JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. KETERAMPILAN MENDENGARKAN PERSPEKTIF AL-QURAoAN Aris Setyawan STAI Asy-Syukriyyah setyawan@asy-syukriyyah. Alexander Guci Alex STAI Asy-Syukriyyah Tangerang aguci77@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kata samiAoa dalam Al-QurAoan serta menggali beberapa tafsiran dari ayat ayat tersebut dimana akan diperoleh sebuah pemamahaman yang lebih komprehensif terkait definisi mendengarkan. Penelitian ini adalah penelitian kualititatif dengan pendekatan tafsir maudhui. Adapaun Langkah-langkah penelitian adalah penulis menghimpun beberapa ayat Al-QurAoan yang memiliki unsur kata samiAoa, kemudian penulisan analisis ayat-ayat tersebut dengan pendekatan tafsir. Dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa keterampilan mendengarkan perspektif Al-QurAoan adalah kemampuan menanggapi sebuah pesan Al-QurAoan yang diperdengarkan dengan seksama, khusuAo dan penuh penghayatan sehinga mampu meningkatkan keimanan dengan jalan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan berdasarkan pesan Al-QurAoan yang telah disampaikan atau diperdengarkan. Kata Kunci: Mendengarkan, mendengarkan perspektif Al-QurAoan. PENDAHULUAN Mendengarkan menginterpretasikan bunyi ujaran, kemudian mengevaluasi hasil interpretasi makna dan menanggapi pesan yang tersirat dalam wahana ujaran. 1 Senada dengan pandangan tersebut, mendengarkan adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang verbal dengan penuh perhatian dan pengertian untuk memperoleh informasi yang disampaikan secara lisan dan mampu memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melalui tuturan atau bahasa lisan. Menurut Henry Guntur Tarigan, mendengarkan adalah suatu proses mendengarkan lambang-lambang verbal dengan penuh perhatian, pengertian, penghayatan dan penafsiran Artifa Sorraya. Luly Zahrotul Lutfiyah, dan Yana Yana. AuMetode Simak-Berantai Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Menyimak Pada Mahasiswa PBSI Angkatan 2021B IKIP Budi Utomo,Ay Paradigma: Jurnal Filsafat. Sains. Teknologi, dan Sosial Budaya 28, no. : 47Ae55, http://ejurnal. id/index. php/paradigma/article/view/2373. Komang Puteri Yadnya Diari dan Made Susila Putra. AuMenumbuhkan Literasi Bahasa Melalui Budaya Mesatua Pada Siswa Sekolah Dasar,Ay Prosiding Nasional, 2019, 109Ae15, http://proceedings. org/index. php/PN/article/view/253. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 138 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui tuturan atau bahasa, berbicara, lidah. Berbeda dengan pendapat Tarigan. Kundharu Saddhono dan St. Y Slamet berpendapat bahwa mendengarkan dikatakan sebagai kegiatan tutur reseptif dalam suatu kegiatan berbicara . dengan media pendengaran . dan media penglihatan . Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa yang disebut dengan mendengarkan adalah suatu kegiatan mendengarkan dengan cermat dan utuh menafsirkan lambang, bunyi, suara, informasi atau pesan untuk dapat memahami, menilai dan mengambil makna dari informasi yang disampaikan. Dua aspek tujuan mendengarkan dapat dibedakan dalam proses ini, yaitu: Persepsi, yaitu ciri-ciri kognitif dari proses mendengarkan yang didasarkan pada pemahaman pengetahuan kaidah linguistik. Penerimaan, yaitu pengertian pesan atau penafsiran pesan yang diinginkan oleh Menurut Gary T. Hunt dalam Kundharu Saddhono menyatakan bahwa tujuan mendengarkan adalah sebagai berikut: Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan profesi. Menjadi lebih efektif dalam hubungan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di tempat kerja dan dalam kehidupan sosial. Mengumpulkan data untuk menarik kesimpulan yang masuk akal. Mampu menanggapi secara memadai segala sesuatu yang didengar. Telah dijelaskan di atas bahwa hakikat mendengarkan yang baik adalah pendengar mampu memberikan jawaban yang tepat berdasarkan informasi yang diperoleh. Berdasarkan pendapat di atas, tujuan utama mendengarkan adalah untuk memperoleh informasi, memperoleh pengetahuan, menangkap isi dan memahami makna yang disampaikan oleh pembicara, serta menikmati dan mengevaluasi materi mendengarkan. Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis tertarik untuk melakukan analisis lebih dalam terkait pendalaman definisi dari mendengerkan itu sendiri. Penulis mencoba untuk melakukan sebuah penelitian kualititatif dengan pendekatan tafsir maudhui. Hal ini penulisan lakukan karena kata mendengar banyak muncul dibeberapa ayat di Al-QurAoan sehingga penulis berpendapat bahwa dengan menganalisis beberapa ayat dalam Al-QurAoan maka penulis mendapatkan sebuah definisi mendengarkan yang lebih komprehensif dalam perspektif ALQurAoan. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 139 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. KETERAMPILAN MENDENGARKAN PERSPEKTIF AL-QURAoAN Dalam dalam bahasa Arab mendengarkan berasal dari kata samiAoa yang memiliki arti 3Sedangkan dalam Al-QurAoan banyak sekali kata-kata yang memiliki unsur kata samiAoa. Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba malakukan penelitian Untuk memahami istilah mendengarkan ini, penulis mencoba menganalisis beberapa ayat Al-QurAoan yang memiliki unsur kata mendengarkan . amiAo. Adapun ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut: S Al-Baqarah . : 93. en ca AaO au a aIa aIO a aCa aE I aO a Ia Aa OCa aE aIA AO aaOe aI e a aO aIa aEI aCa acO n aOA A aI IaA a eA aIaOe CaEaOA a AEA A aI Oa aI a aEI a aNe uaO a aIIa aE I uaI aEIaIA a AaOA a AA OIa aO a aaOe AaO CaEaOa aN aI E a aE a aE A a aN oI Ca E a A a AA acI aIIaOIA Artinya: AuDan . ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sina. di atasmu . eraya berfirma. , "Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab, "Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati. " Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu . ecintaan menyembah patun. anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, "Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!Ay. (QS. Al-Baqarah . : . Dalam Tafsir Al-Quranul Majid An-Nuur dijelaskan bahwa ayat ini perintah Allah SWT kepada nabi Muhammad untuk mengingatkan bani israil untuk menempati janji yakni janji untuk menaati segala yang ada dalam kitab taurat. 4 Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang perincian kesalahan, pelanggaran janji, kesombongan orang Allah SWT mengangkat gunung tursina untuk ditimpakan kepada kaum yahudi. Hal ini dilakukan Ketika Allah SWT sudah memberikan peringatan dengan mengatakan kata wasma'u, yang memiliki arti dengarkan lah! Akan tetapi kaum yahudi menjawab dengan kata qalu samiAona wa Aoasaina yang memiliki arti mereka menjawab, kami mendengarkan tetapi kami tidak menaatinya. Dalam tafsir Al-Munir menjelaskan kata wasmaAou pada ayat ini tidak sekedar hanya mendengar perkataan saja. Kata tersebut memiliki arti mendengar sambal berfikir, menaati, dan Maskur Maskur. AuTradisi Semaan Al-Quran Di Pondok Pesantren,Ay Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam 6, no. : 68Ae82, https://ejournal. stai-tbh. id/al-liqo/article/view/320. Teungku Muhamnad Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir Al-Quranul Mdajid An-Nuur (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2. , 60. Abdullah bin Muhammad bin AoAbdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, diterjemahkan oleh Lubabut Tafsiir min Ibni Katsiir (Bogor: Pustaka Imam Asy-SyafiAoi, 2. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 140 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. melaksanakan perintah. 6 Hal ini sejalan dengan pendapat Al-Qurthubi yang menjelaskan bahwa kata wasmaAou adalah taatilah dan bukan sekedar mendengarkan perkataan saja akan tetapi amalkanlah apa yang telah kalian dengar dengan konsisten dalam melaksanakannya. Dalam tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa kata wasmaAou berarti dengarkanlah segala ajaran yang disampaikan kepada kamu dengan perantaraan rasul Kami Musa dan Harun. Tetapi apa sambutan kamu atas perjanjian itu, perjanjian yang sampai mengancam kamu akan rnenghimpitmu dengan gunung? AuMereka berkata: Telah memahami tetapi durhaka. Begitulah sambutan kamu atas perjanjian dan perintah Tuhan Meskipun mulut tidak berkata begitu, tetapi perbuatanmu menjawab begituAy. Lebih lanjut dalam tafsir ini menjelaskan bahwa seharusnya ketika seseorang yang sudah mendapatkan perintah seharusnya mau memahaminya, menaatinya serta mengimaminya. Iman yang benar kepada sesuatu adalah yang menyeru kepada keselarasan yang bulat dengan segala tuntutan iman tersebut. Jadi, barang siapa yang bersungguh-sungguh beriman kepada taurat, dia wajib mengamalkan isinya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi laranganlarangan-Nya. Ini menyerunya pula untuk beriman kepada semua yang mendukung dan menguatkannya serta mengakui isinya dan karena Al-QurAoan sudah datang dengan membenarkan isi taurat maka harus diimani dan diikuti petunjuknya. Akan tetapi, kaum yahudi pada masa silam dan pada zaman nabi Muhammad sungguh-sungguh aneh sikapnya. Hal ini dikarenakan kaum yahudi mengaku beriman tetapi mereka mengingkari ayat-ayat Allah SWT. Dengan penjelasan di atas, penulis berpendapat bahwa mendengarkan adalah sebuah kemampuan seseorang dalam memahami segala informasi yang baik yang datang kepadanya. Indikator seseorang dikatakan baik dalam mendengarkan adalah dengan menaati segala informasi tersebut dalam arti menjalankan sungguh-sunguh apa yang diperintah dan menjahui segala yang dilarang. Bila sesorang tidak menaatinya dan bahkan menjalankan yang dilarang, dapat dikatakan seseorang tersebut tidak memiliki kemampuan mendengarkan yang baik. Dalam ayat ini, terlihat bahwa kaum yahudi atau bani isral tidak memiliki sebuah kemampuan mendengarkan dengan baik. Hal ini terlihat dari sikap kaum yahudi yang tidak menepati janjinya. Mereka mengatakan qalu samiAona yang berarti kami memahami dan siap Wahbah Az-Zuhaili. TafsirAl-Munir: Akidah. Syariah, & Manhaj Jilid 1 (Jakarta: Gema Insani, 2. Al-Qurthubi Al-Qurthubi. Tafsir Al-Qurthubi Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. Hamka Hamka. Tafsir Al-Azhar Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani, 2. Az-Zuhaili. TafsirAl-Munir: Akidah. Syariah, & Manhaj Jilid 1. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 141 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Akan tetapi mereka juga mengatakan waAoasaina dalam arti mereka mengingkari dan tidak menjalankan segala perintah yang sudah mereka pahami sebelumnya. S Al-Baqarah . : 285. o aAI aE auEa O aN aII ac a aN aO E aI aIIA AcEE aO aI aEaa aEa aN aO aE a a aNA a AEA ca a aIIA a ca AOIa aEE a aIIa aA a a AO aE a aI e A a a A aI Ia aOA a A I neaA A A aI aaE aacIa aO auEa O aEA a A aEaN aE Ia a aC a OIa a a n aII acA a AaO aA a eA aE oaN aOCaEaOA u AOA a a a AE aIA Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang mukmin mengimani bahwa Allah adalah satu yang Esa, sendiri dan kekal, tidak ada Ilah yang haq selain diri-Nya, tidak ada Rabb melainkan diri-Nya. Dan mereka membenarkan semua nabi dan rasul, kitab-kitab yang diturunkan dari langit kepada hamba-hamba-Nya yang diutus menjadi nabi dan rasul. Mereka tidak membeda-bedakan antara rasul yang satu dengan yang lain. Sehingga mereka tidak hanya beriman kepada sebagian dan ingkar terhadap sebagian yang lain. Tetapi seluruh nabi dan rasul itu, menurut mereka adalah benar, baik, mendapat bimbingan dan memberi petunjuk kepada jalan kebaikan meskipun sebagian rasul itu menghapus syariat sebagian rasul lainnya dengan seizin Allah hingga akhir hayatnya seluruh syariat mereka dihapuskan dengan syariat nabi Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, dan hari kiamat akan terjadi pada masa syariat nabi Muhammad, dan akan tetap ada segolongan dari umatnya yang berpegang teguh dan menetapi kebenaran. Penulis berpendapat bahwa penjelasan diatas adalah penjelasan dari kalimat amanarrasulu bima unzila ilahi mir rabbihi wal-muAominun, kullun amana billahi wa malaaikatihi wa kutubihi wa rusulih, laanufarriqu baina ahadim mir rusulih yang artinya Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian pula orang-orang yang Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasulrasul-Nya yang mana kalimat tersebut adalah kalimat berita. Dengan kata lain itu adalah sebuah informasi yang Allah berikan tentang ciri dari pada orang beriman. Sedangkan kata wa qalu samiAona wa ataAona adalah ungkapan umat yang beriman yang mengatakan bahwa kami mendengarnya dan kami akan menaati kalimat berita atau informasi . Dalam tafsir Al-Qurthubi, dijelaskan informasi tersebut hingga membuat Allah bertanya kepada nabi Muhammad perihal bagaimana respon umatmu terhadap firman-Nya dan nabipun Ishaq Alu Syaikh. Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, diterjemahkan oleh Lubabut Tafsiir min Ibni Katsiir. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 142 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. menjawab umatnya menyatakan siap untuk mendengarkannya dan menaatinya. 11 Pernyataan umat nabi Muhammad tersebut juga dituliskan pada tafsir Al-Munir dimana kaum mukminin mengatakan bahwa nabi Muhammad telah menyampaikan wahyu kepada kami, lalu kami pun mendengarnya, merenunginya, memahaminya dan menerimanya serta taat dan patuh kepada semua perintah dengan keyakinan bahwa setiap perintah dan larangan adalah sebuah kebaikan bagi mereka di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pada ayat ini kata samiAona adalah sebuah kata yang tidak hanya dipahami sebagai kami mendengar tetapi juga kami telah merenungi, dan kami telah memahami, dan kata selanjutnya adalah ataAona adalah respon positif atau sikap dari seorang mukmin setelah mereka mendengarkan, merenungkan, dan memahami, mereka taati dan jalankan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Dalam tafsir Al-Azhar dijelaskan kata samiAona adalah dengar dengan ketaan dalam arti segala perintah Allah yang disampaikan oleh Rasul itu telah sampai kepada mereka dan telah mereka dengarkan baik-baik dan telah mereka Tetapi bukanlah semata-mata didengar saja, melainkan mereka turuti dengan Karena semata-mata mendengar padahal tidak dituruti dengan ketaatan tidaklah ada Dengan demikian pada ayat ini pula dapat dipahami bahwa kemampuan mendengar adalah sebuah kemampuan seseorang dalam memahami segala informasi yang baik yang datang Indikator seseorang dikatakan baik dalam mendengarkan adalah dengan menaati segala informasi tersebut dalam arti menjalankan sungguh-sunguh apa yang diperintah dan menjahui segala yang dilarang. Bila sesorang tidak menaatinya dan bahkan menjalankan yang dilarang, dapat dikatakan seseorang tersebut tidak memiliki kemampuan mendengarkan yang Dalam ayat ini, terlihat bahwa kaum mukminin memiliki sebuah kemampuan mendengarkan dengan baik. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang mengimani ayat yang telah disampaikan kepada mereka. Mereka mengatakan qalu samiAona yang berarti kami memahami dan siap menjalankannya dengan mengimani rasul adalah utusan Allah dan hari kiamat pasti akan terjadi. Al-Qurthubi. Tafsir Al-Qurthubi Jilid 2. Hamka. Tafsir Al-Azhar Jilid 1,. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 143 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. S Al-Maidah . : 83. e a AO aE a aA aOe aIIA a AEA a AO a OaIa aN I a a ca AI aE auEaOA a AO aIIa E acI a aI acIA a AaO auaA a a A aIaOe aI e A ca a AC OaCaOEaOIa aacIa e a aIIac Aa E a Ia aI a EA aA aNaOIA a en AE aA Dalam tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa ayat tersebut adalah lanjutan penjelasan bagaimana kebersihan hati pendeta-pendeta dan Rahib-rahib itu. Apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, akan engkau lihat air mata mereka meleleh, lantaran apa yang telah mereka ketahui setengah dari kebenaran. Demikianlah sambutan pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang hati mereka penuh dengan kemuliaan itu bila mereka mendengar al-Quran dibacakan kepada mereka. Mereka sampai menangis mendengar beberapa ayat saja yang Sebab itu maka dikatakan di dalam ayat sebab mereka menangis ialah setelah mereka mengetahui setengah dari kebenaran (Minal-Haqq. Baru sebahagian saja yang mereka dengar, mereka sudah terharu, apalagi jika mereka mendengar seluruh isi al-Quran. Menurut riwayat an-Nasa'i dan lbnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dan Ath-Thabrani dan Abusy-Syaikh dan Ibnu Mardawaihi, yang mereka terima dari Abdullah bin Zubair, pendeta-pendeta dan rahib-rahib ini ialah orang-orang besar dalam bidang agama, yang hadir dalam majlis Najasyi seketika dibacakan ayat-ayat al-Quran. Dari penejelasan di atas dapat diketahui bahwa ada sebuah kisah dimana ada beberapa pendeta yang menangis setelah mereka mendengarkan sebagian bacaan al-QurAoan yang Menurut riwayat Ibnu Abu Syaibatr. Ibnu Abu Hatim. Abu NuAoaim dalam AlHilyah, dan AI-Wahidi meriwayatkan dari jalur Ibnu Syihab, ia berkata bawah Sa'id bin Al Musayyab. Abu Bakar bin Abdunatrman bin Al Harits bin Hisyarn, dan Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku, mereka berkata bahwa Rasulullah mengutus seorang sahabat bernama Amr bin Umayyah dan menuliskan surat kepada An-Najasyi. Amr pun berangkat menghadap An-Najasyi, lalu An-Najasyi membaca surat Rasulullah. Kemudian ia mernanggil JaAofar bin Abu Thalib dan kaum Muhajirin lainnya yang bersamanya. An-Najasyi kemudian memanggil para rahib dan pendeta, lalu ia menyuruh JaAofar bin Abu Thalib agar membacakan surah Maryam kepada para pendeta dan para pendeta pun beriman kepada al-Qur'an hingga air mata mereka menetes. Hamka. Asy-Syaukani Asy-Syaukani. Tafsir Fathul Qadir Jilid 3, (Jakarta: Pusaka Azzam, 2. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 144 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan menetesnya air mata pendeta adalah air mata bertanda mereka orang yang penuh dengan pengetahuan. Mereka menangis namun mereka tidak pingsan. Mereka menangis namun mereka tidak berteriak. Mereka bersedih namun mereka tidak mati. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Az-Zumar . : 23 ca A a ac aI INa aEaOa EacaOIa Oa aOIa aac aN IA a AO aCA a a a A aE a a acIA a AIa E aaOA a AcEEa I aca aE a A a a N acIaIA A e o a aO aII OA a A a acI a aEA ca Aa aE aEA a AcEE aON aO aaN aII aOA aAcEEA a ca AcEE aa aE aE NaaOA a o ca AOI aEaOaNa I aOCaEaOa aN I auEa aO aE aA a aI Ea uNa aI I Na sA Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa tanda-tanda orang yang beriman adalah mereka yang merasa bergetar ketika diperdengarkan al-QurAoan dalam arti mendengarkan ayat tersebut bukan hanya sekedar mendengarkan melainkan menghayati dan memahaminya. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa berdasarkan surah Al-Maidah ayat 83 menjelaskan bahwa ciri orang yang memiliki kemampuan mendengarkan yang baik adalah mereka yang memahami dan menghayati apa yang didengarkan dimana pemahaman dan penghayati seorang pendengar dapat terlihat dari pada ekspresi wajah pendengar itu sendiri. Dalam hal ini, pada ayat ini ekspresi wajah yang diperlihatkan pendengar yang menunjukan kepahamannya terhadap isi yang mereka dengar adalah dengan mereka menangis. Dengan menangisnya mereka menunjukan tingkat keseriusan mereka menanggapi infomarsi yang disampaikan dan mereka memahaminya. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa bila kita sedang melakukan sebuah komunikasi dua arah secara empat mata atau dua orang hingga dalam kelompok besar maka seorang presenter atau pembicara harus melihat ekspresi wajah untuk melihat sejauhmana mereka mendengarkan informasi yang disampaikan dan untuk mengukur seberapa paham mereka terkait informasi yang disampaikan. S Al-Araf . : 204. aAI AA a A ECa aA aAIAaOe Ea aEac aE I a a aIOIA a AaO aua Ca aA a a A aaIaOe Ea uNa aOA JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 145 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ayat ini merupakan pengarahan kepada kaum muslimin agar jangan bertindak seperti kaum musyrikin yang mendatangi Rasulullah ketika beliau sedang shalat, sewaktu di Mekah. 15 Dalam surah Fussilat ayat 26 Allah SWT berfirma aAI aO E aOe AaO aN Ea aEac aE I a aEaOIA a AaOCa aE EacaOIa aEAa aOe aE a aIaOe aE a aNa ECa aA Dengan demikian dapat dipahami bahwa ayat tersebut diturunkan oleh Allah SWT untuk memberikan petunjuk untuk tidak mengikuti perbuatan orang kafir yang merasa acuh ketika diperdengarkan al-QurAoan dan mereka cenderung membuat keributan. Penulis berpendapat bahwa dengan ayat ini, sungguh jelas bahwa Allah sangat meninggikan derajat al-QurAoan. Sebagai seorang mukmin bila diperintahkan memiliki adab yang baik khususnya ketika diperdengarkan al-QurAoan. Salah satu adab yang terbaik adalah dengan diam sejenak dan khusuAo serta menghayati bacaan al-QurAoan. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan dalam tafsir Al-Munir. Apabila al-QurAoan dibacakan, simaklah dan dengarkanlah agar kamu memahami ayat-ayat yang dikandungnya dan mengambil pelajaran yang disampaikannya. Tinggalkanlah semua ucapan yang lain dan perhatikanlah dengan saksama disertai kekhusyukan dan ketenangan agar kamu memahami dan Dengan pemahaman dan tadabbur itulah kamu mengambil pelajaran dari apa yang disampaikannya. Diharapkan kamu mendapatkan rahmat Allah karena hal tersebut hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas yang hatinya bersinar dengan cahaya Begitu pula dalam tafsir Fathul Qadir. Dijelaskan bahwa ayat ini adalah perintah Allah kepada semua . aum muslimi. khususnya dan umumnya seluruh manusia di muka bumi ini untuk mendengarkan al-QurAoan dan memperhatikannya dengan seksama ketika dibacakan, agar dapat mengambil manfaat dengan itu dan menghayati hukum-hukum dan kebaikan-kebaikan yang terkandung di dalamnya agar kamu memperoleh dan mendapat rahmat dengan melaksanakan perintah Allah SWT. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa pada ayat ini adalah ayat tentang perintah Allah SWT kepada kita semua manusia pada umumnya dan kaum mulimin pada khususnya untuk memiliki sebuah adab atau sikap yang baik ketika diperdengarkannya alQurAoan. Sikap atau adab tersebut adalah dengan diam, memperhatikan dan menghayati bacaan Sayyid Quthub. Tafsir Fi Zhilalil QurAoan di bawah naungan Al-QurAoan Jilid 5 (Jakarta: Gema Insani Press. Az-Zuhaili. TafsirAl-Munir: Akidah. Syariah, & Manhaj Jilid 1. Asy-Syaukani. Tafsir Fathul Qadir Jilid 3,. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 146 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. al-QurAoan yang sedang dibacakan. Hal ini dilakukan karena pada penghujung ayat ini dijelaskan tujuan dengan kita diam dan menghayati bacaan al-QurAoan yang sedang dibacakan adalah agar kita mendapat rahmat. Penulis menilai rahmat yang akan diberikan bukan hanya sekedar pahala. Penulis berpendapat bahwa rahmat pada ayat ini sangat erat hubungannya dengan proses mendengarkan itu sendiri. Seperti yang telah diketahui seseorang yang memiliki kemampuan mendengarkan yang baik adalah mereka yang mampu menanggapi dan memahami segala informasi yang Rahmat pada ayat ini, penulis terjemahkan sebagai pesan yang tersampaikan dengan baik dalam arti bila seorang pendengar yang sedang diperdengarkan sebuah informasi mereka fokus dan khusuAo dalam proses mendengarkan tadi maka mereka akan mendapat sebuah pemahaman yang bulat akan informasi tersebut. Hal ini sejalan dengan tujuan dasar mendengarkan atau menyimak. Menurut Gary T. Hunt dalam Kundharu Saddhono menyatakan bahwa tujuan menyimak adalah sebagai berikut: Untuk memeperoleh informasi yang bersangkut paut dengan profesi. Agar menjadi lebih efektif dalam hubungan antar pribadi dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di tempat kerja, dan di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk mengumpulkan data agar dapat membuat kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, dan . Agar dapat memberikan respons yang tepat terhadap segala sesuatu yang didengar. Dengan demikian menyimak yang baik adalah penyimak mampu memperoleh informasi, memperoleh pengetahuan, menangkap isi dan memahami makna yang disampaikan pembicara dan menikmati serta mengevaluasi materi simakan. Oleh karena itu. Allah SWT sangat menekankan kepada kaum muslimin untuk bersikap diam, tenang dan khusuAo agar mendapatkan pesan al-QurAoan yang sedang dibacakan. Ketika kaum muslimin mendapatkan pesan al-QurAoan dengan pemahaman yang bulat maka akan memiliki sebuah motivasi peningkatan iman dengan cara akan mengerjakan secara sungguhsungguh tentang apa yang mereka sudah dapatkan dari pesan al-QurAoan yang mereka Kundharu Saddhono dan St. Y Slamet. Meningkatkan keterampilan Berbahasa Indonesia. Bandung: Karya Putra Darwati, 2012, hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 | 147 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 2 | Nomor 2 | Juli - Desember 2023 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. KESIMPULAN Keterampilan mendengarkan perspektif al-QurAoan adalah kemampuan menanggapi sebuah pesan al-QurAoan yang diperdengarkan dengan seksama, khusuAo dan penuh penghayatan sehinga mampu meningkatkan keimanan dengan jalan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan berdasarkan pesan al-QurAoan yang telah disampaikan atau Dalam proses pembelajaran bahasa asing keterampilan mendengarkan masuk dalam kategori ranah kognitif. Hal dikarenakan berdasarkan ayat-ayat di atas, menekankan pada sebuah pemahaman dimana seseorang dituntut untuk menggali informasi yang sudah lama tersimpan dalam memori dalam seseorang untuk dikorelasikan dengan informasi yang baru didengar sehingga muncul sebuah pemahaman atau dapat menangkap pesan dari informasi yang Tanpa ada proses kognitif yakni proses pengambilan informasi yang lama tersimpan maka pemahaman informasi yang didengar seseorang tidak akan dapat dipahami dengan baik. DAFTAR PUSTAKA