Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 61-67 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Implementasi Metode Outdoor Learning Melalui Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Ipas Kelas IV Sd Candra Kasih. Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar Luh Gede Nandita Sukma Qianti1. I Ketut Tanu2. Gusti Ayu Dewi Setiawati3 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, nanditasukma35@gmail. Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, ketuttanu@gmail. Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, dewisetiawati@uhnsugriwa. Submitted: 29-12-2025. Reviewed: 15-01-2026. Accepted: 19-01-2026 Abstract This study aims to describe in depth . the implementation of the outdoor learning method through the use of the environment as a learning resource in Natural and Social Sciences (IPAS) learning in grade IV of Candra Kasih Elementary School. North Denpasar District, . the obstacles and efforts faced in implementing the method, and . its impact on the learning process and outcomes of students. The background of this study is the low involvement and motivation to learn due to the dominance of the lecture method which makes learning passive and less contextual. The study uses a descriptive qualitative approach with observation, interview, documentation, and literature study techniques. The research subjects consisted of homeroom teachers and students. Data analysis refers to the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification based on the pattern of findings and source triangulation. The results of the study indicate that the implementation of outdoor learning through the use of the school environment provides a contextual and enjoyable learning experience, and increases the active involvement of students. The environment is used as a concrete learning resource that connects the IPAS concept with everyday life through exploration of the school area and the use of real objects. This approach improves conceptual understanding, critical thinking skills, collaboration, and reflection. Obstacles that arose included time constraints, teacher preparedness in designing outdoor activities, and weather conditions. Efforts included thorough planning, collaboration with colleagues, and adapting activities to field conditions. Overall, the outdoor learning method had a positive impact on students' learning motivation, observation skills, and understanding of science concepts. Keyword: Outdoor learning. Environment. Learning Resources. Science. Elementary School Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam . implementasi metode outdoor learning melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas IV SD Candra Kasih. Kecamatan Denpasar Utara, . kendala dan upaya yang dihadapi dalam implementasi metode tersebut, serta . dampaknya terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya keterlibatan dan motivasi belajar akibat dominasi metode ceramah yang membuat pembelajaran pasif dan kurang kontekstual. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Subjek penelitian terdiri dari wali kelas dan peserta didik. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi berdasarkan pola temuan dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan outdoor learning melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan, serta meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik. Lingkungan dimanfaatkan sebagai sumber belajar konkret yang menghubungkan konsep IPAS dengan kehidupan sehari-hari melalui eksplorasi area sekolah dan penggunaan objek nyata. Pendekatan ini meningkatkan pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan refleksi. Kendala yang muncul meliputi keterbatasan waktu, kesiapan guru dalam merancang aktivitas luar kelas, serta kondisi cuaca. Upaya yang dilakukan mencakup perencanaan yang matang, kerja sama dengan rekan sejawat, dan penyesuaian kegiatan dengan situasi Secara keseluruhan, metode outdoor learning berdampak positif terhadap motivasi belajar, keterampilan observasi, dan pemahaman konsep IPAS peserta didik. Kata Kunci: Outdoor learning. Lingkungan. Sumber Belajar. IPAS. Sekolah Dasar