Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual Vol. No. Mei 2024 pp. E-ISSN: 2541-4224. P-ISSN: 2541-4216 DOI: http://dx. org/10. 28926/briliant. Penggunaan Serbuk Batu Bata Merah Sebagai Filler Campuran Aspal AC-WC. Pengganti Semen dan Abu Batu dengan Marshall Test Eddy Poerwodihardjo. Citra Pradipta Hudoyo. Program Studi Teknik Sipil. Universitas Wijayakusuma Purwokerto. Jl. Raya Beji Karangsalam No. Banyumas. Jawa Tengah. Indonesia Email: 1ferdinandeseddy@gmail. com, 2citrapradiptahudoyo@gmail. Abstract: Asphalt concrete as a material for road construction has long Tersedia Online di http://w. php/briliant Sejarah Artikel Diterima 26 April 2024 Direvisi 2 Mei 2024 Disetujui 10 Mei 2024 Dipublikasikan 30 Mei 2024 Keywords: AC-WC. Cement. Red brick marshall test. stone ash been known and widely used in road construction. This study aims to determine the effect of using red brick powder as a filler in the AC-WC asphalt mixture compared to cement and stone ash using the Marshall test with filler variations of 1%, 2%, 3%, and 4%. The determination of the optimum asphalt content was done with trial mixes of 60/70 penetration asphalt starting at asphalt contents of 5. 5%, 6%, 6. 7%, and 7. From the initial asphalt mixture tests, an Optimum Asphalt Content (OAC) of 7% was obtained, which meets the Bina Marga 2018 specifications. The results of the Marshall tests on variations of red brick powder, cement, and stone ash fillers at 1% and 2% filler content did not meet the Bina Marga 2018 specifications. However, at 3% and 4% filler content, all Marshall test results met the Bina Marga 2018 specifications. The optimum value of the AC-WC asphalt mixture obtained from the Marshall test was with 4% cement filler, yielding a VIM of 4. VMA of 17. VFA of 79. Marshall stability of 1551 kg, flow of 3. 23 mm, and MQ of 480 kg/mm. The use of red brick powder as a filler at 4% filler content was better than stone ash and can be used as it approaches the optimum value, with a VIM of 4. VMA of 17. VFA of 79. Marshall stability of 1529 kg, flow of 3. 20 mm, and MQ of 478 kg/mm. Abstrak: Aspal beton sebagai bahan untuk konstruksi jalan sudah lama dikenal dan digunakan secara luas dalam pembuatan jalan. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan serbuk batu bata merah, sebagai filler pada campuran aspal AC-WC dibandingkan dengan semen dan abu batu dengan Marshall test dengan variasi filler Corresponding Author: 1%, 2%, 3%, dan 4%. Penentuan kadar aspal optimum dengan trial Name: campuran aspal penetrasi 60/70 mulai kadar aspal 5,5%, 6%, 6,5%. Eddy Poerwodihardjo 7%, dan 7,5%. Dari hasil pengujian awal campuran aspal diperoleh Email: Kadar Aspal Optimum (KAO) 7% yang memenuhi spesifikasi Bina ferdinandeseddy@gmail. Marga 2018. Hasil pengujian Marshall pada variasi filler serbuk batu bata merah, semen dan abu batu, pada kadar filler 1% dan 2% tidak memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018, namun pada kadar filler 3% dan 4% semua hasil pengujian Marshall memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018. Nilai optimum campuran aspal AC-WC yang didapatkan pada Marshall test yaitu pada kadar filler semen 4% dengan nilai VIM 4,239%. VMA 17,305%. VFA 79,880%. Stabilitas Marshall 1551 kg. Kelelehan . 3,23 mm, dan MQ 480 kg/mm. Penggunaan serbuk batu bata merah sebagai bahan pengisi . pada kadar filler 4% lebih baik dari abu batu dan dapat dipakai karena mendekati nilai optimum, dengan nilai VIM 4,267%. VMA 17,226%. VFA 79,637%, stabilitas Marshall 1529 kg, kelelehan . 3,20 mm, dan MQ 478 kg/mm. Kata Kunci: Serbuk bata merah. AC-WC. marshall test BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 PENDAHULUAN Penggunaan aspal beton sebagai bahan konstruksi jalan telah menjadi praktik umum yang dikenal dan diterapkan secara luas selama bertahun-tahun. Di Indonesia, penggunaannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh beberapa keunggulan yang dimiliki aspal beton, antara lain harganya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan beton, kemampuannya mendukung beban berat kendaraan, produksinya menggunakan bahanbahan lokal yang tersedia, dan daya tahan yang baik terhadap cuaca. Aspal beton terkenal dengan tiga jenis campuran utamanya, yaitu AC-WC. AC-BC, dan AC-Base. Keterampilan menggabungkan berbagai jenis campuran ini memungkinkan penyesuaian dengan berbagai kondisi dan kebutuhan konstruksi jalan. Dengan demikian, aspal beton tetap menjadi pilihan yang efektif dan efisien dalam membangun infrastruktur jalan yang Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) adalah lapisan perkerasan yang berada di bagian paling atas dan berperan sebagai lapis aus. Meskipun bersifat non-struktural. AC-WC memiliki kemampuan untuk meningkatkan daya tahan perkerasan terhadap penurunan mutu, sehingga secara keseluruhan memperpanjang masa layan konstruksi perkerasan. Banyak usaha telah dilakukan untuk mengatasi kerusakan pada lapis perkerasan AC-WC, termasuk modifikasi sifat fisik dan kimia campuran aspal dengan berbagai bahan tambah. Tujuan dari langkah-langkah ini adalah untuk meningkatkan kinerja dan umur pakai AC-WC, serta mengoptimalkan daya tahan terhadap kondisi lingkungan dan beban lalu lintas (Sarwono et al. , 2. Penting untuk memperhatikan beberapa faktor kunci dalam campuran aspal. Hal-hal ini meliputi kemampuan campuran aspal untuk menahan beban tanpa mengalami kerusakan . , kemampuannya untuk bertahan tanpa mengalami kehancuran seiring berjalannya waktu . , tingkat kelenturan atau fleksibilitasnya, ketahanannya terhadap kelelahan akibat beban berulang . atigue resistanc. , kemampuan untuk menahan geser atau kegeseran . etahanan gese. , kedap air, dan kemudahan dalam proses pengerjaannya . Semua faktor ini memainkan peran penting dalam menentukan kualitas dan kinerja campuran aspal dalam berbagai kondisi penggunaan (Sukirman, 2. Penggunaan material pengisi, yang umumnya dimasukkan dalam campuran beraspal, sering melibatkan abu batu. Abu batu ini adalah hasil alami dari proses pemecahan batu dengan menggunakan alat stone crusher, dan jumlahnya terbatas. Sebagai opsi alternatif untuk menggantikan abu batu sebagai material pengisi, filler semen dapat digunakan. Namun, di beberapa wilayah, mendapatkan filler semen bisa menjadi sulit dan harganya relatif tinggi. Dalam konteks ini, beberapa perusahaan konstruksi yang berfokus pada pembangunan jalan umumnya mencari bahan filler yang mudah diperoleh, ekonomis, dan merupakan sumber daya lokal yang dapat diandalkan (Adibroto, 2. Terdapat beberapa penelitian terdahulu dilakukan, yaitu untuk mengetahui dampak abu batu bata sebagai filler pada Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) diuji dengan alat Marshall menggunakan material lokal dari Sulawesi Barat. Penambahan abu batu bata 1%-5% menghasilkan kadar aspal optimum 6,15% setelah perendaman 30 menit. Hasil menunjukkan bahwa variasi 3% abu batu bata memberikan stabilitas dan flow yang tinggi (Saudi et al. , 2. Penelitian selanjutnya membandingkan penggunaan filler semen Portland, fly ash, dan serbuk batu bata dalam campuran Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC). Variasi filler adalah 100% fly ash, 100% serbuk batu bata, dan 50% fly ash: 50% serbuk batu bata. Kadar aspal optimum 5,5% ditentukan, dan uji Marshall dilakukan. Hasil menunjukkan filler semen Portland 100% memberikan stabilitas tertinggi 112. 