Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 KARAKTERISTIK PENGETAHUAN PETUGAS KESEHATAN DIPUSKESMAS TERHADAP PENGELOLAAN OBAT SISA. OBAT RUSAK DAN KADALUWARSA DIRUMAH Eka Fitriani1. Ulik Alta2. Onny Indriani3 Program Studi S1 Farmasi Universitas Aisyiyah Palembang1,2,3 ekab4697@gmail. alta@yahoo. onnyindriani@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Limbah obat merupakan salah satu limbah bahan berbahaya dan beracun(B. yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan benar. Obat sisa, obat rusak dan kedaluwarsa di rumah dapat mencemari lingkungan serta berisiko terhadap kesehatan masyarakat apabila tidak dikelola dengan benar. Pentingnya petugas kesehatan dalam memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat dalam mengelola obat sisa, rusak dan kadaluarsa di rumah. Tujuan: Diketahuinya karakteristik pengetahuan petugas kesehatan pengelolaan obat sisa, obat rusak dan kadaluarsa di rumah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah petugas kesehatan di Puskesmas Tebing Bulang yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel yang digunakan sebanyak 35 responden. Instrumen berupa kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan responden telah dilakukan uji validitas dan reliabilitasnya. Hasil: Distribusi frekuensi jenis kelamin perempuan . %) dan laki-laki . %) distribusi frekuensi umur 26-45 . %) dan umur 46-65 . %) distribusi frekuensi pendidikan perawat . %) bidan . %) apoteker . %) dokter . %) distribusi frekuensi pengetahuan baik . %) dan tidak baik . %) distribusi frekuensi baik . %) dan tidak baik . %). Saran: Agar petugas kesehatan dapat meningkatkan edukasi pengetahuan dalam melakukan pengelolan limbah di rumah masyarakat. Kata Kunci: Pengetahuan. Pengelolaan Limbah Obat ABSTRACT Background: Drug waste is one of the hazardous and toxic waste materials (B. that can pollute the environment if not managed properly. Leftover drugs, damaged and expired drugs at home can pollute the environment and pose a risk to public health if not managed properly. The importance of health workers in providing good education to the community in managing leftover, damaged and expired drugs at home. Objective: To determine the characteristics of health workers' knowledge of managing leftover drugs, damaged and expired drugs at home. Method: This study is an observational analytical study with a cross-sectional design. The research sample was health workers at the Tebing Bulang Health Center who were selected using convenience sampling techniques according to the inclusion and exclusion criteria. The sample used was 35 respondents. The instrument in the form of a questionnaire to measure the level of respondent knowledge has been tested for validity and reliability. Results: Frequency distribution of female gender . %) and male . %) frequency distribution of age 26-45 . %) and age 46-65 . %) frequency distribution of education nurses . %) midwives . %) pharmacists . %) doctors . %) frequency distribution of good knowledge . %) and not good . %) frequency distribution of good . %) and not good . %). Suggestion: So that health workers can improve knowledge education in managing waste in people's homes. Keywords: Knowledge. Drug Waste Management. | 143 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 PENDAHULUAN orang yang tidak bertanggung jawab Obat adalah salah satu kebutuhan seperti narkotika, psikotropika dan bahan setiaporang pasti pernah merasakan jatuh berbahaya lainnya serta meningkatnya Misalnya kepala pusing, batukpilek, peredaran obatobatan palsu. Sedangkan atau perut mules. Untuk menyembuhkan permasalahan yang akan timbul pada pasien atau mengurangirasa sakit, maka biasanya sendiri yakni terjadinya penggunaan obat Umumnya yang