This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 61-67 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan elemen penting dalam kehidupan manusia karena tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, mengembangkan keterampilan, serta menanamkan nilai moral dan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses pendidikan berlangsung melalui interaksi antara pendidik dan peserta didik, di mana pendidik berperan sebagai fasilitator pembelajaran dan peserta didik sebagai penerima serta pengolah ilmu (Sanjaya, 2. Dengan demikian, pendidikan tidak semata berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan individu yang mandiri, berdaya saing, dan berintegritas (Sudjana, 2. Pendidikan dilaksanakan melalui jalur formal, non-formal, dan informal, yang masing-masing berkontribusi dalam pengembangan kemampuan, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab individu (Hidayat & Wijayanti, 2. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian, dan keterampilan yang berguna bagi diri, masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, inovasi pembelajaran diperlukan agar proses belajar lebih efektif dan relevan dengan tuntutan perkembangan zaman (Kemendikbud, 2. Salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah sumber belajar. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada buku teks dan guru, tetapi juga mencakup laboratorium, peristiwa sehari-hari, serta pengalaman langsung di lingkungan sekitar (Susanto, 2. Pemilihan metode dan sumber belajar yang tepat membantu meningkatkan minat, keterlibatan, dan pemahaman peserta didik terhadap materi (Putra, 2. Namun, di banyak sekolah dasar proses pembelajaran masih didominasi metode ceramah sehingga membuat peserta didik pasif dan kurang termotivasi (Komalasari, 2. Kondisi serupa ditemukan di SD Candra Kasih, khususnya pada pembelajaran IPAS yang masih berpusat pada buku teks dan belum memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar secara optimal. Padahal, pembelajaran IPAS menuntut pendekatan kontekstual yang menghubungkan konsep dengan pengalaman nyata. Kurangnya pemanfaatan lingkungan menyebabkan peserta didik kurang aktif dan kesulitan memahami konsep yang bersifat abstrak (Komalasari, 2. Pembelajaran berbasis lingkungan, termasuk metode outdoor learning, dinilai mampu meningkatkan partisipasi, pemahaman konsep, serta pengalaman belajar yang bermakna (Komalasari, 2. Keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada peran guru dalam merancang kegiatan yang relevan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan peserta didik. Di SD Candra Kasih, metode outdoor learning telah diterapkan pada materi bagian tubuh tumbuhan dan fungsinya, namun pelaksanaannya belum terdokumentasi secara akademik. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji AuImplementasi Metode Outdoor learning Melalui Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar IPAS Kelas IV SD Candra Kasih. Kecamatan Denpasar Utara. METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data guna memecahkan masalah penelitian dan menghasilkan temuan yang valid (Sugiyono. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan deskriptif kualitatif, karena fokus penelitian diarahkan pada pemahaman fenomena secara mendalam melalui data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami konteks, kondisi nyata di lapangan, serta makna yang muncul dari pengalaman subjek penelitian. Penelitian dilaksanakan di SD Candra Kasih. Denpasar Utara, selama kurang lebih tiga bulan. Sumber data terdiri atas data primer yang diperoleh dari wawancara dengan guru dan peserta didik, serta data sekunder berupa dokumen, arsip, dan literatur pendukung (Sugiyono, 2017. Azwar, 2. Subjek penelitian meliputi wali kelas IV dan peserta didik kelas IV, sedangkan objek penelitian adalah implementasi metode outdoor learning melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Informan dipilih menggunakan purposive sampling, dengan mempertimbangkan relevansi informan terhadap tujuan penelitian (Lenaini, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, studi kepustakaan, dan dokumentasi (Sugiyono, 2020. Sidiq, 2. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi Proses analisis dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan untuk memastikan temuan penelitian valid, reliabel, dan sesuai dengan konteks fenomena yang diteliti. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 61-67 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Metode Outdoor learning melalui Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPAS Kelas IV SD Candra Kasih. Kecamatan Denpasar Utara Lingkungan merupakan sumber belajar terdekat bagi peserta didik dan sangat relevan dimanfaatkan dalam pembelajaran IPAS. Lingkungan menyediakan beragam objek biotik, seperti tumbuhan, hewan, dan manusia, serta objek abiotik seperti tanah, udara, sinar matahari, dan elemen fisik lainnya. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar membantu peserta didik mengaitkan konsep dengan pengalaman nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menarik. Di SD Candra Kasih, metode outdoor learning diterapkan pada kelas IV sebagai inovasi Berdasarkan wawancara dengan wali kelas IV. Ni Luh Ayu Arya Suandewi. Pd. (Miss Ay. , metode ini dipilih untuk mengurangi kejenuhan belajar di dalam kelas serta memberi kesempatan peserta didik belajar langsung dari lingkungan nyata. Melalui kegiatan eksplorasi, pengamatan, dan interaksi sosial, peserta didik menjadi lebih aktif, kritis, dan memiliki rasa ingin tahu terhadap fenomena alam yang dipelajari. Pelaksanaan outdoor learning dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan Perencanaan Guru menyusun RPP yang mengintegrasikan materi IPAS dengan aktivitas luar kelas. Pertimbangan utama meliputi tujuan pembelajaran, indikator capaian, karakteristik peserta didik, serta kesesuaian lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Guru melakukan survei lokasi . aman/kebun sekola. , menyiapkan LKPD, alat bantu sederhana . aca pembesar, penggaris, label tanama. , serta memberikan pengantar materi melalui video sebelum kegiatan dimulai. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok dengan pembagian peran yang jelas agar kerja sama berjalan optimal. Pelaksanaan Kegiatan dimulai dengan apersepsi dan penyampaian tujuan serta aturan keselamatan, kemudian peserta didik melakukan pengamatan langsung terhadap objek tumbuhan di area sekolah. Setiap kelompok mengidentifikasi bagian tumbuhan, mencatat ciri fisik, serta menghubungkannya dengan fungsi masingmasing bagian. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan memastikan proses pengamatan berjalan efektif. Setelah itu, hasil pengamatan dipresentasikan dan didiskusikan di kelas sehingga terjadi pertukaran gagasan antar kelompok. Evaluasi Evaluasi mencakup aspek kognitif . emahaman konse. , afektif . erja sama, kepedulian lingkunga. , dan psikomotor . eterampilan observasi dan pencatata. Guru juga melakukan refleksi untuk menilai efektivitas kegiatan dan kendala yang muncul, seperti keterbatasan waktu dan kondisi cuaca. Peserta didik memberikan respons positif karena pembelajaran terasa menyenangkan, interaktif, dan membantu pemahaman materi. Gambar 1. Peserta didik Mengamati Bagian Tubuh Tumbuhan pada Tumbuhan Cempaka (Dokumentasi Pribadi, 18 Juni 2. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan, outdoor learning terbukti meningkatkan motivasi, partisipasi, keterampilan observasi, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik. Temuan ini selaras dengan penelitian Bahari . dan Assingkily . yang menegaskan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan mampu mengembangkan sikap tanggung jawab, kerja sama, rasa ingin tahu, dan pemahaman melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, metode outdoor learning tidak hanya memperkuat aspek kognitif, tetapi juga mendukung perkembangan sosial-emosional peserta didik dan sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 61-67 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Kendala dan Upaya dalam Implementasi Metode Outdoor learning melalui Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPAS Kelas IV SD Candra Kasih. Kecamatan Denpasar Utara Meskipun metode outdoor learning memberikan dampak positif terhadap motivasi, pemahaman konsep, dan keterlibatan peserta didik, penerapannya di lapangan tetap menghadapi