Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. 3 Nomor. 4 Agustus 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Pengembangan Model Layanan BK Terintegrasi: Mediasi. Konsultasi, dan Advokasi dengan Kegiatan Pendukung BK untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan 1Cici Saputri, 2Rodia Rotani Rianda, 3M. Ari Khairan, 4Aida Efendy, 5Hanestesia Zahara, 6Revi Yulianti, 7M. Iqbal Ramadhan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 1,2,3,4,5,6,7 Universitas Muhammadiyah Riau Gmail:cicisaputri@umri. id1,riandarodia62@gmail. com2,makhairan@gmail. com3,aidaefendy04@gmail. ,hanessiak@gmail. com5, yuliantirevi19@gmail. com6, mhdiqbalcerenti@gmail. Abstract. This journal discusses guidance and counseling service models as well as BK support activities to improve the quality of education. This research aims to build an integrated Guidance and Counseling (BK) service model, which combines mediation, consultation and advocacy methods, supported by additional BK activities to improve the quality of education in schools. So far. BK services have largely focused on individual approaches without any integration of strategic functions that can strengthen the entire education ecosystem. The model created in this study is aimed at strengthening the role of guidance and counseling teachers in handling student dynamics and building collaboration with the school, parents and the community. The research methodology uses a Research and Development (R&D) approach which includes needs analysis steps, model design, validation by experts, and limited trials in a secondary school environment. Research findings show that this integrated guidance and counseling service model is feasible to implement and effective in increasing the involvement of all parties in solving student problems and creating a school atmosphere that is more supportive of improving the quality of learning. The impact of this model opens up opportunities to increase the strategic role of guidance and counseling services in the education system as a whole. Key words: guidance and counseling services, mediation, consultation, advocacy, education, integrated model Abstrak. Jurnal ini membahas model pelayanan bimbingan dan konseling serta kegiatan pendukung BK untuk meningkatkan kualitas Pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang terintegrasi, yang mengkombinasikan metode mediasi, konsultasi, serta advokasi, didukung oleh aktivitas tambahan BK untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Selama ini, layanan BK sebagian besar berfokus pada pendekatan individu tanpa adanya integrasi fungsi-fungsi strategis yang dapat memperkuat seluruh ekosistem pendidikan. Model yang diciptakan dalam kajian ini ditujukan untuk memperkuat peran guru BK dalam menangani dinamika peserta didik dan membangun kerjasama dengan pihak sekolah, orang tua, serta Metodologi penelitian menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang mencakup langkah-langkah analisis kebutuhan, perancangan model, validasi oleh pakar, serta uji coba terbatas di lingkungan sekolah menengah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model layanan BK yang terintegrasi ini layak untuk diterapkan dan efektif dalam meningkatkan keterlibatan semua pihak dalam penyelesaian masalah peserta didik serta menciptakan suasana sekolah yang lebih mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Dampak dari model ini membuka kesempatan untuk meningkatkan peran strategis layanan BK dalam sistem pendidikan secara menyeluruh. Kata kunci: layanan BK, mediasi, konsultasi, advokasi, pendidikan, model terintegrasi PENDAHULUAN Pendidikan adalah elemen penting dalam pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas (Irma Aldiani & Yualiana Nelisma, 2. Dalam situasi pendidikan formal di sekolah, tidak hanya aspek kognitif yang perlu diperhatikan, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik dari siswa. Salah satu elemen krusial yang mendukung keberhasilan pendidikan adalah layanan Bimbingan dan Konseling (BK) (Ekasari, 2. Peran BK sangat strategis Received: Juni 10, 2025. Revised: Juni 30, 2025. Accepted: Juli 08, 2025. Online Available: Juli 14, 2025. Pengembangan Model Layanan BK Terintegrasi: Mediasi. Konsultasi, dan Advokasi dengan Kegiatan Pendukung BK untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan dalam membantu siswa mengatasi isu pribadi, sosial, akademik, dan karir yang bisa menghalangi pencapaian potensi mereka yang ideal. Namun, dalam pelaksanaannya, layanan BK di banyak institusi pendidikan masih dilakukan secara fragmentaris dan belum sepenuhnya terhubung dengan berbagai fungsi penting seperti mediasi, konsultasi, dan advokasi. Sebab, ketiga pendekatan tersebut memiliki potensi besar untuk menciptakan sistem dukungan yang komprehensif dan kolaboratif antara guru BK, pengajar mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua, dan pihak eksternal lainnya. Layanan BK yang hanya berorientasi pada konseling individual dianggap belum memadai untuk menangani kompleksitas masalah siswa di era moderen ini, di mana tekanan akademik dan dinamika sosial semakin meningkat. Karena itu, diperlukan pemikiran baru dalam bentuk pengembangan model layanan BK yang terintegrasi yang menggabungkan fungsi mediasi, konsultasi, dan advokasi serta didukung oleh kegiatan kolaboratif dan preventif di lingkungan sekolah. Tujuan pengembangan model ini adalah untuk memperluas jangkauan serta efektivitas layanan BK dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dengan model ini, diharapkan para guru BK dapat lebih aktif berperan sebagai agen perubahan yang dapat menjembatani kebutuhan siswa dengan kebijakan sekolah dan menciptakan sinergi di antara semua pemangku kepentingan pendidikan. Studi ini akan menyoroti proses pengembangan model layanan BK terintegrasi yang praktis dan sesuai dengan kondisi sekolah saat ini. Melalui pendekatan Research and Development (R&D), diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam perbaikan sistem layanan BK serta meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dalam menciptakan layanan BK yang optimal, penting untuk menggabungkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-QurAoan sebagai dasar moral serta spiritual. Al-QurAoan menyampaikan prinsip-prinsip krusial seperti islah . erdamaian dan perbaika. , syura . , serta amar maAoruf nahi munkar . engajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkara. , yang sangat relevan dalam penerapan layanan mediasi, konsultasi, dan Contohnya. QS. Al-Hujurat ayat 10 menegaskan betapa pentingnya mediasi dan rekonsiliasi di antara sesama (Shohib et al. , 2. n AyA aAcEE Ea aEac aE eI ea a aI eOIA e a AaIac aI eE aIe Ia Ia eOIa a e aO a a AA aE a eO a eOIa a a aO eO aE eI aOacCaOA Artinya: AuSesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu . ang bertika. dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. Ay JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai landasan etis dan spiritual dalam hubungan antara konselor, siswa, dan semua pihak di sekolah. Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang model layanan konseling yang terpadu, yang menggabungkan metode mediasi, konsultasi, dan advokasi dengan aktivitas pendukung yang berlandaskan ajaran Islam, terutama yang diambil dari Al-Qur'an. Diharapkan model ini dapat memperkuat posisi strategis konselor dalam memberikan bantuan kepada siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari segi psikologis dan sosial, tetapi juga spiritual. Dengan pendekatan ini, layanan konseling tidak hanya akan menjadi solusi untuk permasalahan, tetapi juga menjadi alat untuk membangun karakter Islami dan meningkatkan mutu pendidikan secara METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode Riset dan Pengembangan (R&D) untuk menciptakan model layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang terintegrasi (Sigit Dwi Sucipto et al. Model ini mencakup mediasi, konsultasi, dan advokasi serta kegiatan pendukung yang berlandaskan nilai-nilai Al-QurAoan. Tujuan dari model ini adalah untuk memperkuat efektivitas layanan BK dalam mendukung perbaikan kualitas pendidikan dan pengembangan karakter peserta didik yang berakhlak baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil riset menunjukkan bahwa pengembangan model layanan Bimbingan Konseling yang terpadu, mengintegrasikan pendekatan mediasi, konsultasi, dan advokasi dengan nilainilai Al-QurAoan, dianggap layak dan relevan untuk diterapkan di lingkungan sekolah Melalui analisis kebutuhan yang melibatkan guru Bimbingan Konseling, siswa, dan kepala sekolah, terungkap bahwa banyak sekolah menghadapi berbagai tantangan dalam mendukung siswa, seperti perselisihan antar siswa, kurangnya komunikasi antara siswa dan para pendidik, serta rendahnya partisipasi orang tua dalam menangani isu pendidikan. Situasi ini menegaskan perlunya layanan Bimbingan Konseling yang tidak hanya terfokus pada konseling individu, tetapi juga pada pendekatan sistemik dan kolaboratif yang mencakup aspek sosial, emosional, dan spiritual siswa(Kurniawan et al. , 2. Model awal yang dikembangkan selanjutnya divalidasi oleh para ahli dalam bidang Bimbingan Konseling dan pendidikan Islam. Hasil dari proses validasi menunjukkan bahwa struktur model yang terdiri dari tiga komponen dasar . ediasi, konsultasi, dan advokas. telah memenuhi kriteria teoritis, praktis, dan spiritual. Para ahli mengemukakan bahwa integrasi Pengembangan Model Layanan BK Terintegrasi: Mediasi. Konsultasi, dan Advokasi dengan Kegiatan Pendukung BK untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan nilai-nilai Al-QurAoan, seperti prinsip musyawarah . , perdamaian . , dan ajakan kepada kebaikan . mar maAoru. , dapat memberikan dasar etis dan spiritual yang kuat dalam penerapan layanan Bimbingan Konseling. Ini sangat penting dalam membangun karakter siswa yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Pada uji coba terbatas yang dilakukan di dua sekolah menengah, penerapan model ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Para guru Bimbingan Konseling melaporkan bahwa pendekatan mediasi yang didasarkan pada nilai islami (QS. Al-Hujurat: . berhasil menyelesaikan konflik antar siswa tanpa menciptakan ketegangan baru. Juga terbukti membantu para pendidik dan orang tua dalam memahami masalah siswa dengan lebih mendalam dan bijaksana. Selain itu, pendekatan advokasi yang mendorong perlindungan terhadap hak dan kepentingan siswa (QS. Ali Imran: . memberikan kesempatan bagi siswa yang rentan atau terpinggirkan untuk memperoleh perlindungan dan perhatian yang layak. Kegiatan tambahan seperti pelatihan komunikasi empatik, forum dialog antara siswa dan guru, serta kajian nilai-nilai QurAoani sebagai bagian dari program pembinaan karakter, turut memperkuat keefektifan model. Hasil kuesioner evaluasi menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden merasa bahwa layanan Bimbingan Konseling yang diberikan menjadi lebih berarti, kemanusiaan, dan relevan dengan kebutuhan siswa yang sebenarnya. Di samping itu, suasana sekolah menjadi lebih kondusif, terbuka, dan harmonis berkat adanya mekanisme penyelesaian masalah yang terstruktur dan berbasis nilai. Secara keseluruhan, model layanan Bimbingan Konseling yang terpadu ini tidak hanya meningkatkan kualitas konseling di sekolah, tetapi juga menguatkan nilai-nilai spiritual dalam proses pendidikan. Integrasi nilai-nilai Al-QurAoan membuat model ini lebih selaras dengan budaya dan karakter bangsa Indonesia sekaligus memperluas peran guru Bimbingan Konseling sebagai pendidik, mediator, fasilitator, dan advokat yang mampu merespons masalah yang dihadapi siswa dengan pendekatan yang komprehensif dan bermakna. Layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah seringkali dihadapkan pada pendekatan yang reaktif, lebih fokus pada penanganan masalah secara pribadi. Akan tetapi, isuisu yang dihadapi siswa semakin rumit dan memerlukan strategi yang bersifat sistemik. Permasalahan yang muncul, seperti konflik antar siswa, tekanan akademis, rendahnya partisipasi orang tua, dan komunikasi yang lemah antar anggota sekolah, memerlukan peran guru BK yang lebih luas dan komprehensif. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu model layanan BK yang tidak hanya berorientasi pada individu, tetapi juga bersifat terintegrasi dan kolaboratif, mencakup semua aspek mediasi, konsultasi, dan advokasi secara menyeluruh (Arifin & Puspita, 2. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Ketiga pendekatan ini memiliki peran strategis dalam mendukung kesejahteraan psikososial siswa. Mediasi berperan dalam menyelesaikan perselisihan dan menciptakan hubungan yang harmoni antara berbagai pihak (Hasibuan, 2. Konsultasi membuka peluang untuk kerjasama antara guru bimbingan dan konseling serta guru lainnya dan orang tua dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh siswa. Di sisi lain, advokasi memperkuat posisi guru bimbingan dan konseling sebagai pelindung hak-hak dan kepentingan siswa (Riski Anjelia, 2. , terutama mereka yang mengalami ketidakadilan atau situasi rentan di sekolah. Ketiga pendekatan ini menciptakan kerangka layanan yang saling mendukung dan membuat layanan bimbingan dan konseling lebih proaktif dan responsif terhadap kebutuhan yang ada di Apa yang membedakan pendekatan ini dari layanan yang biasa adalah penggabungannya dengan ajaran-ajaran Al-QurAoan. Konsep-konsep spiritual seperti islah . , syura . , hikmah . , serta amar maAoruf nahi munkar . engajak kepada kebaikan dan mencegah keburuka. menjadi dasar moral dalam pelaksanaan layanan. Nilai islah diterapkan dalam proses mediasi yang berlandaskan QS. Al-Hujurat: 10, yang mendukung terwujudnya rekonsiliasi serta persaudaraan di antara umat. Hasil percobaan model di sejumlah sekolah menengah menunjukkan bahwa metode ini mendapatkan respons positif dari guru BK, siswa, dan kepala sekolah. Guru BK merasakan adanya pedoman dan struktur yang lebih jelas saat mengatasi berbagai masalah secara Siswa merasa lebih diakui dan didukung, karena pendekatan yang diterapkan bersifat mendidik daripada menghukum. Selain itu, integrasi nilai-nilai Islam memberikan dimensi lebih dalam pada setiap intervensi, sehingga siswa lebih mudah menerima dan memahami proses bimbingan. Penerapan model ini memberikan efek yang baik bagi suasana sekolah secara Sekolah menjadi lebih transparan, interaktif, dan kolaboratif. Para guru, murid, dan orang tua lebih terlibat dalam dialog dan mencari solusi bersama. Di samping itu, karakter siswa mengalami peningkatan, terutama dalam hal spiritualitas, tanggung jawab sosial, dan kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai. Ini mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional yang tidak hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pengembangan karakter dan moral yang baik. Melalui penggunaan model ini, posisi guru BK mengalami perubahan dari hanya sebagai pelaksana layanan menjadi penggerak dalam lingkungan sekolah. Guru BK berfungsi sebagai pemimpin dalam menciptakan budaya harmonis, menghubungkan komunikasi antara berbagai pihak, serta memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan dan kebaikan. Hal ini sejalan dengan Pengembangan Model Layanan BK Terintegrasi: Mediasi. Konsultasi, dan Advokasi dengan Kegiatan Pendukung BK untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan tujuan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam yang melihat pendidikan sebagai alat untuk menciptakan individu yang holistikAiyang beriman, bertakwa, memiliki pengetahuan, dan memberikan kontribusi kepada komunitas. Pengembangan model layanan bimbingan konseling yang terintegrasi adalah jawaban terhadap tuntutan mendesak yang dihadapi sistem pendidikan saat ini dalam menangani kerumitan permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Tantangan di era pendidikan abad ke-21 tidak hanya berfokus pada hasil akademis, tetapi juga meliputi pembentukan karakter, ketahanan mental, kemampuan beradaptasi, serta hubungan sosial yang sehat. Dalam situasi ini, layanan bimbingan konseling memiliki peran penting sebagai fondasi yang menghubungkan antara tuntutan akademik dan kebutuhan emosional serta sosial siswa. Sayangnya, di banyak situasi di lapangan, layanan bimbingan konseling masih cenderung bersifat reaktif, berorientasi individu, dan kurang kolaboratif, sehingga kurang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Dengan demikian, pembuatan model layanan Bimbingan dan Konseling yang terintegrasi ini merupakan suatu terobosan yang signifikan, praktis, dan bermanfaat dalam jangka panjang. Ia berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan kontekstual di Indonesia, yang tidak hanya mengharapkan siswa cerdas di bidang akademis, tetapi juga memiliki karakter yang baik, cerdas secara sosial, serta kuat dalam aspek spiritual. Model ini bisa diadopsi, dimodifikasi, dan diperluas untuk berbagai tingkat pendidikan, termasuk sebagai elemen dalam strategi peningkatan kualitas pendidikan nasional berdasarkan nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Berikut