Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 Dampak Digitalisasi Terhadap Keuangan Usaha Mikro F&B di Surabaya Vibby Arifianto Pratiwi 1. Mochammad Ilyas Junjunan2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya Email: vibbyap@gmail. com1, mij@uinsa. Abstract This study evaluates the impact of digitalization on the financial management of F&B MSMEs in Surabaya. The primary objective is to assess how the adoption of QRIS digital technology, financial applications, and digital record-keeping impacts cash flow efficiency, reporting accuracy, and cost control, as well as barriers to implementation. The research approach used was descriptive qualitative, with data collected through in-depth interviews and direct observation of three different MSMEs. The collected data were then analyzed thematically, using source triangulation to ensure the validity and reliability of the research findings. The results indicate that digitalization accelerates cash flow, simplifies transactions, and improves the accuracy and transparency of financial reports. QRIS and financial applications accelerate cash flow, reduce cash losses, and facilitate re al-time Digital record-keeping improves cost control and working capital planning. Key challenges include low digital literacy, limited resources for initial investment, and unstable internet Support, financial literacy, and access to technology are needed for long-term Keywords : financial digitalization. MSMEs, financial reporting. QRIS. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak digitalisasi terhadap pengelolaan keuangan UMKM F&B di Surabaya. Tujuan utama adalah menilai bagaimana adopsi teknologi digital QRIS, aplikasi keuangan, dan pencatatan digital mempengaruhi efisiensi arus kas, akurasi pelaporan, serta kendali biaya, serta hambatan implementasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap tiga pelaku UMKM yang berbeda. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara tematik, dengan melakukan triangulasi sumber untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan penelitian. Hasil menunjukkan digitalisasi mempercepat arus kas, memperlancar transaksi, dan meningkatkan akurasi serta transparansi laporan keuangan. QRIS dan aplikasi keuangan mempercepat arus kas, mengurangi kehilangan kas, serta memudahkan pelaporan real-time. Pencatatan digital meningkatkan kendali biaya dan perencanaan modal kerja. Tantangan utama meliputi literasi digital rendah, keterbatasan sumber daya untuk investasi awal, serta infrastruktur internet tidak stabil. Dukungan pendampingan, literasi keuangan, serta akses teknologi diperlukan untuk manfaat jangka panjang. Kata Kunci : digitalisasi keuangan. UMKM, pelaporan keuangan. QRIS. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License A 2025 Authors Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 PENDAHULUAN Digitalisasi telah menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi transformasi berbagai sektor usaha, termasuk usaha mikro di bidang makanan dan minuman (F&B). Surabaya, sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia, menunjukkan dinamika peningkatan adopsi teknologi digital dalam pengelolaan keuangan usaha mikro. Digitalisasi keuangan ini meliputi penggunaan teknologi pembayaran digital, aplikasi manajemen keuangan, dan sistem pencatatan transaksi berbasis digital yang berpotensi meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Namun, tantangan seperti rendahnya literasi digital dan resistensi terhadap teknologi juga menjadi hambatan dalam pemanfaatannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis dampak digitalisasi terhadap pengelolaan keuangan usaha mikro F&B di Surabaya, yang diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan untuk mendorong penggunaan teknologi digital secara lebih efektif (Alamsyah et al. Di era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi saat ini, digitalisasi telah menjadi faktor penggerak utama dalam transformasi bisnis di berbagai sektor, termasuk usaha mikro di bidang makanan dan minuman (F&B). Perkembangan teknologi digital yang pesat memicu perubahan signifikan dalam cara pelaku usaha mengelola keuangan, mulai dari pencatatan transaksi, pembayaran non-tunai, hingga akses permodalan. Surabaya