DEMONISASI TOPENG EGWUGWU: KAJIAN DINAMIKA INTERNAL DAN EKSTERNAL AGAMA ASLI AFRIKA MENGHADAPI KRISTENISASI Abstrak: Pertemuan kebudayaan, salah satunya dalam bentuk masuknya agama baru ke suatu wilayah, memicu dinamika internal dan eksternal pada individu dan masyarakat untuk mencari cara bereksistensi yang paling mengembangkan. Salah satunya adalah adaptasi model interaksi individu dan masyarakat melalui demonisasi. Novel Things Fall Apart karya Chinua Achebe . memperlihatkan demonisasi dalam agama asli suku Igbo di Nigeria melalui desakralisasi yang dinarasikan secara mengerikan tetapi kaya dan menarik sebagai penodaan topeng egwugwu. Melalui kajian atas demonisasi dalam Things Fall Apart ditemukan pemahaman mengenai agama sebagai relasi komunikasi metaforik di tingkat real dan surreal. Kajian juga memperlihatkan bahwa agama, melalui demonisasi yang memaksa dilahirkannya kosakata dan narasi baru, menjadi agen perubahan sosial. Meskipun demikian, demonisasi yang mengimplikasikan perubahan sosial tersebut tidak dengan sendirinya menjadi tanda berakhirnya agama, sebab agama juga berperan sebagai ksi yang memberi arah bagi persaudaraan yang dibentuk oleh umat manusia. Kata-kata Kunci: demonisasi, egwugwu, perubahan sosial, metafor, agama, kristenisasi Abstract: The encounters of cultures, among which is of religions, cultivate the internal and external dynamic of both individual and society in adapting their most edifying existence. The encounters fuel individual and social adaptation through various dimensions and types of interactions, one of which is demonization. Chinua AchebeAos Things Fall Apart . presents this drama of encounters through its fearful yet succulently rich narration of collisions between egwugwu religion of Mahasiswa program doktoral (S. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Jakarta. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. Igbo in Nigeria and Christianity. This paper elucidates the philosophical consequence of such a powerful presentation of the cultural collision within Igbo society in Things Fall Apart in understanding the phenomena of religion in human person and in humanity. First, religion serves the metaphoric communication between the real and the surreal. Second, demonization in religion enhances a social change through the redescription of its own vocabularies and narrative. Finally, religion serves as the ctional vision for the recreated solidarity among human Keywords: demonization, egwugwu, social change, metaphor, religion. Christianization PENDAHULUAN Things Fall Apart . karya Chinua Achebe merupakan sastra Afrika berbahasa Inggris yang sangat penting dalam diskursus kristenisasi Afrika yang terjadi mulai 1870-an sampai 1960. Bersama No Longer at Ease . dan Arrow of God . , novel-novel ini merupakan trilogi yang secara berurutan berlatar belakang kedatangan koloni Inggris di antara suku Igbo di Nigeria untuk pertama kalinya, periode ketika koloni Inggris mencapai kejayaan di Nigeria, dan saat-saat terakhir koloni Inggris meninggalkan Nigeria. Kristenisasi di antara suku Igbo sejak kedatangan Inggris itu menimbulkan pergerakan, tarik ulur, gesekan, pembaruan, atau pertentangan di dalam agama-agama asli Afrika. Metafor atas dinamika internal dan eksternal agama-agama asli tersebut adalah demonisasi topeng egwugwu yang diceritakan di dalam novel pertama trilogi ini. Things Fall Apart. Tulisan ini merupakan kajian sosiologis dan kultural atas metafor dalam novel Things Fall Apart. Kajian ini akan memperlihatkan konstruksi sosial dan mental peristiwa pencopotan topeng egwugwu. Dengan metode kritik apresiatif, kajian ini juga akan memperlihatkan potensi paling positif . hat gives life and the best o. dari demonisasi topeng DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 KISAH PENCOPOTAN TOPENG EGWUGWU OLEH ENOCH Diceritakan dalam Things Fall Apart bahwa merupakan pantangan bagi orang Umuo a untuk mencopot topeng egwugwu di hadapan publik, atau mengatakan dan melakukan sesuatu terhadapnya yang dapat merendahkan harkat egwugwu di mata orang banyak. 1 Enoch melanggar aturan ini justru pada hari raya tahunan penghormatan Dewa-dewa Bumi. Pada tahun itu, hari raya Dewa-dewa Bumi jatuh pada hari Minggu dan para egwugwu telah berada di sekitar gereja. Semua egwugwu memakai topeng dan pemimpinnya bersuara menyeramkan seperti guntur. Dari kepalanya keluar asap. Para perempuan yang baru selesai beribadah di gereja ketakutan dan tidak berani pulang ke rumah. Egwugwu sudah setuju untuk beristirahat dari jalanan supaya para perempuan bisa lewat, tetapi pada saat itu Enoch berteriak bahwa para egwugwu tidak akan berani mengusik orang-orang Kristen. Para egwugwu segera merangsek dan salah satunya memukul Enoch dengan tongkat rotan. Enoch membalas dan merenggut topeng yang dipakai egwugwu itu hingga copot dari wajah pemakainya. Egwugwu yang lain segera mengerumuni temannya yang telah dinodai itu, dan melindungi dari tatapan para perempuan dan anak-anak, sambil membawanya pergi. Orang-orang berkata bahwa Enoch telah membunuh roh nenek moyang dan suku Umuo a bergejolak Malamnya. Ibu para Roh berjalan di seluruh Umuo a menangis dengan suara sangat aneh dan menakutkan karena anaknya telah Seluruh suku menangis juga karena merasa kematiannya akan segera datang. Bagi orang Umuo a, egwugwu adalah simbol kebudayaan dan independensi. Egwugwu dipandang sebagai roh-roh nenek moyang klan yang pada hari Dewa-dewa Bumi keluar dari tanah kubur melewati lubang 3 Pada kenyataannya, mereka adalah sembilan tetua Umuo a yang Things Fall Apart, p. Things Fall Apart, p. Things Fall Apart, p. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. Di masyarakat mereka berfungsi sebagai hakim, mendengarkan keluhan-keluhan, menentukan hukuman, dan membuat keputusan bila terjadi kon ik. PENCOPOTAN TOPENG EGWUGWU SEBAGAI DEMONISASI Pencopotan topeng egwugwu bisa diinterpretasikan sebagai Kristenisasi kalau dilihat dari sisi Enoch. Sebab. Enoch adalah generasi pertama orang yang berpindah agama dari egwugwu ke agama Kristen. Tetapi, klan Umuo a mengalami peristiwa pencopotan topeng itu sebagai demonisasi. Hal itu bisa dilihat dari istilah-istilah metaforis yang dipakai klan untuk menamai peristiwa tersebut, yakni bahwa Enoch telah Aumerendahkan harkat kesucian egwugwu di depan kaum sudraAy . o reduce its immortal prestige in the eyes of the uninitiate. ,4 melakukan AupenodaanAy . Aumempertontonkannya di bawah tatapan seronok perempuan dan anak-anakAy . xpose it to the profane gaze of women and childre. ,5 Aumembunuh roh leluhurAy . illing the ancestral spiri. , dan hal itu merupakan tanda bahwa Auroh bangsa telah mendekati ajalnyaAy . he very soul of the tribe has reached its own deat. Linn Normand dalam tesisnya mengenai demonisasi relasi politik internasional menyebut suatu tindakan sebagai demonisasi kalau di dalamnya ada upaya komunikasi, melibatkan pemakaian metafor, dan gurisasi seseorang dengan iblis . Misalnya, seorang politikus melakukan demonisasi dengan menggambarkan lawannya sebagai iblis atau bersekutu dengan iblis. Demonisasi merupakan model interaksi dengan metafor, yang dilakukan dengan tujuan memosisikan seseorang atau pihak lain sebagai lawan. 7 Demonisasi berbeda dengan profanisasi, karena fokus profanisasi adalah sikap tidak hormat terhadap kekudusan dan biasanya ditunjukkan melalui kata-kata. Berbeda juga dari sekularisasi, karena seku4 Things Fall Apart, p. Things Fall Apart, p. Things Fall Apart, p. Normand. AuDemonisation in International Relations Politics: The Case of IsraelAe PalestineAy (DPhil thesis. University of Oxford, 2. , p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 larisasi adalah cara pandang material, yaitu bahwa moralitas dan kebijaksanaan merupakan hasil usaha manusia. Kaum sekuler percaya bahwa ada nilai lebih universal yang berlaku bagi agama manapun. Pencopotan topeng egwugwu oleh Enoch merupakan demonisasi kalau dilihat dari disposisi Enoch secara keseluruhan. Di novel Things Fall Apart, tokoh Enoch baru dimunculkan di paruh ketiga narasi, yaitu sebagai warga Umuo a yang paling getol mempromosikan agama baru (Protesta. yang diajarkan misionaris kulit putih. Br. Brown. Bahkan ia lebih getol dibanding misionarisnya. Ayah Enoch adalah pemimpin Kultus Ular. Barangkali kegetolannya pada agama baru adalah bentuk perlawanan kepada kultus ayahnya itu. Ia juga dirumorkan membunuh dan memakan ular piton yang disembah ayahnya itu. Achebe menggambarkan Enoch berbadan pendek tapi kekar, dengan kaki menyeruak sehingga kelihatan auranya yang selalu ingin berkelahi dan bercekcok. Kalau mendengarkan homili, ia merasa seolah-olah homili itu ditujukan kepada musuh-musuhnya, yaitu orang-orang yang masih menyembah ular atau taboo. Tidak sungguh bisa dipisahkan apakah pencopotan topeng egwugwu yang ia lakukan itu sebenarnya terjadi karena ia adalah orang yang selalu melawan orang lain dan suka mencari gara-gara, atau karena fanatisme terhadap agama barunya. Akan tetapi cukup jelas bahwa Enoch menempatkan anggota klan yang mengikuti agama egwugwu sebagai pihak berseberangan yang tabiatnya buruk dan kejam, misalnya praktik membuang anak kembar ke hutan atau membunuh seorang anak berdasar orakel. Bagi Enoch, adat istiadat klan merupakan persekutuan dengan iblis. Sebaliknya, orang-orang Umuo a percaya bahwa orang-orang gereja memakan daging manusia dan meminum darah. Hal itu juga mereka sebut sebagai suatu persekutuan dengan iblis. Dengan demikian, telah terjadi demonisasi timbal balik. Kedua pihak memandang pihak lain sebagai subjek yang mengerikan dan bersekutu dengan iblis. Yuval Noah Harari. AuSecularism,Ay dalam 21 Lessons for 21st Century (Vintage, 2. Things Fall Apart, p. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. DEMONISASI SEBAGAI FENOMENA MANUSIA BERAGAMA Reaksi keras suku Umuo a terhadap pencopotan topeng egwugwu menunjukkan bahwa desakralisasi topeng keagamaan dipahami sebagai Reaksi keras suku Umuo a terhadap demonisasi yang dialaminya itu pertama-tama bisa dilihat sebagai fenomena telah adanya struktur mental di dalam masyarakat Umuo a untuk memelihara yang sakral dari gangguan, atau mengembalikan kesakralan pada hal-hal yang telah ternoda, atau menghadapi akibat-akibat desakralisasi. Struktur mental itu terwujud dalam distingsi antara yang sakral dan tidak sakral dalam sistem topeng egwugwu. Karena sebuah distingsi selalu mengacu pada perbedaan posisi, dalam struktur mental masyarakat Umuo a tersebut terdapat pembedaan posisi antara yang sakral dan tidak sakral. Selain perbedaan posisi, ada juga sistem hubungan antara yang sakral dan tidak sakral. Meminjam istilah Walter Benjamin, sistem hubungan yang sakral dan tidak sakral itu dapat dianalogikan dengan hubungan antara karya seni dan auranya. Benjamin mengatakan bahwa dalam sistem fungsional barang seni sebagai alat kultus dan barang seni sebagai alat pertunjukan, semua yang telah direproduksi dan dijadikan barang jualan di pasar telah kehilangan AuauraAy-nya. 10 Barang seni mengalami profanisasi di dalam kemunculan replika atau reproduksi yang dibuat secara masal. Profanisasi berarti bahwa karya seni yang sudah dibuat replikanya itu tercerabut dari magic dan beralih ke domain real seni, yaitu seni yang berfungsi artistik dan politik. Seni yang otentik tersimpan di tempat surreal, tersembunyi dalam ruang privat, dan hanya boleh dilihat oleh beberapa yang memiliki privilese religius, artistik, atau politis. Dimengerti dengan model dari Walter Benjamin ini, reaksi keras suku Umuo a menandakan sangat intensifnya konektivitas hidup real dengan alam surreal dalam sistem mental masyarakat Umuo a. Alam surreal orang Umuo a itu digambarkan berisi gur- gur roh nenek moyang dan 10 Walter Benjamin. AuThe Work of Art in the Age of Mechanical ReproductionAy in Walter Benjamin. Illuminations: Essays and Re ections. Edited by Hannah Arendt. Trans. Harry Zohn (New York: Schocken Books, 1. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 gur dewa yang menurut mereka bisa terbang seperti burung. Alam surreal berisi pertentangan terus-menerus dewa atas bumi dan dewa bawah bumi yang imbasnya dirasakan oleh suku Umuo a di alam real. Dalam sistem semacam itu, penyakit busung perut dan lumpuh dialami sebagai kutukan yang berasal dari alam surreal. Orang yang terkena harus dibawa ke hutan supaya tidak mengotori bumi atas dan kalau meninggal tidak boleh dikubur supaya tidak mengotori bumi bawah. 12 Di bumi atas, dewa-dewa itu menampakkan diri sebagai egwugwu yang memerankan fungsi kehakiman. Di bumi bawah, dewa-dewa itu menampakkan diri dalam agbala, yaitu orang terpilih yang tinggal di dalam kegelapan lorong bawah tanah, yang memerankan fungsi penerjemah kehendak dewa-dewa. Egwugwu maupun agbala adalah komunikator suku Umuo a dengan surreal mereka. Penodaan terhadap komunikator itu, misalnya pencopotan topeng egwugwu atau pembunuhan ular suci, dimaknai terputusnya komunikasi yang real dengan surreal. Lebih dari itu, penodaan tersebut memposisikan surreal mereka sebagai bagian dari kekuatan iblis. Maka suku Umuo a gelisah dan bereaksi keras terhadap praktik penodaan topeng egwugwu karena demonisasi lewat penodaan itu membuat mereka berhadapan dengan kenyataan bahwa agama mereka adalah bagian dari demon yang akan berakhir pada kematian. Bagi mereka, kematian berarti keterputusan diri dan masyarakat mereka dengan yang surreal. Demonisasi dalam perobekan topeng egwugwu memperlihatkan bahwa dalam fenomena keagamaan terdapat sistem komunikasi antara yang real dengan yang surreal dan sebaliknya. Dengan bahasa Rudolf Otto, model komunikasi real dengan surreal seperti pada suku Umuo a itu merupakan model pengalaman numinous, yang merupakan pengalaman non-rasional, yang berupa ketidakmengertian . , rasa takut . , dan rasa terpikat . 11 Things Fall Apart, p. 12 Things Fall Apart, p. 13 Mariasusai Dhavamony. Fenomenologi Agama (Phenomenology of Religion, 1. Diterjemahkan oleh A. Sudiarja, dkk. (Yogyakarta: Kanisius, 1. , p. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. Memeluk agama Kristen bagi Enoch tidak lantas menghilangkan adanya melainkan mengganti metafor dan cara komunikasi antara real dan surreal tersebut. Misalnya. Chukwu sebagai Yang Tertinggi14 dalam hierarki para dewa Umuo a dipahami sebagai Allah Bapa yang Mahakasih, yang tidak menakutkan dan tidak menghukum. Kehadiran Allah Bapa itu tidak terwujud dalam patung-patung kayu yang dipasang di dinding rumah, keputusannya tidak disampaikan oleh egwugwu, dan kehendaknya tidak disampaikan melalui ramalan agbala. Enoch mendemonisasi sebagian sistem dalam agama Umuo a dan menggantinya dengan mendengarkan Kitab Suci sebagai cara mendengarkan kata-kata Tuhan, menyanyi untuk memuji-Nya, memakan obat untuk menyembuhkan penyakit, atau memberikan dana sebagai cara berkorban. Menurut para misionaris Kristen yang datang di Umuo a, cara-cara tersebut lebih rasional dan lebih membuat maju. Untuk bisa maju dalam hidup keagamaan, klan Umuo a didorong untuk belajar membaca dan menulis. Dengan istilah real dan surreal, demonisasi oleh Enoch atas agama Umuo a dilihat dari perspektif Things Fall Apart adalah kehancuran sistemik internal dan eksternal pada individu dan klan. Tetapi, demonisasi itu membuat suku Umuo a bersentuhan dengan dimensi lain kehidupan beragama, yaitu pentingnya penggunaan nalar, perlunya membuat interpretasi bahasa, dan perlunya teknologi sebagai sarana mencapai kesempurnaan diri. Dari perspektif Benjamin, desakralisasi dalam agama yang menggerakkan demonisasi ternyata merupakan proses penting, karena demonisasi merupakan mekanisme paksa bagi semua hal Auyang sakralAy dalam agama untuk melahirkan cara bereksistensi yang lebih baik bagi Kendati demikian, model komunikasi antara real dan surreal melalui demonisasi tersebut menyisakan pertanyaan mengenai kelangsungan agama sebagai sebuah tradisi. Chinua Achebe sebagai penulis novel melihat peralihan sistem relasi dengan Tuhan di antara suku Umuo a itu se- 14 Things Fall Apart, p. 15 Things Fall Apart, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 bagai peristiwa ambyar, tiada ikatan lagi, things fall apart, yang kemudian dipakai sebagai judul novel. Demikian penggambaran Achebe: Orang kulit putih sangat cerdik. Ia datang diam-diam dan pelan-pelan membawa agamanya. Kita tertipu oleh "kebodohan" dan mempersilakannya tinggal. Sekarang ia telah merebut saudara-saudara kita, dan klan tidak berbuat seperti dulu lagi. Ia telah memotong satu-satunya tali yang mampu menyatukan dan kita ambyar berserakan. Apakah demonisasi membuat suatu agama ambyar? Apakah pergantian sistem relasi dengan Tuhan, seperti terjadi dalam perpindahan agama, akan membuat suatu agama ambyar? Apakah semakin digunakannya rasionalitas dalam beragama mempercepat proses kematian agama itu Jawaban terhadap pertanyaan ini ada dalam sifat keagamaan dan masyarakat Umuo a sendiri, dan sungguh mengejutkan. Ulasannya akan diberikan di bagian terakhir tulisan ini. DEMONISASI DAN PERUBAHAN SOSIAL Demonisasi dalam agama, seperti perobekan topeng egwugwu oleh Enoch, selain merupakan fenomena sistem komunikasi manusia . ebagai yang rea. dengan surreal atau autentisitasnya, juga memperlihatkan fungsi agama dalam hidup manusia. Dengan memakai konsep agama sebagai konstruksi hati menurut Evan Pritchard,17 perobekan topeng egwugwu dapat dibaca sebagai ketidakbahagiaan atas sistem sosial yang berlaku di tempat agama itu dihidupi. Dengan demikian, terlihat bahwa demonisasi tidak hanya menggambarkan ambyar-nya sistem relasi real dan surreal, tetapi juga sistem politik dan kultural masyarakat yang juga ambyar. 16 AuThe white man is very clever. He came quietly and peaceably with his religion. were amused at his foolishness and allowed him to stay. Now he has won our brothers, and our clan can no longer act like one. He has put a knife on the things that held us together and we have fallen apart. Ay (Things Fall Apart, p. 17 Terutama yang ia tulis dalam Witchcraft. Oracles, and Magic among the Azande (Oxford. England: Clarendon Press, 1. , p. Pritchard mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat Azande kepada sihir dan tenung menunjukkan relasi bahagia mereka dengan realitas religius. Secara sik, relasi bahagia ini kelihatan dalam kesehatan, panenan melimpah, nasib yang baik, dan relasi sosial yang harmonis. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. Fungsi agama egwugwu dalam masyarakat Umuo a yang diceritakan dalam Things Fall Apart terde nisi pada cara Okonkwo, tokoh utama novel, memahami arti membangun rumah, menanam yam, dan berperang. Pertama-tama perlu dipahami bahwa Okonkwo tidak pernah melihat dirinya sebagai individu, tetapi selalu merasa bahwa dia adalah manusia Umuo a. Manusia Umuo a yang sejati memiliki kejantanan . , memiliki kepribadian ilahi yang kuat . , dan mempunyai kemampuan mengikat atau menyatukan . Bagi Okonkwo, membangun kompleks rumah18 merupakan pekerjaan seorang lelaki yang matang. Kompleks tersebut akan diberi garis batas, supaya menjadi jelas arti intervensi, intrusi, atau agresi pihak lain. 19 Garis batas kompleks menegaskan sikap apakah ia sepakat atau tidak dengan pihak lain. Dikeluarkan dari kompleks, seperti ketika ia mengusir Mr. Brown, misionaris di daerah itu,20 berarti bahwa sesuatu tidak disepakati. Di kompleks tersebut. Okonkwo akan membangun lumbung besar dan memenuhinya dengan Jumlah yam untuk dimakan dan untuk bibit di musim tanam berikutnya, menunjukkan kualitas chi yang ia miliki. Chi seorang Umuo a sejati harus kuat, dan buktinya adalah yam yang tumbuh subur dan beranak banyak. 21 Ia juga mendirikan gubuk-gubuk sesuai jumlah istrinya. Semua yang ada di dalam kompleks ada dalam otoritasnya. Ia memukul istrinya untuk menegakkan disiplin, bahkan ia memutuskan membunuh Ikemefuna, anaknya, sesuai yang dikatakan orakel. Mengikat berarti menguasai, tetapi juga melindungi. Hal ini berlaku tidak hanya mengenai kompleks, tetapi juga menyangkut seluruh suku. Okonkwo adalah yang paling keras bereaksi terhadap penodaan egwugwu. Baginya, penodaan egwugwu itu adalah sekaligus pembunuhan identitas Umuo a, tanda ketidakmampuan Umuo a mempertahankan ikatan klan, dan sikap orang Umuo a tidak mau berperang untuk melakukan pembalasan merupakan lemahnya kejantanan Umuo a. 18 Things Fall Apart, p. 19 Things Fall Apart, p. 20 Things Fall Apart, p. 21 Things Fall Apart, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 Disimpulkan dari cara pandang Okonkwo itu, dengan membandingkan temuan Evan Pritchard dalam studinya mengenai agama Nuer di suku Azande Afrika,22 bagi masyarakat Umuo a agama egwugwu berfungsi sebagai ilmu pengetahuan, sebagai kekuatan sosial, dan referensi keputusan dan perilaku. Pritchard mengatakan bahwa disposisi suatu kelompok masyarakat terhadap agama relatif sebanding dengan kemampuan agama tersebut melakukan fungsi-fungsinya. Masyarakat bisa mengalami ketidakbahagiaan kalau agama sudah tidak berfungsi dengan baik bagi perkembangan. Dalam kasus tindakan Enoch merenggut topeng egwugwu, ketidak-bahagiaan terjadi setelah ia memperoleh narasi dan pengetahuan baru dalam Kristianitas mengenai sistem masyarakat yang lebih egalitarian. Hal itu dibumbui kecenderungan pribadinya untuk melawan otoritas, karena ia sangat sensitif terhadap segala bentuk kekuasaan. Bagi Enoch, egwugwu adalah manifestasi kekuasaan ayahnya atau otoritas beberapa orang di dalam suku Umuo a yang mencengkeram kuat alam pikir dan perilaku sukunya. Tetapi bagi sebagian warga Umuo a, egwugwu adalah penggerak penting masyarakat Umuo a. Umuo a tidak memiliki kelas-kelas sosial di masyarakatnya, tidak memiliki hukum sipil dan otoritas untuk mengambil keputusan dan tidak memiliki polisi dan tentara bersenjata. 23 Tanpa egwugwu, masyarakat tidak mempunyai daya untuk berdinamika dan melangsungkan diri sebagai masyarakat suku. Maka betul bahwa di mata Okwonko kematian egwugwu adalah kematian Umuo a sebagai masyarakat. Kehadiran Kristianitas di antara masyarakat Umuo a, baik bagi Enoch maupun anggota suku Umuo a, adalah tuntutan perubahan dalam sistem sosial. Kristianitas adalah narasi baru, cermin baru, model baru cara bermasyarakat. 22 Evan Pritchard. Witchcraft. Oracles and Magic among Azande (Oxford: Oxford University Press, 1. merupakan studi agama yang dipandang sebagai sistem epistemologi, sistem sosial dan politik, dan sistem praktis. 23 Neena Gandhi. AuCrossing Literary Frontiers: Religious Perspectives. Magic and Witchcraft in the Novels of Cary and AchebeAy. In International Journal of Arts & Sciences. CDROM. ISSN: 1944-6934, vol. : 91Ae100 . (InternationalJournal. ), p. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. Okonkwo, yang telah mereguk reputasi sebagai pahlawan besar di suku Umuo a, bersama beberapa tetua yang menduduki posisi prestis, adalah kelompok yang paling tidak ingin berubah. Ia memprotes keras keengganan Umuo a untuk berperang melawan para misionaris. Sebab ia telah melihat hilangnya kejantanan Umuo a, lenyapnya roh kepribadian . mereka, dan putusnya ikatan sosial di antara mereka. Okonkwo memilih menggantung diri di pohon. 24 Kehadiran Kristianitas bagi Okonkwo menghancurkan konstruksi hati Umuo a yang lama ia bangun dengan sistem agama egwugwu. Ia tidak melihat di luar konstruksi tersebut alasan bahwa kehidupan suku Umuo a harus dilanjutkan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah benar perubahan sosial yang dipaksa terjadi melalui demonisasi seperti dialami Okwonko adalah suatu kehancuran agama? VISI AGAMA-AGAMA Setiap re eksi mengenai agama tidak terhindar dari pertanyaan mengenai hal yang paling positif dari agama. Upaya untuk mendeskripsikan aspek positif agama telah dicoba dijawab dari perspektif bahwa manusia itu mampu dan terbuka pada yang transenden, bahwa manusia menghendaki kebaikan, dan bahwa manusia hidup dalam suatu historisitas. Dalam pembahasan mengenai demonisasi dalam tulisan ini, sifat positif agama akan ditinjau dari relevansi agama bagi visi kemanusiaan. Dalam pembahasannya, akan dilihat juga relevansi demonisasi bagi perkembangan peradaban manusia secara umum. Menurut Juval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century . , ideologi modern, ahli-ahli ilmu pengetahuan, dan pemerintahan negara sampai saat ini belum sanggup memberikan visi mengenai kemanusiaan. Pencarian ditagihkan kepada kekayaan agama-agama, termasuk agama-agama besar Kristianitas. Islam, dan Hinduisme. 24 Things Fall Apart, p. 25 Bdk. Sastrapratedja. Pendidikan Sebagai Humanisasi (Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2. , tentang kebudayaan. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 Untuk memperlihatkan jawaban terhadap tagihan kepada agamaagama. Harari memberi kerangka dengan menjejerkan relevansi agama di antara tiga jenis persoalan yang dihadapi manusia, yaitu persoalan teknis, persoalan kebijakan, dan persoalan identitas. Ia berpendapat bahwa mengenai persoalan teknis seperti kesehatan dan pertanian, agama tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya. Daripada agama, ilmu pengetahuan dan teknologi jauh lebih memiliki eksibilitas dan sifat mau berubah serta progresivitas untuk menyelesaikan persoalan-persoalan Pada abad XXI, ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya menyelesaikan persoalan, tetapi bahkan sudah sampai tahap merekayasa hal-hal teknis hidup manusia. Sedangkan mengenai persoalan kebijakan, seperti kebijakan sosial dan ekonomi, agama-agama besar memang bisa memberikan pendapatnya. Maka ada ajaran sosial gereja, ada ensiklik Laudato SiAo, ada ekonomi Syariah, ada ekonomi modern Hindu, yang berdialog dengan model ekonomi sekuler seperti sosialisme, kapitalisme, atau ekonomi Pancasila. Akan tetapi, menurut Harari, pada abad XXI, agama-agama dan pandangan sekuler justru harus merujuk pada teoriteori ilmiah dan arus politik,26 dan bukan kembali kepada kitab-kitab ketika berbicara atau menyikapi persoalan-persoalan kebijakan. Menurut Harari, kontribusi paling relevan agama-agama bukan pada terjawabnya persoalan teknis dan persoalan kebijakan, tetapi bahwa agama bisa diharapkan menjawab persoalan identitas manusia abad XXI. Pada abad XXI, agama-agama tidak menurunkan hujan, tidak menyembuhkan penyakit, tidak merakit bom, tetapi agama-agama itu membuat kita mampu menentukan siapa AukitaAy dan siapa AumerekaAy yang akan kita sembuhkan atau kita bom saja. Harari sebagai sejarawan kawakan abad XXI menyimpulkan penelitiannya bahwa disadari atau tidak, banyak pemerintahan negara mengadopsi perangkat dan struktur modernitas terbaru dengan tetap mem26 Harari, 2018. 27 AuSo in the twenty- rst century religions donAot bring rain, they donAot cure illnesses, they donAot build bombs Ae but they do get to determine who are AousAo and who are AothemAo, who we should cure and who we should bomb. Ay Lihat AuReligionAy dalam Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century, 2018. Demonisasi Topeng Egwugwu (Lucianus Suharjant. pertahankan agama-agama tradisional sebagai identitas nasional. Sekuno apa pun itu, agama selalu dapat dikawinkan dengan gadget dan institusi paling rumit sekalipun. 28 Menurut Harari, kekuatan agama terletak pada kemampuannya menjadi ksi bagi manusia yang kenyataannya terhubung satu sama lain, dalam kelompok lokal maupun global. Pada abad XXI, umat manusia semakin terhubung dan bahkan semakin menjadi satu Bukan teknologi, bukan kebijakan, tetapi agamalah yang menjadi sumber identitas kesatuan umat manusia tersebut. Pandangan Harari ini berlaku juga mengenai masyarakat Umuoa. Apakah Umuo a akan ambyar seperti dibayangkan oleh Okonkwo? Apakah topeng pada agama egwugwu akan terus dipakai? Jawabannya Masyarakat Umuo a memiliki kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mereka simpan dalam peribahasa-peribahasa. Salah satunya dikatakan dalam Things Fall Apart ketika krisis pencopotan topeng egwugwu dan pembakaran gereja terjadi. AuKlan Umuo a itu seperti kadal. kalau ekornya putus, segera akan tumbuh ekor yang baru. Ay29 Peribahasa ini mirip peribahasa lain di novel No Longer at Ease. AuDi manapun sesuatu berdiri, di sampingnya pasti ada sesuatu berdiri juga. Ay30 Kematian Okwonkwo mengingatkan bahwa sikap kaku bukanlah kebijaksanaan sejati manusia Umuo a. Kebijaksanaan sejati manusia Umuo a adalah eksibilitas seekor kadal, yang bersumber dari kesabaran dan harapan pada kekuatan kehidupan. Kebijaksanaan sejati agama egwugwu adalah kedamaian, yang memberi kehidupan kepada segala sesuatu yang ingin tumbuh atau yang bahkan ingin melintasi garis batas kompleks real dan surreal mereka. Umuo a dan egwugwu tidak akan pernah ambyar karena keduanya adalah manifestasi eksibilitas Auseekor kadalAy pada manusia dan relasi damai pada sistem real dan surreal manusia. Kalau Harari masih penasaran mencari nilai-nilai yang lebih universal, sebaiknya ia menengok sebentar peribahasa-peribahasa manusia Umuo a ini. 28 Harari, 2018. 29 AuThe clan was like a lizard. if it lost it tail it soon grow another. Ay Things Fall Apart, p. 30 AuWherever something stands, something else will stand beside it. Ay The African Trilogy, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 55-69 DAFTAR RUJUKAN Achebe. Chinua. Things Fall Apart . In Chinua Achebe. The African Trilogy. New York: Pinguin Classics, 2018. Baudrillard. Jean. The Transparency of Evil. New York: Verso, 1990. Benjamin. Walter. AuThe Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction. Ay In Walter Benjamin. Illuminations: Essays and Re ections. Trans. by Harry Zohn. New York: Schocken Books, 1968. Dhavamony. Mariasusai. Fenomenologi Agama. Terj. Sudiarja, dkk. Yogyakarta: Kanisius, 1973. Gandhi. Neena. AuCrossing Literary Frontiers: Religious Perspectives. Magic and Witchcraft in the Novels of Cary and Achebe. Ay In International Journal of Arts & Sciences. CD-ROM. ISSN: 1944-6934: vol. : 91Ae100 . InternationalJournal. Harari. Yuval Noah. 21 Lessons for the 21st Century. Vintage. Online Book, 2018. http://93. 29/ads/E9E2F54D5734E480D77914672E169BFC. Accessed on November 2020. Normand. AuDemonisation in International Relations Politics: The Case of IsraelAePalestine. Ay Ph. Thesis. Oxford: University of Oxford. Pals. Daniel L. Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama [Seven Theories of Religion, 1. Terj. Inyiak Ridwan Muzir dan M. Syukri. Yogyakarta: IRCiSoD. Pritchard. Evan. Witchcraft. Oracles and Magic among Azande. Oxford: Clarendon Press, 1937. Sastrapratedja. Pendidikan sebagai Humanisasi. Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2013.