Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor 2 September 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 DOI: https://10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT Liska Kristiani Ulan Dari1* Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Indonesia Liskaulandariliskaulandari@gmail. Alamat: Kampus Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Jalan Parit Haji Muksin II Km 2. Kecamatan Sungai Raya Dalam. Kabupaten Kubu Raya. Provinsi Kalimantan Barat. Indonesia. Korespondensi penulis: Liskaulandariliskaulandari@gmail. Abstract: The ecological crisis in West Kalimantan including annual floods, deforestation, and river pollution requires serious attention, including from Catholic university students. The Catholic Church, through its integral ecology teaching, emphasizes that ecological responsibility is a core expression of This study aims to describe the level of knowledge, awareness, lifestyle, and faith-based reflection of Catholic students in responding to ecological issues. Using a descriptive quantitative approach, data were collected from 34 respondents through an online questionnaire and analyzed using descriptive statistics. The results show that most respondents have an initial ecological awareness and willingness to participate in environmental actions, but are not yet consistent in adopting environmentally friendly lifestyle habits. Only a few consistently practice simple actions such as bringing personal food containers. These findings indicate a gap between awareness and actual behavior, underscoring the need for pastoral strategies that integrate faith and ecological action. This research provides a foundation for developing contextual ecopastoral programs within Catholic universities and youth communities. Keywords: Catholic faith, ecological responsibility, integral ecology, reflection, student Abstrak. Krisis ekologis di Kalimantan Barat, seperti banjir tahunan, deforestasi, dan pencemaran sungai, menuntut keterlibatan berbagai pihak, termasuk mahasiswa Katolik. Gereja Katolik melalui ajaran ekologi integral menegaskan bahwa tanggung jawab ekologis adalah bagian dari iman. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, kesadaran, gaya hidup, dan refleksi iman mahasiswa Katolik terhadap isu lingkungan. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 34 responden melalui angket daring dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kesadaran ekologis awal dan bersedia terlibat dalam aksi lingkungan, namun belum sepenuhnya konsisten dalam praktik gaya hidup ramah lingkungan. Hanya sebagian kecil yang menerapkan kebiasaan konkret seperti membawa tempat makan sendiri. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan tindakan, serta perlunya strategi pembinaan iman yang mengintegrasikan spiritualitas dan praktik ekologis. Penelitian ini menjadi dasar awal untuk pengembangan program ekopastoral yang kontekstual di lingkungan kampus dan komunitas kategorial. Kata kunci: ekologi integral, iman Katolik, mahasiswa, refleksi, tanggung jawab Received: Agustus 15, 2025. Revised: September 1, 2025. Accepted: September 5, 2025. Online Available: September 30, 2025. : September 30, 2025. *Corresponding author. Liskaulandariliskaulandari@gmail. DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT LATAR BELAKANG Krisis ekologis merupakan persoalan multidimensi yang semakin mendesak di abad Perubahan iklim, deforestasi, pencemaran air, serta menurunnya kualitas lingkungan hidup menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan planet ini. Di Indonesia, kerusakan lingkungan kerap diperparah oleh kebijakan pembangunan yang mengabaikan prinsip ekologis. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa pada tahun 2023 terjadi 3. 089 bencana alam, dan pada tahun 2024 tercatat 2. 107 bencana, yang sebagian besar berupa banjir dan tanah longsor akibat degradasi lingkungan (BNPB. Kalimantan Barat adalah salah satu wilayah yang mengalami dampak kerusakan ekologis secara langsung. Deforestasi masif, pencemaran sungai, dan banjir tahunan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Pada Januari 2025, lebih dari 200. 000 warga terdampak banjir besar yang dipicu oleh kerusakan hutan dan sistem drainase alami (Jumarto, 2. Penurunan kualitas air juga terjadi di Sungai Kapuas. Kuala Dua, dan Sungai Sintang akibat limbah domestik dan industri (Anggraini et al. , 2023. Mada et al. , 2. WALHI Kalimantan Barat . turut mencatat meningkatnya konversi hutan adat menjadi lahan komersial, yang berdampak langsung terhadap keadilan ekologis. Gereja Katolik secara global telah menunjukkan kepeduliannya terhadap krisis Melalui ensiklik Laudato SiAo . Paus Fransiskus mengajak seluruh umat manusia, bukan hanya umat Katolik, untuk melakukan pertobatan ekologis. Dokumen ini menegaskan bahwa segala sesuatu saling terhubung dan bahwa tanggung jawab atas bumi sebagai rumah bersama adalah bagian integral dari iman Kristiani. Pertobatan ekologis yang dimaksud bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan paradigma, spiritualitas, dan gaya hidup yang berakar pada iman. Sejumlah studi menunjukkan bahwa Orang Muda Katolik (OMK) mulai menyadari pentingnya keterlibatan ekologis, baik melalui gerakan diakonia, pendidikan ekologi, maupun aksi ekopastoral . elayanan iman yang berbasis 2 kesadaran ekologi. (Widyawati et al. , 2025. Pakpahan & Simarmata, 2. Namun demikian, studi lain menegaskan bahwa kesadaran ini belum selalu diikuti oleh praktik nyata yang konsisten (Tinenti et al. , 2024. Ambun, 2. Dengan kata lain, terdapat kesenjangan antara Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 pengetahuan dan kesadaran ekologis dengan gaya hidup sehari-hari yang ramah Beberapa studi di luar Kalimantan Barat juga menunjukkan penerapan pendekatan ekologis di lingkungan Katolik, seperti integrasi nilai Laudato SiAo dalam pendidikan teologi di STIPAS Kupang (Kleden et al. , 2. , serta gerakan konservasi lintas iman di Keuskupan Ruteng (Bandur et al. , 2. Akan tetapi, kajian yang secara khusus menyoroti refleksi iman mahasiswa Katolik dalam konteks ekologis Kalimantan Barat masih sangat terbatas. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sejauh mana mahasiswa Katolik di Kalimantan Barat memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai ekologi integral dalam kehidupan mereka. Fokus utama mencakup aspek pengetahuan, kesadaran, gaya hidup, serta sikap reflektif terhadap krisis lingkungan hidup. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan program ekopastoral yang kontekstual dan aplikatif, serta memperkuat sinergi antara pendidikan tinggi Katolik, komunitas OMK, dan Gereja lokal dalam membangun budaya ekologis yang berkelanjutan. KAJIAN TEORITIS Kajian ini menguraikan teori-teori dan pendekatan konseptual yang relevan dengan tema refleksi iman mahasiswa Katolik terhadap krisis ekologis. Krisis ekologis saat ini tidak hanya menuntut respons praktis, tetapi juga pemahaman teologis dan spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, fokus pembahasan meliputi krisis lingkungan hidup kontemporer, ekologi integral dalam ajaran Gereja Katolik, teologi penciptaan dan tanggung jawab manusia, serta peran pendidikan dan spiritualitas ekologis. Selain itu, dikaji pula hasil-hasil penelitian terdahulu yang menjadi acuan penting dalam merumuskan kerangka pikir penelitian ini. Krisis Lingkungan Hidup Kontemporer Krisis ekologis saat ini terjadi secara sistemik dan multidimensi. Perubahan iklim, kerusakan ekosistem, degradasi lahan, dan pencemaran air serta limbah plastik merupakan bukti bahwa persoalan lingkungan hidup bersifat global dan mendesak (Widyawati et al. , 2. Di Indonesia, pendekatan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sering kali mengabaikan prinsip keberlanjutan ekologis. DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT Contohnya terlihat dalam proyek hilirisasi tambang dan alih fungsi hutan (Wibisono. Algipari & Atman, 2. Dampak dari krisis ini tidak hanya bersifat fisikbiologis, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan spiritual manusia, sehingga memerlukan pendekatan lintas disiplin yang terbuka terhadap nilai-nilai iman (Purwanto, 2. Ekologis Integral: Paradigma Baru dalam Ajaran Gereja Katolik Ekologi integral merupakan paradigma khas Gereja Katolik dalam menanggapi krisis ekologis. Dalam ensiklik Laudato SiAo. Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis lingkungan berkaitan erat dengan krisis sosial, dan bahwa Aupendekatan ekologis yang sejati harus juga menjadi pendekatan sosialAy yang memperhatikan jeritan bumi dan jeritan kaum miskin (Fransiskus, 2016, art. 49, hlm. Ekologi integral menolak pandangan teknokratis yang hanya mengandalkan solusi teknologi, dan mendorong pertobatan ekologis sebagai transformasi spiritual dan gaya hidup. Komitmen ini diwujudkan secara konkret dalam tujuh arah gerak Laudato SiAo Action Platform (Dicastery, 2. , yang melibatkan institusi pendidikan, komunitas umat, dan keluarga. Teologi Penciptaan dan Tanggung Jawab Manusia Dalam pandangan iman Kristen, alam semesta bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari karya ciptaan Allah yang baik adanya (Kej. Manusia diberi Aumengusahakan memeliharaAy (Kej. mengeksploitasinya secara sewenang-wenang. Ajaran Gereja menekankan bahwa manusia adalah pelayan, bukan penguasa mutlak atas ciptaan. Laudato SiAo menolak pandangan antroposentris ekstrem dan mendorong umat untuk memulihkan relasi yang harmonis dengan alam semesta sebagai bagian dari tanggung jawab iman (Fransiskus, 2016, art. Pendidikan dan Spiritualitas Ekologis Pendidikan dan spiritualitas ekologis merupakan kunci dalam membentuk kesadaran ekologis yang berkelanjutan. Studi Jayadinata et al. menunjukkan bahwa peningkatan literasi ekologi memiliki korelasi positif dengan pembentukan karakter peduli lingkungan. Simbolon et al. menekankan pentingnya katekese ekologis dalam pendidikan iman. Reno . dan Widyawati et al. juga menggarisbawahi Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 peran Orang Muda Katolik (OMK) dalam mengembangkan spiritualitas ekologis melalui aksi nyata, seperti kegiatan daur ulang, konservasi air, dan kampanye anti-sampah plastik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain survei, bertujuan menggambarkan fenomena numerik tanpa menguji hubungan antar variabel (Sugiyono, 2019, hlm. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan, kesadaran ekologis, gaya hidup ramah lingkungan, serta sikap dan refleksi iman mahasiswa Katolik terhadap krisis ekologis di Kalimantan Barat. Data dikumpulkan melalui angket tertutup yang disebarkan secara daring menggunakan Google Form. Instrumen menggunakan skala nominal dan ordinal, serta dianalisis dengan statistik deskriptif berupa frekuensi dan persentase, disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Populasi dan Sampel Penelitian Sampel terdiri dari 34 mahasiswa Katolik dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Barat, diperoleh melalui teknik convenience sampling berdasarkan ketersediaan dan kesediaan responden. Meski tidak mewakili populasi secara keseluruhan, jumlah ini memadai untuk studi eksploratif awal . -50 responde. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik survei, dengan menggunakan kuesioner tertutup yang disusun secara sistematis dan dibagikan secara daring melalui Google Form. Kuesioner ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu identitas responden, pengetahuan dan kesadaran ekologis, gaya hidup ramah lingkungan, serta sikap reflektif iman terhadap krisis lingkungan. Angket penelitian ini terdiri dari empat bagian. Bagian A berisi identitas responden, yang mencakup nama, status sebagai mahasiswa Katolik, dan asal perguruan tinggi. Data nama digunakan semata-mata untuk keperluan administrasi dan validasi pengisian angket, tanpa memengaruhi penilaian maupun disebarluaskan dalam laporan. Bagian B memuat item tentang pengetahuan dan kesadaran ekologis, seperti pemahaman terhadap dokumen Laudato SiAo serta keterlibatan responden dalam kegiatan lingkungan hidup. Bagian C menilai gaya hidup ramah lingkungan, termasuk frekuensi membawa botol minum, tempat makan, serta kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Terakhir. Bagian D mengukur sikap dan pandangan reflektif berdasarkan iman, dengan menggunakan skala Likert empat poin DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT untuk mengidentifikasi sejauh mana responden memaknai keterlibatan orang muda Katolik dalam merawat bumi. Format lengkap angket dan rekap jawaban responden disajikan pada Lampiran 1 dan 2. Alat Analisis Data Analisis dilakukan dalam dua tahap. Pertama, uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan kualitas instrumen. Kedua, data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pola umum dari jawaban responden. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment melalui SPSS, dengan nilai r tabel = 0,339. Hasil menunjukkan bahwa dari 10 item, 7 item (Q1-Q. dinyatakan valid . hitung > r tabe. dan digunakan dalam analisis. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan Alpha Cronbach, menghasilkan nilai 0,768, yang termasuk kategori reliabel menurut Sugiyono . Rincian hasil uji disajikan pada lampiran 3 dan 4. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, jumlah responden yang terbatas dan teknik sampling non-random membatasi generalisasi hasil. Kedua, penggunaan angket daring dapat memunculkan bias sosial karena sifat self- reported. Ketiga, pendekatan deskriptif belum mampu menjelaskan hubungan kausal antar Meski demikian, temuan ini tetap memberikan gambaran awal yang penting dan dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan yang lebih luas dan mendalam. Keterbatasan jumlah responden dan teknik sampling menjadi catatan penting yang dapat ditindaklanjuti dalam penelitian lanjutan dengan pendekatan campuran atau populasi yang lebih luas. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan hasil analisis data angket yang telah dikumpulkan dari 34 responden mahasiswa Katolik di beberapa perguruan tinggi di Kalimantan Barat, diikuti dengan pembahasan mendalam mengenai temuan-temuan tersebut. Hasil dibagi berdasarkan bagian-bagian angket: Pengetahuan dan Kesadaran Ekologis. Gaya Hidup Ramah Lingkungan, serta Sikap dan Pandangan Reflektif. Data Demografi Responden Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 Responden penelitian ini adalah 34 mahasiswa Katolik dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Barat. Data demografi lain seperti usia, jenis kelamin, atau program studi tidak dikumpulkan secara rinci, namun dipastikan bahwa semua responden berstatus mahasiswa aktif dan beragama Katolik. Pengetahuan dan Kesadaran Ekologis . agian B angke. Bagian ini mengeksplorasi tingkat pengetahuan dan kesadaran ekologis responden mahasiswa Katolik. Tabel 4. 2 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang Laudato SiAo (Q. Pilihan Jawaban Jumlah Responden Presentase (%) Ya. Pernah 47,1% Tidak Pernah 35,3% Tidak Yakin/Lupa 17,6% Total 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti,2025 Tabel 4. 2 menunjukkan bahwa 47,1% responden menyatakan AuYa, pernahAy mendengar atau mengetahui tentang Laudato SiAo. Namun, hampir separuhnya yaitu 35,3% menyatakan AuTidak pernahAy, dan 17,6% AuTidak yakin/lupaAy, menunjukkan bahwa meskipun Laudato SiAo merupakan ensiklik penting tentang ekologi integral dari Paus Fransiskus, pengetahuannya belum merata di kalangan mahasiswa Katolik di Kalimantan Barat. Hal ini mengindikasikan masih adanya ruang untuk edukasi lebih lanjut mengenai dokumen Gereja ini, yang relevan dalam menghadapi krisis ekologi dan menegaskan relasi antara iman dan tanggung jawab ekologis (Purwanto, 2. Tabel 4. 3 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Keterlibatan dalam Kegiatan Lingkungan (Q. Pilihan Jawaban Jumlah Responden Presentase (%) Pernah sekali-dua kali 41,2% Rutin (Ou1 kali per bula. 35,3% Kadang-kadang . -4 kali per tahu. 20,6% Belum Pernah 2,9% Total 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti, 2025 DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT Tabel 4. 3 menunjukkan bahwa mayoritas responden 41,2% pernah terlibat dalam kegiatan lingkungan setidaknya AuPernah sekali-dua kaliAy. Sejumlah 35,3% juga cukup rutin berpartisipasi (Ou1 kali per bula. Ini mengindikasikan adanya basis partisipasi yang cukup aktif di kalangan mahasiswa Katolik dalam isu lingkungan. Namun, adanya 2,9% yang AuBelum pernahAy hal ini menunjukkan bahwa masih ada segmen kecil yang perlu didorong untuk terlibat dalam aksi nyata. Keterlibatan ini penting mengingat urgensi keadilan iklim dan pembangunan berkelanjutan (Wibisono, 2. Gaya Hidup Ramah Lingkungan (Bagian C Angke. Bagian ini menyoroti praktik gaya hidup sehari-hari responden yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan. Tabel 4. 4 Distribusi Responden Berdasarkan Kebiasaan Membawa Botol Minum Sendiri (Q. Pilihan Jawaban Jumlah Responden Presentase (%) Selalu 41,2% Sering 20,6% Kadang-kadang 38,2% Tidak Pernah 0,0% Total 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti, 2025 Tabel 4. 4 menunjukkan bahwa 41,2% responden AuSelaluAy membawa botol minum sendiri, dan 20,6% AuSeringAy. Ini adalah indikator positif dalam upaya mengurangi sampah plastik. Namun, 38,2% masih AuKadang-kadangAy, yang berarti ada ruang untuk meningkatkan konsistensi kebiasaan ini agar dampaknya lebih signifikan terhadap pengurangan sampah (Algipari & Atman, 2. Tabel 4. 5 Distribusi Responden Berdasarkan Kebiasaan Membawa Tempat Makan Sendiri (Q. Pilihan Jawaban Jumlah Responden Presentase (%) Selalu 2,9% Sering 14,7% Kadang-kadang 64,7% Tidak Pernah 14,7% Total 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti, 2025 Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 Tabel 4. 5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden, yaitu 64,7%, menyatakan AuKadang-kadangAy membawa tempat makan sendiri. Sebanyak 14,7% menjawab AuSeringAy, dan hanya 2,9% yang AuSelaluAy. Sementara itu, 14,7% responden menyatakan AuTidak PernahAy. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan membawa wadah makan sendiri belum menjadi praktik rutin yang tertanam, berbeda dengan kebiasaan membawa botol minum yang lebih konsisten. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor kepraktisan, kebiasaan konsumsi instan, atau kesadaran ekologis yang belum terbentuk secara menyeluruh. Tabel 4. 6 Distribusi Responden Berdasarkan Kebiasaan Membuang Sampah pada Tempatnya (Q. Pilihan Jawaban Jumlah Responden Presentase (%) Selalu 61,8% Sering 38,2% Kadang-kadang 0,0% Tidak pernah 0,0% Total 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti, 2025 Tabel 4. 6 menunjukkan bahwa mayoritas responden 61,8% AuSelaluAy membuang sampah pada tempatnya, dan sisanya 38,2% AuSeringAy. Tidak ada responden yang AuKadang-kadangAy atau AuTidak pernahAy. Ini adalah kebiasaan dasar yang sudah sangat tertanam dan menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap pengelolaan sampah yang paling fundamental. Hal ini merupakan modal dasar yang sangat baik untuk pengembangan inisiatif pengelolaan sampah yang lebih kompleks. Sikap dan Pandangan Reflektif (Bagian D Angke. Bagian ini mengeksplorasi sikap dan pandangan reflektif responden terkait peran pribadi dan peran Gereja dalam menanggapi krisis ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab iman. DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT Tabel 4. 7 Distribusi Responden Berdasarkan Keyakinan tentang Peran Penting Orang Muda Katolik dalam Menjaga Lingkungan Hidup (Q. Pilihan Jawaban Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Total Jumlah Responden Presentase (%) 61,8% 17,6% 2,9% 17,6% 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti, 2025 Tabel 4. 7 menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu 61,8%, menyatakan AuSangat SetujuAy dan 17,6% AuSetujuAy mengenai peran penting Orang Muda Katolik (OMK) dalam menjaga lingkungan hidup. Hal ini mencerminkan keyakinan kuat bahwa OMK memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Namun, terdapat pula segmen signifikan, yakni 17,6% yang AuSangat Tidak SetujuAy dan 2,9% yang AuTidak SetujuAy, yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang perlu digali lebih lanjut. Perbedaan ini dapat menjadi fokus edukasi dan kampanye pastoral ekologis yang lebih intensif di kalangan OMK (Simanjuntak & Bangun, 2. Tabel 4. 8 Distribusi Responden Berdasarkan Kesediaan Terlibat dalam Aksi Lingkungan (Q. Pilihan Jawaban Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Total Jumlah Responden Presentase (%) 55,9% 32,4% 2,9% 8,8% 100,0% Sumber: Data Olahan Peneliti, 2025 Dari Tabel 4. 8 mayoritas responden sangat bersedia untuk terlibat dalam aksi lingkungan jika diajak oleh pihak kampus. OMK, atau Gereja. Sebanyak 55,9% AuSangat SetujuAy dan 32,4% AuSetujuAy. Ini menunjukkan potensi besar bagi inisiatif dari pihak kampus. OMK, atau Gereja untuk menggerakkan partisipasi nyata mahasiswa dalam isu Ada segmen kecil yang AuTidak SetujuAy 2,9% atau AuSangat Tidak SetujuAy 8,8%, yang bisa menjadi target intervensi khusus untuk meningkatkan motivasi. Kesediaan ini menggarisbawahi pentingnya peran kepemimpinan institusional dalam memfasilitasi keterlibatan orang muda dalam aksi ekologis (Kleden et al. , 2. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 Analisis Temuan Penelitian Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Katolik di Kalimantan Barat memiliki tingkat kesadaran awal terhadap krisis ekologis, namun kesadaran tersebut belum sepenuhnya membentuk pola tindakan konkret dan gaya hidup yang selaras dengan prinsip pertobatan ekologis. Kesenjangan antara pemahaman konseptual dan praksis harian mencerminkan bahwa nilai-nilai spiritual belum sepenuhnya menjiwai perilaku ekologis mereka. Data Q1 mengungkap bahwa hanya 47,1% responden yang pernah mendengar istilah Laudato SiAo. Mengingat dokumen ini adalah salah satu pilar utama ajaran Gereja Katolik tentang ekologi integral, rendahnya tingkat pengenalan tersebut menandakan jarak yang signifikan antara ajaran magisterium Gereja dan penerimaannya dalam lingkungan mahasiswa. Hal ini mengindikasikan belum terintegrasinya ajaran ekologi integral secara sistematis dalam pendidikan iman, perkuliahan, atau kegiatan kategorial kampus dan OMK, yang semestinya menjadi ruang formasi iman yang relevan secara Partsipasi dalam kegiatan lingkungan (Q. terlihat cukup baik: 41,2% responden menyatakan pernah terlibat, dan 35,3% terlibat secara cukup rutin. Namun, keterlibatan ini cenderung bersifat sementara dan belum menjadi bagian dari kebiasaan yang Salah satu penyebabnya kemungkinan adalah kurangnya dukungan dari lembaga kampus atau Gereja, serta belum adanya program lingkungan yang berjalan secara berkelanjutan. Akibatnya, nilai-nilai ekologis belum sungguh-sungguh tertanam dalam cara berpikir dan beriman mahasiswa. Pada aspek gaya hidup (Q3-Q. , sebanyak 41,2% responden sudah terbiasa membawa botol minum pribadi secara konsisten. Namun, terjadi perbedaan yang sangat mencolok pada kebiasaan membawa tempat makan sendiri hanya 2,9% yang melakukannya secara rutin. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tindakan-tindakan kecil yang seharusnya mencerminkan spiritualitas ekologis belum benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan iman sehari-hari. Gaya hidup ramah lingkungan masih sering dipandang sebagai pilihan tambahan, bukan sebagai tanggung jawab iman yang melekat dan terusmenerus dijalankan. DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT Sikap reflektif dalam Q6 dan Q7 menunjukkan bahwa mayoritas responden menyadari pentingnya peran Orang Muda Katolik dalam menjaga lingkungan dan menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam aksi ekologis. Namun kesiapan ini lebih bersifat reaktif terhadap dorongan eksternal, bukan lahir dari inisiatif iman yang mandiri dan berkelanjutan. Ini merupakan tantangan serius sekaligus peluang bagi Gereja dan kampus Katolik untuk merancang formasi iman yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga praksis mendorong internalisasi nilai ekologi integral dalam tindakan nyata. Temuan ini selaras dengan penelitian Simbolon et al. dan Tinenti et al. , yang menyimpulkan bahwa edukasi ekologis di kalangan umat Katolik belum sepenuhnya menghasilkan perubahan perilaku yang konsisten. Dalam konteks mahasiswa, dibutuhkan pendekatan formasi yang partisipatif dan kontekstual, misalnya dengan mengintegrasikan nilai-nilai Laudato SiAo ke dalam program pembinaan OMK, mata kuliah bernuansa spiritualitas ekologis, serta kebijakan kelembagaan di kampuskampus Katolik atau institusi yang membuka ruang bagi pendidikan iman dan aksi Oleh karena itu, refleksi iman yang ditunjukkan oleh mahasiswa Katolik perlu diarahkan menjadi gerakan ekologis berbasis komunitas dan spiritualitas, bukan sekadar kesadaran individual. Pertobatan ekologis hanya akan menjelma sebagai budaya iman jika ditopang oleh strategi kolaboratif antara Gereja, kampus, dan komunitas kemahasiswaan yang mendorong perubahan gaya hidup secara kolektif dan konsisten. Hal ini menegaskan adanya jurang antara refleksi iman dan refleks tindakan. Mahasiswa menyadari pentingnya tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari iman Kristiani, namun kesadaran tersebut belum cukup kuat untuk mendorong transformasi gaya hidup. Seperti ditegaskan dalam Laudato SiAo . , pertobatan ekologis bukan hanya transformasi pikiran, melainkan juga transformasi gaya hidup. Ketika hanya 2,9% responden konsisten membawa wadah makan sendiri, itu bukan sekadar angka kecil itu adalah cermin bahwa tindakan sehari-hari belum dipahami sebagai ekspresi iman. Iman yang tidak diwujudkan dalam aksi konkret akan membeku sebagai refleksi hampa, tak mampu menyentuh bumi yang terluka. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil evaluasi pelatihan pada nilai Paham kebangsaan, nilai Batang Garing, dan tes pengetahuan Paham kebangsaan dan nilai Batang garing pada pembelajaran PAK untuk meningkatkan paham kebangsaan siswa kelas XII Di SMAN 4 Palangka Raya, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut. menunjuk adanya perbedaan pada pengetahuan siswa mengalami peningkatan pemahaman pengetahuan lebih tinggi dibandingkan sebelum mengikuti pembelajaran PAK. Hasil evaluasi pelatihan Paham Kebangsaan dan nilai Batang Garing menunjukkan ada perbedaan peningkatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pembelajaran dibuktikan dengan hasil akhir evaluasi tes pengetahuan Paham kebangsaan dan nilai garing nilai z=-3. Batang dengan t=0,002. < 0,. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disampaikan beberapa saran . Kepala Sekolah selaku pengambil kebijakan, dapat menganjurkan kepada para guru untuk mengkombinasikan metode pembelajaran dengan memanfaatkan nilai-nilai budaya yang ada salah satunya nilai Batang Garing dalam metode . Para siswa disarankan untuk terus mengembangkan nilai-nilai kehidupan masyarakat agar terciptanya generasi penerus yang memiliki sikap yang adil, bijaksana dan toleransi. Penulis menyarankan bagi penulis selanjutnya untuk melaksanakan penelitian terusan di tempat yang berbeda supaya penelitian disampaikan dengan lebih sempurna. DAFTAR REFERENSI Antara. , & Yogantari. KERAGAMAN BUDAYA INDONESIA SUMBER INSPIRASI INOVASI INDUSTRI KREATIF. SENADA (Seminar Nasional Manajemen. Desain Dan Aplikasi Bisnis Teknolog. , 1, 292Ae301. Retrieved from https://eprosiding. id/index. php/senada/article/view/68 Dokumen Konsili Vatikan II. Terjemahan R. Hardawiryana. Jakarta: Obor. Ernawam. Pengaruh Globalisasi terhadap Eksistensi Kebudayaan Daerah di Indonesia. Jurnal Kajian Lemhannas RI, 32. , 1Ae54. Jurnal. Agustus 2022. https://ejournal. stp-aviasi. id/index. php/JIK/article/view/5/pdf Komisi Kateketik KWI. Menjadi Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik Untuk Sekolah Dasar. Yogyakarta: Kanisius. DARI DOA KE AKSI: REFLEKSI MAHASISWA KATOLIK ATAS KRISIS EKOLOGIS DI KALIMANTAN BARAT Licona. PENDIDIKAN UNTUK PENGEMBANGAN KARAKTER (Telaah terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating for Characte. Al-Ulum: Jurnal Studi Islam, 14. , 269Ae288. Agustus https://w. net/publication/290920065_PENDIDIKAN_UNTUK_P ENGEMBANGAN_KARAKTER_Telaah_terhadap_Gagasan_Thomas_Lickona_ dalam_Educating_for_Character/link/569c9c5408ae6169e5630e35/download Marwiyati. Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 8. , https://doi. org/10. 21043/thufula. Mohammad. Konflik Israel-Palestina ditinjau dari Kajian History. Jurnal Keamanan, 05. ,1Ae16. Agustus http://digilib. id/id/eprint/9529/ Munte. Pengaruh Efektifitas Pembelajaran Guru Pak Terhadap Peningkatan Nilai Afektif Siswa Kasus: Smp Negeri 1 Pematangsiantar. Jurnal Dinamika Pendidikan, 10. , 274. https://doi. org/10. 33541/jdp. 633 30 September 2022. Paramita. Representasi Nilai Pancasila Dalam Kebudayaan Bali. VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia, 2. , 142Ae154. https://doi. org/10. 32795/vw. 395 23 September 2022. Rahayu. Manajemen Diri. An-Nuha, 17. , 79Ae90. 21 September 2022. Rofifah. AoImplementasi Media Pembelajaran Permainan Ular Tangga IqroAo. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, pp. 12Ae26. Sarma. , & unyi. Jurnal Widya Katambung. Upacara Manyanggar Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Timpah Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas, 9, 1Ae12. 23 September 2022. Sianturi. , & Dewi. Penerapan Nilai Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Sehari Hari Dan Sebagai Pendidikan Karakter. Jurnal Kewarganegaraan, 5. , 222Ae231. https://doi. org/10. 31316/jk. September 2022. Supriyanto. Law Enforcement Regarding Human Rights According to Positive Law in Indonesia. Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, 2. , 151Ae168. 20 September 2022. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 53-67 Usop. , & Usop. Peran Kearifan Lokal Masyarakat Dayak dalam Mengembangkan Batik Benang Bintik di Kalimantan Tengah. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36. , 405Ae413. https://doi. org/10. 31091/mudra. 1502 21 September Widhiyaastuti. , & Ariawan. Meningkatkan Kesadaran Generasi Muda Untuk Berperilaku Anti Korupsi. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 1. 17Ae25. https://ojs. id/index. php/ActaComitas/article/view/39325 Winataputra. Pembudayaan Nilai - Nilai Pancasila Bagi Masyarkat Sebagai Modal Dasar Pertahanan Sosial. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 1. , 37Ae50. September 2022.