Jurnal Lantera Ilmiah Kesehatan Artikel https://doi. org/10. 52120/jlik. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Oral di Puskesmas Pangkalan Balai Tahun 2025 Received: 24 November 2025 Accepted: 4 Desember 2025 Muhammad Irza Satria Putra1*. Yovi Pranata1. Sabda Wahab1. Hilda Muliana2 Publish online: 10 Desember 2025 Abstrak Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang memerlukan terapi jangka panjang, sehingga kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antidiabetik oral sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan dengan kepatuhan minum obat antidiabetik oral pada pasien DM di Puskesmas Pangkalan Balai. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan metode analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional pada 94 responden yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik, pola hidup sehat, persepsi fasilitas kesehatan layak, serta tingkat kepatuhan sedang. Uji bivariat membuktikan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan dengan kepatuhan minum obat antidiabetik oral . = 0,. Pasien dengan pengetahuan lebih baik, pola hidup lebih sehat, dan persepsi fasilitas kesehatan yang baik memiliki peluang kepatuhan lebih tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa faktor kognitif, perilaku, dan dukungan pelayanan kesehatan berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan terapi, sehingga diperlukan edukasi berkelanjutan dan optimalisasi layanan kesehatan. Kata kunci: Antidiabetik oral. Diabetes Mellitus. Fasilitas kesehatan. Kepatuhan pasien. Pola hidup Abstract Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease that requires long-term therapy, making patient adherence to oral antidiabetic medication a key determinant of treatment success. This study aims to analyze the relationship between knowledge level, lifestyle, and health facility support with adherence to oral antidiabetic medication among DM patients at Pangkalan Balai Public Health Center. A quantitative descriptive design with a correlational analytic method and a cross-sectional approach was used. The study involved 94 respondents selected using the Slovin formula, with data collected through a validated and reliable closed-ended questionnaire. Data were analyzed using the Chi-Square test with a 05 significance level. The results showed that most respondents had good knowledge, healthy lifestyles, positive perceptions of adequate health facilities, and moderate adherence levels. Bivariate analysis demonstrated significant relationships between knowledge, lifestyle, and health facility support with medication adherence . = 0. Patients with better knowledge, healthier lifestyles, and positive perceptions of health facilities were more likely to adhere to their medication regimen. These findings highlight the essential roles of cognitive factors, behavioral practices, and healthcare support in improving therapeutic adherence, emphasizing the need for continuous education and optimized health Key words: Diabetes Mellitus. Health facilities. Lifestyle. Oral antidiabetic drugs. Patient adherence Program Studi D3 Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Kader Bangsa. Palembang Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Kedokteran. Universitas Batam. Kepulauan Riau Koresponden: Muhammad Irza Satria Putra . e-mail: muhammadirzasatriaputra@gmail. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Artikel Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obata PENDAHULUAN Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi kardiovaskular, nefropati, neuropati, dan retinopati yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup Data Riskesdas yang dianalisis oleh Darmayanti dan Kusnanto . menunjukkan bahwa prevalensi DM tipe 2 di Indonesia terus meningkat, terutama pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia, seiring perubahan pola konsumsi, rendahnya aktivitas fisik, serta meningkatnya kasus kelebihan berat badan. Gaya hidup tidak sehat menjadi salah satu faktor risiko utama dalam perkembangan DM type Penelitian Nuraini dan Rahmadani . menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi gula, kurangnya aktivitas fisik, serta status overweight memiliki hubungan bermakna dengan peningkatan kejadian DM pada kelompok usia Kondisi ini menuntut fasilitas pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif melalui edukasi, pemantauan berkala, serta pelayanan yang