KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 https://bestjournal. id/index. php/kovalen Sintesis dan Uji Kinerja Membran Selulosa Termodifikasi Polistirena dari Ampas Tebu dengan Aditif Monosodium Glutamate untuk Menurunkan Nilai BOD dan COD Limbah Cair Tahu [Synthesis and Performance Testing of Modified Cellulose Membrane with Polystyrene Derived from Sugarcane Bagasse and Monosodium Glutamate Additive for Decreasing BOD and COD Values in Tofu Wastewate. Alvino Jefferson Sianipar. Senny WidyaningsihA. Suyata Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Indonesia Abstract. Tofu liquid waste, which has high BOD and COD values, can contaminate waters if it is directly disposed of without prior treatment. Therefore, waste treatment is necessary before being released into water. One method for treating this waste is by using a cellulose acetate membrane. In this research, a cellulose acetate membrane was synthesized from sugarcane bagasse fibers using the phase inversion method. The membrane was added 6% MSG as an additive to improve its performance. The membrane was applied to treat tofu waste with BOD and COD The membraneAos flux values obtained in this study were 33. 56 L/. for water and 26. L/. for tofu liquid waste. SEM test result showed that the membrane with a 6% MSG additive had more pores and a denser surface compared to the membrane without the additive. The membrane was capable of decreasing BOD and COD values by 62. 5% and 75. 3% respectively in liquid tofu waste. Keywords: BOD. COD, flux, phase inversion, sugarcane bagasse, tofu wastewater Abstrak. Limbah cair tahu mengandung nilai BOD dan COD yang tinggi, sehingga dapat mencemari perairan bila langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengolahan limbah sebelum dibuang ke perairan. Salah satu cara untuk pengolahan limbah ini adalah menggunakan membran selulosa asetat. Pada penelitian ini dilakukan sintesis membran selulosa asetat dari serat ampas tebu menggunakan metode inversi Membran ditambahkan MSG 6% sebagai aditif untuk meningkatkan kinerjanya. Membran tersebut diaplikasikan untuk mengolah limbah tahu dengan parameter BOD dan COD. Nilai fluks membran yang diperoleh pada penelitian ini adalah 33,56 L/. untuk air dan 26,85 L/. untuk limbah cair tahu. Hasil uji SEM menunjukkan membran dengan aditif MSG 6% memiliki jumlah pori yang lebih banyak dan permukaannya lebih rapat dibandingkan dengan membran tanpa aditif. Membran tersebut mampu menurunkan BOD sebesar 62,5% dan COD sebesar 75,3% pada limbah cair tahu. Kata kunci: BOD. COD, fluks, inversi fasa, ampas tebu, limbah cair tahu Diterima: 26 Juni 2023. Disetujui: 14 Agustus 2023 Sitasi: Sianipar. Widyaningsih. Suyata. Sintesis dan Uji Kinerja Membran Selulosa Termodifikasi Polistirena dari Ampas Tebu dengan Aditif Monosodium Glutamate untuk Menurunkan Nilai BOD dan COD Limbah Cair Tahu. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. : 183-194. LATAR BELAKANG Pencemaran perkotaan maupun pedesaan, seperti daerahlingkungan masalah yang sering dijumpai, baik di daerah industri rumahan seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), seperti limbah industri Corresponding author E-mail: senny. widyaningsih@unsoed. Tak jarang limbah industri tahu tersebut https://doi. org/10. 22487/kovalen. 2477-5398/ A 2023 Sianipar et al. This is an open-access article under the CC BY-SA license. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. langsung dibuang ke badan perairan tanpa seperti lebih sederhana, ekonomis, ramah diolah terlebih dahulu. Limbah lingkungan, dan berlangsung pada suhu kamar diperoleh dari hasil penyaringan, pengepresan (Putri, 2. Salah satu jenis polimer bahan dan pencetakan baku membran adalah selulosa asetat (SA). memiliki kandungan senyawa organik yang Selulosa asetat diperoleh dari hasil asetilasi tinggi terutama asam-asam selulosa berbagai macam sumber, termasuk Senyawa organik yang tinggi dalam dari serat bahan alam, salah satunya ampas tebu . Selama ini, ampas tebu hanya meningkatkan kadar BOD dan COD (Yuliyani & ditumpuk di sekitar pabrik gula maupun di Widayatno, 2. tempat penjualan minuman tebu . s teb. atau Limbah Parameter pengujian pencemaran air Oxygen nilai ekonomis jika tidak dikelola secara tepat. Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand Jika ditinjau secara kimiawi, ampas tebu (COD). BOD Biochemical dibuang begitu saja karena dinilai tidak memiliki 40-50%, menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang sehingga ampas tebu berpotensi sebagai sumber selulosa pada pembuatan selulosa mengurai atau mendekomposisi bahan organik asetat untuk bahan baku membran (Wulandari dalam kondisi aerobik (Santoso, 2. COD & Dewi, 2018. Mandal & Chakrabarty, 2. adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk sifat mudah robek (Suhartini dkk. , 2. terkandung dalam air (Lumaela et al. , 2. sehingga perlu dilakukan modifikasi. Menurut Limbah cair tahu umumnya memiliki nilai BOD Cowd . , membran selulosa asetat dengan dan COD yang tinggi. Bila merujuk pada penambahan polimer sintetik, yaitu polistirena Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. (PS) memiliki sifat mekanik yang lebih baik 05 Tahun 2012 Tentang Baku Mutu Air Limbah Industri Tahu dan Tempe, kadar maksimum Polistirena dapat digunakan sebagai campuran yang diperbolehkan untuk BOD dan COD polimer alami untuk meningkatkan kekuatan secara berturut-turut adalah 150 mg/L dan 275 membran yang diperoleh (Meenakshi et al. mg/L, sehingga limbah cair tahu harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan morfologi dari membran, kondisi fisik dan Salah Membran selulosa asetat memiliki sifat kinerja membran yang dihasilkan. Beberapa digunakan untuk pengolahan limbah cair tahu aditif yang dapat digunakan dalam pembuatan adalah menggunakan teknologi membran. Membran Monosodium Glutamate (MSG). MSG dapat dengan bersifat semipermeabel dan selektif. dijadikan sebagai aditif karena memiliki sifat Penggunaan membran saat ini sudah sering yang sangat hidrofilik karena adanya gugus dijumpai di berbagai bidang, salah satunya hidroksil, murah dan mudah didapat. Pelarut bidang pengolahan limbah (Husni dkk. , 2. yang digunakan untuk melarutkan MSG adalah Teknologi asam format (Idris et al. , 2. Penelitian Idris Selain KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. et al. melaporkan bahwa penambahan Na2S2O3 (Merc. KI (Merc. , buffer fosfat dan MSG dengan konsentrasi 6% pada membran koagulan tawas . selulosa asetat memiliki kinerja paling baik dalam menghasilkan pori membran. Penelitian Ayusnika Peralatan yang digunakan meliputi sel filtrasi dead-end, water bath, hot plate magnetic . membuat membran SA-PS berbahan dasar termometer, timbangan analitik, beaker glass, limbah kulit pisang dan diaplikasikan untuk Erlenmeyer, pemisahan limbah batik. Firdaus dan Febiyanto indikator pH, stopwatch, desikator, pelat kaca, . membuat membran SA-PS berbahan kertas saring, fourier transform infrared (FTIR) dasar berbahan dasar limbah kulit nanas untuk 8201 PC Shimadzu. SEM Jeol JSM 6510 LA, penyisihan metilen biru. Penelitian terkait seperangkat alat titrasi, nampan, buret, botol pembuatan membran SA-PS