sejumlah kendala. Berdasarkan wawancara dengan wali kelas IV. Miss Aya . Juni 2. , kendala utama yang muncul berkaitan dengan ketidakpastian cuaca serta tantangan menjaga fokus peserta didik selama pembelajaran di luar kelas. Kegiatan terkadang harus dibatalkan, dipersingkat, atau dipindahkan ke dalam kelas ketika kondisi hujan atau panas terik. Selain itu, lingkungan luar kelas membuat peserta didik lebih mudah terdistraksi sehingga guru perlu memberikan arahan tegas dan melakukan pengawasan secara intensif. Secara teoritis, hal ini sejalan dengan pandangan Piaget bahwa pembelajaran bermakna terjadi melalui pengalaman langsung, namun tetap membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil agar proses kognitif berjalan optimal. Sementara itu, menurut Vygotsky, keberhasilan pembelajaran outdoor learning sangat bergantung pada peran guru sebagai fasilitator yang memberi dukungan, arahan, dan pendampingan agar peserta didik tetap berada dalam zona perkembangan proksimal (ZPD). Dengan demikian, tantangan utama dalam implementasi metode ini tidak hanya terletak pada faktor lingkungan, tetapi juga pada kesiapan guru dalam mengelola kelas dan aktivitas belajar di ruang terbuka. Secara umum, kendala yang muncul dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu kendala internal dan kendala eksternal. Kendala Internal Kendala internal merupakan hambatan yang muncul dari dalam lingkungan sekolah dan proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat tiga bentuk kendala utama. Pertama, kesiapan guru dalam merancang pembelajaran yang fleksibel. Guru dituntut memiliki rencana cadangan serta strategi alternatif ketika kondisi lapangan berubah, sehingga diperlukan kemampuan adaptif, kreatif, dan responsif agar tujuan pembelajaran tetap tercapai. Kedua, kesulitan peserta didik dalam menjaga fokus selama pembelajaran di luar kelas. Suara, aktivitas orang di sekitar, serta berbagai objek di lingkungan terbuka sering kali mengalihkan perhatian mereka, sehingga sebagian peserta didik kurang konsisten mengikuti instruksi dan kegiatan pengamatan. Ketiga, tantangan guru dalam mengatur peserta didik pada kelas dengan jumlah yang relatif besar. Mobilitas yang tinggi saat belajar di luar ruangan membuat pengawasan menjadi lebih kompleks, sehingga guru harus terus bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain untuk memastikan kegiatan berlangsung tertib dan terarah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Assingkily . yang menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran berbasis lingkungan sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam melakukan manajemen kelas, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan eksplorasi peserta didik dan struktur pembelajaran yang jelas. Kendala Eksternal Kendala eksternal merupakan hambatan yang berasal dari faktor di luar kendali guru, terutama yang berkaitan dengan kondisi lingkungan fisik tempat pembelajaran berlangsung. Salah satu kendala yang sering muncul yaitu cuaca yang tidak menentu. Hujan maupun panas yang terlalu terik kerap membuat kegiatan pembelajaran di luar kelas harus dipersingkat, dipindahkan, bahkan dibatalkan, sehingga memengaruhi kontinuitas proses belajar. Kondisi ini sejalan dengan temuan Pantiwati . dan Marlina . yang menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan sangat bergantung pada situasi alam, sehingga membutuhkan rencana alternatif yang fleksibel. Selain itu, keterbatasan fasilitas pendukung di luar ruangan juga menjadi tantangan lain dalam pelaksanaan outdoor learning. Ketiadaan meja, tempat duduk, maupun area teduh membuat peserta didik kesulitan menulis dan mencatat hasil pengamatan, sementara kertas dan alat tulis mudah terpengaruh angin sehingga mengganggu kenyamanan belajar. Hal ini sesuai dengan temuan Bahari . yang menyatakan bahwa keterbatasan sarana dapat menurunkan efektivitas pembelajaran luar kelas apabila tidak diantisipasi melalui perencanaan yang matang. Upaya Guru dalam Mengatasi Kendala Implementasi Outdoor learning Upaya guru dalam mengatasi kendala implementasi outdoor learning dilakukan melalui berbagai strategi agar kegiatan pembelajaran tetap efektif, aman, dan terarah. Sebelum