komprehensif. Keberhasilan terapi DM sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat Beberapa menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pasien DM di Indonesia masih berada pada kategori sedang hingga rendah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengetahuan, perilaku hidup, serta dukungan pelayanan kesehatan (Meryta et al. , 2023. Hardani et al. Pengetahuan yang baik diketahui berkontribusi terhadap pemahaman pasien mengenai pentingnya keteraturan pengobatan dan pencegahan komplikasi (Amalia et al. , 2. Hal yang sama diungkapkan oleh Putri dan Widodo . yang menemukan bahwa edukasi kesehatan terstruktur mampu meningkatkan kemampuan self-management pada pasien DM Selain itu, pola hidup sehat seperti pengaturan diet dan aktivitas fisik juga berperan dalam keberhasilan terapi. Kualitas fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan obat dan mutu pelayanan tenaga kesehatan, turut memengaruhi JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. perilaku kepatuhan pasien (Rahmawati & Yulianti. Meskipun penelitian mengenai kepatuhan pasien DM telah banyak dilakukan, kajian yang secara simultan menganalisis tiga faktor utama pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan pada tingkat pelayanan primer di wilayah Banyuasin masih terbatas. Hal ini menunjukkan adanya research gap mengenai faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada populasi lokal. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan dengan kepatuhan minum obat antidiabetik oral pada pasien DM di Puskesmas Pangkalan Balai. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi edukasi dan peningkatan kualitas layanan bagi pasien DM di fasilitas kesehatan primer. METODE PENELITIAN Penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional, yang memungkinkan analisis hubungan antara variabel independen dan kepatuhan minum obat pada waktu yang sama tanpa intervensi (Nursalam Penelitian dilakukan di Puskesmas Pangkalan Balai. Kecamatan Banyuasin i. Sumatera Selatan, pada bulan Juni 2025, dengan pengumpulan data pada 28 April 2025. Populasi penelitian adalah seluruh pasien Diabetes Mellitus yang tercatat pada laporan PTM tahun 2024, dengan estimasi penderita DM 287 jiwa dari total penduduk usia Ou15 Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin: ycA ycu= 1 ycAyce 2 Dengan populasi N=3. 287 dan tingkat kesalahan e=0,10, maka: ycu= 1 3. 1 32,87 33,87 ycu = 97,1 Artikel Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obata Sehingga jumlah sampel minimum adalah 97 responden. Namun, sampel yang berhasil dikumpulkan dan memenuhi kriteria inklusi berjumlah 94 responden, sesuai teknik accidental sampling yang digunakan. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup skala Guttman yang terdiri dari empat bagian: . kuesioner pengetahuan . kuesioner fasilitas kesehatan . kuesioner kepatuhan menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah. Seluruh instrumen telah diuji validitas dengan nilai r hitung > r tabel . dan reliabilitas dengan nilai CronbachAos Alpha antara 0,81Ae0,85, sehingga dinyatakan valid dan reliabel. Prosedur pengumpulan data diawali dengan pengurusan izin penelitian ke institusi pendidikan dan Dinas Kesehatan Banyuasin. Setelah memperoleh persetujuan, kuesioner dibagikan langsung kepada pasien DM yang memenuhi Peneliti memberikan penjelasan singkat pemahaman responden. Variabel dependen adalah kepatuhan minum obat antidiabetik oral. Variabel independen terdiri dari tiga faktor, yaitu pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan. Analisis data meliputi analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi, dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% ( = 0,. Hasil dianggap bermakna apabila diperoleh nilai p < 0,05 (Nursalam 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Sebelum digunakan pada penelitian utama, seluruh instrumen terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan bahwa kuesioner dapat mengukur variabel penelitian secara tepat dan konsisten. Pengujian dilakukan menggunakan Corrected Item-Total Correlation dan CronbachAos Alpha. Pengujian validitas kuesioner pengetahuan dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesioner pengetahuan dapat dilihat pada Tabel Tabel 1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Nilai r Hitung Jenis CronbachAos Ket Kuesioner Alpha Tabel Pengetahuan 0,84 Reliabel Pola Hidup 0,82 Reliabel Fasilitas 0,85 Reliabel Kesehatan Kepatuhan 0,81 Reliabel (MMAS-. Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan pada 30 responden uji coba dengan menggunakan Corrected Item-Total Correlation dan CronbachAos Alpha. Seluruh instrumen yang digunakan dalam penelitian, yaitu kuesioner pengetahuan, pola hidup, fasilitas kesehatan, dan kepatuhan menunjukkan nilai r hitung yang lebih besar daripada r tabel . sehingga seluruh butir pertanyaan dinyatakan valid. Selanjutnya, nilai CronbachAos Alpha untuk masing-masing instrumen berada pada rentang 0,81Ae0,85, yang mengindikasikan konsistensi internal yang kuat dan memenuhi kriteria Berdasarkan hasil tersebut, seluruh instrumen penelitian telah memenuhi syarat sebagai alat ukur yang valid, reliabel, dan layak digunakan pada pengumpulan data penelitian Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini berjumlah 94 orang pasien Diabetes Mellitus yang menjalani pengobatan di Puskesmas Pangkalan Balai. Karakteristik yang diamati mencakup jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan untuk mengetahui gambaran umum kondisi demografis Artikel Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obata Tabel 2. Karakteristik Responden Penelitian Frekuensi Persentase . (%) Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan 45Ae49 50Ae54 Umur 55Ae59 Ou60 SMP SMA Pendidikan Perguruan Tinggi (D3/S. Total Karakteristik Kategori Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan . ,1%) dan berusia Ou60 tahun . ,5%), dengan tingkat pendidikan terbanyak pada kategori SMA . ,8%). Hasil ini menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut mendominasi kasus Diabetes Mellitus di wilayah penelitian. Hasil ini konsisten dengan PERKENI . , yang menyatakan bahwa perempuan cenderung lebih sering mengakses layanan kesehatan, sehingga lebih banyak Tingkat Mellitus Pengetahuan Pasien Diabetes Pengetahuan pasien tentang penyakit dan pengobatan merupakan faktor penting yang memengaruhi kepatuhan terapi. Data tingkat pengetahuan responden disajikan pada Tabel 3 Tabel 3 Tingkat Pengetahuan Responden Penelitian Kategori Frekuensi Persentase Pengetahuan . (%) Baik Cukup Kurang Total Sebanyak 43,6 % responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 36,2 % cukup, dan 20,2 % masih kurang. Temuan ini JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. menunjukkan bahwa sebagian besar pasien sudah memahami pentingnya keteraturan konsumsi obat dan bahaya komplikasi jika pengobatan diabaikan. Pengetahuan pasien tentang penyakit dan pengobatan merupakan faktor krusial dalam membentuk perilaku kepatuhan terapi. Hasil ini didukung oleh penelitian Marito dan Lestari . yang menemukan adanya korelasi positif sedang antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Mellitus tipe II . OO 0,468, p = 0,. Pola Hidup Pasien Diabetes Mellitus Pola hidup yang dijalankan pasien turut memengaruhi efektivitas pengobatan diabetes. Aspek yang diamati mencakup kebiasaan diet, aktivitas fisik, istirahat, dan perilaku sehat lainnya. Tabel 4. Pola Hidup Pasien Diabetes Mellitus Kategori Pola Hidup Sehat Tidak Sehat Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas responden . ,6%) memiliki pola hidup sehat, sedangkan 40,4% masih tergolong tidak sehat. Hal ini menandakan adanya kesadaran sebagian besar pasien terhadap pentingnya menjaga gaya hidup seimbang. Hasil ini sejalan dengan Syahid . yang menyatakan bahwa pasien dengan pola hidup sehat menunjukkan tingkat kepatuhan lebih tinggi terhadap pengobatan Fasilitas Kesehatan Ketersediaan kesehatan berperan penting dalam mendukung keberhasilan terapi pasien. Persepsi pasien terhadap fasilitas kesehatan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Artikel Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obata Tabel 5. Persepsi Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kategori Fasilitas Kesehatan Layak Tidak Layak Total Frekuensi . Persentase (%) Sebagian besar responden . ,8%) menilai fasilitas kesehatan di Puskesmas Pangkalan Balai layak, sedangkan 36,2% menilai tidak layak. Hasil ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien puas terhadap pelayanan tenaga kesehatan dan ketersediaan obat. Keterjangkauan dan kualitas pelayanan fasilitas kesehatan sangat penting dalam menunjang terapi pasien diabetes. Temuan ini sejalan dengan hasil kajian Pratiwi dan Widayati . yang menyatakan bahwa intervensi aktif tenaga kesehatan seperti konseling dan pengingat memengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien DM. Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Oral Kepatuhan merupakan indikator utama keberhasilan pengobatan jangka panjang pada pasien diabetes. Tingkat kepatuhan responden disajikan pada tabel 6 berikut. Tabel 6 Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Oral Kategori Kepatuhan Tinggi Sedang Rendah Frekuensi . Persentase (%) Kepatuhan minum obat antidiabetik oral pada pasien penelitian menunjukkan bahwa 48,9% berada pada kategori sedang, sedangkan 27,7% rendah dan hanya 23,4% tinggi. Temuan ini mencerminkan adanya masalah keteraturan terapi jangka panjang yang perlu perhatian serius. Studi Sri Syatriani. Amaliah, dan Marwanti . di Puskesmas Tamamaung menemukan bahwa faktor-faktor karakteristik seperti lama menderita JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. dan dukungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan, yang dapat menjelaskan mengapa banyak pasien tidak mencapai tingkat kepatuhan tinggi. Analisis Bivariat Untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel independen dengan kepatuhan minum obat antidiabetik oral, dilakukan uji Chi-Square dengan taraf kepercayaan 95% ( = 0,. Tabel 7 Hasil Uji Chi-Square Hubungan Antarvariabel Variabel Independen Pengetahuan Pola Hidup Fasilitas Kesehatan NA (Chi- df p- Keterangan Squar. 61,916 4 0,000 Signifikan 39,393 2 0,000 Signifikan 45,785 2 0,000 Signifikan Tabel 7 menunjukkan bahwa ketiga variabel independen memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pengobatan . < 0,. Pasien dengan pengetahuan baik, pola hidup sehat, serta yang menilai fasilitas kesehatan layak cenderung memiliki kepatuhan tinggi. Hasil ini sejalan dengan Hamid et al. yang melaporkan bahwa pengetahuan, gaya hidup sehat, dan pelayanan kesehatan berkualitas berkontribusi nyata terhadap peningkatan kepatuhan pasien Diabetes Mellitus. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan berhubungan signifikan dengan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antidiabetik oral. Signifikansi ketiga variabel ini menggambarkan bahwa kepatuhan merupakan perilaku multidimensional yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal secara bersamaan. Pertama, pengetahuan yang baik meningkatkan kemungkinan pasien untuk mematuhi terapi. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar Health Belief Model yang menekankan bahwa persepsi manfaat dan pemahaman terhadap risiko penyakit Artikel Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obata (Rosenstoc. Kedua, pola hidup sehat berkontribusi signifikan terhadap kepatuhan, karena perilaku diet, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres mencerminkan kesiapan dan komitmen pasien dalam mengelola penyakitnya. Hasil ini mendukung temuan Syahid . , yang menunjukkan bahwa perilaku hidup sehat berpengaruh positif terhadap kestabilan kadar glukosa darah dan keteraturan terapi. Ketiga, signifikan karena dukungan sistem pelayanan merupakan faktor eksternal yang dapat memperkuat kepatuhan. Akses pelayanan yang baik, ketersediaan obat, dan komunikasi efektif kepercayaan pasien terhadap terapi. Temuan penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa tidak ada satu faktor yang berdiri sendiri sebagai penentu kepatuhan, melainkan merupakan hasil interaksi antara faktor pengetahuan, perilaku, dan dukungan sistem Dengan peningkatan kepatuhan perlu dilakukan melalui pendekatan holistik yang menggabungkan edukasi pasien, pembinaan perilaku hidup sehat, serta perbaikan kualitas fasilitas kesehatan agar keberhasilan terapi jangka panjang dan pencegahan komplikasi diabetes dapat tercapai secara optimal. KESIMPULAN Penelitian pengetahuan, pola hidup, dan fasilitas kesehatan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat antidiabetik oral pada pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas Pangkalan Balai . = 0,. Pasien dengan tingkat pengetahuan baik, pola hidup sehat, serta persepsi fasilitas kesehatan yang layak memiliki tingkat kepatuhan lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Meskipun sebagian besar responden memiliki pengetahuan dan pola hidup yang cukup baik, tingkat kepatuhan secara umum masih berada pada kategori sedang, sehingga menunjukkan bahwa keberhasilan terapi DM memerlukan JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. dukungan berkelanjutan dari aspek kognitif, perilaku, dan pelayanan kesehatan. SARAN DAFTAR PUSTAKA