Resensi Buku Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 1 Nomor 1 (Oktober 2. Setetes Air Bagi Kehidupan: OEMAU LEO LILO Suatu Upaya Menelusuri Makna di Balik Mitos Sumber Air Masyarakat Baa Klasik Judul Buku : Setetes Air bagi Kehidupan: OEMAU LEO LILO (Suatu Upaya Menelusuri Makna di Balik Mitos Sumber Air Masyarakat Baa Klasi. Penulis : Heinrich Ridwan Fanggidae Bahasa : Indonesia ISBN : 978-602-1047-24-8 Terbit : 2015 Tebal : v 119 halaman Penerbit : Satya Wacana University Press Nelci Nafalia Ndolu Institut Agama Kristen Negeri Kupang nelcinafaliandolu@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Buku Setetes Air Bagi Kehidupan: OEMAU LEO LILO (Suatu Upaya Menelusuri Makna di Balik Mitos Sumber Air Masyarakat Baa Klasi. merupakan karya ilmiah yang fokus membahas cerita mitos tentang sumber air Oemanu sebagai sacred tale dengan berpijak pada tujuh pokok pikiran, yakni: pengukuhan terhadap eksistensi suku, persaingan antara suku-suku dalam konteks suksesi pemimpin lokal, diseminasi ideologis, perlawanan orang-orang salah, political economic motives, kearifan budaya masyarakat lokal, dan romantisme kultural. Tujuan yang ingin dicapai penulis adalah mengurai makna mitos dalam rangka menempatkan kedudukan spesifik bagi masyarakat Rote secara umum dan Baa secara khusus. Heinrich Ridwan Fanggidae (HRF) memulai bab pertama dengan memberi catatan awal bahwa mitos sumber air Oemau menjadi sumber rujukan dalam pengambilan keputusan Resensi Buku Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. menyangkut pemanfaatan air bagi masyarakat suku Kunak dan sumber persaingan di kalangan masyarakat suku-suku karena terdapat banyak versi narasi mitos yang sejajar maupun bertentangan satu sama lain. Problematika tersebut mengandaikan mitos produk kebudayaan masyarakat suku yang berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan worldview masyarakat Rote tentang pandangan mereka tentang air dan sumber air. Penelitian terhadap makna mitos sumber air Oemau merujuk kepada enam cara pendekatan dari Richard L. Palmer yakni teori eksegesis alkitabiah, metodologi filologi yang bersifat umum, ilmu dari keseluruhan pemahaman linguistik, dasar metodologis dari ilmu-ilmu budaya, fenomenologi dari eksistensi dan pemahaman yang eksistensial, dan sistem-sistem interpretasi. HRF menempatkan diri sebagai mediator yang memediasi makna teks mitos bagi pembaca masa kini. Dalam bab 2. HRF mengurai kerangka teoritis tentang mitos. Defenisi mitos dijelaskan secara etimologis dan dilanjutkan dengan pendapat Mircea Eliade dalam tulisannya yang berjudul Myth and Reality: World Perspectives. Mitos dipahami sebagai kata . yang digunakan berkenaan dengan kisah para dewa dan makluk-makluk superhuman. sejarah permulaan suatu pulau, binatang, tumbuh-tumbuhan dan manusia , tingkah laku dan kebiasaan manusia, suatu institusi yang dibentuk atau dicipta oleh Supernatural Beings. Eksistensi Supranatural Beings menjadikan mitos sebagai sacred tale sehingga menjadi acuan pokok, model keseluruhan aktivitas manusia, masyarakat, kearifan lokal dan pengetahuan Selanjutnya. HRF mengetengahkan beberapa pemikiran modern yakni diwakili oleh Giambattista Vico Scienza Nouva. Herder. Max Muller. Andrew Lang. Levi Straus. George Sorel yang terangkum dalam buku The Encyclopedia of Philosophy yang dieditori oleh Paul Edwards. Vico membedakan mitos dalam tiga periode yakni periode dewa-dewa, periode para pahlawan, dan periode manusia . Herder mengungkapkan mitos sebagai alat untuk memahami agama, moral, hukum, dan kehidupan sosial dari masyarakat mula-mula. Max Muller menegaskan mitos mencakup pemahaman etimologis dari nama-nama. Levi Straus menyatakan mitos mengisahkan tentang hubungan antara alam dengan kultur berdasarkan imajinasi manusia. Sedangkan George Sorel memahami mitos sebagai kepercayaan terhadap masa depan yang tanda-tandanya muncuk dalam inklinasi dari masyarakat partikular. Andrew Lang berpendapat bahwa mitos serupa muncul dalam berbagai daerah oleh karena itu pemahaman mitos harus dengan cara menempatkannya dalam konteks sosialnya untuk mengetahui unsur-unsur yang membentuk mitos tersebut. Berikutnya. HRF menjelaskan bentuk ekspresi mitos yakni simbol . acred speech, sacred place. dan ritual . acred ac. Merujuk kapda teori Eliade dan Michael C Howard, aspek sacred dari mitos terindentifikasi dalam keterlibatan aksi-aksi dan tindakan para dewa yang menjadi bagian religius dalam kehidupan masyarakat karena memiliki great Nelci Nafalia Ndolu Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies meaning tentang keajaiban keberadaan manusia dan alam. Selain, mitos dapat dipandang sebagai realitas yang profan yaitu masyarakat yang membentuk simbol mitos menjadi sakral sebagaimana teori Emile Durkheim. Mitos dijelaskan berfungsi untuk menerangkan fakta-fakta alam secara rasional, dan cerita sejarah untuk tujuan sosial dan religius. Mitos merupakan the prime mental activity tertua manusia karena logika diskursif manusia berjumpa dengan imajinasi kreatif manusia melalui bahasa. Oleh karena itu, pengkajian mitos harus didasari oleh sikap menerima kualitas pengalaman mistis di dalamnya dengan mempertimbangkan relativitas etika dan moral. Waktu dalam mitos dikategorikan dalam dua bagian yakni reversible . apat dibolak bali. dan non reversible . idak dapat dibolak-balik ). HRF mengakhiri bab dua dengan memberi penegasan bahwa mitos dberbeda dengan folktales karena bersifat keramat dan memiliki hubungan kultus tertentu sebagaimana teori Serena Nanda dan Emide Durkheim. Bab 3 . HRF menjelaskan selayang pandang tentang sejarah nama Baa dan pembagian nusa-nusak di Baa dalam zaman Belanda hingga telah menjadi sebuah ibukota kabupaten Rote Ndao. Baa dikisahkan sebagai tempat perebutan dan wilayah pendudukan dari nusak-nusak di bagian timur (Termanu dan Dengk. dan daerah penyangga keamanan Termanu dari nusaknusak terhadap serangan dari nusak- nusak di wilayah barat (Dengka dan Thi. Baa sebagai sebuah nusak memiliki empat suku besar . yaitu Ene. Modok. Suki dan Kunak. dan empat suku kecil . na le. yakni Felama. Kohu. Nggi, dan Lolena. Selanjutnya Bab 4 berisi worldview nusak Baa tentang air dalam mitos kisah sumber air Oemau dalam versi Kunak. Taililo. Felama dan Modo. Kultus yang menyitari mitos tersebut adalah upacara Limba. Bamba,Tati No. Mbule Sio, dan Foti Ndala. Upacara-upacara tersebut berupaya untuk menghubungkan sumber air dengan tokoh mitis/leluhur suku sekaligus memastikan keberlangsungan hidup masyarakat Dalam Bab 5-6. HRF menguraikan makna mitos tersebut yakni sebagai media pengukuhan eksistensi suku, mendudukkan posisi pemimpin lokal, diseminasi kekerabatan dalam klen suku untuk mengatasi pertentangan terhadap aset mitis kultural,media perlawanan suku Kunak terhadap suku lainnya tentang hak kepemilikan, penguasan terhadap sumber air dengan mengedepankan political-economic motives, bentuk kearifan lokal dalam menempatkan masyarakat kembali ke situasi kosmik yang mula-mula, dan media romantisme kultural sukusuku di Baa. Bab enam menjadi penutup yang berisi catatan-catatan kritis penulis tentang mitos sumber air Oemau. Buku ini mengungkap versi-versi mitos sumber Oemau melengkapi versi Kunak dalam buku James J. Fox ( 1. yang berjudul Bahasa. Sastra dan Sejarah serta makna dari mitos Namun, buku ini sebagai ringkasan dari tesis HRF tidak mengetengahkan tahapan hermeneutis yang rinci. Penulis menyebut enam prinsip pendekatan hermeneutik menurut Resensi Buku Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Palmer yang berpijak kepada teori Ricouer tetapi kurang nampak dalam uraian buku. Hanya ada satu kalimat yang mengusulkan penelitian terhadap paralelisme mitos masyarakat suku Rote dengan dengan mitos dalam Alkitab Ibrani. Sekiranya bila tahapan-tahapan rinci dimunculkan dalam buku ini sangat membantu pembaca yang berminat untuk menganalisis mitos dengan metode hermeneutik yang relevan. Nelci Nafalia Ndolu