pembelajaran dilaksanakan, guru terlebih dahulu melakukan survei dan pemilihan lokasi secara cermat untuk memastikan bahwa area yang digunakan aman, kondusif, serta relevan dengan materi IPAS yang dipelajari. Guru juga menyusun materi kontekstual dan menyederhanakan instruksi observasi pada LKPD agar ringkas namun tetap bermakna, sehingga peserta didik tetap dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis meskipun berada pada situasi lapangan yang Sebelum kegiatan dimulai, guru memberikan pengarahan mengenai aturan, tata tertib, etika belajar di Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 61-67 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. lingkungan luar kelas, serta langkah-langkah keselamatan dasar yang harus dipatuhi oleh peserta didik selama kegiatan berlangsung. Gambar 2. Guru Memberikan Aturan Saat Pembelajaran Berlangsung (Dokumentasi Pribadi, 20 Juni 2. Selanjutnya, guru membagi peran anggota kelompok dan menunjuk seorang ketua kelompok untuk membantu pengaturan aktivitas agar pembelajaran lebih terstruktur dan memudahkan proses pengawasan. Selama kegiatan berlangsung, guru melakukan pengawasan aktif dengan berperan sebagai fasilitator yang senantiasa memantau, membimbing, dan memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan, sehingga proses belajar tetap fokus dan berjalan sesuai tujuan pembelajaran. Setelah kegiatan selesai, guru melaksanakan refleksi dan evaluasi bersama peserta didik agar pengalaman belajar di lapangan dapat dihubungkan kembali dengan konsep IPAS, sehingga pengalaman konkret berubah menjadi pemahaman Hal ini sejalan dengan Rahmawati & Agustina . yang menekankan pentingnya refleksi dalam pembelajaran luar kelas. Secara keseluruhan, berbagai upaya tersebut mencerminkan prinsip pembelajaran konstruktivistik, di mana peserta didik membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, sementara guru bertindak sebagai fasilitator yang memastikan proses belajar berlangsung terarah, aman, dan Dampak Implementasi Metode Outdoor learning melalui Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPAS Kelas IV SD Candra Kasih. Kecamatan Denpasar Utara Implementasi metode outdoor learning dalam pembelajaran IPAS di SD Candra Kasih memberikan sejumlah dampak positif bagi peserta didik maupun guru. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar tidak hanya memindahkan proses pembelajaran dari ruang kelas ke ruang terbuka, tetapi juga mengubah pola interaksi, cara belajar, serta tingkat keterlibatan peserta didik. Melalui kegiatan observasi langsung, eksplorasi, dan pengalaman nyata, peserta didik memperoleh pembelajaran yang lebih kontekstual, aktif, dan bermakna dibandingkan pembelajaran konvensional di dalam kelas. Penerapan metode ini selaras dengan teori konstruktivistik yang dikemukakan Piaget dan Bruner, bahwa pengetahuan dibangun peserta didik melalui pengalaman langsung, interaksi dengan objek nyata, dan proses refleksi terhadap apa yang mereka temukan di lingkungan. Di sisi lain, pendekatan humanistik menempatkan peserta didik sebagai individu yang memiliki kebutuhan emosional, rasa ingin tahu, serta potensi untuk berkembang secara bebas dan positif. Sejalan dengan pandangan Rogers dan Maslow, suasana belajar yang nyaman, mendukung, dan memberi ruang keterlibatan aktif mampu meningkatkan motivasi, kemandirian, dan perkembangan sosial peserta didik. Dalam konteks outdoor learning, hal ini tampak dari suasana belajar yang lebih santai, menyenangkan, serta memberi ruang bagi peserta didik untuk bereksplorasi sesuai minat dan gaya belajar, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing dengan pendekatan hangat dan suportif. Hasil wawancara dengan guru kelas IV. Miss Aya, menunjukkan bahwa pembelajaran di luar kelas membuat peserta didik lebih antusias, aktif berdiskusi, dan cepat memahami materi karena dapat melihat objek secara langsung di lingkungan sekitar, seperti tumbuhan, hewan kecil, maupun fenomena alam. Peserta didik juga menunjukkan perilaku positif, seperti bekerja sama dalam kelompok dan lebih peduli terhadap kebersihan serta kelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Raphael Jheo Hartono dan Ni Made