berbahan dasar Winkler, dan cawan petri. MSG Berdasarkan uraian tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan labu takar, corong Buchner. Prosedur Penelitian Preparasi . membran SA-PS berbahan dasar dari ampas Ampas tebu yang telah dikeringkan di tebu . dengan penambahan MSG 6% bawah sinar matahari, dikeringkan kembali dengan menggunakan oven pada suhu 85 AC Membran yang diperoleh selanjutnya diuji selama 16 jam. Ampas tebu tersebut kemudian menggunakan SEM, diukur nilai fluksnya serta dihaluskan dengan menggunakan blender dan dimanfaatkan sebagai filter untuk penurunan dikeringkan kembali dengan menggunakan kadar BOD dan COD dalam limbah cair tahu. oven pada suhu 100 AC selama 16 jam. Ampas tebu halus ditimbang sebanyak 100 g dan METODE PENELITIAN dimasukkan ke dalam gelas beaker 3 L. Bahan dan Peralatan selanjutnya ditambahkan 5 L NaOH 15%. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya meliputi serat ampas tebu . yang diperoleh dari penjual es tebu di Purwokerto, limbah cair tahu yang diperoleh dari pabrik tahu Kaliputih Purwokerto, akuades. NaOH p. a (Merc. , asam asetat glasial p. a (Merc. , indikator fenolftalein. HCl a (Merc. H2SO4 p. a (Merc. , anhidrida asetat p. a (Merc. , natrium asetat p. a (Merc. , metanol p. a (Merc. , etanol, kloroform p. (Merc. , (Sigma-Aldric. MSG (Sas. HCl p. a (Merc. NaN3 (Merc. CaCl2 diaduk dan dipanaskan dengan menggunakan hotplate dan magnetic stirrer pada suhu 110 AC selama 4 jam. Hasil leburan selanjutnya akuades, dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 100 AC. Residu yang diperoleh dihidrolisis dengan larutan HCl 0,1 M sebanyak 1000 mL . erbandingan 1 : . dan dipanaskan pada suhu 105 AC selama 1 jam. Selanjutnya, dicuci dengan menggunakan akuades hingga pH netral dan endapan dikeringkan (Selpiana , 2. (Merc. MgSO4 (Merc. FeCl3. MnSO4 p. (Merc. HgSO4 p. a (Merc. KMnO4 (Merc. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. Asetilasi selulosa . Setelah dingin, larutan ditambah 23 tetes indikator fenolftalein dan diaduk Selulosa serat ampas tebu sebanyak 20 gram dimasukkan ke dalam labu alas bulat Larutan tersebut kemudian dititrasi dengan lalu ditambahkan 1000 mL asam asetat glasial. larutan HCl 0,5 M sampai warna merah Kemudian, diaduk dengan stirrer selama 3 jam. muda hilang dan ditambahkan dengan 4 Selanjutnya, ditambahkan masing-masing 50 mL HCl 0,5 M kemudian diaduk A 5 menit. mL anhidrida asetat dan 120 tetes asam sulfat Campuran tersebut ditambah 2-3 tetes Campuran diaduk dengan suhu 40 AC indikator fenolftalein dan dititrasi dengan selama 20 jam. Sebanyak 45 mL akuades dan larutan NaOH 0,5 M sampai muncul warna 100 mL asam asetat glasial ditambahkan, merah muda (Souhoka & Latupeirissa, sambil diaduk dengan stirrer selama 2 jam. Lalu. Perlakuan yang sama dilakukan sebanyak 20 gram natrium asetat ditambahkan untuk blanko. Kadar asetil ditentukan sambil diaduk selama 5 menit. Campuran dengan menggunakan Persamaan 1. dicuci dengan akuades hingga terbentuk endapan dan disaring sampai selulosa asetat menjadi netral, lalu direndam dalam metanol selama 10 menit. Hasil selulosa asetat yang diperoleh disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 40 AC, kemudian digerus menjadi serbuk selulosa asetat (Gaol dkk. , 2013 Karakterisasi selulosa asetat Analisis gugus fungsi Serbuk selulosa dan selulosa asetat FTIR %asetil= [(DAeC)Ma (AAeB)M. x 4,305/W A. Keterangan: A = volume NaOH yang terpakai untuk titrasi sampel . L) B = volume NaOH yang terpakai untuk titrasi blanko . L) C = volume HCl yang terpakai untuk titrasi sampel . L) D = volume HCl yang terpakai untuk titrasi blanko . L) Ma = Molaritas HCl Mb = Molaritas NaOH W = Berat sampel Penentuan massa molekul relatif selulosa Sebanyak 0,15 gram selulosa asetat dilarutkan dengan kloroform dalam labu ukur 100 mL . arutan A). Larutan A divariasikan gelombang 4000-500 cm-1. menjadi larutan dengan konsentrasi 0,03. 