Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 11 No. 4 Desember 2022 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 282 Ae 288 FAKTOR NON-FINANCIAL YANG MEMENGARUHI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE (CSRD) (STUDI EMPIRIS PADA INDUSTRI ENERGY DAN PULP PAPER YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011-2. Oleh: Firdaus Abdul Rahman Ekonomi dan Bisnis/ Universitas Islam Riau Email: Firdaus_ar@eco. Rona Naula Oktaviani Ekonomi dan Bisnis/ Universitas Islam Riau Article Info Article History : Received 16 Des - 2022 Accepted 25 Des - 2022 Available Online 30 Des Ae 2022 Abstract This study looks at the relationship of non-disclosure factors to the company corporate social responsibility (CSR). The research focuses on companies that focus on the energy and pulp and paper industries listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). An energy company is a company that uses natural resources as the main raw material in the production of the company's products until they are finally sold to the public. The research was conducted from 2011-2021. Non-financial variables that support the company's CSR activities are corporate governance, independent board, board meeting, risk, and company size. The results of the study show that non-financial factors, namely the independent board, board meetings, company size, and risk have an effect on the company's CSRD. This research cannot be generalized to all companies, because it only focuses on industries engaged in energy and pulp and paper. Future research is expected to use all listed companies and add variables for the company's non-financial factors. Keyword : CSR. Corporate Governance. Risk. Board hanya melihat dari sisi internal perusahaan, sampai akhirnya muncul regulasi yang mengatur mengenai kepedulian dan hak lingkungan sekitar perusahaan dalam menjalankan bisnis. Penelitian sebelumnya merekomendasikan setiap negara harus memiliki regulasi terhadap pelaporan dalam kegiatan CSR perusahaan (Javaid Lone. Ali, & Khan, 2. Indonesia memiliki regulasi yang mengatur mengenai penerapan keuangan keberlanjutan yaitu Peraturan Otoritas Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK. 03/2017. Perusahaan yang menampilkan dan mengungkapkan sustainability report memiliki nilai plus bagi stakeholder khususnya investor (Angelia & Suryaningsih, 2. , karena investor bisa melihat hasil dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Kesuksesan dari pengungkapan CSR tidak terlepas dari banyak faktor, khususnya dari faktor financial dan nonfinancial. Penelitian ini mencoba untuk fokus pada pengaruh dari faktor non financial dalam pengungkapan CSR perusahaan. Beberapa tahun PENDAHULUAN Beberapa tahun terakhir ini, perusahaan memperlihatkan ketertarikan mereka dalam melaukan pelaporan terhadap Corporate Social Responsibility (CSR). Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) dapat membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan citra dan nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi akan menarik stakeholder (Purbawangsa. Solimun. Fernandes, & Mangesti Rahayu, 2. , khususnya Sebelum melakukan kegiatan investasi, investor pada suatu perusahaan akan mencari informasi lalu melakukan evaluasi terhadap perusahaan (Purbawangsa et al. , 2. Perusahaan dan top managemen membuat perusahaan sebaik dan semenarik mungkin agar investor melakukan investasi dalam perusahaan, karena tujuan perusahaan dalam menjalankan roda bisnisnya, yaitu mendapatkan laba sebanyak-banyaknya (Angelia & Suryaningsih, 2. Ruang lingkup CSR pada perusahaan makin Pengungkapan CSR pada awalnya Beberapa penelitian sebelumnya hanya menjabarkan