Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review TRADISI TAROKIN PADA JAMAAoAH TAREKAT NAKSABANDIYAH DI DESA KEBUNDURIAN KECAMATAN GUNUNG SAHILAN KABUPATEN KAMPAR RIAU AMANAN amanan@gmail. Abstract: Islam came to the village of Kebundurian, the district of Gunung Sahilan through Kuntu area which is now part of Kampar Kiri. Meanwhile. Naksabandiyah party came to the district of Gunung Sahilan, the village of Kebundurian from Xi Koto Kampar regency. Kampar regency which was brought by Syekh JaAofar from Pulau Godang. The entrance of Naksabandiyah party brought to this area several kinds of Islamic tradition. One of the tradition is Tarokin tradition. Tarokin (Talkin/Talqin in Arabic wor. is a guidance to say the sentence of La Ilaha Illallah that is conducted to someone who is almost dying. This guidance is based on the prophet Muhammad SAW teaching that is AuPlease guide someone who faces death by saying La Ilaha IllallahAy. Meanwhile, for Moslem. Talkin is given for a Moslem corpse who has just been buried. This teaching is to remind him/her the best answers when the Angels of Munkar and Nangkir ask questions. Moslems believe when persons carrying the corpse leave the grave, the Angels will come and ask principal questions to the dead body. Keywords: Tarokin Naksabandiyah Party. Kebundurian Gunung Sahilan Kampar Abstrak:Tarekat Naksabandiyah di Desa Kebundurian, agama Islam masuk ke Kecamatan Gunung Sahilan. Masuk dari daerah Kuntu yang sekarang masuk kecamatan Kampar Kiri. Sedangkan Tarekat Naksabandiyah masuk Kecamatan Gunung Sahilan Desa Kebundurian berasal dari kecamatan Xi Kota Kampar Kabupaten Kampar yang dibawa oleh Syekh JaAofar dari Pulau Godang. Masuknya Tarekat Naksabandiyah Kecamatan Gunung Sahilan membawa berbagai macam tradisi yang berlafaskan Islam. Salah satu dari tradisi itu ialah Tradisi Tarokin. Tarokin (Talkin / Talqi. adalah bimbingan mengucap kalimat La Ilaha Illa yang dilakukan yang dilakukan terhadap seseorang yang sedang sakaratul maut. Bimbingan ini dilakukan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW AuBimbinglah seseorang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian untuk mengucap la ilaha ilallahi. Ay Selain itu bagi sebagian umat Islam, talkin dilakukan terhadap jenazah seorang muslim yang baru dikuburkan untuk memberi jawaban kepada malaikat mungkar dan beberapa pertanyaan kepadanya pada saat para pengantar jenazah pergi meninggalkan kubur. Kata Kunci: Tarokin Tarekat Naksabandiyah. Kebundurian Gunung Sahilan Kampar. Latar Belakang Masalah Kecamatan Gunung Sahilan merupakan sebuah kecamatan yang berdiri pada hari Rabu tanggal 7 Desember 2006 di Kabupeten Kampar. Sebelumnya Gunung Sahilan masuk wilayah kecamatan Kampar Kiri. Pemekaran kecamatan ini terjadi pada masa Ketika itu kecamatan Gunung Sahilan terdiri dari 5 desa, yakni desa Gunung Sahilan, desa Kebundurian, desa Subarak, desa Suka Makmur, dan desa Gunung Sari. Nemun beberapa tahun berikutnya terjadi pemekaran desa sehinggakecamatan Gunung Saghilan yang pada mulanya terdiri dari 5 desa dan sampai pada tahun 2010 telah menjadi 9 desa. Pada 15 September 2011 desa Kebundurian dimekarkan, dan desa yang baru itu diberi Sungai Lipai. Perkembangan E-ISSN: 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN: 2657-0319 Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review pendudukdan pembangunan yang pesat di Gunung Sahilan. Perkembangan penduduk dan pembangunan yang pesat di Gunung sahilan memungkinkan untuk membentuk pemekaran Kecamatan Kampar kiri yang diberi nama