0,06. Penentuan kadar asetil Selulosa asetat sebanyak 0,15gram 0,09. dan 0,12 g/dL. Pelarut murni . dikeringkan pada suhu 100 AC selama 2 sebanyak 15 mL viskometer Ostwald dan diukur waktu alirnya Selulosa asetat yang telah didinginkan pada suhu 25 AC. Pengukuran yang sama kemudian dimasukkan ke dalam labu dilakukan untuk larutan konsentrasi 0,03. 0,06. Erlenmeyer 0,09. dan 0,12 g/dL. Nilai massa molekul (M) ditambahkan 5 mL etanol. Kemudian . ersamaan Mark-Houwink Sakurad. NaOH Campuran ditutup rapat dan . uC] = yaycAyu Persamaan A. diaduk pada suhu 60 AC selama 2 jam. Larutan kemudian didinginkan pada suhu KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. dimana, yuC adalah viskositas intrinsik. K dan sebesar 2 kgf/cm2. Setelah itu, permeat atau adalah konstanta untuk sistem suhu polimer- pelarut tertentu. ditampung selama selang waktu tertentu Pembuatan membran SA-PS-MSG Tahap pembuatan larutan polimer SA . % . ) diklorometana : aseton . Larutan dicampur dengan perbandingan SA:PS adalah 9:1 dan ditambahkan 3 mL larutan MSG 6% setiap 100 mL SA:PS. Larutan diaduk dengan magnetik stirrer hingga homogen. Kemudian larutan polimer dituang di atas pelat kaca . cm y18 c. yang telah diberi selotip pada kedua sisinya, lalu dicetak dengan cara menekan dan Pengukuran ini dilakukan sampai diperoleh waktu konstan. Perlakuan yang sama dilakukan untuk menentukan nilai fluks limbah dengan mengganti air dengan limbah cair tahu (Apriani dkk. , 2. Nilai fluks dapat dihitung menggunakan Persamaan 3. yc Keterangan: J = fluks cairan (L/m2 ja. V = volume permeat . t = waktu permeat . A = luas permukaan membran . Aplikasi membran SA-PS pada pengolahan limbah cair tahu menempel pada pelat kaca ini dibiarkan selama Membran SA-PS hasil sintesis digunakan 1 menit untuk menguapkan pelarut. Polimer sebagai filter pada pengolahan limbah cair tipis tersebut kemudian direndam dalam air. Diukur BOD dan COD limbah cair tahu Polimer tipis ini selanjutnya digunakan sebagai sebelum dan sesudah melewati membran. Membran yang terbentuk kemudian Penentuan nilai BOD menggunakan metode direndam dalam larutan natrium azida 1 ppm Winkler dan titrasi iodometri serta penentuan (Ayusnika dkk. , 2. COD dengan titrasi iodometri. Uji SEM membran SA-PS-MSG HASIL DAN PEMBAHASAN mendorong larutan tersebut hingga diperoleh Selanjutnya. Morfologi membran SA-PS-MSG diuji dengan menggunakan SEM. Perubahan yang penampang bagian atas dan penampang bawah dari membran difoto dengan perbesaran Uji fluks membran Sebanyak 5 lembar kertas saring dan Selulosa dari Ampas Tebu Selulosa yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari serat ampas tebu. Selulosa dari ampas tebu ini diisolasi dan diperoleh dalam bentuk pulp. Tahapan isolasi meliputi penyiapan bahan . erat ampas teb. yang sudah dibersihkan, perendaman, pengeringan, penghalusan serta delignifikasi. Perendaman ini disebut sebagai proses water retting. Water retting merupakan proses yang dilakukan oleh membran SA-PS diletakkan dalam sel filtrasi untuk menentukan nilai fluks. Air sebanyak 150 membuat zat-zat perekat . ummy substanc. mL dimasukkan ke dalam sel ultrafiltrasi dan yang berada di sekitar ampas tebu, sehingga ditutup rapat serta diberikan tekanan udara serat mudah terpisah dan terurai (Konwar & KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. Boruah, 2. Delignifikasi merupakan proses berupa asam asetat glasial bertujuan untuk penghilangan kadar lignin dalam suatu bahan memperoleh luas permukaan serat selulosa yang berlignoselulosa dengan menggunakan yang besar sehingga memudahkan difusi asam larutan asam dan basa. Delignifikasi akan sulfat dan asetat anhidrida ke dalam serat membuka struktur lignoselulosa agar selulosa selulosa (Kirk & Othmer, 1. Tahap asetilasi menjadi lebih mudah diakses. Proses ini akan melarutkan kandungan lignin di dalam bahan berfungsi sebagai sumber gugus asetil dan sehingga mempermudah proses pemisahan asam sulfat pekat sebagai katalis. Proses lignin dengan serat (Permatasari dkk, 2. asetilasi merupakan reaksi eksoterm, sehingga Delignifikasi dilakukan dengan penggunaan suhu harus dijaga tetap rendah, yaitu 40 AC larutan NaOH. Larutan NaOH berfungsi untuk supaya tidak terjadi depolimerisasi rantai Pengadukan pada proses asetilasi (Pujokaroni et al. , 2. Hasil dari proses dengan asetat anhidrida, sehingga proses delignifikasi yaitu padatan serat berwarna putih asetilasi dapat berlangsung dengan sempurna (Lindu dkk. , 2. Selulosa yang diperoleh pada penelitian Tahap ini memiliki kadar air sebesar 5,34%. Hasil yang menghilangkan satu gugus asetil dari selulosa triasetat menjadi selulosa diasetat (Kirk & menyatakan bahwa kadar air selulosa yang Othmer, 1. Tahap ini dilakukan dengan 4-7% (UllmannAos Encyclopedi. Kadar lignin selulosa hasil Tahap pemurnian bertujuan penelitian ini sebesar 2,845%. Menurut (Yulfa untuk memperoleh selulosa asetat murni. , 2. kandungan lignin dalam pulp harus Perlakuan ini dilakukan dengan pengendapan, rendah, karena jika kadarnya tinggi maka akan menghasilkan kualitas yang kurang baik. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan sisa asam disebabkan karena lignin yang tinggi akan asetat dari proses hidrolisis. memberikan sifat kaku pada pulp. Selulosa Asetat Hasil Sintesis Selulosa asetat merupakan salah satu Pencucian Karakterisasi selulosa asetat hasil sintesis Spektrum IR Hasil turunan selulosa dari asam organik yaitu asam menggunakan FTIR menunjukkan munculnya Selulosa asetat memiliki karakteristik puncak serapan baru yang merupakan khas berbentuk padatan, berwarna putih, tidak selulosa asetat, yakni gugus karbonil (C=O) berbau, tidak berasa dan tidak beracun serta pada bilangan gelombang 1751,36 cm-1 yang memiliki kandungan asetil antara 37 Ae 40,5% tajam dan gugus asetil (C-O este. yang (Wahyusi dkk. , 2. Pembuatan selulosa ditunjukkan pada daerah bilangan gelombang asetat diperlukan empat tahap, yaitu aktivasi, 1234,44 Tahap menyatakan bahwa spektrum karakteristik aktivasi dengan menambahkan swelling agent vibrasi ulur untuk gugus C-O ester terjadi pada Meenakshi . KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. bilangan gelombang 1300-1000 cm . Gugus agar dapat menentukan larutan yang sesuai karbonil dan asetil yang muncul merupakan untuk melarutkan selulosa asetat kering agar puncak serapan baru yang tidak terdapat pada dapat dibuat membran. Penentuan kadar asetil pulp selulosa serat ampas tebu. Hal ini . , yaitu mereaksikan suatu basa selulosa pada penelitian ini telah berhasil dengan ester asetat membentuk sabun dan Hasil analisa spektrum IR dari gugus asetat yang dilepas sebagai asam dan selulosa asetat dapat dilihat pada Gambar 1. kemudian dilanjutkan dengan titrasi asam basa. Hasil analisis kadar asetil pada penelitian ini Kadar asetil selulosa asetat hasil sintesis adalah 45,8%. Menurut Gaol dkk. Penentuan kadar asetil