Evaluasi Program Kelas Ibu Hamil. EVALUASI PROGRAM KELAS IBU HAMIL SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DI PUSKESMAS BESUKI. KABUPATEN SITUBONDO PADA TAHUN 2023 Dinda Puspita S1 Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya 19071@mhs. Suci Megawati S1 Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya sucimegawati@unesa. Indah Prabawati S1 Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya indahprabawati@unesa. Tjitjik Rahaju S1 Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya tjitjikrahaju@unesa. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pelaksanaan dan efektivitas Program Kelas Ibu Hamil sebagai upaya percepatan penurunan stunting di Puskesmas Besuki. Kabupaten Situbondo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan deskriptif, menekankan pemahaman konteks sosial, perilaku, dan pengalaman subjek penelitian secara alamiah. Subjek penelitian terdiri atas Kepala Puskesmas Besuki. Koordinator Program Gizi. Bidan Desa, serta ibu hamil yang mengalami atau memiliki riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan stunting. Informan dipilih menggunakan purposive sampling hingga data mencapai titik jenuh. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan data. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik serta member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Kelas Ibu Hamil efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil terhadap kesehatan kehamilan, nutrisi, persalinan, dan perawatan bayi baru lahir, serta berkontribusi pada pencegahan stunting. Program ini responsif terhadap kebutuhan peserta, tepat sasaran, dan berhasil menerapkan prinsip pemerataan layanan. Namun, efisiensi dan kecukupan program perlu ditingkatkan, khususnya terkait manajemen anggaran, jadwal, dan keterlibatan peserta. Disarankan dilakukan evaluasi berkala terhadap anggaran, penyusunan laporan transparan, perbaikan manajemen jadwal, serta penyesuaian materi sesuai trimester kehamilan untuk mengoptimalkan efektivitas program. Kata Kunci: Kelas Ibu Hamil. Stunting. Puskesmas Besuki. Abstract This study aims to gain an in-depth understanding of the implementation and effectiveness of the Maternal Class Program as an effort to accelerate stunting reduction at Puskesmas Besuki. Situbondo Regency. The study employs a qualitative approach with a descriptive design, emphasizing the understanding of social context, behaviors, and the natural experiences of the research subjects. The research subjects include the Head of Puskesmas Besuki. Nutrition Program Coordinator. Village Midwives, and pregnant women with or with a history of Chronic Energy Deficiency (CED) and stunting. Informants were selected using purposive sampling until data saturation was reached. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using Miles and HubermanAos interactive model, including data reduction, presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technique triangulation as well as member checking. The results indicate that the Maternal Class Program is effective in improving pregnant womenAos knowledge and awareness of maternal health, nutrition, childbirth, and newborn care, and contributes to stunting prevention. The program is responsive to participantsAo needs, on target, and successfully applies the principle of equitable service. However, program efficiency and adequacy need improvement, particularly in budget management, scheduling, and participant engagement. It is recommended to conduct regular budget evaluations, prepare transparent reports, improve schedule Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 107-114 management, and adjust materials according to different pregnancy trimesters to optimize program Keywords: Maternal Class. Stunting. Puskesmas Besuki. PENDAHULUAN Kesehatan merupakan faktor fundamental dalam mendukung pembangunan suatu negara, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun budaya. Kesehatan juga berperan penting dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), karena individu yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal serta berkontribusi terhadap produktivitas bangsa (Suparman, 2. World Health Organization (WHO) mendefinisikan sistem kesehatan sebagai seluruh aktivitas yang bertujuan untuk mempromosikan, memulihkan, dan memelihara kesehatan masyarakat. Untuk menunjang sistem tersebut. WHO mengidentifikasi enam komponen utama, yakni pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, sistem informasi kesehatan, pembiayaan kesehatan, akses terhadap obat esensial, serta kepemimpinan dan tata kelola kesehatan. Negara berkembang, termasuk Indonesia, masih menghadapi berbagai tantangan dalam membangun sistem kesehatan yang kuat dan merata, terutama dalam aspek pencegahan penyakit dan perbaikan status gizi masyarakat (Hidayah & Rahaju, 2. Anak merupakan generasi penerus bangsa yang menentukan kualitas pembangunan di masa depan. Oleh karena itu, negara wajib menjamin pemenuhan hak anak, termasuk hak atas kesehatan, gizi, dan kesejahteraan (Sukron et al. , 2. Indonesia sebagai negara berkembang dengan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menghadapi tantangan serius dalam memastikan kualitas tumbuh kembang anak sejak dini. Salah satu permasalahan kesehatan yang hingga saat ini masih menjadi fokus utama pemerintah adalah stunting. Data prevalensi stunting secara nasional menunjukkan tren penurunan dari tahun 2007 hingga 2024, meskipun laju penurunannya belum konsisten dan belum mampu memenuhi target nasional sebesar 14% pada tahun 2024. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun telah terjadi kemajuan, upaya percepatan penurunan stunting masih memerlukan sinergi lintas sektor dan penguatan intervensi yang lebih intensif. Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun, yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan standar usianya (Kementerian Kesehatan RI, 2. Dampak stunting tidak hanya terbatas pada masalah pertumbuhan fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan kognitif, dan produktivitas pada masa Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit, gangguan perkembangan motorik, serta hambatan dalam perkembangan mental dan sosial (Taryani et al. , 2. Dengan demikian, stunting merupakan ancaman serius terhadap kualitas generasi masa depan. Pemerintah Indonesia telah mengadopsi pendekatan berbasis keluarga untuk mempercepat penurunan stunting, dengan menekankan pentingnya pendampingan keluarga berisiko stunting. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meminimalkan gangguan pertumbuhan anak balita, terutama apabila didukung oleh koordinasi lintas sektor, kebijakan yang terintegrasi, serta partisipasi masyarakat secara aktif (Ashar et al. , 2. Selain itu, pemanfaatan layanan kesehatan primer dan preventif sejak masa kehamilan merupakan kunci utama dalam pencegahan Namun demikian, di berbagai wilayah dengan status sosial ekonomi rendah, akses terhadap layanan kesehatan sering kali terbatas, baik karena kendala ekonomi, rendahnya literasi kesehatan, maupun hambatan Untuk mengatasi kondisi ini, berbagai program bantuan sosial bersyarat seperti Conditional Cash Transfers (CCT. dinilai efektif dalam mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan ibu dan anak (Chakrabarti et al. , 2. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah dengan beban stunting yang cukup besar di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), prevalensi stunting di Jawa Timur menurun dari 23,5% pada tahun 2021 menjadi 19,2% pada tahun 2022. Meskipun menunjukkan progres yang positif. Jawa Timur masih menghadapi tantangan berat mengingat provinsi ini memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia pada tahun 2022 (Kemenkopmk, 2. Kabupaten Situbondo menjadi salah satu daerah yang memerlukan perhatian khusus karena prevalensi stunting di wilayah ini justru mengalami peningkatan pada tahun 2022 menjadi 30,9% setelah sebelumnya menurun pada tahun 2021. Kondisi tersebut menjadikan Situbondo sebagai kabupaten dengan angka stunting tertinggi ketiga di Jawa Timur (Annur, 2. Faktor penyebab tingginya angka stunting di Kabupaten Situbondo sangat kompleks. Selain dipengaruhi oleh kemiskinan ekstrem, terdapat pula persoalan lain seperti rendahnya pemahaman masyarakat mengenai stunting, kurangnya kesamaan persepsi antar pemangku kepentingan, keterbatasan alat kesehatan, serta minimnya keterampilan kader kesehatan dalam Evaluasi Program Kelas Ibu Hamil. melakukan komunikasi dan pengukuran yang akurat. Berdasarkan SK Bupati Situbondo Tahun 2022. Desa Kalimas dan Desa Pesisir di Kecamatan Besuki ditetapkan sebagai lokasi fokus percepatan penurunan stunting pada tahun 2023 dan berada dalam wilayah kerja Puskesmas Besuki. Data Puskesmas Besuki pada September 2022 menunjukkan sebanyak 18 bayi lahir dengan kondisi berat badan lahir rendah (BBLR), yang merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya stunting. Selain itu, terdapat 62 ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) di wilayah kerja Puskesmas Besuki. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penyebab stunting di wilayah ini lebih dominan terjadi pada fase kehamilan. Menurut Kamilia . , status gizi ibu selama kehamilan sangat menentukan berat badan lahir bayi dan risiko terjadinya stunting pada awal kehidupan. Rendahnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya gizi ibu hamil juga menjadi persoalan mendasar di wilayah ini. Masih banyak masyarakat yang menganggap tubuh pendek pada anak sebagai faktor keturunan, bukan sebagai masalah kesehatan yang memerlukan penanganan Peran pelayanan kesehatan ibu hamil pun belum optimal, yang tercermin dari menurunnya cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil di Puskesmas Besuki selama periode 2020Ae2022. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain keterbatasan pemantauan petugas kesehatan, frekuensi kunjungan yang tidak sesuai standar akibat mobilitas penduduk, serta kuatnya mitos yang berkembang di masyarakat mengenai pemeriksaan Dalam konteks pencegahan stunting, pemerintah menempatkan intervensi pada masa kehamilan sebagai prioritas utama. Langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah anak mengalami stunting, karena kerusakan yang terjadi pada masa awal kehidupan bersifat sulit diperbaiki (Kementerian Kesehatan, 2. Salah satu program strategis yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Program Kelas Ibu Hamil. Program Kelas Ibu Hamil merupakan intervensi edukatif yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil terkait kesehatan, gizi, serta tumbuh kembang janin. Program ini memberikan informasi mengenai gizi seimbang, tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan dan menyusui, serta pemenuhan kebutuhan nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kehadiran kelas ibu hamil diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku ibu dalam menjalani kehamilan yang sehat serta menurunkan risiko KEK. BBLR, dan pada akhirnya stunting. Di Kabupaten Situbondo. Program Kelas Ibu Hamil telah dilaksanakan oleh Puskesmas Besuki sebagai bagian dari intervensi spesifik percepatan penurunan stunting. Program ini mencakup edukasi kesehatan, pemberian suplemen gizi seperti tablet zat besi, serta pendampingan berkelanjutan kepada ibu hamil. Namun, efektivitas pelaksanaan program ini belum pernah dievaluasi secara komprehensif untuk menilai sejauh mana kontribusinya dalam menekan angka stunting. Program Kelas Ibu Hamil telah dilaksanakan oleh Puskesmas Besuki sebagai bagian dari intervensi spesifik percepatan penurunan stunting. Program ini mencakup edukasi kesehatan, pemberian suplemen gizi seperti tablet zat besi, serta pendampingan berkelanjutan kepada ibu Namun demikian, hingga saat ini efektivitas pelaksanaan program tersebut belum dievaluasi secara komprehensif untuk menilai sejauh mana kontribusinya dalam menekan angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Besuki. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini difokuskan pada evaluasi Program Kelas Ibu Hamil sebagai salah satu strategi percepatan penurunan stunting di Puskesmas Besuki. Kabupaten Situbondo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku kesehatan ibu hamil, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan program, serta menilai kontribusinya terhadap upaya pencegahan stunting. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pelaksanaan program di lapangan serta menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi perbaikan dan penguatan program ke Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam pengembangan kajian mengenai intervensi kesehatan ibu dan anak berbasis edukasi sebagai salah satu pendekatan preventif dalam menanggulangi stunting METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman secara mendalam mengenai pelaksanaan dan efektivitas Program Kelas Ibu Hamil sebagai upaya percepatan penurunan stunting di Puskesmas Besuki. Kabupaten Situbondo. Pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini menekankan pada pemahaman konteks sosial, perilaku, serta pengalaman subjek penelitian secara alamiah dan mendalam (Creswell & Creswell, 2. Penelitian deskriptif dipilih karena bertujuan menggambarkan fenomena yang diteliti sebagaimana adanya, tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel penelitian (Anggara, 2. Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 107-114 Subjek penelitian dalam penelitian ini terdiri atas pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Program Kelas Ibu Hamil. Informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan keterlibatan langsung dan kemampuan memberikan informasi secara akurat dan relevan (Sugiyono, 2. Informan penelitian meliputi Kepala Puskesmas Besuki. Koordinator Program Gizi Puskesmas Besuki. Bidan Desa sebagai tenaga kesehatan pendamping, ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK), serta ibu yang memiliki riwayat KEK dan melahirkan anak dengan kondisi stunting. Pengambilan informan dilakukan hingga data mencapai titik jenuh . ata saturatio. , yaitu ketika tidak ditemukan lagi informasi baru yang substantif (Creswell & Poth, 2. Lokasi penelitian ini adalah Puskesmas Besuki. Kabupaten Situbondo, yang dipilih secara sengaja karena wilayah kerja puskesmas tersebut mencakup desa prioritas percepatan penurunan stunting, yaitu Desa Kalimas dan Desa Pesisir. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan tingginya angka stunting dan masih ditemukannya permasalahan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil (Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, 2. Pelaksanaan penelitian dilakukan sampai data yang diperoleh dianggap cukup untuk menjelaskan fenomena penelitian secara komprehensif. Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, yang berperan sebagai perencana, pengumpul data, penganalisis, sekaligus penafsir data penelitian (Sugiyono, 2. Sebagai instrumen pendukung, peneliti menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi, alat perekam suara, serta dokumentasi berupa catatan lapangan dan foto selama proses penelitian Pedoman wawancara disusun berdasarkan enam kriteria evaluasi kebijakan publik menurut Dunn . , yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai pelaksanaan Program Kelas Ibu Hamil di lapangan serta interaksi antara tenaga kesehatan dan peserta program (Sekaran & Bougie, 2. Wawancara dilakukan dengan informan utama secara terstruktur menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya untuk menggali informasi secara mendalam mengenai pelaksanaan dan kendala dalam program (Sugiyono. Dokumentasi digunakan sebagai teknik pelengkap yang bertujuan untuk memperkuat data hasil wawancara dan observasi melalui sumber tertulis dan arsip resmi (Anggraini et al. , 2. Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles. Huberman, & Saldaya. Reduksi data dilakukan dengan memilah dan memfokuskan data sesuai dengan fokus penelitian untuk menghasilkan informasi yang relevan (Thalib, 2. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif agar memudahkan pemahaman hubungan antar kategori. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu proses interpretasi makna terhadap temuan penelitian yang dilakukan secara terus-menerus selama penelitian Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan hasil wawancara dengan observasi dan dokumentasi, serta membandingkan informasi antar informan (Sugiyono. Selain itu, peneliti juga melakukan member check untuk memastikan kebenaran informasi yang diperoleh dari informan sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Creswell & Creswell, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Puskesmas Besuki Puskesmas Besuki. Kecamatan Besuki. Kabupaten Situbondo, berperan sebagai unit pelayanan kesehatan primer yang melayani enam desa melalui 54 posyandu. Fasilitas yang tersedia meliputi UGD, rawat inap, poli KIA, poli umum, poli gigi, laboratorium, serta layanan kesehatan perorangan dan berbasis masyarakat (UKP & UKBM). Puskesmas Besuki didukung 65 tenaga kesehatan dan non-kesehatan yang menjalankan berbagai layanan promotif, preventif, dan kuratif. Visi Puskesmas adalah AuMewujudkan Masyarakat Kecamatan Besuki yang Berakhlak. Sejahtera. Adil, dan BerdayaAy dengan misi meningkatkan kesehatan, kecerdasan, dan peran perempuan masyarakat. Motto dan janji layanan menekankan pelayanan yang sigap, tepat, dan berkualitas. Jumlah kunjungan pasien pada Puskesmas Besuki meningkat dari 46. 374 pada tahun 2021 menjadi 55. pada tahun 2022, yang mencakup kunjungan ibu hamil dan kader kesehatan. Hal ini menunjukkan peran Puskesmas sebagai garda terdepan dalam menyediakan akses layanan kesehatan masyarakat. Pelaksanaan Intervensi Spesifik pada Ibu Hamil Puskesmas Besuki melaksanakan intervensi spesifik untuk mencegah stunting, terutama pada ibu hamil sebagai kelompok krusial dalam 1. 000 hari pertama kehidupan anak. Intervensi meliputi: Pendidikan gizi bagi ibu hamil mengenai kebutuhan nutrisi seimbang. Evaluasi Program Kelas Ibu Hamil. Suplementasi gizi, seperti tablet zat besi dan asam Pemeriksaan kehamilan rutin minimal empat kali selama masa kehamilan. Konseling gizi dan praktik pemberian makan bayi. Pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dengan kekurangan gizi. Penyuluhan kesehatan mengenai pencegahan stunting. Selain itu. Puskesmas melakukan verifikasi data stunting melalui kunjungan rumah bulanan, pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri, dan rencana pelatihan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Program Kelas Ibu Hamil yang berjalan sejak 2017 juga menjadi media edukasi, diskusi, dan tukar pengalaman bagi ibu hamil dengan panduan Buku KIA, dengan peserta maksimal 10 orang per kelas. Berikut adalah evaluasi program kelas ibu hamil di Puskesmas Besuki. Kabupaten Situbondo berdasarkan enam indikator evaluasi menurut Dunn . 3/2. Efektivitas (Effectivenes. Efektivitas berkaitan dengan pencapaian tujuan program, yaitu menurunkan angka stunting dan meningkatkan kesehatan ibu hamil. Berdasarkan hasil wawancara, ibu hamil melaporkan peningkatan pengetahuan tentang gizi, suplemen (Laduni/TTD), senam hamil, dan praktik kesehatan lainnya. Program mendorong partisipasi aktif ibu hamil dalam mencari informasi kesehatan tambahan. Data menunjukkan penurunan signifikan angka stunting dari 2022 hingga Program kelas ibu hamil efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku ibu hamil serta berdampak positif pada penurunan stunting. Efisiensi (Efficienc. Efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumber daya untuk mencapai hasil struktur pelaksana terdiri dari bidan koordinator Puskesmas dan bidan desa, melayani 6 desa dengan kelas berisi A10 ibu hamil. Program dilaksanakan 8 kali setahun dengan 4 materi per periode selama 4 bulan. Kendalanya adalah ketidakpastian jadwal akibat dana BOK dan kebutuhan persetujuan bersama ibu hamil, serta keterbatasan konsumsi untuk menarik partisipasi. Program ini cukup efisien dengan struktur yang jelas, meski ada kendala anggaran dan koordinasi waktu. Kecukupan (Adequac. Kecukupan menilai apakah program memadai untuk mengatasi masalah, yaitu program telah berjalan sejak 2016, menunjukkan keberlanjutan dan Pemantauan dilakukan oleh bidan wilayah dan keluarga untuk memastikan kepatuhan konsumsi suplemen dan gizi. Frekuensi pertemuan cukup untuk memberikan pengetahuan dasar dan pemantauan kesehatan ibu hamil. Program cukup memadai, meskipun ada kendala terkait kehadiran peserta sesuai trimester yang ditargetkan. Pemerataan (Equit. Pemerataan menilai distribusi manfaat dan akses program, yaitu program diikuti oleh seluruh ibu hamil tanpa diskriminasi, termasuk kelompok rentan. Layanan merata di 6 desa dan disosialisasikan melalui kantor kecamatan dan grup WhatsApp. Observasi menunjukkan perlakuan yang sama dan layanan yang responsif terhadap seluruh peserta. Program dijalankan secara merata dan inklusif. Responsivitas (Responsivenes. Responsivitas berkaitan dengan sejauh mana program memenuhi kebutuhan peserta, para ibu hamil merasa materi jelas, bermanfaat, mudah dipahami, dan dapat diterapkan sehari-hari. Program menyesuaikan dengan kebutuhan peserta, meski ada ketidaksesuaian materi sesuai trimester peserta. Petugas kesehatan antusias memberikan informasi dan dukungan secara Program responsif terhadap kebutuhan ibu hamil dan komunitas terkait penurunan stunting. Ketepatan (Appropriatenes. Ketepatan menilai relevansi tujuan program dengan kebutuhan nyata, yaitu program lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, yakni tingginya angka kematian ibu pada 2015 dan kasus stunting. Sasaran utama adalah ibu hamil, dengan keluarga . uami/orang tu. sebagai sasaran tambahan. Program memberikan manfaat nyata berupa peningkatan pengetahuan, ketenangan psikologis, dan penurunan angka kematian serta stunting. Program tepat sasaran dan tepat guna, memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan ibu dan pencegahan stunting. Secara umum, kebijakan adalah serangkaian keputusan pemerintah yang dirancang untuk memecahkan masalah publik melalui program yang terencana, terarah, dan dapat diimplementasikan oleh berbagai pemangku Dalam konteks penurunan stunting, kebijakan nasional mencakup Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (Stranas Stuntin. , dan pedoman Kementerian Kesehatan terkait intervensi gizi spesifik dan sensitif pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kebijakan ini menjadi dasar pelaksanaan berbagai program, termasuk kelas ibu hamil. Implementasi kebijakan adalah penerjemahan kebijakan menjadi tindakan nyata melalui program, aktivitas layanan, dan koordinasi lintas sektor. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh komunikasi kebijakan, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi (Edward . Di level daerah, pemerintah kabupaten/kota dapat menyesuaikan kebijakan pusat Publika. Volume 14 Nomor 1. Tahun 2026, 107-114 melalui inovasi lokal, seperti yang diterapkan di Kabupaten Situbondo dengan kelas ibu hamil. Evaluasi kebijakan digunakan untuk menilai efektivitas, hambatan, dan kesesuaian program. Model evaluasi Dunn dan CIPP (Context. Input. Process. Produc. digunakan untuk menilai kesesuaian konteks, kecukupan input, kualitas proses, dan capaian output. Dalam penelitian ini, evaluasi difokuskan pada pelaksanaan kelas ibu hamil di Puskesmas Besuki. Efektivitas (Effectivenes. Efektivitas diukur dari pencapaian tujuan program, seperti peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik ibu hamil terkait kesehatan kehamilan serta kepatuhan terhadap intervensi seperti konsumsi suplemen dan pemantauan kesehatan (Tazkiah et al. , 2. Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar peserta meningkat pengetahuan dan kesadaran kesehatan, seperti ibu Ella dari Desa Demung yang aktif memeriksakan kehamilan dan mencari informasi Kendala masih ada, misalnya ibu Yulita dan ibu Maisaroh menghadapi keterbatasan dalam konsumsi makanan bergizi atau suplemen. Secara keseluruhan, program terbukti memberikan dampak positif, meningkatkan kesadaran ibu hamil, dan membantu mencegah stunting (ADHISTY, 2025. Duwi Saputra & Dhiah Anggraeni, 2. Efisiensi (Efficienc. Efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumber daya secara optimal untuk mencapai tujuan program (Ridwan et al. , 2024. Dwi Fara et al. , 2. Program di Puskesmas Besuki menggunakan struktur pelaksana yang jelas, setiap kelas terdiri dari 10 peserta yang didampingi 1 bidan desa dan 1 bidan koordinator. Jadwal terstruktur . pertemuan per tahu. memungkinkan pelaksanaan lebih fokus dan efisien. Tantangan efisiensi muncul karena pendanaan Dana BOK yang tidak tepat waktu, serta perlunya penyesuaian jadwal peserta. Kesimpulannya, efisiensi tercapai pada struktur dan penggunaan sumber daya manusia, namun tetap perlu dukungan dana dan perencanaan yang konsisten. Kecukupan (Adequac. Kecukupan menilai sejauh mana program dapat mengatasi masalah stunting, meliputi frekuensi, konsistensi, dan keberlanjutan program (Cloudia et al. Program di Puskesmas Besuki sejak 2016 diadakan 8 kali setahun, mencakup seluruh ibu hamil di enam desa. Kendalanya adalah ketidaksesuaian jumlah peserta dengan jadwal dan pemilahan berdasarkan trimester. Upaya pemantauan rutin dilakukan oleh bidan dan kader kesehatan, termasuk konsumsi suplemen dan gizi. Hasil menunjukkan program cukup memadai dan berkelanjutan, meskipun masih memerlukan strategi tambahan untuk meningkatkan penerimaan materi oleh peserta (Huraerah, 2022. Sukmawati, 2. Pemerataan (Equit. Pemerataan menekankan distribusi layanan yang setara tanpa diskriminasi (Rilyani et al. , 2. Program berhasil diterapkan di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas Besuki tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi peserta. Sosialisasi dilakukan melalui pertemuan dan grup WhatsApp untuk memastikan partisipasi semua ibu hamil. Program ini sejalan dengan penelitian Rita Riyanti Kusumadewi et , yang menekankan penyesuaian metode pendidikan sesuai budaya lokal untuk memastikan penerimaan Responsivitas (Responsivenes. Responsivitas diukur dari sejauh mana program memenuhi kebutuhan peserta (Ismawat et al. , 2. Ibu hamil menilai kelas ibu hamil bermanfaat dan mudah dipahami, meningkatkan kepatuhan terhadap pemeriksaan rutin, konsumsi makanan bergizi, dan Tantangannya ketidaksesuaian materi dengan trimester peserta, namun program tetap efektif dan diterima dengan baik. Program juga berfungsi sebagai media komunikasi antara tenaga kesehatan dan ibu hamil, sesuai penelitian Farah Aulia Aisyah et Ketepatan (Appropriatenes. Ketepatan menilai apakah intervensi sesuai dengan kebutuhan nyata (Ismawat et al. , 2. Program dirancang untuk menurunkan angka kematian ibu dan stunting, melibatkan ibu hamil dan keluarga, khususnya suami, untuk dukungan holistik. Manfaat yang dirasakan ibu hamil mencakup peningkatan pengetahuan, kepatuhan terhadap gizi dan suplemen, serta kesiapan menghadapi persalinan. Beberapa kendala masih ada pada penerapan praktik, tetapi secara keseluruhan intervensi tepat sasaran dan efektif, sejalan dengan penelitian Rita Riyanti Kusumadewi et PENUTUP Simpulan Program Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Besuki telah berjalan sejak 2017 sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai kesehatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, serta pencegahan stunting. Evaluasi berdasarkan teori Dunn . menunjukkan bahwa program ini cukup efektif dalam meningkatkan kepedulian dan praktik kesehatan ibu hamil, meskipun terdapat beberapa kendala praktis, seperti keterbatasan Evaluasi Program Kelas Ibu Hamil. Kasus Pada Puskesmas Pamanuka. Repositori Universitas Subang. Arikunto. Metodologi Penelitian. 57Ae74. Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Ashar. Rahfiludin. Nugraheni. Tjandrarini. Murwani. Supadmi. Yunitawati. Kusumawardani. Musoddaq. , & Latifah. A qualitative study in Magelang Central Java Indonesia: MothersAo knowledge, parenting styles and national priority programs managing of stunting in toddlers. Social Sciences and Humanities Open, 12(Apri. , 101874. https://doi. org/10. 1016/j. Basir. Mahsyar. , & Parawangi. Evaluasi Kebijakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Pada Desa BatumaAoLonro Kecamatan Biringbulu Di Kabupaten Gowa. JPPM: Journal of Public Policy and Management, 1. , 72Ae79. Chakrabarti. Pan. , & Singh. Maternal and Child Health Benefits of the Mamata Conditional Cash Transfer Program in Odisha. India. Journal of Nutrition, 151. , 2271Ae2281. https://doi. org/10. 1093/jn/nxab129 Cloudia. Purwaningsih. , & Rofida. Pendidikan Kesehatan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Pada Ibu Hamil Di Klinik Suhesti Mabar. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 3. , 1245Ae1256. https://doi. org/10. 55681/sentri. Creswell. , & Creswell. Research Design Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches Fifth Edition. In Writing Center Talk over Time. https://doi. org/10. 4324/9780429469237-3 Duwi Saputra. , & Dhiah Anggraeni. Peningkatan Kesadaran Gizi Ibu Hamil Melalui Platform Edukasi Gimbal (Gizi Seimbang Ibu Hami. British Medical Journal, 2. , 1333Ae1336. Dwi Fara. Anggriani. Trisyani. , & Crisna. Gizi Seimbang Pada Ibu Hamil. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Ungu( ABDI KE UNGU), 4. , 170Ae174. https://doi. org/10. 30604/abdi. Firnanda. , & Prabawati. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KARTU IDENTITAS ANAK DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN SIDOARJO. Hidayah. , & Rahaju. PUSKESMAS DUPAK KECAMATAN KREMBANGAN KOTA SURABAYA Ulfa Rahma Hidayah Tjitjik Rahaju. Publika, 10. , 1317Ae1330. Husaini. PERANAN MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI Oleh. Jurnal Warta Edisi : 51, 3. , http://doi. org/10. 1080/16070658. Aw. ghhttps://doi. org/10. 80/20469047. 1409453http://dx. org/10. 1016/j. e00298http://w. org/wp-content/uploads/2018/03/GhanaDevelopment-of-Food-based anggaran dan ketidaksesuaian jadwal yang memengaruhi efisiensi dan kecukupan pelaksanaan. Program ini berhasil menerapkan prinsip pemerataan dengan menyediakan layanan yang setara bagi semua ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Besuki dan responsif terhadap kebutuhan peserta, ditunjukkan melalui materi yang jelas, diskusi interaktif, serta pemanfaatan media komunikasi seperti WhatsApp untuk meningkatkan partisipasi. Selain itu, program menunjukkan ketepatan dalam mencapai tujuan, yakni menurunkan angka kematian ibu dan stunting dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi lokal dan melibatkan dukungan keluarga. Efektivitas program terlihat dari peningkatan kesadaran peserta terhadap gizi, konsumsi suplemen, serta pemeriksaan rutin selama kehamilan. Meskipun terdapat beberapa tantangan dalam implementasi dan penerapan informasi, intervensi ini tetap memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan ibu dan bayi. Keberlanjutan, evaluasi berkala, serta penyesuaian berbasis umpan balik diperlukan untuk memastikan manfaat optimal dan pencapaian tujuan program jangka Saran Berdasarkan hasil evaluasi program kelas ibu hamil di Puskesmas Besuki, peneliti menyarankan agar efisiensi dan kecukupan program dapat dioptimalkan dengan melakukan evaluasi berkala terhadap penggunaan anggaran serta pelaksanaan program, termasuk penyusunan laporan transparan yang mudah dipahami untuk meningkatkan akuntabilitas dan dukungan. Selain itu, manajemen jadwal perlu diperbaiki dengan memastikan jumlah peserta yang optimal dan menyesuaikan materi sesuai trimester kehamilan, serta mempertimbangkan penjadwalan fleksibel atau sesi tambahan untuk meningkatkan keterlibatan peserta dan efektivitas program. DAFTAR PUSTAKA