Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 SASTRA LISAN SEBAGAI REFLEKSI KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAGA SIKAP. PERILAKU. DAN ETIKA Winarti1 . Siti Hardiyanti Amri2 IAIN Surakarta, 2STKIP Muhammadiyah Barru winasalim17@gmail. com, 2sitihardiyantia1@gmail. Abstract Local wisdom has a close relationship with society and culture. Culture is an abstract knowledge that exists in a nation. Through culture, individuals as part of an ethnic group will manifest behaviors patterns to interact with their social environment. In this case, oral literature plays an important role in constructing local wisdom as a part of culture of which function to maintain attitudes, behaviors, and ethics found in social All elements involved in local wisdom synergize in upholding norms, values, culture, attitudes, behaviors, and ethics as reflected in the tradition of tabu, myth and folklore, traditional expressions, and traditional ceremonies. Keywords: oral literature, local wisdom, norms, values, society. PENDAHULUAN Sastra lisan merupakan bagian memberikan arah pada perkembangan dari budaya Indonesia. Sastra lisan Kearifan lokal sebagai bagian tumbuh dan berkembang dengan baik di Indonesia. Hal ini menyebabkan sastra dipengaruhi oleh peran sastra lisan yang lisan memiliki peran penting dalam cukup penting dalam kaitannya sebagai pembentukan kearifan lokal sebagai penjaga sikap, perilaku, dan etika dalam kehidupan masyarakat. Sastra lisan perilaku, dan etika. Kearifan lokal memiliki kaitan yang ikut berperan dalam pembentukan yang erat dengan masyarakat dan Kebudayaan merupakan suatu pengetahuan yang bersifat abstrak unsur-unsur budaya yang ada pada suatu bangsa. Melalui luar ke dalam kebudayaan asli, dan kebudayaan, individu sebagai bagian | 139 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 mewujudkan pola tingkah laku untuk Kearifan Lokal. Sikap. Perilaku, dan Etika Kebudayaan yang sifatnya Istilah kearifan lokal . ocal abstrak dan berada dalam pikiran wisdo. terdiri dari dua kata yakni kearifan . dan lokal . dipakai sebagai sarana interpretasi yang Jika Indonesia John M. Echols dan Hassan model-model Kamus Inggris Shadily, kata local bermakna setempat lingkungan hidup manusia atau dapat dan wisdom bermakna kearifan atau Maka local wisdom mewujudkan tingkah laku berkenaan . earifan setempa. dapat dipahami dengan pemahaman individu terhadap sebagai gagasan-gagasan setempat yang lingkungan hidupnya (Satyananda dkk. 2013: . Sastra lisan yang berperan bernilai baik, yang tertanam dan diikuti penting dalam pembentukan kearifan oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal sebagai bagian dari kebudayaan lokal merupakan produk budaya yang inilah yang berfungsi sebagai penjaga sudah selayaknya dipertahankan dan sikap, perilaku, dan etika yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Semua unsur yang terkait dalam suatu kearifan lokal dalam masyarakat dapat berwujud nilai-nilai, norma, etika, kepercayaan, tinggi norma, budaya, sikap, perilaku, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan- dan etika termasuk pula hal-hal yang aturan khusus (Sugianto dkk. , 2015: 6- berkaitan dengan tradisi pantang larang Kearifan lokal sebagai produk yang merupakan hasil dari pengetahuan budaya berwujud nilai-nilai, norma, abstrak yang ikut dibentuk oleh sastra etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum lisan sebagai penyampai cerita maupun adat, dan aturan-aturan khusus yang mitos yang berkembang dalam suatu berlaku dalam suatu masyarakat perlu Bentuk-bentuk mengandung pedoman dan nilai-nilai | 140 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 kebaikan dalam kehidupan masyarakat. Kearifan lokal dapat diartikan Sulaiman dkk . 