PENDIDIKAN: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. No. Desember 2025 Hal. 336 - 341 e-ISSN: 2774-7921 Pelatihan Perancangan Model Bisnis untuk Usaha Baru dengan menggunakan BMC bagi Siswa SMA Kr. Pringadi Yoppy Mirza Maulana1* Universitas Dinamika. Surabaya *Email: yoppy@dinamika. ABSTRACT Comprehension of business models is fundamental for the effective design and development of new ventures, particularly for students beginning to explore entrepreneurship. This community service program aimed to equip students of SMA Kristen Pringadi with the skills to develop business models using the (BMC) Business Model Canvas framework. The training was implemented in three stages: preparation, execution, and evaluation. In addition to introducing the BMC framework, the training also presented the eight types of e-business models developed by Peter Weill and Michael R. Vitale as a conceptual foundation. The effectiveness of the training was assessed by comparing the results of pretests and post-tests. Of the 18 participants, 9 students . %) demonstrated improvement, 7 students . 9%) maintained the same scores, and 2 students . 1%) showed no improvement. These findings suggest that the training had a positive impact on most participants' understanding of business model It is hoped that this activity will serve as an initial step in cultivating entrepreneurial interest and competence among high school students. Keywords: business model, business model canvas, entrepreneurship, training, high school students ABSTRAK Pemahaman tentang model bisnis sangat penting dalam proses perencanaan dan pengembangan usaha baru, terutama bagi siswa yang mulai tertarik pada dunia kewirausahaan. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali siswa SMA Kristen Pringadi dengan keterampilan mendesain model bisnis dengan memanfaatkan kerangka BMC (Business Model Canva. Pelaksanaan pelatihan dibagi ke dalam tiga tahap utama, yaitu preparation, execution, and evaluation. Materi pelatihan juga mencakup pengenalan delapan tipe model e-Business menurut Peter Weill dan Michael R. Vitale sebagai dasar pemahaman Evaluasi atas keberhasilan pelatihan dilakukan dengan menganalisis perbedaan hasil pre-test dan post-test peserta. Dari 18 peserta, sebanyak 9 peserta . %) menunjukkan peningkatan hasil, 7 peserta . ,9%) memperoleh hasil yang sama, dan 2 peserta . ,1%) belum mengalami peningkatan. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan memberikan pengaruh positif pada pemahaman sebagian besar peserta terkait perancangan model bisnis. Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menumbuhkan minat dan kemampuan kewirausahaan di kalangan siswa. Kata Kunci: model bisnis, business model canvas, kewirausahaan, pelatihan, siswa SMA PENDAHULUAN Model bisnis menjelaskan cara sebuah organisasi menghasilkan, menyampaikan, dan mempertahankan nilai (Sjydin et al. , 2. Model bisnis adalah deskripsi suatu organisasi dan bagaimana organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya (Prescott & Filatotchev, 2. Model bisnis sebagai atribut organisasi yang memiliki dampak secara langsung dan nyata pada operasi bisnis . usiness operation. (Prescott & Filatotchev, 2. Operasi bisnis merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh perusahaan untuk menjalankan bisnis secara keseluruhan. Sementara itu, rangkaian aktivitas harian yang saling berkaitan dan bertujuan mencapai tujuan organisasi dikenal sebagai proses bisnis. (Maulana, 2023. (Maulana, 2. Oleh sebab itu dalam mengembangkan usaha baru sangatlah penting untuk Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 menentukan model bisnis, karena mempengaruhi proses bisnis dalam organisasi tersebut dalam mencapai Peter Weill dan Michael R. Vitale mengemukakan delapan jenis model bisnis dalam e-Business yang dapat dijadikan pilihan oleh organisasi (Indrajit, 2. (Bleistein et al. , 2. Pertama. Direct to Customer merupakan model bisnis yang melibatkan transaksi langsung antara penjual dan konsumen. Kedua. Full-Service Provider mengacu pada penyediaan berbagai layanan dan sumber daya yang diperlukan oleh organisasi lain. Ketiga. Whole of Enterprise adalah model yang menawarkan layanan terpadu melalui satu titik akses . ingle point of contac. untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Keempat. Intermediaries berperan sebagai pihak perantara yang menjembatani berbagai kebutuhan antara produsen dan konsumen. Kelima. Shared Infrastructure menyediakan layanan penyewaan infrastruktur TI secara bersama-sama kepada beberapa pengguna atau organisasi. Keenam. Virtual Community memanfaatkan komunitas daring untuk mendukung berbagai aktivitas. Ketujuh. Value Net Integrator berfungsi mengintegrasikan berbagai sumber daya yang tersedia di internet guna memperkenalkan produk atau jasa Kedelapan. Content Provider menawarkan layanan pembuatan dan distribusi konten berupa informasi yang ditujukan bagi pengguna atau pelanggan. Namun demikian, meskipun pemahaman konsep model bisnis penting untuk pengembangan usaha, masih banyak pelaku usaha pemula, termasuk siswa yang tertarik berwirausaha, belum memahami bagaimana merancang model bisnis secara sistematis dan praktis. Siswa sekolah menengah atas (SMA) yang memiliki minat untuk membuka usaha baru seringkali hanya fokus pada produk atau layanan yang ingin ditawarkan tanpa memahami keseluruhan struktur dan proses bisnis yang mendukung keberlanjutan usaha Salah satu pendekatan yang sederhana namun komprehensif untuk menyusunan model bisnis dilakukan melalui pendekatan BMC, yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder sebagai kerangka kerja (Crotty et al. , 2. BMC membantu visualisasi model bisnis melalui sembilan elemen kunci yang saling terintegrasi, yaitu: Customer Segments. Value Propositions. Channels. Customer Relationships. Revenue Streams. Key Resources. Key Activities. Key Partnerships, dan Cost Structure (Crotty et al. , 2. Dengan pendekatan ini, siswa dapat memahami hubungan antar elemen dalam sebuah usaha dan bagaimana setiap keputusan bisnis mempengaruhi keseluruhan model. Mengelaborasi pemahaman teoretis tentang model bisnis seperti yang dijelaskan oleh Peter Weill dan Michael R. Vitale dengan alat praktis seperti BMC, pelatihan ini diharapkan dapat membantu siswa SMA Kristen Pringadi tidak hanya mengenal berbagai tipe model bisnis, tetapi juga mampu menyusun model bisnis untuk usaha baru secara terstruktur dan aplikatif. Pelatihan ini juga akan membekali siswa dengan keterampilan berpikir strategis dan kewirausahaan, yang penting dalam menghadapi tantangan ekonomi digital saat ini. Dengan demikian, pelatihan ini dirancang tidak hanya sebagai pembelajaran berbasis teori, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam menyusun dan menganalisis model bisnis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan sejak usia METODE Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini mencakup dua metode utama, yaitu: . metode penyampaian materi secara lisan . , dan . metode evaluasi melalui pre-test dan post-test. Kedua metode tersebut diterapkan secara terintegrasi dalam setiap tahapan pelaksanaan pelatihan, yang terdiri atas tiga fase sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, yaitu: . Phase of Preparation. Phase of Implementation. Phase of Evaluation (Maulana, 2023. (Maulana & Arnandy, 2. Gambar 1. Metode Pelatihan Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 1 Preparation Phase Kegiatan pada tahap ini adalah membuat pertanyaan pre-test dan post-test dengan menggunakan aplikasi google form. Selain itu pada tahap persiapan ini juga menyiapkan materi, latihan dan soal untuk pelaksanaan edukasi ini. 2 Implementation Phase Kegiatan pada tahap ini meliputi penjelasan tentang tempat dan waktu pelaksanaan, peserta yang mengikuti pelatihan ini, proses pelaksanaan pelatihan dan proses mengukur atau mengevaluasi keberhasilan peserta didik. 3 Evaluation Phase Evaluasi pada tahap ini dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik dalam mengikuti pelatihan, dengan cara membandingkan hasil pre-test dan post-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Preparation Phase Tahap preparation mencakup perancangan soal pre-test dan post-test, masing-masing terdiri dari lima pertanyaan yang disusun dalam format daring. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibuat menggunakan aplikasi google form dengan model pilihan ganda . ultiple choic. , sebagaimana ditampilkan pada Gambar 2. Gambar 2. Soal pre-test dan post-test berbasis Google Form Adapun soal pre-test dan post-test ada 5 pertanyaan yang ditunjukkan pada Tabel 1. Sedangkan materi meliputi pengertian dan tujuan bisnis, pengertian business model dan business model canvas yang ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 1. Soal Pre-Test dan Post-Test No. Pertanyaan Pengertian Bisnis yang tidak tepat adalah Tujuan Bisnis yang tidak tepat adalah Pengertian Business Model yang tidak tepat adalah Pengertian yang tidak tepat terkait Business Model Canvas Berikut yang bukan elemen dari Business Model Canvas adalah Tabel 2. Materi Pelatihan Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Materi Business Business Model Business Model Canvas Detil Materi Bisnis dapat didefinisikan sebagai suatu mekanisme terorganisir yang memproduksi barang dan jasa guna memenuhi permintaan dan kebutuhan publik. Tujuan utama dari bisnis, antara lain: Memastikan keberlangsungan usaha. Mencapai pertumbuhan dan pengembangan. Mempertahankan dan meningkatkan stabilitas. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi. Membangun dan mempertahankan reputasi baik. Meningkatkan Inovasi. Mengupayakan profitabilitas yang berkelanjutan. Model bisnis merujuk pada strategi perusahaan dalam menawarkan produk atau layanan kepada pelanggan dengan cara yang unik dibandingkan kompetitor, dengan tujuan untuk memaksimalkan profitabilitas. BMC dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur, yang berfungsi sebagai alat manajemen strategis untuk memvisualisasikan, mengevaluasi, dan merancang model bisnis secara sistematis. BMC menyajikan representasi visual yang ringkas dan sistematis mengenai bagaimana strategi bisnis dijalankan melalui sembilan elemen utama yang saling Implementation Phase Tahap implementation merupakan proses pelaksanaan pelatihan yang dilaksanakan di SMK Kristen Pringadi Surabaya pada tanggal 11 Desember 2024, mulai pukul 09. 00 hingga 10. 30 Pelatihan ini diikuti oleh sejumlah 18 peserta. Adapun kegiatan pelatihan ini, divisualisasikan pada Gambar 3. Adapun hasil pre-test dan post-test ditunjukkan pada Tabel 3 dan visualisasikan dalam bentuk seperti pada Gambar 4. Gambar 3. Kegiatan Pelatihan Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Tabel 3. Hasil Pre-Test dan Post-Test No. Nama Angeline Claruce Chandra Bravo Desmond Loppies Rachel carmella Christy ariyanto Marcel immanuel Davina Sharon Christopher Ferdy sumule Timotius firman gustavo hutagalung Jeremy Dayraen Faithree Yusanto Jessica Natalie Keisya Zefanya Florencia Lilis Putri Rantau Telaumbanua Jhansen Marcellino Meliana Florencia Franciska Sabar Krisna W Napitupulu Thalita Amanda Giovanni Ryuu Sebastian Tjandra Yohana Apriliani Pre-Test Gambar 4. Grafik Hasil pre-test dan post-test Post-Test Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Evaluation Phase Tahap evaluasi merupakan proses untuk menilai efektivitas pelatihan dengan membandingkan hasil pretest dan post-test yang diperoleh peserta. Berdasarkan hasil evaluasi, sebanyak 9 dari 18 peserta menunjukkan peningkatan nilai, yang setara dengan 50%. Sementara itu, 7 peserta atau 38,9% menunjukkan hasil pre-test dan post-test yang sama, tanpa perubahan nilai. Adapun 2 peserta, atau 11,1%, belum mengalami peningkatan dalam hasil tes mereka. SIMPULAN Pelatihan perancangan model bisnis berdasarkan BMC bagi siswa SMA Kristen Pringadi telah berhasil dilaksanakan melalui tiga tahapan utama: preparation, implementation, dan evaluation. Pelatihan ini memberikan pemahaman dasar kepada siswa mengenai pentingnya model bisnis dalam merancang usaha baru, serta memperkenalkan berbagai tipe model bisnis e-Business menurut Weill dan Vitale sebagai referensi tambahan. Berdasarkan hasil evaluasi, sebanyak 50% peserta mengalami peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan, sementara 38,9% peserta menunjukkan hasil yang tetap, dan 11,1% belum menunjukkan peningkatan. Hal tersebut menandakan bahwa pelatihan memberikan manfaat yang signifikan bagi sebagian besar peserta, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan efektivitas dalam pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang. DAFTAR RUJUKAN Bleistein. Aurum. Cox. , & Ray. Strategy-oriented alignment in requirements engineering: Linking business strategy to requirements of e-business systems using the SOARE Journal of Research and Practice in Information Technology, 36. , 259Ae276. Crotty. Kinney. , & Farren. Using the Business Model Canvas (BMC) strategy tool to support the Play4Guidance online entrepreneurial game. International Journal for Transformative Research, 4. , 34Ae41. https://doi. org/10. 1515/ijtr-2017-0005 Indrajit. Konsep dan Strategi e-Business. Maulana. Edukasi Integrasi Aplikasi Perkantoran bagi Mahasiswa. Tekmulogi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3. , 87Ae98. https://ejournal. edu/index. php/Tekmulogi/article/view/62172 Maulana. Model Perencanaan Proses Bisnis Berdasarkan Business Process Management Pada Universitas Dinamika. Jurnal Ilmiah Media Sisfo, 17. , 73Ae85. https://doi. org/10. 33998/mediasisfo. Maulana. Kerangka Kerja Analisis dan Pemodelan Pada Proses Bisnis Berdasarkan BPI Dan BSC. Jurnal Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer, 11. , 349Ae356. https://doi. org/10. 25126/jtiik. Maulana. , & Arnandy. Edukasi Integrasi dan Kolaborasi Pekerjaan Administratif Menggunakan Google Docs bagi Siswa SMK Perdana I. TEKMULOGI: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 27Ae38. Prescott. , & Filatotchev. The Business Model Phenomenon: Towards Theoretical Relevance. Journal of Management Studies, 58. , 517Ae527. https://doi. org/10. 1111/joms. Sjydin. Parida. Jovanovic. , & Visnjic. Value Creation and Value Capture Alignment in Business Model Innovation: A Process View on Outcome-Based Business Models. Journal of Product Innovation Management, 37. , 158Ae183. https://doi. org/10. 1111/jpim.