sebagai kota metropolitan di Indonesia tidak terkecuali dalam tren ini, di mana usaha mikro F&B semakin banyak mengadopsi berbagai teknologi digital untuk memperkuat pengelolaan keuangan mereka (Arifin et al. Penggunaan teknologi digital ini diharapkan dapat membantu usaha mikro F&B meningkatkan efisiensi operasi dan akurasi pengelolaan keuangan, sehingga mereka dapat lebih produktif dan kompetitif. Namun, kendala seperti rendahnya literasi digital dan biaya implementasi teknologi menjadi tantangan yang dihadapi sebagian pelaku usaha dalam memaksimalkan manfaat digitalisasi. Selain itu, adaptasi terhadap perubahan teknologi memerlukan perubahan budaya dan pola pikir yang tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat (Chatterjee, 2. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengidentifikasi secara jelas dampak digitalisasi terhadap pengelolaan keuangan pada usaha mikro F&B di Surabaya. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris sekaligus rekomendasi strategis bagi pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung pengembangan UMKM berbasis digital yang berkelanjutan (Hidayat et al. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menggunakan paradigma interprevitism karena penelitian ini merupakan riset kualitatif yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara digitalisasi dan kondisi keuangan usaha mikro F&B. Menurut Fitrah & Luthfiyah . , metode kualitatif adalah penafsiran makna, keyakinan, pemikiran, nilai-nilai, dan gejala ciri-ciri umum, individu atau kelompok yang akan diidentifikasi, memahami, dan mengidentifikasi Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Studi kasus diidentifikasi sebagai suatu metode pengumpulan dan analisis data mengenai suatu kasus seperti kesenjangan, masalah, kesulitan, dan lain-lain (Sukmadinata, 2. Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 Subjek dari penelitian ini adalah 3 pelaku UMKM. Teknik penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang memiliki kriteria, yaitu berdomisili kota Surabaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teori Miles & Huberman. Menurut Miles & Huberman . , kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif, berkesinambungan hingga sempurna. Langkah-langkah analisis data menurut Miles & Hubberman adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Triangulasi dilakukan untuk memperoleh kebenaran dan meminimalkan bias yang didapatkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membandingkan data temuan dengan berbagai wawancara dan observasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Digitalisasi mempengaruhi aliran kas dan pengendalian biaya dalam usaha mikro F&B di Surabaya Digitalisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap aliran kas dan pengendalian biaya dalam usaha mikro F&B di Surabaya. Salah satu contoh nyata adalah penerapan sistem pembayaran digital seperti QRIS yang memudahkan proses transaksi secara cepat dan aman, sehingga mempercepat arus kas dan meminimalkan risiko kehilangan uang tunai atau kesalahan pencatatan manual. Selain itu, penggunaan aplikasi keuangan berbasis digital membantu pelaku usaha dalam memantau pendapatan dan pengeluaran secara real-time. Hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan pengendalian biaya secara lebih efektif dan mengidentifikasi pengeluaran yang tidak perlu, sehingga dapat mengoptimalkan profit dan mengurangi Pengembangan sistem pencatatan keuangan digital juga menyebabkan meningkatnya transparansi dan akurasi data keuangan usaha (Diyana et al. Dengan data yang lengkap dan terpercaya, pelaku usaha bisa melakukan perencanaan keuangan yang lebih baik, termasuk pengelolaan modal kerja dan strategi pengembangan usaha. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya literasi digital dan kurangnya pemahaman terkait teknologi keuangan di kalangan pelaku usaha mikro. Oleh karena itu, penting adanya pendampingan dan pelatihan berkelanjutan agar mereka mampu memanfaatkan teknologi ini secara optimal dan efektif. Selain manfaat langsung dalam pengelolaan keuangan, digitalisasi juga membuka peluang akses pembiayaan yang lebih luas melalui platform fintech dan layanan digital lainnya. Hal ini sangat membantu usaha mikro dalam memperoleh modal kerja yang diperlukan untuk pengembangan usaha (Putri, 2. Dalam konteks pandemi Covid-19, digitalisasi menjadi bagian penting dalam strategi adaptasi usaha mikro F&B agar tetap kompetitif dan mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan digitalisasi, usaha mikro tidak hanya mampu melakukan pengelolaan keuangan yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan daya saing melalui inovasi pemasaran dan pelayanan yang Secara keseluruhan, digitalisasi memberikan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan transparansi pengelolaan keuangan usaha mikro F&B di Surabaya, tetapi harus Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 diimbangi dengan peningkatan literasi digital dan keberlanjutan pelatihan agar manfaatnya dapat benar-benar dirasakan secara optimal oleh pelaku usaha (Maslaka et al. Tabel 1 . Aliran Kas dan Pengendalian Biaya Dalam Usaha Mikro F&B Aspek Digitalisasi Sistem Pembayaran Digital Aplikasi Keuangan Digital Sistem Pencatatan Keuangan Digital Akses Pembiayaan Keseluruhan Dampak Positif Contoh Nyata Mempercepat arus kas, meminimalkan risiko kehilangan uang tunai atau kesalahan pencatatan manual. Memantau pendapatan dan pengeluaran realtime, pengendalian biaya efektif, mengidentifikasi pengeluaran tidak perlu, optimalkan profit, kurangi pemborosan. Meningkatkan transparansi dan akurasi data keuangan, perencanaan keuangan lebih baik . engelolaan modal kerja, strategi Membuka peluang pembiayaan lebih luas melalui platform fintech. QRIS untuk transaksi cepat dan Tantangan Solusi Rendahnya literasi digital dan teknologi keuangan di kalangan pelaku usaha mikro Pendampingan dan berkelanjutan agar dapat memanfaatkan teknologi secara Data lengkap dan Membantu usaha mikro memperoleh modal kerja untuk Peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan transparansi pengelolaan keuangan. Sumber: (Diyana et al. , 2. Tantangan utama yang dihadapi oleh pelaku usaha mikro F&B di Surabaya dalam menerapkan digitalisasi keuangan Pelaku usaha mikro F&B di Surabaya menghadapi berbagai tantangan utama dalam menerapkan digitalisasi keuangan yang beragam dan kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya literasi digital dan keterbatasan pengetahuan teknis di kalangan pelaku usaha. Banyak dari mereka yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital dalam aktivitas bisnis sehari-hari, sehingga merasa kesulitan untuk mulai mengadopsi sistem digitalisasi keuangan. Hal Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 ini menyebabkan resistensi terhadap perubahan dan ketidakoptimalan pemanfaatan teknologi yang tersedia. Selain itu, keterbatasan sumber daya finansial juga menjadi hambatan signifikan. Usaha mikro sering kali menghadapi kesulitan dalam mengalokasikan anggaran untuk investasi awal teknologi digital, seperti perangkat keras dan perangkat lunak pencatatan keuangan, atau biaya pelatihan untuk meningkatkan kompetensi digital pekerjanya. Hal ini memperlambat proses adopsi digitalisasi dan membuat usaha mikro cenderung memilih metode pencatatan manual yang sudah dikenal, meskipun kurang efisien (Anggraini, 2. Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah kendala akses terhadap infrastruktur teknologi yang memadai, terutama di wilayah dengan jaringan internet yang masih terbatas atau tidak stabil. Koneksi internet yang tidak stabil dapat menghambat penggunaan aplikasi digital secara konsisten dan optimal, sehingga pelaku usaha sulit melakukan pencatatan dan pelaporan keuangan secara real-time yang menjadi keunggulan utama digitalisasi. Selain itu, kurangnya waktu dan tenaga untuk belajar dan menerapkan sistem digital juga menjadi hambatan nyata. Banyak pelaku usaha mikro F&B yang harus membagi waktu antara operasional usaha dan kehidupan pribadi, sehingga sulit meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan atau pendampingan yang dibutuhkan untuk memahami teknologi digital dan perangkat lunak keuangan yang baru (Wahyudi, 2. Pengelolaan perubahan dan adaptasi budaya usaha juga menjadi tantangan yang perlu Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir dan proses Pelaku usaha perlu mengubah cara mereka mengelola keuangan dari metode tradisional ke sistem digital yang lebih modern dan terintegrasi. Proses ini