19 kg, sementara fly ash 100% terendah tetapi masih memenuhi spesifikasi Bina Marga. Filler serbuk batu bata 100% memiliki nilai MQ 213, di bawah spesifikasi (Kartikasari & Hartantyo, 2. Dalam penelitian ini peneliti bertujuan mengeksplorasi penggunaan serbuk batu bata merah sebagai alternatif filler dalam campuran aspal Asphalt Concrete-Wearing Course (ACWC), menggantikan penggunaan semen dan abu batu. Pemilihan limbah batu bata merah sebagai 480 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 bahan filler ini didasarkan pada keinginan untuk memanfaatkan limbah tersebut dari sisa proyek bangunan atau bekas bongkaran bangunan yang tidak terpakai. Selain itu, penelitian ini diinisiasi untuk mengatasi beberapa permasalahan, antara lain penumpukan limbah batu bata merah yang belum dimanfaatkan, peningkatan volume transportasi yang berdampak pada kualitas rendah campuran perkerasan jalan, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Identifikasi masalah-masalah tersebut mendorong perlunya mencari solusi yang berkelanjutan, dan penggunaan serbuk batu bata merah sebagai pengganti filler menjadi opsi yang Pengolahan limbah ini merupakan langkah penting dalam mendukung konsep daur ulang dan pemanfaatan kembali bahan-bahan yang ada untuk menciptakan produk dengan nilai ekonomis, terutama dalam konstruksi perkerasan. Dengan latar belakang ini, penelitian akan difokuskan pada implementasi Marshall test untuk menguji efektivitas penggunaan serbuk batu bata merah sebagai filler dalam campuran aspal AC-WC, menggantikan peran semen dan abu METODE Penelitian ini dimulai dengan melakukan studi literatur untuk mengidentifikasi referensi terkait dengan penelitian yang relevan. Sebelum merencanakan dan membuat benda uji, dilakukan pengujian bahan, termasuk aspal penetrasi 60/70 . eliputi uji penetrasi, titik lembek, titik nyala, titik bakar, berat jenis, daktilitas, dan viskosita. serta agregat kasar dan halus . elibatkan uji gradasi dan berat jeni. Setelah selesai pengujian bahan, dilanjutkan dengan perencanaan dan pembuatan campuran laston Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) untuk pengujian Karakteristik Asphalt Overlay (KAO). Proses ini mencakup pembuatan benda uji dengan variasi bahan pengisi . aspal beton AC-WC dan pengujian menggunakan Marshall test. Hasil dari pengujian kemudian dianalisis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kinerja campuran AC-WC dan efek dari variasi bahan pengisi. Langkah-langkah ini menciptakan dasar metodologis yang kuat untuk penelitian ini, memastikan bahwa setiap tahap dijalankan dengan cermat dan akurat, dan hasilnya dianalisis secara menyeluruh untuk mendapatkan wawasan yang berharga. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian Marshall Untuk Kadar Aspal Optimum (KAO) Kadar Aspal Optimum (KAO) diperoleh dengan menggunakan parameter dari hasil pengujian Marshall yaitu nilai-nilai stabilitas, kelelehan . Marshall Quotient (MQ), rongga dalam campuran (VIM), dan rongga terisi aspal (VFB) yang memenuhi spesifikasi umum Bina Marga Tabel 1. Ketentuan Sifat-Sifat Campuran Laston (AC) (Direktorat Jenderal Bina Marga, 2. Laston Sifat-sifat Campuran Lapis Aus Lapis Antara Jumlah tumbukan per bidang Rasio partikel lolos ayakan 0,075mm dengan kadar aspal efektif Rongga dalam campuran (%) Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Rongga Terisi Aspal (%) Stabilitas Aspal . Pelelehan . Min. Maks. Min. Maks. Min. Min. Min. Min. Fondasi BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Maks. Laston Lapis Antara Min. Min. Sifat-sifat Campuran Lapis Aus Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah perendaman selama 24 jam, 60EE Rongga dalam campuran (%) pada Kepadatan membal . Fondasi Perkiraan awal perhitungan kadar aspal rencana . enggunakan filler serbuk batu bata mera. menggunakan rumus sebagai berikut: Pb =0,035. -CA) 0,045. -FA) 0,18(FF) Konstanta Pb = 0,035 . -54,. 0,045 . -38,. 0,18 . 1 Pb = 1,60 2,78 1,32 1 Pb = 6,70 % Perkiraan awal perhitungan kadar aspal rencana . enggunakan filler abu bat. menggunakan rumus sebagai berikut: Pb =0,035. -CA) 0,045. -FA) 0,18(FF) Konstanta Pb = 0,035 . -54,. 0,045 . -38,. 0,18 . 1 Pb = 1,60 2,77 1,27 1 Pb = 6,64 % Perkiraan awal perhitungan kadar aspal rencana . enggunakan filler seme. menggunakan rumus sebagai berikut: Pb =0,035. -CA) 0,045. -FA) 0,18(FF) Konstanta Pb = 0,035 . -54,. 0,045 . -37,. 0,18 . 1 Pb = 1,60 2,80 1,40 1 Pb = 6,80 % Kemudian dilakukan pembuatan sampel untuk penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) sesuai dengan variasi kadar aspal yang sudah ditentukan yaitu 5,5%. 6,5%. dan 7,5%. Dari hasil penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) menggunakan filler serbuk batu bata merah yang telah diuji Marshall nilai yang memenuhi persyaratan spesifikasi umum Bina Marga 2018 diperoleh kadar aspal 7% seperti terlihat pada gambar 1. Di dalam rancangan campuran . ix desig. lebih lanjut digunakan kadar aspal optimum 7%. Tabel 2. Hasil Pengujian Marshall untuk Penentuan KAO (Filler Serbuk Batu Bata Mera. Kepadatan VIM VMA VFB Stabilitas Flow r/cm. (%) (%) (%) . g/m. 2,308 9,512 21,546 56,42 2,449 6,78 17,22 67,75 2,52 2,605 16,86 75,35 2,40 2,584 2,327 4,26 9,210 3,27 3,43 Min. 3-5% 79,76 64,760 Min. Spesifikasi 17,25 22,58 Min. Min. Min. Min. Kadar Aspal (%) BJ Bulk 482 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Stabilitas VIM Flow VMA VFB Gambar 1. Grafik Penentuan KAO (Filler Serbuk Batu Bata Mera. Dari hasil penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) menggunakan filler abu batu yang telah diuji Marshall nilai yang memenuhi persyaratan spesifikasi umum Bina Marga 2018 diperoleh kadar aspal 7% seperti terlihat pada gambar 2. Di dalam rancangan campuran . ix desig. lebih lanjut digunakan kadar aspal optimum 7%. Tabel 3. Hasil Pengujian Marshall untuk Penentuan KAO (Filler Abu Bat. Kepadatan VIM VMA VFB Stabilitas Flow r/cm. (%) (%) (%) . g/m. 2,304 9,684 22,228 55,913 2,37 2,466 6,700 17,211 68,168 2,70 2,526 3,624 15,937 81,464 2,75 2,487 4,31 17,368 79,667 3,17 2,304 9,684 2,37 Min. 3-5% 55,913 Min. Spesifikasi 22,228 Min. Min. Min. Min. Kadar Aspal (%) BJ Bulk Stabilitas VIM Flow VMA VFB Gambar 2. Grafik Penentuan KAO (Filler Abu Bat. Dari hasil penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) menggunakan filler Semen yang telah diuji Marshall nilai yang memenuhi persyaratan spesifikasi umum Bina Marga 2018 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 diperoleh kadar aspal 7% seperti terlihat pada gambar 3. Di dalam rancangan campuran . ix desig. lebih lanjut digunakan kadar aspal optimum 7%. Tabel 4. Hasil Pengujian Marshall untuk Penentuan KAO (Filler Seme. Kepadatan Kadar Aspal (%) VIM VMA VFB Stabilitas Flow r/cm. (%) (%) (%) . g/m. 2,385 6,488 19,303 66,232 1,38 2,443 7,361 17,778 65,891 2,470 5,572 17,321 73,650 2,23 2,466 4,973 