ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Analisis Implementasi Pendekatan Deep Learning di Kelas IV SDN 3 Rantetayo Kabupaten Tana Toraja Vepriani Masirri1. Theresyam KabangaAo2*. Trivena3. Idham Halil Zakaria4 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar1,2,3. Pendidikan Biologi4 Universitas Kristen Indonesia Toraja1,2,3. Universitas Darussalam Ambon4 masirrivepriani@gmail. com1, theresyam@ukitoraja. id2 , trivena@ukitoraja. idhamzakaria@unidar. Abstrak Penelitian ini mendeskripsikan implementasi pendekatan deep learning di kelas IV SD Negeri 3 Rantetayo Tana Toraja menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dari kepala sekolah, guru, dan siswa melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan guru berhasil menerapkan pembelajaran yang berkesadaran . , bermakna . , dan menggembirakan . melalui strategi kontekstual, diskusi, refleksi, dan penilaian formatif. Siswa mengalami peningkatan motivasi, keterlibatan, keberanian berpendapat, dan kesadaran metakognitif, dengan transformasi kelas dari teacher-centered menjadi student-centered. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu, sarana pembelajaran, perbedaan kemampuan siswa, rendahnya motivasi sebagian siswa, dan beban Guru mengatasinya dengan mengatur waktu efektif, memanfaatkan media sederhana, memberikan apresiasi, berkolaborasi dengan sesama guru, dan menciptakan suasana kelas kondusif. Penerapan deep learning berdampak positif signifikan pada antusiasme, keaktifan, keberanian bertanya, dan penyelesaian tugas siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan deep learning mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, namun memerlukan adaptasi terhadap perkembangan kognitif siswa dan pelatihan guru yang Kata kunci: Implementasi, pendekatan Deep learning, siswa. Abstract This study describes the implementation of a deep learning approach in fourth grade at SD Negeri 3 Rantetayo. Tana Toraja, using descriptive qualitative methods. Data were collected from the principal, teachers, and students through interviews, observations, and documentation. The results show that teachers successfully implemented mindful, meaningful, and joyful learning through contextual strategies, discussions, reflections, and formative assessments. Students experienced increased motivation, engagement, courage to express opinions, and metacognitive awareness, with the classroom transformation from teacher-centered to studentcentered. Obstacles faced included limited time, learning resources, differences in student abilities, low motivation of some students, and administrative burdens. Teachers overcame these by managing time effectively, utilizing simple media, providing appreciation, collaborating with fellow teachers, and creating a conducive classroom atmosphere. The implementation of deep learning had a significant positive impact on student enthusiasm, activeness, courage to ask questions, and completion of assignments. This study confirms that the deep learning approach can improve the quality of learning, but requires adaptation to students' cognitive development and adequate teacher training. Keywords: Implementation. Deep learning approach, students. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 PENDAHULUAN Kurikulum merupakan rancangan atau panduan dalam melaksanakan pembelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh lembaga pendidikan (Lili Rahmawati et al. , 2. Kurikulum berperan sebagai pedoman dan tolak ukur untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berisi rancangan pelajaran untuk peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan. Kurikulum yang diterapkan di sekolah dasar saat ini ialah Kurikulum Merdeka, yaitu kebijakan kurikulum yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik, dengan fokus pada pengembangan kompetensi esensial melalui pembelajaran berbasis proyek (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasil. yang mendorong siswa untuk belajar secara kontekstual, kolaboratif, dan bermakna (Tangkearung et al. , 2023. Trisnani et al. , 2. Salah satu pendekatan yang relevan dengan semangat Kurikulum Merdeka adalah deep learning. Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis siswa secara kontekstual dan berbasis pengalaman, bukan sekadar pemahaman teoretis (Adnyana, 2. Menurut (Artadhewi Adhi Wijaya. Titik Haryati, 2. Pendekatan ini mencakup tiga konsep yang bekerja secara sinergis, yaitu meaningful learning . emahaman yang bermakna dan kontekstua. , mindful learning . esadaran dan fokus dalam belaja. , dan joyful learning . uasana belajar yang menyenangkan dan memotivas. , sehingga siswa tidak hanya memahami materi tetapi juga menikmati proses pembelajaran itu sendiri (SyafiAoi & Darnaningsih, 2. Penerapan deep learning di jenjang pendidikan dasar dinilai sangat penting karena pada tahap ini terjadi perkembangan kognitif dan emosional yang signifikan (Tulak et al. Deep learning mampu membangun fondasi pemahaman yang kuat melalui kegiatan eksploratif dan interaktif seperti diskusi kelompok dan eksperimen, sekaligus menumbuhkan motivasi intrinsik siswa untuk menemukan makna dalam pembelajaran (Diputera et al. , 2. Meskipun secara teoretis deep learning terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir kritis siswa, penerapannya di lapangan masih belum maksimal. (Pane et al. , 2. mengidentifikasi bahwa beban kurikulum yang padat dan orientasi pembelajaran yang masih berfokus pada pencapaian nilai menjadi penghambat utama, khususnya bagi guru yang masih baru mengajar. Di sisi lain, sebagian besar penelitian yang ada cenderung bersifat kajian konseptual atau dilakukan pada jenjang pendidikan menengah, sehingga bukti empiris mengenai implementasi deep learning secara nyata di tingkat sekolah dasar masih sangat terbatas. Belum banyak pula penelitian yang secara khusus mengkaji dinamika implementasi deep learning dalam konteks Kurikulum Merdeka di sekolah dasar, terutama pada siswa kelas IV yang berada pada tahap perkembangan berpikir konkret. Kesenjangan inilah yang mendorong perlunya kajian mendalam dan berbasis lapangan untuk memotret secara komprehensif bagaimana pendekatan deep learning diterapkan, tantangan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap kualitas pembelajaran. SD Negeri 3 Rantetayo mulai mengimplementasikan pendekatan deep learning pada semester genap tahun ajaran 2024/2025, khususnya di kelas IV. Pendekatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21. Dalam penerapannya, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru secara pasif, tetapi terlibat aktif membangun pemahaman mereka sendiri melalui pembelajaran ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 berbasis proyek, pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata, dan kegiatan eksplorasi bersama teman-teman. Penerapan ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang memberi kebebasan kepada guru untuk merancang pembelajaran yang bermakna, disesuaikan dengan karakter, minat, dan kemampuan masing-masing siswa (Hidayat et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan untuk mengkaji secara komprehensif proses dan dinamika penerapan pendekatan deep learning di pendidikan dasar. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi pendekatan deep learning dalam pembelajaran pada Kurikulum Merdeka di SD Negeri 3 Rantetayo. Penelitian ini berupaya mendorong pemahaman siswa yang tidak sekadar menghafal, melainkan memahami konsep secara mendalam dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembelajaran interaktif seperti simulasi dan kolaborasi, diharapkan kemampuan berpikir kritis dan belajar secara kolektif siswa dapat meningkat (Amalia et al. , 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan metode pembelajaran di sekolah dasar, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya khazanah keilmuan mengenai implementasi pendekatan deep learning di tingkat pendidikan dasar. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa sehingga mereka dapat menguasai konsep-konsep pembelajaran secara lebih mendalam. Lebih lanjut, hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong sistem pendidikan di Indonesia menuju arah yang lebih inovatif dan efektif, serta berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut (Anisya Dwi Septiani. Widjojoko, 2. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan suatu metode yang menggambarkan kondisi objek berdasarkan keadaan dan kondisi pada saat penelitian dilakukan. Penelitian ini, adalah deskriptif sejenis penelitianyang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alam maupun fenomena manusia. fenomena dapat mempunyai berbagai macam bentuk, perilaku, karakteristik, perubahan, hubungan, persamaan, dan perbedaan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, penulis melakukan wawancara mendalam dengan kepala sekolah guru dan siswa kelas IV di SD N 3 Rantetayo Kabupatan Tana Toraja, . Secara rinci, informan dalam penelitian ini terdiri dari 1 orang kepala sekolah, 1 orang guru kelas IV, dan 16 orang siswa kelas IV, sehingga total keseluruhan informan berjumlah 18 orang. Wawancara dilakukan selama kurang lebih 30 hingga 