dilakukan untuk selulosa asetat yang dihasilkan pada penelitian menentukan jenis selulosa asetat yang telah ini termasuk jenis selulosa triasetat dengan Jenis selulosa asetat perlu diketahui pelarut yang sesuai adalah kloroform. Gambar 1 Spektrum IR selulosa dan selulosa asetat Massa molekul relatif selulosa asetat hasil Massa molekul relatif dari selulosa asetat melakukan pengukuran viskositas pelarut dan Ostwald. Metode viskositas pelarut umum digunakan karena lebih cepat dan lebih mudah, serta alatnya yang Menurut Apriani dkk. prinsip metode ini adalah pengukuran waktu alir yang dibutuhkan bagi cairan yang akan diukur untuk melewati dua tanda batas pipa kapiler karena gaya gravitasi pada viskometer Ostwald. Massa molekul relatif selulosa asetat dari serat ampas tebu yang dihasilkan pada penelitian ini adalah 0,88 x 104 g/mol. Bila dibandingkan dengan massa molekul relatif selulosa asetat murni, massa molekul relatif hasil penelitian masih KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. jauh lebih kecil. Massa molekul selulosa asetat Kinerja Membran SA-PS murni 3 x 104 g/mol (Husni dkk. , 2. Hal ini kinerja suatu membran adalah fluks. Fluks selulosa/bahan dasar, waktu proses perlakuan merupakan jumlah atau banyaknya volume awal, waktu proses asetilasi dan waktu permeat yang mampu melewati tiap satuan luas permukaan membran per satuan waktu Salah satu parameter untuk mengetahui bahan-bahan digunakan (Habibah dkk. , 2. (Mulder, 1. Penentuan fluks membran Membran Komposit SA-PS dengan Aditif MSG dilakukan dengan mengguanakan alat deadend. Pengukuran fluks membran dilakukan Selulosa asetat hasil sintesis dijadikan dengan memberi tekanan operasional sebesar sebagai bahan baku pembuatan membran SA- 2 kgf/cm2, yang bertujuan untuk memberikan PS. Pembuatan membran SA-PS ini dilakukan gaya dorong yang lebih besar terhadap larutan dengan menggunakan teknik inversi fasa. untuk melewati membran (Widyaningsih & Teknik inversi fasa merupakan suatu proses Purwati, 2. Sebelum pengukuran nilai fluks pengubahan fasa polimer dari fasa cair menjadi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan kompaksi padatan dengan kondisi terkendali. Pembuatan terhadap membran. Kompaksi didefinisikan membran dengan teknik ini meliputi empat sebagai proses deformasi mekanik matriks polimer penyusun, yang bertujuan homogen, pencetakan, penguapan sebagian (Rusmaningsih dkk. , 2. pori-pori Hasil pengukuran fluks air menggunakan pengendapan polimer dalam koagulan atau Membran membran SA-PS tanpa aditif dan membran SA- komposit SA-PS pada penelitian ini dibuat PS dengan aditif MSG 6% pada penelitian ini dengan komposisi selulosa asetat hasil sintesis adalah 21,358 L/. dan 33,56 L/. dari serat ampas tebu sebagai bahan utama, sedangkan nilai fluks untuk limbah cair tahu kloroform sebagai pelarut, serta MSG sebagai membran SA-PS dan membran SA-PS dengan aditif MSG 6% berturut-turut adalah 9,458 bukan-pelarut (Mulder. Penambahan mempengaruhi kondisi fisik suatu membran. L/. sehingga kinerja membran yang dihasilkan penelitian menunjukkan bahwa nilai fluks air Membran yang dihasilkan pada lebih tinggi daripada fluks limbah cair tahu. Hal penelitian ini bening kekuningan (Gambar . ini disebabkan karena molekul sampel limbah 26,85 L/. Hasil cair tahu lebih besar dibandingkan dengan molekul air. Sampel limbah cair tahu memiliki pengotor yang akan tertahan pada pori-pori membran sehingga laju alir terhambat dan menyebabkan nilai fluks yang diperoleh lebih Selain itu, jika ditinjau dari penambahan menunjukkan nilai fluks yang lebih besar Gambar 2. Membran SA-PS