1: . sebagai nilai-nilai yang berlaku dalam suatu budaya. Masyarakat mengakui kohesi sosial lintas agama, lintas warga, dan kepercayaan, . sebagai sebuah menjadi pedoman perilaku mereka. unsur kebudayaan yang hidup dalam Nilai-nilai yang berlaku ini dianggap sebagai entitas yang sangat menentukan memaksa, . sebagai pemberi warna harkat dan martabat manusia dalam kebersamaan bagi sebuah kelompok hubungan sosial karena di dalamnya masyarakat, . pola pikir dan hubungan terkandung kreatifitas dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat. Selain itu, kearifan lokal juga dipandang solidaritas dan meningkatkan apresiasi antar individu dalam masyarakat. nilai-nilai Secara Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat memperkuat sistem budaya sebagai acuan dalam kehidupan masyarakat dan merupakan seperangkat pengetahuan dan pandangan yang dimiliki oleh persaudaraan bagi sebuah komunitas masyarakat setempat yang mengandung untuk hidup secara dinamis dan damai filosofi nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai (Sulaiman dkk. , 2011: . Eksistensi inilah yang kemudian memandu sikap, kearifan lokal dipandang sebagai suatu perilaku, dan etika masyarakat dalam hal yang mampu memperkuat sistem suatu budaya tertentu. Murniatmo dkk . 6: . mengemukakan bahwa nilai- kehidupan masyarakat sehingga dapat nilai budaya dapat berwujud norma- tercapai suatu kehidupan yang dinamis norma, aturan-aturan, adat-istiadat yang dan damai. berperan sebagai pedoman tingkah laku Adapun dan perbuatan manusia. Dengan kata lain, nilai budaya berfungsi sebagai dikemukakan oleh John Haba dalam penuntun arah perilaku dan perbuatan | 141 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 manusia dalam sebuah sistem sosial positif atau negatif, baik atau buruk, yang disebut masyarakat. Nilai Ae nilai suka atau tidak suka yang kemudian yang dimiliki oleh setiap budaya tentu bersifat relatif. Meskipun universal atau terdapat di setiap komunitas masyarakat respon sikap yang dicerminkan dalam tapi setiap budaya berbeda dalam menentukan hal-hal yang dianggap sebenarnya telah didasari oleh evaluasi berharga dan penting. Misalnya, sesuatu dalam diri individu (Nurwanti dkk. yang dianggap baik dan benar bagi 2011: . Respon sikap adalah suatu masyarakat suku Minang belum tentu bentuk tindakan yang sebenarnya telah demikian bagi masyarakat dari suku lain seperti Bugis. Sunda, atau Bali. Seperti Dalam hal ini perilaku atau yang dipaparkan oleh Utomo dkk tindakan yang berfungsi sebagai alat . Dengan nilai-nilai untuk meneruskan respon sikap yang ada dalam diri individu sedangkan etika abstrak yang tertanam dalam benak yang menjadi dasar penilaian moral tentang apa yang dianggap benar, salah, dianggap berharga dan tidak berharga baik, atau buruk yang berkaitan dengan . nilai-nilai, norma, dan tata krama yang berlaku dalam suatu masyarakat. Seperangkat hal-hal Sikap, perilaku, dan etika Sastra Lisan Refleksi Kearifan Lokal di Beberapa Daerah di Indonesia merupakan tiga hal yang berkaitan erat Masyarakat Indonesia terdiri dengan tatakrama/ sopan santun yang dari ratusan suku bangsa yang masing- berlaku dalam suatu masyarakat. masing memiliki kekhasan. Kekhasan Sikap menurut Berkowitz dalam inilah yang menjadi ciri yang dimiliki Nurwanti dkk adalah suatu respon satu suku yang membedakannya dengan evaluatif yang memberikan kesimpulan suku yang lainnya. Keunikan yang nilai terhadap stimulus dalam bentuk dimiliki setiap suku tercermin dari | 142 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 perilaku, baik dalam kehidupan sehari- kreatifitas dalam menanamkan nilai- hari maupun dalam hubungan antar nilai dalam bersikap dan berperilaku. Adapun fungsi dari penerapan tabu atau (Ayatrohaedi dkk. , 1989: . Keunikan pantangan yaitu untuk menjaga etika dan kekhasan yang dimiliki suatu suku menjadi sebuah penanda identitas bagi masyarakat, seperti yang berlaku di suku tersebut yang tercermin dalam beberapa daerah di nusantara misalnya perilaku di kehidupan mereka sehari- Sumatera hari yang terkait dengan hubungan informasi yang diperoleh diperoleh dari individu dalam kehidupan masyarakat. masyarakat Kabupaten Bangka, ada Beberapa contoh sastra lisan pembentuk beberapa pantangan yang ditanamkan kearifan lokal yang berlaku di beberapa kepada anak-anak sebagai pola dan cara daerah di Indonesia dapat dipaparkan mendidik orang tua seperti larangan melalui tradisi tabu atau pantangan, bersiul pada waktu maghrib yang konon dongeng dan cerita rakyat, ungkapan jika dilakukan makhluk halus akan tradisional, serta upacara tradisional. Namun, menurut masyarakat Selatan. Berdasarkan makna sebenarnya dari tabu ini adalah agar pada waktu pelaksanaan ibadah Tabu atau Pantangan Pantangan merupakan sesuatu umat Islam yaitu sholat tidak ada yang Pantangan merupakan aturan masyarakat yang sedang menjalankan tidak tertulis yang sampai dari mulut ke Pantangan lain adalah larangan mulut atau diwariskan dari generasi ke memanggil orang tua atau yang lebih generasi (Andayani dkk. , 2004: 159- tua dengan menyebutkan nama saja. Penerapan tabu atau pantangan tidak diperbolehkan memegang kepala merupakan sarana untuk mengajarkan orang tua atau istilah setempat Autunjuk kepalaAy karena bagi yang melakukan sebagaimana mestinya dalam suatu hal ini diyakini akan terkena Autulah atau pergaulan (Ramlan dkk. , 1992: . kuwalatAy. Larangan Pantangan-pantangan yang diciptakan santun dan hormat terhadap yang lebih | 143 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 tua (Ramlan dkk. , 1992: . Sikap (Mustapa, 1996: 5, 12 dan . Mitos sopan-santun tentang pantang-larang tersebut tumbuh membentuk sikap saling menghormati dan tersebar di kawasan Jawa Barat. dan menghargai orang lain. Orang Sunda percaya bahwa larangan/ Tabu atau pantangan dengan tujuan untuk menjaga etika kesopanan dilanggar jika tidak ingin hal buruk juga ditemukan di Sumatera Barat. Jika Minangkabau, pantang untuk menyebut pantangan-pantangan nama kepada yang lebih tua dan berhubungan dengan etika tentang apa kewajiban memanggil gelar kepada yang dianggap baik ataupun buruk seseorang yang telah berstatus orang dalam kehidupan masyarakat. Etika sumando dan seseorang yang telah tersebut menjadi pedoman bagi sikap diangkat Datuk atau Penghulu . epala dan perilaku yang akan diikuti dan suk. (Karim dkk. , 1992: 79-. Pantangan ini dibentuk sebagai penjaga melakukan suatu hal. sikap hormat terhadap yang lebih tua Selain sehingga etika kesopanan dapat terus masyarakat, tabu atau pantangan juga Adapun tabu atau pantangan berfungsi untuk menjaga tata krama saat untuk menjaga etika kesopanan yang makan, seperti yang ditemukan di berlaku di Jawa Barat atau etnis Sunda antara lain. larangan menduduki nyiru Sulawesi Tengah, akibatnya bakal mati di perantauan, tertentu . yang harus ditaati tidak boleh melangkahi padi (Nyi Sr. khususnya anak-anak desa Lamppio disebabkan oleh setan, duduk di pintu terkait tata krama makan yakni antara akan mengakibatkan lambat jodoh, dan tidak boleh makan menggunakan anak-anak tutup panci karena akan menutup pintu . ermain rezeki, tidak boleh makan di muka pintu anak-anak Banggai, | 144 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 makan sambil boleh sambil berbicara atau jalan-jalan berjongkok karena dianggap kurang (Agustrisno dkk. , 1994: . Pantangan sopan terhadap makanan yang telah ini tentu berhubungan dengan etika dan membesarkan seseorang, tidak boleh tata-krama saat makan. Makan di depan makan di balok melintang karena pintu dapat menghalangi orang lain untuk lewat, selain itu berbicara bahkan lambat mendapat jodoh, tidak boleh jalan saat makan dianggap kurang sopan makan kepala ikan sebab anak akan bodoh, tidak boleh makan di cukuran aktivitas makan itu sendiri karena kelapa sebab katanya akan ditelan seseorang mungkin akan tersedak atau terjatuh jika berbicara ataupun berjalan rezeki, tidak boleh berkumur dan membuang air kumur di saat makan. Tabu perantauan, bagi anak perempuan yang berhubungan dengan tata krama saat belum kawin, pantang mengambil nasi masyarakat etnis Sunda yaitu tidak kedalam mulut, dan perempuan hamil boleh membiarkan tempat beras terbuka tidak boleh makan di piring besar karena akan mengakibatkan longlongan (Siodjang Jika . erasnya cepat habis diambil seta. , dipahami lebih mendalam, sebenarnya larangan memakan nasi langsung dari pantangan tersebut berhubungan dengan periuk karena mengakibatkan dimakan cara bersikap dan berperilaku saat harimau, dan larangan makan satu melaksanakan aktivitas makan sehingga piring berdua karena mengakibatkan kegiatan makan dengan tujuan untuk dihina orang lain (Mustapa, 1996: 5, 12 memasukkan nutrisi ke dalam tubuh dan . Larangan membiarkan tempat dapat berjalan dengan baik. Hal yang beras terbuka bisa jadi agar beras tetap hampir serupa juga berlaku di Sumatera Utara. Ada beberapa pantangan yang memakan nasi langsung dari periuk dan berlaku di masyarakat Sumatera Utara satu piring berdua mungkin terkait misalnya, kalau makan jangan di depan dengan alasan kesopanan dan juga pintu, malu dilihat orang, dan tidak 1993:. Sedangkan | 145 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Agak kehidupan masyarakat. Sunda, ada beberapa pantangan yang Selain berfungsi untuk menjaga tidak boleh dilakukan oleh masyarakat etika kesopanan dan tata krama saat Bali, makan, tabu atau pantang-larang juga berfungsi untuk menjaga kedisiplinan orang yang sedang makan menghadapi nasi dan nasi dianggap suci. Pantangan bisa saja bertujuan untuk menjaga tata kabupaten Sumedang, tepatnya Desa krama pada saat makan agar kita tidak Ujung Jaya memiliki Pantangan yang tersedak maupun batuk karena makan sambil berbicara dapat menyebabkan Seorang wanita yang sedang memasak nasi tersebut keluar dari mulut dan di dapur tidak boleh sambil makan atau mengenai orang lain bahkan jika secara meninggalkan pekerjaan yang belum tidak sengaja nasi tersebut masuk ke Kalau hal itu dilanggar, maka terkena lolongan atau setan. Sesuatu akibatnya akan sangat fatal. Selain itu, yang dimakan dianggap tidak membawa berkah atau menimbulkan tenaga karena melempar ciduk nasi ke tempat nasi sari patinya sudah dimakan lolongan yang dianggap suci. Bisa jadi pantangan atau setan (Andayani dkk. , 2004: 159- ini dibuat untuk menghindari nasi Jika dikaji lebih mendalam, berserakan di luar tempat nasi karena hal tersebut dianggap sikap boros (Ayatrohaedi dkk. , 1989: 32 dan . kedisiplinan yang bertujuan agar kita Pantangan tidak meninggalkan suatu pekerjaan penyebarannya secara turun-temurun sebelum kita menuntaskannya karena dari mulut ke mulut dalam suatu masyarakat sebenarnya tidak serta merta terhambatnya aktivitas lainnya. Adapun muncul begitu saja tetapi disesuaikan pantangan yang berlaku di masyarakat dengan tujuan tertentu misalnya sebagai Sumatera fungsi pendidikan yang berkaitan erat mandi-mandi di sungai itu, disana ada Misalnya. Utara nilai-nilai salah-salah | 146 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Pantangan pencampurbauran mandi bersama ipar, merupakan larangan orang tua kepada menyegani antara ipar dengan orang (Agustrisno dkk. , 1994: . Tradisi sumando, dan pantang untuk nikah pantang-larang lebih dahulu dari kakak karena hal sebenarnya bertujuan agar anak-anak tersebut dianggap melangkahi sang patuh terhadap nasihat orang tua yang kakak yang membuat sikap tenggang mengharapkan keselamatan bagi anak- rasa menjadi terlalaikan, sehingga dapat anaknya dengan menganjurkan untuk mengganggu keharmonisan hubungan menghindari hal-hal berbahaya yang antar adik dan kakak (Karim dkk. ada di sekitar mereka. Dalam hal ini, berhubungan erat dengan penjagaan batas-batas 79-. Pantangan larangan tersebut berfungsi sebagai sarana edukasi dari orang tua terhadap anak-anaknya untuk bersikap terhadap orang yang lebih tua suatu pedoman dalam bersikap dan sehingga keharmonisan hubungan antar bertingkah laku. anggota keluarga dapat terjalin dengan Fungsi lainnya dari tabu atau pantang-larang yaitu untuk menjaga keharmonisan hubungan keluarga. Dongeng dan Cerita Rakyat Sumatera Barat,ada beberapa pantangan Dongeng dan cerita rakyat juga yang berlaku, yaitu. mandi bersama merupakan sarana pembentuk karakter, orang sumando . rang semend. laki- Anak laki-laki yang sudah baligh Dongeng dilarang mandi bersama dengan orang anak-anak. Melalui anak-anak sumando dengan ipar-iparnya terjalin dalam bentuk segan-menyegani, harga- mendengarkan dan mematuhi nasehat menghargai, hormat-menghormati, dan orang tua. Seseorang dapat bercermin dari tokoh-tokoh baik yang dikisahkan Jika Dongeng | 147 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 cerita yang menggambarkan bahwa Ayahnya bertanya: AuMengapa dalam kehidupan ini yang benar pasti engkau menginginkan peci ini?Ay Si akan selalu menang menghadapi yang anak menjawab, bahwa pecilah yang salah (Ramlan dkk. , 1992: 114 dan tetap berada di atas kepala orang Terkait dengan fungsi dongeng Hal ini akan mengingatkan dia dan cerita rakyat yang mengandung agar selalu berdoa untuk orang tuanya unsur yang mendidik dalam kehidupan (Ramlan dkk. , 1992: 114-. Cerita masyarakat maka dongeng maupun rakyat yang pada umumnya menyebar cerita rakyat tetap terjaga eksistensinya dengan penyebarannya secara lisan. Adapun salah satu fungsi dari dongeng pedoman kepada anak untuk berbakti dan cerita rakyat yaitu untuk menjaga dan menyayangi kedua orang tua. bakti dan kasih sayang kepada orang Cerita rakyat lainnya berasal tua, seperti pada beberapa cerita rakyat dari Sumatera Barat yang umumnya yang berasal dari beberapa daerah di dikenal oleh suku Minangkabau sebagai Indonesia. cerita Rambun Pamenan dan Malin Cerita Kundang Anak Durhaka. Keduanya digemari oleh penduduk di Kabupaten Bangka adalah cerita AuTujuh BeradikAy. Rambun Cerita ini menceritakan tentang seorang menceritakan tentang seorang anak saudagar yag memiliki tujuh orang yang berbakti kepada ibunya dengan putra-putri. Pada suatu hari, saudagar menyelamatkan ibunya dari seorang bertanya kepada anak-anaknya: Auapa Raja yang kejam bernama Rajo Angek yang kamu inginkan bila aku sudah Garang. Jika dalam Rambun Pamenan mati?Ay. Jawaban ketujuh anaknya pun bermacam-macam, kepahlawanan seorang anak. Malin menginginkan tanah, sawah, rumah. Kundang justru menceritakan sikap kebun dan lain-lain. Berbeda dari Meskipun kedua cerita tersebut mengatakan dia tidak menginginkan berbeda, cerita tersebut mengandung apa-apa, yang diinginkan hanyalah peci Pamenan | 148 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 pengabdian dan kasih sayang kepada AuuwaA. Rambun Pamenan menggambarkan ditinggalkan sendiri di dalam anak yang penuh pengabdian kepada dengan hanya berbekal nasi di dalam orang tua, sedangkan Malin Kundang Anak manggil Pak Dhenya dengan sebutan kepada orang tua Auuwa-uwaAy sambil menangis tersedu- akhirnya berakibat kehancuran dirinya Akhirnya anak tersebut berubah (Karim dkk. , 1992: . Kedua kisah menjadi binatang Auuwa-uwaAy . rang tersebut mengarah pada satu nasihat inti Sebagai penutup cerita, orang bahwa seorang anak harus berbakti tua akan mengakhiri dengan pesan yang kepada orang tuanya. Nasihat tentang berbunyi Mulane ya Cah, aja sok nakal kasih sayang dan bakti kepada orang tua karo sedulure dhewek, mengko nek tersebut tersirat dalam cerita rakyat nakal dadi uwa-uwa yang artinya Rambun Pamenan dan Malin Kundang makanya jangan nakal Nak, jangan suka yang sampai saat ini masih diceritakan nakal sama saudara sendiri, nanti kalau secara turun-temurun dari mulut ke nakal menjadi orang hutan. Orang tua nilai-nilai cerita-cerita Fungsi lain dari dongeng dan cerita rakyat adalah untuk memperkuat Dongeng ini mengandung pesan pentingnya hidup rukun antar seperti yang dikisahkan dalam salah saudara kandung (Prawironoto dkk. satu dongeng yang sering diceritakan di 1994: 73-. Sastra lisan dalam bentuk wilayah Jawa Tengah, yaitu dongeng dongeng yang diceritakan secara turun- tentang asal muasal binatang Auuwa- temurun dari orang tua kepada anaknya uwaAy . rang huta. nilai-nilai Dongeng ini menceritakan tentang dua anak laki-laki menanamkan nilai-nilai kebaikan, salah bersaudara, anak tertua selalu nakal satunya tentang pentingnya kerukunan pada adiknya dan tidak pernah menurut terutama antar saudara kandung. pada orang tuanya. Akhirnya anak nakal tersebut dibawah ke hutan oleh Pak Ungkapan Tradisional Dhenya . i Banyumas Pak Dhe merujuk Ungkapan | 149 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 seringkali digunakan sebagai sarana kebahagiaan, hendaknya selalu tawakal untuk mendidik anak-anak. Ungkapan- ungkapan tersebut menjadi falsafah makhluk Tuhan. Melalui ungkapan ini, nilai-nilai yang membentuk sikap dan Ungkapan pentingnya keterikatan kepada tanah air tradisional merupakan bahasa metaforik dan tanah tumpah darah sebagai tempat yang mengungkapkan isi dan pikiran kelahiran (Prawironoto dkk. , 1994:. dan perasaan. Didalamnya terkandung Ungkapan tersebut mengandung pesan nilai-nilai sosial budaya yang perlu moral bahwa hendaknya manusia tidak asal-usulnya pedoman tingkah laku (Ramlan dkk. makhluk ciptaan Tuhan yang wajib Fungsi menyembah dan bersyukur kepadaNya. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan kita menjaga nilai-nilai keagamaan, seperti juga tidak diperkenankan untuk menjadi yang berlaku di Jawa Tengah. Bagi orang yang sombong dan melupakan masyarakat Jawa Tengah, khususnya nilai-nilai keagamaan. Adapun Masyarakat warga Pekuncen, ungkapanAeungkapan Jawa merupakan sarana penyampaian pesan, umumnya memegang sebuah konsep petuah, dan nasihat yang menjadi sentral yang disebut Aumampir ngombeAy pedoman dalam berperilaku. Ungkapan yang artinya singgah untuk minum. Orang Jawa hidup di dunia ini ibaratnya seorang tanggung jawab, kemandirian, dan nilai yang sedang dalam perjalanan pulang menuju alam sejati. Selama mampir mengandung nilai kesetiaan dan nilai ngombe di dunia ini, orang harus keagamaan antara yakni aja lali marang bersikap rela . yang dimaknai sikap asale yang berarti bahwa seseorang ikhlas disertai rasa bahagia dalam hendaknya senantiasa ingat akan asal- menyerahkan segala hak-haknya dan usul dan tidak lupa daratan. Ungkapan semua hasil kerjanya kepada Tuhan. ini mengandung ajaran agar seseorang Selanjutnya . dengan riang hati segala Contoh | 150 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 sesuatu yang menimpa dirinya. Narima kepandaian yang dimiliki. Fungsi adalah perasaan puas dengan nasibnya, tidak memberontak, menerima dengan tradisional adalah untuk menjaga nilai- penuh rasa syukur. Dan sikap yang terakhir adalah Sabar yang dimaknai ungkapan yang berasal dari Sumatera sebagai sikap rela hati menyerahkan diri Barat. dengan sikap menerima senang hati dan bersikap bijaksana. Kesabaran dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yakni kelapangan dada yang dapat merangkul antara lain. sekali lancung ke ujian segala pertentangan. Tiga sikap yang selama hidup orang tidak percaya yang artinya jangan sekali-kali berbuat dusta, merupakan konsep dasar yang terdapat akibatnya orang tidak mempercayai dalam pandangan dunia orang Jawa kita, air tulang bubungan jatuhnya ke baik priyayi maupung abangan. Tata cucuran atap maksudnya perilaku orang krama masyarakat Jawa lahir dan tua akan ditiru anak oleh sebab itu setiap orang tua harus berperilaku baik tersebut (Ayatrohaedi dkk. , 1989: 136- untuk dicontoh oleh anak-anak mereka, tegang bajelo-jelo, kandua badantiang- Sementara sikap-sikap Sumatera Adapun Sumatera Barat dantiang . egang berjela-jela, kendur berdenting-dentin. maksudnya dalam masih sering digunakan masyarakat menyelesaikan suatu masalah harus ada setempat adalah antu kidung, ki janen tolak angsur/ tenggang rasa, kareh ngelangkahku, ki mati dulu, ko mati ditakiak, lunak disudu . eras ditakik, dudi, nu langit tujuh lapis artinya bersikap jangan keras dan jangan pula pengetahuan yang sedikit, karena masih lunak, jadi pertengahan saja, anak banyak orang yang jauh lebih pandai dipangku, kemenakan dibimbing, orang dari kita (Ramlan dkk. , 1992: . kampung patenggakan, jago nagari jan Ungkapan tersebut sebagai pengingat binaso . nak dipangku, kemenakan bagi semua orang untuk terus belajar dan jangan pernah merasa sombong atas Selatan, ungkapan tradisional | 151 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Pepatah ini berisi pesan agar siriAo yang artinya orang yang telah terjalin kerukunan dalam pergaulan hidup (Karim dkk. , 1992: 83-. adalah bangkai hidup. Orang bugis yang martabat/harga merasa mate siriAo akan melakukan jallo Bugis . hingga ia mati sendiri karena memegang teguh nilai-nilai siriAo dalam dengan demikian disebut napetetton ngi siriAona artinya menegakkan kembali mengedepankan martabat dan harga diri martabat dirinya (Ayatrohaedi dkk. atas segalanya. SiriAo bisa juga diartikan 1989: 102-. Dalam hal ini terlihat Sementara Sulawesi Selatan. SiriAo sangat jelas bahwa martabat atau harga . diri adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat bugis. merendahkan martabat atau membuat Prinsip masyarakat dari suku bugis tersinggung. membentuk karakter masyarakat suku Selain itu, siriAo dapat pula dipandang bugis yang senantiasa berani, bekerja sebagai pendorong utuk bekerja keras keras, dan pantang menyerah. Ada Selanjutnya, ungkapan untuk memahami konsep siriAo yakni sebagai berikut. siriAo emmi ri onroang rilino yang artinya hanya siriAo kita hidup di dunia. Dalam ungkapan ini termaktub arti siriAo sebagai hal yang masyarakat kabupaten Bangka yakni memberi identitas sosial dan martabat antara lain. jangen mueng keremek telo kepada seseorang. Hidup baru ada di ae laut, nanti kesurup, artinya jangan artinya hanya jika martabat atau harga membuang sampah ke air laut nanti diri ada. Selanjutnya ungkapan, mate ri kemasukan roh jahat. Ungkapan ini siriAona yang artinya mati dalam siriAo bermakna sikap yang harus dimiliki setiap orang untuk menjaga kebersihan martabat/harga diri. Mati yang demikian lingkungan karena alam sebagai tempat dianggap sesuatu yang terpuji dan Kemudian ungkapan mate kebersihannya sehingga keseimbangan | 152 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 dan kebaikan alam bisa kita nikmati Selain itu, ada juga yang selamanya (Ramlan dkk. , 1992: . disebut dengan upacara AusadrananAy yang diawali dengan membersihkan Upacara Tradisional Upacara Makam Dawuhan memiliki peranan yang penting dalam dilaksanakan seminggu sebelum acara selamatan AusadrananAy. Setelah makam kebersamaan, kerukunan, dan gotong bersih, seminggu setelahnya diadakan Salah satu masyarakat yang upacara inti yakni upacara selamatan masih menjalani upacara adat sebagai AusadrananAy berupa mendoakan arwah nilai-nilai bersama-sama masyarakat Jawa Tengah yang termasuk diakhiri dengan makan nasi tumpeng dalam etnis Jawa. Ada sebuah upacara tradisional di desa Pekuncen yang selesai diadakan pembagian baju pantas mengandung nilai keagamaan yakni pakai untuk warga Desa Dawuhan. Setelah upacara Auunggah-unggahanAy. Upacara Makna pelaksanaan upacara- ini erat kaitannya dengan kepercayaan upacara tradisional yang masih kental masyarakat setempat bahwa selama bulan suci Ramadhan, arwah orang . tersebut merupakan sarana yang telah meninggal akan dibebaskan bagi masyarakat untuk menumbuhkan dari siksaan kubur. Sehingga upacara sikap kebersamaan, kerukunan, gotong ini dimaksudkan untuk AungunggahnaAy royong, dan saling tolong menolong. atau mengantar arwah yang berada di Dalam pelaksanaan upacara tesebut, ada alam kubur untuk naik ke suatu tempat nilai silaturrahmi yang dijalin antar yang terbebas dari siksa kubur. Tujuan yang terpenting dari upacara ini adalah membersihkan jiwa dan raga selama kebersamaan tersebut sangat bermanfaat menjelang pelaksanaan ibadah puasa. dalam menjalin ikatan sosial yang akan Sebagi akhir upacara ini adalah jabat tangan antar peserta dan selamatan kesatuan (Prawironoto dkk. , 1994: 69- berupa makan bersama sambil beramah Upacara tradisional tersebut tetap Nilai-nilai | 153 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 dilaksanakan sampai saat ini sebagai boleh dilakukan. Apa yang tidak boleh bagian dari kebudayaan yang berkaitan dilakukan atau yang disebut dengan dengan kearifan lokal sebagai penjaga pantangan harus dihindari karena jika dilakukan maka akan mendatangkan Upacara keburukan bagi yang melakukannya. Dalam hal ini sastra lisan yang berupa sebagai penjaga kerukunan dan nilai mitos pantang-larang berfungsi sebagai penjaga sikap, perilaku, dan etika dalam gotong-royong kehidupan masyarakat. Fungsi yang masyarakat yang menjalankannya. hampir sama juga dimiliki oleh dongeng dan cerita rakyat yang berkembang di PENUTUP Sastra lisan memiliki peran yang beberapa daerah yang juga berisi pesan kearifan lokal sebagai penjaga sikap, sikap, perilaku, dan etika. Bahkan perilaku, dan etika dalam kehidupan Mitos tentang pantang- tradisional juga memiliki pesan khusus larang, dongeng dan cerita rakyat, ungkapan tradisional, serta upacara masyarakat yaitu tentang nilai-nilai kebaikan yang harus terus dijaga dan kearifan lokal yang ikut dibentuk oleh sastra lisan yang penyebarannya secara dalam kehidupan masyarakat sehingga turun-temurun dari mulut ke mulut dapat dicapai suatu kehidupan yang dalam suatu masyarakat. Ada fungsi- Fungsi yang tersirat dalam fungsi dan tujuan-tujuan tertentu yang sastra lisan dalam konteks kearifan ingin dicapai mengapa suatu hal tidak lokal sebagai penjaga sikap, perilaku, dan etika adalah fungsi yang bersifat sebagai suatu pantangan atau hal yang mendidik dan membina masyarakat, dianggap tabu untuk dilakukan. Peran bahwa ada hal-hal yang tidak patut sastra lisan dalam hal ini yaitu sebagai dilakukan dan sebaiknya dihindari demi penyampai kisah tentang apa yang kebaikan diri kita sendiri serta orang sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak Pesan tersirat dalam sastra lisan | 154 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 nilai-nilai norma dan adat istiadat dalam suatu kearifan lokal yang dapat digunakan sebagai suatu pedoman untuk mejalani kehidupan masyarakat dalam bersikap dan berperilaku. Murniatmo. Gatut. Suratmin. Moertjipto, dan Salamun D. Kehidupan Sosial Budaya Orang Naga. Salawu. Tasikmalaya Jawa Barat. Jawa Barat: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mustapa. Hasan, 1996. Adat Istiadat Sunda. Bandung: Alumni. DAFTAR PUSTAKA