17,92 77,098 3,23 2,338 9,170 3,33 Min. 3-5% 64,980 Min. Spesifikasi 22,59 Min. Min. Min. Min. BJ Bulk Stabilitas VIM Flow VMA VFB Gambar 3. Grafik Penentuan KAO (Filler Seme. Bagian ini menyajikan hasil-hasil analisis data dan hasil pengujian hipotesis yang bertujuan di antaranya: . menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan itu dicapai, . menafsirkan temuan-temuan. Dianjurkan untuk memberi sub Ae sub judul untuk masing-masing temuan penelitian. Agar menghindari penggunaan tabel dan lebih mengutamakan penulisan dalam bentuk deskriptif. Pada bagian pembahasan ini hasil penelitian yang diperoleh diintegrasikan ke dalam kumpulan pengetahuan dan teori yang telah mapan, dan menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada. Kutipan ahli diperlukan dalam bab ini. Dianjurkan untuk memberi sub Ae sub judul untuk masing-masing temuan penelitian. Agar tidak menggunakan tabel dan lebih mengutamakan penulisan dalam bentuk deskriptif. Sampel Variasi Bahan Pengisi (Fille. Pembuatan sampel variasi bahan pengisi . dilakukan menggunakan nilai kadar aspal yang sudah diuji terlebih dahulu. Sesuai dengan hasil pengujian kadar aspal yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan filler serbuk batu bata merah 7%, filler semen 7%, dan filler abu batu 7% dengan variasi persentase 1%, 2%, 3%, dan 4%. 484 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Tabel 5. Hasil Perhitungan Komposisi Kadar Aspal 7% (Filler Serbuk Batu Merah. Abu Batu, dan Seme. Uraian Aspal Abu Batu Agregat 0,5-1 Agregat 1-2 Filler 1% Aspal Abu Batu Agregat 0,5-1 Agregat 1-2 Filler 2% Aspal Abu Batu Agregat 0,5-1 Agregat 1-2 Filler 3% Aspal Abu Batu Agregat 0,5-1 Agregat 1-2 Filler 4% Presentase (%) 42,78 37,20 12,09 0,93 Jumlah Berat Agregat Gabungan . Berat Bahan . 513,36 446,40 145,08 11,16 42,78 36,27 12,09 1,86 Jumlah 41,85 36,27 12,09 2,79 Jumlah 40,92 37,27 12,09 3,72 Jumlah 513,36 435,24 145,08 22,32 502,20 435,24 145,08 33,48 491,04 435,24 145,08 44,64 Hasil Pengujian Marshall Marshall test dilakukan pada Kadar Aspal Optimum (KAO) 7%. Data perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 6. Hasil Pengujian Marshall dengan Variasi Bahan Pengisi (Fille. Parameter Marshall VIM (%) VMA (%) VFA (%) Variasi Filler Abu Serbuk Batu Bata Merah Batu 6,023 5,114 4,983 4,981 4,469 4,678 4,267 4,623 Spesifikasi Kadar Filler 3-5% Min. 19,860 17,873 17,415 17,226 19,360 17,947 17,709 17,684 20,013 17,922 17,607 17,305 Min. 72,991 76,988 78,897 79,637 76,266 77,101 78,237 78,446 73,129 77,074 78,485 79,880 Min. Semen 5,984 4,979 4,601 4,239 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Stabilitas Marshall . Kelelehan . Min. 3,00 3,10 3,17 3,20 2,80 2,97 3,10 3,17 2,93 3,03 3,13 3,23 Min. MQ (Marshall Quotien. g/m. Dari tabel 6 dapat diketahui bahwa hasil pengujian Marshall pada variasi filler serbuk batu bata merah, semen dan abu batu, pada kadar filler 1% dan 2% tidak memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018. Pada kadar filler 3% dan 4% semua hasil pengujian Marshall memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018. Nilai optimum yang didapatkan pada Marshall test yaitu pada kadar filler semen 4% dengan nilai VIM 4,239%. VMA 17,305%. VFA 79,880%. Stabilitas Marshall 1551 kg. Kelelehan . 