dibandingkan dengan membran tanpa aditif. Hal KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. ini dikarenakan penambahan aditif MSG yang Morfologi Membran berfungsi untuk menambah jumlah pori-pori Hasil uji SEM menunjukkan bahwa pada membran sehingga laju alir permeat semakin membran SA-PS dengan aditif MSG 6% Hal ini didukung dari hasil uji SEM yang memiliki pori yang lebih banyak serta lebih menunjukkan bahwa jumlah pori membran rapat dibandingkan membran tanpa aditif. Hal dengan aditif MSG lebih banyak dibandingkan ini mengindikasikan bahwa dengan adanya dengan membran tanpa aditif. Grafik fluk air penambahan MSG dapat meningkatkan jumlah dan sampel dapat dilihat pada Gambar 3. pori pada membran. Butiran-butiran yang ada pada permukaan membran diduga merupakan polistirena (Gambar . Fluks (L/m2. Membran SA-PS Membran SA-PS MSG Jenis Membran Fluks Air Fluks Limbah Gambar 3 Diagram nilai fluks air dan sampel . Gambar 4 Permukaan bagian atas membran SA-PS . tanpa aditif dan . dengan aditif MSG 6% dengan perbesaran 10000x Aplikasi Membran SA-PS pada Penurunan Nilai BOD dan COD Limbah Cair Tahu Membran yang digunakan yaitu membran SA- Membran yang yang telah disintesis aditif MSG 6%. Sampel yang digunakan untuk selanjutnya diaplikasikan untuk menurunkan filtrasi oleh membran yaitu limbah cair tahu kadar BOD dan COD limbah cair tahu. yang telah dilakukan treatment koagulasi- PS tanpa aditif dan membran SA-PS dengan KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 183-194 Sianipar et al. Hal ini dikarenakan masih tingginya BOD dan COD limbah awal dan setelah pengotor yang terkandung pada limbah awal, difiltrasi oleh membran SA-PS ditunjukkan pada Tabel 1. pengendapan pada membran . Nilai Tabel 1 Penurunan nilai BOD dan COD limbah cair tahu Parameter Sampel awal . g/L) BOD COD Sampel limbah cair tahu Setelah Setelah filtrasi tanpa aditif . g/L) . g/L) Setelah filtrasi dengan aditif . g/L) Sampel limbah awal memiliki nilai BOD Jawa Tengah No. 05 Tahun 2012 Tentang dan COD sebesar 360 mg/L dan 1209,6 mg/L Baku Mutu Air Limbah Industri Tahu dan yang menunjukkan nilai tersebut diatas baku Tempe mutu air limbah. Setelah dilakukan proses diperbolehkan untuk BOD dan COD adalah 150 koagulasi-flokulasi, mengalami penurunan nilai mg/L dan 275 mg/L. BOD menjadi 250 mg/L dan COD menjadi 756 mg/L dengan persentase penurunan 29,2% untuk BOD dan 37,5% untuk COD. Setelah KESIMPULAN Membran dengan aditif MSG 6% yang dilakukan filtrasi oleh membran tanpa aditif, nilai BOD mengalami penurunan menjadi 195 mg/L, dengan persentase penurunan 45,83% jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan serta nilai COD menjadi 417,6 mg/L dengan membran tanpa aditif dengan nilai fluks sampel persentase penurunan 65,48%. Adapun nilai BOD dan COD setelah filtrasi oleh membran membran SA-PS tanpa aditif dan membran SA- dengan aditif MSG 6% mengalami penurunan PS dengan aditif MSG 6% adalah 9,458 menjadi berturut-turut 127,5 mg/L dan 298,8 L/. dan 26,85 L/. Membran ini mg/L dengan persentase penurunan sebesar mampu menurunkan BOD sebesar 64,58% dan 64,58% untuk BOD dan 75,3% untuk COD. nilai COD sebesar 75,3%. Berdasarkan disimpulkan bahwa membran SA-PS dengan aditif MSG 6% memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan membran SA-PS tanpa aditif. Hal tersebut dapat disebabkan karena struktur membran yang berbeda. Nilai BOD limbah hasil filtrasi membran dengan aditif MSG 6% pada penelitian ini sudah di bawah baku mutu, tetapi untuk nilai COD belum memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan Daerah Provinsi DAFTAR PUSTAKA