Shelina Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal 61-67 DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Sumariya Pudja yang menyampaikan bahwa belajar di luar kelas terasa lebih menyenangkan, mudah dipahami, dan membantu mereka memahami materi secara lebih nyata. Secara umum, dampak implementasi outdoor learning dapat dikelompokkan ke dalam beberapa Pertama, meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik. Lingkungan terbuka memberikan suasana belajar yang variatif, tidak monoton, serta mendorong rasa ingin tahu sehingga peserta didik lebih bersemangat mengikuti pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan Bahari . Marlina . , dan Rosyid . yang menunjukkan bahwa aktivitas belajar berbasis pengalaman langsung mampu meningkatkan motivasi intrinsik dan keterlibatan aktif peserta didik. Kedua, mempermudah pemahaman konsep materi. Pembelajaran berbasis lingkungan memungkinkan peserta didik menghubungkan teori dengan kenyataan yang mereka amati secara langsung, sehingga materi menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Hal ini diperkuat oleh Setiyorini . Lustanti . , dan Amanda . yang menjelaskan bahwa pengalaman belajar kontekstual membantu memperkuat daya ingat dan pemahaman konsep IPA. Ketiga, mengembangkan keterampilan sosial dan kolaboratif. Aktivitas kelompok dalam outdoor learning melatih peserta didik untuk berkomunikasi, berbagi tugas, memecahkan masalah bersama, serta menghargai perbedaan pendapat. Penelitian Ningsih & MaAoruf . Komalasari . , dan Assingkily . menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan berkontribusi pada pembentukan sikap kerja sama, tanggung jawab, dan empati pada diri peserta didik. Keempat, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Interaksi langsung dengan alam mendorong peserta didik memahami pentingnya menjaga kebersihan, merawat tanaman, dan tidak merusak Temuan ini sejalan dengan Pantiwati . Rahmawati & Agustina . , serta Utami & Rohmah . yang menegaskan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan berperan dalam membentuk kesadaran ekologis dan perilaku ramah lingkungan. Dengan demikian, implementasi outdoor learning tidak hanya memberikan dampak pada aspek kognitif, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan motivasi belajar, keterampilan sosial, serta karakter peduli lingkungan. Pendekatan ini relevan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka pada guru dan peserta didik kelas IV SD Candra Kasih, diperoleh tiga temuan utama. Pertama, implementasi metode outdoor learning melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar IPAS telah berlangsung secara baik dan sistematis. Guru merancang kegiatan pembelajaran yang bersifat eksploratif dan kontekstual, memanfaatkan taman dan kebun sekolah sebagai media belajar nyata, serta berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses observasi dan refleksi. Pelaksanaan ini mencerminkan pendekatan konstruktivistik karena peserta didik membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung. Kedua, pelaksanaan outdoor learning menghadapi beberapa kendala, baik internal maupun eksternal. Kendala internal meliputi kesiapan guru dalam merancang pembelajaran yang fleksibel serta kesulitan peserta didik menjaga fokus saat belajar di luar kelas. Sementara itu, kendala eksternal berkaitan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan keterbatasan fasilitas belajar di luar ruangan. Untuk mengatasinya, guru melakukan survei lokasi, menyederhanakan lembar kerja, memberikan pengarahan keselamatan, melakukan pengawasan aktif, serta melaksanakan refleksi setelah kegiatan. Ketiga, implementasi outdoor learning memberikan dampak positif terhadap proses dan hasil belajar IPAS. Peserta didik menjadi lebih termotivasi, antusias, dan lebih mudah memahami materi karena belajar dalam konteks nyata. Selain itu, keterampilan sosial seperti kerja sama, komunikasi, dan kepedulian terhadap lingkungan juga berkembang. Metode ini tidak hanya mendukung peningkatan aspek kognitif, tetapi juga membangun karakter dan nilai-nilai positif, selaras dengan pendekatan humanistik yang menekankan kenyamanan dan kebutuhan emosional peserta didik dalam belajar. DAFTAR PUSTAKA