faktor financial yang dapat mempengaruhi pengungkapan CSR (Kansal. Joshi, & Batra, 2014. Syed & Butt, 2. Penelitian mengenai financial dan non-financial factors terhadap Pengungkapan CSR, lainnya hanya fokus kepada financial factor saja (Alshbili. Elamer, & Beddewela, 2. Penelitian ini mencoba untuk menggabungkan beberapa faktor non financial yang sudah ada pada penelitian sebelumnya, yaitu corporate governance (Caputo. Pizzi. Ligorio, & Leopizzi, 2021. Gul. Krishnamurti. Shams, & Chowdhury, 2020. Syed & Butt, 2. , board independent (Caputo et al. , 2021. Javaid Lone et , 2. , board meetings , risk (Hatane. Supangat. Tarigan, & Jie, 2. , dan firm size dari perusahaan yang merupakan fakton non-financial yang dapat mendukung dari pengungkapan CSR Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dan menganalisa efek dari faktor nonfinancial terhadap pengungkapan CSR perusahaan di Indonesia. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah perusahaan industri pulp&paper dan energi di Indonesia dari tahun 2011 sampai tahun 2021. Industri pulp&paper dan energi merupakan sampel yang representatif bagi penelitian ini berdasarkan tiga alasan. Pertama. Indonesia merupakan negara dengan tropical rainforest terbesar di dunia yang merupakan tempat pelestarian keanekaragaman hayati dan regulasi iklim yang membantu menangkap atmosfer dari karbon dioksida dan membantu membatasi pemanasan global. Kedua. Industri pulp dan kertas Indonesia sekarang berada di antara sepuluh produsen teratas di dunia dan di antara 8 sektor penghasil devisa terbesar Indonesia (Kemenhub, 2019 dalam Susilawati & Kanowski. Ketiga polusi lingkungan meningkat akibat permintaan kertas dan produk terkait di dunia yang mengarah kepada peningkatan konsumsi energi dan emisi CO2 pada indutri pulp dan kertas untuk produksi yang lebih tinggi lagi (Mandeep. Kumar Gupta, & Shukla, 2. untuk seluruh stakeholder . aryawan, government, dan seluruh masyarakat (Sayekti, 2. Legitimacy Theory Teori ini menyatakan bahwa perusahaan memiliki kontrak sosial secara implisit dengan masyarakat sekitar perusahaan beroprasi (Velte, 2. , sehingga umur perusahaan tergantung pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi dengan sistem yang sesuai. Banyak faktor yang berpengaruh ketika perusahaan menghadapi tekanan, sampai akhirnya perusahaan dapat menentukan praktik CSR yang sesuai (Alkayed & Omar, 2. Perusahaan juga terus berupaya untuk memastikan bahwa mereka bekerja sesuai dengan norma dan batasan yang ada dalam masyarakat (Syed & Butt. Beberapa penelitian sebelumnya juga menjelaskan bahwa perusahaan secara sukarela melakukan pengungkapan informasi CSR sebagai salah satu strategi dalam mengelola ancaman legitimasi dan mengurangi kesenjangan tersebut (Badrul Muttakin et al. , 2. CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan program yang menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian sosial perusahaan terhadap sekitar (Purbawangsa et al. , 2. Pelaporan terhadap kegiatan CSR perusahaan merupakan salah satu sikap yang dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan nilai perusahaan. Pelaporan CSR perusahaan dapat membantu perusahaan dalam melakukan strategi dan meningkatkan reputasi (Javaid Lone et al. , 2. CORPORATE GOVERNANCE/ BOARD SIZE Corporate governance adalah tata kelola yang dilakukan oleh perusahaan melalui seluruh anggota perusahaan agar perusahaan mencapai sesuatu yang diharapkan yaitu, keuntungan . dan mencegah masalah yang menyebabkan terjadinya kesulitan keuangan karena tata kelola perusahaan yang buruk karena Tujuan dari corporate governance adalah untuk memastikan bahwa perilaku oportunistik di perusahaan tidak terjadi