JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 Pengenalan Literasi Keuangan dan Digitalisasi UMKM sebagai Tahap Awal Pemberdayaan Ekonomi Kelurahan Margaluyu Ifan Mujiadi1*. Shinta Qurrota AAoyun2. Delpi3 . Purnama Rika Perdana4 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten E-mail: 221410132. ifan@uinbanten. id 1, 221430057. delpi@uinbanten. id 2, shintaqia06@gmail. com 3, purnama@kukerta. Diajukan 19-01-2026 Direvisi 27-01-2026 Diterima 31-01-2026 ABSTRACT The economic condition of the community in Margaluyu Village is still dominated by the agricultural sector, so the number of MSME actors is relatively limited. Most of the business actors still face challenges in embracing digitalization. Given this condition, it can be understood that strengthening financial literacy and introducing digitalization to MSMEs is a strategic step in encouraging the economic empowerment of the Margaluyu Village community. The method used is descriptive qualitative, which is research that tries to deeply describe the phenomena occurring in the field related to the introduction of financial literacy and digitalization among MSME actors in Margaluyu Village. The results of the activity show differences in the level of acceptance of digitalization between areas. In more densely populated areas with better road infrastructure conditions, the number of MSMEs is higher, and the community's attitude tends to be more cooperative. The outreach efforts conducted door-to-door yielded fairly positive results. This is an important initial step in raising community awareness about the benefits of digitalization. Keywoards : Finance. Digitalization. Economy ABSTRAK kondisi ekonomi masyarakat di kelurahan Margaluyu masih didominasi oleh sektor pertanian, sehingga jumlah pelaku UMKM relatif terbatas. sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi tantangan dalam menerima digitalisasi. Melihat kondisi tersebut, dapat dipahami bahwa penguatan literasi keuangan dan pengenalan digitalisasi UMKM merupakan langkah strategis dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Margaluyu. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang berupaya menggambarkan secara mendalam fenomena yang terjadi di lapangan terkait pengenalan literasi keuangan dan digitalisasi pada pelaku UMKM di Kelurahan Margaluyu. Hasil kegiatan menunjukan perbedaan tingkat penerimaan terhadap digitalisasi antar wilayah. Pada area yang lebih padat penduduk dengan kondisi infrastruktur jalan yang lebih baik, jumlah UMKM lebih banyak dan sikap masyarakat cenderung lebih koperatif. Upaya sosialisasi yang dilakukan secara door to door memberikan hasil yang cukup hal ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai manfaat digitalisasi. Kata Kunci : Keuangan. Digitalisasi. Ekonomi PENDAHULUAN Kehadiran UMKM mampu menyerap tenaga kerja, mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, dan menjadi penopang pertumbuhan di berbagai sektor(Joseph, 2. Namun, di era perkembangan teknologi yang semakin pesat. UMKM dituntut untuk mampu beradaptasi agar tetap bertahan dan bersaing. JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing adalah melalui digitalisasi. Digitalisasi UMKM dapat dipahami sebagai pemanfaatan teknologi digital untuk membantu pelaku usaha agar lebih efisien, mampu menjangkau pasar yang lebih luas, serta memiliki peluang lebih besar dalam inovasi. Penggunaan platform digital seperti media sosial dan marketplace telah terbukti membantu UMKM memperluas jangkauan produk bahkan hingga ke luar negeri. Tidak hanya dalam pemasaran, digitalisasi juga dapat memudahkan operasional usaha melalui aplikasi kasir digital, pencatatan inventaris, dan sistem pembukuan keuangan yang lebih rapi. Selain digitalisasi, faktor lain yang tidak kalah penting adalah literasi keuangan. Literasi keuangan berkaitan dengan kemampuan individu dalam memahami dan mengelola aspek keuangan secara tepat, mulai dari menyusun anggaran, menabung, berinvestasi, hingga mengambil