45 menit untuk setiap informan, dan dilaksanakan secara tatap muka di lingkungan sekolah pada jam yang telah disepakati bersama. Untuk mengetahui bagaimana implementasi metode pendekatan deep learning dalam proses pembelajaran. Selain itu, penulis juga ingin mengetahui pendapat narasumber tentang metode pendekatan deep learning. Dalam penelitian ini, teknik analisis data termasuk reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data berarti merangkum kembali data untuk memilih dan memfokuskan pada bagian yang penting dan memberikan gambaran yang Penyajian data berarti mendeskripsikan teks naratif dan Verifikasi data atau kesimpulan adalah jawaban atas rumusan masalah (Nuning Indah Pratiwi, 2. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Adapun untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sebagai teknik validasi data. Triangulasi yang digunakan meliputi triangulasi sumber, yaitu membandingkan data yang diperoleh dari kepala sekolah, guru, dan siswa. triangulasi teknik, yaitu membandingkan hasil wawancara dengan data observasi dan serta triangulasi waktu, yaitu melakukan pengecekan data pada waktu yang berbeda untuk memastikan konsistensi hasil. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan keabsahan dan kredibilitasnya (Sugiyono. Lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di SD N 3 Rantetayo. Kelurahan Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupatan Tana Toraja. Alasan peneliti memilih sekolah ini karena sekolah tersebut telah mengimplementasikan pendekatan deep learning dalam proses pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi pendekatan deep learning dalam proses pembelajaran di kelas IV SDN 3 Rantetayo Perencanaan pembelajaran merupakan langkah fundamental yang menentukan keberhasilan proses pendidikan di kelas. Implementasi pendekatan Deep Learning di kelas IV SDN 3 Rantetayo diawali dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, reflektif, hingga evaluasi. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa guru telah memahami konsep deep learning sebagai pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, dengan tahapan memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Indonesia, guru yang mengadopsi kerangka deep learning menempatkan mindful, meaningful, dan joyful learning sebagai pijakan dalam memfokuskan pengalaman belajar pada relevansi konteks dan refleksi siswa. Guru merancang tugas yang menuntut pemikiran tingkat tinggi serta mengintegrasikan konteks nyata, seperti penggunaan contoh agama, suku, dan adat istiadat untuk menjelaskan konsep keberagaman budaya. Pendekatan ini bertujuan agar siswa mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya sehingga pembelajaran menjadi relevan dan mudah dipahami secara mendalam (Meaningful Learnin. Apabila meaningful learning dilaksanakan dengan baik, siswa akan memiliki daya ingat yang panjang terhadap materi yang dipelajari karena setiap konsep berkaitan dengan struktur pengetahuan yang sudah dimiliki siswa. Kolaborasi juga diterapkan secara selektif sesuai kebutuhan materi, sebab melalui kolaborasi siswa mampu menjelaskan pemikiran mereka, mendengarkan sudut pandang berbeda, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam. Pada pelaksanaan pembelajaran, guru menggunakan metode kombinasi ceramah, tanya jawab, dan penugasan berkelompok yang dipadukan dengan model Project Based Learning (PjBL) dan Cooperative Learning. Model PjBL dan pembelajaran kooperatif terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial dan motivasi belajar siswa (Khoiriyahtun Nahdiyah, 2. Guru memfasilitasi diskusi dengan pertanyaan terbuka yang mendorong siswa berpikir kritis dan berani berpendapat, sehingga siswa merasa dihargai dan tidak takut salah karena tidak ada jawaban yang dianggap keliru dalam konteks pengalaman pribadi. Metode tanya jawab mampu meningkatkan interaksi siswa dengan guru, mendorong siswa aktif bertanya, dan berinisiatif menjawab pertanyaan di depan guru maupun teman-temannya (Juliangkary, 2. Pada pelaksanaannya, guru lebih sering menerapkan model Project Based Learning (PjBL) karena model ini terbukti mendorong pembelajaran yang bermakna. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 penuh perhatian, dan menyenangkan (Ibtidaiyah, 2. Melalui PjBL, siswa dapat belajar secara berkelompok dalam merencanakan, mengorganisir, dan merancang rencana kerja bersama sehingga memperkuat efektivitas waktu belajar (Kabanga, 2. Kombinasi metode ceramah dan tanya jawab dengan model PjBL maupun Cooperative Learning mencerminkan transisi dari pembelajaran yang berpusat pada guru . menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudent-centere. , kolaboratif, dan berbasis pengalaman nyata. Metode tanya jawab diterapkan untuk menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi siswa (Meaningful Learnin. Dalam praktiknya, guru tidak hanya memberikan pertanyaan kepada siswa yang aktif, tetapi juga secara aktif melibatkan siswa yang kurang aktif dengan meminta tanggapan mereka sembari berkeliling kelas. Dengan menghubungkan konten baru pada pengalaman siswa sendiri, guru berhasil mendorong partisipasi dan keterlibatan seluruh siswa secara merata. Guru pun tidak menghakimi setiap jawaban siswa, melainkan memberikan arahan mengenai konsekuensi dari jawaban tersebut agar siswa dapat berpikir secara mandiri dan bijaksana (Mindful Learnin. Pendekatan ini berhasil menciptakan iklim belajar yang aman sehingga siswa tidak takut untuk salah. Untuk memperkuat suasana yang menyenangkan, guru juga menyelipkan permainan sederhana seperti "tebak peran" dan melibatkan siswa dalam proyek langsung di depan kelas, sejalan dengan prinsip deep learning yang menekankan pembelajaran yang menggembirakan (Joyful Learnin. Interaksi positif yang terbangun antara guru dan siswa melalui seluruh pendekatan tersebut terbukti berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa (Juniardi & Rizqa, 2. Pada refleksi pembelajaran. Refleksi dilakukan di akhir pembelajaran, dengan pertanyaan seperti AuApa keberagaman budaya yang ada di lingkungan sekitarmuAy atau Ausikap seperti apa yang harusnya kalian lakukan dari perbedaan yang ada?Ay. Yang di jawab siswa di catatan serta perwakilan 1-2 orang siswa yang siap menyampaikan refleksi singkatnya secara lisan. Siswa menunjukkan kesadaran metakognitif, misalnya menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki, atau menghubungkan materi dengan pengalaman nyata (Meaningful Learnin. Guru juga melakukan refleksi diri setiap hari untuk mengevaluasi kekurangan dan perbaikan metode mengajar. Refleksi yang rutin dilakukan menunjukkan bahwa guru memahami pentingnya metakognisi dalam deep Pada pelaksanaannya masih bersifat umum dan mungkin kurang mendalam. Refleksi guru terhadap diri sendiri setelah mengajar merupakan praktik yang sangat baik dan menunjukkan komitmen guru untuk terus berkembang. Pada tahapan terakhir yaitu evaluasi pembelajaran, penilaian formatif lebih dominan digunakan, terutama melalui tanya jawab langsung, bukan melalui tes tertulis. Umpan balik diberikan secara individual dan langsung, dengan arahan yang spesifik dan membimbing siswa untuk memperbaiki sendiri. Guru tidak fokus pada nilai angka, tetapi pada proses pemahaman, kolaborasi, dan perbaikan lanjutan. Penekanan pada penilaian formatif sejalan dengan prinsip assessment for learning yang mendukung deep learning. Guru berfokus pada proses bukan hasil. Pemberian umpan balik yang spesifik dan langsung sangat efektif untuk meningkatkan pemahaman dan strategi belajar siswa. Guru menyadari bahwa setiap siswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda, sehingga pendekatan evaluasi yang dilakukannya sudah mengedepankan Umpan balik formatif secara tertulis dan lisan serta penilaian mandiri terbukti efektif membantu siswa mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan belajar ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 mereka, sehingga mendukung perbaikan strategi belajar secara mandiri (Liani et al. Pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pedagogis yang menekankan proses belajar bersifat reflektif, kritis, dan bermakna, yang sangat sejalan dengan arah Kurikulum Merdeka. Pendekatan ini mencakup tiga prinsip utama, yaitu mindful, meaningful, dan joyful learning (Nabila & Septiani, 2. Prinsip meaningful learning menekankan pemahaman mendalam dibandingkan sekadar penghafalan, di mana siswa belajar lebih efektif ketika mampu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya. Dalam konteks ini, guru berperan penting sebagai jembatan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa, sehingga setiap konsep yang dipelajari memiliki relevansi dan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penerapan prinsip meaningful learning pada pembelajaran Pendidikan Pancasila materi keberagaman budaya di kelas IV SDN 3 Rantetayo terlaksana dengan sangat baik karena siswa tidak hanya menghafal nama-nama suku atau pakaian adat, tetapi benar-benar memahami dan mengalami sendiri keberagaman tersebut. Guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan konsep keberagaman budaya melalui cerita sederhana tentang budaya Toraja sebagai