memerlukan waktu dan dukungan agar dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan kebingungan atau kegagalan implementasi. Selain itu, isu keamanan data menjadi perhatian penting dalam digitalisasi keuangan. Banyak pelaku usaha mikro merasa was-was terkait risiko keamanan data dan privasi, sehingga mereka ragu untuk menyimpan data keuangan secara digital. Ketidakpastian akan perlindungan data ini bisa menjadi penghambat bagi mereka untuk sepenuhnya beralih ke sistem digital (Wilujeng, 2. Terakhir, tantangan dalam hal pendampingan dan dukungan teknis juga cukup Meski pemerintah dan berbagai lembaga telah menyediakan program pelatihan dan pendampingan digitalisasi, cakupan dan intensitas bantuan tersebut masih terbatas sehingga tidak semua pelaku usaha mikro dapat menjangkaunya secara memadai. Pendampingan yang intensif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar transformasi digital berjalan efektif dan manfaatnya benar-benar dirasakan (Maslaka, 2. Dengan demikian, tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha mikro F&B di Surabaya dalam menerapkan digitalisasi keuangan meliputi literasi digital rendah, keterbatasan sumber daya, infrastruktur teknologi, waktu dan tenaga, adaptasi budaya usaha, keamanan data, serta kebutuhan pendampingan yang memadai. Mengatasi tantangan-tantangan ini menjadi kunci bagi keberhasilan transformasi digital dalam sektor usaha mikro F&B di Surabaya (Dewi et al. Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 Tabel 2 . Tantangan Utama Yang Dihadapi Oleh Pelaku Usaha Mikro F&B Tantangan Utama Rendahnya Literasi Digital dan Keterbatasan Pengetahuan Teknis Keterbatasan Sumber Daya Finansial Kendala Akses Infrastruktur Teknologi Kurangnya Waktu dan Tenaga Pengelolaan Perubahan dan Adaptasi Budaya Usaha Isu Keamanan Data Tantangan dalam Pendampingan dan Dukungan Teknis Deskripsi Pelaku usaha belum terbiasa menggunakan teknologi digital seharihari, menyebabkan resistensi terhadap perubahan dan kesulitan adopsi sistem digitalisasi keuangan. Kesulitan mengalokasikan anggaran untuk investasi awal seperti perangkat keras, perangkat lunak, atau pelatihan kompetensi digital. Jaringan internet terbatas atau tidak stabil, terutama di wilayah tertentu. Pelaku usaha harus membagi waktu antara operasional usaha dan kehidupan pribadi, sulit meluangkan waktu untuk pelatihan atau pendampingan. Perlu mengubah pola pikir dan proses kerja dari tradisional ke digital, memerlukan waktu dan dukungan. Kekhawatiran risiko keamanan data dan privasi saat menyimpan data keuangan secara digital Program pelatihan dan pendampingan dari pemerintah/lembaga masih terbatas cakupan dan intensitasnya. Dampak Ketidakoptimalan pemanfaatan teknologi, memperlambat transformasi digital. Memilih metode manual yang kurang efisien, memperlambat adopsi Menghambat penggunaan aplikasi digital secara konsisten, sulit melakukan pencatatan real-time. Kesulitan memahami teknologi baru, implementasi terhambat. Kebingungan atau kegagalan implementasi jika tidak didukung dengan baik. Ragu beralih ke sistem digital, menghambat adopsi penuh. Tidak semua pelaku usaha dapat menjangkau bantuan memadai, transformasi kurang efektif. Sumber: Anggraini . KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa digitalisasi keuangan pada UMKM F&B di Surabaya secara signifikan meningkatkan efisiensi arus kas, akurasi pencatatan, dan transparansi laporan keuangan, sehingga mendukung hipotesis pertama bahwa penerapan sistem pembayaran digital . hususnya QRIS) mempercepat perputaran kas dan mengurangi kebocoran serta kesalahan pencatatan manual. Hasil analisis juga membuktikan hipotesis kedua bahwa penggunaan aplikasi keuangan terintegrasi mampu meningkatkan pengendalian biaya dan mempercepat perencanaan modal kerja melalui identifikasi pengeluaran tidak efisien secara real-time. Namun, kendala literasi keuangan yang masih rendah serta kekhawatiran keamanan data tetap menjadi penghambat Dengan demikian, transformasi digital UMKM F&B memerlukan intervensi terpadu berupa pendampingan intensif, peningkatan literasi keuangan dan digital agar hasil positif penelitian ini dapat direalisasikan secara berkelanjutan. Vol. 3 No. 1 : 2026 pp. DOI: https://doi. org/10. 52620/jseba. ISSN 3031-9110 DAFTAR PUSTAKA