keputusan finansial yang bijak. Masyarakat dengan tingkat literasi keuangan yang baik akan lebih siap menghadapi risiko, mampu memanfaatkan produk dan layanan keuangan dengan tepat, serta memiliki perencanaan masa depan yang lebih stabil. Literasi keuangan yang meningkat tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara lebih luas (Sari et al. , 2. Rendahnya minat dalam memanfaatkan teknologi pembayaran digital serta keterbatasan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan modern menjadi hambatan yang nyata bagi perkembangan usaha. Hal ini sejalan dengan temuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2025 yang menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih relatif rendah, yakni sebesar 66,46%. Lebih jauh lagi, literasi keuangan digital belum sepenuhnya menjadi bagian dari pemahaman keuangan masyarakat, sehingga banyak pelaku UMKM yang masih melakukan pencatatan secara manual, belum memahami manfaat digital banking, dan kesulitan memanfaatkan platform finansial berbasis teknologi. Kondisi tersebut membuat UMKM rentan terhadap risiko pengelolaan keuangan yang kurang optimal, kehilangan peluang pasar, bahkan kegagalan dalam menjaga keberlanjutan usaha. Kondisi ini konsisten dengan penelitian (Salsiati, 2. yang menegaskan bahwa literasi keuangan digital masyarakat Indonesia masih berada pada tahap awal dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk berkembang. Secara umum, kondisi ekonomi masyarakat di kelurahan Margaluyu masih didominasi oleh sektor pertanian, sehingga jumlah pelaku UMKM relatif terbatas. Usaha yang berkembang sebagian besar berupa warung kecil, seperti warung sembako maupun makanan siap saji dalam skala rumahan. Dalam konteks pemanfaatan teknologi, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi tantangan dalam menerima digitalisasi, misalnya penggunaan pembayaran berbasis QRIS yang dianggap belum sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang lebih memilih transaksi tunai. Di sisi lain, terdapat pula kelompok masyarakat yang mulai menunjukkan keterbukaan terhadap inovasi dan bersedia menerima pengenalan teknologi serta literasi keuangan dasar sebagai bagian dari upaya pengembangan usaha mereka. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan dalam penerimaan digitalisasi, yang menunjukkan bahwa proses transformasi ekonomi di tingkat desa masih berada pada tahap awal. Melihat kondisi tersebut, dapat dipahami bahwa penguatan literasi keuangan dan pengenalan digitalisasi UMKM merupakan langkah strategis dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat Kelurahan Margaluyu. Literasi keuangan yang baik akan membantu pelaku UMKM mengelola usaha secara lebih terencana, transparan, dan JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 berkelanjutan, sedangkan digitalisasi memberikan peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas akses pasar, serta mengefisiensikan aktivitas operasional. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang berupaya menggambarkan secara mendalam fenomena yang terjadi di lapangan terkait pengenalan literasi keuangan dan digitalisasi pada pelaku UMKM di Kelurahan Margaluyu. (Sugiyono, 2. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai kondisi, kebutuhan, dan potensi pelaku UMKM dalam proses pemberdayaan ekonomi desa. Penelitian dilakukan di Kelurahan Margaluyu, yang menjadi fokus pengembangan ekonomi masyarakat berbasis UMKM. Waktu penelitian dilaksanakan selama 40 hari, mulai dari tahap persiapan, pengumpulan data, hingga analisis. Subjek penelitian ini adalah pelaku UMKM di Kelurahan Margaluyu. Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu memilih informan yang dinilai mampu memberikan informasi yang relevan terkait topik penelitian. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah: Merupakan pelaku usaha mikro, kecil, atau menengah yang aktif di Kelurahan Margaluyu. Bersedia menjadi responden penelitian dan memberikan informasi secara terbuka. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu: Observasi: Peneliti mengamati secara langsung aktivitas UMKM, khususnya terkait praktik literasi keuangan sederhana . encatatan keuangan, pengelolaan modal, dan sebagainy. serta pemanfaatan digitalisasi dalam usaha . isalnya penggunaan media sosial atau marketplac. Wawancara Mendalam . n-depth intervie. : Dilakukan terhadap pelaku UMKM untuk menggali pengalaman, persepsi, pemahaman, serta hambatan yang mereka alami terkait literasi keuangan dan digitalisasi. Dokumentasi: Mengumpulkan dokumen pendukung berupa catatan kegiatan, foto, arsip program, maupun dokumen usaha yang dapat memperkuat data penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman . , yang meliputi: Reduksi Data: Memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Penyajian Data: Menyusun data dalam bentuk uraian deskriptif, tabel, maupun kutipan wawancara sehingga lebih mudah dipahami. Penarikan Kesimpulan: Menginterpretasikan data untuk menemukan pola, makna, serta simpulan mengenai kondisi literasi keuangan dan digitalisasi pada pelaku UMKM di Kelurahan Margaluyu. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari beberapa pelaku UMKM yang berbeda. Sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu, peneliti juga melakukan member check, yakni mengonfirmasi kembali data dan hasil interpretasi kepada informan agar sesuai dengan kenyataan di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pelaku UMKM di Kelurahan Margaluyu mengenai pengenalan aplikasi laporan keuangan (MoneyPlu. dan digitalisasi melalui QRIS, ditemukan beberapa temuan utama yang menggambarkan kondisi aktual masyarakat dalam merespons literasi keuangan dan digitalisasi, yaitu: Terhambatnya Digitalisasi Keuangan karena Kebiasaan Masyarakat yang Belum Terbiasa Teknologi. Sebagian besar pelaku UMKM masih lebih nyaman menggunakan sistem transaksi tunai dibandingkan pembayaran digital. Kebiasaan yang sudah mengakar, ditambah dengan rasa khawatir akan kesalahan penggunaan aplikasi, menjadi hambatan dalam penerapan digitalisasi. Hambatan ini juga ditemukan dalam penelitian (Palupi, 2. , yang menunjukkan bahwa proses adopsi teknologi keuangan memerlukan pendampingan intensif berbasis komunitas. Minimnya Literasi Keuangan Masyarakat. Sebagian besar UMKM belum melakukan pencatatan keuangan yang teratur. Keuangan usaha masih bercampur dengan keuangan rumah tangga, sehingga menyulitkan dalam mengatur modal maupun menghitung keuntungan. Saat diperkenalkan aplikasi Moneyplus, beberapa pelaku menunjukkan ketertarikan, namun keterbatasan pemahaman dasar mengenai literasi keuangan membuat pemanfaatan aplikasi belum optimal. Keterbatasan Hal Teknologi. Beberapa pelaku UMKM masih menggunakan perangkat telepon seluler dengan spesifikasi rendah sehingga tidak mendukung pemasangan aplikasi keuangan. Selain itu, kendala jaringan internet di beberapa wilayah serta keterbatasan biaya untuk kuota internet menjadi faktor penghambat dalam keberlanjutan penerapan Pembahasan kondisi ekonomi masyarakat di kelurahan Margaluyu masih didominasi oleh sektor Hal ini berpengaruh pada jumlah UMKM yang relatif sedikit, terutama di wilayah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. UMKM yang ada umumnya berbentuk warung kecil, seperti warung sembako, seblak, maupun bakso dengan skala usaha rumah tangga. Kehadiran UMKM ini memang belum besar, namun tetap memberikan kontribusi dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di luar sektor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pelaku UMKM di Kelurahan Margaluyu mengenai pengenalan aplikasi laporan keuangan (MoneyPlu. , ditemukan bahwa proses digitalisasi keuangan masih terhambat oleh kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi. Mayoritas pelaku UMKM masih mengandalkan cara manual dalam mencatat transaksi usaha, seperti menggunakan buku tulis, sehingga penggunaan aplikasi digital seperti MoneyPlus dirasakan cukup sulit dan membutuhkan JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 waktu