dengan mengurangi masalah keagenan yang dapat melibatkan agent . dan berbagai pelaku lainnya/ principals dengan memfasilitasi penciptaan special skills (La Rocca, 2. dalam mengambil sebuah keputusan strategis dan masalah asimetris informasi yang ada pada perusahaan. Banyaknya dewan dalam perusahaan dapat membantu dalam melakukan monitoring dan memberikan ide berdasarkan pengalaman yang mereka miliki (Javaid Lone et , 2. Corporate governance merupakan KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Penelitian ini menggunakan stakeholder theory dan legitimacy theory untuk teori pendukung hipotesa stakeholder dan legitimacy theory memiliki hubungan yang erat (Alkayed & Omar. Stakeholder theory Teori pemangku kepentingan menyatakan perusahaan melakukan roda bisnis bukan hanya untuk kepentingan sendiri, tapi harus bermanfaat proses dan struktur yang digunakan perusahaan untuk keberlanjutan jangka panjang pemegang saham dan stakeholder lain perusahaan berdasarkan regulasi yang berlaku (Purbawangsa et , 2. Jumlah dewan yang besar lebih mungkin untuk mengungkapkan keterlibatan direktur dalam proses pengambilan keputusan tentang praktik lingkungan yang lebih baik (Caputo et al. , 2. Pengungkapan informasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh dewan yang banyak terhadap kegiatan dan pengungkapan CSR pastinya memberikan hasil dan pemikiran yang lebih baik karena memiliki opini dan pendapat yang banyak. Dewan perusahaan yang besar dengan kemampuan yang mereka memiliki lebih baik dalam mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data mengenai CSR (Syed & Butt, 2. Berdasarkan argument yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan hipotesa: ya1 = Corporate Governance memiliki pengaruh positif terhadap CSR perusahaan. BOARD INDEPENDENT Perusahaan yang memiliki banyak direktur independent, akan membantu perusahaan dalam pelaporan CSR, karena berhubungan dengan peraturan yang mereka miliki (Javaid Lone et al. Direktur independent memiliki pengaruh pada pengungkapan keberlanjutan agar lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan (Caputo et al. , 2. Jumlah direktur independent yang tinggi mengendalikan manajemen dengan lebih baik dan transparan (Sun. Xu. Li, & Cao, 2. , karena mereka juga mewakili kepentingan stakeholder yang berbeda-beda dengan kepentingan berbeda dalam melakukan kegiatan CSR. Asimetri informasi menurun ketika direktur independent melakukan pengungkapan secara transparan. Berdasarkan argument yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan hipotesa: ya2 = Board independen memiliki pengaruh positif terhadap CSR perusahaan. BOARD MEETINGS Rapat dewan merupakan tempat dewan melakukan tukar pikiran terhadap kegiatan pengawasan manajemen. Dewan yang efektif memiliki fleksibilitas dalam meningkatkan frekuensi dalam situasi darurat dan mengurangi pertemuan ketika tidak memiliki masalah mendesak yang harus diselesaikan (Sun et al. Namun, jumlah pertemuan dewan yang lebih sering memungkinkan untuk lebih dalam mengawasi operasi perusahaan (Alkayed & Omar, 2. sehingga dalam kegiatan dan pengungkapan informasi berjalan lebih baik dan pemangku kepentingan melihat nilai lebih pada dewan Berdasarkan argument yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan hipotesa: ya3 = Board meeting memiliki pengaruh positif terhadap CSR perusahaan. RISIKO Board perusahaan memiliki peran penting sebagai penentu pengambilan risiko dan mekanisme kontrol internal perusahaan(Hatane et , 2. Board memiliki dua peran penting (Hatane et al. , 2. sebagai penentu dalam pengambilan risiko dan sebagai mekanisme kontrol internal. Sebagai penentu pengambilan risiko, dewan harus memahami tingkat eksposur risiko yang tepat kepada perusahaan dan bersedia mengambil risiko tersebut untuk mencapai tujuan perusahaan. Mekanisme kontrol internal merupakan bagian dari tata kelola perusahaan untuk memastikan risiko dikelola dengan tepat dan memadai. Karena, setelah risiko tidak bisa dikontrol oleh perusahaan dan perusahaan gagal, investor kehilangan kepercayaan kepada perusahaan dalam melakukan Perusahaan harus mengatasi keadaan ini mengembangkan komponen yang ada dalam corporate governance. Berdasarkan argument yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan hipotesa: ya4 = Risiko memiliki pengaruh positif terhadap CSR perusahaan. FIRM SIZE Perusahaan yang lebih besar memiliki lebih banyak perhatian dari media, dan dengan demikian, pengungkapan lebih lazim pada pertemuan mereka. Berkaitan dengan CSRD dan konsistensinya dengan teori legitimasi, ukuran perusahaan diyakini menjadi penentu CSRD (Alkayed & Omar, 2. Berdasarkan argument yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan hipotesa: ya5 = Firm Size memiliki pengaruh positif terhadap CSR perusahaan. METODE PENELITIAN Sampel Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia. Data penelitian diambil pada Bursa Efek Indonesia . ttp://w. dan situs web perusahaan. Pemilihan sample menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria berikut: Penelitian ini menggunakan annual report dan sustainability report perusahaan yang termasuk pada sub sektor pulp& paper, karena penelitian ini fokus kepada perusahaan yang berhubungan dengan environmental khususnya pohon yang menjadi bahan baku dalam kegiatan b. Annual report dan sustainability report selama Variabel Corporate Governance pada penelitian ini periode pengamatan diperoleh melalui menggunakan jumlah dewan yang ada dalam Thomson Reuters database, website Bursa Efek perusahaan dalam mengukur variabel, mengikuti Indonesia, dan website perusahaan yang penelitian-penelitian sebelumnya (Caputo et al. Gul et al. , 2020. Purbawangsa et al. , 2. Perusahaan yang tidak tersedia atau tidak Board Independent lengkap data yang dibutuhkan pada penelitian Variabel board independent pada penelitian ini ini akan dikeluarkan dari sampel pada menggunakan jumlah dewan independent yang ada penelitian ini. sebelumnya (Mohammadi. Saeidi, & Naghshbandi. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Variabel Independen Corporate Social Responsibility (CSR) Board Meetings Penelitian ini menggunakan CSR sebagai variabel Variabel board meetings pada penelitian ini diukur Pengukuran yang digunakan untuk berdasarkan jumlah meetings yang dilakukan oleh mengukur variabel dependen adalah dengan dewan dalam satu tahun (Mohammadi et al. , 2. CSR Disclosure Index Risiko (CSRD)(Badrul Muttakin et al. , 2022. Dhawan. Penelitian sebelumnya (Kansal et al. , 2014. Syed & Ma, & Kim, 2. Index yang digunakan dalam Butt, 2. mempertimbangkan risiko perusahaan pengungkapan CSR adalah GRI sustainability karena adanya risiko akibat ketidakpastian aliran report, dengan menggunakan lima kategori pendapatan perusahaan menggunakan leverage: ycycuycycayco ycoyceycycaycycnycaycaycu . nvironment, labour practices, human rights. Leverage = ycycuycycayco ycaycycyceyc society, and product responsibilit. Teknik Analisis Data dan Skema Penelitian Variabel Dependen Corporate Governance/ Board Size Analisis penelitian dilakukan dengan menggunakan bantuan software Stata 17. Pengujian hipotesis dilakukan dengan model regresi sebagai berikut: yaCyaeyac = yuEya yuEya ycycyeOyei yuEya yaAyaOyeOyei yuEya yaAyaUyeOyei yuEya ycycyeAycyeOyei yuEya yacyaOyaeyaO yeOyei yuI Berikut model yang digunakan pada penelitian: Gambar di atas menggambarkan hubungan yaitu CSR Disclosure. Dalam penelitian ini, semua kelima variabel independen . orporate governance, variabel independen memiliki pengaruh positif board independent, board meeting, size, dan ris. terhadap variabel dependen. dalam penelitian ini terhadap variabel dependen Keterangan: Variable Definition CSR Indeks GRI standard perusahaan Corporare Governance, jumlah board size perusahaan Board Independen. Jumlah board independent pada perusahaan Board Meeting. Jumlah rapat dewan dalam satu tahun SIZE Ukuran perusahaan RISK Risiko yang ada pada perusahaan Model ini digunakan untuk menguji pengaruh non financial factors . orporate governance, board independent, board meeting, size, dan ris. terhadap CSRD. Pengujian hipotesis 1,2,3,4, dan 5 terdukung apabila nilai koefisien pada setiap hipotesa bernialai positif dan HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4. Deskriptif Variable Obs Mean Std. Dev. Min Max CSR 70,67 63,33 0,602 0,118 0,001 0,376 Statistik SIZE Tabel RISK 0,133 tertinggi dari CSR perusahaan adalah 98 dan terendah adalah 0. Hasil ini terjadai karena adanya transisi dari peraturan yang dimiliki oleh Indonesia dengan rentan waktu yang cukup panjang, yaitu sebelas tahun. perusahaan merupakan jumlah board yang ada dalam perusahaan. Nilai maksimal board yang ada dalam perusahaan adalah berjumlah sebelas orang dan terendah adalah lima orang. Board merupakan top management perusahaan yang memiliki kendali terhadap keputusan yang akan diambil oleh perusahaan. Presentase jumlah BI adalah rata-rata jumlah BI yang ada dalam perusahaan. BM merupakan jumlah ratarata rapat yang dilakukan oleh perusahaan waktu satu tahun Nilai maksimal untuk presentasi rapat yaitu 100% dan terendah yaitu 63,33% nilai yang cukup tinggi untuk jumlah rapat dalam satu tahun. SIZE perusahaan memiliki nilai maksimal 32 dan terendah 30, hasil yang tidak terlalu jauh antara nilai maksimal dan minimal perusahaan. Hasil ini menandakan tren positif yang ada dalam perusahaan yang fokus kepada energi dan pulp&paper. Terakhir, variabel RISK yaitu memiliki nilai tertinggi 0,376 dan terendah 0,001. Tabel 4. 2 Nilai VIF VIF RISK SIZE VIF Coefficient Result Hasil uji multikolinearitas pada penelitian ini menunjukkan variance inflation factor (VIF) < 10 Tabel 4. 3 Hasil Regresi Variable Prediction SIZE RISK Const_ 0,5333 -0,6996 0,3532 4,2924 -46,6933 -67,1207 Jumlah Observasi R-Squared Prob>F 0,3835 0,005 0,1495 0,1725 0,0295 0,3315 yaitu 1,152. Artinya penelitian ini tidak mengalami multikolinearitas. Penelitian Sign Conclusion *** Accept Accept Accept Accept 0,1867 0,0022 *p<0,1 . %). **p<0,05 . %). ***p<0,01 . %) . ne tailed tes. Penelitian ini menggunakan lima variabel independen yang terdiri dari tata kelola perusahaan, dewan independen, rapat dewan, ukuran perusahaan, dan risiko. Penelitian ini mencoba melihat hubungan dan pengaruh faktor non keuangan perusahaan terhadap pengungkapan CSR perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat variabel independen yang dapat CSR Variabel mempengaruhi pengungkapan CSR perusahaan adalah dewan independen, rapat dewan, ukuran, dan risiko. Variabel ini memiliki nilai signifikan yang berbeda dalam mempengaruhi pengungkapan SCR perusahaan. Dewan signifikansi 1% terkait dengan CSR Disclosure Rapat dewan, ukuran, dan variabel risiko memiliki nilai signifikan 5% dalam kaitannya dengan Pengungkapan CSR. Tata kelola perusahaan memiliki hasil yang berbeda diantara variabel penelitian lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa corporate governance tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR perusahaan. R-Square pada penelitian ini sebesar 0,1867 atau 18,67% REFERENSI