Kecamatan Gunung sahilan. Kecamatan Kampar kiri dimekarkan menjadi beberapa Kecamatan. Kecamatan Gunung sahilan adalah salah satu dari Kecamatan yang dimekarkan tersebut. Secara geografis kecamatan Pada umumnya terdiri dari 35% daerah perbukitan, terutama di ibukota Kecamatan. Sementara sekitar 50% dari wilayah terdiri dari daratan yang cocok untuk tanaman tua, seperti sawit dan karet. Kawasan yang lainnya adalah sekitar 15% terdiri dari rawa,terutama daerah aliran sungai yang mengalir ke Selat Malaka. Pada abad ke 19 penduduk gunung sahilan berada dibawah kerajaan yang merdeka dan bebas dari tekanan kerajaan lain. Meskipun di daerah Riau terdapat pemerintahan Andiko nan 44, namun kerajaan Gunung Sahilan tidak termasuk dalam pemerintahan tersebut. Gunung sahilan Kampar kiri yang terdiri dari 5 khalifah diakui terpisah dari Andiko 44 dengan alasan berada di Gunung Sahilan. Daerah Kampar kiri berada di sekitar Utara Rantau V Koto,kerajaan Kampar dan tambang di sebelah barat. Pelalawan di sebelah timur, daerah Kuantan (Loga. di utara dan Taratak V di perbatasan SumatraAos Westkus. Kerajaan Kampar kiri di gunung sahilan dikenal juga sebagai kerajaan Gunung Sahilan. Kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang berkedudukan di istana Gunung Sahilan. Sistem pemerintahan dibantu oleh para khalifah yang berkedudukan di berbagai daerah seperti Kuntu. Lipat kain dan Ketika kerajaan Gunung Sahilan berada di bawah kekuasaan yang Maha Mulia Tengku Sultan Abdul Jalil Bin yang di-pertuan hitam, maka bermufakat lah para pembesar kerajaan yang terdiri dari para khalifah dan penghulu dalam penguasaan Kampar kiri gunung sahilan untuk menyerahkan kerajaan dan bernaung dibawah perlindungan pemerintahan kolonial Hindia Belanda hal ini dilakukannya dengan harapan agar penduduk gunung sahilan bertambah aman dan makmur. Setelah kata mufakat didapatkan dengan semua pembesar-pembesar kerajaan, maka berangkatlah Sri Paduka yang mulia Sultan Abdul Jalil beserta penghulu penghulu untuk mengunjungi Paduka Tuan besar Asisten Resident di Bengkalis. Penyerahan itu diterima oleh Tuhan besar Asisten Resident di Bengkalis. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang. Gunung Sahilan masih merupakan pusat pemerintahan kerajaan untuk daerah Kampar kiri. Namun pada awal kemerdekaan pusat pemerintahan tidak lagi di Gunung sahilan tetapi dipindahkan ke lipat kain. Pada pertengahan Januari 1946 Abdullah SyafiAoe, seorang pamong praja Keresidenan Riau membentuk Kecamatan Kampar kiri dengan ibu negerinya Lipat Kain. sistem kerajaan melebur kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kecamatan Gunung Sahilan pada waktu itu terdiri dari tiga Wali Kampung yaitu Wali Kampung Gunung Sahilan. Wali Kampung Kebundurian dan wali Kampung Subarak. Kampung tersebut berada dibawah pemerintahan kewalian Lipat Kain yang pada waktu itu yang dipegang oleh Zainuddin. ketiga Kampung tersebut bergabung dengan kewalian lipat kain sampai tahun 1966 karena banyaknya pertentangan tentang masalah kewalian. Untuk mewakili masyarakat yang berada di Kampung Gunung Sahilan. Kebun Durian, dan Subaak ,ditunjuk M. Yudo HS. oleh Camat Adenal Mil sebagai wakil Wali Negari Lipat Kain yang berkedudukan di Kebun Durian penunjukan M. Yudo HS tersebut disetujui oleh Bupati Kampar Raden Subrantas S. pada bulan Mei 1967 diadakan suatu acara peresmian M. Yudo HS sebagai wali Negeri Lipat Kain, yang bertempat di los pasar Kebun Durian. Namun ia bersama kawan-kawannya terus Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review berjuang untuk mendapatkan kewalian sendiri, terpisah dari Lipat Kain. Pemilihan Wali Negeri Gunung sahilan diadakan melalui pemungutan suara sebanyak 478 suara di menangkan oleh M. Yudo HS, dari 599 suara yang memilih. Perjuangan untuk membentuk pemerintahan Negeri sendiri akhirnya berhasil dengan diresmikannya kewalian Negeri Gunung Sahilan pada 23 Mei 1968 yang bertempat di Kebun Durian. setelah menjalani perjuangan yang panjang, kewalian Negeri Gunung Sahilan diresmikan menjadi sebuah Kecamatan Gunung Sahilan pada 7 Desember 2006. Pada masa pemerintahan kerajaan Kampar kiri yang berpusat di Gunung Sahilan, perekonomian utama penduduk adalah dalam usaha perdagangan. Barang komoditi yang diperdagangkan adalah rempah-rempah, hasil hutan, bahan makanan, dan Barang-barang Itu diangkut dengan perahu yang mengikuti aliran Sungai Kampar. Selain itu terdapat pula perdagangan barang-barang keramik yang berasal dari Cina. Malaka, dan daerah nusantara lainnya. Daerah Gunung sahilan telah menjadi kawasan perdagangan sejak masa lampau, terutama melewati aliran Sungai Kampar. Foto berikut adalah Bantar Sungai Kampar kiri di Desa Gunung Sahilan sebagai tempat acara adat Kampar kiri. Sampai Indonesia merdeka dan pasca kemerdekaan, sumber perekonomian penduduk gunung sahilan masih tetap didominasi oleh Sumber mata pencaharian lain yang ditekuni oleh penduduk gunung sahilan ialah berladang padi dan mencari ikan. Penanaman padi dilakukan masyarakat gunung sahilan dengan membuka hutan . dan membakarnya, menggemburkan tanah, serta ditanami dengan padi. sistem penanaman padi pada sawah basah belum banyak dilakukan. Namun setelah berkembangnya teknologi pertanian baru dibuka sawah-sawah baru dan dialiri air untuk melumatkan tanah. Selain menanam padi penduduk Gunung Sahilan juga menanam tanaman pekarangan seperti tanaman muda . ayur-sayura. , pisang, dan tanaman tua seperti karet. Tanah kosong yang banyak tersedia, memberi kesempatan bagi penduduk Gunung Sahilan untuk membuka daerah perkebunan yang luas, minimal seluas 1 Setiap tahun luas tanah perkebunan bertambah sehingga luas perkebunan dan luas areal pertanian semakin luas. Tanah perladangan digarap secara terus-menerus selama 7 tahun. Kemudian tanaman tua pun sudah remaja sehingga menjadi tanah pertanian tetap. Biasanya tanah yang dibakar hutannya pada tahun pertama ditanami padi tunggal Sampai Padi panen. penanaman padi tugal berlangsung paling banyak sampai tahun ketiga dan setelah itu tidak ditanami padi lagi karena di tanah tersebut sudah besar Pohon Tua lainnya, jadi dengan demikian tidak bagus lagi di tanam padi karena sudah terlindung oleh pohon yang tinggi. Sejak gunung sahilan berubah dari dusun menjadi kampung pada tanggal 23 mei 1968 keadaan penduduk mulai berbenah di segala sektor, pertumbuhan ekonomi yang semakin baik. Kampung kebundurian telah berhasil menciptakan ekonomi pertanian yang bisa dilempar ke pasaran. Mereka membangun pasar untuk menjual hasil pertanian di daerah itu. Pembangunan Pasar Kampung kebun durian tersebut membangkitkan ekonomi penduduk Kampung Gunung Sahilan pada umumnya. Pembangunan Pasar telah memotivasi penduduk untuk menggiatkan pertanian dan hasilnya dijual di Pasar Kebundurian. Sehingga pasar itu disebut oleh masyarakat sebagai Pasar Jumat dan nama pasar itu masih berlangsung sampai sekarang disebut pasar Jumat, dan nama pasar itu masih berlangsung sampai sekarang. Disebut pasar JumAoat ialah diadakan setiap hari Jumat. Jalan yang menghubungkan Desa kebun durian sungai lipai dan kawasan yang dikenal dengan daerah Rumbio atau Simpang Jarak kebun durian dengan Simpang timbun (Rumbi. adalah Sekitar 32 Sepanjang jalan, di kiri dan kanan jalan yang menghubungkan kedua daerah E-ISSN: 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN: 2657-0319 Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review tersebut terdapat pada masyarakat yang luas. Selain itu di sepanjang jalan terdapat pula hutan rimba yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar PT Partisa mengolah kawasan tersebut dengan tujuan untuk mengambil kayu balak . ayu gelondonga. Demi kelancaran usahanya, mereka membersihkan Jalan Antara Simpang Tibun dan Gunung Sahilan dan membangunnya. Pada masa pemerintahan kerajaan yang berpusat di Gunung Sahilan kehidupan keagamaan tumbuh subur dan melahirkan berbagai macam salah satu dari tradisi tersebut ialah tradisi Tarokin atau Talqin bagi orang yang meninggal dunia. Pelaksanaan Tarokin / Talqin pada Jamaah Tarekat Naksabandiyah de Desa Kebundurian Ketika seseorang sudah meninggal dunia, selain adanya suatu kewajiban bagi orang yang hidup terhadap jenazah itu, kewajiban yang disebut denganfardu kifayah . uatu kewajiban yang bisa dilakukan oleh seseorang atau beberapa oran. maka lepas lah kewajiban orang yang ada dikampung . rang yang tinggal disekita. dimana orang yang meninggal itu juga bertempat tinggal diwilayah tersebut. Selama adanya kewajiban pardu kifayah itu diberbagai daerah terdapat pula bermacam-macam tradisi atau kebiasaan yang dilaksanakan oleh masyarakat, misalnya ketika jenazah . sudah selesai disholatkan, sebelum diantarkan kepemakaman, dengan mengadakan berbagai acara, kalau tempat pemakaman itu tidak terlalu jauh, biasanya jenazah diantar ketempat pemakaman diantar oleh pihak keluarga dan kaum kerabat Handaitolan dengan cara digandak/dipikul bersama-sama dengan cara meletakkan keempat sudut keranda diatas bahu . orang yang membawanya, tradisi mengantarkan jenazah kekuburan seperti ini sekarang ada yang memakainya dan banyak pula yang sudah meninggalkan, hal itu disebabkan pada masa sekarang tempat pandam perkuburan itu letaknya sudah jauh. Maka pada masa sekarang tradisi yang berkembang atau yang banyak dilakukan ialah dengan memakai transportasi mobil ambulance, hal itu dilakukan oleh masyarakat ialah kareana dengan memakai mobil ambulance itu lebih praktis dan apalagi didesa Kebundurian mobil ambulance yang dipakai tidak dipungut biaya . Gambar 1 : Mobil Ambulans membawa Ibunda Hj. Maah Sumber : Dokumentasi Amanan, 26 Oktober 2012 Akan tetapi sebelum jenazah diantar kepemakaman dimana jenazah dikebumikan . maka sebelum keberangkatan itu ada suatu acara tradisi yang berlaku dari dulu sampai sekarang. Tradisi itu ialah adanya acara pelepasan jenazah, hal itu dilakuakan setelah jenazah selesai dikapani/disholatkan, sejenak para masyarakat yang sedang melayat siap mengantarkan jenazah dimintak untuk bertahan sebentar, acara tersebut berbentuk suatu acara pelepasan, adapun susunan acaranya ialah :Kata Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review sambutan dari pihak Keluarga. Kata sambutan dari ketua Tarekat Naksyabandiyah . ang mewakili kalau dia anggota Tarekat Naksyabandiyah, kalau tidak bisa saja diwakili oleh ulama yang dianggap cakap,Kata sambutan salah seorang tokoh masyarakat,Kata sambutan salah seorang Dt. Penghulu . inik mama. Kata sambutan dari pihak pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh kepala desa atau yang mewakilinya. Kata sambutan disampaikan itu berisi berbagai hal, kalau ia disampaikan oleh pihak keluarga, maka isinya ialah menyampaikan ucapan terimakasih, mohon maaf kepada semua lapisan masyarakat atas semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh almarhum, baik disengaja maupun tidak disengaja. Kemudian ia juga menyampaikan kepada seluruh yang hadir kalau seandainya almarhum semasa hidup mempunyai hutang yang tidak bisa dimaafkan, untuk itu dapat menghubungi saudara Adenan. Gambar 2 : Bapak haji Rusli. AZ menyampaikan kata sambutan mewakili keluarga Sumber: Dokumentasi Amanan, 26 Oktober 2012 Sedangkan kata sambutan yang disampaikan oleh ketua tarekat atau yang mewakili biasa berisi tentang kebaikan almarhum selama mengikuti pengajian dan jamaAoah tarekat dengan kepergiannya merasa kehilangan, dan sosok almarhum sangat baik untuk dicontoh. Sedangkan kata sambutan yang disampaikan oleh tokoh masyarakat, biasanya berisi tentang perjuangan almarhum yang telah berjasa dan membantu desa dengan memberi berbagai ide dan pendapat yang diberikan almarhum. Kemudian Dt. Penghulu (Ninik Mama. menyampaikan bahwa almarhum semasa hidupnya telah banyak berjasa dalam membangun kampung/desa, suku dan kaumnya, semoga jasa dan amalnya diterima oleh Allah SWT. Selanjutnya unsur pimpinan desa yang disampaikan oleh Kepala Desa atau yang mewakili yang biasanya berisi tentang jasa almarhum semasa ia hidup terhadap desa untuk unsur pemerintah desa mengucapkan terimakasih dan juga mengucapkan selamat jalan. Gambar 3 : Datuk Rajo Bandaharo (Bapak Ramadha. menyampaikan kata sambutan. E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review Sumber: Dokumentasi Amanan, 26 Oktober 2012 Pada masa lalu selesai kata sambutan, masuk ada lagi satu tradisi yaitu menyuruk . ewat dibawah keranda jenaza. yang sedang dipikul masing-masing tiga kali dengan ketentuan bahwa setiap orang akan lewat dibawah keranda itu ia harus membaca bismillah dan melempar mumbang kelapa . uah kelapa yang masih keci. dibawah keranda dari kanan ke kiri, tujuan diadakan tradisi ini ialah agar antara orang yang meninggal itu dengan keluarga yang masih hidup lepas dari pengaruh negatif misalnya ingat terus atau mimpi buruk, dan juga agar terhindar dari lemah semangat, dan berbagai macam hal yang buruk-buruk, tetapi tradisi ini sudah jarang dilaksanakan karena ajaran agama Islam sudah semakin berkembang, sehingga tradisi semacam itu menurut agama Islam, hal itu menyimpang dari ajaran Islam, makanya orang yang memakai tradisi ini dari waktu ke waktu terus berkurang, dan sampai sekarang tradisi tersebut sudah hampir hilang ditelan zaman. Setelah tradisi menyuruk dibawah keranda jenazah selesai, barulah jenazah diantar ke Masjid atau ke kuburan kalau jenazah sudah disholatkan dirumah maka jenazah tersebut langsung diantar ke perkuburan, akan tetapi pada masa sekarang sudah sangat jarang jenazah yang dishalatkan dirumah, hal itu dilakukan disebabkan semakin baiknya pengetahuan agama Islam dikalangan masyarakat dan juga adanya pertimbangan kapasitas tempat yang kadang-kadang tidak memungkinkan, maka dishalatkan di Masjid akan lebih baik dan lebih tepat. Gambar 4: Bapak Haji Ishaq selesai menshalatkan jenazah dan membacakan doAoa untuk Ibunda Hj. Maah. Sumber: Dokumentasi 26 Oktober 2012 Setelah shalat jenazah selesai dilaksanakan maka almarhum langsung diantar ke tempat pemakaman. Sesampainya di tempat pemakaman, jenazah segera dimasukkan dalam liang lahat, tetapi sebelum dimasukkan, para petugas yang telah ditunjuk melakukan azan kalau jenazahnya itu laki-laki sedangkan kalau jenazahnya itu perempuan maka ia di iqamahkan dan setelah hal itu selesai barulah jenazah dimasukkan kedalam liang lahat. Setelah jenazah selesai dikuburkan, maka para ulama Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review yang telah ditunjuk membacakan doAoa bersama dan diaminkan oleh jamaAoah yang hadir, namun sebelum doAoa bersama dilakukan terlebih dahulu dilakukan pembacakan Setelah pembacaan tarokin selesai dilaksanakan, maka acara ditutup dengan pembacaan doAoa yang dipimpin oleh petugas yang telah ditunjuk. Setelah acara pemakaman selesai dilaksanakan, maka salah seorang yang mewakili keluarga menyampaikan pengumuman kepada masyarakat yang hadir, isi dari pengumuman itu ialah bahwa acara pemakaman sudah selesai kita laksanakan, kami dari pihak keluarga mengucapkan terimakasih, selanjutnya kami mengharapkan kepada kita yang hadir, kami dari pihak keluarga mengharapkan kepada kita bersama untuk dapat singgah . dirumah adik kami Sijus, untuk makan bersama. Setelah acara makan bersama selesai maka lapisan masyarakat satu persatu pulang menuju rumahnya masing-masing. Acara pemakaman sudah selesai dilaksanakan ketika hari masih siang, namun pada malam harinya masih ada suatu rangkaian acara yaitu pembacaan surat yasin, tahtim,tahlil,dan ditutup dengan doAoa, kemudian acara pembacaan yasin ini ada beberapa kali. Pertama dilakukan dari malam pertama, malam kedua dan malam Pada malam ketiga biasanya tuan rumah memberikan hidangan jambagh . idangan nas. , jambagh itu berisi nasi dan berbagai kelengkapan sambal lainnya, setelah hidangan itu selesai disusun . ihidangkan dengan bai. , maka kepada hadirin dipersilahkan untuk mencicipinya . acara ini di tutup dengan doAoa. Setelah pembacaan surat yasin malam pertama,malam kedua,dan malam ketiga selesai, maka untuk sementara waktu kegiatan pembacaan surat yasin berhenti sementara dan kegiatan kembali diadakan pada malam ke-7, pada malam ke-7 ini anggota masyarakat yang hadir biasanya lebih banyak karena ada perbedaan dengan malam sebelumnya. Perbedaannya ialah kalau pada malam ke-7 ini orang yang hadir dipanggil . sehingga orang yang hadir . ang diundan. itu disesuaikan dengan kemampuan tuan Kemudian setelah kegiatan pembacaan surat yasin malam ke-7 selesai Kegiatan pembacaan surat yasin baru dilakukan pada malam ke-40 dan selanjutnya diadakan lagi pada malam ke-100, setelah ini memang ada kegiatan pembacaan surat yasin yaitu pada malam ke-1000 hari, tetapi ini hanya orang tertentu yang mengadakannya, sedangkan yang biasa banyak dilakukan ialah sampai malam ke-100 hari saja. Penutup Ketika seseorang sudah meninggal dunia, selain adanya suatu kewajiban bagi orang yang hidup terhadap jenazah itu, kewajiban yang disebut dengan fardu kifayah. Bagi masyarakat desa Kebundurian Kecamatan Gunung Sahilan dengan masuknya Tarekat Naksabandiyah pada tahun 1938 dari pulau Godang Kacamatan Xi Koto Kampar. Dengan masuknya Tarekat Naksabandiyah ke Kecamatan Gunung Sahilan membawa berbagai tradisi yang berlafaskan Islam. Salah satu dari tradisi itu ialah adanya tradisi tarokin . Talqin adalah bimbingin mengucap kalimat La Ilaha Illallah yang dilakukan terhadap seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut. Selain itu bagi sebagian umat Islam, talkin dilakukan terhadap jenazah seorang muslim yang baru dikuburkan untuk memberi jawaban kepada malaikat Mungkar dan Nangkir yang akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada jenazah. E-ISSN: 2657-0300 P-ISSN: 2657-0319 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Vol. 1 No. 2 Juni 2019 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review Daftar Pustaka