lebih lama untuk beradaptasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan tradisional dalam pencatatan keuangan masih menjadi tantangan utama dalam proses transformasi (Prasetia et al. , 2. Selain itu, minimnya literasi keuangan juga menjadi kendala yang signifikan. Sebagian besar pelaku UMKM belum memahami konsep dasar pengelolaan keuangan, seperti pemisahan antara keuangan pribadi dan usaha, penyusunan anggaran, maupun pencatatan arus kas secara teratur. Rendahnya pemahaman ini membuat aplikasi MoneyPlus, yang sebenarnya dirancang untuk memudahkan pencatatan keuangan, tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan dasar merupakan langkah penting sebelum memperkenalkan sistem pencatatan digital yang lebih kompleks. (Junedi et al. , 2. Temuan lainnya adalah adanya keterbatasan dalam hal teknologi, baik dari sisi perangkat maupun infrastruktur. Tidak semua pelaku UMKM memiliki smartphone yang mendukung aplikasi keuangan digital, sementara sebagian lainnya menggunakan perangkat dengan kapasitas penyimpanan rendah sehingga sulit untuk menginstal aplikasi Kondisi ini memperlihatkan bahwa selain peningkatan literasi, ketersediaan sarana teknologi juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan digitalisasi UMKM di Kelurahan Margaluyu. Dalam hal digitalisasi usaha, masih ditemukan berbagai hambatan yang membuat perkembangan UMKM belum optimal. Banyak pelaku usaha yang menolak untuk membuat QRIS dengan alasan jarang ada konsumen yang menggunakan metode pembayaran digital. Selain itu, sebagian besar masyarakat masih lebih nyaman bertransaksi secara tunai karena dianggap lebih aman, bahkan ada yang khawatir bahwa uang hasil penjualan melalui QRIS tidak akan masuk ke rekening. Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan digital masyarakat masih rendah dan memerlukan pendampingan lebih lanjut. Meski demikian, perbedaan tingkat penerimaan terhadap digitalisasi tampak jelas antar wilayah. Pada area yang lebih padat penduduk dengan kondisi infrastruktur jalan yang lebih baik, jumlah UMKM lebih banyak dan sikap masyarakat cenderung lebih Walaupun masih ada penolakan, namun banyak pelaku usaha yang bersedia mendengarkan penjelasan dan terbuka untuk mencoba. Kondisi ini berbeda dengan wilayah yang mayoritas penduduknya petani, di mana resistensi terhadap digitalisasi lebih tinggi dan partisipasi UMKM lebih terbatas. Upaya sosialisasi yang dilakukan secara door to door memberikan hasil yang cukup Melalui pendekatan langsung, beberapa pelaku UMKM akhirnya bersedia membuat QRIS dan mencoba menggunakan sistem pembayaran digital. Meskipun jumlahnya belum banyak, hal ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai manfaat digitalisasi. Penerimaan ini menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat, hambatan dapat dikurangi, dan masyarakat mulai terbuka terhadap transformasi ekonomi berbasis digital. JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. Gambar 1. Mewawancarai Narasumber (Sumber: Dokumentasi Pribad. Gambar 2. Membuatkan QRIS (Sumber: Dokumentasi Pribad. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 JOSSE: Journal of Social Service and Empowerment Vol. 3 No. : Hal. Website : https://journal. id/index. php/josse 56743/josse. E-ISSN : 3063-8852 P-ISSN : 3063-8860 SIMPULAN DAN REKOMENDASI Kegiatan pengenalan literasi keuangan dan digitalisasi melalui aplikasi MoneyPlus serta penggunaan QRIS di Kelurahan Margaluyu menunjukkan bahwa mayoritas pelaku UMKM masih menghadapi hambatan signifikan, baik dari segi kebiasaan tradisional, minimnya pemahaman literasi keuangan, maupun keterbatasan sarana teknologi. Meskipun demikian, adanya respon positif dari sebagian kecil pelaku usaha yang bersedia mencoba penggunaan aplikasi dan QRIS menjadi indikasi awal bahwa transformasi digital tetap memiliki peluang untuk berkembang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan dasar harus ditingkatkan terlebih dahulu sebelum memperkenalkan digitalisasi secara lebih luas. DAFTAR PUSTAKA