adalah pengembangan model layanan BK terintegrasi berbasis mediasi, konsultasi, advokasi, dan nilai-nilai Al-QurAoan: Kebutuhan Model Terintegrasi. Layanan bimbingan dan konseling harus ditingkatkan menjadi suatu sistem yang komprehensif dan berdasarkan kerja sama, mengingat bahwa permasalahan yang dihadapi oleh siswa kian beragam (Rezki Anriani et al. , 2. Penguatan Tiga Fungsi Utama. Mediasi menyelesaikan pertikaian, konsultasi merangsang kerja sama, dan advokasi menjaga hak-hak siswa dalam konteks pendidikan. Integrasi Nilai-Nilai Al-QurAoan. Nilai-nilai seperti rekonsiliasi, musyawarah, kebijaksanaan, serta mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran menyediakan dasar spiritual, moral, dan operasional dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Efektivitas Model di Lapangan. Model ini mendapatkan sambutan positif dari para pendidik, peserta didik, dan institusi pendidikan karena metode yang digunakan bersifat membantu, mendidik, serta sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Dampak Positif terhadap Iklim Sekolah dan Karakter. Layanan bimbingan dan konseling menjadi lebih signifikan dan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 4 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. penuh makna, meningkatkan keyakinan siswa serta menciptakan suasana yang harmonis dan Transformasi Peran Guru BK. Guru BK berfungsi tidak hanya sebagai pelaksana layanan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang memperkuat nilai-nilai budaya sekolah serta pengembangan karakter(Azwar, 2. Kesesuaian dengan Kurikulum Merdeka. Model ini mendukung pengembangan profil pelajar Pancasila dan meningkatkan peran bimbingan konseling dalam pendidikan karakter. Kegiatan Pendukung Sebagai Penguat Implementasi. Pelatihan, diskusi kelompok, dan pendampingan berbasis QurAoan meningkatkan efektivitas layanan dan proses internalisasi nilainilai. Pentingnya Dukungan Manajemen dan Kolaborasi. Pelaksanaan yang sukses memerlukan dukungan dari kepala sekolah, pengajar, orang tua, dan masyarakat pendidikan. Tantangan Implementasi dan Solusinya. Pelatihan bagi guru BK, panduan praktis, dan bimbingan diperlukan untuk memastikan bahwa penerapan model berlangsung secara efektif. Kontribusi terhadap Karakter Islami Peserta Didik. Layanan bimbingan konseling yang mengacu pada Al-Qur'an mendukung pengembangan moral yang baik dan kesadaran spiritual para siswa. Potensi Replikasi dan Pengembangan Model. Model ini bisa diterapkan secara luas di berbagai tingkat pendidikan dan dikembangkan secara digital untuk meningkatkan KESIMPULAN Penelitian ini menciptakan suatu model layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang terintegrasi, menggabungkan tiga cara utama mediasi, konsultasi, dan advokasi serta didukung oleh kegiatan yang terstruktur dan berlandaskan nilai-nilai Al-QurAoan. Model ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nyata layanan BK di sekolah yang selama ini cenderung bersifat parsial dan belum menangani pokok permasalahan peserta didik dengan komprehensif. Hasil dari pengembangan serta percobaan menunjukkan bahwa model ini efektif dalam meningkatkan peran guru BK dalam mendukung peserta didik untuk mengatasi masalah pribadi, sosial, dan akademik dengan pendekatan yang lebih manusiawi, spiritual, dan Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-QurAoan, seperti islah . , syura . , hikmah . , dan amar maAoruf nahi munkar . engajak kepada kebaika. menyediakan landasan etis dan spiritual yang kokoh dalam pelaksanaan layanan. Model ini tidak hanya meningkatkan kualitas layanan BK, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan karakter Islami bagi peserta didik serta membangun suasana sekolah yang damai, terbuka, dan partisipatif. Di samping itu, peran guru BK bertransformasi dari pelaksana teknis menjadi agen perubahan yang berupaya membangun budaya pendidikan yang beradab. Pengembangan Model Layanan BK Terintegrasi: Mediasi. Konsultasi, dan Advokasi dengan Kegiatan Pendukung BK untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Dengan demikian, model layanan BK terintegrasi ini pantas untuk diimplementasikan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, nilainilai keislaman, dan kesejahteraan psikososial peserta didik. DAFTAR PUSTAKA