan dan 5 indikator dengan skala yang digunakan yaitu skala likert 1-4. Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan peneliti terhadap 326 responden, konflik interpersonal memiliki nilai koefisien cronbach's alpha sebesar 0,935 yang menunjukkan bahwa variabel konflik interpersonal dalam penelitian ini yang dianggap reliabel. Skala hardiness, item kuesioner hardiness mengadaptasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Purbo dkk . dengan skala yang digunakan yaitu skala likert 1-4 dengan pernyataan sebanyak 18 item setelah uji coba dilakukan terdapat 6 item yang gugur sehingga pada penelitian ini terdapat 12 item yang digunakan. Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan peneliti terhadap 326 responden, hardiness memiliki nilai koefisien cronbach's alpha sebesar 0,840 yang menunjukkan bahwa variabel hardiness dalam penelitian ini yang dianggap reliabel. Sehingga skala stres lingkungan, konflik dan hardiness secara bersamaan diberikan secara online menggunakan platform google form kepada menantu perempuan yang memiliki konflik dengan mertua yang terdiri dari seluruh wilayah di Indonesia, pada bulan Oktober-November 2024 secara online. Mengurai Konflik dengan Mertua: Peran Hardiness Terhadap Stres Lingkungan pada Menantu Perempuan Santi Nurhusaini. Rahmad Purnama. Khoiriyah Ulfah Teknik Analisis Data Program Structural Equation Modelling (SEM) berbasis variance (Partial Least Squar. 4 digunakan untuk memproses teknik analisis dalam penelitian ini. Smart PLS memiliki dua tahap pengujian yaitu uji struktural inner model/model structural dan uji model pengukuran outer model . odel pengukura. Validitas diskriminan adalah uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini. Menurut Hair et al. , . , indikator dianggap valid secara diskriminan jika reliabilitas (CR), rho_A, dan kriteria Fornel-Lacker semuanya lebih besar dari 0,7 dan kurang dari 1,00 untuk validitas yang dapat diterima. Untuk memastikan sampel kuat dalam menjelaskan model, uji koefisien determinasi juga dilakukan. Sampel dianggap mampu untuk pengujian hipotesis dilakukan dengan metode Hipotesis diterima jika nilai t-statistik (T) lebih dari 1,96 dan nilai probabilitas (P) kurang dari 0,05. (Sarstedt dkk, 2. HASIL Data yang didapatkan pada penelitian ini dengan partisipan yaitu menantu perempuan yang mempunyai konflik dengan mertua, dengan menggunakan teknik purposive sampling yang digunakan untuk memilih partisipan penelitian dengan kriteria partisipan penelitian yaitu seperti berdasarkan usia, pendidikan, lama menikah, dan lama tinggal bersama mertua. Pada bulan November 2024, didapatkan hasil responden yang mengisi instrument penelitian yaitu sebanyak 326 responden. Berikut adalah gambaran umum dari subjek pada penelitian ini: N= 326 Tabel 1. Subjek berdasarkan usia No. Usia Persentase % Total Berdasarkan hasil analisis subjek berdasarkan usia dapat diketahui bahwa responden usia 21-30 tahun memiliki persentasi tinggi yaitu 52,1% sedangkan paling rendah yaitu usia 45-54 tahun dengan persentase 13,1%. Tabel 2. Subjek berdasarkan Pendidikan No. Pendidikan SMP SMA Persentase Total Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 137-150 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Berdasarkan hasil analisis subjek berdasarkan kriteria pendidikan paling tinggi yaitu Pendidikan SMA yang memiliki persentase 46% dan paling rendah yaitu tingkat Pendidikan D3 yang memiliki persentase 9,2%. Tabel 3. Subjek berdasarkan lama menikah No. Lama 3-5 Tahun 6-10 Tahun Persentase % Total Berdasarkan hasil analisis subjek berdasarkan karakteristrik lama menikah memiliki persentase paling tinggi yaitu 3-5 tahun yaitu 53,3% dibandingkan dengan lama menikah 6-10 tahun dengan persentase 46,6%. Tabel 4. Subjek berdasarkan lama tinggal bersama mertua No. Lama tinggal Bersama 3-5 Tahun 6-10 Tahun Persentase % Total Berdasarkan hasil analisis subjek berdasarkan karakteristik lama tinggal tinggal bersama mertua memiliki persentase paling tinggi yaitu 3-5 tahun yaitu 61,3% dibandingkan dengan lama tinggal bersama mertua 6-10 tahun dengan persentase 38,6%. Outer model . easurement mode. outer model atau . easurement mode. dilakukan menggunakan aplikasi SmartPLS 4. outer model dapat dilihat pada gambar 1 Mengurai Konflik dengan Mertua: Peran Hardiness Terhadap Stres Lingkungan pada Menantu Perempuan Santi Nurhusaini. Rahmad Purnama. Khoiriyah Ulfah Gambar 1 Output PLS Algorithm Model Keseluruhan Model pengukuran pada penelitian ini yaitu terdiri dari model pengukuran reflektif dimana pada variabel stres lingkungan, konflik interpersonal dan hardiness diukur secara reflektif. Dalam Hair et al, . indikator dinyatakan valid secara konvergen jika faktor loading >0,70 dan nilai AVE (Average Variance Extracte. lebih besar dari 0,5 serta validitas diskriminan dengan kriteria fornell larcker dibawah 0. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 137-150 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Tabel 5. Nilai Composite Reliability Variabel Stres Lingkungan Konflik Interpersonal Hardiness CronbachAos Composite Batas Keterangan Reliability . >0. Reliabel >0. Reliabel >0. Reliabel Tabel diatas tersebut menunjukkan bahwa nilai composite reliability masing-masing indikator pada variabel stres lingkungan, konflik interpersonal, dan hardiness lebih dari 0. 7, dimana menunjukkan bahwa semua indikator telah memenuhi persyaratan composite reliability (Hair dkk. Tabel 6. Discriminant Validity Fornell-Larcker Criterion Hardiness Konflik Interpersonal Stres Lingkungan Stres Lingkungan Konflik Interpersonal Hardiness Pada Fornel-Lacker Criterion digunakan untuk menilai validitas diskriminan dari konstruksi. Fornel-Lacker Criterion harus kurang dari 1. 00 untuk validitas yang dapat diterima (Henseler, 2015. Joseph, 2013. Kline, 2. Pada tabel diatas menunjukkan bahwa nilai Fornel-Lacker Criterion kurang dari 1 untuk semua konstruk oleh karena itu, semua konstruk memenuhi validitas deskriminan sehingga dapat diterima. Mengurai Konflik dengan Mertua: Peran Hardiness Terhadap Stres Lingkungan pada Menantu Perempuan Santi Nurhusaini. Rahmad Purnama. Khoiriyah Ulfah Gambar 2 Hasil Output Inner Model PLS Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 137-150 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Tabel 7. Nilai R Square RA Variabel Stres Lingkungan Keterangan Moderat Menurut Ghozali . , nilai R2 merupakan koefisien determinasi pada struktur endogen, dan hasil uji Model Struktur dengan menggunakan uji R Square dan Path Coefficients ditunjukkan pada Tabel 7. Nilai R2 seringkali dapat diklasifikasikan sebagai kuat jika lebih besar dari 0,67, moderat jika lebih besar dari 0,33, dan lemah jika lebih besar dari 0,19. Berdasarkan tabel di atas, berikut ini adalah penjelasan mengenai nilai koefisien determinasi (R . stres lingkungan sebesar 0,577 yang tergolong sedang karena R2 > 0,33 Tabel 8. Hipotesis Pengaruh langsung- path coefficients bootsrapping Konstruk Original Sample Standarard T statistic deviation (/O/STDEV) value (O) (M) (STDEV) Hardines ->Stres Lingkungan Konflik Interpersonal ->Stres Lingkungan Hipotesis 1 (H. dan 2 (H. diterima berdasarkan hasil pengujian. Dari tabel di atas terlihat bahwa H1 dan H2 memiliki nilai p-value kurang dari 0,05 dan nilai t-statistik lebih dari 1,96. Dengan demikian, terbukti bahwa stres lingkungan yang dialami oleh menantu perempuan yang berselisih dengan mertua berkorelasi secara signifikan dan positif dengan hardiness dan konflik interpersonal. PEMBAHASAN Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa dengan nilai koefisien jalur sebesar 0,653 dan nilai sig sebesar . ,000 < 0,. hasil penelitian menunjukkan bahwa hardiness secara signifikan mengurangi stres lingkungan. Hubungan positif melihatkan dimana individu pada tingkat hardiness lebih besar dapat mempersepsikan stres lingkungan secara lebih tinggi, atau bahwa hardiness dalam kondisi tertentu berfungsi sebagai faktor yang meningkatkan kesadaran terhadap tekanan dari Hardiness sendiri menurut Kobasa . didefinisikan sebagai struktur kepribadian yang terdiri dari tiga komponen umum yaitu komitmen, kontrol, dan tantangan, ketahanan individu memiliki fungsi untuk sumber daya melawan situasi stres, sehingga hardiness juga dapat mengolah stressor negatif menjadi positif, dengan cara menganggap stressor sebagai tantangan seperti aspek dari hardiness sendiri yaitu tantangan. Hasil penelitian mengenai hardiness, yang terdiri dari aspek komitmen, kontrol, dan tantangan, menunjukkan bahwa nilai komitmen adalah 0. 744, kontrol 0. dan tantangan 0. Dalam penelitian ini, aspek dengan nilai tertinggi adalah tantangan, yang berarti individu mampu melihat perubahan dan hambatan sebagai peluang untuk mengembangkan ketahanan terhadap stres lingkungan. Dengan nilai tantangan sebesar . , hal ini menunjukkan bahwa Mengurai Konflik dengan Mertua: Peran Hardiness Terhadap Stres Lingkungan pada Menantu Perempuan Santi Nurhusaini. Rahmad Purnama. Khoiriyah Ulfah kemampuan individu untuk memandang situasi sulit sebagai tantangan positif berperan penting dalam memperkuat ketahanan secara keseluruhan. Nilai tinggi pada aspek tantangan juga menjelaskan mengapa hardiness pada individu umumnya tinggi, karena mereka cenderung melihat hambatan sebagai peluang untuk tumbuh, bukan sebagai ancaman. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Lestari dkk . terkait hubungan kepribadian hardiness dengan stres hasil temuan menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara kepribadian hardiness dengan stres. Sehingga pada penelitian ini mahasiswa menganggap stressor sebagai tantangan, menurut Nurtjahjanti dkk . seseorang dengan tingkat ketahanan yang tinggi memiliki pola pikir yang membantu mereka mengatasi stres. Berdasarkan kepribadian hardiness mereka, mahasiswa kedokteran di Universitas Malahayati memiliki tingkat stres akademik yang lebih tinggi selama COVID-19 pada tahun 2018. Studi yang dilakukan oleh Junjung dkk . temuan menunjukkan bahwa di antara mahasiswa tingkat akhir di Universitas HKBP Nommensen di Medan, ketangguhan dan stres dalam menulis skripsi berkorelasi positif. Hasil penelitian berikutnya adalah konflik interpersonal memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap stres lingkungan dimana nilai koefisien jalur sebesar 0. 192 dan nilai sig. 000 < 0. Sebagaimana dinyatakan oleh Nailah dkk . bahwa semakin tinggi tingkat konflik peran ganda yang dialami individu, maka akan semakin tinggi pula tingkat stres yang dirasakan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Miller . dimana perselisihan yang terjadi antar pribadi merupakan fenomena yang tak terhindarkan dalam relasi intim seperti hubungan pada pasangan. Ketika tujuan, keyakinan, ide, atau perilaku seseorang berbenturan dengan tujuan, keyakinan, ide, atau perilaku orang lain, maka terjadilah konflik. Rahayuningsih dkk . menyatakan bahwa alasan pasangan yang sudah menikah dan masih tinggal bersama orangtua . meliputi ketidakstabilan finansial, suami adalah anak tunggal atau anak bungsu, serta alasan pekerjaan. Hocker . menggambarkan konflik interpersonal sebagai hal yang muncul dari tujuan yang tidak selaras, sumber daya yang langka, dan campur tangan pihak luar yang dirasakan dalam mengejar tujuan oleh setidaknya dua orang yang saling bergantung. Sehingga dengan adanya konflik yang terjadi pada menantu perempuan dengan mertua dapat menyebabkan stres lingkungan yang dialami oleh menantu perempuan, maka dalam hal ini menantu perempuan yang memiliki konflik dengan mertua perlu memiliki hardiness yang cukup tinggi, dengan adanya hardiness yang tinggi maka menantu perempuan dapat bertahan dan mengelola konflik dengan baik dan mampu menanggulangi dampak negatif dari stres lingkungan dengan menjadikan stres sebagai tantangan dalam kehidupan pernikahan. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan terkait hubungan konflik interpersonal antara menantu perempuan dengan mertua dan hardiness terhadap stres lingkungan, bahwa hardiness memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap stres lingkungan terhadap menantu perempuan yang tinggal bersama mertua. Sehingga individu dengan tingkat hardiness lebih tinggi cenderung lebih mampu mengelola dan mempersepsikan stres dengan cara yang berarti, sehingga meningkatkan kesadaran mereka terhadap tekanan lingkungan. Konflik interpersonal antara menantu perempuan dan mertua juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan stres lingkungan. Ketidaksesuaian dalam tujuan, nilai, dan ekspektasi antara menantu dan mertua seringkali memicu konflik yang bisa mengganggu kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis menantu perempuan Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 137-150 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 yang berdampak negatif. Hardiness juga berfungsi sebagai mekanisme pertahanan yang penting, membantu menantu perempuan untuk menghadapi dan mengelola konflik dengan lebih baik. Dengan memiliki ketangguhan psikologis yang tinggi, mereka dapat mengubah stressor negatif menjadi tantangan, sehingga mengurangi resiko dampak negatif pada kesehatan. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu penelitian ini hanya fokus pada hardiness dan konflik interpersonal terhadap stres lingkungan, tanpa mempertimbangkan variabel lain seperti dukungan sosial, tingkat ekonomi, dan kondisi kesehatan mental partisipan, yang juga mungkin berperan dalam memengaruhi tingkat stres. Meskipun skala yang digunakan memiliki reliabilitas yang baik, instrumen yang dipakai mungkin belum cukup mendalam untuk menangkap kompleksitas dinamika hubungan antara menantu perempuan dan mertua. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melibatkan lebih banyak orang, termasuk menantu perempuan yang tidak tinggal dengan mertua, dengan menggunakan metode penelitian yang lain seperti penelitian kualitatif agar mendapatkan hasil yang lebih kompleks untuk bisa mengetahui bentuk-bentuk konflik yang dialaminya. Selain itu. Peneliti juga sebaiknya dapat mengembangkan alat ukur yang lebih komprehensif untuk menilai hardiness, dengan mempertimbangkan berbagai dimensi dan konteks yang berbeda DAFTAR PUSTAKA