Pengembangan Media Audiovisual Berbasis Kearifan Lokal pada Siswa Sekolah Dasar Zainab1. Abdul Pirol2. Lilis Suryani3 1,2,3Institut Agama Islam Negeri Palopo 1qubrazain21@gmail. Abstract. This research explores the needs analysis, design, validity, and practicality of audiovisual media focused on the theme "Beautiful Diversity in My Country" based on local wisdom at SDN 22 Murante. Using the R&D method with the ADDIE model, data were gathered through interviews, questionnaires, and tests, then analyzed qualitatively and quantitatively. The study involved 17 fourth-grade students. Findings suggest the ongoing learning process requires innovative audiovisual media addressing the theme. The designed media, associated with local tribal conditions, achieved a validity of 85. 33%, signifying very high validity. Practicality, involving 17 students and a teacher, scored 89% and 97%, respectively, indicating high practicality. Keywords: Audiovisual Media. Multicultural. Local Wisdom Pendahuluan Indonesia memiliki keragaman dari berbagai aspek berupa budaya, agama, suku serta bahasa (Akhmadi, 2. Keragaman budaya mengacu pada banyaknya cara yang dilakukan masyarakat tertentu dalam menjalani hidup, berpikir, dan bertindak serta mencakup segala sesuatu seperti jenis pengetahuan, kepercayaan, seni serta adat istiadat. Keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia merupakan identitas bangsa (Antara & Yogantari, 2. Keragaman tersebut telah menjadi ciri khas suatu daerah tertentu (Yulianti, 2. Setiap wilayah Indonesia memiliki karakteristiknya tersendiri yang menjadi pembeda baik itu dari segi suku, bahasa, pakaian adat, makanan tradisional, maupun adat istiadat lainnya. Keragaman tersebut harus dipertahankan agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitasnya. Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa. Salah satu cara mempertahankan keragaman tersebut yaitu dengan memberikan pembelajaran terkait keragaman suku bangsa pada generasi bangsa Indonesia yang dapat diperoleh pada jenjang pendidikan. Agar tujuan dari pembelajaran ini tercapai maka guru harus menyampaikan isi pembelajaran tersebut dengan baik. Guru dapat menggunakan berbagai media pembelajaran sebagai bantuan agar pembelajaran di kelas bisa terlaksana dengan baik. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat bisa dimanfaatkan oleh para pendidik agar dapat menunjang proses belajar, terkhusus pengembangan perangkat pembelajaran (Rajagukguk & Rambe, 2. Peserta didik membutuhkan media pembelajaran menarik serta bisa mendorong peserta didik lebih kreatif pada proses belajar mengajar (Yusrah & Hasanah, 2. Media pembelajaran merupakan suatu sarana dan prasarana yang dapat digunakan pada kegiatan pembelajaran agar makna pesan dapat tersampaikan dengan baik dan jelas serta tujuan pendidikan maupun pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien (Dwijayani, 2. Media pembelajaran merupakan instrumen yang bisa dimanfaatkan agar proses belajar mengajar lebih efektif dan optimal (Fadilah et al. Dari pendapat tersebut disimpulkan media pembelajaran merupakan instrument yang berguna pada kegiatan pembelajaran agar materi dapat tersalurkan dengan jelas serta tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai. Media pembelajaran digital bisa dimanfaatkan agar memudahkan proses pembelajaran serta memecahkan kendalanya (Satrio & Rini, 2. Berdasarkan permasalahan serta mengingat pentingnya media dalam proses pembelajaran, maka mengembangkan media audiovisual yang dipadukan tema indahnya keragaman di negeriku yang kemudian dikaitkan dengan kondisi suku di daerah sekitar siswa. Hal tersebut 11 Socratika: Journal of Progressive Education and Social Inquiry | Vol. 1 No. 1 Januari 2024 sejalan dengan hasil wawancara dengan wali kelas IV SDN 22 Murante Kota Palopo. Hasil wawancara menunjukkan bahwa saat proses pembelajaran sedang berlangsung, guru kurang berinovasi dalam menggunakan perangkat pembelajaran. Guru hanya menggunakan media pembelajaran berupa gambar atau bahkan hanya memanfaatkan buku peserta didik dan buku guru yang disediakan oleh sekolah. Dengan keterbatasan penggunaan media menjadi salah satu kendala peserta didik kurang semangat dalam proses belajar mengajar sehingga sulit memahami materi pada tema indahnya keragaman di negeriku. Maka dari itu peneliti menyimpulkan bahwa salah satu penyebab kurangnya semangat serta motivasi yang mengakibatkan peserta didik sulit memahami materi indahnya keragaman di negeriku yakni kurangnya penggunaan media yang bisa meningkatkan perhatian serta minat belajar peserta didik. Selain itu sangat diperlukan adanya inovasi media pembelajaran maka dari itu sangat dipenting untuk memanfaatkan media yang tepat dalam proses pembelajaran belajar. Berdasarkan kondisi yang ada, perlu dilakukan pengembangan terhadap media pembelajaran yang lebih berinovasi khususnya materi yang terdapat di tema indahnya keragaman di negeriku sehingga mampu meningkatkan semangat dan motivasi peserta didik. Pengembangan media seperti media audiovisual dapat dimanfaatkan sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa. Media audiovisual yaitu gabungan media gambar serta suara yang diputar dengan perangkat lunak seperti video player. Dalam hal kualitas, media pembelajaran seperti ini lebih unggul karena melibatkan dua jenis media yaitu melihat dan mendengar. Potensi penggunaan media ini adalah untuk memperkuat efektivitas dalam menyampaikan pengetahuan, sikap dan ide. Dengan adanya hal ini, materi pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan mencapai hasil belajar yang diharapkan (Ardyanto, 2. Proses belajar mengajar menggunakan media audiovisual dapat membantu peserta didik menggali pengetahuan serta pengalaman yang sebelumnya sulit diperoleh. Media tersebut mampu menghasilkan minat peserta didik untuk belajar karena tampilan visual serta berbagai informasi yang menarik. Dengan penggunaan media ini siswa akan menerima rangsangan yang sesuai dengan harapan (Yuanta, 2. Penelitian terdahulu yang relevan mengungkapkan bahwa pengembangan media audiovisual berbasis Doratoon namun pada materi hak dan kewajiban penggunaan sumber energi mata pelajaran Ppkn efektif digunakan (Fauziah & Ninawati, 2. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa kuis interaktif yang menggunakan aplikasi classpoint layak digunakan pada pokok materi indahnya keragaman di negeriku (Kurniawan & Ika Yatri, 2. Sementara hasil penelitian lain juga mengungkapkan bahwa bahan ajar berupa modul elektronik berbasis kearifan lokal layak digunakan untuk memperkenalkan tradisi balumbo biduk kepada peserta didik dengan harapan bisa menambah wawasan tentang budaya lokal serta meningkatkan minat peserta didik untuk menggali budaya, dan ikut serta untuk melestarikan budaya lokal yang ada di lingkungan sekitarnya (Zulkhi et al. , 2. Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada penelitian sebelumnya belum ada yang secara khusus melakukan pengembangan media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku yang dikaitkan dengan kondisi suku di daerah sekitar peserta didik. Sehingga penelitian ini difokuskan pada pengembangan media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian R&D (Design and Developmen. atau dikenal dengan istilah penelitian pengembangan dengan model pengembangan ADDIE, dengan lima tahapan antara lain:analysis, design, development, implementation dan evaluation. Penelitian ini dilakukan di SDN 22 Murante Kota Palopo. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN 22 Murante Kota Palopo. Sedangkan objek dari penelitian ini yaitu media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Zainab. Pengembangan Media Audiovisual 12 wawancra, tes, angket yang kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil data atau skor angket akan dihitung berdasarkan skala likert . riteria 1-. Tabel 1. Skala Likert Skor Kriteria Tidak Valid . idak bisa digunaka. Kurang Valid . apat digunakan dengan revisi besa. Cukup Valid . apat digunakan dengan revisi keci. Valid . apat digunakan tanpa revis. Untuk menentukan hasil validasi dari produk, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut: Ocycycoycuyc ycyyceyc ycnycyceyco ycyyceycycyceycuycycaycyce = y 100% ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Hasil persentase tersebut yang kemudian dikategorikan berdasarkan tabel berikut: Tabel 2. Pengkategorian Tingkat Validitas Produk Interval Skor Kategori 0 - 20 Tidak Valid 21 - 40 Kurang Valid 41 Ae 60 Cukup Valid 61 Ae 80 Valid 81 - 100 Sangat Valid Sumber: Riduwan, 2008 Setelah uji validasi ahli dan produk dinyatakan layak untuk diuji tahap selanjutnya pada uji Analisis praktikalitas menggunakan skala likert. Untuk menentukan hasil praktikalitas dari produk, menggunakan rumus sebagai berikut: Ocycycoycuyc ycyyceyc ycnycyceyco ycyyceycycyceycuycycaycyce = y 100% ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Berdasarkan hasil praktikalitas produk, persentase dikategorikan berdasarkan tabel berikut: Tabel 3. Pengkategorian Tingkat Kepraktisan Produk Interval Skor Tingkat validitas 0 Ae 20 Tidak Praktis 21 Ae 40 Kurang Praktis 41 Ae 60 Cukup Praktis 61 Ae 80 Praktis 81 Ae 100 Sangat Praktis Sumber: Riduwan, 2008 Hasil Tahap pengembangan produk menggunakan model penelitian pengembangan ADDIE, dengan tahapan antara lain: Analysis. Design. Development. Implementation dan Evaluation. Tahap pengembangan pada penelitian ini produk hanya sampai di tahap implementasi. Tahap pengembangan produk yaitu sebagai berikut: 13 Socratika: Journal of Progressive Education and Social Inquiry | Vol. 1 No. 1 Januari 2024 Analysis . kebutuhan media dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan Tahap analisis ini, terdapat beberapa tahapan yaitu analisis kinerja, menganalisis fungsi tugas, mengkonstruksi penilaian performance analisis tujuan dan analisis setting instruksional. Analisis Kinerja Berdasarkan hasil analisis kebutuhan dengan menggunakan instrumen berupa angket peserta didik dan wawancara guru . ali kelas IV SDN 22 Murante Kota Palop. , dari hasil analisis penggunaan media peneliti memperoleh informasi bahwa penggunaan media sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Dengan penggunaan media dapat membuat siswa menjadi lebih senang, dibandingkan jika guru hanya menjelaskan saja membuat siswa menjadi tidak fokus. Siswa lebih tertarik jika menggunakan media pembelajaran. Dalam hal ini menandakan bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran sangat dianjurkan agar dapat membantu guru menyampaikan materi dengan baik dan dapat membantu siswa agar dengan mudah memahami materi pembelajaran yang diberikan. Peneliti juga memberikan instrument seperti angket kepada peserta didik untuk mengetahui pandangan siswa terhadap masalah dasar yang dihadapi dalam proses belajar mengajar khususnya penggunaan media audiovisual pada tema materi tema indahnya keragaman di negeriku. Pada angket tersebut peneliti memberikan pernyataan terkait masalah yang dialami saat proses belajar pada materi tema indahnya keragaman di negeriku. Berikut hasil angket peserta didik: Ya. Saya sulit memahami materi tema indahnya keragama di negeriku 29,4% 70,6% Tidak. Saya sulit memahami materi tema indahnya keragaman di Gambar 1. Kesulitan memahami materi Sangat jelas terlihat pada gambar di atas, dari 17 orang peserta didik di kelas IV SDN 22 Murante sebanyak 70,6% yaitu sebanyak 12 orang peserta didik menyatakan sulit memahami materi tema indahnya keragaman di negeriku yang diberikan guru dan sisanya sebanyak 29,4% yaitu sebanyak 5 orang peserta didik menyatakan bahwa tidak kesulitan memahami materi indahnya keragaman di negeriku yang diberikan guru. Wawancara yang dilakukan dengan guru kelas IV peneliti memperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran guru tidak selalu menggunakan media. Dalam penggunaan media, guru selalu menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Jika materi sangat perlu menggunakan media, maka guru akan menggunakan media. Terkhusus pada materi pembelajaran tema indahnya keragaman di negeriku terkadang guru menggunakan media pembelajaran, kadang juga tidak. Tapi penggunaan media tersebut kembali disesuaika dengan keadaan siswa. Jika materi dijelaskan tanpa media tapi siswa masih dapat memahami materi, maka guru hanya menjelaskan saja. Akan tetapi jika siswa lebih paham jika menggunakan media, maka guru akan menggunakannya. Media yang biasanya digunakan dalam materi tema indahnya keragaman di negeriku yaitu media gambar. Menganalisis arah fungsi tugas Analisis arah fungsi tugas diperoleh melalui wawancara peneliti memperoleh informasi siswa tidak selalu mengerjakan tugas sesuai standar kompetensi yang ditentukan. Mengkontruksi penilaian performance Wawancara yang dilakukan dengan wali kelas IV peneliti memperoleh informasi mengenai hal-hal yang menjadi penyebab materi tema indahnya keragaman di negeriku sulit dipahami peserta didik Zainab. Pengembangan Media Audiovisual 14 sehingga mengakibatkan tugas yang diberikan tidak dikerjakan dan diselesaikan sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan dikarenakan pengetahuan pada materi tersebut sangat luas, sedangkan siswa cenderung kurang membaca dan siswa menjadi kurang tertarik pada materi, sehingga mengakibatkan peserta didik sulit untuk memahami materi tersebut. Analisis Tujuan Hasil analisis tujuan diperoleh melalui pemberian tes kognitif terkait materi keragaman suku bangsa. Tes kognitif tersebut kemudian peneliti bagikan kepada peserta didik dengan memperoleh tes yang disajikan pada diagram berikut ini: 35,3% Peserta didik yang mampu menjawab tes 64,7% Peserta didik yang tidak mampu menjawab tes Gambar 2. Hasil angket pemahaman materi tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal Berdasarkan hasil angket peserta didik tersebut peneliti menemukan informasi dari 17 orang peserta didik, hanya 35,3% ataupun 6 orang peserta didik mampu menjawab soal tes dan selebihnya masih terdapat 64,7% sebanyak 11 orang peserta didik belum mampu menjawab tes. Hasil analisis KD serta tujuan pembelajaran, peneliti menggunakan dokumen (RPP) yang memuat KD, dan tujuan pembelajaran. Analisis Setting Instruksional 23,5% 76,5% Ya, menyukai media audiovisual yang Gambar 3. Banyaknya siswa yang menyukai media pembelajaran audiovisual Hasil angket yang diberikan kepada peserta didik menunjukkan dari 17 orang peserta didik terdapat 76,5% yaitu sebanyak 13 orang peserta didik menyukai media pembelajaran audiovisual, dan sisanya sebanyak 23,5% ataupun 4 orang peserta didik menyatakan tidak menyukai media pembelajaran audiovisual yang menarik. Berikut hasil angket peserta didik yang diperoleh dari google form: 35,3% 64,7% Ya, saya menyukai media audiovisual pada tema indahnya keragaman di negeriku Gambar 4. Penggunaan media audiovisual yang dipadukan dengan materi tema indahnya keragaman di Terlihat jelas pada gambar di atas, dari 17 orang peserta didik terdapat 64,7% yaitu sebanyak 11 orang peserta didik menyatakan menyukai media audiovisual yang dipadukan dengan materi tema indahnya keragaman di negeriku, dan sisanya sebanyak 35,5% yaitu sebanyak 6 orang peserta didik menyatakan tidak menyukai media audiovisual yang dipadukan dengan materi indahnya keragaman di Berikut hasil angket peserta didik yang diperoleh dari google form: 15 Socratika: Journal of Progressive Education and Social Inquiry | Vol. 1 No. 1 Januari 2024 Bugis 35,3% 52,9% 11,8% Makassar Toraja Gambar 5. Kelompok etnik peserta didik Hasil angket peserta didik mengenai suku bangsa yang dianutnya menunjukkan bahwa dari 17 orang peserta didik sebanyak 52,9% bahwa sebanyak 9 orang peserta didik menganut suku Bugis, sebanyak 35,3% yaitu sebanyak 6 orang peserta didik menganut suku Toraja, dan sisanya 11,8% yaitu sebanyak 2 orang peserta didik menganut suku Makassar. Oleh karena itu pada media audiovisual yang akan dikembangkan akan membahas mengenai ketiga suku tersebut, yaitu suku Bugis. Toraja, dan Makassar. Berikut hasil angket peserta didik yang diperoleh dari google form: 47,1% 52,9% Ya, materi keragaman suku bangsa di Indonesia ini cocok dikaitkan dengan kondisi suku yang ada di lingkungan sekitar Anda Gambar 6. Mengaitkan materi indahnya keragaman di negeriku dengan kondisi suku yang ada di lingkungan sekitar Terlihat jelas pada gambar di atas, dari 17 orang peserta didik terdapat 52,9% yaitu sebanyak 9 orang peserta didik menyatakan bahwa materi indahnya keragaman di negeriku cocok dikaitkan dengan kondisi suku yang ada di lingkungan sekitarnya, sedangkan sisanya sebanyak 47,1% yaitu sebanyak 8 orang peserta didik menyatakan bahwa materi pada tema indahnya keragaman di negeriku tidak cocok dikaitkan dengan kondisi suku yang ada di lingkungan sekitarnya. Tahap Perancangan (Desig. Tahapan ini peneliti mendesain atau merancang produk berupa media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal siswa kelas IV SDN 22 Murante, yang peneliti siapkan agar dapat memudahkan siswa dalam pembelajaran mengenai materi tema indahnya keragaman di negeriku. Pada media audiovisual yang dikembang oleh peneliti didalamya terdapat cover. KD, indikator, tujuan pembelajaran, materi, serta berbagai gambar yang berhubungan dengan materi Pada tahap ini, peneliti juga membuat rancangan berupa gambaran alur penggunaan media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal. Tahap Pengembangan (Developmen. Produk yang telah di rancang, tahap selanjutnya diuji validitasnya oleh 3 orang ahli yaitu ahli media, materi serta bahasa. Tahapan ini dilakukan oleh para pakar validator yang ahli dalam bidangnya. Validasi produk yang dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan atau validitas dari suatu produk. Jika media pembelajaran belum valid maka akan dilakukan revisi sampai produk tersebut dinyatakan telah valid dan dapat digunakan. Produk yang peneliti buat telah diuji kevalidannya dan telah dinyatakan layak untuk dilakukan pada uji coba selanjutnya dengan perolehan nilai: Tabel 4. Hasil Penilaian validitas oleh validator Zainab. Pengembangan Media Audiovisual 16 Aspek Ket Hasil Validasi Media Sangat Valid Materi Valid Bahasa Sangat Valid Sumber: Hasil Penelitian, 2023 Berdasarkan tabel 4 hasil penilaian media audiovisual yang telah dikembangkan memiliki nilai ratarata sebesar 85,33%. Jika dikonfirmasikan ke dalam Tabel 2 maka rerata nilai tersebut masuk dalam kategori sangat valid. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Riduwan yang mengatakan sebuah produk dapat dikategorikan valid jika persentase validitasnya mencapai rata-rata pengukuran yang berlaku yaitu 61% ataupun lebih. Sehingga dapat disimpulkan, media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal di kelas IV SDN 22 Murante dinyatakan layak digunakan sebagai media pembelajaran pada tema indahnya keragaman di negeriku di kelas IV SDN 22 Murante, dengan kategori sangat valid. Implementasi (Uji Praktikalita. Tahap selanjutnya dilakukan uji praktikalitas. Tahapan ini dilakukan dengan kelompok kecil untuk mengetahui kepraktisan produk dari persepsi peserta didik dan guru yang menjadi subjek penelitiannya. Hasil uji praktikalitas atau uji coba produk secara terbatas kepada 17 orang peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5. Hasil Praktikalitas Peserta Didik Jumlah Tingkat Coding Jumlah skor skor yang Kepraktisan Kategori Responden di peroleh (%) Sangat Praktis Sangat Praktis Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Praktis 10 AZ Sangat Praktis Sangat Praktis 12 PD Sangat Praktis Sangat Praktis 14 AP Sangat Praktis 15 AN Sangat Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Rata-rata Sangat Praktis Sumber: Hasil Penelitian, 2023 Berdasarkan tabel 5 mengenai data hasil uji praktikalitas yang dibatasi pada 17 siswa terlihat bahwa, media audiovisual yang dikembangkan memperoleh skor persentase rata-rata sebesar 89%. Berdasarkan tabel 3 mengenai kualifikasi tingkat kepraktisan menunjukkan hasil uji praktikalitas berada di kategori sangat praktis. 17 Socratika: Journal of Progressive Education and Social Inquiry | Vol. 1 No. 1 Januari 2024 Tabel 6. Hasil Praktikalitas Guru Kelas IV No Aspek Penilaian Persentase (%) Kategori Kepraktisan penggunaan 93,75% Sangat Praktis Kesesuaian waktu Sangat Praktis Manfaat Sangat Praktis Jumlah Sangat Praktis Sumber: Hasil Penelitian, 2023 Berdasarkan data hasil praktikalitas yang dilakukan oleh praktisi dalam hal ini guru kelas IV SDN 22 Murante pada media audiovisual tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal diperoleh persentase 97% dengan kategori sangat praktis. Pembahasan Penelitian ini mengembangkan media audiovisual tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran mempunyai peranan penting karena media merupakan salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu peneliti mengembangkan media pembelajaran dengan penambahan inovasi di dalamnya. Media dikembangkan peneliti yaitu pada media audiovisual tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan lokal di kelas IV. Hasil analisis kebutuhan yang dilakukan peneliti memperoleh data dan informasi bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahaminya. Pada materi tema indahnya keragaman di negeriku dibutuhkan bahan ajar yang bervariasi dalam proses pembelajaran. Selain itu siswa juga membutuhkan bahan ajar berupa media pembelajaran yang lebih berwarna yang didalamnya terdapat gambar dan suara, tidak hanya tulisan, dan siswa lebih menyukai media audiovisual yang dipadukan dengan materi tema indahnya keragaman di negeriku. Siswa menyatakan bahwa materi pada tema indahnya keragaman di negeriku cocok dikaitkan dengan kondisi suku yang ada di lingkungan sekitarnya yakni suku Bugis,Toraja dan Luwu. Hasil wawancara peneliti dengan pendidik selaku wali kelas menyatakan bahwa siswa kesulitan memahami materi pembelajaran karena penggunaan media pembelajaran yang tidak bervariasi. Berdasarkan hal tersebut, perlu dikembangkan bahan ajar yang lebih inovatif agar mampu meningkatkan motivasi dan mengajak siswa belajar. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, peneliti mengembangkan Media Audiovisual dalam Tema Indahnya Keragaman di Negeriku Berbasis Kearifan Lokal Siswa Kelas IV SDN 22 Murante Kota Palopo dirancang dan dikembangkan. Kemudian uji validitas dilakukan oleh tiga orang dosen ahli dengan ratarata hasil uji sebesar 85,33% dengan memenuhi kategori valid. Sedangkan pada uji praktikalitas yang dilakukan peneliti diperoleh data bahwa bahan ajar yang dikembangkan peneliti memenuhi kategori praktis setelah melalui uji praktikalitas dengan hasil uji praktikalitas terbatas kepada 17 siswa, terlihat bahwa LKPD yang dikembangkan pada rata-rata memperoleh nilai persentase sebesar 89% dan hasil uji praktikalitas dengan praktisi guru memperoleh persentase sebesar 97% dengan kategori sangat praktis. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran berupa LKPD . Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Fauziah dan Ninawati yang menyatakan bahwa pengembangan media audiovisual berbasis Doratoon namun pada materi hak dan kewajiban penggunaan sumber energi mata pelajaran Ppkn efektif digunakan (Fauziah & Ninawati, 2. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa kuis interaktif yang menggunakan aplikasi classpoint layak digunakan pada pokok materi indahnya keragaman di negeriku (Kurniawan & Ika Yatri. Sementara hasil penelitian lain juga mengungkapkan bahwa bahan ajar berupa modul elektronik berbasis kearifan lokal layak digunakan untuk memperkenalkan tradisi balumbo biduk kepada peserta didik dengan harapan bisa menambah wawasan tentang budaya lokal serta meningkatkan minat peserta Zainab. Pengembangan Media Audiovisual 18 didik untuk menggali budaya, dan ikut serta untuk melestarikan budaya lokal yang ada di lingkungan sekitarnya (Zulkhi et al. , 2. Simpulan Berdasarkan hasil dari penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa media audiovisual dalam tema indahnya keragaman di negeriku berbasis kearifan kearifan lokal yang dikembangkan dengan menggunakan model pengembangan ADDIE telah layak digunakan pada proses belajar mengajar. Hasil perhitungan validitas yang dilakukan oleh tiga orang ahli dengan hasi uji rata-rata 85,33% yang berada pada kategori sangat valid. Sementara hasil uji praktikalitas yang dilakukan peneliti, maka peneliti memperoleh data dengan hasil uji praktikalitas secara terbatas kepada 17 orang peserta didik dapat dilihat bahwa media audiovisual yang dikembangkan rata-rata memperoleh nilai persentase sebesar 89% dan hasil uji praktikalitas dengan praktisi guru memperoleh persentase sebesar 97% dengan kategori sangat Referensi