Journal of Engineering Environment Energy and Sciece Vol. No. Juni 2022, pp. e-ISSN : 2828-6170 Teknologi Slim Hole Drilling Dalam Pengembangan Energi Geothermal di Indonesia Marojahan Benedict Efrata*1. Basith Febriyanto2. Arief Nurhidayat3 1,2,3 Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jl. Raya Perjuangan Bekasi Utara. Kota Bekasi. Jawa Barat 17121, 021-88955882. Indonesia e-mail: *1marojahan. benedict@ubharajaya. id , 2basithfebriyanto10@gmail. nurhidayat19@mhs. Abstract Geothermal potential in Indonesia is very large, but currently, itAos utilization in the national energy mix is still far from expectations. From the latest data from the Geological Agency. Indonesia's geothermal potential is 23. 9 Giga Watts (GW) until 2019. Its utilization is based on data from the Geothermal Directorate, only around 8. 9% or 2,130. 6 MW which is already producing and being High exploration costs, as well as costs during development, become investment constraints because they require very large costs. Of the components of these costs, the most dominant is drilling costs, so the efficiency and effectiveness of drilling operations are very important. The purpose of this research is to see how the technology of the slim hole drilling method can help in developing the potential of geothermal energy in Indonesia, through the efficiency of drilling costs. The slim hole drilling method is a method of drilling wells with a diameter smaller than that used in conventional wells in the area. Smaller diameters help reduce rig time and costs as well as reduce piping costs. Slim hole drilling has advantages such as lower operating costs compared to conventional drilling and does not need to build infrastructure . oads, water suppl. , resulting in a lower total well cost of drilling costs. So by using this method, it is hoped that the potential for geothermal energy in Indonesia can be utilized properly in the future. It also requires a large investment commitment so that it can reach geothermal potential in difficult to reach geothermal reservoir locations. Keywords : Slim Hole Drilling. Geothermal. Geothermal Potential Abstrak Potensi geothermal di Indonesia sangat besar, namun saat ini pemanfaatannya dalam bauran energi nasional masih jauh dari harapan. Dari data terbaru Badan Geologi, potensi panas bumi Indonesia adalah sebesar 23,9 Giga Watt (GW) sampai tahun 2019. Adapun pemanfaatannya berdasarkan data dari Direktorat Panas bumi baru sekitar 8,9% atau 2. 130,6 MW yang sudah berproduksi dan Biaya eksplorasi yang tinggi, juga biaya pada saat pengembangan menjadi kendala investasi tersendiri, karena memerlukan biaya yang sangat besar. Dari komponen biaya-biaya tersebut, yang paling dominan adalah biaya pemboran, sehingga efesiensi dan efektivitas operasi pemboran menjadi sangat penting. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana teknologi metode slim hole drilling bisa membantu dalam upaya mengembangkan potensi energi panas bumi di Indonesia, melalui efesiensi biaya pemboran. Metode slim hole drilling adalah metode pengeboran sumur dengan diameter lebih kecil dari yang digunakan pada sumur konvensional di daerah tersebut. Diameter yang lebih kecil membantu mengurangi waktu dan biaya rig serta mengurangi biaya pipa. Slim hole drilling memiliki kelebihan seperti biaya operasi yang lebih rendah dibandingkan dengan conventional drilling dan tidak perlu membangun infrastruktur . alan, suplai ai. , sehingga dihasilkan total well cost biaya pemboran yang lebih murah. Jadi dengan menggunakan metode ini diharapakan potensi energi panas bumi di indonesia bisa dapat di manfaatkan dengan baik dalam masa yang akan datang. Dibutuhkan juga komitmen investasi yang besar agar bisa dapat menjangkau potensi panas bumi dalam lokasi reservoir panas bumi yang sulit dijangkau. Kata Kunci: Slim Hole Drilling. Geothermal. Potensi Panas Bumi Available Online at : http://ejurnal. id/index. php/joes Marojahan Benedcit Efrata. Basith Febriyanto. Arief Nurhidayat Submitted: 17/06/2022. Revised: 24/06/2022. Accepted: 27/06/2022. Published: 30/06/2022 PENDAHULUAN Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan yang melimpah sumber daya alamnya, mulai dari hutan, lautan yang sangat luas, minyak bumi, gas alam, batu bara dan energi terbarukan lainnya seperti energi panas bumi atau sering disebut gheothermal. Di masa kebiasaan baru (New Norma. yang sudah mulai bangkit dari keterpurukan di segala bidang dengan inovasi atau hal yang baru dilakukan. Ekspansi Energi Baru Terbarukan (EBT) mengarahkan kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres dituturkan kontribusi EBT dalam gabungan energi primer nasional di tahun 2025 yaitu sebesar 17% dengan formasi Panas Bumi 5%. Biomasa. Bahan Bakar Nabati sebesar 5%. Nuklir. Air. Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar Gambar 1 Kapasitas dari pembangkit listrik tenaga panas bumi Indonesia yang terpasang dan target Pemerintah pada tahun 2025 (EBTKE, 2. Melalui Perpres 22/2017 (Perpres No. 22/2. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target kapasitas terpasang panas bumi sebesar 7. 200 MW pada tahun 2025, meningkat tajam dari kapasitas terpasang saat ini sekitar 2. 100 MW (EBTKE, 2. (D. Purba et al. , 2. Target tersebut tergolong ambisius mengingat laju pembangunan panas bumi di Indonesia saat ini belum secepat yang diharapkan pemerintah ditunjukkan pada Gambar 1. Menurut data terbaru Badan Geologi, potensi panas bumi Indonesia adalah sebesar 23,9 Giga Watt (GW) sampai tahun 2019. Adapun pemanfaatannya berdasarkan data dari Direktorat Panas bumi baru sekitar 8,9% atau 2. 130,6 MW yang sudah berproduksi dan dikembangkan. Gambar 2 Sebaran Sumber Daya Panas Bumi di Indonesia (DJEBTKE, 2. Di sisi lain. Pemerintah Republik Indonesia telah memaklumatkan komitmen pencapaian 23% EBT dalam kumpulan energi nasional 2025 melalui PP No. 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, serta depresiasi emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030 melalui UU No. 16/2016 tentang Ratifikasi Paris Agreement (D. Purba et al. , 2. Biaya eksplorasi yang tinggi, juga biaya pada saat pengembangan menjadi kendala investasi tersendiri, karena memerlukan biaya yang sangat besar. Dari komponen biaya-biaya tersebut, yang paling dominan adalah biaya pemboran, sehingga efesiensi dan efektivitas operasi pemboran menjadi sangat penting. Journal of Engineering Environment Energy and Science: Juni 2022 Teknologi Slim Hole Drilling A Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana teknologi metode Slim Hole Drilling bisa membantu dalam upaya mengembangkan potensi energi panas bumi di Indonesia, melalui efesiensi biaya pemboran. Slim Hole Drilling salah satu jenis sumur gas atau minyak yang ukuran lubang bornya jauh lebih kecil dari ukuran lubang bor biasanya (Thorhallsson, 2. Biasanya diameternya kurang dari 6 inci dan kedalaman 4 A inci atau kurang. Metode ini punya kelebihan seperti biaya operasi yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan biaya pengembangan sumur berkurang 30% dibandingkan dengan conventional drilling dan tidak perlu membangun infrastruktur . alan, suplai ai. , sehingga dihasilkan total well cost biaya pemboran yang lebih murah. Jadi dengan menggunakan metode ini diharapakan potensi energi panas bumi di indonesia bisa dapat dimanfaatkan dengan baik dalam masa yang akan datang. Dibutuhkan juga komitmen investasi yang besar agar bisa dapat menjangkau potensi panas bumi dalam lokasi reservoir panas bumi yang sulit dijangkau. METODE PENELITIAN Slim Hole Drilling adalah salah satu teknik pemboran dimana sumur pemboran hanya berdiameter kurang dari 6 inch (Ussher et al. , 2. Tipe sumur slim hole ada dua macam, yakni. Gradien Temperatur dan Deep Slimhole. Tujuan pemboran dengan slimhole adalah untuk mengurangi biaya operasi pemboran. Walaupun rate of penetraion nya tidak setinggi seperti pemboran konvensional, percobaan lapangan akan dilanjutkan sampai rate of penetraion dapat dibandingkan dengan pemboran konvensional . Tipe dari beberapa sumur yaitu Temperature gradient adalah sumur yang bermain di kedalaman vertikal 200-800 M yang berbeda dengan Tipe sumur Deepslimhole (Casing 2-3/4Ay-7A. yaitu bermain di kedalaman O500-2. 000 M (Ussher et al. , 2. Tujuan nya adalah untuk membangun keberadaan clay conductor, dan memvalidasi model. Untuk Deep Slimhole mengebor hingga ke reservoir nya untuk mengecek apakah sesuai dengan temperatur yang di anggap komersial. Gambar 3 Well Geometry of Slimehole & Conventional Pada slimhole desain mengikuti alur proses yang sama seperti pemboran sumur konvensional akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat slimhole desain sedikit berbeda. Hal tersebut antara lain lubang annular untuk cementing, desain tipe slurry, metode untuk centralizing casing, pemilihan tubing connections yang lebih kecil dari biasanya. Hal ini patut untuk jadi bahan pertimbangan pada desain slimhole (Adityatama et al. , 2. Penggunaan rig untuk Slim Hole Drilling relatif lebih kecil dibandingkan dengan rig pada drilling konvensional . HP ri. Rig ini mampu mengebor hingga kedalaman 1000 m walaupun terkadang ada yang bisa mengebor hingga kedalaman 2000 m. Rig ini mempunyai kelebihan seperti tidak perlu banyak infrastruktur yang dibangun, mempunyai mobilitas tinggi, tidak memerlukan tempat yang luas, dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Hal ini membuat rig ini sangat cocok untuk digunakan di Negara Indonesia terkadang terkendala dengan lokasi eksplorasi yang sangat terpencil. Copyright A 2022 Journal of Engineering Environment Energy and Science. Juni 2022 Marojahan Benedcit Efrata. Basith Febriyanto. Arief Nurhidayat Submitted: 17/06/2022. Revised: 24/06/2022. Accepted: 27/06/2022. Published: 30/06/2022 Suplai air yang diperlukan menjadi lebih kecil karena lubang pada rotary drilling lebih kecil dibanding dengan konvensional drilling, 50% dari konvensional drilling. Dengan ini suplai air bisa menggunakan tangki kecil. Tergantung pada kondisi lapangan dan seberapa sulit nya untuk mendapatkan suplai air, slimhole bisa memberikan kepercayaan diri dalam investasi kepada infrastruktur suplai air agar memenuhi kebutuhan untuk pengeboran yang lebih dalam. Informasi Parameter yang bisa didapatkan dengan menggunakan teknologi slimhole ini yakni. geologi, temperatur, permeabilitas, produktivitas, dan bahan kimia. Data geologi bisa didapat dengan menggunakan coring. Coring ini dilakukan secara continuous. Dengan coring bisa sangat membantu untuk mengidentifikasi litologi dan alterasi. Kita juga dapat mengidentifikasi sumber masalah dalam tahap awal sebelum itu menyebabkan bertambahnya biaya Dengan adanya continuous core sample juga menyediakan suatu kesempatan untuk profile detail sebuah rock properties termasuk porositas, permeabilitas, resistivitas dan densitas. Dengan ini bisa membantu validasi model konsep geothermal dan profil geofisik. Slimhole sangat ideal untuk mengoleksi data pengukuran temperatur. Temperatur reservoir bisa diukur menggunakan temperature logging tools yang kecil, sangat mudah dijalankan saat jeda operasi yang singkat. Sebab pengukuran saat pemboran sangat bisa dilakukan adalah fluida pemboran yang tersirkulasi saat pemboran slimhole sangat dikit dibandingkan dengan operasi yang lebih besar, jadi selama 2 Ae 3 jam cukup untuk memberi data temperatur yang bisa mewakilkan seperti kondisi Pengkoleksian data temperatur di awal sangat berguna untuk dua alasan. Yang pertama, jika ada masalah pemboran yang membuat kita untuk harus meninggalkan sumur, kita masih memiliki data Yang kedua, jika temperatur rendah ditemukan pada reservoir bisa diakhiri secara langsung untuk menghemat biaya operasi pemboran dan bisa dialokasikan ke sumur yang lain. Permeabilitas akan diperhatikan ketika ditemukan dengan slimhole, sama seperti sumur yang berdiameter lebih besar. Completion test dapat mengukur indeks injektivitas dan menyediakan panduan umum apakah permeabilitas yang bagus sudah ditemukan. Jika slimhole menemukan permeabilitas dan temperatur yang cocok, akan sangat mungkin untuk melepaskan sumur dan mendapatkan sampel air panas dan dipisahkan uap nya untuk dianalisa. Dengan cara ini, bahan kimia dan entalpi dari fluida reservoir bisa terkarakterisasi sebelum sumur produksi sumur pertama sedang dibor. Hal ini sangat berguna untuk mengurangi resiko yang akan datang, seperti hal nya area yang teridentifikasi adanya magma yang bersifat asam atau fluida bikarbonat yang rentan untuk mengembang. Informasi mengenai bahan kimia fluida juga tersedia oleh hidrothermal mineralogi yang diamati dalam core dan cuttings. Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah dengan mempelajari studi kasus yang menyimpan informasi dan pengalaman mengenai geothermal dan Slim Hole Drilling. HASIL DAN PEMBAHASAN Perbandingan Metode Pengeboran Dalam Eksporasi Panas Bumi Untuk metode pengeboran terdapat 3 macam dalam eksplorasi panas Bumi : Big Hole Gambar 4 Well Geometry of Big Hole Journal of Engineering Environment Energy and Science: Juni 2022 Teknologi Slim Hole Drilling A Kedalaman Sumur : 1,500 M Ae 3,000 M. Perencanaan Pengeboran : Mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat akses jalan, area laydown dan wellpad sebab ukurannya yang lebih besar dari rig kecil. Keperluan Air : Terpaut kepada besarnya lubang sumur, umumnya antara 60 Ae 95 liter/detik . i zona reservoi. Material Semen dan Pipa Selubung : Pipa Selubung yang diperlukan sekitar 200 ton dan volume yang diperlukan berkisar kurang lebih 84 M3. Peralatan Logging : Bisa memakai semua jenis peralatan logging. Determinasi Litologi/Batuan : Memakai serbuk bor untuk mendefinisikan litologi, alterasi mineral dan karakteristik fraktur. Pengeboran Terarah . irectional drillin. Dapat memakai teknologi untuk membelokan arah sumur. Estimasi Waktu Pemboran : 30-45 hari . ari spud sampai rig selesai dengan kedalaman 2000 M). Estimasi Biaya Total Per Meter (US$/M) : US$ 3,000 Ae 4,500/meter . ermasuk biaya rig dan pembora. Standart Hole Gambar 5 Well Geometry of Standart Hole Kedalaman Sumur : 1,500 M Ae 3,000 M. Perencanaan Pengeboran : Mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat akses jalan, area laydown dan wellpad sebab ukurannya yang lebih besar dari rig kecil. Keperluan Air : Terpaut kepada besarnya lubang sumur, umumnya antara 60 Ae 95 liter/detik . i zona reservoi. Material Semen dan Pipa Selubung : Copyright A 2022 Journal of Engineering Environment Energy and Science. Juni 2022 Marojahan Benedcit Efrata. Basith Febriyanto. Arief Nurhidayat Submitted: 17/06/2022. Revised: 24/06/2022. Accepted: 27/06/2022. Published: 30/06/2022 Pipa Selubung yang diperlukan sekitar 135 ton dan volume yang diperlukan berkisar kurang lebih 55 M3. Peralatan Logging : Bisa memakai semua jenis peralatan logging. Determinasi Litologi/Batuan : Memakai serbuk bor untuk mendefinisikan litologi, alterasi mineral dan karakteristik fraktur. Pengeboran Terarah (Directional Drillin. Dapat memakai teknologi untuk membelokan arah sumur. Estimasi Waktu Pemboran : 30-45 hari . ari spud sampai rig selesai dengan kedalaman 2000 M). Estimasi Biaya Total Per Meter (US$/M) : US$ 2,000 Ae 4,000/meter . ermasuk biaya rig dan pembora. Slim Hole Gambar 6 Well Geometry of Slim Hole Kedalaman Sumur : 1,200 Ae2,330 m . ,330 mmerupakan slimhole di Sarull. Perencanaan Pengeboran : Waktu perencanaan lebih cepat dibandingkan dengan Rig yang lebih besar sebab ukurannya yang lebih kecil dan jumlah peralatannya lebih sedikit Keperluan Air : Diantara 5Ae30 liter/detik Material Semen dan Pipa Selubung : Pipa Selubung yang diperlukan sekitar 80 ton dan volume yang diperlukan berkisar kurang lebih 26 M3. Peralatan Logging : Hanya memakai peralatan logging yang mempunyai diameter 35 mm atau 42-44 mm, untuk CBL Probe menggunakan diameter 70 mm Determinasi Litologi/Batuan : Memakai core sample untuk menentukan lithologi, alterasi mineral, dan karakteristik fraktur Pengeboran Terarah (Directional Drillin. Journal of Engineering Environment Energy and Science: Juni 2022 Teknologi Slim Hole Drilling A Umumnya hanya vertikal Estimasi Waktu Pemboran : 60-120 hari . ari spud sampai rig selesai dengan kedalaman 2000 M). Estimasi Biaya Total Per Meter (US$/M) : US$ 400 Ae 1,000/meter . ermasuk biaya rig dan pembora. Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah jumlah beban selama rig dan mobilisasi peralatan Pengeboran slimhole membutuhkan jumlah beban yang lebih kecil dibandingkan dengan pemboran standar seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1 Jumlah beban rig tipikal yang digunakan untuk pengeboran panas bumi Jenis sumur Jenis rig Jumlah muatan Slimhole Surface coring rig / 450 HP 750 HP-1000 HP 1500 HP-2000 HP Standard . roduction casing 95/8A. Big . roduction casing 13-3/8A. Perbandingan Slim hole dan Standard Hole dalam Pengeboran Eksplorasi Peralatan yang diperkecil membuat operasi sangat sesuai untuk lokasi yang sangat terpencil dan lingkungan sekitar yang tidak sanggup jika ada operasi pemboran yang besar. Area dari slimhole empat kali lebih kecil dari operasi pemboran secara konvensional. Hal itu bisa terjadi dikarenakan penggunaan rig dan drill string yang lebih kecil. Dengan ukuran alat pemboran yang lebih kecil, operasi untuk mentransportasi alat tersebut bisa diminimalisir pada saat mobilisasi dan demobilisasi. Hingga secara keseluruhan dengan slim hole ini bisa mengurangi resiko dan dampak jika terjadi suatu insiden kecelakaan pada saat operasi berlangsung. Area well pad pada slimhole lebih kecil dibandingkan dengan konvensional standart pemboran. Luas area well pad pada slimhole berkisar 40 x 40 m. Luas area tersebut lebih kecil dari luas pemboran konvensional yang mempunyai luas area berkisar 70 x 100 m. Luas area yang lebih kecil tersebut mungkin bisa mempercepat proses persiapan operasi pemboran, mengurangi biaya untuk akuisisi lahan dan bantalan konstruksi. Gambar 7. Area Slim Hole Well Copyright A 2022 Journal of Engineering Environment Energy and Science. Juni 2022 Marojahan Benedcit Efrata. Basith Febriyanto. Arief Nurhidayat Submitted: 17/06/2022. Revised: 24/06/2022. Accepted: 27/06/2022. Published: 30/06/2022 Gambar 8 Area Standart Hole Well Keterangan Gambar = F = Rig & Sub Base Area A = Water/Mud Pit J = Office G = Pump B dan C = Mud Tank K = Cementing Area H = Parts Storage D = Shaker Tank L = Pipe Rack & Catwalk I = Fuel Tank & Water Tank E = Laydown Area Definisi Kesuksesan Pengeboran dan Tingkat Keberhasilan (Success Rat. Mendeskripsikan AukesuksesanAy pengeboran mewujudkan hal yang tidak sederhana. Sebagai contoh, sumur dengan kapasitas produksi 2-3 MW bisa diduga sukses jika sumur tersebut menggambarkan sumur yang relative dangkal dengan biaya rendah. tetapi jika sumur tersebut merupakan sumur yang cukup dalam dan menghabiskan biaya pengeboran yang tinggi, pastinya