3,23 mm, dan MQ 480 kg/mm. SIMPULAN Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan pada penggunaan serbuk batu bata merah, semen dan abu batu sebagai filler pada campuran aspal AC-WC, maka didapat kesimpulan sebagai berikut: Pengujian awal campuran dengan Kadar Aspal Optimum (KAO) yang memenuhi spesifikasi Bina Marga 2018 untuk filler serbuk batu bata merah, semen dan abu batu, yaitu pada kadar aspal 7%. Hasil pengujian Marshall pada variasi filler serbuk batu bata merah, semen dan abu batu, pada kadar filler 1% dan 2% tidak memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018. Pada kadar filler 3% dan 4% semua hasil pengujian Marshall memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga Nilai optimum yang didapatkan pada Marshall test yaitu pada kadar filler semen 4% dengan nilai VIM 4,239%. VMA 17,305%. VFA 79,880%. Stabilitas Marshall 1551 kg. Kelelehan . 3,23 mm, dan MQ 480 kg/mm. Penggunaan serbuk batu bata merah sebagai bahan pengisi . pada kadar filler 4% lebih baik daripada abu batu dan sangat dapat dipakai karena mendekati nilai optimum, dengan nilai VIM 4,267%. VMA 17,226%. VFA 79,637%. Stabilitas Marshall 1529 kg. Kelelehan . 3,20 mm, dan MQ 478 kg/mm. Beberapa saran yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji menggunakan variasi perbandingan persentase filler yang lebih bervariasi untuk menentukan campuran yang paling optimal. Selain itu, jenis aspal dengan penetrasi yang berbeda juga perlu diuji untuk melihat pengaruhnya terhadap performa campuran. Ketelitian dan kecermatan selama pelaksanaan penelitian sangat penting, terutama saat penimbangan dan pembacaan dial pada uji Marshall, agar hasil yang diperoleh akurat. Alat laboratorium harus selalu dirawat dan dibersihkan setelah selesai digunakan serta dilakukan kalibrasi secara berkala untuk memastikan keandalannya . DAFTAR RUJUKAN Adibroto. Studi Pemanfaatan Abu Tanah Liat Bakar Asal Gunung Sarik Padang Sebagai Filler Pada Campuran Hot Rolled Sheet (HRS) Ae WC. Jurnal Ilmiah Poli Rekayasa, 9. Article 2. https://doi. org/10. 30630/jipr. Direktorat Jenderal Bina Marga. SPESIFIKASI UMUM 2018 UNTUK PEKERJAAN KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN (REVISI . Direktorat Jenderal Bina Marga. 486 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Kartikasari. , & Hartantyo. PENGGANTIAN FILLER DENGAN FLY ASH DAN SERBUK BATU BATA PADA CAMPURAN ASPAL (AC-WC) FILLER REPLACEMENT WITH FLY ASH AND BRICK POWDER IN MIX OF ASPHALT (AC-WC). UKaRsT, 1. Article https://doi. org/10. 30737/ukarst. Sarwono. Pramesti. , & Nugroho. STUDI KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE DENGAN ASBUTON EMULSI SEBAGAI BAHAN PENGIKAT. Matriks Teknik Sipil, 5. Article 4. https://doi. org/10. 20961/mateksi. Saudi. Okviani. , & Nurfaizah. The Effect of Strength of Asphalt Mixes with The Addition of Brick Ash as a Replacement of Filler in AC-WC Mixture. Journal of Civil Engineering and Planning (JCEP), 4. , 247Ae259. Sukirman. Beton Aspal Campuran Panas . rd ed. Institut Teknologi Nasional. Tim Standar Nasional Indonesia. SK SNI M-20-1990-F. Metode Pengujian Titik Lembek Aspal Dan Ter. Putran-Balitbang PU. Tim Standar Nasional Indonesia. RSNI M-01-2003. Metode Pengujian Campuran Beraspal Panas Dengan Alat Marshall. Pustran-Balitbang PU. Tim Standar Nasional Indonesia. RSNI S-01-2003. Spesifikasi Aspal Keras Berdasarkan Penetrasi. Pustran-Balitbang PU. Tim Standar Nasional Indonesia. SNI 1970:2008. Cara Uji Berat Jenis Dan Penyerapan Air Agregat Halus. Badan Standarisasi Nasional (BSN). Tim Standar Nasional Indonesia. SNI 2433:2011. Cara Uji Titik Nyala Dan Titik Bakar Aspal Dengan Alat Cleveland Open Cup. Badan Standarisasi Nasional (BSN). Tim Standar Nasional Indonesia. SNI 2441:2011. Cara Uji Berat Jenis Aspal Keras. Badan Standarisasi Nasional (BSN). BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024