contoh yang relevan di lingkungan sekitar siswa, lalu mengajak siswa menceritakan latar belakang budaya keluarga masing-masing, seperti asal daerah orang tua dan bahasa daerah yang digunakan di rumah. Dengan cara ini, materi Pancasila tentang keberagaman langsung terhubung dengan kehidupan nyata siswa, sehingga mereka dapat melihat bahwa keberagaman bukan sesuatu yang jauh atau asing, melainkan ada di sekitar mereka bahkan dalam kelas mereka sendiri. Siswa menjadi lebih antusias karena mereka merasa pengalaman pribadi mereka dihargai dan menjadi bagian penting dari pembelajaran. Prinsip mindful learning menghadirkan paradigma baru dalam dunia pendidikan yang mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dan reflektif dalam setiap proses Pendekatan ini menuntut kesadaran penuh dari siswa terhadap apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka memprosesnya, dan mengapa hal tersebut penting (Widagdo, 2. , sehingga tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman, tetapi juga mengembangkan kemampuan metakognitif siswa dalam mengenali dan mengatur strategi belajar mereka sendiri. Penerapan prinsip mindful learning di kelas IV SDN 3 Rantetayo terlaksana melalui pendekatan yang mengajak siswa untuk benar-benar hadir secara mental dan emosional dalam setiap proses belajar. Sepanjang proses pembelajaran, siswa menunjukkan sikap aktif dan kolaboratif yang tercermin dari keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dari guru, bekerja sama dalam kelompok, hingga secara mandiri menjelaskan ragam budaya yang mereka lihat di lingkungan sekitar sebagai bentuk berpikir kritis. Selain itu, siswa juga mampu merefleksikan pembelajaran yang mereka jalani dengan menjelaskan pemahaman mereka menggunakan bahasa mereka sendiri. Prinsip joyful learning merupakan kunci untuk membangkitkan motivasi intrinsik dan antusiasme siswa dalam menjalani proses pendidikan. Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa emosi positif dan kegembiraan dapat meningkatkan daya serap informasi, memperkuat retensi memori, serta mendorong siswa untuk terus belajar tanpa merasa terbebani (Mahmudi & Arief, 2. Dalam penerapannya di kelas IV SDN 3 Rantetayo, guru menciptakan suasana kelas yang nyaman, tenang, dan menyenangkan melalui aktivitas ice breaking serta memastikan suasana hati setiap siswa agar dapat memusatkan perhatian sebelum memulai pembelajaran (Haryati & ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Puspitaningrum, 2. Salah satu aktivitas yang diterapkan adalah ice breaking berupa "tebak peran," yaitu guru mengajak siswa menebak media gambar keberagaman budaya, dan siswa berlomba-lomba menebak gambar yang ditunjukkan oleh guru. Melalui metode ini, semua siswa terlibat aktif dan bersemangat dalam pembelajaran. Selain itu, variasi metode dan media pembelajaran yang digunakan guru juga turut menarik motivasi belajar siswa. Siswa memberikan respons yang sangat antusias sepanjang proses pembelajaran, yang terlihat dari sikap aktif dan kolaboratif mereka di dalam kelas, sehingga suasana proses pembelajaran berlangsung sangat kondusif dan menyenangkan bagi siswa untuk bereksplorasi, bertanya, dan bahkan membuat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar (Tulak et al. , 2. Dalam perjalanan implementasi pembelajaran yang berkualitas, guru dan siswa tidak dapat terlepas dari berbagai faktor yang dapat menghambat atau mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Hambatan dan pendukung ini hadir dalam berbagai dimensi, mulai dari aspek internal seperti kompetensi dan motivasi, hingga aspek eksternal seperti ketersediaan sarana prasarana dan dukungan lingkungan. Memahami secara komprehensif tentang faktor-faktor penghambat memungkinkan guru untuk merancang strategi mitigasi yang efektif, sementara mengoptimalkan faktor pendukung dapat mempercepat pencapaian pembelajaran yang bermakna, penuh kesadaran, dan menyenangkan bagi seluruh siswa (Eka Fitra Ramadani. A Nurhidayah Br, 2. Implementasi pendekatan deep learning di SDN 3 Rantetayo tidak terlepas dari hambatan dalam penerepannya pada proses belajar mengajar terutama pada kompetensi guru yang seringkali belum maksimal dalam mengimplementasikan pendekatan ini, yang disebabkan dari beberapa faktor-faktor menurut hasil wawancara kepala sekolah dengan wali kelas IV menyatakan bahwa hambatan pendekatan deep learning meliputi kompetensi guru, keterbatasan waktu, keterbatasan sarana dan media, variasi kemampuan siswa, siswa yang kurang termotivasi, dan beban administrasi guru. Dari hambatan tersebut guru mengatasinya dengan cara menajemen