sumur itu tidak dapat dianggap sukses (International Finance Corporation-IFC). Oleh karena itu. IFC memberikan parameter-parameter utama dari kesuksesan sumur yang relevan dalam fase eksplorasi sebagai berikut: Tidak mempunyai masalah mekanis semasa pengeboran. semacam casing collapse, casing leak, atau lubang terisi oleh reruntuhan cutting. Mempunyai suhu yang cukup agar bisa dieksploitasi secara komersial. Mempunyai tekanan statik yang cukup akan membuat sumur itu dapat naturally discharge. Mendapatkan reservoir yang memiliki Productivity Index (PI) yang cukup tinggi sesuai barometer tim geosains ataupun reservoir engineer. Mempunyai fluida yang relative tidak berbahaya . idak korosif, rendah H2S, maupun tidak terlalu rentan terhadap permasalahan scalin. Keberhasilan sumur juga berpegang pada fungsi sumur tersebut. contohnya dipakai untuk produksi maupun injeksi. Adapun beberapa parameter seperti suhu, tekanan, dan PI tidak punya nilai yang layak untuk tiap lapangan, dibutuhkan persetujuan oleh tim geosains ataupun reservoir menyinggung nilai parameter tersebut sebelum dilaksanakannya pengeboran eksplorasi. Jadi. IFC mengestimasikan bahwa tingkat kesuksesan pengeboran idealnya diaplikasikan dalam bentuk ROI (Return of Investmen. dari tiap sumur. Tetapi karena data tersebut belum tentu ada, maka IFC menentukan definisi sukses berdasarkan kapasitas produksi/injeksinya. Tabel 2 Tingkat Keberhasilan Pengeboran Sumur Panas Bumi Studi IFC pada 2013 menyimpulkan tingkat kesuksesan pengeboran sumur panas bumi sebagaimana Tabel berikut. Tahap Tingkat kesuksesan Catatan Eksplorasi 35-50% Delineasi Diasumsikan 5 sumur pertama yang dibor di lapangan tersebut. Data yang didapat oleh IFC tidak menyebutkan dengan jelas sumur mana yang digunakan untuk sumur delineasi. Development 60-70% Journal of Engineering Environment Energy and Science: Juni 2022 Teknologi Slim Hole Drilling A Operation . umur make-u. 80% Secara umum, rasio keberhasilan pengeboran eksplorasi di Indonesia hanya 20-40%. Tetapi ada efek learning curve yang terlihat pada proses pengeboran panas bumi yang berpotensi dapat mendukung identifikasi dan memitigasi risiko sumber daya pada proyek pengembangan energi panas Success rate pada pengeboran memang berfluktuasi, tetapi meningkat secara signifikan seiring dengan bertambahnya jumlah sumur yang dibor, sampai saat mencapai rata-rata kesuksesan pengeboran di 62%. Setelah itu terpantau bahwa fenomenal earning curve melandai dan akhirnya menjadi relatif datar. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan data terbaru dari Badan Geologi. Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,9 Giga Watt. Namun dalam pemanfaatannya berdasarkan data dari Direktorat Panas Bumi baru sekitar 8,9% nya saja. Selain itu, biaya eksplorasi dan pemboran yang sangat tinggi juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan potensi panas bumi di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan adanya efisiensi dalam biaya pemboran untuk menekan biaya operasional pemborannya. Berdasarkan data dari penelitian di atas, dapat dilihat bahwa efisiensi biaya teknologi Slim Hole Drilling lebih tinggi daripada teknologi drilling lainnya yaitu sekitar US$ 400 Ae 1,000/meter dan membutuhkan lebih sedikit peralatan lainnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk efisiensi biaya, teknologi Slim Hole Drilling merupakan teknologi yang tepat untuk digunakan dalam pengembangan potensi panas bumi di Indonesia. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan seluruh Teman-teman di masa perkuliahan Kami dalam Prgram Studi Teknik Perminyakan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang telah mendukung dan membiayai kebutuhan anggaran dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA