https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER MELALUI PENDIDIKAN ISLAM: TELAAH ATAS KEBIJAKAN RASULULLAH SAW TERHADAP PENDIDIKAN WANITA Aisahrani Ritonga Kemenang Kota Padangsidimpuan aisahrani36@gmail. Zainal Efendi HSB Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan. yes@gmail. Article History: Received: Agustus 30, 2025. Accepted: September 26, 2025. Published: Oktober 27, 2025. Keywords: Gender Equality. Islamic Education. Women. Rasulullah SAW. Women's Education. Abstract. The issue of gender equality in education has been an ongoing topic of discussion, including in the context of Islamic So far, there is an assumption that Islam limits women's freedom of movement, especially in obtaining This study aims to examine the policies of the Prophet Muhammad SAW on women's education as a form of reflection on the principle of gender equality in Islam. The main focus of this study is how the Prophet Muhammad SAW provided space and opportunities for women to access education, as well as its impact on the intellectual and social development of Muslim society in the early days of Islam. The research method used is a qualitative approach with a library research type. Data were obtained through a literature review of primary sources such as authentic hadiths, sirah nabawiyah, and relevant secondary literature on education in Islam and gender issues. Data analysis was carried out descriptivelycritically in order to describe and interpret the practice of women's education during the time of the Prophet Muhammad SAW. The results of the study show that the Prophet Muhammad SAW actively encouraged and facilitated education for women, both in religious and social aspects. This is evidenced by the existence of educated female figures during his time, such as Aisyah RA who became a reference for knowledge for her companions. The Prophet's policies reflect the values of equality, justice, and respect for women's rights in gaining knowledge. The conclusion of this study is that Islamic education truly upholds the principle of gender equality, as reflected in the practices and policies of the Prophet Muhammad SAW towards women's education Abstrak. Permasalahan kesetaraan gender dalam pendidikan telah menjadi isu yang terus diperbincangkan, termasuk dalam konteks pendidikan Islam. Selama ini, terdapat anggapan bahwa Islam membatasi ruang gerak perempuan, khususnya dalam memperoleh pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebijakan Rasulullah SAW terhadap pendidikan wanita sebagai bentuk refleksi atas prinsip kesetaraan gender dalam Islam. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana Rasulullah SAW memberikan ruang dan kesempatan bagi kaum wanita untuk mengakses pendidikan, serta dampaknya terhadap perkembangan intelektual dan sosial masyarakat 737 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mewujudkan Kesetaraan Gender Melalui Pendidikan Islam: Telaah Atas KebijakanA | Aisahrani Ritonga. Zainal Efendi Hasibuan muslim pada masa awal Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. Data diperoleh melalui telaah literatur terhadap sumber-sumber primer seperti hadis-hadis shahih, sirah nabawiyah, serta literatur sekunder yang relevan mengenai pendidikan dalam Islam dan isu gender. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kritis guna menggambarkan dan menafsirkan praktik pendidikan wanita pada masa Rasulullah SAW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rasulullah SAW secara aktif mendorong dan memfasilitasi pendidikan bagi wanita, baik dalam aspek keagamaan maupun kehidupan sosial. Hal ini dibuktikan dengan adanya tokoh-tokoh perempuan terpelajar pada masa beliau, seperti Aisyah RA yang menjadi rujukan ilmu bagi para Kebijakan Rasulullah mencerminkan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan dalam memperoleh ilmu. Kesimpulan dari kajian ini adalah bahwa pendidikan Islam sejatinya menjunjung tinggi prinsip kesetaraan gender, sebagaimana tercermin dalam praktik dan kebijakan Rasulullah SAW terhadap pendidikan wanita. PENDAHULUAN Isu kesetaraan gender dalam dunia pendidikan merupakan topik yang terus menjadi perbincangan, baik dalam lingkup nasional maupun global. Kesetaraan gender berarti memberikan hak dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam konteks masyarakat modern, tuntutan akan perlakuan yang adil terhadap perempuan dalam bidang pendidikan semakin meningkat. Namun, dalam masyarakat muslim, perdebatan seputar peran dan posisi perempuan dalam pendidikan seringkali muncul akibat pemahaman yang kurang komprehensif terhadap ajaran Islam. (Darwis et al. , 2. Sebagian kalangan masih beranggapan bahwa Islam bersifat patriarkal dan membatasi ruang gerak perempuan, terutama dalam hal mengakses Pandangan perempuan muslim seharusnya lebih berfokus pada peran domestik dan tidak terlalu menonjol di ranah publik, termasuk pendidikan. Pemahaman semacam ini seringkali didasarkan pada interpretasi tekstual yang kaku dan tidak mempertimbangkan konteks sosial maupun sejarah turunnya ayat-ayat Al-QurAoan serta sabda Rasulullah SAW. (Islamiyyah et al. , 2. 738 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Padahal, jika ditelusuri secara historis dan kontekstual. Rasulullah SAW justru memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan Sejak awal dakwah Islam, beliau tidak hanya mendorong lakilaki untuk menuntut ilmu, tetapi juga memberikan kesempatan yang luas kepada perempuan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan mereka. Banyak hadis yang menunjukkan bahwa perempuan diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menghadiri majelis ilmu, bertanya kepada Rasulullah, dan bahkan mengajarkan ilmu kepada orang lain. Contoh nyata dapat dilihat pada sosok Aisyah RA, istri Rasulullah, yang dikenal sebagai salah satu periwayat hadis terbanyak dan menjadi rujukan utama dalam berbagai persoalan keilmuan. (Rahmah, 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam Islam, pendidikan bukanlah hak eksklusif laki-laki, melainkan hak setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Prinsip kesetaraan gender dalam pendidikan sejatinya telah ditanamkan oleh Rasulullah SAW sejak awal perkembangan Islam. Namun demikian, nilai-nilai tersebut seringkali tidak terimplementasi secara optimal dalam praktik pendidikan di sebagian masyarakat muslim saat ini, karena adanya bias budaya dan penafsiran agama yang kurang tepat. Berangkat dari permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali kebijakan dan sikap Rasulullah SAW terhadap pendidikan perempuan sebagai upaya untuk menegaskan bahwa Islam sejatinya menjunjung tinggi prinsip kesetaraan gender. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih adil dan objektif mengenai posisi perempuan dalam pendidikan Islam, serta menjadi dasar untuk merumuskan pendekatan pendidikan yang lebih inklusif dan sesuai dengan nilai-nilai luhur Islam. (Amali & Suhartini, 2. Dengan menelaah secara mendalam praktik Rasulullah SAW dalam diharapkan dapat meluruskan kesalahpahaman yang berkembang, serta menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam mengembangkan sistem pendidikan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender. 739 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mewujudkan Kesetaraan Gender Melalui Pendidikan Islam: Telaah Atas KebijakanA | Aisahrani Ritonga. Zainal Efendi Hasibuan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena fokus kajian adalah pada penelusuran data historis dan normatif mengenai kebijakan Rasulullah SAW terhadap pendidikan perempuan dalam perspektif Islam. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, yaitu menggambarkan dan menganalisis data berdasarkan sumber-sumber yang tersedia. (M. A, 2. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber primer dan Sumber primer meliputi Al-QurAoan, hadis-hadis sahih, serta kitabkitab sirah Nabawiyah. Sementara itu, sumber sekunder meliputi buku-buku ilmiah, jurnal, dan artikel yang relevan dengan tema kesetaraan gender dalam pendidikan Islam. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi . ontent analysi. , yaitu dengan menelaah secara mendalam isi dari sumber-sumber literatur untuk menemukan pola, makna, dan prinsip-prinsip kebijakan Rasulullah SAW dalam konteks pendidikan perempuan. Hasil analisis kemudian disusun secara sistematis untuk membentuk gambaran utuh tentang kesetaraan gender dalam pendidikan Islam berdasarkan keteladanan Rasulullah SAW. (P. Pd, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana kebijakan Rasulullah SAW dalam memberikan ruang pendidikan kepada perempuan, serta bagaimana hal tersebut mencerminkan prinsip kesetaraan gender dalam Islam. Dari hasil telaah pustaka terhadap hadis, kitab sirah, dan referensi ilmiah lainnya, dapat diuraikan beberapa poin penting yang menggambarkan bahwa pendidikan dalam Islam sejak masa Rasulullah tidak mendiskriminasi perempuan, bahkan justru mendorong keterlibatan aktif mereka dalam dunia (Haris, 2. 740 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Prinsip Dasar Islam tentang Kewajiban Menuntut Ilmu Salah satu dasar penting dalam Islam mengenai kewajiban menuntut ilmu adalah hadis Rasulullah SAW yang menyatakan: "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. " (HR. Ibnu Maja. Hadis ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Islam tidak membedakan kewajiban menuntut ilmu berdasarkan jenis kelamin. Dalam konteks ini. Rasulullah SAW menghilangkan hambatan struktural dan sosial yang sebelumnya menghalangi perempuan untuk mengakses (Luthfiyah et al. , 2. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab Jahiliyah memandang perempuan sebagai kelas kedua yang tidak memiliki hak-hak sosial, termasuk dalam hal pendidikan. Namun, dengan datangnya Islam, paradigma ini berubah total. Perempuan diberikan hak untuk belajar, menyampaikan pendapat, dan bahkan berperan dalam membentuk peradaban Islam. Hal ini menandakan bahwa sejak awal, prinsip kesetaraan gender dalam pendidikan telah diletakkan secara tegas oleh Rasulullah SAW. (Lubis et al. , 2. Perempuan Sebagai Subjek dan Objek Pendidikan Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa perempuan bukan hanya menjadi objek penerima pendidikan, tetapi juga aktif menjadi subjek yang menyebarkan ilmu. Contoh yang paling menonjol adalah Aisyah binti Abu Bakar RA. Ia dikenal sebagai wanita yang sangat cerdas, memiliki daya ingat yang kuat, dan meriwayatkan lebih dari dua ribu hadis. Ia menjadi rujukan keilmuan bagi para sahabat dan tabiAoin. Para tokoh laki-laki seperti Urwah bin Zubair. Abu Musa Al-AsyAoari, dan lainnya sering berkonsultasi kepadanya dalam persoalan agama. (Andika, 2. Selain Aisyah, terdapat pula nama-nama seperti Ummu Salamah. Hafshah binti Umar. AsmaAo binti Abu Bakar, dan lainnya yang turut berkontribusi dalam bidang keilmuan. Mereka menjadi bukti konkret bahwa perempuan memiliki kedudukan penting dalam pendidikan Islam. 741 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mewujudkan Kesetaraan Gender Melalui Pendidikan Islam: Telaah Atas KebijakanA | Aisahrani Ritonga. Zainal Efendi Hasibuan Keterlibatan perempuan dalam pendidikan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak membatasi ruang belajar hanya untuk laki-laki. Bahkan dalam beberapa kesempatan, para perempuan secara khusus meminta waktu dari Rasulullah untuk belajar secara langsung kepada Shahih Bukhari, sekelompok wanita berkata kepada Rasulullah: AuWahai Rasulullah, kaum laki-laki telah mengalahkan kami dalam memperoleh hadirmu. Maka sediakanlah hari khusus untuk kami. Ay Lalu Rasulullah memenuhi permintaan tersebut dengan mengadakan sesi belajar khusus bagi (Anisa, 2. Fasilitasi Rasulullah SAW terhadap Pendidikan Wanita Rasulullah SAW tidak hanya memberikan izin bagi perempuan untuk belajar, tetapi juga memberikan fasilitas dan motivasi. Dalam praktiknya, beliau menyampaikan materi-materi keagamaan di masjid yang terbuka untuk umum, termasuk perempuan. Masjid pada masa itu menjadi pusat kegiatan keilmuan, sehingga kehadiran perempuan di majelis ilmu menjadi hal yang lumrah. (Lubis et al. , 2. Lebih dari itu. Rasulullah SAW memberikan motivasi kepada para suami dan ayah untuk mendidik istri dan anak perempuannya. Dalam beberapa hadis, disebutkan keutamaan mendidik anak perempuan, seperti sabda beliau: AuBarang siapa yang memiliki tiga anak perempuan dan dia mengasuh mereka, mendidik mereka, serta menikahkan mereka dengan baik, maka ia akan masuk surga. Ay (HR. Abu Dawu. Hadis ini menunjukkan bahwa pendidikan perempuan dipandang sebagai amal saleh yang tinggi nilainya dalam Islam. (Safitri et al. , 2. Perempuan Sebagai Guru dan Ulama Pada masa Rasulullah SAW dan sesudahnya, banyak perempuan yang berperan sebagai guru dan ulama. Peran ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan karena adanya legitimasi dari Rasulullah SAW terhadap 742 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. kapasitas dan potensi keilmuan perempuan. Sosok seperti Aisyah RA Rasulullah mendorong perempuan untuk menjadi rujukan ilmu agama. (Suryatina. Bahkan dalam sejarah Islam klasik, terdapat ratusan nama ulama perempuan yang tercatat dalam berbagai bidang keilmuan, termasuk tafsir, hadis, fikih, hingga sastra. Ini tidak lepas dari warisan kebijakan Rasulullah yang membuka akses pendidikan bagi perempuan sejak awal. Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Bukan Sekadar Retorika Apa yang dilakukan Rasulullah SAW bukanlah sekadar simbol atau implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Dalam rumah tangganya, beliau memberi teladan tentang bagaimana perempuan dimuliakan secara intelektual. Beliau berdialog, berdiskusi, bahkan menerima masukan dari para istri dalam urusan sosial dan keagamaan. Ini menjadi pembelajaran bahwa Islam memandang perempuan sebagai mitra dalam membangun peradaban, bukan subordinat. (Jannah, 2. Kesetaraan gender dalam pendidikan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah bukan berarti menyeragamkan peran antara laki-laki dan perempuan, tetapi memberikan hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan memberikan kontribusi terhadap masyarakat sesuai dengan potensi masing-masing. (Andika, 2. Tantangan Implementasi dalam Konteks Modern Meskipun Islam sejak awal telah menjunjung tinggi kesetaraan gender dalam pendidikan, realitas di banyak masyarakat muslim masih menunjukkan adanya ketimpangan. Banyak perempuan yang masih belum memperoleh akses pendidikan yang memadai akibat faktor budaya, kemiskinan, serta pemahaman keagamaan yang sempit. Oleh karena itu, penting untuk mengangkat kembali keteladanan Rasulullah SAW sebagai 743 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mewujudkan Kesetaraan Gender Melalui Pendidikan Islam: Telaah Atas KebijakanA | Aisahrani Ritonga. Zainal Efendi Hasibuan dasar dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan adil (P. Pd S. Ag, 2. Kajian ini menunjukkan bahwa ketidaksetaraan yang terjadi bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri, melainkan dari interpretasi yang keliru dan praktik sosial yang menyimpang dari nilai-nilai dasar Islam. Pendidikan Islam yang autentik seharusnya menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai insan yang sama-sama memiliki potensi dan hak untuk (Ag & MA, 2. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa sejak awal perkembangan Islam. Rasulullah SAW telah menunjukkan komitmen kuat terhadap prinsip kesetaraan gender, khususnya dalam bidang pendidikan. Melalui berbagai kebijakan dan teladan pribadi, beliau memberikan akses yang setara bagi perempuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, bahkan mendorong mereka untuk berperan aktif sebagai subjek dan objek pendidikan. Perempuan pada masa Rasulullah tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi guru, perawi hadis, dan tokoh intelektual, sebagaimana ditunjukkan oleh Aisyah RA dan sahabiyah lainnya. Kesetaraan gender dalam pendidikan yang dicontohkan Rasulullah bukan hanya simbolis, melainkan merupakan praktik nyata yang bertujuan membangun masyarakat Islam yang adil, berpengetahuan, dan beradab. Hambatan yang dihadapi perempuan dalam pendidikan di masa kini lebih banyak disebabkan oleh konstruksi budaya dan pemahaman agama yang sempit, bukan oleh ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk nilai-nilai Rasulullah SAW pendidikan modern, agar dapat menciptakan masyarakat yang menghargai keadilan, kesetaraan, dan pemberdayaan perempuan sesuai dengan prinsipprinsip Islam yang rahmatan lil Aoalamin. 744 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. REFERENSI