salah . dan efek samping obat masyarakat kurang memahami bahwa obat dari ringan hingga menimbulkan kematian. Selain mempunyai efek samping yang merugikan ketidakefektifan terapi, resistensi obat. Bahaya dari obat sering timbul memperpanjang durasi sakit, serta akan pada penyalahgunaan obat, misalnya terlalu menyebabkan peningkatan biaya perawatan kesehatan karena pengelolaan obat yang obatterlampau banyak atau takaran yang tidak tepat. Pada penduduk Riyadh, banyak Obat sisa merupakan obat yang telah dari responden yang menyimpan antibiotik diresepkan atau obat swamedikasi yang di rumah, dan tidak menyadari akan tidak sepenuhnya digunakan yang terdapat konsekuensi jika tetap menyimpan obat di rumah tangga maupun di layanan yang kedaluwarsa di rumah. Sedangkan obat rusak adalah Beberapa pengaruh buruk dari obat obat yang disimpan di rumah dalam jangka yang perluh dipahami oleh masyarakat waktu yang panjang sehingga obat akan umum ialah pengaruh efek samping obat. keracunan obat, alergi obat. Pengaruh tidak sesuai. Obat negatif bila dua macam atau lebih dipakai kedaluwarsa merupakan obat yang telah secara bersama (Widjajanti, 2. Besarnya melewati batas waktu jaminan produsen efektifitas obat tergantung pada biosis dan terhadap kualitas produk yang ditentukan berdasarkan cara penyimpanan obat pada berbeda kepekaan dan kebutuhan biosis Tetapi secara umum dapat Nuryeti Y, at al . Permasalahan yang sering muncul Setiap dikelompokkan yaitu dosis bayi, anak-anak, dewasa dan orang tua (Djas, 2. akibat ketidaktepatan pengelolaan obat- Limbah obat merupakan salah satu obatan yakni dapat digunakan kembali oleh limbah bahan berbahaya dan beracun (B. | 144 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 yang dapat mencemari lingkungan apabila berbahaya dan beracun (B. meliputi tidak dikelola dengan benar (Kementerian limbah benda tajam, limbah infeksius. Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2. limbah patologis, limbah farmasi, limbah Konsentrasi tinggi yang terdeteksi telah sitotoksik, limbah bahan kimia dan limbah meningkatkan kekhawatiran tentang risiko radioaktif yang berpotensi menimbulkan lingkunganjangka panjang akibat paparan dan dampak nya pada aktivitas masyarakat sekitar (Koagouw et al. , 2. Berdasarkan World Profil Indonesia Health menyatakan jumlah Fasyankes (Rumah Organization . sebanyak 85% dari Sakit dan Puskesma. yang melakukan jumlah keseluruhan limbah yang dihasilkan pengelolaan limbah medis sesuai standar oleh layanan kesehatan di dunia adalah 431 dari total fasyankes sekitar limbah domestic. Namun, lebih dari 15% mencapai target Renstra sebanyak 2. menular dan mengandung bahan kimia atau dari jumlah Fasyenkes yang melakukan Produksi limbah medis negara di pengelolaan limbah medis sesuai standar di Asia Tenggara rata-rata sekitar 0,693 kg/ Namun tempat tidur. Sedangkan diIndonesia jumlah Pemerintah telah membuat regulasi total limbah medis sebesar 225 ton/ hari. mengenai pengelolaan obat publik di Menurut (Permenkes, 2. kesehatan instansi pemerintah. Pemusnahan obat yang lingkungan rumah sakit adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan negaradilakukansesuai dengan prosedur kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspekfisik, kimia. Namun, kondisi yang berbeda ditemukan biologi, maupun sosial di dalam lingkungan ketika obat tersebut sampai ke masyarakat. rumah sakit. Hasilnya berdasarkan data. Meskipun obat di rumah secara kuantitas fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyanke. memiliki jumlah tidak terlalu besar, karena tidak terkonsentrasi padasatu tempat saja, domestic atau disebut dengan limbah tidak obat yang tersimpan di rumah ini menjadi berbahaya yang berasal dari ruangan administrasi, dapur dan kerumah tanggaan. Sisanya sekitar 10-25% tergolong limbah lingkungan (Kemenkes RI,2. 75-90% (Kemenkes RI, | 145 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Studi perbedaan warna kantong plastik antara bak pembuangan obatdi rumah telah dilakukan sampah medis banyak peneliti di dunia. Kajian sistematik terdapat label pada bak sampah yang menunjukkan bahwa praktek penyimpanan bertuliskan sampah medis dan non medis dan pembuangan obat di rumah dilakukan namun tidak terdapat simbol atau lambang dengan alasan yang hampir sama antara lain limbah pada bak sampah tersebut. Limbah karena sisa obat dari terapi sebelumnya, medis tidak ada yang dimanfaatkan atau didaur ulang kembali. menggunakan obat, swamedikasi dan lain lain (Constantinoet al. ,2. dan nonmedis. Penelitian Nur . Tindakan membuang obat dengan tindakan petugas dalam pengelolaan limbah cara membuang ke tempat pembuangan medis padat Puskesmas di Kabupaten Siak yaitu faktor pengetahuan tidak baik sebesar 59,1%, faktor sikapnegatif sebesar 62,1% tersebut dapat mencemari lingkungan. (Luo dan faktor sarana dan prasarana 72. 7% dan et al. , 2. Penelitian terdahulu tentang tindakan tidak baik sebesar 66. pengelolaan obat dirumah telah dilakukan Berdasarkan penelitian sebelumnya pada masyarakat dan kelompok terdidik diketahui tingkat pengetahuan masyarakat Mahasiswa di Kelurahan Tanah Pati Kota Bengkulu terkait penyimpanan dan pembuangan obat (Magagula,2. pengetahuan kurang 8,29%, cukup 45,07% Berdasarkan penelitian sebelumnya 46,63% (Rikomah. Penelitian lain di desa Suka Bandung penelitian yang dilakukan (Amrulah 2. Bengkulu di Puskesmas yang ada di Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara penyimpanan dan pembuangan sebesar penanganan limbah medis pada tahap 54,65% dalam kategori kurang (Damayanti, pemilahan dan pengumpulan dilakukan pemilahan dengan menyiapkan dua bak Selatan Masyarakat sampah disetiap ruang pelayanan, yaitu bak menjadi sangat rentan penggunaan obat sampah medis dan bak sampah non medis. tidak rasional ataupun cara penyimpanan Kedua bak sampah dilapisi dengan kantong obat tidak benar. Hal tersebut karena tidak | 146 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 memberikan informasi obat yang benar konteks peneliti Pengumpulan sampel atau (Syahida, 2. METODE PENELITIAN Jenis kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat termasuk dalam kuantitatif yang bersifat survei analitik. Adapun rancangan yang Pengumpulan sampel atau data akan digunakan yaitu cross sectional artinya menggunakan dokumentasi kuesioner. ialah suatu penelitian untuk mempelajari Sampel penelitian adalah petugas suatu dinamika korelasi antara faktor- kesehatan di Puskesmas Tebing Bulang faktor risiko dengan efek, dan dengan suatu pendekatan, observasi atau pun dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel yang (Notoadmojo, 2. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling Instrumen yaitu metode penentuan sampel dengan mengukur tingkat pengetahuan responden mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Petugas Kesehatan No. Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Perempuan Laki-laki Total Berdasarkan tabel 1 dari 35 responden responden . %) daripada kategori laki- diketahui bahwa jumlah responden dengan kategori perempuan lebih banyak 28 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Umur pada Petugas Kesehatan No. Umur Frekuensi . Persentase (%) Dewasa Awal . -35 Tahu. Dewasa Akhir . -45 Tahu. | 147 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Lansia Awal . -55 Tahu. Lansia Akhir . -65 Tahu. Total Berdasarkan tabel 2 dari 35 responden sebanyak 26 responden . %), lebih diketahui bahwa jumlah responden dengan banyak dari kategori usia dewasa akhir, kategori umur responden dewasa awal lansia awaldan lansia akhir. No. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Profesi Petugas Kesehatan Profesi Frekuensi . Persentase (%) Perawat Bidan Apoteker Dokter Total Berdasarkan perawat sebanyak 20 responden . %), lebih banyak daripada kategori profesi responden dengan kategori profesi sebagai bidan, profesi apoteker dan profesi dokter. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Petugas Kesehatan Pengetahuan Frekuensi (F) Persentase (%) Baik Tidak baik Total Berdasarkan tabel 4 dari 35 responden responden . %) lebih banyak dari kategori diketahui bahwa jumlah responden dengan pengetahuan tidak baik. kategori pengetahuan baik sebanyak 33 PEMBAHASAN sebanyak 26 responden . %), lebih Umur Petugas Kesehatan banyak dari kategori usia dewasa akhir. Hasil yang didapatkan 35 responden lansia awaldan lansia akhir. diketahui bahwa jumlah responden dengan Menurut Lasut . usia adalah kategori umur responden dewasa awal usia individu yang terhitung mulai saat | 148 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 dari 35 responden diketahui bahwa jumlah ,tingkat responden dengan kategori Bekerja sebagai kematanagan dan kekuatan seseoarng akan perawat sebanyak 20 Responden . %), tahun,semakin daripada kategori profesi bidan, profesi apoteker dan profesi dokter. dilakukan bahwa umur seseorang dengan Profesi adalah suatu pekerjaan atau kategori dewasa awal 26-35 mempengaruhi bidang kerja yang memerlukan pendidikan, pengetahuan seseorang. Dalam menerima pelatihan khusus, dan keahlian tertentu. informasi yang berkaitan dengan pola pikir. Profesi biasanya memiliki standar-standar Penelitian Hananditia etika, tanggung jawab sosial, dan norma- Rachma Pramestutie . kategori faktor norma yang harus diikuti oleh para usia, yang memiliki pengetahuan paling (Ahmad. , at al, 2. baik yakni pada dewasa tua dengan total sebanyak 54 responden. Menurut Gerardin Ranind Kirana . dimana pengetahuan mempengaruhi Adapun asumsi peneliti bahwa faktor Ae faktor yang memiliki hubungan profesionalisme secara keseluruhan dalam kategori baik. dengan tingkat pengetahuan masyarakat Adapun asumsi peneliti dimana terkait pengelolaan obat sisa, obat rusak, profesi merupakan tanggung jawab yang dan obat kedaluwarsa yakni faktor usia. diemban yang harus dijalankan sebaik Pada faktor usia menunjukan bahwa Dimana dalam profesi kesehatan semakin meningkatnya usia ke tahap lanjut yang mempengaruhi pengetahuan berupa usia akan terjadi penurunan fungsi kognitif. pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja. Pada faktor usia menunjukan bahwa keterlibatan dalam penelitian, kolaborasi semakin meningkatnya usia ke tahap lanjut dengan profesi lainnya. Pengelolaan limbah usia akan terjadi penurunan fungsi kognitif. obat merupakan hal yang sangat pokok Masyarakat dengan usia lanjut sudah tidak terutama dalam Fasilitas Kesehatan yang Puskesmas informasi yang telah diperoleh, sehingga Pelaksanaan pengelolaan limbah obat di petugas kesehatan harus memberikan KIE fasilitas kesehatan. Puskesmas dilakukan secara intensif terhadap masyarakat dengan oleh petugas pada bagian farmasi dan usia lanjut. dibantu Oleh cleaning service. Adapun alur Profesi Petugas Kesehatan penanganan obat sisa,obat rusak dan Didapatkan hasil penelitian dimana kadaluarsa difasilitas kesehataan dasar di | 149 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Puskesmas tebing bulang. pengetahuan tidak baik . Jenis Kelamin Petugas Kesehatan Menurut Hasil penelitian dalam kategori jenis Pengetahuan Notoatmodjo kelamin petugas kesehatan dimana dari 35 Pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas responden dengan kategori perempuan kesehatan yang berada di puskesmas tebing lebih banyak 28 responden . %) daripada bulang tetang pengelolaan obat sisa, obat kategori laki- laki. rusak dan kadaluwarsa di ukur dengan Dari penelitian yang telah dilakukan Pengetahuan . mengetahui tingkat pengetahuan petugas banyaknya tenaga kesehatan perempuan rusak/kadaluwarsa di fasilitas kesehatan disebabkan oleh faktor kesetaran gender dasar dilakukan oleh petugas bagian secara global adalah Perempuan, tenaga farmasi dengan dibantu oleh petugas cleaning service. Akan tetapi, disisi lain perempuan riset lain menyatakan dalam penanganan obat rusak/kadaluarsa juga menjalankan kesetaraan gender dalam dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu Dinas profesi kesehatan dalam laporan terbaru Kesehatan Kota dan perusahaan yang badan kesehatan dunia (WHO 2. memproduksi obat-obatan tersebut. laki-laki Penanganan Asumsi peneliti dimana sumberdaya Berbeda dengan hasil penelitian manusia disektor kesehatan menyatakan pada masyarakat di Malang menunjukkan dua pertiga praktiknya tenaga kesehatan pengetahuan dengan kategori cukup tentang pengelolaan obat sisa, obat rusak dan obat memungkinkan pendekatan yang paripurna kedaluwarsa (Pramestutie et al. , 2. bagi pelayanan pasien selain itu mereka Sidoarjo, penelitian lain menunjukkan lebih mampu membangun kemitraan dalam bahwa masyarakat memiliki pengetahuan relasi tenaga kesehatan dan pasien. yang rendah terhadap pembuangan obat Pengetahuan Petugas Kesehatan yang aman meskipun sudah menganggap Hasil penelitian yang ditemukan perlunya membuang obat-obatan yang dimana dari 35 responden diketahui bahwa aman (Prasmawari et al. , 2. Penelitian di Kota Bandung menunjukkan bahwa pengetahuan baik sebanyak 33 responden hampir seluruh responden mempunyai . %) pengetahuan yang rendah tentang cara | 150 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 membuang obat di rumah dengan tepat mengirimnya ke Dinas Kesehatan atau (Rahayu and Rindarwati, 2. gudang farmasi. Adapun asumsi peneliti bahwa hal yang sangat penting dalam membentuk KESIMPULAN tindakan seseorang berupa pengetahuan Hasil yang tercakup domain yang penting agar Puskesmas Tebing sudah melaksanakan Pengetahuan baik, hal ini dikarenakan system pengelolaan limbah obat sesuai faktor yang mempengaruhi pengetahuan dengan SOP yang ada pada permenkes salah satunya yaitu pendidikan. Semakin nomor 30 tahun 2014 tentang standar tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka pelayanan kefarmasian. semakin cepat untuk menerima informasi Sebanyak 35 orang petugas kesehatan Di Puskesmas Tebing Bulang pengetahuan juga bisa dipengaruhi oleh memiliki tingkat pengetahuan yang usia karena dapat berkaitan dengan daya tinggi terhadap pengelolaan limbah obat sebanyak 33 orang . %)dan sebanyak 2 Penyedia layanan kesehatan Orang . %) petugas kesehatan memiliki sangat berperan penting dalam edukasi pengetahuan rendah. masyarakat tentang pembuangan obat- Berdasarkan obatan yang tidak terpakai dengan benar. menunjukkan bahwa seluruh petugas di Lama penyimpanan limbah obat distribusi. Puskesmas Tebing Bulang memiliki lama penyimpanan limbah obat kadaluarsa, terhadap pengelolaan limbah obat di limbah obat kadaluarsa sebelum diserahkan pada pihak ketiga maupun Dinas Kesehatan SARAN yaitu dalam kurun waktu bulanan. Biasanya Bagi tenaga kesehatan agar dapat limbah obat yang sudah kadaluarsa. Akan meningkatkan untuk ikut berpartisipasi dipisahkan, diberi tanda batch pada obat dalam upaya meningkatkan pengetahuan pembuangan obat di rumah melalui edukasi tersendiri selama beberapa bulan lalu pihak menggunakan media leaflet dan melakukan fasilitas kesehatan dasar akan membuat simulasi cara pengelolaan obat sisa, obat BAP (Berita acara pemusnahan oba. yang rusak dan kadaluarsa dirumah dengan kadaluarsa/rusak | 151 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 DAFTAR PUSTAKA