waktu yang efektif, memanfaatkan media sederhana dalam penyampaian materi, memberikan motivasi dan penguatan positif kepada siswa, berkolaborasi antar guru, serta menciptakan kelas yang kondusif guna menghadirkan proses belajar mengajar yang lebih baik. Dengan terus mendukung implementasi pendekatan deep learning kearah yang lebih baik melalui pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi guru, pemanfaatan media dan sarana yang tersedia, menajemen kelas, pendekatan diferensiasi, serta refleksi dan tindak lanjut pembelajara. Selain hambatan implementasi pendekatan deep learning di SDN 3 Rantetayo juga memberikan faktor pendukung yang saling berkaitan. Berdasarkan hasil wawancara kepala sekolah dengan guru, menyatakan bahwa kesiapan guru menjadi pondasi utama dalam menerapkan pendekatan ini, di mana guru telah memiliki pemahaman dan kemampuan untuk merancang pembelajaran yang mendalam dan Faktor ini diperkuat oleh antusiasme siswa yang menunjukkan motivasi tinggi dan partisipasi aktif selama proses pembelajaran, menciptakan dinamika kelas yang produktif. Ketersediaan fasilitas dan media pembelajaran yang memadai memungkinkan guru menghadirkan pengalaman belajar yang variatif dan konkret, sementara dukungan kurikulum memberikan kerangka kerja yang fleksibel untuk mengembangkan pembelajaran berbasis pemahaman mendalam. Lingkungan kerja yang kondusif, ditandai dengan kolaborasi antar guru dan iklim sekolah yang positif, menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendukung inovasi. Semua faktor ini semakin optimal dengan adanya apresiasi dan dukungan penuh dari pihak sekolah, baik ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 dalam bentuk kebijakan, motivasi, maupun penyediaan sumber daya, sehingga tercipta sinergi yang kuat antara sekolah, guru, dan siswa dalam mewujudkan pembelajaran yang bermakna. Implementasi pendekatan deep learning terhadap siswa kelas IV di SDN 3 Rantetayo, memberikan dampak positif yang signifikan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru, pendekatan ini telah mendorong siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar, di mana mereka tidak lagi hanya menerima informasi secara pasif tetapi turut berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi dan mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Selain itu, siswa menunjukkan pemahaman konsep yang lebih baik karena pembelajaran tidak hanya berfokus pada penghafalan materi, melainkan pada pendalaman konsep melalui berbagai aktivitas yang bermakna dan kontekstual. Dampak lainnya yang tidak kalah penting adalah meningkatnya motivasi belajar siswa, yang terlihat dari antusiasme mereka dalam mengikuti pembelajaran, keberanian bertanya, dan kemauan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Ketiga dampak tersebut keaktifan, pemahaman konsep yang mendalam, dan motivasi belajar yang saling berkaitan dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan kognitif siswa kelas 4 di SDN 3 Rantatayo secara optimal. PENUTUP Implementasi pendekatan Deep Learning di kelas empat SDN 3 Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja, menunjukkan bahwa guru telah berupaya memberikan pembelajaran yang penuh perhatian, bermakna, dan menyenangkan melalui perencanaan kontekstual, implementasi yang mendorong keberanian siswa, refleksi yang membangun kesadaran diri, dan evaluasi formatif yang menekankan proses. Perubahan positif terlihat jelas, siswa menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, dan mulai mampu menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu dipertimbangkan, semua temuan diperoleh hanya dari satu kepala sekolah, satu guru, satu kelas, yaitu kelas IV, dan pengumpulan data dilakukan selama dua minggu. Kondisi ini membuat hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut perlu melibatkan lebih banyak guru, berbagai tingkatan kelas, dan periode observasi yang lebih panjang untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang implementasi pembelajaran mendalam dalam proses pembelajaran. Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi berbagai tantangan, seperti kompetensi guru yang kurang optimal karena keterbatasan waktu, fasilitas, dan media, kemampuan siswa yang beragam, motivasi rendah di antara beberapa siswa, dan beban administratif guru. Guru mengatasi kendala ini dengan mengelola waktu mereka secara efektif, menggunakan media sederhana, memotivasi siswa, berkolaborasi dengan sesama guru, dan menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk meningkatkan pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA