Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROKOMPLEK Online https://journal. id/index. php/jima |E-ISSN 2830-3. Vol. No. 2, pp: 257 - 265 Juli 2023 DOI: https://doi. org/10. 29303/jima. Pengaruh Jenis Pupuk Tambahan Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Dua Varietas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L. ) Yang Ditanam Di Luar Musim The Effect Of Additional Fertilizer Types On The Growth And Yield Of Two Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L. ) Varieties Grown Off-Season Linda Yustiana1. I Komang Damar Jaya2*. Uyek Malik Yakop2 (Mahasiswa S1. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. (Dosen Pembimbing. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. *corresponding author, email: ikdjaya@unram. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk tambahan dan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L. ) yang ditanam di luar musim. Satu penelitian lapang dilakukan di lahan kering Dusun Amor-Amor. Desa Gumantar. Kecamatan Kayangan. Kabupaten Lombok Utara dari bulan Oktober 2021 hingga Maret 2022. Perlakuan yang diuji adalah tanpa pupuk tambahan, tambahan pupuk organik (Go Tam. dan tambahan pupuk anorganik . upuk mono kalium phospat = MKP). Sementara itu, varietas yang diuji adalah varietas Dewata 43 F1 dan varietas Sret. Rancangan acak kelompok petak terbagi dengan tiga ulangan digunakan untuk menata perlakuan. Petak utama adalah jenis pupuk tambahan dan varietas ditempatkan di anak petak. Hasil penelitian menunjukkan ada interaksi antara pupuk tambahan dengan varietas pada parameter berat buah per tanaman. Berat buah per tanaman paling tinggi dihasilkan pada varietas Dewata 43 F1 dengan perlakuan pupuk tambahan MKP. Varietas Dewata 43 lebih pendek dari varietas Sret namun memberikan hasil yang lebih tinggi. Pupuk tambahan organik berpengaruh lebih baik dari perlakuan tanpa pupuk tambahan dan MKP pada variabel pertumbuhan namun pada variabel hasil, pupuk MKP lebih baik. Kata kunci: gugur-bunga. musim-hujan. lahan-kering. pupuk-anorganik. pupuk-organik ABSTRACT This study aimed to determine the effect of additional fertilizer types and varieties on the growth and yield of cayenne pepper (Capsicum frutescens L. ) grown off-season. One field study was conducted on the dry land of Amor-Amor Hamlet. Gumantar Village. Kayangan District. North Lombok Regency from October 2021 to March 2022. The treatments tested were no additional fertilizer, additional organic fertilizer (Go Tam. and additional inorganic fertilizer . ono potassium phosphate = MKP). Meanwhile, the varieties tested were Dewata 43 F1 variety and the Sret variety. A split-plot randomized block design with three replications was used to arrange the treatments. The main plot was the type of additional fertilizer and the variety was placed in subplots. The results showed that there was an interaction between additional fertilizers and varieties on the parameter of fruit weight per plant. The highest fruit weight per plant was produced in the Dewata 43 F1 variety with the addition of MKP fertilizer. Additional fertilizer had a better effect than treatment without additional fertilizer and MKP on the growth variable but on the yield variable. MKP fertilizer was better. The Dewata 43 variety was shorter than the Sret variety but gave higher yields. Keywords: flower-abortion. rainy-season. dry-land. inorganic-fertilizer. organic fertilizer Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop PENDAHULUAN Saat musim panen, produksi cabai rawit umumnya melimpah sehingga harga cabai berada pada titik Puncak musim hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) terjadi pada bulan Desember. Januari dan Februari, yang berdampak pada rendahnya produksi cabai rawit pada bulan-bulan tersebut. Dampaknya adalah harga cabai yang cenderung tinggi sebagai akibat banyaknya petani yang mengalami gagal panen. Tidak stabilnya produksi cabai rawit sebagai dampak dari musim hujan menyebabkan fluktuasi harga yang tinggi. Menurut Kementrian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI, 2. , harga cabai rawit pada tahun 2017 mencapai Rp. 000,-/kg, selanjutnya mengalami penurunan di tahun 2018 hingga 2020 dari Rp. 000,-/kg menjadi Rp. 000,-/kg kemudian meningkat kembali di bulan Februari 2021 menjadi Rp. 229,-/kg. Konsumsi cabai di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Pada musim penghujan konsumsi cabai relatif sama seperti pada musim kemarau, meskipun produksi cabai menurun. Oleh sebab itu, produksi cabai di musim hujan atau sering disebut produksi di luar musim . ff-seaso. perlu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pasar. Kendala utama yang dialami pada budidaya cabai di luar musim adalah curah hujan yang tinggi. Kabupaten Lombok Utara (KLU), sebagian besar wilayahnya adalah lahan kering dengan tanah yang bertekstur pasiran sehingga potensi genangan air di musim penghujan rendah (Jaya, 2. Umumnya, tingkat kesuburan tanah di lahan kering KLU adalah rendah sebagai akibat dari pencucian unsur hara yang terjadi pada musim hujan. Tanaman cabai rawit tidak terlalu menyukai musim hujan karena dapat menyebabkan gugurnya bunga dan buah dan patahnya percabangan tanaman, sehingga resiko kegagalan panen cukup besar (Amaliah et al. , 2. Kendala yang terjadi dalam budidaya cabai rawit di luar musim kemungkinan dapat diatasi dengan pemilihan varietas yang tepat dan penggunaan jenis pupuk tambahan yang memadai. Pemilihan varietas bertujuan untuk mengatasi gagal panen di luar musim dan meningkatkan pendapatan usaha tani dengan memperhatikan kondisi wilayah dan keinginan pasar. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cabai Dewata 43 F1 cukup adaptif dan memiliki produktivitas yang lebih baik di lahan kering. Sementara itu, varietas Sret yang merupakan varietas lokal . ersari beba. memiliki rasa pedas dan harga jual yang tinggi di pasar Pulau Lombok (Jaya et al. , 2. Faktor lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai adalah ketersediaan pupuk. Pemupukan adalah usaha penambahan unsur hara, baik makro maupun mikro untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman (Hadisuwito, 2. Pada saat musim hujan, curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan pencucian unsur hara, kerontokan bunga dan patahnya percabangan tanaman, menyebabkan meningkatnya kebutuhan pupuk bagi tanaman sehingga perlu dilakukan pemupukan untuk mengurangi dampak negatif dari penanaman cabai rawit di luar musim. Pengaplikasian pupuk dapat dilakukan melalui tanah, karena kemungkinan tanah masih kekurangan unsur hara, yang salah satunya terjadi akibat pencucian unsur hara. Selain itu, manfaat pengaplikasian pupuk melalui tanah adalah untuk dapat memperbaiki Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah. Untuk mengatasi permasalahan lahan yang kurang subur bisa melalui pendekatan penambahan pupuk organik maupun pupuk anorganik. Pupuk organik berasal dari kotoran ternak dan tumbuhan, berbentuk padatan yang telah melewati proses dekomposisi mikroorganisme, yang dapat memperbaiki aerasi tanah, menambah ketersediaan unsur hara dengan senyawa C organik dan N yang tinggi (Samekto, 2. Penggunaan pupuk anorganik memiliki kadar zat hara tinggi yang mudah diserap tanaman dan cepat terurai sehingga kebutuhan pupuk mudah terpenuhi. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian yang berjudul AuPengaruh Jenis Pupuk Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L. ) yang Ditanam di Luar MusimAy. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2021 hingga Maret 2022 di lahan kering yang bertempat di Dusun Amor-Amor. Desa Gumantar. Kecamatan Kayangan. Kabupaten Lombok Utara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan percobaan di lapang. Alat dan Bahan Percobaan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu bambu, cangkul gerobak dorong, meteran, tali rafia, mulsa plastic hitam perak, penggaris, timbangan analitik, jangka sorong, hand counter, papan perlakuan dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah pupuk organik Go Tama, pupuk anorganik mono kalium phospat (MKP), pupuk NPK 15:15:15 . , benih cabai rawit hibrida varietas Dewata 43 dan benih cabai rawit bersari bebas varietas Sret. Rancangan dan Pelaksanaan Percobaan Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Petak Terbagi dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah jenis pupuk tambahan, terdiri dari tiga aras . 0= tanpa pupuk tambahan. p1= pupuk tambahan organik Go Tama. p2= pupuk tambahan anorganik MKP) yang ditempatkan sebagai petak utama. Faktor kedua adalah varietas, yang terdiri dari dua aras . 1= varietas Dewata 43 dan v2= Varietas Sre. sebagai anak Didapatkan enam kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 18 petak perlakuan. Penentuan tanaman sample menggunakan metode purposive random sampling zig-zag, yaitu tanaman pertama secara purposive dan tanaman kedua, ketiga kesamping melewati satu tanaman. Pelaksanaan percobaan meliputi survey lokasi percobaan, persiapan areal pertanaman, pemupukan dasar, pemasangan mulsa, persemaian, penanaman, pemupukan susulan, perlakuan pupuk MKP, perawatan tanaman dan Persiapan areal pertanaman diawali dengan pembuatan bedengan dengan ukuran masing-masing petak 500 x 100 cm. Selanjutnya diberikan pupuk dasar berupa pupuk NPK . :15:. Phonska, dengan dosis pupuk dasar 900 kg/ha sehingga setiap petak membutuhkan dosis 0,45 kg per petak, dengan cara dibenamkan di tengah bedengan, diratakan bersamaan dengan pengaplikasian perlakuan pupuk tambahan organik Go Tama. Kebutuhan pupuk tambahan organik Go Tama untuk enam petak perlakuan seluas 30 m2 dengan dosis 10 ton/ha atau setara dengan dosis 5 kg per petak. Perlakuan pupuk tambahan organik Go Tama dilakukan sekali dengan cara ditabur di atas bedengan dan dibenamkan. Kemudian bedengan ditutup dengan pemasangan mulsa plastik hitam perak. Setiap petak dibuatkan lubang tanam dengan jarak 50 x 60 cm sehingga terdapat 20 lubang tanam pada setiap petaknya. Penanaman bibit dilakukan setelah melalui proses penyemaian benih selama 36 hari setelah semai (HSS). Perawatan tanaman dilakukan dengan penyulaman, pemasangan ajir, penyiangan, pengairan, pengendalian hama penyakit dan pemberian pupuk susulan. Pupuk susulan diberikan untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Pupuk susulan yang digunakan adalah NPK . -15-. Phonska dengan dosis 300 kg/ha yang diaplikasikan sebanyak dua kali, masing-masing 150 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara melarutkan 18,75 g pupuk ke dalam 1 liter air kemudian dikocor pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman Pengaplikasian pupuk susulan dilakukan pada umur 35 HST dan 56 HST. Pengaplikasian perlakuan pupuk tambahan anorganik MKP diberikan saat tanaman ada pada fase generatif, yaitu saat varietas Dewata 43 F1 berumur 30 hari setelah tanam (HST) dan varietas Sret berumur 42 HST. Perlakuan pupuk tambahan anorganik MKP dilakukan dengan interval tujuh hari sekali hingga seminggu sebelum panen kelima. Kebutuhan dosis pupuk anorganik MKP sebanyak 3 g/petak dengan konsentrasi 3 g/l dan volume aplikasi 50 ml per tanaman yang diaplikasikan melalui tanah dengan cara dikocor. Variabel dan Analisis Data Pengamatan terdiri dari variabel pertumbuhan, hasil dan komponen hasil. Variabel pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang, sedangkan variabel hasil dan komponen hasil meliputi jumlah cabang produktif, jumlah bunga per tanaman, jumlah buah cabai per tanaman, persentase kerontokan bunga, berat buah per tanaman, berat buah per petak. Selain itu, terdapat variabel comparative . ondisi lingkunga. meliputi suhu dan kelembaban, curah hujan dan tanah. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh interaksi antara faktor, maka diuji lanjut dengan uji DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% dan jika masing-masing faktor tidak berinteraksi, maka diuji lanjut dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5% menggunakan program CoStat for Windows ver. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan Percobaan Pengamatan kondisi lingkungan percobaan dilakukan di Dusun Amor-Amor. Desa Gumantar. Kecamatan Kayangan. Kabupaten Lombok Utara dari bulan Oktober 2021 hingga bulan Maret 2022, meliputi suhu, kelembaban, curah hujan dan tanah. Suhu dan kelembaban merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman cabai rawit di luar Suhu dan kelembaban yang optimum akan memicu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang Suhu dan kelembaban pada penelitian ini tercatat 24,5oC suhu udara minimum dan maksimum 33,4oC dengan suhu rata-rata mencapai 29,0oC. Menurut Rukmana . tanaman cabai dapat tumbuh pada suhu 24oC32oC dengan suhu optimal berkisar antara 21oC-27oC. Sedangkan kelembaban udara tercatat pada penelitian ini yaitu minimum 57,0% dan kelembaban maksimum 87,8% dengan rata-rata kelembaban udara 72,4%. Menurut Suryaningrat . kelembaban udara untuk tanaman cabai berkisar antara 60%-80% dan Mane . menyatakan bahwa kelembaban udara 70% mampu mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman cabai sehingga produktivitasnya relatif baik. Sehingga dapat diartikan bahwa kondisi lingkungan dari segi suhu dan kelembaban di lokasi percobaan dalam keadaan cukup mendukung untuk melakukan budidaya tanaman cabai rawit. Budidaya tanaman cabai rawit di luar musim hal yang perlu diperhatikan adalah curah hujan. Tanaman cabai rawit tidak begitu tahan terhadap banyak hujan terutama pada fase generatif. Musim hujan dapat diketahui dengan menghitung jumlah curah hujan >50 mm dengan tiga dasarian, dimana setiap dasarian memiliki 3 hari hujan atau perbulannya >150 mm (Giarno, 2. Curah Hujan . 01-Oct 04-Nov 09-Nov 12-Nov 14-Nov 15-Nov 17-Nov 20-Nov 24-Nov 27-Nov 28-Nov 29-Nov 01-Dec 02-Dec 05-Dec 06-Dec 11-Dec 13-Dec 14-Dec 15-Dec 19-Dec 20-Dec 27-Dec 28-Dec 30-Dec 01-Jan 02-Jan 09-Jan 10-Jan 11-Jan 12-Jan 14-Jan 15-Jan 16-Jan 17-Jan 18-Jan 19-Jan 22-Jan 25-Jan 26-Jan 29-Jan 01-Feb 03-Feb 04-Feb 05-Feb 06-Feb 07-Feb 09-Feb 10-Feb 12-Feb 13-Feb 15-Feb 18-Feb 19-Feb 20-Feb 25-Feb 26-Feb 27-Feb 28-Feb 01-Mar 02-Mar 03-Mar 04-Mar 05-Mar 06-Mar 08-Mar 10-Mar 12-Mar 14-Mar 16-Mar 17-Mar 18-Mar 19-Mar 20-Mar 21-Mar 22-Mar 23-Mar 24-Mar 25-Mar 26-Mar 28-Mar 29-Mar Gambar 1. Grafik Curah Hujan pada bulan Oktober 2021 hingga bulan Maret 2022 di Dusun Amor-Amor. Desa Gumantar. Kecamatan Kayangan. Kabupaten Lombok Utara Data pada Gambar 1 menunjukkan bahwa selama percobaan berlangsung curah hujan di lokasi percobaan pada tanggal 12 Desember 2021-2 Januari 2022 tanaman cabai rawit varietas Dewata 43 F1 mengalami fase vegetatif dengan total curah hujan 119 mm dalam 10 hari hujan dan mengalami fase generatif pada tanggal 3 Januari-21 Maret 2021 dengan total curah hujan 891 mm dalam 48 hari hujan. Sedangkan pada tanaman cabai rawit varietas Sret mengalami fase vegetatif dimulai pada tanggal 12 Desember 2021-30 Januari 2022 dengan total curah hujan 488 mm dalam 24 hari hujan dan mengalami fase generatif dimulai pada tanggal 31 Januari-21 Maret 2022 dengan total curah hujan 522 mm dalam 34 hari hujan. Sementara itu, total curah hujan selama percobaan berlangsung di lokasi mencapai 1. 249 mm per periode tanam. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahman . pada Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop penelitiannya bahwa tanaman cabai membutuhkan air sebanyak 1000-3000 mm per periode tanam. Namun kebutuhan air per bulan untuk awal pertumbuhan hingga akhir idealnya berkisar antara 125-208 mm per bulan (Simanjuntak et al. , 2. Tanah merupakan hasil dari proses pelapukan batuan dan sisa bahan organik. Tanah berperan penting sebagai media untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga sangat penting mengetahui sifat tanah. Tanah di lokasi percobaan ini masuk dalam kelas tekstur pasir berlempung yang terdiri atas tiga fraksi masing-masing yaitu fraksi liat 6,07%, debu 15,27% dan pasir 78,67%. Kelas tekstur tanah ini cukup mendukung dilakukannya budidaya tanaman cabai rawit di luar musim . ff seaso. , karena potensi air menggenang sangat kecil yang tidak dapat menimbulkan busuk pada tanaman cabai. Hal ini juga diungkapkan oleh Heryani et al. , . bahwa tanah pasir berlempung . andy loa. memiliki aerasi cukup baik, ruang pori dan daya porositas yang cukup besar, sehingga kemampuan menyimpan airnya rendah. Tabel 1. Sifat Kimia Tanah di Lokasi Percobaan Dusun Amor-Amor. Desa Gumantar. Kecamatan Kayangan. Kabupaten Lombok Utara Parameter Sifat Kimia Tanah C-Organik Walkey&Black N-Total pH (H2O) 1:5 P-Tersedia K-Tertukar Satuan Metode Nilai Harkat Spektro Kjeldalh Elektroda Spektro Amonium Asetat 0,70 0,07 6,80 42,67 0,37 Sangat Rendah Sangat Rendah Netral Sedang Sedang Sumber: Uji Laboratorium Ilmu Tanah Universitas Mataram . Data pada Tabel 1 menunjukkan hasil analisis sifat kimia tanah di lokasi percobaan kurang subur untuk melakukan budidaya cabai rawit di luar musim. Parameter sifat kimia tanah yang meliputi C-organik. N total, pH. P-tersedia dan K-tertukar. Kandungan C- Organik dan N-Total dalam kondisi harkat sangat rendah. Kondisi ini menunjukkan rendahnya bahan organik dan minimnya mikroorganisme tanah. Menurut Siregar . , kandungan C-organik penentu kualitas mineral tanah berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan aktivitas biologi tanah juga dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman. Kandungan pH tanah di lokasi percobaan tergolong netral dengan kandungan P-tersedia dan K-tertukar dalam harkat sedang. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan penambahan bahan organik yang mengandung unsur hara dengan mengaplikasikan pupuk dasar yaitu NPK . :15:. Phonska. Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Analysis of Variance (ANOVA) Semua Parameter Pengamatan Tanaman Cabai Rawit Pada Jenis Pupuk Tambahan Dan Varietas Parameter Pengamatan Tinggi Tanaman . 28 HST Tinggi Tanaman . 70 HST Jumlah Daun . 28 HST Jumlah Daun . 70 HST Diameter Batang . Jumlah Cabang Produktif Jumlah Bunga per Tanaman Jumlah Buah Cabai per Tanaman Persentase Kerontokan Bunga (%) Berat Buah Cabai per Tanaman . Berat Buah Cabai Per Petak . Sumber Keragaman P*V Keterangan: P= pupuk. V= varietas. P*V= interaksi pupuk dan varietas. S= signifikan. NS= non signifikan. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa faktor pupuk berpengaruh signifikan terhadap semua parameter pengamatan kecuali tinggi tanaman 28 HST, jumlah daun 28 HST dan diameter batang. Faktor varietas berpengaruh signifikan terhadap seluruh parameter pengamatan. Interaksi antara faktor pupuk dan varietas berpengaruh signifikan terhadap berat buah per tanaman. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop Pengaruh Jenis Pupuk Tambahan dan Varietas Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit Tabel 3. Pengaruh Jenis Pupuk Tambahan dan Varietas Terhadap Tinggi Tanaman (TT) 28 Dan 70 HST. Jumlah Daun (JD) 28 Dan 70 HST serta Diameter Batang (DB) Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L. Perlakuan BNJ 5% BNJ 5% TT . 28 HST 27,3 a 3,15 TT . 70 HST 81,4 a 94,7 b 85,8 a 6,86 79,1 a 95,4 b 5,94 Parameter JD . 28 HST 120,7 b 42,2 a 10,93 JD . 70 HST 596,3 a 771,4 b 711,0 b 88,57 802,0 b 583,8 a 87,27 DB . 14,8 a 20,4 b 1,04 Keterangan: p0= tanpa pupuk tambahan, p1= dengan pupuk tambahan organik (Go Tam. , p2= dengan pupuk tambahan anorganik mono kalium phospat (MKP), v1= varietas Dewata 43 F1dan v2= varietas Sret. Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji BNJ taraf 5%. Data pada Tabel 3 menunjukkan faktor tunggal jenis pupuk tambahan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 28 HST, jumlah daun 28 HST dan diameter batang namun berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 70 HST dan jumlah daun 70 HST. Faktor perlakuan jenis pupuk tambahan pada tinggi tanaman 70 HST menunjukkan bahwa perlakuan p1 berbeda nyata terhadap perlakuan p2 dan perlakuan p0. Pertumbuhan tinggi tanaman paling tinggi diperoleh oleh p1. Parameter jumlah daun 70 HST menunjukkan bahwa p1 dan p2 berbeda tidak nyata namun berbeda nyata pada p0. Jumlah daun terbanyak diperoleh oleh p1 dan p2 kemudian jumlah daun terendah diperoleh oleh p0. Hal ini diduga karena perlakuan p1 pupuk tambahan organik Go Tama yang diberikan memiliki unsur hara seperti N total dan C organik dengan total masing-masing 1,55% dan 28,52% yang tergolong Menurut Budiyanto et al. , . pupuk organik yang sifatnya slow release cenderung dapat menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman sehingga tercukupi kebutuhan hara selama masa pertumbuhan vegetatif dan didukung dengan unsur C organik yang dapat memperbaiki kualitas tanah. Faktor varietas berbeda nyata pada semua parameter pertumbuhan, penggunaan varietas v1 (Dewata 43 F. menunjukkan pengaruh yang lebih baik dari varietas v2 (Sre. Keragaman pertumbuhan pada varietas cabai dikarenakan genetik pada setiap varietas tanaman cabai berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Riza . menyatakan bahwa perbedaan pertumbuhan vegetatif antar varietas bukan hanya faktor genetik tapi juga disebabkan karena adanya perbedaan kecepatan pembelahan, perbanyakan dan pembesaran sel. Pengaruh Jenis Pupuk Tambahan dan Varietas Terhadap Hasil dan Komponen Hasil Tanaman Cabai Rawit Pemberian pupuk berperan penting untuk menunjang hasil produksi tanaman cabai rawit. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor perlakuan jenis pupuk tambahan dan varietas berpengaruh nyata terhadap semua parameter hasil dan komponen hasil. Berikut ulasan hasil pada parameter hasil dan komponen hasil. Tabel 4. Pengaruh Jenis Pupuk Tambahan dan Varietas Terhadap Jumlah Cabang Produktif (JCP). Jumlah Bunga per Tanaman (JB/T). Jumlah Buah Cabai per Tanaman (JBC/T). Persentase Kerontokan Bunga (%KB) dan Berat Buah Cabai per Petak (BBC/P) Perlakuan BNJ 5% BNJ 5% JCP 48,5 a 67,4 b 77,3 c 7,74 69,6 b 59,2 a 3,89 JB/T 204,5 a 233,1 b 241,7 b 12,95 252,1 b 200,8 a 8,70 Parameter JBC/T 172,6 a 206,8 b 229,0 c 15,24 229,9 b 175,7 a 7,02 %KB 15,9 c 11,4 b 5,5 a 2,65 9,1 a 12,8 b 1,84 BBC/P . 3,2 a 4,0 b 4,9 c 0,47 5,1 b 3,0 a 0,47 Keterangan: p0= tanpa pupuk tambahan, p1= dengan pupuk tambahan organik (Go Tam. , p2= dengan pupuk tambahan anorganik mono kalium phospat (MKP), v1= varietas Dewata 43 F1dan v2= varietas Sret. Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji BNJ taraf 5%. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa faktor jenis pupuk tambahan berbeda nyata terhadap semua parameter hasil dan komponen hasil. Hasil tanaman cabai rawit pada faktor perlakuan pupuk tambahan yang diberi perlakuan p2 . upuk tambahan anorganik mono kalium phospa. menunjukkan hasil dan komponen hasil yang cenderung lebih baik dibandingkan perlakuan p1 . upuk tambahan organik Go Tam. dan p0 . anpa pupuk Hal ini, diduga karena pupuk anorganik mono kalium phospat (MKP) mengandung unsur hara kalium (K) dan fosfor (P) yang cukup tinggi yaitu secara berurutan 34% dan 54%. Hasil penelitian Chairiyah . menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian unsur K dan P berpengaruh nyata pada jumlah bunga cabai rawit. Kekurangan kalium dan fosfor akan membuat tangkai bunga dan buah lemah sehingga mudah rontok. Faktor varietas berpengaruh nyata pada semua parameter hasil dan komponen hasil cabai rawit. Perbedaan hasil pada kedua varietas terjadi karena penggunaan jenis varietas yang berbeda. Dewata 43 adalah varietas hibrida sedangkan Sret adalah varietas bersari bebas. Rohmawati . mengatakan faktor genetik varietas hibrida mempunyai keunggulan dibandingkan non hibrida, yaitu lebih cepat memasuki fase generatif 42 HST sedangkan non hibrida 46 HST. Gambar 2. Pengaruh Interaksi Jenis Pupuk Tambahan dan Varietas Terhadap Berat Buah Cabai per Tanaman Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT pada taraf 5%. p0= tanpa perlakuan/ kontrol. p1= dengan pupuk tambahan organik (Go Tam. p2= dengan pupuk tambahan anorganik Mono Kalium Phospat (MKP). v1= varietas Dewata 43 F1. v2= varietas Sret. Gambar 2. menunjukkan adanya interaksi yang nyata antara jenis pupuk tambahan dan varietas cabai rawit terhadap berat buah cabai per tanaman. Terjadinya interaksi pada berat buah pertanaman dipengaruhi oleh pupuk tambahan dan varietas. Berdasarkan Gambar 2. varietas Dewata 43 F1 dapat menghasilkan hasil tertinggi ketika diberikan pupuk tambahan anorganik mono kalium phospat sebanyak 536,1 g/tanaman namun menghasilkan hasil yang lebih rendah ketika diberikan pupuk tambahan organik Go Tama dan tanpa pupuk tambahan/ kontrol yaitu hanya mencapai 346,9 dan 328,6 g/tanaman. Sedangkan varietas Sret menunjukkan hasil berat buah per tanaman lebih rendah dari varietas Dewata 43 F1 namun memiliki respon yang sama terhadap setiap perlakuan pupuk Varietas Dewata 43 F1 lebih responsif dari varietas Sret. Varietas Dewata 43 F1 yang diberikan perlakuan pupuk tambahan anorganik mono kalium phospat dapat mencapai hasil berat buah per tanaman yang sesuai dengan deskripsi varietasnya yaitu berkisar antara 492-540 g/tanaman. Hal ini diduga karena perlakuan pupuk tambahan anorganik mono kalium phospat pada varietas Dewata 43 F1 . adalah perlakuan yang paling tepat daripada perlakuan lainnya. Wijaya et al. , . menyatakan benih bermutu dari varietas hibrida dapat menghasilkan buah yang berproduksi tinggi dan lebih respon terhadap pemupukan. Oktaviani . juga menegaskan, umumnya varietas hibrida menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang baik jika dipupuk secara Hasil panen yang tinggi dari varietas unggul tidak dapat tercapai secara optimal apabila pupuk tambahan yang diberikan tidak tepat. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek. Vol. No. Juli 2023 Yustiana. Jaya. Yakop KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara pupuk tambahan dan varietas pada hasil tanaman . erat buah per tanama. Berat buah per tanaman tertinggi dihasilkan oleh varietas Dewata 43 F1 yang diberikan pupuk tambahan anorganik mono kalium phospat (MKP) dengan hasil mencapai 536,1 g/tanaman. Faktor varietas berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil. Varietas Dewata 43 F1 lebih pendek dari varietas Sret namun memberikan hasil yang lebih tinggi. Terdapat pengaruh faktor jenis pupuk tambahan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Perlakuan jenis pupuk tambahan organik menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik namun perlakuan jenis pupuk tambahan anorganik MKP menunjukkan hasil dan komponen hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA