Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 24 - 31 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan Sebagai Potensi Sumber Belajar IPS Dalam Kurikulum Merdeka Zahrotun Islamiyah . Nuansa Bayu Segara . Riyadi . Niswatin . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang merupakan bekas pusat Kerajaan Majapahit, memiliki kekayaan situs sejarah seperti Candi Brahu. Candi Tikus. Gapura Wringinlawang, dan Museum Trowulan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru IPS, siswa, dan pengelola situs budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan Trowulan memiliki potensi besar sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran masih sangat terbatas. Hambatan utama adalah kurangnya integrasi dalam kurikulum, kendala administratif, serta kurangnya pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran berbasis lingkungan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan kolaborasi antara pihak sekolah dan pengelola situs budaya, serta penyusunan bahan ajar dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kompetensi Profil Pelajar Pancasila seperti berfikir kritis, bernalar, kreatif, dan cinta budaya bangsa. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber belajar yang kaya nilai edukatif. Kata Kunci: Cagar Budaya. Trowulan. Sumber Belajar. IPS. Kurikulum Merdeka Abstract This study aims to analyze the Trowulan Cultural Heritage Area as a potential learning resource for Social Studies (IPS) within the implementation of the Merdeka Curriculum. The Merdeka Curriculum provides flexibility for teachers and students to develop contextual and environmentally-based learning. Trowulan, formerly the center of the Majapahit Kingdom, is rich in historical sites such as Brahu Temple. Tikus Temple. Wringinlawang Gate, and the Trowulan Museum, all of which can serve as educational resources. This research uses a descriptive qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation. Informants include social studies teachers, students, and heritage site managers. The findings reveal that although Trowulan has significant potential as a learning resource, its actual use in educational activities remains minimal. Major obstacles include lack of curriculum integration, administrative barriers, and limited teacher understanding of place-based learning strategies. This research recommends enhancing collaboration between schools and site managers, and developing local-based teaching materials and learning projects. Through this approach, students are expected to develop key competencies of the Pancasila Student Profile, such as critical thinking, reasoning, creativity, and appreciation of national The study also emphasizes the importance of cultural preservation as part of character education and nationalism. Thus, the Trowulan Cultural Heritage Area is not only a tourist attraction but also a valuable educational asset. Keywords: Cultural Heritage. Trowulan. Learning Resource. Social Studies. Merdeka Curriculum How to Cite: Islamiyah. , et al. Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan Sebagai Potensi Sumber Belajar IPS Dalam Kurikulum Merdeka. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5(No. : halaman 218-225 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 PENDAHULUAN Munculnya kurikulum merdeka mendukung pemerataan pendidikan di Indonesia melalui kebijakankebijakan positif yang dilakukan pemerintah bagi peserta didik dari daerah tertinggal, perbatasan, dan paling terpencil. Menurut (Ansari et al. , 2. Kurikulum Merdeka Belajar juga akan dapat merubah metode pembelajaran yang semula dilakukan di dalam kelas dan mengubahnya dengan pembelajaran di luar kelas. Pembelajaran di luar kelas akan memberikan kesempatan siswa lebih banyak berdiskusi dengan guru. Pembelajaran di luar kelas akan membentuk karakter siswa, baik dalam hal keberanian mengemukakan pendapat dalam diskusi, kemampuan berintegrasi dengan baik dalam masyarakat, maupun menjadi siswa yang berkompeten agar kepribadiannya terekspresikan secara alami. Berdasarkan (KEMENTERIAN PENDIDIKAN, 2. Tentang Capaian Pembelajaran jenjang usia dini sampai pendidikan menengah menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memilki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kaya dan melimpah meliputi bahasa, suku bangsa, budaya, serta memiliki berbagai kepercayaan dan agama. Secara global Indonesia terletak sangat strategis, sehingga menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang secara geopolitik sangat diperhitungkan dalam kawasan internasional. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terdapat peran penting, dalam hal ini pembelajaran IPS sangat diharapkan agar bisa lebih menggali keterampilan berpikir melalui pengembangan kompetensi dalam aspek trampil yang berproses dan berpusat pada siswa. Pendidikan IPS memiliki peranan penting dalam hal ini dengan adanya pendekatan pembelajaran inkuiri yang berfokus pada siswa, pembelajaran IPS menjadi sarana untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan kreatifitas siswa terkait kehidupan bermasyarakat di Pembelajaran IPS memiliki tujuan agar siswa dapat memahami konsep-konsep kehidupan bermasyarakat serta memiliki keterampilan kreatif, adaptif, solutif, serta berpikir kritis di tengah perkembangan global. Menurut (Miarso, 2. berpendapat bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang meliputi pesan, orang, bahan, alat teknik, dan lingkungan baik secara tersendiri maupun terkombinasi. Sumber belajar merupakan segala bentuk sumber yang mencakup data, individu, dan bentuk tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam proses pembelajaran, sehingga memudahkan siswa untuk mencapai tujuan belajar dan mengembangkan keterampilan tertentu. Mencapai tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ingin diraih, keberadaan sumber belajar merupakan elemen yang esensial dalam proses pembelajaran, baik pada jenjang sekolah dasar maupun hingga perguruan tinggi. Pernyataan ini didukung oleh berbagai ahli yang mengemukakan definisi sumber belajar. Dengan merujuk pada pendapat sejumlah pakar, dapat disimpulkan bahwa sumber belajar mencakup segala sumber yang berada di luar individu yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) seharusnya mengoptimalkan komponen-komponen pembelajaran, seperti bahan ajar, sumber belajar, dan media pembelajaran. Dari ketiga komponen tersebut, sumber belajar merupakan elemen yang perlu mendapat perhatian utama, sebab sumber belajar menjadi konten bagi bahan ajar dan media pembelajaran. Lingkungan sekitar bagi guru dan siswa merupakan faktor yang krusial dalam proses pembelajaran efektif, dimana guru dapat memberikan bimbingan terkait peristiwa, situasi, atau kondisi di sekitarnya yang dapat diamati dan dirasakan oleh siswa. Dengan demikian, siswa berkesempatan untuk mempelajari dan memahami lingkungan di sekitar mereka (Firnanda, 2. Oleh karena itu, perlu adanya pemanfaatan budaya dan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS. Sumber belajar pendidikan IPS yang tidak kalah menariknya adalah mengunjungi tempat bersejarah peninggalan masa lalu. Sumber belajar ini sesuai dengan kebutuhan siswa saat ini dan sangatlah Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 penting untuk diperhatikan oleh guru IPS dengan menggali sumber belajar berupa cagar budaya yang ada di daerah sekitar tempat tinggal siswa, akan sangat membuat siswa memahami potensi daerahnya sendiri sehingga siswa dapat mengetahui bahwa ternyata di daerahnya terdapat peninggalan bersejarah yang perlu dibanggakan kepada orang lain (Kholiq, 2. Pembelajaran IPS sangat menarik untuk diperbincangkan terutama menyangkut batasan pengertian dan metodologi maupun dalam hak aspek pembelajarannya peninggalan bersejarah bisa dikatakan suatu bentuk penulisan dalam lingkup yang terbatas yang meliputi suatu lingkungan atau lokalitas tertentu. Keterbatasan jangkauan ini sering dikaitkan dengan faktor regional. Di Indonesia, sejarah lokal telah ada dan berkembang jauh sebelum sejarah nasional. Mengingat pentingnya peningkatan aspek perkembangan anak maka penerapan strategi pembelajaran melalui sumber belajar berbasis lingkungan dalam pembelajaran IPS merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang tepat diterapkan ke peserta didik (Rahmawati & Nazarullail, 2. Kondisi di Trowulan dalam memanfaatkan kawasan cagar budaya Trowulan sangat kurang sehingga ini merupakan salah satu strategi sumber belajar yang dibutuhkan siswa untuk mengembangkan pola pikir dalam kreatifitas sehingga strategi pembelajaran berbasis lingkungan ini dapat menjadikan kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan agar siswa bisa mendapatkan informasi yang luas dan langsung oleh proses interaksi terhadap lingkungan dan alam sekitar. Untuk mengetahui potensi yang ada di kawasan cagar budaya sebagai sumber belajar IPS dalam implementasi Kurikulum Merdeka dan relevansi kawasan cagar budaya Trowulan sebagai sumber belajar IPS. Pendahuluan ditulis seperti piramida terbalik, berisi pemaparan dari umum ke khusus mengenai pentingnya topik dan masalah yang harus dipecahkan dalam penelitian serta menyampaikan fakta mengenai topik yang dibahas berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang relevan dan mutakhir atau teori yang sudah ada. Selanjutnya, peneliti mengidentifikasi gap antara masalah penelitian dengan fakta yang diperoleh dan memberikan rekomendasi untuk mengisi gap tersebut sehingga muncul keunggulan atau keunikan dari artikel. Pada bagian akhir pendahuluan, disampaikan tujuan dan hipotesis penelitian. Pada bagian ini, penulis merujuk minimal 10 artikel dari jurnal internasional dengan kurun waktu publikasi minimal 10 tahun terakhir. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat terkait dengan fakta serta karakteristik objek tertentu(Ramdhan, 2. Penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk menguraikan, menggambarkan, dan memetakan faktafakta berdasarkan perspektif atau kerangka pemikiran tertentu. Metode ini berupaya untuk menggambarkan dan menginterpretasikan kondisi, pendapat yang ada, proses yang sedang berlangsung, efek yang timbul, atau kecenderungan yang sedang berkembang. Selain itu, peneliti penelitian kualitatif deskriptif karena peneliti ingin melakukan penelitian secara terinci dan mendalam terhadap potensi pemanfaatan kawasan cagar budaya Trowulan sebagai sumber belajar IPS dalam kurikulum merdeka (Kusumastuti & Khoiron, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan merupakan inti dari sebuah artikel, ditulis secara jelas dan memenuhi aspek scientific merit . nsur what/how?, why?, dan what else? Paparkan data yang telah diperoleh secara jelas dan ringkas, dapat berupa tabel, gambar atau diagram. Pada bagian pembahasan, penulis harus mengaitkan dengan cara melakukan pembandingan hasil penelitian dengan teori atau penelitian lain yang relevan dan mutakhir. Paparkan pembahasan sesuai dengan urutan tujuan penelitian. Apabila hasil penelitian berbeda dengan penelitian lain yang relevan, penulis perlu untuk memaparkan mengapa hal tersebut terjadi. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama. Berkat kemajuan teknologi, masyarakat kini dapat berkomunikasi dengan cepat kapan saja, di mana saja melalui telepon seluler dan internet. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan komunikasi yang cepat dari orang ke orang, dari negara ke negara. Dengan cara ini, arus informasi mengalir lebih cepat. Oleh karena itu, diyakini bahwa Aumereka yang menguasai informasi akan menguasai duniaAy (Kurniawan, 2. Sumberrbelajar yang berkualitas tidak harus mahal, modern, atau canggih yang terpenting adalah sumber belajar dapat dimanfaatkan dengan efisien untuk mendukung dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara optimal. Penggunaan sumber belajar tidak dapat dipisahkan dari peran seorang guru, tanpa kehadiran guru sulit untuk mencapai dampak positif dari penggunaan sumber belajar tersebut(Supriadi, 2. Peran guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting untuk mendampingi siswa dalam memahami materi yang harus dipelajari, cara mempelajarinya, serta hasil yang dapat diperoleh dari penggunaan sumber belajar. Diharapkan, dengan semakin banyak dan bervariasinya sumber belajar, daya serap dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan oleh guru juga akan meningkat, karena sumber belajar tersebut memberikan pengalaman belajar langsung. Kawasan Trowulan sebagai situs cagar budaya memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sumber belajar dalam pembelajaran IPS. Kawasan ini, yang merupakan bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, menyimpan warisan sejarah, arkeologi, dan budaya yang kaya. Adapun analisis potensi utama beberapa Cagar Budaya dalam pembelajaran IPS adalah sebagai berikut: Tabel 1 Analisis Potensi Cagar Budaya Sebagai Sumber Belajar IPS No Nama Cagar Budaya Gapura Wringin Lawang Aspek Identitas Budaya Analsisi Potensi Cagar Gapura Wringinlawang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang berbentuk gapura paduraksa, terletak di Trowulan. Mojokerto. Jawa Timur. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14 (Kusuma et al. , 2. Aspek IPS yang Mengkaji Kerajaan Majapahit dan Relevan Lokasi strategis pusat kerajaan masa lalu. Nilai sosial budaya dan pelestarian warisan. Potensi pariwisata budaya dan dampak ekonomi Potensi Kegiatan Studi lapangan ke situs cagar budaya. Pembelajaran Pembuatan video dokumenter atau artikel sejarah lokal. Wawancara dengan tokoh masyarakat tentang pelestarian Gambar Gapura Wringin Lawang Keunggulan Mengembangkan keterampilan berpikir Penggunaan kritis dan literasi budaya. Meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian warisan Mendorong kolaborasi lintas mata pelajaran. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 Tantangan Penggunaan Akses lokasi terbatas. Kurangnya pemahaman siswa terhadap nilai budaya Keterbatasan Solusi yang Dapat Gunakan media digital . ideo, virtual Diterapkan Kolaborasi dengan komunitas budaya lokal. Integrasi dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Candi Brahu Identitas Cagar Candi Brahu Budaya peninggalan Kerajaan Majapahit di Desa Bejijong. Trowulan. Mojokerto. Dibangun dari bata merah dan digunakan untuk kegiatan keagamaan Buddha. Nama Brahu berasal dari 'Wanaru' atau 'Warahu' (Fajariyah et al. Aspek IPS yang Peran agama Buddha dan warisan Relevan Majapahit. Lokasi Trowulan sebagai pusat peradaban. Toleransi beragama dan pelestarian budaya. Potensi wisata sejarah dan ekonomi lokal. Potensi Kegiatan Kunjungan Candi Brahu. Pembelajaran Penelusuran sejarah Buddha di Gambar Candi Brahu Majapahit. Pembuatan vlog, artikel, atau poster budaya lokal. Keunggulan Pembelajaran autentik dan bermakna. Penggunaan Mengintegrasikan nilai sejarah, budaya. Mendorong kolaborasi antarmapel. Tantangan Informasi candi terbatas. Akses Penggunaan kunjungan tidak selalu memungkinkan. Waktu pembelajaran terbatas. Solusi yang Dapat Sediakan sumber belajar tambahan Diterapkan . rtikel, vide. Gunakan tur virtual atau media digital. Integrasi dalam projek P5 atau kolaborasi lintas mata pelajaran. Museum Trowulan/Pusat Identitas Cagar Museum Trowulan menyimpan koleksi Informasi Majapahit Budaya artefak Majapahit seperti arca, keramik, prasasti, koin kuno, dan artefak Berfungsi sebagai pusat informasi sejarah dan budaya Majapahit (BPK WILAYAH XI. Aspek IPS yang Peninggalan Majapahit Relevan pembelajaran kerajaan Hindu-Buddha. Gambar Museum Lokasi museum dan hubungannya Trowulan/Pusat Informasi dengan wilayah kekuasaan Majapahit. Majapahit Struktur sosial dan budaya masyarakat Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 Gapura Bajang Ratu Gambar Gapura Bajang Ratu Majapahit. Sistem perdagangan dan ekonomi zaman kerajaan Potensi Kegiatan Kunjungan lapangan ke museum. Pembelajaran Pembuatan laporan atau jurnal Presentasi kelompok tentang Diskusi dan refleksi nilai budaya Keunggulan Menyediakan pengalaman belajar nyata Penggunaan dan kontekstual. Memiliki koleksi Majapahit. Menumbuhkan rasa cinta budaya dan sejarah bangsa. Tantangan Informasi Penggunaan disesuaikan dengan kebutuhan pelajar. Keterbatasan akses bagi sekolah yang Keterbatasan pemandu edukatif di Solusi yang Dapat Kolaborasi dengan pengelola museum Diterapkan dan dinas pendidikan. Pengembangan modul atau media pembelajaran berbasis Integrasi kunjungan dalam proyek kolaboratif P5 dan mata pelajaran IPS. Identitas Cagar Gapura Bajangratu adalah salah satu Budaya situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Trowulan. Mojokerto. Candi ini merupakan gapura berbentuk paduraksa yang diperkirakan dibangun sebagai pintu gerbang menuju area suci atau kawasan penting pemerintahan (Sari et al. , 2. Aspek IPS yang Mengkaji arsitektur dan fungsi gapura Relevan dalam konteks Majapahit. Menelusuri lokasi strategis peninggalan sejarah di Trowulan. Menggali makna simbolik dan nilai budaya dalam struktur bangunan. Potensi pengembangan kawasan sebagai destinasi wisata sejarah. Potensi Kegiatan Studi lapangan ke situs Gapura Pembelajaran Bajangratu. Pembuatan model 3D atau maket gapura Penulisan esai reflektif tentang nilai-nilai budaya. Keunggulan Bentuk arsitektur yang unik dan Penggunaan Memiliki nilai estetika dan Mendorong ketertarikan siswa terhadap sejarah lokal. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 Tantangan Penggunaan Candi Tikus Gambar Candi Tikus Kurangnya dokumentasi mendalam di tingkat sekolah. Interpretasi simbolik bangunan memerlukan pendampingan. Terbatasnya media ajar yang interaktif. Solusi yang Dapat Penyediaan modul ajar berbasis digital. Diterapkan Kolaborasi dengan instansi budaya dan Pengembangan tematik berbasis kunjungan situs. Identitas Cagar Candi Tikus adalah situs peninggalan Budaya Majapahit yang berbentuk struktur kolam pemandian, terletak di Desa Temon. Trowulan. Mojokerto. Candi ini dipercaya sebagai tempat pemandian keluarga kerajaan dan memiliki sistem drainase yang canggih (Achmad, 2. Aspek IPS yang Menelusuri Relevan peradaban Majapahit. Mengkaji fungsi lokasi dalam sistem tata air kuno. Menganalisis gaya hidup dan struktur sosial masyarakat kerajaan. Sebagai daya tarik wisata edukatif dan historis. Potensi Kegiatan Observasi dan studi lapangan ke Candi Pembelajaran Tikus. Pembuatan model sistem drainase kuno. Diskusi kelas tentang teknologi dan kebersihan di masa lalu. Keunggulan Menampilkan teknologi arsitektur air Penggunaan yang unik. Relevan untuk topik sanitasi, budaya, dan teknologi. Memberikan pengalaman belajar yang konkret. Tantangan Keterbatasan sumber belajar interaktif. Penggunaan Akses informasi mendalam masih Kurangnya pemahaman tentang fungsi asli situs bagi siswa. Solusi yang Dapat Pengembangan video dan infografis Diterapkan Kunjungan dengan pemandu atau narasumber lokal. Integrasi dalam tema proyek lintas disiplin. Pembahasan diatas menjelaskan bahwa Pemanfaatan kawasan cagar budaya Trowulan sebagai sumber belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka memiliki potensi yang sangat besar, baik dari segi sejarah, geografi, budaya, maupun pembelajaran berbasis proyek. Meskipun ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti aksesibilitas dan keterbatasan sumber daya. Trowulan tetap merupakan pilihan yang sangat relevan untuk mendukung pembelajaran yang kontekstual dan berbasis Dengan pendekatan yang tepat. Trowulan dapat menjadi sumber belajar yang efektif untuk membantu siswa memahami sejarah, geografi, dan budaya Indonesia secara lebih mendalam, serta mengembangkan keterampilan abad 21 yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 24 - 31 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis potensi kawasan cagar budaya Trowulan sebagai sumber belajar IPS dalam kurikulum merdeka dapat disimpulkan bahwa kawasan ini memiliki potensi edukatif yang sangat besar. Potensi ini mencakup peninggalan sejarah berupa situs, candi, museum, dan bangunan kuno yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan yang kontekstual dan relevan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Kawasan Cagar Budaya Trowulan mampu mendukung berbagai aspek pembelajaran IPS, seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosial, serta Hal ini sesuai dengan prinsip kurikulum merdeka yang mendorong pembelajaran berbasis pengalaman nyata, lingkungan sekitar, serta penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Sumber belajar dari kawasan ini juga sangat mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila, seperti bernalar kritis, mandiri, gotong royong dan berkebhinekaan global. DAFTAR PUSTAKA